DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
*****************************************************
#Post#: 781--------------------------------------------------
Sikap dan Kewajiban Umat Islam terhadap Tragedi Palestina
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 10:58 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]◥↑✻'ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI,
ARTIKEL DAN FATWA ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-1/'ulama-sunnah/msg1037/#msg1037][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/kategori/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Penjelasan 'Ulama[size=15pt]
◎ [font=arial black]Sikap dan Kewajiban Umat Islam
terhadap Tragedi Palestina[/font]
Januari 13, 2009 oleh: Wira Mandiri Bachrun.
Disalin kembali (Abdillah Ahmad) [size=10pt]Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/13/sikap-dan-kewajiban-umat-islam-terhadap-tragedi-palestina/[size=11pt]
[size=10pt]Oleh: Asy Syaikh Muhammad ibn ‘Umar Bazmul
[i]hafizhahullâh[/i]
Berikut penjelasan yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh
Muhammad [i]ibn ‘Umar Bazmul hafizhahullah ketika beliau
menjawab pertanyaan tentang apa sikap dan kewajiban kita terkait
dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Ghaza –
Palestina. Penjelasan ini beliau sampaikan pada hari Senin 9
Muharram 1430 H dalam salah satu pelajaran yang beliau
sampaikan, yaitu pelajaran syarh kitab Fadhlul Islam. Semoga
bermanfaat.[/i]
Kewajiban terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara
kita kaum muslimin di Jalur Ghaza Palestina baru-baru ini adalah
sebagai berikut:
✻ Pertama: Merasakan besarnya nilai kehormatan darah
(jiwa) seorang muslim.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah (No.
3932) dari shahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: Saya melihat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang berthawaf di
Ka’bah seraya beliau berkata (kepada Ka’bah):
[right]مَا
أَطْيَبَكِ
وَأَطْيَبَ
رِيحَكِ
مَا
أَعْظَمَكِ
وَأَعْظَمَ
حُرْمَتَكِ،
وَالَّذِي
نَفْسُ
مُحَمَّدٍ
بِيَدِهِ
لَحُرْمَةُ
الْمُؤْمِنِ
أَعْظَمُ
عِنْدَ
اللهِ
حُرْمَةً
مِنْكِ
مَالِهِ
وَدَمِهِ[/right]
“Betapa bagusnya engkau (wahai Ka’bah), betapa wangi aromamu,
betapa besar nilaimu dan besar kehormatanmu. Namun, demi Dzat
yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan
seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau,
baik kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.” (1)
Dalam riwayat At-Tirmidzi (No. 2032) dengan lafazh:
Dari shahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam naik ke atas mimbar
kemudian beliau berseru dengan suara yang sangat keras seraya
berkata:
[right][size=18pt]« يَا
مَعْشَرَ
مَنْ قَدْ
أَسْلَمَ
بِلِسَانِهِ
وَلَمْ
يُفْضِ
الإِيمَانُ
إِلَى
قَلْبِهِ!
لاَ
تُؤْذُوا
الْمُسْلِمِينَ!
وَلاَ
تُعَيِّرُوهُمْ!
وَلاَ
تَتَّبِعُوا
عَوْرَاتِهِمْ!
فَإِنَّهُ
مَنْ
تَتَبَّعَ
عَوْرَةَ
أَخِيهِ
الْمُسْلِمِ
تَتَبَّعَ
اللهُ
عَوْرَتَهُ،
وَمَنْ
تَتَبَّعَ
اللهُ
عَوْرَتَهُ
يَفْضَحْهُ
وَلَوْ فِى
جَوْفِ
رَحْلِهِ
»[/right]
“Wahai segenap orang-orang yang berislam dengan ucapan lisannya
namun keimanannya tidak menyentuh qalbunya, janganlah kalian
mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan
janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa
yang mencari-cari aib saudaranya muslim, maka pasti Allah akan
terus mengikuti aibnya. Barangsiapa yang diikuti oleh Allah
segala aibnya, maka pasti Allah akan membongkarnya walaupun dia
(bersembunyi) di tengah rumahnya.”
