DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ [7] KEMUDIAN MURID-MURIDNYA
*****************************************************
#Post#: 124--------------------------------------------------
۩۞۩ Kemudian Murid-Muridnya Seperti: Imam
Al-Bukhari
DIR By: BrandedLvo
Date: December 25, 2023, 1:17 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Imam Al-Bukhari
(Wafat 256 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=389
Nama sebenarnya adalah Muhammad [i]ibn Ismail ibn Ibrahim
dijuluki dengan Abu Abdillah. Ia lahir di Bukhara pada tahun 194
H. Semua Ulama, baik dari gurunya maupun dari sahabatnya memuji
dan mengakui ketinggian ilmunya, Ia seorang Imam yang tidak
tercela hapalan haditsnya dan kecermatannya. Ia mulai menghafal
hadits ketika umurnya belum mencapai 10 tahun, ia mencatat dari
seribu guru lebih, ia hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000
hadits tidak shahih.[/i]
Dia mengarang kitab besar Al-Jami’ ash Shahih yang merupakan
kitab paling shahih sesudah Al-Quran, hadits yang ia dengar
sendiri dari gurunya lebih dari 70.000 buah, ia dengan tekun
mengumpulkannya selama 16 tahun, al hafiz mempunyai beberapa
komentar terhadap sebagian haditsnya, mereka telah melontarkan
kritik atas 110 buah diantaranya. Dari 110 hadits itu
ditakhtijkan oleh Imam Muslim sebanyak 32 hadits dan oleh dia
sendiri sebanyak 78 hadits. Ibnu Hajar al-Asqalani berpendapat
bahwa hadits-hadits yang dipersoalkan ini, “tidak seluruhnya
ber’illat tercela, melainkan kebanyakan jawabannya mengandung
kemungkinan dan sedikit dari jawabannya menyimpang.”
Kitab Shahih Bukhari mempunyai banyak syarah yang oleh pengarang
kitab Kasyf adh-Dhunun disebutkan 82 syarah diantaranya. Tetapi
yang paling utama adalah syarah Ibnu Hajar al-Asqalani yang
bernama Fat al-Bari, dan berikutnya syarah Al-Asthalani,
kemudian syarah al-Aini Umdat al Qari.
Al Bukhari mempunyai banyak kitab, antara lain At-Tawarikh ats
Tsalatsah al-Kabir wal Ausath wash Shaghir (Tiga Tarikh: Besar,
sedang, dan Kecil), kitab al-Kuna, Kitab Al-Wuhdan, kitab
al-Adab al-Mufrad dan kitab Adl-Dlu’afa dan lain lainnya.
At-Tirmidzi berkata tentangnya: ”Saya tidak pernah melihat orang
yang dalam hal illat dan rijal, lebih mengerti daripada
Al-Bukhari.”
Ibnu Khuzaimah berkata: “Aku tidak melihat dibawah permukaan
langit seseorang yang lebih tahu tentang hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam daripada Muhammad ibn Ismail
Al-Bukhari.”
Muslim ibn al Hajjaj pernah datang kepadanya lalu mencium antara
kedua matanya, seraya berkata: “Biarkan saya mencium kedua
kakimu, wahai guru para guru, pemimpin para ahli hadits dan
dokter penyakit hadits.”
Abu Nu’im dan Ahmad ibn Ahmad berkata: “Al-Bukhari adalah faqih
(ahli hukum) dari ummat ini.”
Abu Muhammad Abdullah ibn Abdurahman Ad-Darimy berkata:
“Muhammad ibn Ismail (Bukhari) orang yang tercakap dalam bidang
hukum dari antara kami dan lebih banyak mencari hadits.”
Telah dipaparkan dalam pembahasan hadits Maqlub, ketika para
ulama baghdad sengaja memutarbalikkan seratus hadits, lalu
Al-Bukhari mengembalikan setiap matan kepada sanad yang
sebenarnya dan setiap sanad kepada matannya, sehingga membuat
para ulama kagum akan hapalan dan kecermatannya. Dalam rangka
meneliti dan menghapal hadits, Al Bukhari tidak segan segan
melakukan perjalanan ke Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Jazirah,
Hijaz dan Basrah.
Al-Bukhari adalah salah seorang dari imam Mujtahid dalam bidang
fiqh dan dalam bidang mengistibathkan hukum dari hadits.
Al-Bukhari meriwayatkan hadits bersumber dari Adl-Dlahhak ibn
Mukhallad Abu Ashim an-Nabil, Makki ibn Ibrahim al-Handlali,
Ubaidullah ibn Musa al-Abbasi, Abdullah Quddus ibn al-Hajjaj,
Muhammad ibn Abdullah al-Anshari dan lain lain.
Sedangkan yang meriwayatkan darinya banyak sekali diantaranya:
At-Tirmidzi, Muslim, An-Nasa’i, Ibrahim ibn Ishak al-Hurri,
Muhammad ibn Ahmad ad-Daulabi, dan orang terakhir yang
meriwayatkan darinya adalah Manshur ibn Muhammad al Bazwadi.
Ia wafat pada tahun 256 H di Samarkand yang bernama Khartank.
Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
Disalin dari Biografi Al-Bukhari dalam Tarikh al-Baghdad,
al-Khatib 2/4-36, Tadzkirat al-Huffadh 2/122, Tahzib at Tahdzib
ibn Hajar Asqalani 9/47
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
#Post#: 413--------------------------------------------------
Re: ۩۞۩ Kemudian Murid-Muridnya Seperti: Imam
Al-Bukhari
DIR By: iscm
Date: January 16, 2024, 12:26 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Imam Al-Bukhari
(194-256 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=389
Negeri Bukhara sebagai negeri muara sungai Jihun yang terletak
di sebelah utara Afghanistan dan sebelah selatan Ukraina adalah
negeri yang banyak melahirkan imam-imam Ahlul hadits dan Ahlul
fiqh. Negeri itu menyimpan kenangan sejarah perjuangan para
imam-imam Muslimin dalam berbagai bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan
Al-Hadits. Dapat disebutkan di sini, para Imam Ahlul Hadits yang
lahir dan dibesarkan di negeri Bukhara antara lain adalah:
Al-Imam Abdullah [i]ibn Muhammad Abu Ja’far Al-Musnadi
Al-Bukhari yang meninggal dunia di negeri tersebut pada hari
Kamis bulan Dzulqa’dah tahun 220 H. dan kemudian juga lahir di
Bukhara, Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim Al-Bukhari
yang lahir pada tahun 194 Hijriyah dan wafat pada tahun 256 H di
sebuah desa bernama Khortanak menuju arah Samarkan. Juga lahir
dan dibesarkan di negeri ini Al-Imam Abi Naser Ahmad ibn
Muhammad ibn Al-Husain Al-Kalabadzi Al-Bukhari yang lahir tahun
323 H dan meninggal tahun 398 H. dan masih banyak lagi deretan
para imam-imam besar Ahli hadits yang menghiasi indahnya sekarah
negeri Bukhara.[/i]
Tetapi di masa kini kaum Muslimin di dunia, apabila disebut Imam
Bukhari, maka yang dipahami hanyalah Imam Ahlul Hadits dari
negeri Bukhara yang bernama Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn
Bardizbah Al-Bukhari. Karena karya beliau yang amat masyhur di
kalangan kaum Muslimin di dunia ialah: Al-Jami’us Shahih
Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi yang
kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih Al-Bukhari. Kata
“Bukhari” itu sendiri maknanya ialah: Orang dari negeri Bukhara.
Jadi kalau dikatakan “Imam Bukhari” maknanya ialah seorang tokoh
dari negeri Bukhara.
✻ Al-Bukhari di Masa Kecil
Nasab kelengkapan dari tokoh yang sedang kita bincangkan ini
adalah sebagai berikut: Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn
Al-Mughirah ibn Bardizbah. Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli
orang-orang Persia yang menyembah api. Sang kakek tersebut
meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi. Putra dari
Bardizbah yang bernama Al-Mughirah kemudian masuk Islam di bawah
bimbingan Gubernur negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga
Al-Mughirah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan kepada
kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata cucu dari Al-Mughirah ini di
kemudian hari mengukir sejarah yang agung, yaitu sebagai seorang
Imam Ahlul Hadits.
Al-Imam Al-Bukhari lahir pada hari Jum’at tanggal 13 Syawal 194
H di negeri Bukhara di tengah keluarganya yang cinta ilmu sunnah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ayah beliau
bernama Ismail ibn Ibrahim ibn Al-Mughirah adalah seorang ulama
Ahli hadits yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi dari Imam Malik
ibn Anas, Hammad ibn Zaid, dan sempat pula berpegang tangan
dengan Abdullah ibn Mubarak. Riwayat-riwayat Ismail ibn Ibrahim
tentang hadits Nabi tersebar di kalangan orang-orang Iraq.
Ayah Al-Bukhari meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Di
saat menjelang wafatnya, Ismail ibn Ibrahim sempat membesarkan
hati anaknya yang masih kecil sembari menyatakan kepadanya: “Aku
tidak mendapati pada hartaku satu dirham pun dari harta yang
haram atau satu dirham pun dari harta yang syubhat.” Tentu anak
yang ditumbuhkan dari harta yang bersih dari perkara haram atau
syubhat akan lebih baik dan mudah dididik kepada yang baik.
Sehingga sejak wafatnya sang ayah, Al-Bukhari hidup sebagai anak
yatim dalam dekapan kasih sayang ibunya.
Muhammad ibn Ismail mendapat perhatian penuh dari ibunya. Sejak
usianya yang masih muda dia telah hafal Al-Qur’an dan tentunya
belajar membaca dan menulis. Kemudian pada usia sepuluh tahun,
Muhammad kecil mulai bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu
hadits yang tersebar di berbagai tempat di negeri Bukhara. Pada
usia sebelas tahun, dia sudah mampu menegur seorang guru ilmu
hadits yang salah dalam menyampaikan urut-urutan periwayatan
hadits (yang disebut sanad). Usia kanak-kanak beliau dihabiskan
dalam kegiatan menghafal ilmu dan memahaminya sehingga ketika
menginjak usia remaja –enam belas tahun–, beliau telah hafal
kitab-kitab karya imam-imam Ahli hadits dari kalangan tabi’it
tabi’in (generasi ketiga umat Islam), seperti karya Abdullah ibn
Al-Mubarak, Waqi’ ibn Al-Jarrah, dan memahami betul kitab-kitab
tersebut.
Usia kanak-kanak Muhammad ibn Ismail telah berlalu dengan agenda
belajar yang amat padat. Kesibukannya di masa kanak-kanak dalam
menghafal dan memahami ilmu, mengantarkannya kepada masa remaja
yang cemerlang dan menakjubkan. Kini ia menjadi remaja yang amat
diperhitungkan orang di majelis manapun dia hadir. Karena dalam
usia belasan tahun seperti ini dia telah hafal di luar kepala
tujupuluh ribu hadits lengkap dengan sanadnya di samping
tentunya Al-Qur’an tiga puluh juz.
✻ Melanglang-buana Menuntut Ilmu
Di awal usianya yang ke delapan belas, Al-Bukhari diajak ibunya
bersama kakaknya bernama Ahmad ibn Ismail berangkat ke Makkah
untuk menunaikan ibadah haji. Perjalanan jauh antara negeri
Bukhara dengan Mekkah menunggang unta, keledai dan kuda adalah
pengalaman baru baginya. Sehingga dia terbiasa dengan berbagai
kesengsaraan perjalanan jauh mengarungi padang pasir,
gunung-gunung dan lembahnya yang penuh keganasan alam. Dalam
kondisi yang demikian, dia merasa semakin dekat kepada Allah dan
dia benar-benar menikmati perjalanan yang memakan waktu
berbulan-bulan itu. Sesampainya di Makkah, Al-Bukhari mendapati
kota Makkah penuh dengan ulama Ahli Hadits yang membuka
halaqah-halaqah ilmu. Tentu yang demikian ini semakin
menggembirakan beliau. Oleh karena itu, setelah selsai
pelaksanaan ibadah haji, beliau tetap tinggal di Makkah
sementara kakak kandungnya kembali ke Bukhara bersama ibunya.
