DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
*****************************************************
#Post#: 778--------------------------------------------------
Tuntunan Shalat Gerhana
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 10:56 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Tuntunan Shalat Gerhana
Januari 23, 2009 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Shalih ibn Fauzan Al Fauzan
Allah berfirman,
هُوَ
الَّذِي
جَعَلَ
الشَّمْسَ
ضِيَاءً
وَالْقَمَرَ
نُورًا
وَقَدَّرَهُ
مَنَازِلَ
لِتَعْلَمُوا
عَدَدَ
السِّنِينَ
وَالْحِسَابَ
مَا خَلَقَ
اللَّهُ
ذَلِكَ
إِلا
بِالْحَقِّ
يُفَصِّلُ
الآيَاتِ
لِقَوْمٍ
يَعْلَمُونَ
(٥)
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya
dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi
perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan
perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu
melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya
kepada orang-orang yang mengetahui” (Yunus:5)
Dan Dia juga berfirman ,
وَمِنْ
آيَاتِهِ
اللَّيْلُ
وَالنَّهَارُ
وَالشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ
لا
تَسْجُدُوا
لِلشَّمْسِ
وَلا
لِلْقَمَرِ
وَاسْجُدُوا
لِلَّهِ
الَّذِي
خَلَقَهُنَّ
إِنْ
كُنْتُمْ
إِيَّاهُ
تَعْبُدُونَ
(٣٧)
“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang,
matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan
janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah
kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya
saja menyembah” (Fushilat:37)
Shalat gerhana adalah sunnah muakadah menurut kesepakatan para
ulama, dan dalilnya adalah As Sunnah yang tsabit dari Rasulullah
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah untuk
menakut-nakuti para hamba-Nya. Allah berfirman ,
وَمَا
نُرْسِلُ
بِالآيَاتِ
إِلا
تَخْوِيفًا
(٥٩)
“Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk
menakuti” (Al Israa:59)
Ketika terjadi gerhana matahari di jaman Rasulullah Sholallahu
‘Alaihi Wasallam, beliau keluar dengan bergegas, menarik
bajunya, lalu shalat dengan manusia, dan memberitakan kepada
mereka: bahwa gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, dengan gerhana tersebut Allah menakut-nakuti
para hamba-Nya; boleh jadi merupakan sebab turunnya adzab untuk
manusia, dan memerintahkan untuk mengerjakan amalan yang bisa
menghilangkannya. Beliau memerintahkan untuk mengerjakan sholat,
berdo’a, istighfar, bersedekah, memerdekakan budak, dan
amalan-amalan shalih lainnya ketika terjadi gerhana; hingga
hilang musibah yang menimpa manusia.
Dalam gerhana terdapat peringatan bagi manusia dan ancaman bagi
mereka agar kembali kepada Allah dan selalu merasa diawasi
oleh-Nya.
Mereka di zaman jahiliyyah meyakini bahwa gerhana terjadi ketika
lahirnya atau matinya seorang pembesar. Maka Rasulullah
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membantah keyakina tersebut dan
menjelaskan tentang hikmah ilahiyyah pada terjadinya gerhana.
Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Mas’ud
Al Anshari berkata ,
“Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim Bin
Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka manusia mengatakan,
“Terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim”. Maka
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “”Sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan
Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau
kehidupan seseorang, jika kalian melihat yang demikian itu, maka
bersegeralah untuk ingat kepada Allah dang mengerjakan Sholat”
“.[1]
Dalam hadits lain dalam Ash Shahihain, ,
“Maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah Sholat hingga
matahari terang”.[2]
Dari Shahih Al Bukhari dari Abu Musa, (artinya),
“Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini bukanlah karena kematian
atau kehidupan seseorang, tetapi Allah sedang manakut-nakuti
hamba-hamba-Nya dengannya, maka jika kalian melihat sesuatu yang
demikian itu, bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a dan
meminta ampun kepada-Nya”.[3]
Allah Subhanahu Wata’ala memberlakukan pada dua tanda
kekuasaan-Nya yang besar ini (matahari dan bulan) kusuf dan
khusuf (gerhana); agar para hamba mengambil pelajaran dan tahu
bahwa keduanya adalah makhluk yang terkena kekurangan dan
perubahan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya; untuk menunjukkan
kepada hamba-Nya dengan peritiwa itu atas kekuasaan-Nya yang
sempurna dan hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi
sebagaimana firman Allah ,
وَمِنْ
آيَاتِهِ
اللَّيْلُ
وَالنَّهَارُ
وَالشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ
لا
تَسْجُدُوا
لِلشَّمْسِ
وَلا
لِلْقَمَرِ
وَاسْجُدُوا
لِلَّهِ
الَّذِي
خَلَقَهُنَّ
إِنْ
كُنْتُمْ
إِيَّاهُ
تَعْبُدُونَ
(٣٧)
“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ilalah malam,
siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari
dan janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah
kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya
saja menyembah” (Fushilat:37)
Waktu shalat gerhana: dari mulai terjadinya gerhana sampai
hilang berdasar sabda beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ,
“Apabila kalian melihat (artinya: sesuatu dari peristiwa
tersebut), maka shalatlah”. (Mutafaqqun ‘Alaih) [4]
Dan dalam hadits lainnya , “Dan jika kalian melihat yang
demikian itu maka sholatlah hingga matahari kelihatan”.
(Diriwayatkan oleh Muslim) [5]
Shalat gerhana tidak diqadha setelah hilangnya gerhana tersebut,
karena telah hilang waktunya. Jika gerhana telah hilang sebelum
mereka mengetahuinya, maka mereka tidak perlu melakukan shalat
gerhana.
CARA SHALAT GERHANA:
Mengerjakan shalat 2 raka’at dengan mengeraskan bacaan padanya,
menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca
pada rakaat pertama surat Al Fatihah dan surat yang panjang
seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya, kemudian
ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya
dan membaca:
“SAMI ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD”
Artinya, “Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya.
Wahai Robb kami, bagi Engkaulah segala puji”
Setelah i’tidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya,
kemudian membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari
yang pertama seukuran surat Ali ‘Imran, kemudian memanjangkan
ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian
mengangkat kepalanya dan membaca,
” SAMI’ ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD, HAMDAN
KATSIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI, MIL’AS SAMAA’I WA MIL’AL
ARDH, WA MIL’A MA SYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU”
Artinya,
“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb
kami,bagi Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik
dan penuh keberkahan padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan
sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu
sesudahnya”.
Kemudian sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk
diantara dua sujud, kemudian shalat untuk raka’at yang kedua
seperti yang pertama dengan dua ruku’ dan dua sujud yang
panjang, sebagaimana yang dikerjakan para raka’at yang pertama,
kemudian tasyahud dan salam.
Inilah salat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan
dari beliau tentang hal itu melalaui beberapa jalan, sebagiannya
di Ash Shahihain.
Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu
‘Anha , “Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berdiri, bertakbir, dan
orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu
‘Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku’
dengan ruku’ yang lama, kemudian mengangkat kepalanya dan
mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA WA LAKA AL
HAMDU”. Kemudian beliau berdiri dan membaca bacaan yang panjang
lebih pendek dari bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku’
yang lama lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian
mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKA AL
HAMDU”. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu
pada rakaat yang kedua hingga sempurna empat ruku’ dan empat
sujud. Dan matahari kembali terlihat sebelum beliau selesai”
(Muttafaqun ‘Alaih) [6]
Dan disunnahkan untuk shalat dengan berjama’ah berdasar
perbuatan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan Boleh untuk
mengerjakan sendiri-sendiri, tetapi mengerjakannya dengan
berjama’ah lebih utama.
Disunnahkan bagi imam untuk memberikan nasehat kepada manusia
setelah shalat gerhana, mengingatkan mereka dari kelalaian dan
kelengahan serta memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan
istighfar.
