URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ [5] ATBA’ TABI’IT TABI’IN: &#...
       *****************************************************
       #Post#: 117--------------------------------------------------
       Atba’ Tabi’it Tabi’in: Setelah Para Tabi’ut Tabi’in: Imam
       Asy-Syafi’i
   DIR By: HijazAhmed
       Date: December 24, 2023, 9:22 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Imam Asy-Syafi’i
       (Wafat 204 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=20
       Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza)
       di bumi Palestina, pada th. 150 H (bertepatan dengan th. 694 M)
       lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang
       berbahagia, Idris [i]ibn Abbas Asy-Syafi’i dengan seorang wanita
       dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya
       dinamai Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i. Demikian nama lengkapnya
       sang bayi itu. Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan
       kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama. Karena
       beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa
       menyedihkan, yaitu ayah sang bayi meninggal dunia dalam usia
       yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup
       sebagai anak yatim.[/i]
       Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy
       itu tumbuh sebagai bayi yang sehat. Maka ketika ia telah berusia
       dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di
       tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak
       yatim ini, dari sisi nasab ayahnya, berasal dari keturunan
       seorang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama
       Syafi’ ibn As-Sa’ib. Dan As-Sa’ib ayahnya Syafi’i, sempat
       tertawan dalam perang Badr sebagai seorang musyrik kemudian
       As-Sa’ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan
       status pembebasan dari tawanan Muslimin. Dan setelah dia
       dibebaskan, iapun masuk Islam di tangan Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam. Maka nasab bayi yatim ini secara lengkap
       adalah sebagai berikut:
       Muhammad ibn Idris ibn Al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’ ibn
       As-Sa’ib ibn Ubaid ibn Abdi Yazid ibn Hasyim ibn Al-Mutthalib
       ibn Abdi Manaf ibn Qushai ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn
       Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn An-Nadhr ibn Kinanah ibn
       Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas ibn Mudhar ibn Nizar ibn Ma’ad
       ibn Adnan. Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib ibn Abdi Manaf,
       kakek Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i, adalah saudara kandung
       Hasyim ibn Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
       wasallam.
       Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib ibn Hasyim, kakek
       Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bernama Syifa’,
       dinikahi oleh Ubaid ibn Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak
       bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ ibn As-Sa’ib
       radliyallahu 'anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan
       nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad ibn Idris
       Asy-Syafi’i Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini
       sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Bahkan karena Hasyim ibn Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan
       Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib ibn Abdi
       Manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
       “Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani
       Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau
       menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.” (HR. Abu
       Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65-66).
       Di lingkungan Bani Al-Mutthalib, dia tumbuh menjadi anak lelaki
       yang penuh vitalitas. Di usia kanak-kanaknya, dia sibuk dengan
       latihan memanah sehingga di kalangan teman sebayanya, dia amat
       jitu memanah. Bahkan dari sepuluh anak panah yang
       dilemparkannya, sepuluh yang kena sasaran, sehingga dia terkenal
       sebagai anak muda yang ahli memanah. Demikian terus kesibukannya
       dalam panah memanah sehingga ada seorang ahli kedokteran medis
       waktu itu yang menasehatinya. Dokter itu menyatakan kepadanya:
       “Bila engkau terus menerus demikian, maka sangat dikuatirkan
       akan terkena penyakit luka pada paru-parumu karena engkau
       terlalu banyak berdiri di bawah panas terik mata hari.” Maka
       mulailah anak yatim ini mengurangi kegiatan panah memanah dan
       mengisi waktu dengan belajar bahasa Arab dan menekuni bait-bait
       sya’ir Arab sehingga dalam sekejab, anak muda dari Quraisy ini
       menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya dalam usia
       kanak-kanak. Di samping itu dia juga menghafal Al-Qur’an,
       sehingga pada usia tujuh tahun telah menghafal di luar kepala
       Al-Qur’an keseluruhannya.
       Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan
       hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi
       tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar
       fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim
       ibn khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti
       Makkah. Kemudian beliau juga belajar dari Dawud ibn Abdurrahman
       Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad ibn
       Ali ibn Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan ibn Uyainah.
       Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman ibn Abi Bakr
       Al-Mulaiki, Sa’id ibn Salim, Fudhail ibn Al-Ayyadl dan masih
       banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang
       fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah
       ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas. Ia pun demi
       kehausan ilmu, akhirnya berangkat dari Makkah menuju Al-Madinah
       An Nabawiyah guna belajar di halaqah Imam Malik ibn Anas di
       sana. Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal
       dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu
       Al-Muwattha’. Kecerdasannya membuat Imam Malik amat
       mengaguminya. Sementara itu Asy-Syafi’i sendiri sangat terkesan
       dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan
       ibn Uyainah di Makkah. Beliau menyatakan kekagumannya setelah
       menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi:
       “Seandainya tidak ada Malik ibn Anas dan Sufyan ibn Uyainah,
       niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan
       lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam
       Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis
       itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam
       Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih
       bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’.”
       Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik,
       kecuali mesti bertambah pemahamanku.” Dari berbagai pernyataan
       beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau
       kagumi adalah Imam Malik ibn Anas, kemudian Imam Sufyan ibn
       Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan
       memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti
       Ibrahim ibn Sa’ad, Isma’il ibn Ja’far, Atthaf ibn Khalid, Abdul
       Aziz Ad-Darawardi. Beliau banyak pula menghafal ilmu di
       majelisnya Ibrahim ibn Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau
       yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan
       hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah
       yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan
       fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal
       dengan gelar sebagai Imam Syafi`i, khususnya di akhir hayat
       beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim ibn Abi
       Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.
       Ketika Muhammad ibn Idris As-Syafi’i Al-Mutthalibi Al-Qurasyi
       telah berusia dua puluh tahun, dia sudah memiliki kedudukan yang
       tinggi di kalangan Ulama’ di jamannya dalam berfatwa dan
       berbagai ilmu yang berkisar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tetapi
       beliau tidak mau berpuas diri dengan ilmu yang dicapainya. Maka
       beliaupun berangkat menuju negeri Yaman demi menyerap ilmu dari
       para ‘Ulama-nya. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang
       didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif ibn Mazin, Hisyam
       ibn Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman,
       beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di
       kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad ibn
       Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau
       mengambil ilmu dari Isma’il ibn Ulaiyyah dan Abdul Wahhab
       Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.
       Sejak di kota Baghdad, Imam Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i mulai
       dikerumuni para muridnya dan mulai menulis berbagai keterangan
       agama. Juga beliau mulai membantah beberapa keterangan para Imam
       ahli fiqih, dalam rangka mengikuti sunnah Nabi Muhammad
       shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab fiqih dan Ushul Fiqih pun
       mulai ditulisnya. Popularitas beliau di dunia Islam yang semakin
       luas menyebabkan banyak orang semakin kagum dengan ilmunya
       sehingga orang pun berbondong-bondong mendatangi majelis ilmu
       beliau untuk menimba ilmu. Tersebutlah tokoh-tokoh ilmu agama
       ini yang mendatangi majelis beliau untuk menimba ilmu padanya
       seperti Abu Bakr Abdullah ibn Az-Zubair Al-Humaidi (beliau ini
       adalah salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari), Abu Ubaid
       Al-Qasim ibn Sallam, Ahmad ibn Hanbal (yang kemudian terkenal
       dengan nama Imam Hanbali), Sulaiman ibn Dawud Al-Hasyimi, Abu
       Ya’qub Yusuf Al-Buaithi, Abu Tsaur Ibrahim ibn Khalid Al-Kalbi,
       Harmalah ibn Yahya, Musa ibn Abil Jarud Al-Makki, Abdul Aziz ibn
       Yahya Al-Kinani Al-Makki (pengarang kitab Al-Haidah ), Husain
       ibn Ali Al-Karabisi (beliau ini sempat di tahdzir oleh Imam
       Ahmad karena berpendapat bahwa lafadh orang yang membaca
       Al-Qur’an adalah makhluq), Ibrahim ibn Al-Mundzir Al-Hizami,
       Al-Hasan ibn Muhammad Az-Za’farani, Ahmad ibn Muhammad
       Al-Azraqi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu yang lainnya.
       Dari murid-murid beliau di Baghdad, yang paling terkenal sangat
       mengagumi beliau adalah Imam Ahmad ibn Hanbal atau terkenal
       dengan gelar Imam Hanbali.
       Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Mizzi dengan sanadnya bersambung
       kepada Imam Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal (putra Imam Hanbali).
