DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
C↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ MANHAJ
*****************************************************
#Post#: 988--------------------------------------------------
Tanya Jawab tentang Manhaj bersama Asy Syaikh Shalih Al Fauzan
DIR By: Host
Date: August 26, 2024, 8:10 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Tanya Jawab tentang Manhaj bersama Asy Syaikh Shalih Al
Fauzan
Maret 30, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Shalih ibn Fauzan Al Fauzan
1. S: Sekarang ini banyak sekali jama’ah (kelompok) dengan
beraneka ragam nama, apakah dasar penamaan ini? Bolehkah
bergabung dengan mereka jika terbebas dari bid’ah?
J: Rasulullah telah mengabarkan dan menjelaskan apa yang harus
kita perbuat, tidak ada satu perkarapun yang bisa mendekatkan
ummatnya kepada Allah kecuali telah beliau jelaskan dan tidak
ada satu perkarapun yang bisa menjauhkan ummatnya dari Allah
kecuali telah beliau jelaskan pula. Di antara masalah yang
beliau jelaskan adalah apa yang dipertanyakan sekarang ini.
Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup
di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak.” -apakah
obat penyakit ini- beliau bersabda: “Wajib atas kalian untuk
berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin
setelahku, peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham kalian,
hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena semua
perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah
sesat.”
Kelompok yang ada sekarang ini jika sesuai dengan petunjuk
Rasulullah dan para shahabatnya khususnya khulafaur rasyidin dan
masa yang utama maka kita harus bersama mereka, menisbatkan diri
dan beramal dengan mereka. Dan semua kelompok yang menyelisihi
petunjuk Rasulullah maka kita harus menjauhinya walaupun mereka
menamakan dirinya dengan nama “ahlus sunnah wal jama’ah” karena
yang dinilai bukanlah namanya akan tetapi hakikatnya, adapun
namanya kadang besar akan tetapi hakikatnya kosong bahkan batil.
Rasulullah bersabda: “Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu
golongan, Nashara terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan
ummatku ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan
semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya:
“Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu
orang-orang yang berpegang dengan sunnahku dan sunnah para
sahabatku.”
Inilah jalan yang sangat jelas… Jamaah (kelompok) yang mempunyai
ciri seperti dalam hadits ini harus kita ikuti, yaitu yang
berjalan di atas sunnah Rasulullah dan para sahabatnya,
“merekalah golongan yang selamat”. Adapun jamaah yang menyalahi
manhaj (jalan) ini dan berjalan di atas manhaj yang lain
bukanlah kelompok kita, dan kitapun tidak termasuk golongan
mereka, kita tidak akan menisbatkan diri kepada jamaah tersebut.
2. S: Apa pendapatmu tentang jamaah-jamaah yang ada, sebagai
hukum ‘Amm (Dasar)?
J: Semua jamaah yang menyelisihi Ahlus sunnah adalah salah, bagi
kami tidak ada jamaah kecuali satu yaitu (Ahlus sunnah wal
jamaah), maka semua jamaah yang menyelisihi Ahlus sunnah berarti
kelompok tersebut menyelisihi manhaj Rasulullah. Kita katakan:
“Semua yang menyelisihi Ahlus sunnah adalah ahlul ahwa (ahlul
bid’ah) adapun hukumnya dalam kekafiran dan kesesatannya
berbeda-beda sesuai dengan besar kecil dan jauh dekatnya
perselisihan tersebut.
3. S: Apakah orang yang bergabung dengan kelompok yang ada
sekarang ini dianggap sebagai ahlul bid’ah?
J: Sesuai dengan kelompok yang diikutinya… kalau kelompok
tersebut menyelisihi Al Qur`an dan As Sunnah maka orang yang
bergabung di dalamnya dianggap mubtadi’ (ahlul bid’ah).
4. S: Mana yang lebih keras siksanya orang yang berbuat maksiat
atau ahlul bid’ah?
J: Mubtadi’ lebih keras adzabnya, karena bid’ah lebih berbahaya
daripada maksiat, bid’ah lebih dicintai syaithan daripada
maksiat, karena orang yang berbuat maksiat kadang bertaubat,
adapun mubtadi’ jarang sekali kita temukan mereka bertaubat,
karena dia menyangka bahwa dirinya di atas kebenaran, berbeda
dengan orang yang berbuat maksiat. Adapun mubtadi’ dia menyangka
kalau dirinya adalah orang yang taat dan tengah berada di atas
ketaatan, karena itulah maka bid’ah -wal ‘iyadzubillah- lebih
jelek dari maksiat, oleh karena itu pula salafus shalih
mentahdzir (memperingatkan) dan melarang duduk dengan ahlul
bid’ah, karena mereka bisa mempengaruhi teman duduknya dan
bahaya mereka sangat besar. Oleh karena itulah tidak diragukan
lagi bahwa bid’ah lebih jelek dari maksiat, dan bahaya ahlul
bid’ah lebih besar atas manusia daripada bahayanya orang berbuat
maksiat.
5. S: Apakah boleh kita bergaul dengan kelompok-kelompok
tersebut atau harus mengisolir mereka?
J: Jika tujuan bergaul dengan mereka itu adalah untuk mendakwahi
mereka, agar mereka berpegang dengan sunnah serta meninggalkan
kebiasaannya yang jelek maka ini diperbolehkan, dan termasuk
dakwah ke jalan Allah. Adapun jika tujuan berbaur hanya semata
ingin bergaul dan bersahabat tanpa mau mendakwahinya maka ini
tidak diperbolehkan… Seseorang tidak boleh berbaur dengan
orang-orang yang menyelisihi kecuali dalam bentuk yang ada
faidahnya, yakni mendakwahi mereka kepada Islam yang benar dan
menerangkan al haq kepada mereka dengan harapan mereka kembali
kepada Al Haq.