Maka suatu ketika Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma melihat kepada
Ka’bah dengan mengatakan (kepada Ka’bah): “Betapa besar
kedudukanmu dan betapa besar kehormatanmu, namun seorang mukmin
lebih besar kehormatannya di sisi Allah dibanding kamu.”
Al-Imam At-Tirmidzi berkata tentang kedudukan hadits tersebut:
“Hadits yang hasan gharib.” Dishahihkan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (No. 2032).
Seorang muslim apabila melihat darah kaum muslimin ditumpahkan,
atau jiwa dibunuh, atau hati kaum muslimin diteror, maka tidak
diragukan lagi pasti dia akan menjadikan ini sebagai perkara
besar, karena terhormatnya darah kaum muslimin dan besarnya hak
mereka.
Bagaimana menurutmu, kalau seandainya seorang muslim melihat ada
orang yang hendak menghancurkan Ka’bah, ingin merobohkan dan
mempermainkannya, maka betapa ia menjadikan hal ini sebagai
perkara besar?!! Sementara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam telah menegaskan bahwa “Demi Dzat yang jiwa Muhammad
berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh
lebih besar di sisi Allah dibanding engkau (wahai Ka’bah), baik
kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.”
Maka perkara pertama yang wajib atas kita adalah merasakan
betapa besar nilai kehormatan darah kaum mukminin yang bersih,
yang baik, dan sebagai pengikut sunnah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, yang senantiasa berjalan di atas bimbingan
Islam. Kita katakan, bahwa darah (kaum mukminin) tersebut
memiliki kehormatan yang besar dalam hati kita.
Kita tidak ridha -demi Allah- dengan ditumpahkannya darah
seorang mukmin pun (apalagi lebih), walaupun setetes darah saja,
tanpa alasan yang haq (dibenarkan oleh syari’at). Maka bagaimana
dengan kebengisan dan peristiwa yang dilakukan oleh para
ekstrimis, orang-orang yang zhalim, para penjajah negeri yang
suci, bumi yang suci dan sekitarnya??! Innalillah wa inna ilaihi
raji’un!!
Maka tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak peduli dengan
darah (kaum mukminin) tersebut, terkait dengan hak dan
kehormatan (darah mukminin), kehormatan negeri tersebut, dan
kehormatan setiap muslim di seluruh dunia, dari kezhaliman
tangan orang kafir yang penuh dosa, durhaka, dan penuh
kezhaliman seperti peristiwa (yang terjadi sekarang di
Palestina) walaupun kezhaliman yang lebih ringan dari itu.
✻ Kedua: Wajib atas kita membela saudara-saudara kita.
Pembelaan kita tersebut harus dilakukan dengan cara yang syar’i.
Cara yang syar’i itu tersimpulkan sebagai berikut:
- [size=10pt]Kita membela mereka dengan cara do’a untuk mereka.
Kita do’akan mereka pada waktu sepertiga malam terakhir, kita
do’akan mereka dalam sujud-sujud (kita), bahkan kita do’akan
dalam qunut (nazilah) yang dilakukan pada waktu shalat jika
memang diizinkan/diperintahkan oleh waliyyul amr (pemerintah).
Jangan heran dengan pernyataanku “dalam qunut nazilah yang
dilakukan dalam shalat jika memang diizinkan/diperintahkan oleh
waliyyul amr.” Karena umat Islam telah melalui berbagai musibah
yang dahsyat pada zaman shahabat Nabi, namun tidak ada riwayat
yang menyebutkan bahwa para shahabat melakukan qunut nazilah
selama mereka tidak diperintah oleh pimpinan (kaum muslimin).
Oleh karena itu aku katakan: Kita membantu saudara-saudara kita
dengan do’a pada waktu-waktu sepertiga malam terakhir, kita
bantu saudara-saudara kita dengan do’a dalam sujud, kita
membantu saudara-saudara kita dengan do’a saat-saat kita
berdzikir dan menghadap Allah agar Allah menolong kaum muslimin
yang lemah.
