URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
       *****************************************************
       #Post#: 778--------------------------------------------------
       Tuntunan Shalat Gerhana
   DIR By: Host
       Date: August 25, 2024, 10:56 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
       BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
       AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
       [center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
       ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
       [center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
       fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar bin Abdul Aziz)
       ---------------------------------------------------------
       &#10043; Tuntunan Shalat Gerhana
       Januari 23, 2009 oleh Wira Mandiri Bachrun &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [size=10pt]&#9701;&#8593;&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
       Oleh: Asy Syaikh Shalih ibn Fauzan Al Fauzan
       Allah berfirman,
       &#1607;&#1615;&#1608;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;
       &#1580;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1614;
       &#1590;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1569;&#1611;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1605;&#1614;&#1585;&#1614;
       &#1606;&#1615;&#1608;&#1585;&#1611;&#1575;
       &#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1583;&#1617;&#1614;&#1585;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1605;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;&#1586;&#1616;&#1604;&#1614;
       &#1604;&#1616;&#1578;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1593;&#1614;&#1583;&#1614;&#1583;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1587;&#1616;&#1617;&#1606;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1616;&#1587;&#1614;&#1575;&#1576;&#1614;
       &#1605;&#1614;&#1575; &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;
       &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1602;&#1616;&#1617;
       &#1610;&#1615;&#1601;&#1614;&#1589;&#1616;&#1617;&#1604;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1570;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;
       &#1604;&#1616;&#1602;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1613;
       &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       (&#1637;)
       “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya
       dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi
       perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan
       perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu
       melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya
       kepada orang-orang yang mengetahui” (Yunus:5)
       Dan Dia juga berfirman ,
       &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1570;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1604;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575;&#1585;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1605;&#1614;&#1585;&#1615;
       &#1604;&#1575;
       &#1578;&#1614;&#1587;&#1618;&#1580;&#1615;&#1583;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1605;&#1614;&#1585;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1587;&#1618;&#1580;&#1615;&#1583;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;
       &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1614;&#1607;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614;
       &#1573;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1603;&#1615;&#1606;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1573;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615;
       &#1578;&#1614;&#1593;&#1618;&#1576;&#1615;&#1583;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       (&#1635;&#1639;)
       “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang,
       matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan
       janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah
       kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya
       saja menyembah” (Fushilat:37)
       Shalat gerhana adalah sunnah muakadah menurut kesepakatan para
       ulama, dan dalilnya adalah As Sunnah yang tsabit dari Rasulullah
       Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah untuk
       menakut-nakuti para hamba-Nya. Allah berfirman ,
       &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;
       &#1606;&#1615;&#1585;&#1618;&#1587;&#1616;&#1604;&#1615;
       &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1570;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;
       &#1578;&#1614;&#1582;&#1618;&#1608;&#1616;&#1610;&#1601;&#1611;&#1575;
       (&#1637;&#1641;)
       “Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk
       menakuti” (Al Israa:59)
       Ketika terjadi gerhana matahari di jaman Rasulullah Sholallahu
       ‘Alaihi Wasallam, beliau keluar dengan bergegas, menarik
       bajunya, lalu shalat dengan manusia, dan memberitakan kepada
       mereka: bahwa gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda
       kekuasaan Allah, dengan gerhana tersebut Allah menakut-nakuti
       para hamba-Nya; boleh jadi merupakan sebab turunnya adzab untuk
       manusia, dan memerintahkan untuk mengerjakan amalan yang bisa
       menghilangkannya. Beliau memerintahkan untuk mengerjakan sholat,
       berdo’a, istighfar, bersedekah, memerdekakan budak, dan
       amalan-amalan shalih lainnya ketika terjadi gerhana; hingga
       hilang musibah yang menimpa manusia.
       Dalam gerhana terdapat peringatan bagi manusia dan ancaman bagi
       mereka agar kembali kepada Allah dan selalu merasa diawasi
       oleh-Nya.
       Mereka di zaman jahiliyyah meyakini bahwa gerhana terjadi ketika
       lahirnya atau matinya seorang pembesar. Maka Rasulullah
       Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membantah keyakina tersebut dan
       menjelaskan tentang hikmah ilahiyyah pada terjadinya gerhana.
       Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Mas’ud
       Al Anshari berkata ,
       “Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim Bin
       Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka manusia mengatakan,
       “Terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim”. Maka
       Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “”Sesungguhnya
       matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan
       Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau
       kehidupan seseorang, jika kalian melihat yang demikian itu, maka
       bersegeralah untuk ingat kepada Allah dang mengerjakan Sholat”
       “.[1]
       Dalam hadits lain dalam Ash Shahihain, ,
       “Maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah Sholat hingga
       matahari terang”.[2]
       Dari Shahih Al Bukhari dari Abu Musa, (artinya),
       “Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini bukanlah karena kematian
       atau kehidupan seseorang, tetapi Allah sedang manakut-nakuti
       hamba-hamba-Nya dengannya, maka jika kalian melihat sesuatu yang
       demikian itu, bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a dan
       meminta ampun kepada-Nya”.[3]
       Allah Subhanahu Wata’ala memberlakukan pada dua tanda
       kekuasaan-Nya yang besar ini (matahari dan bulan) kusuf dan
       khusuf (gerhana); agar para hamba mengambil pelajaran dan tahu
       bahwa keduanya adalah makhluk yang terkena kekurangan dan
       perubahan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya; untuk menunjukkan
       kepada hamba-Nya dengan peritiwa itu atas kekuasaan-Nya yang
       sempurna dan hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi
       sebagaimana firman Allah ,
       &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1570;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1604;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575;&#1585;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1605;&#1614;&#1585;&#1615;
       &#1604;&#1575;
       &#1578;&#1614;&#1587;&#1618;&#1580;&#1615;&#1583;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1605;&#1614;&#1585;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1587;&#1618;&#1580;&#1615;&#1583;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;
       &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1614;&#1607;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614;
       &#1573;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1603;&#1615;&#1606;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1573;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615;
       &#1578;&#1614;&#1593;&#1618;&#1576;&#1615;&#1583;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       (&#1635;&#1639;)
       “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ilalah malam,
       siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari
       dan janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah
       kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya
       saja menyembah” (Fushilat:37)
       Waktu shalat gerhana: dari mulai terjadinya gerhana sampai
       hilang berdasar sabda beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ,
       “Apabila kalian melihat (artinya: sesuatu dari peristiwa
       tersebut), maka shalatlah”. (Mutafaqqun ‘Alaih) [4]
       Dan dalam hadits lainnya , “Dan jika kalian melihat yang
       demikian itu maka sholatlah hingga matahari kelihatan”.
       (Diriwayatkan oleh Muslim) [5]
       Shalat gerhana tidak diqadha setelah hilangnya gerhana tersebut,
       karena telah hilang waktunya. Jika gerhana telah hilang sebelum
       mereka mengetahuinya, maka mereka tidak perlu melakukan shalat
       gerhana.
       CARA SHALAT GERHANA:
       Mengerjakan shalat 2 raka’at dengan mengeraskan bacaan padanya,
       menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca
       pada rakaat pertama surat Al Fatihah dan surat yang panjang
       seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya, kemudian
       ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya
       dan membaca:
       “SAMI ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD”
       Artinya, “Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya.
       Wahai Robb kami, bagi Engkaulah segala puji”
       Setelah i’tidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya,
       kemudian membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari
       yang pertama seukuran surat Ali ‘Imran, kemudian memanjangkan
       ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian
       mengangkat kepalanya dan membaca,
       ” SAMI’ ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD, HAMDAN
       KATSIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI, MIL’AS SAMAA’I WA MIL’AL
       ARDH, WA MIL’A MA SYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU”
       Artinya,
       “Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb
       kami,bagi Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik
       dan penuh keberkahan padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan
       sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu
       sesudahnya”.
       Kemudian sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk
       diantara dua sujud, kemudian shalat untuk raka’at yang kedua
       seperti yang pertama dengan dua ruku’ dan dua sujud yang
       panjang, sebagaimana yang dikerjakan para raka’at yang pertama,
       kemudian tasyahud dan salam.
       Inilah salat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah
       Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan
       dari beliau tentang hal itu melalaui beberapa jalan, sebagiannya
       di Ash Shahihain.
       Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu
       ‘Anha , “Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah
       Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berdiri, bertakbir, dan
       orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu
       ‘Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku’
       dengan ruku’ yang lama, kemudian mengangkat kepalanya dan
       mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA WA LAKA AL
       HAMDU”. Kemudian beliau berdiri dan membaca bacaan yang panjang
       lebih pendek dari bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku’
       yang lama lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian
       mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKA AL
       HAMDU”. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu
       pada rakaat yang kedua hingga sempurna empat ruku’ dan empat
       sujud. Dan matahari kembali terlihat sebelum beliau selesai”
       (Muttafaqun ‘Alaih) [6]
       Dan disunnahkan untuk shalat dengan berjama’ah berdasar
       perbuatan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan Boleh untuk
       mengerjakan sendiri-sendiri, tetapi mengerjakannya dengan
       berjama’ah lebih utama.
       Disunnahkan bagi imam untuk memberikan nasehat kepada manusia
       setelah shalat gerhana, mengingatkan mereka dari kelalaian dan
       kelengahan serta memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan
       istighfar.