Beliau bolak-balik antara Makkah dan Madinah, kemudian akhirnya
mulai menulis biografi para tokoh. Sehingga lahirlah untuk
pertama kalinya karya beliau dalam bidang ilmu hadits yang
berjudul Kitabut Tarikh. Ketika kitab karya beliau ini mulai
tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam, ramailah pembicaraan
orang tentang tokoh ilmu hadits tersebut dan semua orang amat
mengaguminya. Sampai-sampai seorang Imam Ahli Hadits di masa itu
yang bernama Ishaq ibn Rahuyah membawa Kitabut Tarikh karya
Al-Bukhari ini ke hadapan Gubernur negeri Khurasan yang bernama
Abdullah ibn Thahir Al-Khuza’i, sembari mengatakan: “Wahai tuan
Gubernur, maukah aku tunjukkan kepadamu atraksi sihir?” Kemudian
ditunjukkan kepadanya kitab ini. Maka Gubernur pun membaca kitab
tersebut dan beliau sangat kagum dengannya. Sehingga tuan
Gubernur pun mengatakan: “Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa
mengarang kitab ini.” Al-Imam Al-Bukhari pun akhirnya menjadi
amat terkenal di berbagai negeri Islam. Ketika Al-Imam
Al-Bukhari berkeliling ke berbagai negeri tersebut, beliau
mendapati betapa para ulama Ahlul Hadits di setiap negeri
tersebut sangat menghormatinya. Beliau berkeliling ke berbagai
negeri pusat-pusat ilmu hadits seperti Mesir, Syam, Baghdad
(Iraq), Bashrah, Kufah dan lain-lainnya.
Di saat berkeliling ke berbagai negeri itu, beliau suatu hari
duduk di majlisnya Ishaq ibn Rahuyah. Di sana ada satu saran
dari hadirin untuk kiranya ada upaya mengumpulkan hadits-hadits
Nabi dalam satu kitab. Dengan usul ini mulailah Al-Imam
Al-Bukhari menulis kitab shahihnya dan kitab tersebut baru
selesai dalam tempo enam belas tahun sesudah itu. Beliau
menuliskan dalam kitab ini hadits-hadits yang diyakini shahih
oleh beliau setelah menyaring dan meneliti enam ratus ribu
hadits. Beliau pilih daripadanya tujuh ribu dua ratus tujupuluh
lima hadits shahih dan seluruhnya dikumpulkan dalam satu kitab
dengan judul Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah
wa Sunani wa Ayyamihi yang kemudian terkenal dengan nama kitab
Shahih Al-Bukhari. Kitab ini pun mendapat pujian dan sanjungan
dari berbagai pihak di seantero negeri-negeri Islam. Sehingga
ketokohan beliau dalam ilmu hadits semakin diakui kalangan luas
dunia Islam. Para Imam-Imam Ahli Hadits sangat memuliakannya,
seperti Imam Ahmad ibn Hanbal, Ali ibn Al-Madini, Yahya ibn
Ma`in dan lain-lainnya.
✻ Imam Al-Bukhari Disanjung di Mana-Mana
Karya-karya beliau dalam bidang hadits terus mengalir dan
beredar di dunia Islam. Kepiawaian beliau dalam menyampaikan
keterangan tentang berbagai kepelikan di seputar ilmu hadits di
berbagai majelis-majelis ilmu bersinar cemerlang sehingga beliau
dipuji dan diakui keilmuannya oleh para gurunya dan para ulama
yang setara ilmunya dengan beliau, lebih-lebih lagi oleh para
muridnya. Beliau menimba ilmu dari seribu lebih ulama dan semua
mereka selalu mempunyai kesan yang baik, bahkan kagum terhadap
beliau.
Al-Imam Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf ibn Al-Mizzi meriwayatkan
dalam kitabnya yang berjudul Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal
beberapa riwayat pujian para ulama Ahli hadits dan sanjungan
mereka terhadap Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari. Di antara
beberapa riwayat itu antara lain ialah pernyataan Al-Imam Mahmud
ibn An-Nadhir Abu Sahl Asy-Syafi’i yang menyatakan: “Aku masuk
ke berbagai negeri yaitu Basrah, Syam, Hijaz dan Kufah. Aku
melihat di berbagai negeri tersebut bahwa para ulamanya bila
menyebutkan Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari selalu mereka lebih
mengutamakannya daripada diri-diri mereka.”
Karena itu majelis-majelis ilmu Al-Imam Al-Bukhari selalu
dijejali ribuan para penuntut ilmu. Dan bila beliau memasuki
suatu negeri, puluhan ribu bahkan ratusan ribu kaum Muslimin
menyambutnya di perbatasan kota karena beberapa hari sebelum
kedatangan beliau, telah tersebar berita akan datangnya Imam
Ahlul Hadits, sehingga kaum Muslimin pun berjejal-jejal berdiri
di pinggir jalan yang akan dilewati beliau hanya untuk sekedar
melihat wajah beliau atau kalau bernasib baik, kiranya dapat
bersalaman dengan beliau.
Al-Imam Muhammad ibn Abi Hatim meriwayatkan bahwa Hasyid ibn
Ismail dan seorang lagi (tidak disebutkan namanya), keduanya
menceritakan: “Para ulama Ahli Hadits di Bashrah di jaman
Al-Bukhari masih hidup merasa lebih rendah pengetahuannya dalam
hadits dibanding Al-Imam Al-Bukhari. Padahal beliau ini masih
muda belia. Sehingga pernah ketika beliau berjalan di kota
Bashrah, beliau dikerumuni para penuntut ilmu. Akhirnya beliau
dipaksa duduk di pinggir jalan dan dikerumuni ribuan orang yang
menanyakan kepada beliau berbagai masalah agama. Padahal wajah
beliau masih belum tumbuh rambut pada dagunya dan juga belum
tumbuh kumis.”
