URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ [7] KEMUDIAN MURID-MURIDNYA
       *****************************************************
       #Post#: 124--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Kemudian Murid-Muridnya Seperti: Imam
       Al-Bukhari
   DIR By: BrandedLvo
       Date: December 25, 2023, 1:17 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Imam Al-Bukhari
       (Wafat 256 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=389
       Nama sebenarnya adalah Muhammad [i]ibn Ismail ibn Ibrahim
       dijuluki dengan Abu Abdillah. Ia lahir di Bukhara pada tahun 194
       H. Semua Ulama, baik dari gurunya maupun dari sahabatnya memuji
       dan mengakui ketinggian ilmunya, Ia seorang Imam yang tidak
       tercela hapalan haditsnya dan kecermatannya. Ia mulai menghafal
       hadits ketika umurnya belum mencapai 10 tahun, ia mencatat dari
       seribu guru lebih, ia hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000
       hadits tidak shahih.[/i]
       Dia mengarang kitab besar Al-Jami’ ash Shahih yang merupakan
       kitab paling shahih sesudah Al-Quran, hadits yang ia dengar
       sendiri dari gurunya lebih dari 70.000 buah, ia dengan tekun
       mengumpulkannya selama 16 tahun, al hafiz mempunyai beberapa
       komentar terhadap sebagian haditsnya, mereka telah melontarkan
       kritik atas 110 buah diantaranya. Dari 110 hadits itu
       ditakhtijkan oleh Imam Muslim sebanyak 32 hadits dan oleh dia
       sendiri sebanyak 78 hadits. Ibnu Hajar al-Asqalani berpendapat
       bahwa hadits-hadits yang dipersoalkan ini, “tidak seluruhnya
       ber’illat tercela, melainkan kebanyakan jawabannya mengandung
       kemungkinan dan sedikit dari jawabannya menyimpang.”
       Kitab Shahih Bukhari mempunyai banyak syarah yang oleh pengarang
       kitab Kasyf adh-Dhunun disebutkan 82 syarah diantaranya. Tetapi
       yang paling utama adalah syarah Ibnu Hajar al-Asqalani yang
       bernama Fat al-Bari, dan berikutnya syarah Al-Asthalani,
       kemudian syarah al-Aini Umdat al Qari.
       Al Bukhari mempunyai banyak kitab, antara lain At-Tawarikh ats
       Tsalatsah al-Kabir wal Ausath wash Shaghir (Tiga Tarikh: Besar,
       sedang, dan Kecil), kitab al-Kuna, Kitab Al-Wuhdan, kitab
       al-Adab al-Mufrad dan kitab Adl-Dlu’afa dan lain lainnya.
       At-Tirmidzi berkata tentangnya: ”Saya tidak pernah melihat orang
       yang dalam hal illat dan rijal, lebih mengerti daripada
       Al-Bukhari.”
       Ibnu Khuzaimah berkata: “Aku tidak melihat dibawah permukaan
       langit seseorang yang lebih tahu tentang hadits Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam daripada Muhammad ibn Ismail
       Al-Bukhari.”
       Muslim ibn al Hajjaj pernah datang kepadanya lalu mencium antara
       kedua matanya, seraya berkata: “Biarkan saya mencium kedua
       kakimu, wahai guru para guru, pemimpin para ahli hadits dan
       dokter penyakit hadits.”
       Abu Nu’im dan Ahmad ibn Ahmad berkata: “Al-Bukhari adalah faqih
       (ahli hukum) dari ummat ini.”
       Abu Muhammad Abdullah ibn Abdurahman Ad-Darimy berkata:
       “Muhammad ibn Ismail (Bukhari) orang yang tercakap dalam bidang
       hukum dari antara kami dan lebih banyak mencari hadits.”
       Telah dipaparkan dalam pembahasan hadits Maqlub, ketika para
       ulama baghdad sengaja memutarbalikkan seratus hadits, lalu
       Al-Bukhari mengembalikan setiap matan kepada sanad yang
       sebenarnya dan setiap sanad kepada matannya, sehingga membuat
       para ulama kagum akan hapalan dan kecermatannya. Dalam rangka
       meneliti dan menghapal hadits, Al Bukhari tidak segan segan
       melakukan perjalanan ke Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Jazirah,
       Hijaz dan Basrah.
       Al-Bukhari adalah salah seorang dari imam Mujtahid dalam bidang
       fiqh dan dalam bidang mengistibathkan hukum dari hadits.
       Al-Bukhari meriwayatkan hadits bersumber dari Adl-Dlahhak ibn
       Mukhallad Abu Ashim an-Nabil, Makki ibn Ibrahim al-Handlali,
       Ubaidullah ibn Musa al-Abbasi, Abdullah Quddus ibn al-Hajjaj,
       Muhammad ibn Abdullah al-Anshari dan lain lain.
       Sedangkan yang meriwayatkan darinya banyak sekali diantaranya:
       At-Tirmidzi, Muslim, An-Nasa’i, Ibrahim ibn Ishak al-Hurri,
       Muhammad ibn Ahmad ad-Daulabi, dan orang terakhir yang
       meriwayatkan darinya adalah Manshur ibn Muhammad al Bazwadi.
       Ia wafat pada tahun 256 H di Samarkand yang bernama Khartank.
