URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ BLOG ▶INFO 'ULAMA SUNNAH
       *****************************************************
       #Post#: 927--------------------------------------------------
       Bagaimana Asy-Syaikh Muqbil Mendidik Putri Beliau?
   DIR By: Host
       Date: August 26, 2024, 6:39 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
       BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
       AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
       [center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
       ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
       [center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
       fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar bin Abdul Aziz)
       ---------------------------------------------------------
       &#10043; Bagaimana Asy-Syaikh Muqbil Mendidik Putri Beliau?
       Februari 5, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [size=10pt]&#9701;&#8593;&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
       Pernah membaca buku Nasehati lin Nisa? Buku yang telah
       diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku
       bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita)
       dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah.
       Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di
       masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i
       rahimahullah.
       Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak
       keutamaan. Menurut Al-Ustadz Muhammad Barmim dalam biografi
       Syaikh Muqbil, Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus
       wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:
       – Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua
       jilid)
       – Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)
       – Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim
       – Nasehati lin Nisa
       – dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min
       Sirah Nabawiyah
       Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara
       Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang
       aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang
       dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak
       laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi
       seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin
       kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh
       dalam mendidik putrinya.
       Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau –Syaikh
       Muqbil- mendidik putri-putrinya,
       … Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya
       beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami
       dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam
       membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin
       kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang
       berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin
       direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam
       hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan.
       Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset
       qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk
       masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini
       bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian.
       Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing
       sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap
       memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan
       alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak
       mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak
       senang terhadap nyanyian.
       Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya
       menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan
       membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan
       kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan
       keras dan sangat marah.
       Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang
       datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada
       yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai
       bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di
       buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada
       gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk
       menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai
       dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu.
       Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan
       As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru
       tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah.
       Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau
       bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda
       dengan kebanyakan kaum muslimin –kecuali yang dirahmati oleh
       Allah- yang bersenang-senang bersama anak-anak mereka dengan
       televisi, nyanyian, permainan-permainan gila, serta kerusakan
       lainnya. Padahal nabi kita bersabda, “Kamu sekalian adalah
       pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang
       dipimpinnya.”
       Beliau selalu melarang kami terlalu banyak keluar, dan beliau
       selalu mengharuskan kami untuk tidak keluar kecuali seizin
       beliau.
       Ini apa yang dijalankan beliau semasa kami kecil.
       Ada pun tentang pendidikan kami, beliau sangat ingin kami
       mendalami agama Allah dan mencari bekal ilmu syar’i. Sebab
       itulah, beliau mencurahkan kemampuan beliau untuk membantu kami
       menuntut ilmu dan membuat kami menggunakan kesempatan kami
       dengan sebaik-baiknya. Beliau selalu menyediakan waktu khusus
       untuk mendidik kami. Setiap hari kedua, beliau menanyakan
       pelajaran yang telah lalu. Jika pelajaran itu terlalu berat,
       maka beliau berikan dengan cara yang jauh lebih ringan.
       Di antara pelajaran yang khusus kami pelajari di rumah adalah:
       – Qatrun Nada sampai dua kali
       – Syarh Ibnu Aqil sampai dua kali juga
       – Tadribur Rawi
       – Mushilut Thullabi ila Qowaidil I’rab (namun tidak selesai
       karena beliau sakit)
       Majelis beliau senantiasa penuh dengan kebaikan, diskusi, dan
       pengarahan, sampai pun di atas hidangan makan atau via telepon.
       Ketika beliau di Saudi sebelum berangkat ke Jerman, ayahanda
       mengucapkan salam lewat telepon kepada saya, “Assalamu’alaikum
       warahmatullah wabarakatuh”. Saya menjawab tanpa mengucapkan,
       “Wabarakatuh”. Beliau bertanya (menegur), “Mengapa tidak engkau
       balas dengan yang lebih utama?” sebagai isyarat pengamalan ayat
       ke 86 dari surat An-Nisa.