Semoga Allah membebaskan kaum muslimin dari cengkraman
tangan-tangan zhalim, dan mengokohkan mereka (kaum muslimin)
dengan ucapan (aqidah) yang haq, serta menolong mereka terhadap
musuh kita, musuh mereka, musuh Allah, dan musuh kaum mukminin.
[size=11pt]✻ Ketiga dan Keempat, terkait dengan sikap
kita terhadap peristiwa Ghaza:
Kita harus waspada terhadap orang-orang yang memancing di air
keruh, menyeru dengan seruan-seruan yang penuh emosional atau
seruan yang ditegakkan di atas perasaan (jauh dari bimbingan
ilmu dan sikap ilmiah), yang justru membuat kita terjatuh pada
masalah yang makin besar.
Kalian tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada
di Makkah, berada dalam periode Makkah, ketika itu beliau
mengetahui bahwa orang-orang kafir terus menimpakan siksaan yang
keras terhadap kaum muslimin. Sampai-sampai kaum muslimin ketika
itu meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar
menginzinkan mereka berperang. Ternyata Rasululllah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam hanya mengizinkan sebagian mereka untuk
berhijrah (meninggalkan tanah suci Makkah menuju ke negeri
Habasyah), namun sebagian lainnya (tidak beliau izinkan)
sehingga mereka terus minta izin dari Rasulullah untuk berperang
dan berjihad.
Dari shahabat Khabbab ibn Al-Arat radhiyallahu’anhu:
[right][size=18pt]شَكَوْنَا
إِلَى
رَسُولِ
اللهِ صلى
الله عليه
وسلم
وَهُوَ
مُتَوَسِّدٌ
بُرْدَةً
لَهُ فِي
ظِلِّ
الْكَعْبَةِ،
قُلْنَا
لَهُ:
أَلاَ
تَسْتَنْصِرُ
لَنَا أَلا
تَدْعُو
اللهَ
لَنَا؟
قَالَ:
كَانَ
الرَّجُلُ
فِيمَنْ
قَبْلَكُمْ
يُحْفَرُ
لَهُ فِي
الأَرْضِ
فَيُجْعَلُ
فِيهِ
فَيُجَاءُ
بِالْمِنْشَارِ
فَيُوضَعُ
عَلَى
رَأْسِهِ
فَيُشَقُّ
بِاثْنَتَيْنِ
وَمَا
يَصُدُّهُ
ذَلِكَ
عَنْ
دِينِهِ،
وَيُمْشَطُ
بِأَمْشَاطِ
الْحَدِيدِ
مَا دُونَ
لَحْمِهِ
مِنْ
عَظْمٍ
أَوْ
عَصَبٍ
وَمَا
يَصُدُّهُ
ذَلِكَ
عَنْ
دِينِهِ،
وَاللهِ
لَيُتِمَّنَّ
هَذَا
الأَمْرَ
حَتَّى
يَسِيرَ
الرَّاكِبُ
مِنْ
صَنْعَاءَ
إِلَى
حَضْرَمَوْتَ
لاَ
يَخَافُ
إِلاَّ
اللهَ أَوْ
الذِّئْبَ
عَلَى
غَنَمِهِ
وَلَكِنَّكُمْ
تَسْتَعْجِلُونَ”[/right]
Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
ketika beliau sedang berbantalkan burdahnya di bawah Ka’bah –di
mana saat itu kami telah mendapatkan siksaan dari kaum
musyrikin–. Kami berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah,
mintakanlah pertolongan (dari Allah) untuk kami? berdo’alah
(wahai Rasulullah) kepada Allah untuk kami?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (2): “Bahwa dulu
seseorang dari kalangan umat sebelum kalian, ada yang digalikan
lubang untuknya kemudian ia dimasukkan ke lubang tersebut. Ada
juga yang didatangkan padanya gergaji, kemudian gergaji tersebut
diletakkan di atas kepalanya lalu ia digergaji sehingga badannya
terbelah jadi dua, akan tetapi perlakuan itu tidaklah
menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Ada juga yang
disisir dengan sisir besi, sehingga berpisahlah tulang dan
dagingnya, akan tetapi perlakuan itu pun tidaklah menyebabkan
mereka berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah akan
menyempurnakan urusan ini (Islam), hingga (akan ada) seorang
pengendara yang berjalan menempuh perjalanan dari Shan’a ke
Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah atau (dia
hanya khawatir terhadap) srigala (yang akan menerkam)
kambingnya. Akan tetapi kalian tergesa-gesa."