       &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       Disalin dari Biografi Al-Bukhari dalam Tarikh al-Baghdad,
       al-Khatib 2/4-36, Tadzkirat al-Huffadh 2/122, Tahzib at Tahdzib
       ibn Hajar Asqalani 9/47
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       #Post#: 413--------------------------------------------------
       Re: &#1769;&#1758;&#1769; Kemudian Murid-Muridnya Seperti: Imam
       Al-Bukhari
   DIR By: iscm
       Date: January 16, 2024, 12:26 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Imam Al-Bukhari
       (194-256 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=389
       Negeri Bukhara sebagai negeri muara sungai Jihun yang terletak
       di sebelah utara Afghanistan dan sebelah selatan Ukraina adalah
       negeri yang banyak melahirkan imam-imam Ahlul hadits dan Ahlul
       fiqh. Negeri itu menyimpan kenangan sejarah perjuangan para
       imam-imam Muslimin dalam berbagai bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan
       Al-Hadits. Dapat disebutkan di sini, para Imam Ahlul Hadits yang
       lahir dan dibesarkan di negeri Bukhara antara lain adalah:
       Al-Imam Abdullah [i]ibn Muhammad Abu Ja’far Al-Musnadi
       Al-Bukhari yang meninggal dunia di negeri tersebut pada hari
       Kamis bulan Dzulqa’dah tahun 220 H. dan kemudian juga lahir di
       Bukhara, Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim Al-Bukhari
       yang lahir pada tahun 194 Hijriyah dan wafat pada tahun 256 H di
       sebuah desa bernama Khortanak menuju arah Samarkan. Juga lahir
       dan dibesarkan di negeri ini Al-Imam Abi Naser Ahmad ibn
       Muhammad ibn Al-Husain Al-Kalabadzi Al-Bukhari yang lahir tahun
       323 H dan meninggal tahun 398 H. dan masih banyak lagi deretan
       para imam-imam besar Ahli hadits yang menghiasi indahnya sekarah
       negeri Bukhara.[/i]
       Tetapi di masa kini kaum Muslimin di dunia, apabila disebut Imam
       Bukhari, maka yang dipahami hanyalah Imam Ahlul Hadits dari
       negeri Bukhara yang bernama Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn
       Bardizbah Al-Bukhari. Karena karya beliau yang amat masyhur di
       kalangan kaum Muslimin di dunia ialah: Al-Jami’us Shahih
       Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi yang
       kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih Al-Bukhari. Kata
       “Bukhari” itu sendiri maknanya ialah: Orang dari negeri Bukhara.
       Jadi kalau dikatakan “Imam Bukhari” maknanya ialah seorang tokoh
       dari negeri Bukhara.
       &#10043; Al-Bukhari di Masa Kecil
       Nasab kelengkapan dari tokoh yang sedang kita bincangkan ini
       adalah sebagai berikut: Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn
       Al-Mughirah ibn Bardizbah. Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli
       orang-orang Persia yang menyembah api. Sang kakek tersebut
       meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi. Putra dari
       Bardizbah yang bernama Al-Mughirah kemudian masuk Islam di bawah
       bimbingan Gubernur negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga
       Al-Mughirah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan kepada
       kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata cucu dari Al-Mughirah ini di
       kemudian hari mengukir sejarah yang agung, yaitu sebagai seorang
       Imam Ahlul Hadits.
       Al-Imam Al-Bukhari lahir pada hari Jum’at tanggal 13 Syawal 194
       H di negeri Bukhara di tengah keluarganya yang cinta ilmu sunnah
       Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ayah beliau
       bernama Ismail ibn Ibrahim ibn Al-Mughirah adalah seorang ulama
       Ahli hadits yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi dari Imam Malik
       ibn Anas, Hammad ibn Zaid, dan sempat pula berpegang tangan
       dengan Abdullah ibn Mubarak. Riwayat-riwayat Ismail ibn Ibrahim
       tentang hadits Nabi tersebar di kalangan orang-orang Iraq.
       Ayah Al-Bukhari meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Di
       saat menjelang wafatnya, Ismail ibn Ibrahim sempat membesarkan
       hati anaknya yang masih kecil sembari menyatakan kepadanya: “Aku
       tidak mendapati pada hartaku satu dirham pun dari harta yang
       haram atau satu dirham pun dari harta yang syubhat.” Tentu anak
       yang ditumbuhkan dari harta yang bersih dari perkara haram atau
       syubhat akan lebih baik dan mudah dididik kepada yang baik.
       Sehingga sejak wafatnya sang ayah, Al-Bukhari hidup sebagai anak
       yatim dalam dekapan kasih sayang ibunya.
       Muhammad ibn Ismail mendapat perhatian penuh dari ibunya. Sejak
       usianya yang masih muda dia telah hafal Al-Qur’an dan tentunya
       belajar membaca dan menulis. Kemudian pada usia sepuluh tahun,
       Muhammad kecil mulai bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu
       hadits yang tersebar di berbagai tempat di negeri Bukhara. Pada
       usia sebelas tahun, dia sudah mampu menegur seorang guru ilmu
       hadits yang salah dalam menyampaikan urut-urutan periwayatan
       hadits (yang disebut sanad). Usia kanak-kanak beliau dihabiskan
       dalam kegiatan menghafal ilmu dan memahaminya sehingga ketika
       menginjak usia remaja –enam belas tahun–, beliau telah hafal
       kitab-kitab karya imam-imam Ahli hadits dari kalangan tabi’it
       tabi’in (generasi ketiga umat Islam), seperti karya Abdullah ibn
       Al-Mubarak, Waqi’ ibn Al-Jarrah, dan memahami betul kitab-kitab
       tersebut.
       Usia kanak-kanak Muhammad ibn Ismail telah berlalu dengan agenda
       belajar yang amat padat. Kesibukannya di masa kanak-kanak dalam
       menghafal dan memahami ilmu, mengantarkannya kepada masa remaja
       yang cemerlang dan menakjubkan. Kini ia menjadi remaja yang amat
       diperhitungkan orang di majelis manapun dia hadir. Karena dalam
       usia belasan tahun seperti ini dia telah hafal di luar kepala
       tujupuluh ribu hadits lengkap dengan sanadnya di samping
       tentunya Al-Qur’an tiga puluh juz.
       &#10043; Melanglang-buana Menuntut Ilmu
       Di awal usianya yang ke delapan belas, Al-Bukhari diajak ibunya
       bersama kakaknya bernama Ahmad ibn Ismail berangkat ke Makkah
       untuk menunaikan ibadah haji. Perjalanan jauh antara negeri
       Bukhara dengan Mekkah menunggang unta, keledai dan kuda adalah
       pengalaman baru baginya. Sehingga dia terbiasa dengan berbagai
       kesengsaraan perjalanan jauh mengarungi padang pasir,
       gunung-gunung dan lembahnya yang penuh keganasan alam. Dalam
       kondisi yang demikian, dia merasa semakin dekat kepada Allah dan
       dia benar-benar menikmati perjalanan yang memakan waktu
       berbulan-bulan itu. Sesampainya di Makkah, Al-Bukhari mendapati
       kota Makkah penuh dengan ulama Ahli Hadits yang membuka
       halaqah-halaqah ilmu. Tentu yang demikian ini semakin
       menggembirakan beliau. Oleh karena itu, setelah selsai
       pelaksanaan ibadah haji, beliau tetap tinggal di Makkah
       sementara kakak kandungnya kembali ke Bukhara bersama ibunya.