✻ Datanglah Badai Menghempas
Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari dielu-elukan dan disanjung orang
di mana-mana. Pujian penuh ketakjuban datang dari segala penjuru
negeri, dan beliau dijadikan rujukan para ulama di masa muda
belia. Di saat penuh kesibukan ibadah dan ilmu yang menghiasi
detik-detik kehidupan Al-Bukhari, pada sebagian orang muncul iri
dengki terhadap berbagai kemuliaan yang Allah limpahkan
kepadanya.
Badai itu bermula dari kedatangan beliau pada suatu hari di
negeri Naisabur dalam rangka menimba ilmu dari para imam-imam
Ahli Hadits di sana. Kedatangan beliau ke negeri tersebut
bukanlah untuk pertama kalinya. Beliau sebelumnya sudah
berkali-kali berkunjung ke sana karena Nasaibur termasuk salah
satu pusat markas ilmu sunnah. Lagi pula di sana terdapat guru
beliau, seorang Ahli Hadits yang bernama Muhammad ibn Yahya
Adz-Dzuhli. Pada suatu hari tersebarlah berita gembira di
Naisabur bahwa Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari akan datang ke
negeri tersebut untuk tinggal padanya beberapa lama. Bahkan
Al-Imam Muhammad ibn Yahya Adz-Dzuhli mengumumkan secara khusus
di majelis ilmunya dengan menyatakan: “Barangsiapa ingin
menyambut Muhammad ibn Ismail besok, silakan menyambutnya karena
aku akan menyambutnya.” Maka masyarakat luas pun bergerak
mengadakan persiapan untuk menyambut kedatangan Imam besar Ahli
Hadits di kota mereka.
Di hari kedatangan Imam Al-Bukhari itu, ribuan penduduk Naisabur
bergerombol di pinggir kota untuk menyambutnya. Di antara yang
berkerumun menunggu kedatangan beliau itu ialah Al-Imam Muhammad
ibn Yahya Adz-Dzuhli bersama para ulama lainnya. Diriwayatkan
oleh Muhammad ibn Ya’qub Al-Akhram bahwa ketika Al-Bukhari
sampai di pintu kota Naisabur, yang menyambutnya sebanyak empat
ribu orang berkuda, di samping yang menunggang keledai dan himar
serta ribuan pula yang berjalan kaki.”
Imam Muslim ibn Al-Hajjaj menceritakan: “Ketika Muhammad ibn
Ismail datang ke Naisabur, semua pejabat pemerintah dan semua
ulama menyambutnya di batas negeri.”
Ketika Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari sampai di
Naisabur, para penduduk menyambutnya dengan penyambutan yang
demikian besar dan agung. Beribu-ribu orang berkerumun di tempat
tinggal beliau setiap harinya untuk menanyakan kepada beliau
berbagai masalah agama dan khususnya berbagai kepelikan tentang
hadits. Akibatnya berbagai majelis ilmu para ulama yang lainnya
menjadi sepi pengunjung. Dari sebab ini mungkin timbul
ketidakenakan di hati sebagian ulama itu terhadap Al-Bukhari.
Di hari ketiga kunjungan beliau ke Naisabur, terjadilah
peristiwa yang amat disesalkan itu. Diceritakan oleh Ahmad ibn
Adi peristiwa itu terjadi sebagai berikut:
Telah menceritakan kepadaku sekelompok ulama bahwa ketika
Muhammad ibn Ismail sampai ke negeri Naisabur dan orang-orang
pun berkumpul mengerumuninya, maka timbullah kedengkian padanya
dari sebagian ulama yang ada pada waktu itu. Sehingga mulailah
diberitakan kepada para ulama Ahli hadits bahwa Muhammad ibn
Ismail berpendapat bahwa lafadh beliau ketika membaca Al-Qur’an
adalah makhluk. Pada suatu majelis ilmu, ada seseorang berdiri
dan bertanya kepada beliau: “Wahai Abu Abdillah (yakni
Al-Bukhari), apa pendapatmu tentang orang yang menyatakan bahwa
lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk? Apakah memang
demikian atau lafadh orang yang membaca Al-Qur’an itu bukan
makhluk?”
Mendengar pertanyaan itu, beliau berpaling karena tidak mau
menjawabnya. Akan tetapi si penanya mengulang-ulang terus
pertanyaannya hingga sampai ketiga kalinya seraya memohon dengan
sangat agar beliau menjawabnya. Al-Bukhari pun akhirnya menjawab
dengan mengatakan: “Al-Qur’an kalamullah (perkataan Allah) dan
bukan makhluk. Sedangkan perbuatan hamba Allah adalah makhluk,
dan menguji orang dalam masalah ini adalah perbuatan bid’ah.”
Dengan jawaban beliau ini, si penanya membikin ricuh di majelis
dan mengatakan tentang Al-Bukhari: “Dia telah menyatakan bahwa
lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.” Akibatnya
orang-orang di majelis itu menjadi ricuh dan mereka pun segera
membubarkan diri dari majelis itu dan meninggalkan beliau
sendirian. Sejak itu Al-Bukhari duduk di tempat tinggalnya dan
orang-orang pun tidak lagi mau datang kepada beliau.”
Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ahmad ibn Muhammad ibn
Ghalib dengan sanadnya dari Muhammad ibn Khasynam menceritakan:
“Setelah orang meninggalkan Al-Bukhari, orang-orang yang
meninggalkan beliau itu sempat datang kepada beliau dan
mengatakan: “Engkau mencabut pernyataanmu agar kami kembali
belajar di majelismu.” Beliau menjawab: “saya tidak akan
mencabut pernyataan saya kecuali bila mereka yang meninggalkanku
menunjukkan hujjah (argumentasi) yang lebih kuat dari hujjahku.”
Kata Muhammad ibn Khasynam: “Sungguh aku amat kagum dengan
tegarnya dan kokohnya Al-Bukhari dalam berpegang dengan
pendirian.”
