DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ [5] ATBA’ TABI’IT TABI’IN: &#...
*****************************************************
#Post#: 117--------------------------------------------------
Atba’ Tabi’it Tabi’in: Setelah Para Tabi’ut Tabi’in: Imam
Asy-Syafi’i
DIR By: HijazAhmed
Date: December 24, 2023, 9:22 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Imam Asy-Syafi’i
(Wafat 204 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=20
Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza)
di bumi Palestina, pada th. 150 H (bertepatan dengan th. 694 M)
lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang
berbahagia, Idris [i]ibn Abbas Asy-Syafi’i dengan seorang wanita
dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya
dinamai Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i. Demikian nama lengkapnya
sang bayi itu. Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan
kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama. Karena
beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa
menyedihkan, yaitu ayah sang bayi meninggal dunia dalam usia
yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup
sebagai anak yatim.[/i]
Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy
itu tumbuh sebagai bayi yang sehat. Maka ketika ia telah berusia
dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di
tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak
yatim ini, dari sisi nasab ayahnya, berasal dari keturunan
seorang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama
Syafi’ ibn As-Sa’ib. Dan As-Sa’ib ayahnya Syafi’i, sempat
tertawan dalam perang Badr sebagai seorang musyrik kemudian
As-Sa’ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan
status pembebasan dari tawanan Muslimin. Dan setelah dia
dibebaskan, iapun masuk Islam di tangan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Maka nasab bayi yatim ini secara lengkap
adalah sebagai berikut:
Muhammad ibn Idris ibn Al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’ ibn
As-Sa’ib ibn Ubaid ibn Abdi Yazid ibn Hasyim ibn Al-Mutthalib
ibn Abdi Manaf ibn Qushai ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn
Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn An-Nadhr ibn Kinanah ibn
Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas ibn Mudhar ibn Nizar ibn Ma’ad
ibn Adnan. Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib ibn Abdi Manaf,
kakek Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i, adalah saudara kandung
Hasyim ibn Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib ibn Hasyim, kakek
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bernama Syifa’,
dinikahi oleh Ubaid ibn Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak
bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ ibn As-Sa’ib
radliyallahu 'anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan
nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad ibn Idris
Asy-Syafi’i Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini
sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bahkan karena Hasyim ibn Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan
Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib ibn Abdi
Manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani
Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau
menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.” (HR. Abu
Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65-66).
Di lingkungan Bani Al-Mutthalib, dia tumbuh menjadi anak lelaki
yang penuh vitalitas. Di usia kanak-kanaknya, dia sibuk dengan
latihan memanah sehingga di kalangan teman sebayanya, dia amat
jitu memanah. Bahkan dari sepuluh anak panah yang
dilemparkannya, sepuluh yang kena sasaran, sehingga dia terkenal
sebagai anak muda yang ahli memanah. Demikian terus kesibukannya
dalam panah memanah sehingga ada seorang ahli kedokteran medis
waktu itu yang menasehatinya. Dokter itu menyatakan kepadanya:
“Bila engkau terus menerus demikian, maka sangat dikuatirkan
akan terkena penyakit luka pada paru-parumu karena engkau
terlalu banyak berdiri di bawah panas terik mata hari.” Maka
mulailah anak yatim ini mengurangi kegiatan panah memanah dan
mengisi waktu dengan belajar bahasa Arab dan menekuni bait-bait
sya’ir Arab sehingga dalam sekejab, anak muda dari Quraisy ini
menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya dalam usia
kanak-kanak. Di samping itu dia juga menghafal Al-Qur’an,
sehingga pada usia tujuh tahun telah menghafal di luar kepala
Al-Qur’an keseluruhannya.
Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan
hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi
tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar
fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim
ibn khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti
Makkah. Kemudian beliau juga belajar dari Dawud ibn Abdurrahman
Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad ibn
Ali ibn Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan ibn Uyainah.
Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman ibn Abi Bakr
Al-Mulaiki, Sa’id ibn Salim, Fudhail ibn Al-Ayyadl dan masih
banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang
fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah
ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas. Ia pun demi
kehausan ilmu, akhirnya berangkat dari Makkah menuju Al-Madinah
An Nabawiyah guna belajar di halaqah Imam Malik ibn Anas di
sana. Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal
dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu
Al-Muwattha’. Kecerdasannya membuat Imam Malik amat
mengaguminya. Sementara itu Asy-Syafi’i sendiri sangat terkesan
dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan
ibn Uyainah di Makkah. Beliau menyatakan kekagumannya setelah
menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi:
“Seandainya tidak ada Malik ibn Anas dan Sufyan ibn Uyainah,
niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan
lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam
Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis
itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam
Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih
bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’.”
Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik,
kecuali mesti bertambah pemahamanku.” Dari berbagai pernyataan
beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau
kagumi adalah Imam Malik ibn Anas, kemudian Imam Sufyan ibn
Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan
memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti
Ibrahim ibn Sa’ad, Isma’il ibn Ja’far, Atthaf ibn Khalid, Abdul
Aziz Ad-Darawardi. Beliau banyak pula menghafal ilmu di
majelisnya Ibrahim ibn Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau
yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan
hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah
yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan
fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal
dengan gelar sebagai Imam Syafi`i, khususnya di akhir hayat
beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim ibn Abi
Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.
Ketika Muhammad ibn Idris As-Syafi’i Al-Mutthalibi Al-Qurasyi
telah berusia dua puluh tahun, dia sudah memiliki kedudukan yang
tinggi di kalangan Ulama’ di jamannya dalam berfatwa dan
berbagai ilmu yang berkisar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tetapi
beliau tidak mau berpuas diri dengan ilmu yang dicapainya. Maka
beliaupun berangkat menuju negeri Yaman demi menyerap ilmu dari
para ‘Ulama-nya. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang
didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif ibn Mazin, Hisyam
ibn Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman,
beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di
kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad ibn
Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau
mengambil ilmu dari Isma’il ibn Ulaiyyah dan Abdul Wahhab
Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sejak di kota Baghdad, Imam Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i mulai
dikerumuni para muridnya dan mulai menulis berbagai keterangan
agama. Juga beliau mulai membantah beberapa keterangan para Imam
ahli fiqih, dalam rangka mengikuti sunnah Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab fiqih dan Ushul Fiqih pun
mulai ditulisnya. Popularitas beliau di dunia Islam yang semakin
luas menyebabkan banyak orang semakin kagum dengan ilmunya
sehingga orang pun berbondong-bondong mendatangi majelis ilmu
beliau untuk menimba ilmu. Tersebutlah tokoh-tokoh ilmu agama
ini yang mendatangi majelis beliau untuk menimba ilmu padanya
seperti Abu Bakr Abdullah ibn Az-Zubair Al-Humaidi (beliau ini
adalah salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari), Abu Ubaid
Al-Qasim ibn Sallam, Ahmad ibn Hanbal (yang kemudian terkenal
dengan nama Imam Hanbali), Sulaiman ibn Dawud Al-Hasyimi, Abu
Ya’qub Yusuf Al-Buaithi, Abu Tsaur Ibrahim ibn Khalid Al-Kalbi,
Harmalah ibn Yahya, Musa ibn Abil Jarud Al-Makki, Abdul Aziz ibn
Yahya Al-Kinani Al-Makki (pengarang kitab Al-Haidah ), Husain
ibn Ali Al-Karabisi (beliau ini sempat di tahdzir oleh Imam
Ahmad karena berpendapat bahwa lafadh orang yang membaca
Al-Qur’an adalah makhluq), Ibrahim ibn Al-Mundzir Al-Hizami,
Al-Hasan ibn Muhammad Az-Za’farani, Ahmad ibn Muhammad
Al-Azraqi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu yang lainnya.
Dari murid-murid beliau di Baghdad, yang paling terkenal sangat
mengagumi beliau adalah Imam Ahmad ibn Hanbal atau terkenal
dengan gelar Imam Hanbali.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Mizzi dengan sanadnya bersambung
kepada Imam Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal (putra Imam Hanbali).