       Beliau bolak-balik antara Makkah dan Madinah, kemudian akhirnya
       mulai menulis biografi para tokoh. Sehingga lahirlah untuk
       pertama kalinya karya beliau dalam bidang ilmu hadits yang
       berjudul Kitabut Tarikh. Ketika kitab karya beliau ini mulai
       tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam, ramailah pembicaraan
       orang tentang tokoh ilmu hadits tersebut dan semua orang amat
       mengaguminya. Sampai-sampai seorang Imam Ahli Hadits di masa itu
       yang bernama Ishaq ibn Rahuyah membawa Kitabut Tarikh karya
       Al-Bukhari ini ke hadapan Gubernur negeri Khurasan yang bernama
       Abdullah ibn Thahir Al-Khuza’i, sembari mengatakan: “Wahai tuan
       Gubernur, maukah aku tunjukkan kepadamu atraksi sihir?” Kemudian
       ditunjukkan kepadanya kitab ini. Maka Gubernur pun membaca kitab
       tersebut dan beliau sangat kagum dengannya. Sehingga tuan
       Gubernur pun mengatakan: “Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa
       mengarang kitab ini.” Al-Imam Al-Bukhari pun akhirnya menjadi
       amat terkenal di berbagai negeri Islam. Ketika Al-Imam
       Al-Bukhari berkeliling ke berbagai negeri tersebut, beliau
       mendapati betapa para ulama Ahlul Hadits di setiap negeri
       tersebut sangat menghormatinya. Beliau berkeliling ke berbagai
       negeri pusat-pusat ilmu hadits seperti Mesir, Syam, Baghdad
       (Iraq), Bashrah, Kufah dan lain-lainnya.
       Di saat berkeliling ke berbagai negeri itu, beliau suatu hari
       duduk di majlisnya Ishaq ibn Rahuyah. Di sana ada satu saran
       dari hadirin untuk kiranya ada upaya mengumpulkan hadits-hadits
       Nabi dalam satu kitab. Dengan usul ini mulailah Al-Imam
       Al-Bukhari menulis kitab shahihnya dan kitab tersebut baru
       selesai dalam tempo enam belas tahun sesudah itu. Beliau
       menuliskan dalam kitab ini hadits-hadits yang diyakini shahih
       oleh beliau setelah menyaring dan meneliti enam ratus ribu
       hadits. Beliau pilih daripadanya tujuh ribu dua ratus tujupuluh
       lima hadits shahih dan seluruhnya dikumpulkan dalam satu kitab
       dengan judul Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah
       wa Sunani wa Ayyamihi yang kemudian terkenal dengan nama kitab
       Shahih Al-Bukhari. Kitab ini pun mendapat pujian dan sanjungan
       dari berbagai pihak di seantero negeri-negeri Islam. Sehingga
       ketokohan beliau dalam ilmu hadits semakin diakui kalangan luas
       dunia Islam. Para Imam-Imam Ahli Hadits sangat memuliakannya,
       seperti Imam Ahmad ibn Hanbal, Ali ibn Al-Madini, Yahya ibn
       Ma`in dan lain-lainnya.
       &#10043; Imam Al-Bukhari Disanjung di Mana-Mana
       Karya-karya beliau dalam bidang hadits terus mengalir dan
       beredar di dunia Islam. Kepiawaian beliau dalam menyampaikan
       keterangan tentang berbagai kepelikan di seputar ilmu hadits di
       berbagai majelis-majelis ilmu bersinar cemerlang sehingga beliau
       dipuji dan diakui keilmuannya oleh para gurunya dan para ulama
       yang setara ilmunya dengan beliau, lebih-lebih lagi oleh para
       muridnya. Beliau menimba ilmu dari seribu lebih ulama dan semua
       mereka selalu mempunyai kesan yang baik, bahkan kagum terhadap
       beliau.
       Al-Imam Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf ibn Al-Mizzi meriwayatkan
       dalam kitabnya yang berjudul Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal
       beberapa riwayat pujian para ulama Ahli hadits dan sanjungan
       mereka terhadap Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari. Di antara
       beberapa riwayat itu antara lain ialah pernyataan Al-Imam Mahmud
       ibn An-Nadhir Abu Sahl Asy-Syafi’i yang menyatakan: “Aku masuk
       ke berbagai negeri yaitu Basrah, Syam, Hijaz dan Kufah. Aku
       melihat di berbagai negeri tersebut bahwa para ulamanya bila
       menyebutkan Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari selalu mereka lebih
       mengutamakannya daripada diri-diri mereka.”
       Karena itu majelis-majelis ilmu Al-Imam Al-Bukhari selalu
       dijejali ribuan para penuntut ilmu. Dan bila beliau memasuki
       suatu negeri, puluhan ribu bahkan ratusan ribu kaum Muslimin
       menyambutnya di perbatasan kota karena beberapa hari sebelum
       kedatangan beliau, telah tersebar berita akan datangnya Imam
       Ahlul Hadits, sehingga kaum Muslimin pun berjejal-jejal berdiri
       di pinggir jalan yang akan dilewati beliau hanya untuk sekedar
       melihat wajah beliau atau kalau bernasib baik, kiranya dapat
       bersalaman dengan beliau.
       Al-Imam Muhammad ibn Abi Hatim meriwayatkan bahwa Hasyid ibn
       Ismail dan seorang lagi (tidak disebutkan namanya), keduanya
       menceritakan: “Para ulama Ahli Hadits di Bashrah di jaman
       Al-Bukhari masih hidup merasa lebih rendah pengetahuannya dalam
       hadits dibanding Al-Imam Al-Bukhari. Padahal beliau ini masih
       muda belia. Sehingga pernah ketika beliau berjalan di kota
       Bashrah, beliau dikerumuni para penuntut ilmu. Akhirnya beliau
       dipaksa duduk di pinggir jalan dan dikerumuni ribuan orang yang
       menanyakan kepada beliau berbagai masalah agama. Padahal wajah
       beliau masih belum tumbuh rambut pada dagunya dan juga belum
       tumbuh kumis.”
