URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
       *****************************************************
       #Post#: 772--------------------------------------------------
       Wasiat Bohong dari ‘Syaikh Ahmad’ (Penjaga Kubur Rasulullah)
   DIR By: Host
       Date: August 25, 2024, 10:51 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
       BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
       AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
       [center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
       ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
       [center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
       fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar bin Abdul Aziz)
       ---------------------------------------------------------
       &#10043; Wasiat Bohong dari ‘Syaikh Ahmad’ (Penjaga Kubur
       Rasulullah)
       Februari 9, 2009 oleh Wira Mandiri Bachrun &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [size=10pt]&#9701;&#8593;&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
       Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz ibn Abdullah Bin Baaz
       Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, ditujukan kepada siapa
       saja diantara orang-orang Islam yang mendapatkan surat ini,
       semoga Allah menjaga mereka dengan agama Islam, dan melindungi
       kita serta mereka dari kejahatan para pendusta yang bohong dan
       tengik.
       Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Amma ba’du:
       Kami telah membaca edaran yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad
       Khodim Al Haram An Nabawi, dengan judul:
       “Ini adalah wasiat dari Madinah Munawwarah dari Ahmad Khodim Al
       Haram An Nabawi ”
       Dalam wasiat ini dikatakan: pada suatu malam Jum’at aku pernah
       tidak tidur, membaca Al Qur’an, dan setelah membaca Asma’ul
       Husna aku bersiap siap untuk tidur, tiba tiba aku melihat
       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah membawa ayat
       ayat Al Qur’an dan hukum hukum yang mulia, kemudian beliau
       berkata: wahai Syaikh Akhmad, aku menjawab: ya, ya Rasulullah,
       wahai orang yang termulia diantara makhluk Allah, beliau berkata
       kepadaku: aku sangat malu atas perbuatan buruk manusia itu,
       sehingga aku tak bisa menghadap Tuhanku dan para malaikat,
       karena dari hari Jum’at ke Jum’at telah meninggal dunia sekitar
       seratus enam puluh ribu jiwa (160 000) dengan tidak memeluk
       agama Islam.
       Kemudian beliau menyebut contoh contoh dari perbuatan maksiat
       itu, dan berkata: “maka wasiat ini sebagai rahmat bagi mereka
       dari Allah MahaPerkasa”, selanjutnya beliau menyebutkan sebagian
       tanda tanda hari kiamat dan berkata: “wahai Syaikh Ahmad,
       sebarkanlah wasiat ini kepada mereka, sebab wasiat ini dinukil
       dari Lauhul Mahfudz, barang siapa yang menulisnya dan
       mengirimnya dari suatu negara ke negara lain, dari suatu tempat
       ke tempat yang lain, baginya disediakan istana dalam sorga, dan
       barang siapa yang tidak menulis dan tidak mengirimnya, maka
       haramlah baginya syafaatku di hari kiamat nanti, barang siapa
       yang menulisnya sedangkan ia fakir maka Allah akan membuat dia
       kaya, atau ia berhutang maka Allah akan melunasinya, atau ia
       berdosa maka Allah pasti mengampuninya, dia dan kedua orang
       tuanya, berkat wasiat ini, sedangkan barang siapa yang tidak
       menulisnya maka hitamlah mukanya di dunia dan ahirat.”
       Kemudian beliau melanjutkan: “Demi Allah 3x wasiat ini adalah
       benar, jika aku berbohong, aku keluar dari dunia ini dengan
       tidak memeluk agama Islam, barang siapa yang percaya kepada
       wasiat ini, ia akan selamat dari siksaan neraka, dan jika tidak
       percaya maka kafirlah ia.”
       Inilah ringkasan dari wasiat bohong yang dikatakan dari
       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu, kita telah berkali
       kali mendengar wasiat bohong ini, yang mana telah tersebar luas
       dikalangan umat manusia secara terus menerus, anehnya hal ini
       sangat laku dikalangan umum.
       Dalam wasiat tersebut terdapat beberapa ungkapan yang saling
       kontradiktif, diantaranya pendusta itu mengatakan bahwa ia
       (Syaikh Ahmad) melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
       ketika hendak tidur, berarti ia melihatnya ketika berjaga (tidak
       dalam mimpi), ia juga telah mendakwakan (dalam wasiat itu)
       berbagai hal yang jelas jelas bohong dan bathil, dan kami akan
       terangkan nanti Insya Allah.
