DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
*****************************************************
#Post#: 894--------------------------------------------------
Sikap Tengah Ahlussunnah terhadap Wafatnya Al-Husain
radhiyallahu ‘anhu di Hari Asyura
DIR By: Host
Date: August 26, 2024, 1:45 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Sikap Tengah Ahlussunnah terhadap Wafatnya Al-Husain
radhiyallahu ‘anhu di Hari Asyura
Februari 17, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab
Pengantar Redaksi:
Di dalam kitab beliau “Ar-Radd ‘alal Rafidhah”, Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdil Wahhab menukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah dan juga Syaikhul Islam Ibnul Qayyim berkenaan dengan
sikap ahlussunnah terhadap wafatnya Al-Husain, cucu Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam di hari Asyura. Beliau berkata,
“Asy-Syaikh Ibnu Taimiyyah Al-Hambali Al-Harrani rahimahullah[1]
berkata,
“Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepadaku dan
kepada engkau, bahwa kesyahidan yang menimpa Al-Husain
radhiyallahu ‘anhu di hari Asyura merupakan karamah dari Allah
‘azza wa jalla yang dengannya Allah muliakan beliau, (merupakan)
tambahan keberuntungan dan pengangkatan derajat di sisi Rabbnya,
menggabungkan beliau ke derajat ahli baitnya yang suci, serta
agar menjadi hina orang yang menzhalimi dan berbuat aniaya
kepada beliau.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya
tentang orang yang paling keras cobaannya, beliau menjawab,
“Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang paling
mirip dengan mereka, kemudian yang di bawahnya. Seseorang akan
diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika ada kekokohan dalam
agamanya, akan ditambah ujiannya dan jika ada kelunakan dalam
agamanya, maka akan diringankan. Dan terus saja ujian itu
menimpa seorang mukmin sampai dia berjalan di atas muka bumi
dalam keadaan tidak punya kesalahan lagi.”[2]
Sehingga seorang mukmin, jika telah tiba hari Asyura dan ingat
peristiwa yang menimpa Al-Husain hendaknya dia menyibukkan diri
dengan bacaan istirja’ (innaa lillaahi wa innaa ilaihi
raaji’un), tiada lain, sebagaimana Allah Al-Maula ‘azza wa jalla
perintahkan ketika terjadi musibah sehingga dia bisa meraih
pahala yang dijanjikan dalam firman-Nya,
“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat
dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk.” (Al-Baqarah: 157)
(Hendaknya dia) memperhatikan buah dari ujian tersebut dan
pahala yang Allah janjikan bagi orang-orang yang bersabar, di
mana Dia berfirman,
إِنَّمَا
يُوَفَّى
الصَّابِرُوْنَ
أَجْرَهُمْ
بِغَيْرِ
حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)
Dan bersaksi bahwa musibah itu dari Allah yang memberikan ujian,
sehingga dengan penglihatan Dzat yang dicintainya akan lekas
terlupakan rasa pahit dan susah cobaan tersebut. Allah I
berfirman,
وَاصْبِرْ
لِحُكْمِ
رَبِّكَ
فَإِنَّكَ
بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka
sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (Ath-Thuur:
48)
Dikatakan kepada seorang penjahat yang keji lagi licik, “Kapan
hukuman cambuk dan potong itu terasa ringan bagimu?” Dia
menjawab, “Ketika kami dilihat oleh orang yang kami senangi,
kami pun menilai musibah itu sebagai kelapangan, keengganan
sebagai pemberian dan musibah sebagai karunia.”
Sehingga orang yang berakal akan selalu ingat semisal hal ini
ketika keadaan seperti itu, akan menganggap kecil berbagai
musibah, kesusahan dan cobaan dunia yang menimpanya, dan akan
terhibur dan sabar menghadapi musibah-musibah yang menimpanya
itu serta menyibukkan harinya dengan berbagai ketaatan dan amal
shalih yang dimampuinya karena adanya motivasi Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam untuk melakukan puasa di hari Asyura sehingga
dengan semua itu dia menggunakan waktunya untuk berbagai macam
taqarrub, mudah-mudahan dia ditulis dari golongan orang-orang
yang mencintai keluarga dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bukannya dia menjadikan hari tersebut untuk berkabung, meratap
dan bersedih sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh
itu, sebab yang seperti itu bukanlah akhlak dan jalan ahli bait
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Andaikan yang seperti ini merupakan jalan mereka, tentunya umat
Islam akan menjadikan hari wafatnya Nabi mereka shallallahu
‘alaihi wasallam sebagai hari berkabung tiap tahunnya. Ini semua
tidak lain hanyalah penghiasan dan penyesatan syaithan.