       &#10043; Datanglah Badai Menghempas
       Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari dielu-elukan dan disanjung orang
       di mana-mana. Pujian penuh ketakjuban datang dari segala penjuru
       negeri, dan beliau dijadikan rujukan para ulama di masa muda
       belia. Di saat penuh kesibukan ibadah dan ilmu yang menghiasi
       detik-detik kehidupan Al-Bukhari, pada sebagian orang muncul iri
       dengki terhadap berbagai kemuliaan yang Allah limpahkan
       kepadanya.
       Badai itu bermula dari kedatangan beliau pada suatu hari di
       negeri Naisabur dalam rangka menimba ilmu dari para imam-imam
       Ahli Hadits di sana. Kedatangan beliau ke negeri tersebut
       bukanlah untuk pertama kalinya. Beliau sebelumnya sudah
       berkali-kali berkunjung ke sana karena Nasaibur termasuk salah
       satu pusat markas ilmu sunnah. Lagi pula di sana terdapat guru
       beliau, seorang Ahli Hadits yang bernama Muhammad ibn Yahya
       Adz-Dzuhli. Pada suatu hari tersebarlah berita gembira di
       Naisabur bahwa Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari akan datang ke
       negeri tersebut untuk tinggal padanya beberapa lama. Bahkan
       Al-Imam Muhammad ibn Yahya Adz-Dzuhli mengumumkan secara khusus
       di majelis ilmunya dengan menyatakan: “Barangsiapa ingin
       menyambut Muhammad ibn Ismail besok, silakan menyambutnya karena
       aku akan menyambutnya.” Maka masyarakat luas pun bergerak
       mengadakan persiapan untuk menyambut kedatangan Imam besar Ahli
       Hadits di kota mereka.
       Di hari kedatangan Imam Al-Bukhari itu, ribuan penduduk Naisabur
       bergerombol di pinggir kota untuk menyambutnya. Di antara yang
       berkerumun menunggu kedatangan beliau itu ialah Al-Imam Muhammad
       ibn Yahya Adz-Dzuhli bersama para ulama lainnya. Diriwayatkan
       oleh Muhammad ibn Ya’qub Al-Akhram bahwa ketika Al-Bukhari
       sampai di pintu kota Naisabur, yang menyambutnya sebanyak empat
       ribu orang berkuda, di samping yang menunggang keledai dan himar
       serta ribuan pula yang berjalan kaki.”
       Imam Muslim ibn Al-Hajjaj menceritakan: “Ketika Muhammad ibn
       Ismail datang ke Naisabur, semua pejabat pemerintah dan semua
       ulama menyambutnya di batas negeri.”
       Ketika Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari sampai di
       Naisabur, para penduduk menyambutnya dengan penyambutan yang
       demikian besar dan agung. Beribu-ribu orang berkerumun di tempat
       tinggal beliau setiap harinya untuk menanyakan kepada beliau
       berbagai masalah agama dan khususnya berbagai kepelikan tentang
       hadits. Akibatnya berbagai majelis ilmu para ulama yang lainnya
       menjadi sepi pengunjung. Dari sebab ini mungkin timbul
       ketidakenakan di hati sebagian ulama itu terhadap Al-Bukhari.
       Di hari ketiga kunjungan beliau ke Naisabur, terjadilah
       peristiwa yang amat disesalkan itu. Diceritakan oleh Ahmad ibn
       Adi peristiwa itu terjadi sebagai berikut:
       Telah menceritakan kepadaku sekelompok ulama bahwa ketika
       Muhammad ibn Ismail sampai ke negeri Naisabur dan orang-orang
       pun berkumpul mengerumuninya, maka timbullah kedengkian padanya
       dari sebagian ulama yang ada pada waktu itu. Sehingga mulailah
       diberitakan kepada para ulama Ahli hadits bahwa Muhammad ibn
       Ismail berpendapat bahwa lafadh beliau ketika membaca Al-Qur’an
       adalah makhluk. Pada suatu majelis ilmu, ada seseorang berdiri
       dan bertanya kepada beliau: “Wahai Abu Abdillah (yakni
       Al-Bukhari), apa pendapatmu tentang orang yang menyatakan bahwa
       lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk? Apakah memang
       demikian atau lafadh orang yang membaca Al-Qur’an itu bukan
       makhluk?”
       Mendengar pertanyaan itu, beliau berpaling karena tidak mau
       menjawabnya. Akan tetapi si penanya mengulang-ulang terus
       pertanyaannya hingga sampai ketiga kalinya seraya memohon dengan
       sangat agar beliau menjawabnya. Al-Bukhari pun akhirnya menjawab
       dengan mengatakan: “Al-Qur’an kalamullah (perkataan Allah) dan
       bukan makhluk. Sedangkan perbuatan hamba Allah adalah makhluk,
       dan menguji orang dalam masalah ini adalah perbuatan bid’ah.”
       Dengan jawaban beliau ini, si penanya membikin ricuh di majelis
       dan mengatakan tentang Al-Bukhari: “Dia telah menyatakan bahwa
       lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.” Akibatnya
       orang-orang di majelis itu menjadi ricuh dan mereka pun segera
       membubarkan diri dari majelis itu dan meninggalkan beliau
       sendirian. Sejak itu Al-Bukhari duduk di tempat tinggalnya dan
       orang-orang pun tidak lagi mau datang kepada beliau.”
       Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ahmad ibn Muhammad ibn
       Ghalib dengan sanadnya dari Muhammad ibn Khasynam menceritakan:
       “Setelah orang meninggalkan Al-Bukhari, orang-orang yang
       meninggalkan beliau itu sempat datang kepada beliau dan
       mengatakan: “Engkau mencabut pernyataanmu agar kami kembali
       belajar di majelismu.” Beliau menjawab: “saya tidak akan
       mencabut pernyataan saya kecuali bila mereka yang meninggalkanku
       menunjukkan hujjah (argumentasi) yang lebih kuat dari hujjahku.”
       Kata Muhammad ibn Khasynam: “Sungguh aku amat kagum dengan
       tegarnya dan kokohnya Al-Bukhari dalam berpegang dengan
       pendirian.”
