URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       jagoiklan
  HTML https://jagoiklan.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Movie Reviews
       *****************************************************
       #Post#: 136--------------------------------------------------
       Review film RAW 
       By: jagoiklan Date: May 23, 2018, 2:29 am
       ---------------------------------------------------------
       “The unexpressed will come forth later in uglier ways.”
       [img width=337
       height=500]
  HTML http://oi64.tinypic.com/24bkcaa.jpg[/img]
       Anjing kesayangan milik keluarga Justine terpaksa disuntik mati
       lantaran “berbahaya bila binatang sudah nyicipin daging
       manusia.” Enggak ada yang bisa menjamin anjing tersebut enggak
       bakal doyan ampe ketagihan sehingga mencoret kata peliharan dari
       statusnya dan embrace kodratnya sebagai binatang. Namun, kita
       mestinya tahu lebih baik daripada itu; bahwa manusia adalah
       –hanyalah- binatang yang punya nurani dan kesadaran. Yang
       membuat kita, bukan hanya paling cerdas, melainkan juga predator
       yang paling mengerikan di puncak rantai makanan. Rasa lapar dan
       nafsu yang tak-kunjung terpuaskan manusia dieksplor dengan
       sangat mendalam dan buas oleh film ini sewaktu kita melihat
       tokoh utama yang vegetarian menjadi sangat penasaran dengan yang
       namanya ‘daging’.
       Raw bukanlah film yang bisa enjoy untuk ditonton sambil ngemil,
       apalagi buat penonton yang perutnya gampang jungkir balik kayak
       Rey Mysterio di dalam mesin cuci. Definitely sebaiknya film ini
       jangan ditonton siang-siang pas puasa, untuk banyak alasan. Ini
       adalah body horror yang dibuat dengan begitu menarik sehingga
       kita ngerasa pengen muntah namun di saat bersamaan enggak ingin
       melepaskan perhatian darinya. Film ini akan menyiksa kita secara
       fisik, baru kemudian menghidangkan nutrisi pikiran, di mana kita
       akan mulai tertegun dan mikirin maksud di balik ceritanya.
       Sukar untuk taat kepada your own code jika berada di
       tengah-tengah komunitas yang menuntut. Terlahir di keluarga
       dengan diet vegetarian yang ketat, Justine (dalam debut layar
       lebarnya, Garance Marillier berikan penampilan yang
       menggemparkan) menolak mentah-mentah ketika dia diwajibkan untuk
       memakan potongan kecil ginjal kelinci sebagai bagian dari
       ospeknya di kampus Peternakan. But to her surprise, kakaknya
       yang jadi senior di sana, juga turut memaksa menelan jeroan
       tersebut. Awalnya, reaksi Justine adalah muntah-muntah. Kemudian
       seluruh badannya gatal-gatal. Tapi bukan kelinci yang ia santap,
       the problem comes from herself. Justine ngedevelop sesuatu yang
       tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Suatu malam, dia kepergok
       oleh teman sekamarnya sedang ngacak-ngacak isi kulkas. Justine
       ngemil daging ayam mentah sebagai snack tengah malam, dan dari
       pancaran matanya kita paham; dia belum puas.
       Aku bukan sepenuhnya vegetarian, namun semenjak tiga tahun lalu
       – the times when I’m struggling ngurangin berat badan yang udah
       nyampe 72 kilo – aku jadi sedapat mungkin menjauhi daging.
       Kecuali ikan. Aku hanya makan ayam kalo kepepet alias gak nemu
       sayur dan lai-lain. Hal demikian aku lakukan karena aku tau
       daging itu enak, dan aku gak mau Arya yang kerjaannya makan
       melulu kembali mengambil alih hari-hariku. Jadi kurang lebih,
       aku bisa relate kepada apa yang terjadi kepada Justine yang
       selama ini makan non-protein, mulai mengecap daging untuk
       pertama kalinya.
       Film ini juga bukan semata bicara soal nafsu, ini adalah tentang
       menemukan diri sendiri, mendapatkan apa yang sebenarnya kita
       mau, dan sejauh mana kita bertindak untuk mendapatkan itu.
       Horor dari Perancis ini adalah PERAYAAN DARI KEKUATAN WANITA.
       Kita melihat Justine bertransformasi dari gadis innocent, yang
       fokus kepada nilai dan prestasi kuliah menjadi cewek yang liar
       dan tampaknya dikendalikan oleh nafsu – digambarkan dengan
       visual yang berdarah-darah. Dan perubahan tersebut dipicu oleh
       penemuannya terhadap apa yang sebenarnya dia mau. Justine berani
       mengejar apa yang dia inginkan, enggak peduli jalan yang
       ditapakinya bukanlah yellow brick road. It was a bloody red
       path. Walaupun, kita bisa melihat jelas, Justine enggak tahu
       pasti apa yang ia lakukan. Karakter tokoh ini justru kuat oleh
       hal tersebut. Raw akan senang hati membaurkan kebangkitan
       seksual ke dalam ceritanya, only to make it more disturbing.
       Daging yang diinginkan Justine adalah daging apapun utuh
       seutuh-utuhnya, dan film ini akan memproyeksikan tersebut tanpa
       judgment dan tanpa malu-malu.
       [img width=500
       height=208]
  HTML http://oi66.tinypic.com/316q4ig.jpg[/img]
       Kamera arahan Julia Ducournau, sutradara cewek yang juga baru
       memulai debut film panjang ini, akan menangkap visual yang
       striking dan pemandangan yang bakal bikin ngamuk orang-orang
       yang OCD. Eits, bukan OCD yang diet itu, tapi OCD yang control
       disorder. Semua yang di layar enggak pernah tampak simetris.