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (No. 3612, 3852, 6941).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terus berada dalam
kondisi ini dalam periode Makkah selama 13 tahun. Ketika beliau
berada di Madinah, setelah berjalan selama 2 tahun turunlah
ayat:
[right][size=18pt]﴿أُذِنَ
لِلَّذِينَ
يُقَاتَلُونَ
بِأَنَّهُمْ
ظُلِمُوا
وَإِنَّ
اللَّهَ
عَلَى
نَصْرِهِمْ
لَقَدِيرٌ﴾
(الحج: 39 )[/right]
"Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi karena mereka
telah dizhalimi. Sesungguhnya Allah untuk menolong mereka adalah
sangat mampu.” [Al-Haj: 39]
Maka ini merupakan izin bagi mereka untuk berperang.
Kemudian setelah itu turun lagi ayat:
[right][size=18pt]﴿وَقَاتِلُوا
فِي
سَبِيلِ
اللَّهِ
الَّذِينَ
يُقَاتِلُونَكُمْ
وَلا
تَعْتَدُوا
إِنَّ
اللَّهَ لا
يُحِبُّ
الْمُعْتَدِينَ﴾
( البقرة:190)[/right]
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi
kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas.” [Al-Baqarah: 190]
Kemudian setelah itu turun ayat:
[right][size=18pt]﴿فَقَاتِلُوا
أَئِمَّةَ
الْكُفْرِ
إِنَّهُمْ
لا
أَيْمَانَ
لَهُمْ
لَعَلَّهُمْ
يَنْتَهُونَ﴾
(التوبة: من
الآية12)[/right]
"Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena
sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat
dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti." [At-Taubah:
12]
[right][size=18pt]﴿قَاتِلُوا
الَّذِينَ
لا
يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ
وَلا
بِالْيَوْمِ
الْآخِرِ﴾
(التوبة: من
الآية29)[/right]
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan
tidak (pula) kepada Hari Akhir.” [At-Taubah: 29]
Yakni bisa kita katakan, bahwa perintah langsung untuk berjihad
turun setelah 16 atau 17 tahun berlalunya awal risalah. Jika
masa dakwah Rasulullah adalah 23 tahun, berarti 17 tahun adalah
perintah untuk bersabar. Maka kenapa kita sekarang
terburu-buru??!
Kalau ada yang mengatakan: Ya Akhi, mereka (Yahudi) telah
mengepung kita! Ya Akhi mereka (Yahudi) telah menzhalimi kita di
Ghaza!!
Maka jawabannya: Bersabarlah, janganlah kalian terburu-buru dan
janganlah kalian malah memperumit masalah. Janganlah kalian
mengalihkan permasalahan dari kewajiban bersabar dan menahan
diri kepada sikap perlawanan ditumpahkan padanya darah (kaum
muslimin).
Wahai saudara-saudaraku, hingga pada jam berangkatnya aku untuk
mengajar jumlah korban terbunuh sudah mencapai 537 orang, dan
korban luka 2.500 orang. Apa ini?!!
Bagaimana kalian menganggap enteng perkara ini? Mana kesabaran
kalian? Mana sikap menahan diri kalian? Sebagaimana jihad itu
ibadah, maka sabar pun juga merupakan ibadah. Bahkan tentang
sabar ini Allah berfirman:
[right][size=18pt]﴿إِنَّمَا
يُوَفَّى
الصَّابِرُونَ
أَجْرَهُمْ
بِغَيْرِ
حِسَابٍ﴾[/right]
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
pahala mereka tanpa batas.” [Az-Zumar: 10]
Jadi sabar merupakan ibadah. Kita beribadah kepada Allah dengan
amalan kesabaran.
Kenapa kalian mengalihkan umat dari kondisi sabar menghadapi
kepungan musuh kepada perlawanan dan penumpahan darah?