Kaum Muslimin di Naisabur gempar dengan kejadian ini dan
akhirnya arus fitnah melibatkan pula Al-Imam Muhammad ibn Yahya
Adz-Dzuhli sehingga beliau menyatakan di majelis ilmu beliau
yang kini telah ramai kembali setelah orang meninggalkan majelis
Al-Bukhari: “Ketahuilah, sesungguhnya siapa saja yang masih
mendatangi majelis Al-Bukhari, dilarang datang ke majelis kita
ini. Karena orang-orang di Baghdad telah memberitakan melalui
surat kepada kami bahwa orang ini (yakni Al-Bukhari) mengatakan
bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk. Kata
mereka yang ada di Baghdad bahwa Al-Bukhari telah dinasehati
untuk jangan berkata demikian, tetapi dia terus mengatakan
demikian. Oleh karena itu, jangan ada yang mendekatinya dan
barangsiapa mendekatinya maka janganlah mendekati kami.”
Tentu saja dengan telah terlibatnya Imam Adz-Dzuhli, fitnah
semakin meluas. Hal ini terjadi karena Adz-Dzuhli adalah imam
yang sangat berpengaruh di seluruh wilayah Khurasan yang
beribukota di Naisabur itu. Bahkan lebih lanjut Al-Imam
Adz-Dzuhli menegaskan: “Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni
firman Allah) dan bukan makhluk dari segala sisinya dan dari
segala keadaan. Maka barangsiapa yang berpegang dengan prinsip
ini, sungguh dia tidak ada keperluan lagi untuk berbicara
tentang lafadhnya ketika membaca Al-Qur’an atau omongan yang
serupa ini tentang Al-Qur’an. Barangsiapa yang menyatakan bahwa
Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir dan keluar
dari iman, dan harus dipisahkan dari istrinya serta dituntut
untuk taubat dari ucapan yang demikian. Bila dia mau taubat maka
diterima taubatnya. Tetapi bila tidak mau taubat, harus
dipenggal lehernya dan hartanya menjadi rampasan Muslimin serta
tidak boleh dikubur di pekuburan kaum Muslimin. Dan barangsiapa
yang bersikap abstain dengan tidak menyatakan Al-Qur’an sebagai
makhluk dan tidak pula menyatakan Al-Qur’an bukan makhluk, maka
sungguh dia telah menyerupai orang-orang kafir. Barangsiapa yang
menyatakan “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk”,
maka sungguh dia adalah Ahli Bid’ah (yakni orang yang sesat).
Tidak boleh duduk bercengkrama dengannya dan tidak boleh diajak
bicara. Oleh karena itu, barangsiapa setelah penjelasan ini
masih saja mendatangi tempatnya Al-Bukhari, maka curigailah ia
karena tidaklah ada orang yang tetap duduk di majelisnya kecuali
dia semadzhab dengannya dalam kesesatannya.”
Dengan pernyataan Adz-Dzuhli seperti ini, berdirilah dari
majelis itu Imam Muslim ibn Hajjaj dan Ahmad ibn Salamah. Bahkan
Imam Muslim mengirimkan kembali kepada Adz-Dzuhli seluruh
catatan riwayat hadits yang didapatkannya dari Imam Adz-Dzuhli,
sehingga dalam Shahih Muslim tidak ada riwayat Adz-Dzuhli dari
berbagai sanad yang ada padanya.
Sikap Imam Muslim ibn Hajjaj dan Ahmad ibn Salamah yang seperti
itu menyebabkan Adz-Dzuhli semakin marah sehingga beliau pun
menyatakan: “Orang ini (yakni Al-Bukhari) tidak boleh bertempat
tinggal di negeri ini bersama aku.”
Kemarahan Adz-Dzuhli seperti ini sangat menggusarkan Ahmad ibn
Salamah, salah seorang pembela Al-Bukhari. Dia segera mendatangi
Al-Bukhari seraya mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (yakni
Al-Bukhari), orang ini (yakni Adz-Dzuhli) sangat berpengaruh di
Khurasan, khususnya di kota ini (yakni kota Naisabur). Dia telah
terlalu jauh dalam berbicara tentang perkara ini sehingga tak
seorang pun dari kami bisa menasehatinya dalam perkara ini. Maka
bagaimana pendapatmu?”
Al-Imam Al-Bukhari amat paham kegusaran muridnya ini sehingga
dengan penuh kasih sayang beliau memegang jenggot Ahmad ibn
Salamah dan membaca surat Ghafir 44 yang artinya: “Dan aku
serahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat
hamba-hamba-Nya.” Kemudian beliau menunduk sambil berkata: “YA
Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku tinggal di Naisabur
tidaklah bertujuan jahat dan tidak pula bertujuan dengan
kejelekan. Engkau juga mengetahui Ya Allah, bahwa aku tidak
mempunyai ambisi untuk memimpin. Hanya saja karena aku terpaksa
pulang ke negeriku karena para penentangku telah menguasai
keadaan. Dan sungguh orang ini (yakni Adz-Dzuhli) membidikku
semata-mata karena hasad (dengki) terhadap apa yang Allah telah
berikan kepadaku daripada ilmu.” Wajah beliau sendu menyimpan
kekecewaan yang mendalam. Dan dia menatap Ahmad ibn Salamah
dengan mantap sambil berkata: “wahai Ahmad, aku akan
meninggalkan Naisabur besok agar kalian terlepas dari berbagai
problem akibat omongannya (yakni omongan Adz-Dzuhli) karena
sebab keberadaanku.” Segera setelah itu Al-Bukhari
berkemas-kemas untuk mempersiapkan keberangkatannya besok
kembali ke negeri Bukhara.
Rencana Al-Bukhari untuk pulang ke negeri Bukhara sempat
diberitakan oleh Ahmad ibn Salamah kepada segenap kaum Muslimin
di Naisabur, tetapi mereka tidak ada yang berselera untuk
melepasnya di batas kota. Sehingga Al-Imam Al-Bukhari dilepas
kepulangannya oleh Ahmad ibn Salamah saja dan beliau berjalan
sendirian menempuh jalan darat yang jauh menuju negerinya yaitu
Bukhara. “Selamat tinggal Naisabur, rasanya tidak mungkin lagi
aku berjumpa denganmu.”