Beliau menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada ayahku: <Wahai
ayah, siapa sesungguhnya Asy-Syafi’i itu, karena aku
terus-menerus mendengar ayah mendoakannya?> Maka ayahku
menjawab: <Wahai anakku, sesungguhnya Asy-Syafi’i itu adalah
bagaikan matahari untuk dunia ini, dan ia juga sebagai
kesejahteraan bagi sekalian manusia. Maka silakan engkau cari,
adakah orang yang seperti beliau dalam dua fungsi ini (yakni
fungsi sebagai matahari dan kesejahteraan) dan adakah pengganti
fungsi beliau tersebut?>.” Diriwayatkan pula bahwa Sulaiman ibn
Al-Asy’ats menyatakan: “Aku melihat bahwa Ahmad ibn Hanbal
tidaklah condong kepada seorangpun seperti condongnya kepada
Asy-Syafi’i.” Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Imam Hanbali
menyatakan: “Aku tidak pernah meninggalkan doa kepada Allah di
sepertiga terakhir malam untuk enam orang. Salah satunya ialah
untuk As-Syafi`i.” Diriwayatkan pula oleh Imam Shalih ibn Ahmad
ibn Hanbal (putra Imam Hanbali): “Pernah ayahku berjalan di
samping keledai yang ditumpangi Imam Syafi`i untuk
bertanya-tanya ilmu kepadanya. Maka melihat demikian, Yahya ibn
Ma’ien sahabat ayahku mengirim orang untuk menegur beliau. Yahya
menyatakan kepadanya: <Wahai Aba Abdillah ( kuniah bagi Imam
Hanbali), mengapa engkau ridla untuk berjalan dengan keledainya
Asy-Syafi’i?>. Maka ayah pun menyatakan kepada Yahya: <Wahai Aba
Zakaria (kun yah bagi Yahya ibn Ma’ien), seandainya engkau
berjalan di sisi lain dari keledai itu, niscaya akan lebih
bermanfaat bagimu>.” Di samping Imam Hanbali yang sangat
mengaguminya, juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam
Tarikh nya dengan sanadnya dari Abu Tsaur. Dia menceritakan:
“Abdurrahman ibn Mahdi pernah menulis surat kepada Asy-Syafi’i,
dan waktu itu Asy-Syafi’i masih muda belia. Dalam surat itu
Abdurrahman meminta kepadanya untuk menuliskan untuknya sebuah
kitab yang terdapat padanya makna-makna Al Qur’an, dan juga
mengumpulkan berbagai macam tingkatan hadits, keterangan tentang
kedudukan ijma’ (kesepakatan Ulama’) sebagai hujjah/dalil,
keterangan hukum yang nasikh (yakni hukum yang menghapus hukum
lainnya) dan hukum yang mansukh (yakni hukum yang telah dihapus
oleh hukum yang lainnya), baik yang ada di dalam Al-Qur’an
maupun As-Sunnah. Maka Asy-Syafi’i muda menuliskan untuknya
kitab Ar-Risalah dan kemudian dikirimkan kepada Abdurrahman ibn
Mahdi. Begitu membaca kitab Ar-Risalah ini, Abdurrahman menjadi
sangat kagum dan sangat senang kepada Asy-Syafi’i sehingga
beliau menyatakan: “Setiap aku shalat, aku selalu mendoakan
Asy-Syafi’i.” Kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi`i akhirnya
menjadi kitab rujukan utama bagi para Ulama’ dalam ilmu Ushul
Fiqih sampai hari ini. Pujian para Ulama’ dan kekaguman mereka
bukan saja datang dari orang-orang yang seangkatan dengan beliau
dalam ilmu, akan tetapi datang pula pujian itu dari para Ulama’
yang menjadi guru beliau. Antara lain ialah Sufyan ibn Uyainah,
salah seorang guru beliau yang sangat dikaguminya. Sebaliknya
Sufyan pun sangat mengagumi Imam Asy-Syafi’i, sampai diceritakan
oleh Suwaid ibn Saied sebagai berikut: “Aku pernah duduk di
majelis ilmunya Sufyan ibn Uyainah. Asy-Syafi’i datang ke
majelis itu, masuk sembari mengucapkan salam dan langsung duduk
untuk mendengarkan Sufyan yang sedang menyampaikan ilmu. Waktu
itu Sufyan sedang membaca sebuah hadits yang sangat menyentuh
hati. Betapa lembutnya hati beliau saat mendengar hadits itu
menyebabkan Asy-Syafi’i mendadak pingsan. Orang-orang di majelis
itu menyangka bahwa Asy-Syafi’i meninggal dunia sehingga
peristiwa ini dilaporkan kepada Sufyan: <Wahai Aba Muhammad
(kuniah bagi Sufyan ibn Uyainah), Muhammad ibn Idris telah
meninggal dunia>. Maka Sufyan pun menyatakan: <Bila memang dia
meninggal dunia, maka sungguh telah meninggal orang yang terbaik
bagi ummat ini di jamannya>.” Demikian pujian para Ulama’ yang
sebagiannya kami nukilkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan
kepada para pembaca sekalian betapa beliau sangat tinggi
kedudukannya di kalangan para Ulama yang sejaman dengannya.