Kenapa kalian menjadikan warga yang aman, yang tidak memiliki
keahlian berperang, baik terkait dengan urusan-urusan maupun
prinsip-prinsip perang, kalian menjadikan mereka sasaran
penyerbuan tersebut, sasaran serangan tersebut, dan sasaran
pukulan tersebut, sementara kalian sendiri malah keluar menuju
Beirut dan Libanon??! Kalian telah menimpakan bencana terhadap
umat sementara kalian sendiri malah keluar (dari Palestina)??!
Oleh karena itu saya katakan: Janganlah seorang pun menggiring
kita dengan perasaan atau emosi kepada membalik realita.
Kami mengatakan: bahwa wajib atas kita untuk bersabar dan
menahan diri serta tidak tidak terburu-buru. Sabar adalah
ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabar
dengan kesabaran yang panjang atas kezhaliman Quraisy dan atas
kezhaliman orang-orang kafir. Kaum muslimin yang bersama beliau
juga bersabar. Apabila dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam selama 23 tahun, sementara 17 tahun di antaranya
Rasulullah bersabar (terhadap kekejaman/kebengisan kaum
musyrikin) maka kenapa kita melupakan sisi kesabaran?? Dua atau
tiga tahu mereka dikepung/diboikot! Kita bersabar dan jangan
menimpakan kepada umat musibah, pembunuhan, kesusahan, dan
kesulitan tersebut. Janganlah kita terburu beralih kepada aksi
militer!!
Wahai saudaraku, takutlah kepada Allah! Apabila Rasulullah
merasa iba kepada umatnya dalam masalah shalat, padahal itu
merupakan rukun Islam yang kedua, beliau mengatakan (kepada
Mu’adz): “Apakah engkau hendak menjadi tukang fitnah wahai
Mu’adz?!!” karena Mu’adz telah membaca surat terlalu panjang
dalam shalat. Maka bagaimana menurutmu terhadap orang-orang yang
hanya karena perasaan dan emosinya yang meluap menyeret umat
kepada penumpahan darah dan aksi perlawanan yang mereka tidak
memiliki kemampuan, bahkan walaupun sepersepuluh saja mereka
tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Bukankah
tepat kalau kita katakan (pada mereka): Apakah kalian hendak
menimpakan musibah kepada umat dengan aksi perlawanan ini yang
sebenarnya mereka sendiri tidak memiliki kemampuan untuk
melakukan perlawanan tersebut!
Tidak ingatkah kita ketika kaum kuffar dari kalangan Quraisy dan
Yahudi berupaya mencabik-cabik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dalam perang Ahzab, setelah adanya pengepungan
(terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para
shahabatnya) yang berlangsung selama satu bulan, lalu sikap apa
yang Rasulullah lakukan? Yaitu beliau Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam mengutus kepada qabilah Ghathafan seraya berkata kepada
mereka: “Saya akan memberikan kepada kalian separoh dari hasil
perkebunan kurma di Madinah agar mereka (qabilah Ghathafan)
tidak membantu orang-orang kafir dalam memerangi kami.”
Kemudian beliau mengutus kepada para pimpinan Anshar, maka
mereka pun datang (kepada beliau). Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam menyampaikan kepada mereka bahwa beliau telah
mengambil kebijakan begini dan begini, kemudian beliau berkata:
“Kalian telah melihat apa yang telah menimpa umat berupa
kegentingan dan kesulitan?”
Perhatikan, bukanlah keletihan dan kesulitan yang menimpa umat
sebagai perkara yang enteng bagi beliau Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak rela
memimpin mereka untuk melakukan perlawanan militer dalam keadaan
mereka tidak memiliki daya dan kemampuan, sehingga dengan itu
beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerima dari shahabat
Salman Al-Farisi ide untuk membuat parit (dalam rangka
menghalangi kekuatan/serangan musuh).
Demikianlah (cara perjuangan Rasulullah), padahal beliau adalah
seorang Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan bersama beliau
para shahabatnya. Apakah kita lebih kuat imannya dibanding
Rasulullah?! Apakah kita lebih kuat agamanya dibanding
Rasulullah??! Apakah kita lebih besar kecintaannya terhadap
Allah dan agama-Nya dibanding Rasulullah dan para shahabatnya??!