       Beliau menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada ayahku: <Wahai
       ayah, siapa sesungguhnya Asy-Syafi’i itu, karena aku
       terus-menerus mendengar ayah mendoakannya?> Maka ayahku
       menjawab: <Wahai anakku, sesungguhnya Asy-Syafi’i itu adalah
       bagaikan matahari untuk dunia ini, dan ia juga sebagai
       kesejahteraan bagi sekalian manusia. Maka silakan engkau cari,
       adakah orang yang seperti beliau dalam dua fungsi ini (yakni
       fungsi sebagai matahari dan kesejahteraan) dan adakah pengganti
       fungsi beliau tersebut?>.” Diriwayatkan pula bahwa Sulaiman ibn
       Al-Asy’ats menyatakan: “Aku melihat bahwa Ahmad ibn Hanbal
       tidaklah condong kepada seorangpun seperti condongnya kepada
       Asy-Syafi’i.” Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Imam Hanbali
       menyatakan: “Aku tidak pernah meninggalkan doa kepada Allah di
       sepertiga terakhir malam untuk enam orang. Salah satunya ialah
       untuk As-Syafi`i.” Diriwayatkan pula oleh Imam Shalih ibn Ahmad
       ibn Hanbal (putra Imam Hanbali): “Pernah ayahku berjalan di
       samping keledai yang ditumpangi Imam Syafi`i untuk
       bertanya-tanya ilmu kepadanya. Maka melihat demikian, Yahya ibn
       Ma’ien sahabat ayahku mengirim orang untuk menegur beliau. Yahya
       menyatakan kepadanya: <Wahai Aba Abdillah ( kuniah bagi Imam
       Hanbali), mengapa engkau ridla untuk berjalan dengan keledainya
       Asy-Syafi’i?>. Maka ayah pun menyatakan kepada Yahya: <Wahai Aba
       Zakaria (kun yah bagi Yahya ibn Ma’ien), seandainya engkau
       berjalan di sisi lain dari keledai itu, niscaya akan lebih
       bermanfaat bagimu>.” Di samping Imam Hanbali yang sangat
       mengaguminya, juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam
       Tarikh nya dengan sanadnya dari Abu Tsaur. Dia menceritakan:
       “Abdurrahman ibn Mahdi pernah menulis surat kepada Asy-Syafi’i,
       dan waktu itu Asy-Syafi’i masih muda belia. Dalam surat itu
       Abdurrahman meminta kepadanya untuk menuliskan untuknya sebuah
       kitab yang terdapat padanya makna-makna Al Qur’an, dan juga
       mengumpulkan berbagai macam tingkatan hadits, keterangan tentang
       kedudukan ijma’ (kesepakatan Ulama’) sebagai hujjah/dalil,
       keterangan hukum yang nasikh (yakni hukum yang menghapus hukum
       lainnya) dan hukum yang mansukh (yakni hukum yang telah dihapus
       oleh hukum yang lainnya), baik yang ada di dalam Al-Qur’an
       maupun As-Sunnah. Maka Asy-Syafi’i muda menuliskan untuknya
       kitab Ar-Risalah dan kemudian dikirimkan kepada Abdurrahman ibn
       Mahdi. Begitu membaca kitab Ar-Risalah ini, Abdurrahman menjadi
       sangat kagum dan sangat senang kepada Asy-Syafi’i sehingga
       beliau menyatakan: “Setiap aku shalat, aku selalu mendoakan
       Asy-Syafi’i.” Kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi`i akhirnya
       menjadi kitab rujukan utama bagi para Ulama’ dalam ilmu Ushul
       Fiqih sampai hari ini. Pujian para Ulama’ dan kekaguman mereka
       bukan saja datang dari orang-orang yang seangkatan dengan beliau
       dalam ilmu, akan tetapi datang pula pujian itu dari para Ulama’
       yang menjadi guru beliau. Antara lain ialah Sufyan ibn Uyainah,
       salah seorang guru beliau yang sangat dikaguminya. Sebaliknya
       Sufyan pun sangat mengagumi Imam Asy-Syafi’i, sampai diceritakan
       oleh Suwaid ibn Saied sebagai berikut: “Aku pernah duduk di
       majelis ilmunya Sufyan ibn Uyainah. Asy-Syafi’i datang ke
       majelis itu, masuk sembari mengucapkan salam dan langsung duduk
       untuk mendengarkan Sufyan yang sedang menyampaikan ilmu. Waktu
       itu Sufyan sedang membaca sebuah hadits yang sangat menyentuh
       hati. Betapa lembutnya hati beliau saat mendengar hadits itu
       menyebabkan Asy-Syafi’i mendadak pingsan. Orang-orang di majelis
       itu menyangka bahwa Asy-Syafi’i meninggal dunia sehingga
       peristiwa ini dilaporkan kepada Sufyan: <Wahai Aba Muhammad
       (kuniah bagi Sufyan ibn Uyainah), Muhammad ibn Idris telah
       meninggal dunia>. Maka Sufyan pun menyatakan: <Bila memang dia
       meninggal dunia, maka sungguh telah meninggal orang yang terbaik
       bagi ummat ini di jamannya>.” Demikian pujian para Ulama’ yang
       sebagiannya kami nukilkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan
       kepada para pembaca sekalian betapa beliau sangat tinggi
       kedudukannya di kalangan para Ulama yang sejaman dengannya.