       Kaum Muslimin di Naisabur gempar dengan kejadian ini dan
       akhirnya arus fitnah melibatkan pula Al-Imam Muhammad ibn Yahya
       Adz-Dzuhli sehingga beliau menyatakan di majelis ilmu beliau
       yang kini telah ramai kembali setelah orang meninggalkan majelis
       Al-Bukhari: “Ketahuilah, sesungguhnya siapa saja yang masih
       mendatangi majelis Al-Bukhari, dilarang datang ke majelis kita
       ini. Karena orang-orang di Baghdad telah memberitakan melalui
       surat kepada kami bahwa orang ini (yakni Al-Bukhari) mengatakan
       bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk. Kata
       mereka yang ada di Baghdad bahwa Al-Bukhari telah dinasehati
       untuk jangan berkata demikian, tetapi dia terus mengatakan
       demikian. Oleh karena itu, jangan ada yang mendekatinya dan
       barangsiapa mendekatinya maka janganlah mendekati kami.”
       Tentu saja dengan telah terlibatnya Imam Adz-Dzuhli, fitnah
       semakin meluas. Hal ini terjadi karena Adz-Dzuhli adalah imam
       yang sangat berpengaruh di seluruh wilayah Khurasan yang
       beribukota di Naisabur itu. Bahkan lebih lanjut Al-Imam
       Adz-Dzuhli menegaskan: “Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni
       firman Allah) dan bukan makhluk dari segala sisinya dan dari
       segala keadaan. Maka barangsiapa yang berpegang dengan prinsip
       ini, sungguh dia tidak ada keperluan lagi untuk berbicara
       tentang lafadhnya ketika membaca Al-Qur’an atau omongan yang
       serupa ini tentang Al-Qur’an. Barangsiapa yang menyatakan bahwa
       Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir dan keluar
       dari iman, dan harus dipisahkan dari istrinya serta dituntut
       untuk taubat dari ucapan yang demikian. Bila dia mau taubat maka
       diterima taubatnya. Tetapi bila tidak mau taubat, harus
       dipenggal lehernya dan hartanya menjadi rampasan Muslimin serta
       tidak boleh dikubur di pekuburan kaum Muslimin. Dan barangsiapa
       yang bersikap abstain dengan tidak menyatakan Al-Qur’an sebagai
       makhluk dan tidak pula menyatakan Al-Qur’an bukan makhluk, maka
       sungguh dia telah menyerupai orang-orang kafir. Barangsiapa yang
       menyatakan “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk”,
       maka sungguh dia adalah Ahli Bid’ah (yakni orang yang sesat).
       Tidak boleh duduk bercengkrama dengannya dan tidak boleh diajak
       bicara. Oleh karena itu, barangsiapa setelah penjelasan ini
       masih saja mendatangi tempatnya Al-Bukhari, maka curigailah ia
       karena tidaklah ada orang yang tetap duduk di majelisnya kecuali
       dia semadzhab dengannya dalam kesesatannya.”
       Dengan pernyataan Adz-Dzuhli seperti ini, berdirilah dari
       majelis itu Imam Muslim ibn Hajjaj dan Ahmad ibn Salamah. Bahkan
       Imam Muslim mengirimkan kembali kepada Adz-Dzuhli seluruh
       catatan riwayat hadits yang didapatkannya dari Imam Adz-Dzuhli,
       sehingga dalam Shahih Muslim tidak ada riwayat Adz-Dzuhli dari
       berbagai sanad yang ada padanya.
       Sikap Imam Muslim ibn Hajjaj dan Ahmad ibn Salamah yang seperti
       itu menyebabkan Adz-Dzuhli semakin marah sehingga beliau pun
       menyatakan: “Orang ini (yakni Al-Bukhari) tidak boleh bertempat
       tinggal di negeri ini bersama aku.”
       Kemarahan Adz-Dzuhli seperti ini sangat menggusarkan Ahmad ibn
       Salamah, salah seorang pembela Al-Bukhari. Dia segera mendatangi
       Al-Bukhari seraya mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (yakni
       Al-Bukhari), orang ini (yakni Adz-Dzuhli) sangat berpengaruh di
       Khurasan, khususnya di kota ini (yakni kota Naisabur). Dia telah
       terlalu jauh dalam berbicara tentang perkara ini sehingga tak
       seorang pun dari kami bisa menasehatinya dalam perkara ini. Maka
       bagaimana pendapatmu?”
       Al-Imam Al-Bukhari amat paham kegusaran muridnya ini sehingga
       dengan penuh kasih sayang beliau memegang jenggot Ahmad ibn
       Salamah dan membaca surat Ghafir 44 yang artinya: “Dan aku
       serahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat
       hamba-hamba-Nya.” Kemudian beliau menunduk sambil berkata: “YA
       Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku tinggal di Naisabur
       tidaklah bertujuan jahat dan tidak pula bertujuan dengan
       kejelekan. Engkau juga mengetahui Ya Allah, bahwa aku tidak
       mempunyai ambisi untuk memimpin. Hanya saja karena aku terpaksa
       pulang ke negeriku karena para penentangku telah menguasai
       keadaan. Dan sungguh orang ini (yakni Adz-Dzuhli) membidikku
       semata-mata karena hasad (dengki) terhadap apa yang Allah telah
       berikan kepadaku daripada ilmu.” Wajah beliau sendu menyimpan
       kekecewaan yang mendalam. Dan dia menatap Ahmad ibn Salamah
       dengan mantap sambil berkata: “wahai Ahmad, aku akan
       meninggalkan Naisabur besok agar kalian terlepas dari berbagai
       problem akibat omongannya (yakni omongan Adz-Dzuhli) karena
       sebab keberadaanku.” Segera setelah itu Al-Bukhari
       berkemas-kemas untuk mempersiapkan keberangkatannya besok
       kembali ke negeri Bukhara.
       Rencana Al-Bukhari untuk pulang ke negeri Bukhara sempat
       diberitakan oleh Ahmad ibn Salamah kepada segenap kaum Muslimin
       di Naisabur, tetapi mereka tidak ada yang berselera untuk
       melepasnya di batas kota. Sehingga Al-Imam Al-Bukhari dilepas
       kepulangannya oleh Ahmad ibn Salamah saja dan beliau berjalan
       sendirian menempuh jalan darat yang jauh menuju negerinya yaitu
       Bukhara. “Selamat tinggal Naisabur, rasanya tidak mungkin lagi
       aku berjumpa denganmu.”
