DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
C↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ MANHAJ
*****************************************************
#Post#: 904--------------------------------------------------
Imam Empat Mazhab: Tinggalkan Pendapat Kami bila bertentangan
dengan Al-Qur'an dan Sunnah!
DIR By: Host
Date: August 26, 2024, 1:56 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Imam Empat Mazhab: Tinggalkan Pendapat Kami bila
bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah!
Februari 17, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Di dalam kitab beliau Shifat Shalatin Nabi, Asy-Syaikh Al-Albani
pernah menukilkan kisah sekumpulan pemuda Jepang yang ingin
masuk Islam. Mendengar keinginan para pemuda ini, berbagai
perkumpulan Islam pun menyodorkan mazhab-mazhab yang mereka
anut. Sekelompok muslim dari India mengatakan kepadanya,
“Bermazhablah dengan mazhab Imam Abu Hanifah, karena dia adalah
pelita umat ini.” Sebaliknya sekelompok muslimin dari
Jawa-Indonesia mengatakan, “Wajib baginya untuk menjadi seorang
Syafi’i.”
Ketika orang-orang Jepang itu mendengar perselisihan ini, mereka
pun menjadi bingung dan tidak paham apa yang mereka maksud. Maka
lihatlah betapa permasalahan mazhab ini bisa menjadi penghalang
seseorang untuk masuk ke dalam Islam.
Berseberangan dengan dua kelompok fanatik dalam kisah di atas,
para imam mazhab tidaklah menganjurkan murid-muridnya dan
segenap kaum muslimin untuk taqlid buta kepada mereka. Bahkan
mereka berpesan agar umat ini kembali kepada Kitabullah dan
Sunnah Rasul-Nya yang shahih.
Masih di dalam muqaddimah Kitab Shifat Shalat Nabi, Asy-Syaikh
Al-Albani pun menukilkan ucapan-ucapan para Imam Mazhab yang
empat yang seolah-olah berkata dengan satu suara, “Jangan
fanatik kepada kami, ikutilah sunnah, tinggalkan ucapan kami
bila bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam …”
Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)
Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada
tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,
1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah
madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)
2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada
perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami
mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha
‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat
yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak
mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.”
Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah
manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya
di esok hari.”
3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan
kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al-
lqazh, hal. 50)
Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)
Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada
tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,
1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang
salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap
pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan
setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka
tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)
2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang
ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu
Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)
3.Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang
hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata,
‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya
hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami
mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik
berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu
Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri
dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad
Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku
melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggosok antara
jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik
berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya
baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi
tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan
untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil,
karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)
Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)
Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di
Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,
1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu
Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan
merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah pendapatku”
(Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)
2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah
terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena
mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)
3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang
bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.”
(Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)
4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah
madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)
5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan
para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia
kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun
dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab
dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)
6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih
dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menurut para pakar
hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku
rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107,
Al-Harawi, 47/1)
7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan,
sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits
yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah
berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)
8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang
bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih
utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.”
(Ibnu Asakir, 15/9/2)
9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum
mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)
Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)
Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang
dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau
berkata,
1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau
mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari
mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di
dalam Al-I’lam, 2/302)
2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah
semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan
hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr
di dalam Al-Jami`, 2/149)
3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi
jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).
Demikianlah ucapan para Imam Mazhab. Masihkah Anda taqlid buta
kepada mereka, atau taqlid kepada sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam? Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
(Sumber: Muqaddimah Shifat Shalatin Nabi, Asy-Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani rahimahullah)
Beri peringkat:15 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Fatwa-fatwa Ulama Terakhir tentang sesatnya Jama’ah Tabligh
Juni 30, 2008
dalam "Manhaj"
Apa yang Menjadi Rujukan dalam Menafsirkan Al Quran?
Juni 16, 2008
dalam "Aqidah"
Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (II)
Juli 3, 2008
dalam "Manhaj"
Ditulis dalam Manhaj | Dengan kaitkata ahlussunnah, Artikel,
aswaja, fanatik, fanatik mazhab, fanatisme, fanatisme mazhab,
hambali, hanafi, malik, Manhaj, mazhab, syafi'i |
*****************************************************
Page 1 of 1