Dalam Ash Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha (artinya),
“Bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah selesai shalat dan
matahari telah nampak, lalu beliau berkhutbah di hadapan
manusia, memuji Allah dan memuja-Nya, dan bersabda,
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana
karena kematian atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat
yang demikian itu, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbir,
mengerjakan shalat, dan bershadaqahlah…”.” [7]
Apabila shalat sudah selesai sebelum gerhana hilang, hendaknya
mengingat dan berdo’a kepada Allah hingga gerhana tersebut
hilang, dan tidak perlu mengulang shalat, seharusnya
menyempurnakan shalat dan tidak menghentikannya; berdasar firman
Allah ,
وَلا
تُبْطِلُوا
أَعْمَالَكُمْ
(٣٣)
“Dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu” (Muhammad:33)
Maka shalat dilakukan pada waktu terjadinya gerhana berdasar
sabda beliau, “hingga gerhana itu hilang”, dan sabda beliau,
“Hingga dihilangkan apa yang menimpa kalian”.[8]
Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
“Gerhana terkadang lama waktunya dan terkadang pendek,
tergantung gerhananya. Terkadang tertutup semuanya (gerhana
total), terkadang separuh atau sepertiganya. Jika yang tertutup
besar; hendaknya memanjangkan shalat hingga membaca Al Baqarah
dan yang semisalnya pada raka’at pertama dan setelah ruku’ yang
kedua hendaknya membaca yang lebih pendek. Telah datang
hadits-hadits shahih dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
tentang apa yang kami sebutkan. Dan disyariatkan untuk
mempercepat shalat jika telah hilang sebabnya. Begitu pula jika
mengetahui bahwa gerhana tersebut tidak lama. Dan apabila
gerhana tersebut menipis sebelum shalat, maka supaya memulai
shalat dan memendekkannya, itulah pendapat jumhur Ahli Ilmu;
karena shalat tersebut disyariatkan berdasarkan’illah (sebab),
dan ‘illah itu telah hilang. Jika gerhana itu hilang sebelum
shalat; maka tidak perlu shalat….”. [9] Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
FootNote:
[1] Dikeluarkan oleh AL Bukhari ( Nomer 1041, 1057, 3204) dan
Muslim (Nomer 911).
[2] Muttafaq ‘Alaih dari hadits Al Mughirah Bin Syu’bah; Al
Bukhari (1060) [2/705] ini adalah lafadznya; dan Muslim (2119)
[2/457].
[3] Dikeluarkan oleh Al Bukhari (1059) [2/704] Al Kusuf 14; dan
Muslim (912).
[4] Muttafaq ‘Alaih dari hadits Mughirah: Al Bukhari (1043)
[2/679] Al Kusuf 1, ini adalah lafadznya; dan Muslim (2119)
[3/457] Al Kusuf 5
[5] Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Jabir (2099) [3/447] Al
Kusuf 5.
[6] Muttafaq ‘Alaih: Al Bukhari (1046) [2/688]; dan Muslim
(2088) [3/440].
[7] Muttafaq ‘Alaih: Al Bukhari (1044) [2/682]; dan Muslim
(2086) [3/438].
[8] Dikeluarkan oleh Al Bukhari (1063) [2/706] Al Kusuf 17. Dan
asalnya adalah Muttafaq ‘Alaih dari hadits ABu Mas’ud Al
Anshari: Al Bukhari (1041) [2/678] Al Kusuf 1; dan Muslim (2111)
[3/453] Al Kusuf 5.
[9] Lihat “Majmu Fataawaa Syaikh Al Islam”
(Dinukil untuk blog ulamasunnah dari www.ghuroba.blogsome.com.
Sumber: Kitab Al Mulakhkhash Al Fiqhi, Edisi Indonesia:
Ringkasan Fiqih Islami 1, Penerbit Pustaka Salafiyah)
Beri peringkat:28 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Menyikapi Tahun yang Penuh Gempa Bumi dan Bencana
Februari 16, 2008
dalam "Aqidah"
Cara Mudah Mempelajari Ushuluts Tsalatsah 3 – Mengenal Rabb
Mei 6, 2009
dalam "Aqidah"
Empat Kaidah Agung dalam Memahami Tauhid
November 13, 2009
dalam "Aqidah"
Ditulis dalam Aqidah | Dengan kaitkata gerhana bulan, gerhana
matahari, salat gerhana, shalat gerhana, solat gerhana |
*****************************************************
Page 1 of 1