       Pada tahun tahun yang lalu kami telah menjelaskan kepada semua
       orang tentang kebohongan dan kebatilan wasiat itu secara
       terang-terangan, ketika kami membaca selebaran terahir ini, kami
       ragu-ragu menulisnya, karena jelas kebatilannya dan keberanian
       pembohong itu, dan kami tidak menduga sebelumnya hal itu bisa
       laku di kalangan orang-orang berakal sehat, bahkan banyak dari
       kawan kami yang memberitahukan, bahwa wasiat bohong itu telah
       tersebar diantara mereka, dan ada yang mempercayainya.
       Atas dasar itu semua kami memandang perlu untuk menulisnya;
       menjelaskan ketidakbenaran dan kebohongan wasiat itu terhadap
       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tak seorangpun
       dapat tertipu olehnya.
       Barang siapa diantara para ahli ilmu yang beriman dan orang
       orang yang berfikiran sehat mau mempelajarinya, niscaya ia akan
       tahu bahwa hal itu adalah kebohongan ditinjau dari beberapa
       segi, kami telah menanyakan kepada keluarga dekat Syaikh Ahmad
       yang wasiat bohong itu dinisbatkan kepadanya, tetapi mereka
       mengingkari kebohongan itu, bahkan hal itu merupakan pembohongan
       terhadap almarhum Syaikh Ahmad, sebab beliau belum pernah
       mengatakannya sama sekali, dan beliau telah lama meninggal
       dunia, seandainya Syaikh Ahmad tersebut maupun yang lebih hebat
       daripadanya mendakwakan bahwasanya ia melihat Nabi Muhammad
       ketika sedang tidur atau berjaga, kemudian mewasiatkan seperti
       ini, pasti kita tahu bahwa hal itu bohong belaka, atau yang
       mengatakan kepadanya setan bukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
       wa sallam, berdasarkan keterangan keterangan di bawah ini.
       Diantaranya: bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak
       akan dapat dilihat oleh seseorang ketika ia berjaga setelah
       beliau wafat, jika ada dari kalangan sufi yang mendakwakan
       bahwasanya ia melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
       ketika ia berjaga setelah ia wafat, atau beliau menghadiri
       peringatan maulid atau yang lainnya, maka betul-betul ia telah
       berbuat salah dan menyeleweng, karena sesungguhnya mayat itu
       akan bangkit dari kuburnya pada hari kiamat, bukan di dunia
       sekarang ini.
       Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
       &#1579;&#1605; &#1573;&#1606;&#1603;&#1605;
       &#1576;&#1593;&#1583; &#1584;&#1604;&#1603;
       &#1604;&#1605;&#1610;&#1578;&#1608;&#1606;&#1548; &#1579;&#1605;
       &#1573;&#1606;&#1603;&#1605; &#1610;&#1608;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1602;&#1610;&#1575;&#1605;&#1577;
       &#1578;&#1576;&#1593;&#1579;&#1608;&#1606;
       “Kemudian sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian pasti akan
       mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan
       (dari kuburmu) di hari kiamat” (Al Mu’minun, 15-16).
       Dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
       menjelaskan bahwasanya kebangkitan mayat itu pada hari kiamat
       bukan di dunia seperti sekarang ini, barang siapa yang menyalahi
       itu berarti ia jelas pembohong dan penyeleweng, ia tidak
       mengetahui kebenaran sebagaimana telah diketahui oleh ulama
       salaf, para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan
       para pengikut mereka dengan sebaik-baiknya.
       Kedua: bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan
       mengatakan sesuatu berlawanan dengan yang hak, baik di masa
       hidupnya maupun sesudah wafatnya, dan wasiat di atas tadi
       benar-benar telah menyalahi syariatnya secara terang terangan
       ditinjau dari beberapa segi seperti di bawah ini.