✻ Badai di Negeri Bukhara
Di negeri Bukhara telah tersebar berita bahwa Imam Muhammad ibn
Ismail Al-Bukhari sedang menuju Bukhara. Penduduk Bukhara
melakukan berbagai persiapan untuk menyambutnya di pintu kota.
Bahkan diceritakan oleh Ahmad ibn Mansur Asy-Syirazi bahwa dia
mendengar dari berbagai orang yang menyaksikan peristiwa
penyambutan Al-Bukhari di negeri Bukhara, dikatakan bahwa
masyarakat membangun gapura penyambutan di tempat yang berjarak
satu farsakh (kurang lebih 5 km) sebelum masuk kota Bukhara. Dan
ketika Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari telah sampai di
gapura “Selamat Datang” tersebut, beliau mendapati hampir
seluruh penduduk negeri Bukhara menyambutnya dengan penuh suka
cita, sampai-sampai disebutkan bahwa penduduk melemparkan
kepingan emas dan perak di jalan yang akan diinjak oleh telapak
kaki Al-Bukhari. Mereka berdiri di kedua sisi jalan masuk kota
Bukhara sambil berebut memberikan buah anggur yang istimewa
kepada sang Imam Ahlul Hadits yang amat mereka cintai itu.
Tetapi suka cita penduduk negeri Bukhara ini tidak berlangsung
lama. Beberapa hari setelah itu para ahli fikih mulai resah
dengan beberapa perubahan pada cara beribadah orang-orang
Bukhara. Yang berlaku di negeri tersebut adalah madzhab Hanafi,
sedangkan Al-Bukhari mengajarkan hadits sesuai dengan pengertian
Ahli Hadits yang tidak terikat dengan madzhab tertentu sehingga
yang nampak pada masyarakat ialah sikap-sikap yang diajarkan
oleh Ahli Hadits, dan bukan pengamalan madzhab Hanafi. Orang
dalam beriqamat untuk shalat jamaah tidak lagi menggenapkan
bacaan qamat seperti adzan, tetapi membaca qamat dengan
satu-satu sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits shahih.
Ketika bertakbir dalam shalat semula tidak mengangkat tangan
sebagaimana madzhab Hanafi, sekarang mereka bertakbir dengan
mengangkat tangan.
Dengan berbagai perubahan ini keresahan para ulama fiqih tambah
menjadi-jadi sehingga tokoh ulama fiqih di negeri tersebut yang
bernama Huraits ibn Abi Wuraiqa’ menyatakan tentang Al-Imam
Al-Bukhari: “Orang ini pengacau. Dia akan merusakkan kehidupan
keagamaan di kota ini. Muhammad ibn yahya telah mengusir dia
dari Naisabur, padahal dia imam Ahli Hadits.”
Maka Huraits dan kawan-kawannya mulai berusaha untuk
mempengaruhi Gubernur Bukhara agar mengusir Al-Imam Muhammad ibn
Ismail Al-Bukhari ini. Gubernur negeri ini yang bernama Khalid
ibn Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli.
Gubernur Khalid pernah meminta Al-Bukhari untuk datang ke
istananya guna mengajarkan kitab At-Tarikh dan Shahih Al-Bukhari
bagi anak-anaknya. Tetapi Al-Imam Al-Bukhari menolak permintaan
Gubernur tersebut dengan mengatakan: “Aku tidak akan menghinakan
ilmu ini dan aku tidak akan membawa ilmu ini dari pintu ke
pintu. Oleh karena itu bila anda memerlukan ilmu ini, maka
hendaknya anda datang saja ke masjidku, atau ke rumahku. Bila
sikapku yang demikian ini tidak menyenangkanmu, engkau adalah
penguasa. Silakan engkau melarang aku untuk membuka majelis ilmu
ini agar aku punya alasan di sisi Allah di hari kiamat bahwa aku
tidaklah menyembunyikan ilmu (tetapi dilarang oleh penguasa
untuk menyampaikannya).” Tentu Gubernur Khalid dengan jawaban
ini sangat kecewa. Maka berkumpullah padanya penghasutan Huraits
ibn Abil Wuraqa’ dan kawan-kawan serta kekecewaan pribadi
Gubernur ini. Huraits dan Gubernur Khalid akhirnya sepakat untuk
membikin rencana mengusir Muhammad ibn Ismail dari Bukhara.
Lebih-lebih lagi telah datang surat dari Al-Imam Muhammad ibn
Yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur kepada Gubernur Khalid ibn Ahmad
As-Sadusi Adz-Dzuhli di Bukhara yang memberitakan bahwa
Al-Bukhari telah menampakkan sikap menyelisihi sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian matanglah rencana
pengusiran Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari dari negeri
Bukhara.
Upaya pengusiran itu bermula dengan dibacakannya surat Muhammad
ibn yahya Adz-Dzuhli di hadapan segenap penduduk Bukhara tentang
tuduhan beliau kepada Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari
bahwa beliau telah berbuat bid’ah dengan mengatakan bahwa
“lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.” Tetapi
dengan pembacaan surat, penduduk Bukhara pada umumnya tidak mau
peduli dengan tuduhan tersebut dan terus memuliakan Al-Imam
Al-Bukhari. Namun Gubernur Khalid akhirnya mengusirnya dengan
paksa sehingga Al-Imam Al-Bukhari sangat kecewa dengan perlakuan
ini. Dan sebelum keluar dari negeri Bukhara, beliau sempat
mendoakan celaka atas orang-orang yang terlibat langsung dengan
pengusirannya. Ibrahim ibn Ma’qil An-Nasafi menceritakan: “Aku
melihat Muhammad ibn Ismail pada hari beliau diusir dari negeri
Bukhara, aku mendekat kepadanya dan aku bertanya kepadanya:
“Wahai Abu Abdillah, apa perasaanmu dengan pengusiran ini?”
Beliau menjawab: “Aku tidak peduli selama agamaku selamat.”
