URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ ADAB DAN AKHLAK
       *****************************************************
       #Post#: 892--------------------------------------------------
       Inilah Hakekat Sabar
   DIR By: Host
       Date: August 26, 2024, 1:44 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
       BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
       AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
       [center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
       ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
       [center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
       fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar bin Abdul Aziz)
       ---------------------------------------------------------
       &#10043; Inilah Hakekat Sabar
       Februari 17, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [size=10pt]&#9701;&#8593;&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
       Oleh: Asy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin
       Sabar menurut bahasa adalah menahan. Adapun secara syar’i,
       maknanya adalah menahan diri dalam tiga perkara:
       – Yang pertama, taat kepada ALLAH subhanahu wata’ala.
       – Yang kedua, menahan diri dari perkara-perkara yang haram.
       – Yang ketiga, menahan diri terhadap takdir ALLAH subhanahu
       wata’ala yang menyakitkan.
       Ini adalah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para
       ulama.
       Adapun penjelasan dari masing-masing jenis sabar itu adalah
       sebagai berikut:
       1. Seseorang bersabar di atas ketaatan kepada ALLAH subhanahu
       wata’ala, karena taat sangat berat dan sulit oleh jiwa dan
       badan, di mana seseorang merasa lemah, capek dan kepayahan dari
       sisi harta seperti zakat dan haji. Yang jelas dalam ketaatan
       kepada ALLAH subhanahu wata’ala terdapat kepayahan yang
       dirasakan oleh jiwa dan badan sehingga dibutuhkan sabar dan
       pertolongan. ALLAH subhanahu wata’ala berfirman,
       &#1610;&#1614;&#1575;
       &#1571;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;
       &#1570;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1575;&#1589;&#1618;&#1576;&#1616;&#1585;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1608;&#1614;&#1589;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1585;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1608;&#1614;&#1585;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1591;&#1615;&#1608;&#1575;
       “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
       kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan
       negerimu)”. (Ali-‘Imran: 200).
       2. Sabar untuk tidak melakukan perkara-perkara yang diharamkan
       oleh ALLAH subhanahu wata’ala yaitu seseorang menahan diri dari
       segala sesuatu yang diharamkan-Nya karena jiwa selalu menyuruh
       dan menyeru untuk berbuat jelek sehingga manusia perlu
       menyabarkan diri, seperti berdusta, menipu dalam muamalah, makan
       harta dengan bathil dengan cara riba atau yang lainnya, zina,
       minum khamr, mencuri, dan yang semisalnya dari dosa-dosa besar.
       Sehingga seseorang harus mampu menyabarkan diri darinya sehingga
       terjerumus ke dalam maksiat dan ini membutuhkan pertolongan dan
       menahan diri dan hawa nafsu.
       3. Sabar terhadap takdir-takdir ALLAH subhanahu wata’ala yang
       menyakitkan karena takdir-Nya terkadang membahagiakan dan
       menyakitkan. Adapun takdir yang membahagiakan maka perlu untuk
       disyukuri, sedangkan bersyukur termasuk ketaatan kepada ALLAH
       sehingga termasuk jenis yang pertama, sedangkan takdir yang
       menyakitkan dirasakan tidak enak oleh manusia dengan diberi
       cobaan pada badannya, hilangnya harta, keluarganya dan
       masyarakatnya.
       Yang jelas jenis musibah yang menimpa manusia sangat banyak
       sehingga diperlukan sabar dan pertolongan. Dia menyabarkan
       jiwanya dari segala sesuatu yang diharamkan baginya, seperti
       menampakkan keluh kesah dengan lisan, kalbu atau anggota badan,
       karena seseorang yang tertimpa musibah tidak lepas dari empat
       kondisi:
       – Yang pertama, marah atas musibah yang menimpanya
       – Yang kedua, bersabar
       – Yang ketiga, ridha
       – Dan yang keempat, bersyukur.