       &#10043; Badai di Negeri Bukhara
       Di negeri Bukhara telah tersebar berita bahwa Imam Muhammad ibn
       Ismail Al-Bukhari sedang menuju Bukhara. Penduduk Bukhara
       melakukan berbagai persiapan untuk menyambutnya di pintu kota.
       Bahkan diceritakan oleh Ahmad ibn Mansur Asy-Syirazi bahwa dia
       mendengar dari berbagai orang yang menyaksikan peristiwa
       penyambutan Al-Bukhari di negeri Bukhara, dikatakan bahwa
       masyarakat membangun gapura penyambutan di tempat yang berjarak
       satu farsakh (kurang lebih 5 km) sebelum masuk kota Bukhara. Dan
       ketika Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari telah sampai di
       gapura “Selamat Datang” tersebut, beliau mendapati hampir
       seluruh penduduk negeri Bukhara menyambutnya dengan penuh suka
       cita, sampai-sampai disebutkan bahwa penduduk melemparkan
       kepingan emas dan perak di jalan yang akan diinjak oleh telapak
       kaki Al-Bukhari. Mereka berdiri di kedua sisi jalan masuk kota
       Bukhara sambil berebut memberikan buah anggur yang istimewa
       kepada sang Imam Ahlul Hadits yang amat mereka cintai itu.
       Tetapi suka cita penduduk negeri Bukhara ini tidak berlangsung
       lama. Beberapa hari setelah itu para ahli fikih mulai resah
       dengan beberapa perubahan pada cara beribadah orang-orang
       Bukhara. Yang berlaku di negeri tersebut adalah madzhab Hanafi,
       sedangkan Al-Bukhari mengajarkan hadits sesuai dengan pengertian
       Ahli Hadits yang tidak terikat dengan madzhab tertentu sehingga
       yang nampak pada masyarakat ialah sikap-sikap yang diajarkan
       oleh Ahli Hadits, dan bukan pengamalan madzhab Hanafi. Orang
       dalam beriqamat untuk shalat jamaah tidak lagi menggenapkan
       bacaan qamat seperti adzan, tetapi membaca qamat dengan
       satu-satu sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits shahih.
       Ketika bertakbir dalam shalat semula tidak mengangkat tangan
       sebagaimana madzhab Hanafi, sekarang mereka bertakbir dengan
       mengangkat tangan.
       Dengan berbagai perubahan ini keresahan para ulama fiqih tambah
       menjadi-jadi sehingga tokoh ulama fiqih di negeri tersebut yang
       bernama Huraits ibn Abi Wuraiqa’ menyatakan tentang Al-Imam
       Al-Bukhari: “Orang ini pengacau. Dia akan merusakkan kehidupan
       keagamaan di kota ini. Muhammad ibn yahya telah mengusir dia
       dari Naisabur, padahal dia imam Ahli Hadits.”
       Maka Huraits dan kawan-kawannya mulai berusaha untuk
       mempengaruhi Gubernur Bukhara agar mengusir Al-Imam Muhammad ibn
       Ismail Al-Bukhari ini. Gubernur negeri ini yang bernama Khalid
       ibn Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli.
       Gubernur Khalid pernah meminta Al-Bukhari untuk datang ke
       istananya guna mengajarkan kitab At-Tarikh dan Shahih Al-Bukhari
       bagi anak-anaknya. Tetapi Al-Imam Al-Bukhari menolak permintaan
       Gubernur tersebut dengan mengatakan: “Aku tidak akan menghinakan
       ilmu ini dan aku tidak akan membawa ilmu ini dari pintu ke
       pintu. Oleh karena itu bila anda memerlukan ilmu ini, maka
       hendaknya anda datang saja ke masjidku, atau ke rumahku. Bila
       sikapku yang demikian ini tidak menyenangkanmu, engkau adalah
       penguasa. Silakan engkau melarang aku untuk membuka majelis ilmu
       ini agar aku punya alasan di sisi Allah di hari kiamat bahwa aku
       tidaklah menyembunyikan ilmu (tetapi dilarang oleh penguasa
       untuk menyampaikannya).” Tentu Gubernur Khalid dengan jawaban
       ini sangat kecewa. Maka berkumpullah padanya penghasutan Huraits
       ibn Abil Wuraqa’ dan kawan-kawan serta kekecewaan pribadi
       Gubernur ini. Huraits dan Gubernur Khalid akhirnya sepakat untuk
       membikin rencana mengusir Muhammad ibn Ismail dari Bukhara.
       Lebih-lebih lagi telah datang surat dari Al-Imam Muhammad ibn
       Yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur kepada Gubernur Khalid ibn Ahmad
       As-Sadusi Adz-Dzuhli di Bukhara yang memberitakan bahwa
       Al-Bukhari telah menampakkan sikap menyelisihi sunnah Nabi
       shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian matanglah rencana
       pengusiran Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari dari negeri
       Bukhara.
       Upaya pengusiran itu bermula dengan dibacakannya surat Muhammad
       ibn yahya Adz-Dzuhli di hadapan segenap penduduk Bukhara tentang
       tuduhan beliau kepada Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari
       bahwa beliau telah berbuat bid’ah dengan mengatakan bahwa
       “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.” Tetapi
       dengan pembacaan surat, penduduk Bukhara pada umumnya tidak mau
       peduli dengan tuduhan tersebut dan terus memuliakan Al-Imam
       Al-Bukhari. Namun Gubernur Khalid akhirnya mengusirnya dengan
       paksa sehingga Al-Imam Al-Bukhari sangat kecewa dengan perlakuan
       ini. Dan sebelum keluar dari negeri Bukhara, beliau sempat
       mendoakan celaka atas orang-orang yang terlibat langsung dengan
       pengusirannya. Ibrahim ibn Ma’qil An-Nasafi menceritakan: “Aku
       melihat Muhammad ibn Ismail pada hari beliau diusir dari negeri
       Bukhara, aku mendekat kepadanya dan aku bertanya kepadanya:
       “Wahai Abu Abdillah, apa perasaanmu dengan pengusiran ini?”
       Beliau menjawab: “Aku tidak peduli selama agamaku selamat.”