Al-Bukhari meninggalkan Bukhara dengan penuh kekecewaan dan
dilepas penduduk Bukhara dengan penuh kepiluan. Beliau berjalan
menuju desa Bikanda kemudian berjalan lagi ke desa Khartanka,
yang keduanya adalah desa-desa negeri Samarkan. Di desa terakhir
inilah beliau jatuh sakit dan dirawat di rumah salah seorang
kerabatnya penduduk desa tersebut.
Dalam suasana hati yang terluka, tubuhnya yang kurus kering di
usia ke enampuluh dua tahun, beliau berdo'a mengadukan segala
kepedihannya kepada Allah Ta'ala: “Ya Allah, bumi serasa sempit
bagiku. Tolonglah ya Allah, Engkau panggil aku keharibaan-Mu.”
Dan sesaat setelah itu ia-pun menghembuskan nafas terakhir dan
selamat tinggal dunia yang penuh onak dan duri.
✻ Pembelaan Al-Bukhari
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari mengakhiri
hidupnya di desa Khartanka, Samarkan pada malam Sabtu di malam
hari Raya Fitri (Iedul Fitri) 1 Syawsal 256 H. sebelum
menghembuskan nafas yang terakhir, beliau sempat berwasiat agar
mayatnya nanti dikafani dengan tiga lapis kain kafan tanpa
imamah (ikat kepala) dan tanpa baju. Dan beliau berwasiat agar
kain kafannya berwarna putih. Semua wasiat beliau itu
dilaksanakan dengan baik oleh kerabat beliau yang merawat
jenasahnya. Beliau dikuburkan di desa itu di hari Iedul Fitri 1
Syawal 256 H setelah shalat Dhuhur. Dan seketika selesai
pemakamannya, tersebarlah bau harum dari kuburnya dan terus
semerbak bau harum itu sampai berhari-hari.
Gubernur Bukhara Khalid ibn Ahmad Adz-Dzuhli menuai hasil dari
kedhalimannya dengan datangnya keputusan pencopotan terhadap
jabatannya dari Khalifah Al-Muktamad karena tuduhan ikut
terlibat pemberontakan Ya’qub ibn Al-Laits terhadap Khilafah
Ath-Thahir. Khalid ibn Ahmad akhirnya dipenjarakan di Baghdad
sampai mati di penjara pada tahun 269 H. Sedangkan Huraits ibn
Abil Waraqa’ ditimpa kehancuran pada anak-anaknya yang berbuat
tidak senonoh. Para penentang Imam Bukhari menyatakan
penyesalannya dan kesedihannya dengan wafatnya beliau dan
sebagian mereka sempat mendatangi kuburnya.
Mulailah setelah itu orang berani menyebarkan pembelaan Al-Imam
Al-Bukhari dari segala tuduhan miring terhadap dirinya. Tetapi
berbagai pembelaan itu selama ini tenggelam dalam hiruk pikuk
fitnah tuduhan keji terhadap diri beliau. Dan Allah Maha Adil
terhadap hamba-hamba-Nya.
Muhammad ibn Nasir Al-Marwazi mempersaksikan bahwa Al-Imam Abu
Abdillah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari menyatakan: “Barangsiapa
yang mengatakan bahwa aku telah berpendapat bahwa lafadhku
ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh dia adalah
pendusta, karena sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan
demikian.”
Abu Amr Ahmad ibn Nasir An-Naisaburi Al-Khaffaf mempersaksikan
bahwa Al-Imam Al-Bukhari telah mengatakan kepadanya: “Wahai Abu
Amir, hafal baik-baik apa yang aku ucapkan: Siapa yang menyangka
bahwa aku berpendapat bahwa lafadhku tentang Al-Qur’an adalah
makhluk, baik dia dari penduduk Naisabur, Qaumis, Ar-Ray,
Hamadzan, Hulwan, Baghdad, Kuffah, Basrah, Makkah, atau Madinah,
maka ketahuilah bahwa yang menyangka aku demikian itu adalah
pendusta. Karena sesungguhnya aku tidaklah mengatakan demikian.
Hanya saja aku mengatakan: Segenap perbuatan hamba Allah itu
adalah makhluk.”
Yahya ibn Said mengatakan: “Abu Abdillah Al-Bukhari telah
berkata: Gerak-gerik hamba Allah, suara mereka, tingkah laku
mereka, segala tulisan mereka adalah makhluk. Adapun Al-Qur’an
yang dibaca dengan suara huruf-huruf tertentu, yang ditulis di
lembaran-lembaran penulisan Al-Qur’an, yang dihafal di hati para
penghafalnya, maka semua itu adlaah kalamullah (perkataan Allah)
dan bukan makhluk.”
Ghunjar membawakan riwayat dengan sanadnya sampai ke Al-Firabri,
dia mengatakan bahwa Al-Bukhari telah mengatakan: “Al-Qur’an
kalamullah dan bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan bahwa
Al-Qur’an itu makhluk maka sungguh dia telah kafir.” Bahkan
Al-Imam Al-Bukhari menulis kitab khusus dalam masalah ini dengan
judul Khalqu Af`alil Ibad yang padanya beliau menjelaskan
pendirian beliau dalam masalah ini dengan gamblang dan jelas
serta lengkap dan ilmiah.
Fitnah itu memang kejam, lebih kejam dari pembunuhan. Dia tidak
akan memilih antara orang jahil atau orang alim dari kalangan
ulama. Dan ulama pun bisa salah dalam memberikan penilaian,
karena yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) hanyalah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang yang menyakini bahwa
ulama itu ma’shum hanyalah para ahli bid’ah dari kalangan
Rafidlah (Syiah) atau orang-orang sufi. Demikian pula
orang-orang yang mencerca ulama karena kesalahannya semata tanpa
mempertimbangkan apakah kesalahan itu karena kesalahan ijtihad
ataukah kesalahan prinsip yang tak termaafkan, yang demikian ini
adalah sikap sufaha’ (orang-orang dungu) semacam sururiyyun
(pengikut Muhammad ibn Surur) atau haddadiyyun (pengikut Mahmud
Al-Haddad). Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak menganggap para ulama
itu ma’shum dan tidak pula melecehkan ulama ketika mendapati
kesalahan mereka. Dengan prinsip inilah kita tetap memuliakan
Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari. Dan juga kita memuliakan
Al-Imam Muhammad ibn Yahya Adz-Dzuhli. Kita mendoakan rahmat
Allah bagi para imam-imam tersebut. Dan kita memahami segala
perselisihan di kalangan mereka dengan ilmu Al-Qur’an dan
As-Sunnah untuk mengerti mana yang benar untuk kita ikuti dan
mana yang salah untuk kita tinggalkan.