       Dari opening aja, kita akan menatap environment yang dengan
       sengaja dibikin disturbingly timpang, mengisyaratkan
       keabnormalan yang akan datang di menit-menit selanjutnya.
       Ducournau memanfaatkan momen-momen ini untuk dengan perlahan
       ngereveal setiap tangga evolusi karakter Justine sehingga kita
       terpana oleh kecantikan sekaligus ‘kebrutalan’ imajeri yang
       teraasa nyata. Dan, ngerinya, juga somehow relatable.
       Ada banyak adegan yang belum pernah kita lihat dieksplorasi
       dengan berani dan sementah ini sebelumnya. Aku bukan bicara
       semata mewakili sekuen-sekuen ketika Justine ngemil jari,
       ataupun semacam itu, while they are also hypnoticly beautiful.
       Momen-momen kecil seperti Justine menangis di tempat tidur dan
       kita mengawasinya dari lipatan selimut, atau Justine menari to a
       slutty song di depan cermin, atau ketika Ducournou menge-mute
       audio ketika para freshmen merangkak, benar-benar menguatkan
       sense of discovery dari point of view kita, juga sekaligus
       membuat nuansa disturbing dan creepy itu merasuk ke dalam diri
       kita yang siap sedia kantong plastik menontonnya.
       Ketika orang memilih untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan
       pembenaran, terutama ketika hal tersebut sangat sulit untuk
       dibenarkan, maka mereka akan mulai melakukan penyangkalan.
       Bahkan enggak-jujur terhadap diri sendiri. Raw mengexamine
       dinamika antara keputusan seorang memilih menjadi vegetarian
       dengan kesadaran untuk memenuhi panggilan siapa diri kita
       sebenarnya. You can’t repressed who you truly are. Lingkungan
       Justine selalu telling her what to do, makanya melihat
       perjalanan tokoh ini mengejar apa yang dia mau terasa melegakan,
       tidak peduli seberapa brutalnya. Horor datang dari ketika kita
       sadar apa yang harus dilakukan untuk menjadi diri sendiri.
       Saat pemutaran di Gothenburg Film Festival, banyak penonton yang
       walk out, dan lebih banyak lagi yang muntah-muntah, bahkan
       pingsan. Jangan biarkan gaung reputasi tersebut menahanmu dari
       mencicipi seperti apa rasanya film ini. Ya, film ini banyak
       adegan gory dan disturbing. Tapi ada seni di balik betapa
       grossnya perilaku manusia-manusia. Adegan kulit yang mengelupas
       saja sebenarnya adalah sebuah simbol bahwa Justine mulai
       berubah, dia harus mencabik kulitnya untuk menemukan siapa
       dirinya yang sebenarnya. Untuk wanita, menjadi dewasa adalah
       perubahan yang menyakitkan, fisik dan mental, dan film ini
       menceritakan hal tersebut dengan brutally honest. But again,
       film ini enggak seseram penjelasan yang kalian baca di
       ulasan-ulasan tentangnya. In fact, ada banyak elemen cerita yang
       dibalut dengan tone-tone yang enggak selamanya bikin kita
       bergidik. Film juga adalah drama keluarga, as much as it is a
       hauntingly self-discovery journey towards maturity. Dialog dan
       interaksi tokoh-tokohnya kerap ‘memaksa’ kita tertawa oleh
       betapa benarnya semua kejadian awkward yang kita temukan ketika
       kita mulai mengurusi diri sendiri.
       [img width=500
       height=333]
  HTML http://oi67.tinypic.com/j60sw9.jpg[/img]
       Aku suka sekali gimana film ini ngehandle hubungan antara
       Justine dengan kakaknya. It was played as kakaknya berusaha
       membantu Justine melewati masa-masa sulit sebagai maba,
       memastikan Justine melakukan semua tugas ospek supaya adeknya
       itu enggak dikucilkan oleh Himpunan (yang pernah kuliah dan
       ngerti diospek pasti ngerti ‘beban’ maba yang satu ini) dan she
       was rather annoyed sama sikap adiknya. Interaksi mereka
       menghantarkan kita ke banyak momen-momen lucu. Kemudian some
       revealing yang subtil terjadi, dan mereka sort of jadi rival.
       Namun menariknya, kita tahu ada banyak kesamaan di antara
       mereka, dinamika hubungan sisterhood dua orang ini terus digeber
       sebagai emosional core yang actually menambah banyak kepada
       cerita.
       
       
       Wajar jika setelah merasakan sesuatu yang baru, kita ketagihan
       dan ingin lagi, lagi, dan lagi. Nonton film pun begitu. Setelah
       menyaksikan cerita yang original, begitu berani, haunting, dan
       membuat kita berpikir, seperti film ini, enggak salah dong kalo
       kita minta film-film yang lain dibuat dengan semenantang dan
       semenarik horor Perancis-Belgia yang judul aslinya Grave ini.
       Bukan sekedar coming-of-age story, film ini tampil dengan
       brutal, filled with layers dan metafora sehingga walaupun
       shocking dan disturbing, kita enggak bisa untuk enggak terus
       menatap. Performance dan arahannya juga sangat luar biasa. Kita
       akan ngeri sendiri akan betapa grounded dan real dan
       relatablenya film ini terasa.
       The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for RAW.
       
  HTML https://mydirtsheet.com/2017/06/10/raw-review/
       *****************************************************