Apalagi tentunya para ulama’ yang sesudahnya.
Imam Asy-Syafi’i tinggal di Baghdad hanya dua tahun. Setelah itu
beliau pindah ke Mesir dan tinggal di sana sampai beliau wafat
pada th. 204 H dan usia beliau ketika wafat 54 th. Beliau telah
meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu ilmu yang beliau
tulis di kitab Ar-Risalah dalam ilmu Ushul Fiqih. Di samping itu
beliau juga menulis kitab Musnad Asy-Syafi’i, berupa kumpulan
hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh
beliau dan kitab Al-Um berupa kumpulan keterangan beliau dalam
masalah fiqih. Sebagaimana Al-Um, kumpulan riwayat keterangan
Imam Asy Syafi`i dalam fiqih juga disusun oleh Al-Imam
Al-Baihaqi dan diberi nama Ma’rifatul Aatsar was Sunan. Al-Imam
Abu Nu’aim Al-Asfahani membawakan beberapa riwayat nasehat dan
pernyataan Imam Asy-Syafi’i dalam berbagai masalah yang
menunjukkan pendirian Imam Asy-Syafi’i dalam memahami agama ini.
Beberapa riwayat Abu Nu’aim tersebut kami nukilkan sebagai
berikut:
Imam Asy-Syafi’i menyatakan: “Bila aku melihat Ahli Hadits,
seakan aku melihat seorang dari Shahabat Nabi [i]shallallahu
‘alaihi wasallam.”[/i] (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam
Al-Hilyah nya juz 9 hal. 109)
Ini menunjukkan betapa tinggi penghargaan beliau kepada para
Ahli Hadits.
Imam Asy-Syafi’i menyatakan: “Sungguh seandainya seseorang itu
ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain
dosa syirik, lebih baik baginya daripada dia mempelajari ilmu
kalam.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9
hal. 111)
Beliau menyatakan juga: “Seandainya manusia itu mengerti bahaya
yang ada dalam Ilmu Kalam dan hawa nafsu, niscaya dia akan lari
daripadanya seperti dia lari dari macan.”
Ini menunjukkan betapa anti patinya beliau terhadap Ilmu Kalam,
suatu ilmu yang membahas perkara Tauhid dengan metode pembahasan
ilmu filsafat.
Diriwayatkan oleh Ar-Rabi’ ibn Sulaiman bahwa dia menyatakan:
Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata:
“Barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka
sungguh dia telah kafir.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam
Al-Hilyah nya juz 9 Hal. 113)
Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim Al-Asfahani bahwa Al-Imam
Asy-Syafi’i telah mengkafirkan seorang tokoh ahli Ilmu Kalam
yang terkenal dengan nama Hafs Al-Fardi, karena dia menyatakan
di hadapan beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Demikian
tegas Imam Asy-Syafi’i dalam menilai mereka yang mengatakan
bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dan memang para Ulama’ Ahlis Sunnah
wal Jama’ah telah sepakat untuk mengkafirkan siapa yang meyakini
bahwa Al-Qur’an itu makhluk.