       Apalagi tentunya para ulama’ yang sesudahnya.
       Imam Asy-Syafi’i tinggal di Baghdad hanya dua tahun. Setelah itu
       beliau pindah ke Mesir dan tinggal di sana sampai beliau wafat
       pada th. 204 H dan usia beliau ketika wafat 54 th. Beliau telah
       meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu ilmu yang beliau
       tulis di kitab Ar-Risalah dalam ilmu Ushul Fiqih. Di samping itu
       beliau juga menulis kitab Musnad Asy-Syafi’i, berupa kumpulan
       hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh
       beliau dan kitab Al-Um berupa kumpulan keterangan beliau dalam
       masalah fiqih. Sebagaimana Al-Um, kumpulan riwayat keterangan
       Imam Asy Syafi`i dalam fiqih juga disusun oleh Al-Imam
       Al-Baihaqi dan diberi nama Ma’rifatul Aatsar was Sunan. Al-Imam
       Abu Nu’aim Al-Asfahani membawakan beberapa riwayat nasehat dan
       pernyataan Imam Asy-Syafi’i dalam berbagai masalah yang
       menunjukkan pendirian Imam Asy-Syafi’i dalam memahami agama ini.
       Beberapa riwayat Abu Nu’aim tersebut kami nukilkan sebagai
       berikut:
       Imam Asy-Syafi’i menyatakan: “Bila aku melihat Ahli Hadits,
       seakan aku melihat seorang dari Shahabat Nabi [i]shallallahu
       ‘alaihi wasallam.”[/i] (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam
       Al-Hilyah nya juz 9 hal. 109)
       Ini menunjukkan betapa tinggi penghargaan beliau kepada para
       Ahli Hadits.
       Imam Asy-Syafi’i menyatakan: “Sungguh seandainya seseorang itu
       ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain
       dosa syirik, lebih baik baginya daripada dia mempelajari ilmu
       kalam.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9
       hal. 111)
       Beliau menyatakan juga: “Seandainya manusia itu mengerti bahaya
       yang ada dalam Ilmu Kalam dan hawa nafsu, niscaya dia akan lari
       daripadanya seperti dia lari dari macan.”
       Ini menunjukkan betapa anti patinya beliau terhadap Ilmu Kalam,
       suatu ilmu yang membahas perkara Tauhid dengan metode pembahasan
       ilmu filsafat.
       Diriwayatkan oleh Ar-Rabi’ ibn Sulaiman bahwa dia menyatakan:
       Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata:
       “Barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka
       sungguh dia telah kafir.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam
       Al-Hilyah nya juz 9 Hal. 113)
       Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim Al-Asfahani bahwa Al-Imam
       Asy-Syafi’i telah mengkafirkan seorang tokoh ahli Ilmu Kalam
       yang terkenal dengan nama Hafs Al-Fardi, karena dia menyatakan
       di hadapan beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Demikian
       tegas Imam Asy-Syafi’i dalam menilai mereka yang mengatakan
       bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dan memang para Ulama’ Ahlis Sunnah
       wal Jama’ah telah sepakat untuk mengkafirkan siapa yang meyakini
       bahwa Al-Qur’an itu makhluk.