Asy-Syaikh kemudian berkata setelah menyebutkan hal itu[3],
“Demikianlah, sebagaimana juga dihiaskan kepada kaum yang lain
lawan dari perbuatan Rafidhah. Mereka menjadikan hari Asyura ini
sebagai ‘ied (hari raya), lantas mereka menampakkan kegembiraan
dan suka cita.
Mungkin mereka dari golongan nawashib yang fanatik menancapkan
permusuhan terhadap Al-Husain radhiyallahu ‘anhu dan ahli
baitnya atau dari kalangan orang-orang bodoh yang hendak
menghadapi kerusakan dengan kerusakan, menghadapi keburukan
dengan keburukan dan bid’ah. Mereka menampakkan perbuatan
berhias seperti mencat rambut, memakai pakaian baru, bercelak,
membagi sedekah, memasak berbagai makanan dan biji-bijian yang
tidak biasanya mereka lakukan dalam keseharian. Mereka melakukan
di hari itu apa yang dilakukan di hari raya dan mereka sangka
bahwa hal seperti itu bagian dari As-Sunnah dan kebiasaan yang
baik.
Adapun sunnahnya adalah meninggalkan hal itu seluruhnya, sebab
tidak datang satu hadits pun yang bisa dijadikan sandaran dalam
hal itu dan tidak ada atsar shahih untuk menjadi rujukan.”
Sampai beliau berkata,
“Mereka dengan kebodohannya itu menjadikan hari Asyura sebagai
suatu hari yang layaknya pekan raya ‘ied dan kegembiraan. Adapun
orang-orang Rafidhah menjadikannya sebagai hari berkabung,
mereka tampakkan padanya berbagai kesedihan. Masing-masing dari
kedua kelompok ini salah, keluar dari As-Sunnah, mencampakkan
dirinya ke dalam perbuatan haram dan dosa.”
Ibnul Qayyim berkata[4],
“Adapun hadits-hadits tentang memakai celak, minyak rambut, dan
wewangian di hari Asyura, maka termasuk pemalsuan para pendusta.
Lantas mereka dihadapi oleh kelompok yang lain yang menjadikan
hari itu sebagai hari berkabung dan bersedih. Kedua kelompok ini
sama-sama ahli bid’ah, keluar dari As-Sunnah.
Adapun apa yang disebutkan dari orang-orang Rafidhah yang
mengharamkan daging binatang yang halal dimakan di hari Asyura
sampai mereka membacakan kitab tentang kematian Al-Husain
radhiyallahu ‘anhu, termasuk kebodohan dan bahan tertawaan,
dalam membantahnya tidak butuh kepada satu dalil pun. Cukup bagi
kami Allah dan Dialah sebaik-baik Dzat yang diserahi urusan.”
Selesai ucapan Asy-Syaikh dengan sedikit diringkas. Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
(Diterjemahkan dari Ar-Radd alal Rafidhah karya Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdil Wahhab oleh Abu Hudzaifah Yahya, muraja’ah
oleh Al-Ustadz Abu Isma’il Fuad. Nantikan terjemahan lengkap
dari kitab ini insya Allah akan segera diterbitkan oleh Penerbit
Al-Ilmu, Jogjakarta di pertengahan bulan Muharram 1429 H)
CATATAN KAKI
[1] Majmu’ Al-Fatawa jilid 25 hal. 302, 307 dan 308.
[2] Hadits dari Sa’dengan bin Abi Waqqash t yang diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi no. 2403, Ibnu Majah no. 4023 dan Ad-Darimi no.
2681. Hadits ini shahih.
[3] Majmu’ Al-Fatawa jilid 25 no. 309-310.
[4] Dalam Al-Manar Al-Munif hal. 89 cet. Darul ‘Ashimah.
Beri peringkat:Rate This
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Februari 4, 2008
dalam "Aqidah"
Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari
Juni 16, 2009
dalam "Aqidah"
Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)
Januari 1, 2009
dalam "Fiqh Ibadah"
Ditulis dalam Aqidah, Manhaj | Dengan kaitkata ahlul bait, ali
bin abi thalib, asyura, asyuro, husain, husen, iran, Manhaj,
rafidhah, salafy, Syi'ah |
*****************************************************
Page 1 of 1