DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ FIQH IBADAH
*****************************************************
#Post#: 796--------------------------------------------------
Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 11:35 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)
Januari 1, 2009 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah
[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi
-rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan
puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura /
Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]
Hadits yang Pertama
عن ابن
عباس
رَضِيَ
اللَّهُ
عَنهُ أن
رَسُول
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيهِ
وَسَلَّم
صام يوم
عاشوراء
وأمر
بصيامه.
مُتَّفّقٌ
عَلَيهِ
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan
memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).
Hadits yang Kedua
عن أبي
قتادة
رَضِيَ
اللَّهُ
عَنهُ أن
رَسُول
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيهِ
وَسَلَّم
سئل عن
صيام يوم
عاشوراء
فقال: ((يكفر
السنة
الماضية))
رَوَاهُ
مُسلِمٌ.
Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura.
Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun
yang lalu”. (HR. Muslim)
Hadits yang Ketiga
وعن ابن
عباس
رَضِيَ
اللَّهُ
عَنهُما
قال، قال
رَسُول
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيهِ
وَسَلَّم:
((لئن بقيت
إلى قابل
لأصومن
التاسع))
رَوَاهُ
مُسلِمٌ.
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila
(usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari)
kesembilan” (HR. Muslim)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa
pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun
yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah
(yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya
–pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang
berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.)
Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka
aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula
pada hari Tasu’a.
Penjelasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk
berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam
rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu
10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan
kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu
orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur
mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah
memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara
syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan
Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.
Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi
berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada
mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut
menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah
menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta
pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur
kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.
Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan
orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih
berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,
إِنَّ
أَوْلَى
النَّاسِ
بِإِبْرَاهِيمَ
لَلَّذِينَ
اتَّبَعُوهُ
وَهَذَا
النَّبِيُّ
وَالَّذِينَ
آَمَنُوا
وَاللَّهُ
وَلِيُّ
الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah
orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta
orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua
orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang
paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi
tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa
dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa
‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari
tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi
yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari
kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari
kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]
Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang
selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi
tiga keadaan:
1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang
paling afdhal.
2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini
kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]
3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama
memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama
yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]
Wallahu a’lam bish shawab.
(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan
Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz
Abu Abdillah Muhammad Rifai)
CATATAN KAKI:
[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa
setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut
berbunyi:
صوموا يوم
عاشوراء و
خالفوا فيه
اليهود
صوموا قبله
يوما و
بعده يوما . –
“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi
padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.
(HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany
di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)
Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad
Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari
setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi
hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:
“لئن بقيت
إلى قابل
لأصومن
التاسع” .
“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari
kesembilan”
Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th.
1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al
Arna’uth.
لئن بقيت
لآمرن
بصيام يوم
قبله أو
يوم بعده .
يوم
عاشوراء) .-
“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari
sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al
Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal
Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar
dengan lafadz lengkap tersebut.))
[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan
waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah
(Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala
Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah
hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan
menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)
[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat
no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama
hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.
Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian
ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi
dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan
hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi
Wasallam,
صوموا يوم
عاشوراء و
خالفوا فيه
اليهود
صوموا قبله
يوما أو
بعده يوما .
“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi
padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari
setelahnya”.
Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits
yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila
dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah
Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)
[4] (lihat no. 3)
[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
mengatakan,
والراجح
أنه لا
يكره إفراد
عاشوراء.
Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura
saja. (Syarhul Mumthi’ VI)
Wallaahu a’lam. Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
Beri peringkat:59 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Penjelasan Hadits Arbain Kedua: Penjelasan tentang Islam, Iman,
dan Ihsan (1)
Juni 14, 2009
dalam "Aqidah"
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Lima:
Keutamaan Berdzikir
November 6, 2009
dalam "Aqidah"
Kasih Sayang Rasullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam terhadap
Hewan
Mei 31, 2011
dalam "Muamalah"
Ditulis dalam Fiqh Ibadah |
*****************************************************
Page 1 of 1