       Memang kadang kadang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
       dapat dilihat dalam mimpi, barang siapa yang melihat wajah
       beliau yang mulia, berarti ia betul-betul melihatnya, karena
       syaithan tidak bisa meyerupai wajah beliau, sebagaimana hal itu
       dijelaskan dalam hadits hadits shohih. Yang paling penting ialah
       bagaimana keimanan orang yang mimpi tersebut, kejujurannya,
       keadilannya, hafalannya, agamanya dan amanatnya ? Apakah ia
       melihat wajah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam atau yang
       lainnya ? Jika ada hadits disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu
       ‘alaihi wa sallam di masa hidupnya diriwayatkan tidak melalui
       jalur orang orang terpercaya, adil dan kuat hafalannya, maka
       hadits tersebut tidak bisa dijadikan landasan huhum (argumen),
       atau hadits tersebut melalui jalur di atas, tapi bertentangan
       dengan riwayat para perowi lain yang lebih terpercaya dan lebih
       kuat hafalannya, sedangkan tidak ada jalur sanad yang lain untuk
       dikorelasikan, maka yang pertama dimansukh (dihapus masa
       berlakunya) oleh yang kedua, dan tidak boleh diamalkan, dan
       hadits kedua sebagai nasikh, boleh diamalkan dengan syarat
       syarat tertentu jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan untuk
       dikorelasikan maka yang lebih lemah hafalannya dan lebih rendah
       tingkat keadilannya harus ditinggalkan, berarti kedudukan hadits
       tadi syadz (bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
       dan tidak bisa diamalkan.
       Sekarang bagaimana dengan penyampaian wasiat yang tidak
       diketahui bahwa ia telah menukil dari Rasulullah Shalallahu
       ‘alaihi wa sallam, tidak diketahui keadilan dan amanatnya ?
       Benar-benar wasiat ini harus ditinggalkan dan tidak perlu
       diperhatikan, walaupun isinya tidak bertentangan dengan syariat
       Islam, dan harus lebih ditinggalkan jika wasiat itu mencakup hal
       hal yang menunjukkan kebatilan dan kebohongan terhadap
       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mencakup
       pensyariatan agama yang tidak diizinkan oleh Allah, sedangkan
       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
       ” &#1605;&#1606; &#1602;&#1575;&#1604; &#1593;&#1604;&#1610;
       &#1605;&#1575; &#1604;&#1605; &#1571;&#1602;&#1604;
       &#1601;&#1604;&#1610;&#1578;&#1576;&#1608;&#1571;
       &#1605;&#1602;&#1593;&#1583;&#1607; &#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1585; .”
       “Barang siapa yang mengatakan sesuatu hal (yang dinisbatkan
       kepada saya) yang saya sendiri tidak pernah mengatakannya maka
       bersiaplah ia menduduki tempatnya dari api neraka.”
       Pendusta itu telah mengatakan wasiat itu dari Rasulullah,
       sedangkan beliau tidak pernah mengatakannya, berarti ia telah
       berdusta pada Rasulullah dan pada dirinya sendiri, bagaimana ia
       akan bebas dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat pedih
       itu, jika ia tidak cepat-cepat bertaubat kepada Allah Subhanahu
       wa Ta’ala, dan memberitahukan kepada khayalak ramai bahwa ia
       telah mendakwakan dengan kebohongan wasiat itu atas diri
       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebab orang yang telah
       menyebarkan kebatilan diantara manusia tidak akan diterima
       taubatnya kecuali dengan mengumumkannya, sehingga diketahui oleh
       mereka bahwa ia telah kembali kepada jalan yang lurus.
       Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
       &#1573;&#1606; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606;
       &#1610;&#1603;&#1578;&#1605;&#1608;&#1606; &#1605;&#1575;
       &#1571;&#1606;&#1586;&#1604;&#1606;&#1575; &#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1576;&#1610;&#1606;&#1575;&#1578;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1607;&#1583;&#1609; &#1605;&#1606;
       &#1576;&#1593;&#1583; &#1605;&#1575;
       &#1576;&#1610;&#1606;&#1575;&#1607;
       &#1604;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; &#1601;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1603;&#1578;&#1575;&#1576;
       &#1571;&#1608;&#1604;&#1574;&#1603;
       &#1610;&#1604;&#1593;&#1606;&#1607;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1608;&#1610;&#1604;&#1593;&#1606;&#1607;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1575;&#1593;&#1606;&#1608;&#1606;&#1548;
       &#1573;&#1604;&#1575; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606;
       &#1578;&#1575;&#1576;&#1608;&#1575;
       &#1608;&#1571;&#1589;&#1604;&#1581;&#1608;&#1575;
       &#1608;&#1576;&#1610;&#1606;&#1608;&#1575;
       &#1601;&#1571;&#1608;&#1604;&#1574;&#1603;
       &#1571;&#1578;&#1608;&#1576; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;&#1605;
       &#1608;&#1571;&#1606;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1578;&#1608;&#1575;&#1576;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;.