Tentu tidak wahai saudaraku.
Sekali lagi Rasulullah tidak memaksakan (kepada para
shahabatnya) untuk melakukan perlawanan (terhadap orang kafir).
Bukan perkara yang ringan bagi beliau ketika kesulitan yang
menimpa umat sudah sedemikian parah. Sehingga terpaksa beliau
mengutus kepada qabilah Ghathafan untuk memberikan kepada mereka
separo dari hasil perkebunan kurma Madinah (agar mereka tidak
membantu kaum kafir menyerang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan para shahabatnya). Namun Allah kuatkan hati dua
pimpinan Anshar, keduanya berkata: ‘Wahai Rasulullah, mereka
tidak memakan kurma tersebut dari kami pada masa Jahiliyyah,
maka apakah mereka akan memakannya dari kami pada masa Islam?
Tidak wahai Rasulullah. Kami akan tetap bersabar.’
Mereka (Anshar) tidak mengatakan: Kami akan tetap berperang.
Namun mereka berkata: Kami akan bersabar. Maka tatkala mereka
benar-benar bersabar, setia mengikuti Rasulullah, dan ridha,
datanglah kepada mereka pertolongan dari arah yang tidak mereka
sangka. Datanglah pertolongan dari sisi Allah, datanglah hujan
dan angin, dan seterusnya. Bacalah peristiwa ini dalam
kitab-kitab sirah, pada (pembahasan) tentang peristiwa perang
Ahzab.
Maka, permasalahan yang aku ingatkan adalah: Janganlah ada
seorangpun yang menyeret kalian hanya dengan perasaan dan
emosinya, maka dia akan membalik realita yang sebenarnya kepada
kalian.
Aku mendengar sebagai orang mengatakan, bahwa “Penyelesaian
permasalahan yang terjadi adalah dengan jihad, dan seruan untuk
berjihad!”
Tentu saya tidak mengingkari jihad, namun apabila yang dimaksud
adalah jihad yang syar’i
Sementara jihad yang syar’i memilliki syarat-syarat, dan
syarat-syarat tersebut belum terpenuhi pada kita sekarang ini.
Kita belum memenuhi syarat-syarat terlaksananya jihad syar’i
pada hari ini. Sekarang kita tidak memiliki kemampuan untuk
melakukan perlawanan. Allah tidak membebani seseorang kecuali
sebatas kemampuannya.
Apabila Sayyiduna ‘Isa ‘alaihissalam pada akhir zaman nanti akan
berhukum dengan syari’at Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
‘Isa adalah seorang nabi dan bersamanya kaum mukminin, namun
Allah mewahyukan kepadanya: ‘Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke
Jabal Ath-Thur karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu
kaum yang kalian tidak mampu melawannya.’ Siapakah kaum
tersebut? Mereka adalah Ya'juj dan Ma'juj.
Perampasan yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj -mereka
termasuk keturunan Adam (yakni manusia)- terhadap kawasan Syam
dan sekitarnya seperti perampasan yang dilakukan oleh
orang-orang kafir dan ahlul batil terhadap salah satu kawasan
dari kawasan-kawasan (negeri-negeri) Islam. Maka jihad melawan
mereka adalah termasuk jihad difa’ (defensif: membela diri).
Meskipun demikian ternyata Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewahyukan
kepada ‘Isa ‘alaihissalam –beliau ketika itu berhukum dengan
syari’at Nabi Muhammad [i]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam[/i]-:
“Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Jabal Ath-Thur. Karena
sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak
akan mampu melawannya.’
Allah tidak mengatakan kepada mereka: “Berangkatlah melakukan
perlawanan terhadap mereka.” Allah tidak mengatakan kepada:
“Bagaimana kalian membiarkan mereka mengusai negeri dan umat?”
Tidak. Tapi Allah mengatakan: “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke
Jabal Ath-Thur. Karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu
kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.” Inilah hukum
Allah.
