DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ BLOG ▶INFO 'ULAMA SUNNAH
*****************************************************
#Post#: 825--------------------------------------------------
INFO-3
DIR By: Host
Date: August 26, 2024, 12:45 am
---------------------------------------------------------
Hukum Merayakan Hari Kasih Sayang/Valentine Day?
Februari 5, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun
Oleh: Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan:
Bagaimana hukum merayakan hari Kasih Sayang / Valentine Day’s?
Jawab:
“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:
Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar
hukumnya di dalam syari‘at Islam.
Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara
rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk
para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai
mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam
bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah
ataupun lainnya.
Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak
menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.
Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian
hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi
kita semua dengan bimbingan-Nya.”
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat
syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada
muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan
dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu
mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi
(membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan
perilaku.
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut
mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah
nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti
mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan
mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap
raka’at shalatnya membaca,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang
yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang
sesat.” (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan
kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya
jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri
malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela. Lain dari itu,
mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan
membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan
keterikatan hati.
Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu);
sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.
Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin,
maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim.” (Al-Maidah:51)
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah:
22)
Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan
mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus
memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang
memperingatinya.
Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi:
Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang
diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun
bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan
tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi
oleh budaya dan gaya hidup mereka.
Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang
sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat
yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara
pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial
mereka menjadi porak-poranda.
Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik
dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai
mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu
mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan
ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian
pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita
lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.
Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup
kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang
menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya
seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang
bertakwa.
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim.
Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan
menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum
mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita.
Beri peringkat:Rate This
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Hukum Merayakan Valentine Day
Februari 5, 2009
dalam "Aqidah"
Hukum Merayakan Valentine Day
Februari 5, 2008
dalam "Aqidah"
Merayakan Ulang Tahun Anak
Februari 25, 2008
dalam "Adab dan Akhlak"
Ditulis dalam Tidak Dikategorikan | Dengan kaitkata Fatwa, Hari
Raya |
*****************************************************
Page 1 of 1