Al-Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan pula dengan sanadnya dari
Al-Buwaithie yang menyatakan: “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’i:
<Bolehkah aku shalat di belakang imam yang Rafidli?> Maka
beliaupun menjawabnya: “<Jangan engkau shalat di belakang imam
yang Rafidli, ataupun Qadari ataupun Murji’ie>.” Akupun bertanya
lagi kepada beliau: “<Terangkan kepadaku tentang siapakah
masing-masing dari mereka itu?>” Maka beliaupun menjawab:
“<Barangsiapa yang mengatakan bahwa iman itu hanya perkataan
lisan dan hati belaka, maka dia itu adalah murji’ie; barangsiapa
yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan Imamnya
Muslimin, maka dia itu adalah rafidli. Barangsiapa yang
mengatakan bahwa kehendak berbuat itu sepenuhnya dari dirinya
(yakni tidak meyakini bahwa kehendak berbuat itu diciptakan oleh
Allah ), maka dia itu adalah qadari>.”
Demikian Imam As-Syafi`i mengajarkan sikap terhadap ahlil bid’ah
seperti yang disebutkan contohnya dalam pernyataan beliau, yaitu
orang-orang yang mengikuti aliran Rafidlah yang di Indonesia
sering dinamakan Syi’ah. Aliran Syiah terkenal dengan sikap
kebencian mereka kepada para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, khususnya Abu Bakar dan Umar. Di samping Rafidlah,
masih ada aliran bid’ah lainnya seperti Qadariyah yaitu aliran
pemahaman yang menolak beriman kepada rukun iman yang keenam
(yaitu keimanan kepada adanya taqdir Allah subhanahu wata’ala).
Juga aliran Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu hanya
keyakinan yang ada di hati dan amalan itu tidak termasuk dari
iman. Murji’ah juga menyatakan bahwa iman itu tidak bertambah
dengan perbuatan ketaatan kepada Allah dan tidak pula berkurang
dengan kemaksiatan kepada Allah. Semua ini adalah pemikiran
sesat, yang menjadi alasan bagi Imam As-Syafi`i untuk melarang
orang shalat di belakang imam yang berpandangan dengan salah
satu dari pemikiran-pemikiran sesat ini.
Imam Asy-Syafi’i juga amat keras menganjurkan ummat Islam untuk
jangan ber taqlid (yakni mengikut dengan membabi buta) kepada
seseorang pun sehingga meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
ketika pendapat orang yang diikutinya itu menyelisihi pendapat
keduanya. Hal ini dinyatakan oleh beliau dalam beberapa pesan
sebagai berikut:
Al-Hafidh Abu Nu`aim Al-Asfahani meriwayatkan dalam Hilyah nya
dengan sanad yang shahih riwayat Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal,
katanya: “Ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Muhammad ibn
Idris Asy-Syafi’i berkata: “<Wahai Aba Abdillah (yakni Ahmad ibn
Hanbal), engkau lebih mengetahui hadits-hadits shahih dari kami.
Maka bila ada hadits yang shahih, beritahukanlah kepadaku
sehingga aku akan bermadzhab dengannya. Sama saja bagiku, apakah
perawinya itu orang Kufah, ataukah orang Basrah, ataukah orang
Syam>.”
Demikianlah para Ulama’ bersikap tawadlu’ sebagai kepribadian
utama mereka. Sehingga tidak menjadi masalah bagi mereka bila
guru mengambil manfaat dari muridnya dan muridnya yang diambil
manfaat oleh gurunya tidak pula kemudian menjadi congkak
dengannya. Tetap saja sang murid mengakui dan mengambil manfaat
dari gurunya, meskipun sang guru mengakui di depan umum tentang
ketinggian ilmu si murid. Guru-guru utama Imam Asy Syafi`i, Imam
Malik dan Imam Sufyan ibn Uyainah, dengan terang-terangan
mengakui keutamaan ilmu Asy-Syafi’i. Bahkan Imam Sufyan ibn
Uyainah banyak bertanya kepada Imam Asy-Syafi’i saat Imam
Syafi’ie ada di majelisnya. Padahal Imam Asy-Syafi’i duduk di
majelis itu sebagai salah satu murid beliau, dan bersama para
hadirin yang lainnya, mereka selalu mengerumuni Imam Sufyan
untuk menimba ilmu daripadanya. Tetapi meskipun demikian, Imam
Asy-Syafi’i tidak terpengaruh oleh sanjungan gurunya. Beliau
tetap mendatangi majelis gurunya dan memuliakannya. Di samping
itu, hal yang amat penting pula dari pernyataan Imam Asy-Syafi’i
kepada Imam Ahmad ibn Hanbal tersebut di atas, menunjukkan
kepada kita betapa kuatnya semangat beliau dalam merujuk kepada
hadits shahih untuk menjadi pegangan dalam bermadzhab, dari
manapun hadits shahih itu berasal.