Jadi, meskipun jihad difa’ tetap kita harus melihat pada
kemampuan. Kalau seandainya masalahnya adalah harus melawan
dalam situasi dan kondisi apapun, maka apa gunanya Islam
mensyari’atkan bolehnya perdamaian dan gencatan senjata antara
kita dengan orang-orang kafir? Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala
telah berfirman:
[right][size=18pt]وَإِنْ
جَنَحُوا
لِلسَّلْمِ
فَاجْنَحْ
لَهَا
[الأنفال/61][/right]
“Jika mereka (orang-orang kafir) condong kepada perdamaian, maka
condonglah kepadanya (terimalah ajakan perdamaian tersebut).”
[Al-Anfal: 61]
Apa makna itu semua?
Oleh karena itu Samahatusy Syaikh ibn Baz rahimahullah
menfatwakan bolehnya berdamai dengan Yahudi, meskipun mereka
telah merampas sebagian tanah Palestina, dalam rangka menjaga
darah kaum muslimin, menjaga jiwa mereka, dengan tetap diiringi
mempersiapkan diri sebagai kewajiban menyiapkan kekuatan untuk
berjihad. Persiapan kekuatan untuk berjihad dimulai pertama kali
dengan persiapan maknawi imani (yakni mempersiapkan kekuatan
iman), baru kemudian persiapan materi.
Maka kami tegaskan bahwa:
Kewajiban kita terhadap tragedi besar yang menimpa kaum muslimin
(di Palestina) dan negeri-negeri lainnya:
- [size=10pt]Bahwa kita membantu mereka dengan do’a untuk
mereka, dengan cara yang telah aku jelaskan di atas.
- [size=10pt]Kita menjadikan masalah darah kaum muslimin sebagai
perkara besar, kita tidak boleh mengentengkan perkara ini. Kita
menyadari bahwa ini merupakan perkara besar yang tidak diridhai
oleh Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin.
- [size=10pt]Kita waspada agar jangan sampai ada seorangpun yang
menyeret kita hanya dengan perasaan dan emosi kepada
perkara-perkara yang bertentangan dengan syari’at Allah
Subhanahu Wa Ta’ala.
- [size=10pt]Kita mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah
dengan cara mengingatkan diri kita dan saudara-saudara kita
tentang masalah sabar. Allah telah berfirman: “Bersabarlah
sebagaimana kesabaran para ulul ‘azmi dari kalangan para rasul.”
[Al-Ahqaf: 35] Karena sesungguhnya sikap sabar merupakan sebuah
siasat yang bijaksana dan terpuji dalam situasi dan kondisi
seperti sekarang. Sabar merupakan obat. Dengan kesabaran dan
ketenangan serta tidak terburu-buru insya Allah problem akan
terselesaikan. Kita memohon kepada Allah pertolongan dan taufiq.
Adapun mengajak umat pada perkara-perkara yang berbahaya maka
ini bertentangan dengan syari’at Allah dan bertentangan dengan
agama Allah.
[size=11pt]✻ Kelima: Memberikan bantuan materi yang
disalurkan melalui lembaga-lembaga resmi, yaitu melalui jalur
pemerintah.
Selama pemerintah membuka pintu (penyaluran) bantuan materi dan
sumbangan maka pemerintah lebih berhak didengar dan ditaati.
Setiap orang yang mampu untuk menyumbang maka hendaknya dia
menyumbang. Barangsiapa yang lapang jiwanya untuk membantu maka
hendaknya dia membantu. Namun janganlah menyalurkan harta dan
bantuan tersebut kecuali melalui jalur resmi sehingga lebih
terjamin insya Allah akan sampai ke sasarannya. Jangan tertipu
dengan nama besar apapun, jika itu bukan jalur yang resmi yang
bisa dipertanggungjawabkan. Janganlah memberikan bantuan dan
sumbanganmu kecuali pada jalur resmi.
Inilah secara ringkas kewajiban kita terhadap tragedi yang
menimpa saudara-saudara di Ghaza. Saya memohon kepada Allah
Subhanahu Wa Ta’ala agar menolong dan mengokohkan mereka serta
memenangkan mereka atas musuh-musuh kita dan musuh-musuh mereka
(saudara-saudara kita yang di Palestina), serta menghilangkan
dari mereka (malapetaka tersebut). Kita memohon agar Dia
menunjukkan keajaiban-keajaiban Qudrah-Nya atas para penjajah,
para penindas, dan para perampas yang zhalim dan penganiaya
tersebut.