       “Sesungguhnya orang orang yang menyembunyikan apa yang telah
       Kami turunkan, berupa keterangan keterangan (yang jelas) dan
       petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al
       Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat(pula)oleh semua
       (makhluk)yang dapat melaknat, kecuali mereka yang telah
       bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebaikan),
       maka terhadap merekalah Aku (Allah) menerima taubatnya dan
       Akulah penerima taubat lagi MahaPenyayang” (Al Baqarah,
       159-160).
       Dalam ayat di atas, Allah telah menjelaskan barang siapa yang
       menyembunyikan suatu kebenaran, maka taubatnya tidak akan
       diterima, kecuali jika ia mengadakan perbaikan dan menjelaskan
       kebenaran tersebut, Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi
       hamba-Nya, dan menyempunakan ni’mat-Nya kepada mereka dengan
       mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan wahyu
       yang diturunkan kepadanya adalah sempurna, beliau tidak akan
       dicabut nyawanya kecuali telah disempurnakan agama-Nya,
       sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya:
       &#1575;&#1604;&#1576;&#1608;&#1605;
       &#1571;&#1603;&#1605;&#1604;&#1578; &#1604;&#1603;&#1605;
       &#1583;&#1610;&#1606;&#1603;&#1605;
       &#1608;&#1571;&#1578;&#1605;&#1605;&#1578;
       &#1593;&#1604;&#1610;&#1603;&#1605;
       &#1606;&#1593;&#1605;&#1578;&#1610;
       &#1608;&#1585;&#1590;&#1610;&#1578; &#1604;&#1603;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1573;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605;
       &#1583;&#1610;&#1606;&#1575;
       “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
       Kucukupkan kepadamu nu’matKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai
       agama bagimu” (Al Maidah, 3).
       Pendusta wasiat ini telah datang pada abad keempat belas untuk
       mengelabuhi manusia dan mensyariatkan kepada mereka agama baru,
       barang siapa yang mengikutinya, maka baginya disediakan sorga,
       dan barang siapa yang menolak syariat itu, maka baginya
       disediakan neraka. Dengan demikian ia hendak menjadikan wasiat
       ini lebih baik dari Al Qur’an, yang mana jika seseorang tidak
       menulisnya dan tidak mengirimkannya dari suatau negara ke negara
       lainnya diharamkan baginya syafaat Nabi Muhammad Shalallahu
       ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat, ini merupakan pembohongan
       yang paling hina dan jelas sekali, betapa tidak punya malu
       pembohong itu, ia telah berani berbuat bohong, kerena barang
       siapa yang menulis Al Qur’an yang mulia dan mengirimkannya dari
       suatu negara ke negara yang lain, atau dari suatu tempat ke
       tempat yang lainnya, tidak akan mendapatkan keutamaan seperti
       itu jika ia tidak mengamalkan kandungannya, bagaimana ia bisa
       memperoleh keutamaan itu jika hanya menulis dan mengirimkan
       wasiat bohong itu dari suatu negara ke negara yang lain.
       Barang siapa yang tidak menulis Al Qur’an dan tidak
       mengirimkannya dari suatu negara ke negara yang lain, maka tidak
       diharamkannya baginya syafaat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
       sallam, jika ia benar-benar mengimaninya dan mengikuti
       syariatnya, satu kebohongan dalam wasiat ini saja sudah menjadi
       bukti atas kebatilannya, kebohongannya yang jelas, kecerobohan,
       kebodohan, dan jauhnya dari ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
       wa sallam.
       Selain apa yang telah kami sebutkan tadi, masih banyak lagi
       hal-hal yang menunjukkan ketidakbenaran wasiat tersebut,
       walaupun pendusta itu bersumpah seribu kali atau lebih atas
       kebenarannya.
       Seandainya pembuat wasiat itu bersumpah, jika ia berdusta pasti
       ia akan tertimpa azab yang sangat pedih sebagai saksi atas
       kebenarannya, maka tetap ia tidak bisa dipercaya, dan wasiat itu
       tidak berubah menjadi benar, bahkan saya berani bersumpah demi
       Allah dan demi Allah, bahwa perbuatan itu merupakan kebohongan
       yang paling besar dan kebatilan yang paling hina, kita bersaksi
       kepada Allah dan kepada malaikat yang telah datang kepada kita
       dan kepada kaum muslimin yang telah memperoleh tulisan ini,
       suatu kesaksian kita sampaikan kepada Allah, bahwasanya wasiat
       ini dusta dan bohong kalau dinisbatkan kepada Rasulullah
       Shalallahu ‘alaihi wassalam, semoga Allah membuat hina orang
       orang yang menisbatkan wasiat itu kepada Nabi Muhammad
       Shalallahu ‘alaihi wassalam, dan menyiksanya sesuai dengan
       perbuatannya.