       Al-Bukhari meninggalkan Bukhara dengan penuh kekecewaan dan
       dilepas penduduk Bukhara dengan penuh kepiluan. Beliau berjalan
       menuju desa Bikanda kemudian berjalan lagi ke desa Khartanka,
       yang keduanya adalah desa-desa negeri Samarkan. Di desa terakhir
       inilah beliau jatuh sakit dan dirawat di rumah salah seorang
       kerabatnya penduduk desa tersebut.
       Dalam suasana hati yang terluka, tubuhnya yang kurus kering di
       usia ke enampuluh dua tahun, beliau berdo'a mengadukan segala
       kepedihannya kepada Allah Ta'ala: “Ya Allah, bumi serasa sempit
       bagiku. Tolonglah ya Allah, Engkau panggil aku keharibaan-Mu.”
       Dan sesaat setelah itu ia-pun menghembuskan nafas terakhir dan
       selamat tinggal dunia yang penuh onak dan duri.
       &#10043; Pembelaan Al-Bukhari
       Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari mengakhiri
       hidupnya di desa Khartanka, Samarkan pada malam Sabtu di malam
       hari Raya Fitri (Iedul Fitri) 1 Syawsal 256 H. sebelum
       menghembuskan nafas yang terakhir, beliau sempat berwasiat agar
       mayatnya nanti dikafani dengan tiga lapis kain kafan tanpa
       imamah (ikat kepala) dan tanpa baju. Dan beliau berwasiat agar
       kain kafannya berwarna putih. Semua wasiat beliau itu
       dilaksanakan dengan baik oleh kerabat beliau yang merawat
       jenasahnya. Beliau dikuburkan di desa itu di hari Iedul Fitri 1
       Syawal 256 H setelah shalat Dhuhur. Dan seketika selesai
       pemakamannya, tersebarlah bau harum dari kuburnya dan terus
       semerbak bau harum itu sampai berhari-hari.
       Gubernur Bukhara Khalid ibn Ahmad Adz-Dzuhli menuai hasil dari
       kedhalimannya dengan datangnya keputusan pencopotan terhadap
       jabatannya dari Khalifah Al-Muktamad karena tuduhan ikut
       terlibat pemberontakan Ya’qub ibn Al-Laits terhadap Khilafah
       Ath-Thahir. Khalid ibn Ahmad akhirnya dipenjarakan di Baghdad
       sampai mati di penjara pada tahun 269 H. Sedangkan Huraits ibn
       Abil Waraqa’ ditimpa kehancuran pada anak-anaknya yang berbuat
       tidak senonoh. Para penentang Imam Bukhari menyatakan
       penyesalannya dan kesedihannya dengan wafatnya beliau dan
       sebagian mereka sempat mendatangi kuburnya.
       Mulailah setelah itu orang berani menyebarkan pembelaan Al-Imam
       Al-Bukhari dari segala tuduhan miring terhadap dirinya. Tetapi
       berbagai pembelaan itu selama ini tenggelam dalam hiruk pikuk
       fitnah tuduhan keji terhadap diri beliau. Dan Allah Maha Adil
       terhadap hamba-hamba-Nya.
       Muhammad ibn Nasir Al-Marwazi mempersaksikan bahwa Al-Imam Abu
       Abdillah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari menyatakan: “Barangsiapa
       yang mengatakan bahwa aku telah berpendapat bahwa lafadhku
       ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh dia adalah
       pendusta, karena sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan
       demikian.”
       Abu Amr Ahmad ibn Nasir An-Naisaburi Al-Khaffaf mempersaksikan
       bahwa Al-Imam Al-Bukhari telah mengatakan kepadanya: “Wahai Abu
       Amir, hafal baik-baik apa yang aku ucapkan: Siapa yang menyangka
       bahwa aku berpendapat bahwa lafadhku tentang Al-Qur’an adalah
       makhluk, baik dia dari penduduk Naisabur, Qaumis, Ar-Ray,
       Hamadzan, Hulwan, Baghdad, Kuffah, Basrah, Makkah, atau Madinah,
       maka ketahuilah bahwa yang menyangka aku demikian itu adalah
       pendusta. Karena sesungguhnya aku tidaklah mengatakan demikian.
       Hanya saja aku mengatakan: Segenap perbuatan hamba Allah itu
       adalah makhluk.”
       Yahya ibn Said mengatakan: “Abu Abdillah Al-Bukhari telah
       berkata: Gerak-gerik hamba Allah, suara mereka, tingkah laku
       mereka, segala tulisan mereka adalah makhluk. Adapun Al-Qur’an
       yang dibaca dengan suara huruf-huruf tertentu, yang ditulis di
       lembaran-lembaran penulisan Al-Qur’an, yang dihafal di hati para
       penghafalnya, maka semua itu adlaah kalamullah (perkataan Allah)
       dan bukan makhluk.”
       Ghunjar membawakan riwayat dengan sanadnya sampai ke Al-Firabri,
       dia mengatakan bahwa Al-Bukhari telah mengatakan: “Al-Qur’an
       kalamullah dan bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan bahwa
       Al-Qur’an itu makhluk maka sungguh dia telah kafir.” Bahkan
       Al-Imam Al-Bukhari menulis kitab khusus dalam masalah ini dengan
       judul Khalqu Af`alil Ibad yang padanya beliau menjelaskan
       pendirian beliau dalam masalah ini dengan gamblang dan jelas
       serta lengkap dan ilmiah.
       Fitnah itu memang kejam, lebih kejam dari pembunuhan. Dia tidak
       akan memilih antara orang jahil atau orang alim dari kalangan
       ulama. Dan ulama pun bisa salah dalam memberikan penilaian,
       karena yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) hanyalah Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang yang menyakini bahwa
       ulama itu ma’shum hanyalah para ahli bid’ah dari kalangan
       Rafidlah (Syiah) atau orang-orang sufi. Demikian pula
       orang-orang yang mencerca ulama karena kesalahannya semata tanpa
       mempertimbangkan apakah kesalahan itu karena kesalahan ijtihad
       ataukah kesalahan prinsip yang tak termaafkan, yang demikian ini
       adalah sikap sufaha’ (orang-orang dungu) semacam sururiyyun
       (pengikut Muhammad ibn Surur) atau haddadiyyun (pengikut Mahmud
       Al-Haddad). Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak menganggap para ulama
       itu ma’shum dan tidak pula melecehkan ulama ketika mendapati
       kesalahan mereka. Dengan prinsip inilah kita tetap memuliakan
       Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari. Dan juga kita memuliakan
       Al-Imam Muhammad ibn Yahya Adz-Dzuhli. Kita mendoakan rahmat
       Allah bagi para imam-imam tersebut. Dan kita memahami segala
       perselisihan di kalangan mereka dengan ilmu Al-Qur’an dan
       As-Sunnah untuk mengerti mana yang benar untuk kita ikuti dan
       mana yang salah untuk kita tinggalkan.