Imam Asy-Syafi’i menyatakan pula: “Semua hadits yang dari Nabi
[i]shallallahu ‘alaihi wasallam maka itu adalah sebagai
omonganku. Walaupun kalian tidak mendengarnya dariku.”[/i]
Demikian beliau memberikan patokan kepada para murid beliau,
bahwa hadits shahih itu adalah dalil yang sah bagi segala
pendapat dalam agama ini. Maka pendapat dari siapapun bila
menyelisihi hadits yang shahih, tentu tidak akan bisa
menggugurkan hadits shahih itu. Bahkan sebaliknya, pendapat yang
demikianlah yang harus digugurkan dengan adanya hadits shahih
yang menyelisihinya.
✻ P e n u t u p
[size=11pt]Masih banyak mutiara hikmah yang ingin kami tuangkan
dalam tulisan ini dari peri hidup Imam Asy-Syafi’i. Namun dalam
kesempatan ini, rasanya tidak cukup halaman yang tersedia untuk
memuat segala kemilau mutiara hikmah peri hidup beliau itu.
Bahkan telah ditulis oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah
kitab-kitab tebal yang berisi untaian mutiara hikmah peri hidup
Imam besar ini. Seperti Al-Imam Al-Baihaqi menulis kitab
Manaqibus Syafi`i, juga Ar-Razi menulis kitab dengan judul yang
sama. Kemudian Ibnu Abi Hatim menulis kitab berjudul Aadaabus
Syaafi’i. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua
menunjukkan kepada kita, betapa agungnya Imam besar ini di mata
para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah subhanahu
wata’ala menggabungkan kita di barisan mereka di hari kiamat
nanti. Aamiin ya Mujibas sa’ilin. Ꞁ[size=8pt]1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
DAFTAR PUSTAKA:
- Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 58-59,
Darul Fikr – Beirut Libanon, tanpa tahun.
- Hilyatul Awliya’ Wathabaqatul Asfiya’, Abu Nu’aim
Al-Ashfahani, jilid 9 hal 65-66. Juga hal. 67, Darul Fikr,
Beirut – Libanon, et. 1416 H / 1996 M. Lihat pula Tahdzibul
Kamal jilid 24 hal. 358-360. Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abul
Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, diterbitkan oleh Mu’assatur Risalah, cet.
Pertama th. 1413 H / 1992 M.
- Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 60.
- Ibid, hal. 63.
- Hilyatul Awliya’, Al-Hafidh Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah
Al-Asfahani, jilid 9 hal 70, Darul Fikr Beirut Libanon, cet. Th.
1416 H / 1996 M.
- Siar A’lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad
ibn Utsman Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 6-7, Mu’assasatur Risalah,
cetakan ke 11 th. 1417 H / 1996 M.
- Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal, Al-Hafidh Al-Mutqin
Jamaluddin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, jilid 24 hal. 271.
- Siar A’lamin Nubala’, Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 18. Juga Abu
Nu’aim Al-Asfahani meriwayatkannya dalam Hilyatul Auliya’ juz 9
hal. 95.
- Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9 hal 109-113.
- Siar A’lamin Nubala’, Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 31.
- Hilyatul Auliya’, Al-Hafidh Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9
hal. 170.
- Demikian diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib-nya dan
Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya dan dinukil oleh Adz-Dzahabi dalam
Siar A’lamin Nubala’ jilid 10 hal. 17.
- Diriwayatkan dalam Aadaabus Syafi`i dan Al-Bidayah.
Adz-Dzahabi menukilkan riwayat ini dalam Siar A’lamin Nubala’
jilid 10 hal. 35
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1