       Diantara sekian banyak kebatilan dan kebohongan wasiat tersebut
       adalah:
       Pertama:
       Isi kandungan wasiat tersebut yang berbunyi: “karena dari Jum’at
       ke Jum’at telah meninggal dunia sekitar 160.000 orang dengan
       tidak memeluk agama Islam ”, kerena hal itu merupakan ilmu
       ghaib, dan wahyu bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
       telah berhenti setelah beliau wafat, sedangkan pada masa
       hidupnya beliau tidak tahu ilmu ghoib, mana mungkin hal itu bisa
       terjadi sepeninggal beliau ?
       Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
       &#1602;&#1604; &#1604;&#1575; &#1571;&#1602;&#1608;&#1604;
       &#1604;&#1603;&#1605; &#1593;&#1606;&#1583;&#1610;
       &#1582;&#1586;&#1575;&#1574;&#1606; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1608;&#1604;&#1575; &#1571;&#1593;&#1604;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1594;&#1610;&#1576; &#1608;&#1604;&#1575;
       &#1571;&#1602;&#1608;&#1604; &#1604;&#1603;&#1605;
       &#1573;&#1606;&#1610; &#1605;&#1604;&#1603; &#1573;&#1606;
       &#1571;&#1578;&#1576;&#1593; &#1573;&#1604;&#1575;
       &#1605;&#1575; &#1610;&#1608;&#1581;&#1609;
       &#1573;&#1604;&#1610; &#1602;&#1604; &#1607;&#1604;
       &#1610;&#1587;&#1578;&#1608;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1571;&#1593;&#1605;&#1609;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1576;&#1589;&#1610;&#1585;
       &#1571;&#1601;&#1604;&#1575;
       &#1578;&#1578;&#1601;&#1603;&#1585;&#1608;&#1606;
       “Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan
       Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghoib dan
       tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat,
       aku mengetahui apa yang telah diwahyukan kepadaku, katakanlah,
       apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat ? maka
       apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Al An’am, 50).
       &#1602;&#1604; &#1604;&#1575; &#1610;&#1593;&#1604;&#1605;
       &#1605;&#1606; &#1601;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1587;&#1605;&#1608;&#1575;&#1578;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1571;&#1585;&#1590;
       &#1575;&#1604;&#1594;&#1610;&#1576; &#1573;&#1604;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1608;&#1605;&#1575;
       &#1610;&#1588;&#1593;&#1585;&#1608;&#1606;
       &#1571;&#1610;&#1575;&#1606;
       &#1610;&#1576;&#1593;&#1579;&#1608;&#1606;
       “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang
       mengetahui perkara ghoib, kecuali Allah, dan mereka tidak
       mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan” (An Naml, 65).
       Dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu
       ‘alaihi wa sallam bersabda:
       ” &#1610;&#1584;&#1575;&#1583; &#1585;&#1580;&#1575;&#1604;
       &#1593;&#1606; &#1581;&#1608;&#1590;&#1610;
       &#1610;&#1608;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1602;&#1610;&#1575;&#1605;&#1577;
       &#1601;&#1571;&#1602;&#1608;&#1604;: &#1610;&#1575;
       &#1585;&#1576;&#1548; &#1571;&#1589;&#1581;&#1575;&#1576;&#1610;
       &#1571;&#1589;&#1581;&#1575;&#1576;&#1610;&#1548;
       &#1601;&#1610;&#1602;&#1575;&#1604; &#1604;&#1610;:
       &#1573;&#1606;&#1603; &#1604;&#1575;
       &#1578;&#1583;&#1585;&#1610; &#1605;&#1575;
       &#1571;&#1581;&#1583;&#1579;&#1608;&#1575;
       &#1576;&#1593;&#1583;&#1603;&#1548;
       &#1601;&#1571;&#1602;&#1608;&#1604; &#1603;&#1605;&#1575;
       &#1602;&#1575;&#1604; &#1575;&#1604;&#1593;&#1576;&#1583;
       &#1575;&#1604;&#1589;&#1575;&#1604;&#1581;:
       &#1608;&#1603;&#1606;&#1578; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;&#1605;
       &#1588;&#1607;&#1610;&#1583;&#1575; &#1605;&#1575;
       &#1583;&#1605;&#1578; &#1601;&#1610;&#1607;&#1605;&#1548;
       &#1601;&#1604;&#1605;&#1575;
       &#1578;&#1608;&#1601;&#1610;&#1578;&#1606;&#1610;
       &#1603;&#1606;&#1578; &#1571;&#1606;&#1578;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1602;&#1610;&#1576;
       &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;&#1605; &#1608;&#1571;&#1606;&#1578;
       &#1593;&#1604;&#1609; &#1603;&#1604; &#1588;&#1610;&#1569;
       &#1602;&#1583;&#1610;&#1585; .”