6. S: Apakah ada jeleknya mentahdzir kelompok yang menyelisihi
Ahlus sunnah wal jamaah?
J: Kita mentahdzir mereka, dan kita katakan: “Kami akan melazimi
jalannya Ahlus sunnah wal jamaah serta meninggalkan orang-orang
yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah, baik penyelisihannya
sedikit ataupun besar, karena kalau kita menganggap remeh orang
yang menyelisihi sunnah, mungkin urusannya akan semakin
berkembang dan menjadi besar. Tidak diperbolehkan menyelisihi
ahlus sunnah selamanya. Wajib mengikuti jalannya Ahlus sunnah
wal jamaah baik dalam masalah besar ataupun kecil.
7. S: Apakah ketika mentahdzir harus menyebutkan kebaikan
mereka?
J: Jika engkau sebutkan kebaikan mereka maknanya engkau
berdakwah untuk membela mereka, jangan… jangan kau sebutkan
kebaikan mereka, sebutkan kesalahan yang mereka lakukan saja,
karena engkau tidak dibebani menjaga nama baik mereka, akan
tetapi engkau bertanggung jawab menjelaskan kesalahan yang
mereka lakukan, dengan harapan mereka bertaubat dari
perbuatannya, dan memperingatkan orang lain dari kejahatannya.
8. S: Jamaah Tabligh -sebagai contoh- berkata: “Kami ingin
berjalan di atas manhaj Ahlus sunnah wal jamaah”, akan tetapi
ternyata sebagian mereka melakukan kesalahan, kemudian mereka
berkata: “Mengapa kalian menghukumi dan mentahdzir kami?”
J: Telah banyak orang yang pernah ikut pergi bersama mereka dan
mempelajari ajaran mereka, kemudian menulis tentang mereka
dengan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam tubuh
jamaah tabligh. Kalian harus membaca buku-buku tersebut. Adapun
hakikat Jamaah Tabligh banyak ditulis dalam kitab… lihatlah!
Nanti kalian akan mengetahuinya, penulisnya adalah orang-orang
yang pernah pergi safar dan bergaul dengan mereka, sehingga
menulisnya dengan pengetahuan dan di atas kejelasan.
9. S: Apakah kelompok-kelompok yang ada sekarang ini termasuk
tujuh puluh dua golongan yang akan masuk neraka?
J: Semua kelompok yang menyelisihi Ahlus sunnah wal jamaah masuk
ke dalam tujuh puluh dua golongan, hingga hal ini merupakan
celaan dan hukuman sesuai kadar penyelisihan mereka.
10. S: Apakah orang yang menamakan dirinya salafi dianggap
hizbiyah?
J: Menamakan diri dengan salafiyah jika secara hakiki tidak
mengapa, tapi kalau hanya sekedar akuan semata, tidak boleh
dilakukan…, tidak boleh menamakan diri salafiyah kalau tidak
berada di atas manhaj salaf. Misalnya Asy’ariyah, mereka
berkata: “Kami adalah ahlus sunnah wal jamaah”, sebetulnya
pernyataan ini tidak boleh diucapkan oleh mereka, karena yang
mereka jalani bukanlah manhaj Ahlus sunnah wal jamaah demikian
pula halnya firqah-firqah yang lainnya.
Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila, padahal Laila tidak
menganggap mereka sebagai kekasih.
Orang yang mengaku dirinya Ahlus sunnah wal jamaah akan mencari
ahlus sunnah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihi
mereka, adapun kalau dia ingin mencampur antara (Dhab dan nun)
-begitu perkataan mereka- menggabungkan antara binatang darat
dan binatang laut, tidak mungkin bisa dilakukan, atau
menggabungkan air dan api dalam satu telapak tangan.
Kesimpulannya: wajib membedakan dan membersihkan perkara-perkara
di atas.
11. S: Apa pendapatmu terhadap orang yang berkata: Permusuhan
kita dengan Yahudi bukan karena agama, karena Al Qur`an
menganjurkan untuk berbaris dan berteman dengan mereka?[1]
J: Ini adalah perkataan keliru dan menyesatkan, Yahudi adalah
kaum yang kafir, Allah telah mengkafirkan dan melaknat mereka,
Rasulullahpun mengkafirkan dan melaknat mereka.
Allah berfirman: “Orang-orang kafir Bani Israil dilaknat…” (Al
Maidah: 78). Rasulullah bersabda: “Allah melaknat Yahudi dan
Nashara.” (HR Bukhari Muslim). Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
——————————————————
[1] Ini adalah ucapan Hasan Albanna pendiri Firqah Ikhwanul
Muslimin
(Sumber : Al Ajwibah Al Mufidah, edisi Indonesia “Kedudukan As
Sunnah dalam Islam dan Penjelasan Sesatnya Ingkarus Sunnah”,
diterjemahkan oleh Abdurahman Mubarak Ata. Pustaka Al Atsari,
cetakan pertama, Juni 1998. Diambil dari
HTML http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=25)
Beri peringkat:1 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Pembatal Keislaman (Penutup)
November 26, 2008
dalam "Aqidah"
Fatwa-fatwa Ulama Terakhir tentang sesatnya Jama’ah Tabligh
Juni 30, 2008
dalam "Manhaj"
Kesyirikan Sekarang Lebih Parah daripada Kesyirikan Kaum
Musyrikin di Masa Rasulullah!
Februari 17, 2008
dalam "Aqidah"
Ditulis dalam Manhaj | Dengan kaitkata Artikel, artikel islam,
Fatwa, konsultasi agama, konsultasi islam, konsultasi islami,
Manhaj, salaf, salafy |
*****************************************************
Page 1 of 1