       Al-Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan pula dengan sanadnya dari
       Al-Buwaithie yang menyatakan: “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’i:
       <Bolehkah aku shalat di belakang imam yang Rafidli?> Maka
       beliaupun menjawabnya: “<Jangan engkau shalat di belakang imam
       yang Rafidli, ataupun Qadari ataupun Murji’ie>.” Akupun bertanya
       lagi kepada beliau: “<Terangkan kepadaku tentang siapakah
       masing-masing dari mereka itu?>” Maka beliaupun menjawab:
       “<Barangsiapa yang mengatakan bahwa iman itu hanya perkataan
       lisan dan hati belaka, maka dia itu adalah murji’ie; barangsiapa
       yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan Imamnya
       Muslimin, maka dia itu adalah rafidli. Barangsiapa yang
       mengatakan bahwa kehendak berbuat itu sepenuhnya dari dirinya
       (yakni tidak meyakini bahwa kehendak berbuat itu diciptakan oleh
       Allah ), maka dia itu adalah qadari>.”
       Demikian Imam As-Syafi`i mengajarkan sikap terhadap ahlil bid’ah
       seperti yang disebutkan contohnya dalam pernyataan beliau, yaitu
       orang-orang yang mengikuti aliran Rafidlah yang di Indonesia
       sering dinamakan Syi’ah. Aliran Syiah terkenal dengan sikap
       kebencian mereka kepada para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
       wasallam, khususnya Abu Bakar dan Umar. Di samping Rafidlah,
       masih ada aliran bid’ah lainnya seperti Qadariyah yaitu aliran
       pemahaman yang menolak beriman kepada rukun iman yang keenam
       (yaitu keimanan kepada adanya taqdir Allah subhanahu wata’ala).
       Juga aliran Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu hanya
       keyakinan yang ada di hati dan amalan itu tidak termasuk dari
       iman. Murji’ah juga menyatakan bahwa iman itu tidak bertambah
       dengan perbuatan ketaatan kepada Allah dan tidak pula berkurang
       dengan kemaksiatan kepada Allah. Semua ini adalah pemikiran
       sesat, yang menjadi alasan bagi Imam As-Syafi`i untuk melarang
       orang shalat di belakang imam yang berpandangan dengan salah
       satu dari pemikiran-pemikiran sesat ini.
       Imam Asy-Syafi’i juga amat keras menganjurkan ummat Islam untuk
       jangan ber taqlid (yakni mengikut dengan membabi buta) kepada
       seseorang pun sehingga meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
       ketika pendapat orang yang diikutinya itu menyelisihi pendapat
       keduanya. Hal ini dinyatakan oleh beliau dalam beberapa pesan
       sebagai berikut:
       Al-Hafidh Abu Nu`aim Al-Asfahani meriwayatkan dalam Hilyah nya
       dengan sanad yang shahih riwayat Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal,
       katanya: “Ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Muhammad ibn
       Idris Asy-Syafi’i berkata: “<Wahai Aba Abdillah (yakni Ahmad ibn
       Hanbal), engkau lebih mengetahui hadits-hadits shahih dari kami.
       Maka bila ada hadits yang shahih, beritahukanlah kepadaku
       sehingga aku akan bermadzhab dengannya. Sama saja bagiku, apakah
       perawinya itu orang Kufah, ataukah orang Basrah, ataukah orang
       Syam>.”
       Demikianlah para Ulama’ bersikap tawadlu’ sebagai kepribadian
       utama mereka. Sehingga tidak menjadi masalah bagi mereka bila
       guru mengambil manfaat dari muridnya dan muridnya yang diambil
       manfaat oleh gurunya tidak pula kemudian menjadi congkak
       dengannya. Tetap saja sang murid mengakui dan mengambil manfaat
       dari gurunya, meskipun sang guru mengakui di depan umum tentang
       ketinggian ilmu si murid. Guru-guru utama Imam Asy Syafi`i, Imam
       Malik dan Imam Sufyan ibn Uyainah, dengan terang-terangan
       mengakui keutamaan ilmu Asy-Syafi’i. Bahkan Imam Sufyan ibn
       Uyainah banyak bertanya kepada Imam Asy-Syafi’i saat Imam
       Syafi’ie ada di majelisnya. Padahal Imam Asy-Syafi’i duduk di
       majelis itu sebagai salah satu murid beliau, dan bersama para
       hadirin yang lainnya, mereka selalu mengerumuni Imam Sufyan
       untuk menimba ilmu daripadanya. Tetapi meskipun demikian, Imam
       Asy-Syafi’i tidak terpengaruh oleh sanjungan gurunya. Beliau
       tetap mendatangi majelis gurunya dan memuliakannya. Di samping
       itu, hal yang amat penting pula dari pernyataan Imam Asy-Syafi’i
       kepada Imam Ahmad ibn Hanbal tersebut di atas, menunjukkan
       kepada kita betapa kuatnya semangat beliau dalam merujuk kepada
       hadits shahih untuk menjadi pegangan dalam bermadzhab, dari
       manapun hadits shahih itu berasal.