       Dalam Ash Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha (artinya),
       “Bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah selesai shalat dan
       matahari telah nampak, lalu beliau berkhutbah di hadapan
       manusia, memuji Allah dan memuja-Nya, dan bersabda,
       “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari
       tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana
       karena kematian atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat
       yang demikian itu, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbir,
       mengerjakan shalat, dan bershadaqahlah…”.” [7]
       Apabila shalat sudah selesai sebelum gerhana hilang, hendaknya
       mengingat dan berdo’a kepada Allah hingga gerhana tersebut
       hilang, dan tidak perlu mengulang shalat, seharusnya
       menyempurnakan shalat dan tidak menghentikannya; berdasar firman
       Allah ,
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;
       &#1578;&#1615;&#1576;&#1618;&#1591;&#1616;&#1604;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       (&#1635;&#1635;)
       “Dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu” (Muhammad:33)
       Maka shalat dilakukan pada waktu terjadinya gerhana berdasar
       sabda beliau, “hingga gerhana itu hilang”, dan sabda beliau,
       “Hingga dihilangkan apa yang menimpa kalian”.[8]
       Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
       “Gerhana terkadang lama waktunya dan terkadang pendek,
       tergantung gerhananya. Terkadang tertutup semuanya (gerhana
       total), terkadang separuh atau sepertiganya. Jika yang tertutup
       besar; hendaknya memanjangkan shalat hingga membaca Al Baqarah
       dan yang semisalnya pada raka’at pertama dan setelah ruku’ yang
       kedua hendaknya membaca yang lebih pendek. Telah datang
       hadits-hadits shahih dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
       tentang apa yang kami sebutkan. Dan disyariatkan untuk
       mempercepat shalat jika telah hilang sebabnya. Begitu pula jika
       mengetahui bahwa gerhana tersebut tidak lama. Dan apabila
       gerhana tersebut menipis sebelum shalat, maka supaya memulai
       shalat dan memendekkannya, itulah pendapat jumhur Ahli Ilmu;
       karena shalat tersebut disyariatkan berdasarkan’illah (sebab),
       dan ‘illah itu telah hilang. Jika gerhana itu hilang sebelum
       shalat; maka tidak perlu shalat….”. [9] &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Admin Blog Ulama Sunnah
       Wira Bachrun Al Bankawy
       Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
       Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
       e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       FootNote:
       [1] Dikeluarkan oleh AL Bukhari ( Nomer 1041, 1057, 3204) dan
       Muslim (Nomer 911).
       [2] Muttafaq ‘Alaih dari hadits Al Mughirah Bin Syu’bah; Al
       Bukhari (1060) [2/705] ini adalah lafadznya; dan Muslim (2119)
       [2/457].
       [3] Dikeluarkan oleh Al Bukhari (1059) [2/704] Al Kusuf 14; dan
       Muslim (912).
       [4] Muttafaq ‘Alaih dari hadits Mughirah: Al Bukhari (1043)
       [2/679] Al Kusuf 1, ini adalah lafadznya; dan Muslim (2119)
       [3/457] Al Kusuf 5
       [5] Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Jabir (2099) [3/447] Al
       Kusuf 5.
       [6] Muttafaq ‘Alaih: Al Bukhari (1046) [2/688]; dan Muslim
       (2088) [3/440].
       [7] Muttafaq ‘Alaih: Al Bukhari (1044) [2/682]; dan Muslim
       (2086) [3/438].
       [8] Dikeluarkan oleh Al Bukhari (1063) [2/706] Al Kusuf 17. Dan
       asalnya adalah Muttafaq ‘Alaih dari hadits ABu Mas’ud Al
       Anshari: Al Bukhari (1041) [2/678] Al Kusuf 1; dan Muslim (2111)
       [3/453] Al Kusuf 5.
       [9] Lihat “Majmu Fataawaa Syaikh Al Islam”
       (Dinukil untuk blog ulamasunnah dari www.ghuroba.blogsome.com.
       Sumber: Kitab Al Mulakhkhash Al Fiqhi, Edisi Indonesia:
       Ringkasan Fiqih Islami 1, Penerbit Pustaka Salafiyah)
       Beri peringkat:28 Votes
       Bagikan ini:
       RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
       Terkait
       Menyikapi Tahun yang Penuh Gempa Bumi dan Bencana
       Februari 16, 2008
       dalam "Aqidah"
       Cara Mudah Mempelajari Ushuluts Tsalatsah 3 – Mengenal Rabb
       Mei 6, 2009
       dalam "Aqidah"
       Empat Kaidah Agung dalam Memahami Tauhid
       November 13, 2009
       dalam "Aqidah"
       Ditulis dalam Aqidah | Dengan kaitkata gerhana bulan, gerhana
       matahari, salat gerhana, shalat gerhana, solat gerhana |
       *****************************************************
       Page 1 of 1