DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ FIQH IBADAH
*****************************************************
#Post#: 809--------------------------------------------------
Keutamaan Puasa Sepuluh Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah
DIR By: Host
Date: August 26, 2024, 12:32 am
---------------------------------------------------------
Keutamaan Puasa Sepuluh Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah
Februari 23, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun
Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Pertanyaan:
Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah
ditanya, “Apa pendapat anda tentang pandangan orang yang
mengatakan berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah
bid’ah?”
Jawaban:
Beliau menjawab, “Orang ini jahil, patut diajari. Karena
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah memotivasi untuk
beramal shalih padanya, dan puasa termasuk amal shalih.
Berdasarkan hadits sabda Nabi,”Tidak ada hari-hari dimana amal
shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari
sepuluh ini”. Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah tidak
pula Jihad Fi Sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak pula jihad fi
sabilillah, kecuali seseorang berjihad dengan jiwanya dan
hartanya dan tidak kembali membawa apa-apa lagi”.Hadits riwayat
Al Bukhari dalam shahihnya.
Walaupun Nabi tidak pernah berpuasa pada hari-hari ini, telah
diriwayatkan dari beliau bahwa beliau berpuasa padanya, dan
diriwayatkan pula dari beliau bahwa beliau tidak berpuasa
padanya. Akan tetapi yang jadi pegangan adalah ucapan karena
ucapan lebih kuat daripada perbuatan. Dan apabila terkumpul
ucapan dan perbuatan maka ini lebi kuat untuk dikatakan sunnah.
Maka ucapan adalah dalil tersendiri sebagaimana perbuatan dan
taqrir (persetujuan) demikian.
Apabila Nabi mengatakan suatu ucapan atau melakukan suatu
perbuatan atau mempersetujuinya maka seluruhnya adalah sunnah.
Akan tetapi ucapan lebih kuat kemudian perbuatan dan setelahnya
persetujuan. Dan dalam hal ini Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
berkata, “Tidak ada hari-hari dimana amal shalih padanya lebih
dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini”. Yakni sepuluh hari
(pertama), maka apabila seseorang ingin berpuasa padanya atau
bersedekah berarti ia di atas kebaikan yang besar. Demikian pula
disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir (membaca Allahu
Akbar), bertahmid (membaca Alhamdulillah), dan bertahlil
(membaca Laa ilaha ilallah) berdasarkan sabda Nabi, “Tidak ada
hari-hari yang lebih mulia di sisi Allah dan dicintai oleh-Nya
untuk beramal shalih padanya daripada hari-hari yang sepuluh
ini, maka perbanyaklah oleh kalian padanya tahlil, takbir, dan
tahmid”. Semoga Allah menganugrahkan taufiq-Nya kepada kita
semua.”
Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abdul Barr dari:
Majmu Fatawa Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Sumber: Majalah As Salaam No IV/Th II 2006M/1426H
Beri peringkat:13 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Hukum dalam puasa Sunnah 6 hari bulan Syawal
Oktober 4, 2008
dalam "Fiqh Ibadah"
Merayakan Ulang Tahun Anak
Februari 25, 2008
dalam "Adab dan Akhlak"
Kapankah Kita Puasa Arafah jika Ru’yah Hilalnya Berbeda dengan
Makkah?
Februari 17, 2008
dalam "Fiqh Ibadah"
Ditulis dalam Adab dan Akhlak, Fiqh Ibadah | Dengan kaitkata
arafah, dzulhijjah, Fatwa, fatwa ulama, haji, puasa arafah,
puasa sunnah, salafi, salafi indonesia, salafy, Syaikh bin baaz,
zulhijjah |
*****************************************************
Page 1 of 1