       Imam Asy-Syafi’i menyatakan pula: “Semua hadits yang dari Nabi
       [i]shallallahu ‘alaihi wasallam maka itu adalah sebagai
       omonganku. Walaupun kalian tidak mendengarnya dariku.”[/i]
       Demikian beliau memberikan patokan kepada para murid beliau,
       bahwa hadits shahih itu adalah dalil yang sah bagi segala
       pendapat dalam agama ini. Maka pendapat dari siapapun bila
       menyelisihi hadits yang shahih, tentu tidak akan bisa
       menggugurkan hadits shahih itu. Bahkan sebaliknya, pendapat yang
       demikianlah yang harus digugurkan dengan adanya hadits shahih
       yang menyelisihinya.
       &#10043; P e n u t u p
       [size=11pt]Masih banyak mutiara hikmah yang ingin kami tuangkan
       dalam tulisan ini dari peri hidup Imam Asy-Syafi’i. Namun dalam
       kesempatan ini, rasanya tidak cukup halaman yang tersedia untuk
       memuat segala kemilau mutiara hikmah peri hidup beliau itu.
       Bahkan telah ditulis oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah
       kitab-kitab tebal yang berisi untaian mutiara hikmah peri hidup
       Imam besar ini. Seperti Al-Imam Al-Baihaqi menulis kitab
       Manaqibus Syafi`i, juga Ar-Razi menulis kitab dengan judul yang
       sama. Kemudian Ibnu Abi Hatim menulis kitab berjudul Aadaabus
       Syaafi’i. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua
       menunjukkan kepada kita, betapa agungnya Imam besar ini di mata
       para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah subhanahu
       wata’ala menggabungkan kita di barisan mereka di hari kiamat
       nanti. Aamiin ya Mujibas sa’ilin. &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       DAFTAR PUSTAKA:
       - Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 58-59,
       Darul Fikr – Beirut Libanon, tanpa tahun.
       - Hilyatul Awliya’ Wathabaqatul Asfiya’, Abu Nu’aim
       Al-Ashfahani, jilid 9 hal 65-66. Juga hal. 67, Darul Fikr,
       Beirut – Libanon, et. 1416 H / 1996 M. Lihat pula Tahdzibul
       Kamal jilid 24 hal. 358-360. Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abul
       Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, diterbitkan oleh Mu’assatur Risalah, cet.
       Pertama th. 1413 H / 1992 M.
       - Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 60.
       - Ibid, hal. 63.
       - Hilyatul Awliya’, Al-Hafidh Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah
       Al-Asfahani, jilid 9 hal 70, Darul Fikr Beirut Libanon, cet. Th.
       1416 H / 1996 M.
       - Siar A’lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad
       ibn Utsman Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 6-7, Mu’assasatur Risalah,
       cetakan ke 11 th. 1417 H / 1996 M.
       - Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal, Al-Hafidh Al-Mutqin
       Jamaluddin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, jilid 24 hal. 271.
       - Siar A’lamin Nubala’, Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 18. Juga Abu
       Nu’aim Al-Asfahani meriwayatkannya dalam Hilyatul Auliya’ juz 9
       hal. 95.
       - Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9 hal 109-113.
       - Siar A’lamin Nubala’, Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 31.
       - Hilyatul Auliya’, Al-Hafidh Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9
       hal. 170.
       - Demikian diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib-nya dan
       Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya dan dinukil oleh Adz-Dzahabi dalam
       Siar A’lamin Nubala’ jilid 10 hal. 17.
       - Diriwayatkan dalam Aadaabus Syafi`i dan Al-Bidayah.
       Adz-Dzahabi menukilkan riwayat ini dalam Siar A’lamin Nubala’
       jilid 10 hal. 35
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1