       Keempat kondisi berikut ada pada manusia tatkala tertimpa
       musibah:
       1) Adapun kondisi yang pertama, seseorang marah terhadap musibah
       yang menimpanya, apakah hal itu ditunjukkan dengan kalbu, lisan
       atau anggota badannya. Marah dengan kalbu dengan berprasangka
       jelek kepada ALLAH subhanahu wata’ala berupa kemarahan
       kepada-Nya –aku berlindung kepada ALLAH dari perkara ini- atau
       hal-hal yang semacamnya dan seakan-akan ALLAH subhanahu wata’ala
       telah menzhaliminya dengan musibah ini. Adapun dengan lisan maka
       ditunjukkan dengan mengucapkan kata-kata umpatan, kecelakaan,
       seperti mengatakan aduh, celakanya atau kata-kata yang semakna,
       mencela zaman sehingga menghina ALLAH subhanahu wata’ala dan
       yang semisalnya. Adapun dengan anggota badan seperti
       menampar-nampar pipi, memukul kepala, mencabik-cabik rambut,
       merobek-robek baju atau yang semisalnya.
       Kemarahan seperti ini adalah kondisi orang-orang yang banyak
       keluh kesahnya yang mana ALLAH subhanahu wata’ala telah haramkan
       mereka untuk mendapat pahala dan tidak akan selamat dari musibah
       bahkan mereka mendapatkan dosa karenanya sehingga mereka
       mendapat dua musibah yaitu musibah dalam agamanya dengan
       kemarahannya tersebut dan musibah di dunia dengan tertimpa
       sesuatu yang menyakitkan.
       2) Kondisi yang kedua adalah bersabar terhadap musibah yang
       menimpanya yaitu dengan menahan jiwanya sementara dia merasa
       tidak suka terhadap musibah tersebut namun dia menyabarkan diri
       dengan menahan lisannya atau berbuat sesuatu yang akan
       mendatangkan murka ALLAH subhanahu wata’ala atau sama sekali
       tidak ada prasangka buruk dalam kalbunya terhadap ALLAH
       subhanahu wata’ala, dia bersabar namun tidak suka terhadap
       musibah yang menimpanya.
       3) Yang ketiga adalah merasa ridha terhadap musibah yang
       menimpanya di mana seseorang merasa lapang dada terhadap musibah
       yang menimpanya dan memiliki keridhaan yang sempurna sehingga
       seakan-akan tidak tertimpa musibah.
       4) Kondisi terakhir adalah bersyukur atas musibah yang
       menimpanya dan Rasulullah jika melihat sesuatu yang beliau tidak
       sukai mengatakan, “Alhamdullilah ‘ala kulli hal (Segala puji
       bagi ALLAH atas segala keadaan)”. Beliau bersyukur karena ALLAH
       subhanahu wata’ala memberikan pahala yang berlipat atas musibah
       yang menimpanya. Oleh sebab itu diriwayatkan dari beberapa
       wanita yang ahli ibadah yang tertimpa musibah pada
       jari-jemarinya maka wanita itu memuji ALLAH subhanahu wata’ala
       sehingga orang-orang bertanya kepadanya, “Bagaimana mungkin kamu
       memuji ALLAH subhanahu wata’ala sedang jari-jemarimu terluka?”
       Maka dia menjawab, “Sesungguhnya kenikmatan pahalanya telah
       membuatku lupa terhadap pahitnya sabar”.
       Dan ALLAH-lah yang Maha Pemberi Taufik. &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Admin Blog Ulama Sunnah
       Wira Bachrun Al Bankawy
       Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
       Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
       e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       (Diterjemahkan dari Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh
       Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, sumber:
  HTML http://www.ulamasunnah.wordpress.com
       )
       Beri peringkat:1 Votes
       Bagikan ini:
       RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
       Terkait
       Sikap Muslim Terhadap Perayaan Hari Ibu
       Februari 5, 2008
       dalam "Fatwa"
       Sikap Muslim Terhadap Perayaan Hari Ibu
       Februari 17, 2008
       dalam "Aqidah"
       Tanggung Jawab Penuntut Ilmu (3): Ikhlas dan Niat yang Baik
       Oktober 7, 2010
       dalam "Ilmu"
       Ditulis dalam Adab dan Akhlak, Muamalah | Dengan kaitkata Adab
       dan Akhlaq, Artikel, artikel islami, dengki, hasad, hati bersih,
       iri, manajemen qolbu |
       *****************************************************
       Page 1 of 1