[right][size=14pt]وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه
أجمعين[/right]
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
Ꞁ[size=8pt]3
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100<br
/>Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/
***
Terkait Artikel (Palestine):
- Fatwa tentang Krisis Libanon, Irak, dan Palestina (Bag. I)
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-103/msg800/#msg800
- Fatwa tentang Krisis Libanon, Irak, Afghanistan, dan Palestina
(Bag. II)
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-104/msg801/#msg801
- Bingkisan Untuk Kaum Muslimin Palestina – Nasehat Emas dari
Do'a Mujaddid Besar Masa Ini
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-99/msg788/#msg788
- Wasiat Syaikh ibn Baaz untuk Muslimin Palestina
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-102/msg795/#msg795
- Krisis Palestina bukan Konflik Agama?
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-101/msg793/#msg793
- Mengapa Umat Islam selalu Ditindas?
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-100/msg789/#msg789
- Apakah Saudi Arabia Loyalis Amerika dan Apa Hakekat ‘Hizbullah
Lebanon’?
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-96/msg785/#msg785
- Sikap dan Kewajiban Umat Islam terhadap Tragedi Palestina
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-94/msg781/#msg781
- Tragedi (Palestina) Ini Merupakan Pertanda Datangnya Kebaikan
bagi Kaum Muslimin
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-93/msg780/#msg780
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
Catatan Kaki:
(1) Semula Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan hadits ini,
sehingga beliau pun meletakkannya dalam Dha’if Sunan Ibni Majah
dan Dha’if Al-Jami’. Namun kemudian beliau rujuk dari pendapat
tersebut. Beliau menshahihkan hadits tersebut dan memasukkannya
dalam Ash-Shahihah No. 3420. beliau rahimahullah mengatakan:
[right][size=14pt]هذا؛
وقد كنت
ضعفت حديث
ابن ماجه
هذا في بعض
تخريجاتي
وتعليقاتي
قبل أن
يطبع (( شعب
الإيمان ))،
فلما وقفت
على إسناده
فيه،
وتبينت
حسنه،
بادرت إلى
تخريجه هنا
تبرئة
للذمة،
ونصحا
للأمة
داعيا (
ربنا لا
تؤاخذنا إن
نسينا أو
أخطأنا )،
وبناء
عليه؛ ينقل
الحديث من (
ضعيف
الجامع
الصغير ) و (
ضعيف سنن
ابن ماجه )
إلى (
صحيحيهما
).[/right]
(2) Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya dengan lafazh disebutkan
bahwa: Maka beliau langsung duduk dengan wajah memerah seraya
bersabda: ...
(Dinukil oleh Blog Ulama Sunnah dari
HTML http://www.assalafy.org/mahad/?p=299#more-299
via
HTML http://muhammadreza.wordpress.com
)
Baca Artikel Yang berkaitan (Penting!! (Jangan Sampai tidak
dibaca):
Wasiat Syaikh Ibn Baaz untuk Muslimin Palestina
Fatwa terbaru Lajnah Daimah tentang Krisis Gaza
Apakah Saudi Arabia Loyalis Amerika dan Apa Hakekat ‘Hizbullah
Lebanon’?
Peringatan bagi Yahudi!!!
Terkait
Komentar dan Fatwa Ulama Seputar Masalah Palestina
Maret 3, 2008
dalam "Manhaj"
Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari
Juni 16, 2009
dalam "Aqidah"
Biografi Asy Syaikh Ubaid Al-Jabiri
Februari 4, 2008
dalam "Aqidah"
Ditulis dalam Aqidah |
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com atau www iscm.createaforum.com
(
HTML https://bit.ly/forumiscm).
Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari C↑iscm Muslim
Reading Forum yang disalin kembali dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-1/'ulama-sunnah/msg1037/#msg1037][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/kategori/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1