Ahlus Sunnah wal Jamaah itu berkata dan berbuat dengan
bersandarkan kepada ilmu. Adalah bukan akhlak Ahlus Sunnah wal
Jamaah bila segerombolan orang berbuat hura-hura dan kemudian
menvonis seseorang atau sekelompok orang. Tertapi ketika
ditanyai, apa dasar kamu berbuat demikian? Jawabannya: Kami
masih menunggu fatwa dari ulama!
Kita katakan kepada mereka ini: “Apalagi yang kalian tunggu dari
ulama setelah kalian berbuat, menvonis dan menilai? Apakah
kalian berbuat dulu baru mencari pembenaran terhadap perbuatan
kalian dengan fatwa ulama? Kalau begitu yang kalian tunggu
adalah fatwa pembenaran dari ulama terhadap perbuatan kalian.
tentu yang demikian ini bukanlah akhlak Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Gubernur Bukhara Khalid ibn Ahmad As-Sadusi dan mufti negeri
Bukhara Huraits ibn Abil Waraqa’ telah menyimpan ketidaksenangan
kepada Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari dan berencana
untuk mengusirnya dari negeri Bukhara. Ketika sedang
mencari-cari alasan pembenaran terhadap perbuatannya tiba-tiba
datang surat dari Al-Imam Muhammad ibn yahya Adz-Dzuhli dari
Naisabur yang memperingatkan sang Gubernur dari bahaya bid’ah
yang dibawa oleh Al-Imam Al-Bukhari. Surat ini seperti kata
pepatah: pucuk dicita ulam tiba. Tanpa selidik dan tanpa teliti,
segera surat ini dibacakan di hadapan penduduk Bukhara dan
setelah itu datanglah keputusan pengusiran Al-Bukhari dari
negeri kelahirannya, sehingga yang diharapkan, kesan orang bahwa
pengusiran itu karena semata-mata alasan agama dan bukan alasan
yang lainnya.
Tetapi Allah Maha Tahu dan Dia membongkar segala kejahatan di
balik alasan-alasan yang memakai atribut agama itu. Sehingga
yang tertulis dalam sejarah Islam sampai hari ini adalah kesan
buruk terhadap perbuatan Khalid ibn Ahmad As-Sadusi dan Huraits
ibn Abil Waraqa’. Dan bukan kesan buruk yang dibikin-bikin oleh
para pencoleng fatwa ulama itu. Camkanlah! Pengkhianatan dan
kedustaan itu berulang-ulang terus dari masa ke masa. Hanya saja
pemainnya yang berganti-ganti. Tetapi semua itu akan menjadi
sejarah bagi anak cucu di belakang hari sebagaimana sejarah
pengkhianatan dan kedustaan terhadap Al-Imam Al-Bukhari yang
sekarang menjadi pergunjingan bagi generasi ini. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur’anul Karim
- At-Tarikhul Kabir, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail
Al-Bukhari, Darul Fikr, tanpa tahun.
- Kitabuts Tsiqat, Al-Imam Muhammad ibn Hibban ibn Ahmad ibn Abi
Hatim At-Tamimi Al-Busti, darul Fikr, th. 1393 H / 1993 M.
- Kitabul Jarh wat Ta`dil, Al-Imam Abi Muhammad Abdurrahman ibn
Abi Hatim At-Tamimi Al-Handlali Ar-Razi, darul Fikr, tanpa
tahun.
- Khalqu Af’alil Ibad, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail
Al-Bukhari, Muassasatur Risalah, th. 1411 H / 1990 M.
- Tarikh Baghdad, Al-Imam Abi Bakr Ahmad ibn Ali Al-Khatib
Al-Baghdadi, Darul Fikr, tanpa tahun.
- Al-Ikmal, Al-Amir Al-Hafidh Ali ibn Hibatullah Abi Naser ibn
Makula, Darul Kutub Al-Ilmiah, th. 1411 H / 1990 M.
- Thabaqatul Hanabilah, Al-Qadli Abul Husain Muhammad ibn Abi
Ya’la, Darul Ma’rifah, Beirut, Libanon, tanpa tahun.
- Rijal Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Abu Naser Ahmad ibn Muhammad
ibn Al-Husain Al-Bukhari Al-Kalabadzi, Darul Baaz, th. 1407 H /
1987 M.
- Al-Kamil fit Tarikh, Al-Allamah Ibnu Atsir, Darul Fikr, tanpa
tahun.
- Tahdzibul Kamal, Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi,
Muassasatur Risalah, th. 1413 H / 1992 M.
- Kitab Tadzkratul Huffadl, Al-Imam Abu Abdillah Syamsuddin
Muhammad Adz-Dzahabi, Darul Kutub Al-Ilmiah, tanpa tahun.
- Siyar A`lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad
ibn Utsman Adz-Dzahabi, Muassasatur Risalah, th. 1417 H / 1996
M.
- Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafidh Abul Fida’ Ibnu Katsir
Ad-Dimasyqi, Darul Kutub Al-Ilmiyah, th. 1408 H / 1988 M.
- Hadyus Sari Muqaddimah Fathul Bari, Al-Imam Al-Hafidh Ahmad
ibn Ali ibn Hajar Al-Asqalani, Al-Maktabah As-Salafiyah, tanpa
tahun.
- Qaidah fi Jarh wat Ta’dil, Al-Imam Tajuddin Abdul Wahhab ibn
Ali As-Subki, Al-Maktabah Al-Ilmiah, Lahore, Pakistan, th. 1403
H / 1983 M.
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1