       Ahlus Sunnah wal Jamaah itu berkata dan berbuat dengan
       bersandarkan kepada ilmu. Adalah bukan akhlak Ahlus Sunnah wal
       Jamaah bila segerombolan orang berbuat hura-hura dan kemudian
       menvonis seseorang atau sekelompok orang. Tertapi ketika
       ditanyai, apa dasar kamu berbuat demikian? Jawabannya: Kami
       masih menunggu fatwa dari ulama!
       Kita katakan kepada mereka ini: “Apalagi yang kalian tunggu dari
       ulama setelah kalian berbuat, menvonis dan menilai? Apakah
       kalian berbuat dulu baru mencari pembenaran terhadap perbuatan
       kalian dengan fatwa ulama? Kalau begitu yang kalian tunggu
       adalah fatwa pembenaran dari ulama terhadap perbuatan kalian.
       tentu yang demikian ini bukanlah akhlak Ahlus Sunnah wal Jamaah.
       Gubernur Bukhara Khalid ibn Ahmad As-Sadusi dan mufti negeri
       Bukhara Huraits ibn Abil Waraqa’ telah menyimpan ketidaksenangan
       kepada Al-Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari dan berencana
       untuk mengusirnya dari negeri Bukhara. Ketika sedang
       mencari-cari alasan pembenaran terhadap perbuatannya tiba-tiba
       datang surat dari Al-Imam Muhammad ibn yahya Adz-Dzuhli dari
       Naisabur yang memperingatkan sang Gubernur dari bahaya bid’ah
       yang dibawa oleh Al-Imam Al-Bukhari. Surat ini seperti kata
       pepatah: pucuk dicita ulam tiba. Tanpa selidik dan tanpa teliti,
       segera surat ini dibacakan di hadapan penduduk Bukhara dan
       setelah itu datanglah keputusan pengusiran Al-Bukhari dari
       negeri kelahirannya, sehingga yang diharapkan, kesan orang bahwa
       pengusiran itu karena semata-mata alasan agama dan bukan alasan
       yang lainnya.
       Tetapi Allah Maha Tahu dan Dia membongkar segala kejahatan di
       balik alasan-alasan yang memakai atribut agama itu. Sehingga
       yang tertulis dalam sejarah Islam sampai hari ini adalah kesan
       buruk terhadap perbuatan Khalid ibn Ahmad As-Sadusi dan Huraits
       ibn Abil Waraqa’. Dan bukan kesan buruk yang dibikin-bikin oleh
       para pencoleng fatwa ulama itu. Camkanlah! Pengkhianatan dan
       kedustaan itu berulang-ulang terus dari masa ke masa. Hanya saja
       pemainnya yang berganti-ganti. Tetapi semua itu akan menjadi
       sejarah bagi anak cucu di belakang hari sebagaimana sejarah
       pengkhianatan dan kedustaan terhadap Al-Imam Al-Bukhari yang
       sekarang menjadi pergunjingan bagi generasi ini. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       DAFTAR PUSTAKA
       - Al-Qur’anul Karim
       - At-Tarikhul Kabir, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail
       Al-Bukhari, Darul Fikr, tanpa tahun.
       - Kitabuts Tsiqat, Al-Imam Muhammad ibn Hibban ibn Ahmad ibn Abi
       Hatim At-Tamimi Al-Busti, darul Fikr, th. 1393 H / 1993 M.
       - Kitabul Jarh wat Ta`dil, Al-Imam Abi Muhammad Abdurrahman ibn
       Abi Hatim At-Tamimi Al-Handlali Ar-Razi, darul Fikr, tanpa
       tahun.
       - Khalqu Af’alil Ibad, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail
       Al-Bukhari, Muassasatur Risalah, th. 1411 H / 1990 M.
       - Tarikh Baghdad, Al-Imam Abi Bakr Ahmad ibn Ali Al-Khatib
       Al-Baghdadi, Darul Fikr, tanpa tahun.
       - Al-Ikmal, Al-Amir Al-Hafidh Ali ibn Hibatullah Abi Naser ibn
       Makula, Darul Kutub Al-Ilmiah, th. 1411 H / 1990 M.
       - Thabaqatul Hanabilah, Al-Qadli Abul Husain Muhammad ibn Abi
       Ya’la, Darul Ma’rifah, Beirut, Libanon, tanpa tahun.
       - Rijal Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Abu Naser Ahmad ibn Muhammad
       ibn Al-Husain Al-Bukhari Al-Kalabadzi, Darul Baaz, th. 1407 H /
       1987 M.
       - Al-Kamil fit Tarikh, Al-Allamah Ibnu Atsir, Darul Fikr, tanpa
       tahun.
       - Tahdzibul Kamal, Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi,
       Muassasatur Risalah, th. 1413 H / 1992 M.
       - Kitab Tadzkratul Huffadl, Al-Imam Abu Abdillah Syamsuddin
       Muhammad Adz-Dzahabi, Darul Kutub Al-Ilmiah, tanpa tahun.
       - Siyar A`lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad
       ibn Utsman Adz-Dzahabi, Muassasatur Risalah, th. 1417 H / 1996
       M.
       - Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafidh Abul Fida’ Ibnu Katsir
       Ad-Dimasyqi, Darul Kutub Al-Ilmiyah, th. 1408 H / 1988 M.
       - Hadyus Sari Muqaddimah Fathul Bari, Al-Imam Al-Hafidh Ahmad
       ibn Ali ibn Hajar Al-Asqalani, Al-Maktabah As-Salafiyah, tanpa
       tahun.
       - Qaidah fi Jarh wat Ta’dil, Al-Imam Tajuddin Abdul Wahhab ibn
       Ali As-Subki, Al-Maktabah Al-Ilmiah, Lahore, Pakistan, th. 1403
       H / 1983 M.
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1