DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
C↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ MANHAJ
*****************************************************
#Post#: 930--------------------------------------------------
Membagi Agama Menjadi Kulit dan Esensi
DIR By: Host
Date: August 26, 2024, 6:40 am
---------------------------------------------------------
Membagi Agama Menjadi Kulit dan Esensi
Februari 12, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun
Oleh: Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin
Soal:
“Bagaimana hukumnya orang yang membagi agama menjadi kulit dan
esensi?”.
Pertanyaan ini dijawab oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin dalam Al-Manahil Lafzhiyah:
Membagi agama menjadi kulit dan esensi adalah keliru dan batil.
Agama seluruhnya adalah esensi (semuanya pokok- ed.); seluruhnya
bermanfaat bagi hamba. Seluruhnya akan mendekatkan kepada Allah
‘azza wa jalla, dan siapapun yang mengamalkannya akan mendapat
pahala. Semuanya akan mendatangkan manfaat, menambah keimanan
dan ketundukan dihadapan Allah ‘azza wa jalla hingga masalah
pakaian dan penampilan atau yang serupa dengannya. Semua ini,
jika dilakukan dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada
Allah dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
maka ia akan diganjar pahala atas semua perbuatannya itu.
Sedangkan kulit, sebagaimana kita ketahui tidak bermanfaat
apa-apa, bahkan kulit kita buang! Dalam agama dan syari’at Islam
tidak ada yang seperti ini. Semua yang terdapat dalam syari’at
Islam adalah isi yang bermanfaat bagi seorang hamba jika itu
diamalkan dengan ikhlas karena Allah dan dengan maksud
menteladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bagi orang-orang yang mempropagandakan istilah ini, hendaknya
mereka berpikir, hingga mereka dapat mengetahui yang haq dan
benar, untuk kemudian mereka ikuti kebenaran itu. Hendaknya
mereka juga meninggalkan istilah-istilah semacam ini.
Ya, dalam agama Islam terdapat hal-hal yang sangat penting dan
besar seperti rukun Islam yang lima yang dijelaskan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabdanya,
بُنِيَ
اْلإِسْلاَمُ
عَلَى
خَمْسٍ :
شَهَادَةُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَأَنَّ
مُحَمَّداً
رَسُوْلُ
اللهِ ،
وَإِقَامُ
الصَّلاَةِ
،
وَإِيْتَاءُ
الزَّكَاةِ
، وَحَجُّ
الْبَيْتِ
، وَصَوْمُ
رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas perkara yang lima; Syahadat lailaha
illallah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, shaum di bulan Ramadhan dan malaksanakan haji ke
baitullah Al-haram”(Muttafaq ‘Alaihi).
(Islam dibangun) juga dengan perkara yang tidak sepenting dan
sebesar itu. Akan tetapi, dalam Islam tidak ada yang disebut
dengan kulit yang tidak bermanfaat bagi manusia bahkan terbuang.
Masalah jenggot misalnya (banyak yang menganggapnya sebagai
kulit agama saja, sehingga tidak perlu dibiarkan panjang –ed.),
tidak diragukan lagi bahwa membiarkannya panjang adalah ibadah
karena Nabi memerintahkan hal itu (Terdapat dalam beberapa
hadits, diantaranya Ibnu Umar dikeluarkan Al-Bukhari: 5893,
Muslim: 259. dari Abu Hurairah riwayat Muslim: 260)
Setiap yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
adalah ibadah yang akan mendekatkan seorang hamba kepada
Rabbnya. Masalah jenggot bahkan adalah ajaran Nabi dan seluruh
para Rasul sebagaimana firman Allah tentang Nabi Harun ketika
berkata kepada Nabi Musa,”Harun menjawab
“Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan
(pula) kepalaku” (Thaha: 94)
Terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa
memanjangkan jenggot adalah fitrah yang menyertai penciptaan
manusia, karena itu memanjangkannya adalah ibadah dan bukan
adat, bukan pula perkara kulit seperti sangkaan orang.
(Sampai di sini nukilan dari Syaikh Ibnu Utsaimin).
Beri peringkat:Rate This
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Hukuman yang Keras bagi Orang yang Tidak Konsisten (1)
April 13, 2008
dalam "Adab dan Akhlak"
Bolehkah Menyebut Seseorang dengan Gelar Syahid?
Maret 11, 2008
dalam "Aqidah"
Biografi Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
Februari 4, 2008
dalam "Aqidah"
Ditulis dalam Aqidah, Manhaj | Dengan kaitkata Aqidah, esensi
islam, Fatwa, islam liberal |
*****************************************************
Page 1 of 1