       .”
       “Banyak orang orang yang dijauhkan dari telagaku pada hari
       kiamat nanti, maka aku berkata: ya Rabb, mereka adalah sahabat
       sahabatku, mereka sahabat sahabatku, maka dikatakan kepadaku:
       sesungguhnya engkau tidak tahu tentang apa yang mereka perbuat
       setelah engkau wafat ?, maka aku berkata sebagaimana hamba
       sholeh(Nabi Isa) berkata: “Dan aku menjadi saksi bagi mereka
       selama aku hidup bersama mereka, maka setelah Engkau telah
       mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi penguasa bagi mereka dan
       sesungguhnya Engkau MahaMengetahui atas segala sesuatu.”
       Kedua:
       Ungkapan yang mengatakan: “barang siapa yang menulisnya
       sedangkan ia orang fakir, maka Allah akan menjadikan kaya, atau
       ia berhutang maka Allah akan melunasinya, atau ia berdosa maka
       Allah akan mengampuninya serta kedua orang tuanya berkat wasiat
       ini, … dan seterusnya”, ini merupakan kebohongan besar dan bukti
       nyata atas kebohongan pedusta itu, betapa ia tidak punya malu
       terhadap Allah dan hamba hambaNya, karena ketiga hal di atas
       tidak bisa dicapai hanya dengan menulis Al Qur’an, apalagi
       menulis wasiat ini yang jelas batilnya, tidak lain pelaku dosa
       ini hanyalah akan mengkaburkan manusia saja, serta menjadikan
       mereka selalu bergantung kepada wasiat itu, sehingga mereka mau
       menulisnya dan mengelu elukan keutamaan yang dijanjikan, dengan
       meninggalkan tuntunan yang telah disyari’atkan Allah kepada
       hamba hambaNya, ia menjadikan wasiat itu sebagai sarana mencapai
       kekayaan, membayar hutang, dan ampunan Tuhan, kita berlindung
       kepada Allah dari kehinaan, mengikuti hawa nafsu dan syaithan.
       Ketiga:
       Isi kandungannya yang berbunyi: “Sedangkan barang siapa yang
       tidak menulisnya, maka hitamlah mukanya di dunia dan akhirat.”
       Ini juga merupakan kebohongan besar dan bukti nyata atas
       kebatilan wasiat tersebut serta pengecutnya pendustanya, mana
       ada orang yang berakal akan menerima perkataan itu, pembawa
       wasiat itu adalah seorang manusia yang hidup pada abad keempat
       belas hijriyah, dan tidak diketahui identitasnya, ia mendakwakan
       kebohongan atas diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
       dengan anggapan bahwa barang siapa yang menulisnya akan dijamin
       dengan tiga jaminan di atas.
       MahaSuci Engkau Ya Allah, ini merupakan kebohongan yang besar,
       bukti bukti dan realita yang secara empiris telah menunjukkan
       atas kebohongan pendusta itu, betapa besar dosanya di sisi
       Allah, sebab kelancangannya benar-benar ia tidak punya malu
       terhadap Allah dan semua manusia, karena telah banyak orang yang
       tidak menulis wasiat ini, namun mereka toh mukanya tidak hitam,
       di lain pihak telah banyak orang yang menulis wasiat ini, namun
       mereka masih juga tetap tidak bisa membayar hutangnya, dan tetap
       saja dalam kefakirannya.
       Maka marilah kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
       dari kecenderungan hati dan dari kotoran dosa, sifat-sifat dan
       balasan-balasan di atas tidak pernah di janjikan oleh syariat
       yang mulia bagi orang orang yang menulis kitab suci Al Qur’an,
       kitab yang paling mulia dan paling agung, bagaimana hal itu bisa
       dicapai oleh orang yang menulis wasiat bohong, wasiat yang
       mencakup berbagai kebatilah, dan dihiasi bermacam macam
       kekafiran.