       Terkadang beliau sengaja salah memberikan pertanyaan untuk
       menguji pemahaman kami, sebagaimana itu beliau lakukan juga
       kepada murid laki-laki. Kadang beliau bertanya tentang soal yang
       cukup berat, untuk memberikan faedah namun disuguhkan dengan
       pertanyaan terlebih dahulu. Metode ini pun diajarkan oleh
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam
       hadits Muadz.
       Kadang ketika kami menemui kesulitan dalam pelajaran atau riset
       kami, beliau memerintahkan kami untuk meneruskan riset tersebut,
       atau beliau mengikuti kami ke perpustakaan dan membantu kami.
       Inilah yang menyebabkan kami begitu berduka karena kehilangan
       beliau rahimahullah. Siapa yang akan memperhatikan kami
       sepeninggal ayahanda?
       Beliau selalu mendidik dan mengarahkan kami dengan lemah lembut.
       Dan dengan karunia Allah, kami tidak terdorong sedikit pun untuk
       menentang beliau, karena semua itu adalah demi kemaslahatan dan
       keuntungan kami juga. Semuanya adalah mutiara yang diuntai
       dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.
       Di antara yang mengagumkan pada diri beliau adalah tidak pernah
       memaksakan kepada kami dalam perkara ijtihad kami yang memiliki
       sisi pandang lain. Kalau kami sudah memahami suatu masalah yang
       berbeda dengan pemahaman beliau maka beliau tidak memaksa kami,
       seperti juga kebiasaan beliau bersama murid-muridnya yang
       laki-laki. Beliau tidak pernah menekan mereka untuk memahami
       sesuatu yang masih perlu dipertimbangkan. Ini, sebagaimana para
       pembaca lihat, adalah kemuliaan yang sangat jarang ditemukan.
       Beliau rahimahullah juga memperingatkan kami dari masyarakat,
       karena masyarakat kami adalah masyarakat yang rusak, bersegera
       dalam kesesatan dan hal-hal yang tidak berguna, kecuali yang
       dirahmati Allah.
       Beliau juga memperingatkan kami dari sikap sombong. Beliau
       sangat benci kepada wanita yang sombong terhadap suaminya,
       beliau mengatakan, “Tidak ada kebaikan wanita yang seperti ini.”
       Beliau mendorong kami untuk bersikap zuhud terhadap dunia yang
       rendah ini. Beliau bimbing kami untuk meniatkan apa yang kami
       makan dan minum untuk menguatkan kami dalam bertakwa, agar
       memperoleh pahala dari Allah. Beliau katakan, “Janganlah kamu
       sibukkan dirimu menyiapkan berbagai hidangan makanan. Apa yang
       mudah diolah, kita makan.”
       Beliau bangkitkan semangat kami. Beliau bukan termasuk orang
       yang suka meruntuhkan semangat keluarga dan anak-anak
       perempuannya. Beliau membentuk kami dengan sebaik-baiknya, agar
       kami mudah dan bersemangat untuk bersungguh-sungguh dalam
       memperoleh ilmu yang bermanfaat.
       Di antara ucapan beliau kepada saya, “Saya berharap agar kamu
       menjadi wanita yang faqih.” Ya Allah, wujudkanlah harapan
       ayahanda, duhai Zat yang tidak diharap kecuali kepada-Nya,
       tempatkanlah beliau di surga firdaus yang tinggi. &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Admin Blog Ulama Sunnah
       Wira Bachrun Al Bankawy
       Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
       Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
       e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       (Diringkas dari buku “Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah
       Ayahanda Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I”, terbitan pustaka
       Al-Haura Jogjakarta).
       Silakan dicopy dengan mencantumkan sumber
  HTML http://www.ulamasunnah.wordpress.com
       Beri peringkat:8 Votes
       Bagikan ini:
       RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
       Terkait
       Biografi Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
       Februari 4, 2008
       dalam "Aqidah"
       Biografi Asy Syaikh Utsman As Saalimi
       Juni 23, 2015
       dalam "Kisah dan Biografi"
       Surat Terbuka dari Ummu Abdillah Al Wadi’iyah
       Maret 5, 2008
       dalam "Adab dan Akhlak"
       Ditulis dalam Tidak Dikategorikan | Dengan kaitkata Mutiara
       Kehidupan |
       *****************************************************
       Page 1 of 1