       MahaSuci Allah, alangkah sabarnya Dia (Allah) terhadap hamba
       hamba yang berbuat dusta atas-Nya.
       Keempat:
       Isi wasiat ini berbunyi: “Barang siapa yang percaya kepada
       wasiat ini, pasti akan selamat dari siksaan neraka, jika tidak
       percaya kafirlah dia.”
       Ini juga merupakan keberanian yang luar biasa untuk berbuat
       bohong, dengan kebatilannya pendusta itu mengajak semua manusia
       untuk mempercayai tipu dayanya, ia mengira bahwasanya mereka
       akan selamat dari api neraka jika memang mau mempercayainya, dan
       barang siapa yang tidak mempercayainya maka ia pantas dianggap
       kafir, demi Allah, pembohong itu tidak mengatakan sesuatu yang
       haq, bahkan sebaliknya, jika ada orang yang mempercayainya maka
       ia pasti dianggap kafir, bukan orang yang mendustakannya karena
       dakwaannya tidak berdasar dalil.
       Kita bersaksi kepada Allah, bahwasanya dakwaan itu adalah bohong
       belaka, pendusta itu hendak mensyariatkan kepada manusia apa apa
       yang tidak di izinkan Allah, dan sengaja memasukkan sesuatu hal
       baru dalam agama mereka apa apa yang tidak ada didalamnya,
       sedangkan Allah telah melengkapi dan mencukupkan agama umat ini,
       sejak empat belas abad yang silam, yaitu sebelum datangnya
       pendusta ini.
       Maka berwaspadalah, wahai para sidang pembaca dan kawan-kawan
       seagama, janganlah percaya terhadap dakwaan-dakwaan dusta
       seperti ini, jauhilah penyebarannya di kalangan anda sekalian,
       karena yang haq selalu disinari oleh cahaya yang tidak kabur,
       carilah kebenaran disertai dalilnya, bertanyalah kepada para
       Ulama jika kamu mendapatkan kesulitan, dan janganlah tertipu
       oleh sumpah sumpah bohong pendusta, karena iblis telah bersumpah
       kepada kedua orang tua kita yaitu Adam dan Hawa, bahwasanya ia
       sebagai penasehat bagi keduanya, padahal ia tak lain adalah
       gembong penghianat dan pendusta ulung, sebagaimana yang
       diceritakan Allah dalam Al Qur’an:
       &#1608;&#1602;&#1575;&#1587;&#1605;&#1607;&#1605;&#1575;
       &#1573;&#1606;&#1610; &#1604;&#1603;&#1605;&#1575;
       &#1604;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1589;&#1581;&#1610;&#1606;
       “Dan dia (syaithan) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa),
       sesungguhnya saya adalah termasuk orang orang yang memberi
       nasehat kepadmu sekalian ” (Al A’raf, 21).
       Maka dari itu, anda sekalian harus selalu waspada terhadap
       pendusta ini dan para pengikutnya, sebab banyak diantara mereka
       yang mempunyai sumpah bohong, mengingkari janji, dan menghiasi
       perkataan-perkataannya untuk membujuk dan menyesatkan.
       Semoga Allah tetap memelihara kami, anda sekalian dan kaum
       muslimin semua dari segala kejahatan syaithan, fitnah
       orang-orang yang menyesatkan, penyelewengan orang orang yang
       menyimpang, dan tipu daya musuh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
       mereka hendak membaurkan agama dan memadamkan cahaya Allah
       dengan mulut-mulut mereka dan mengkaburkan agamaNya bagi umat
       manusia, tetapi Allah pasti menyempurnakan cahaya-Nya serta
       menolong agama-Nya, walaupun musuh musuh-Nya baik dari kelompok
       syaithan dan pengikutnya maupun orang orang kafir dan atheis itu
       tidak rela.
       Adapun hal hal yang telah disebutkan pendusta ini tentang
       timbulnya kemungkaran-kemungkaran adalah realitas, dan Al Qur’an
       dan hadits pun telah memperingatkan kita sejauh mungkin, pada
       keduanya (Al Qur’an dan Hadits) terdapat hidayah dan kecukupan.
       Mari kita memohon kepada Allah, agar berkenan memperbaiki
       keadaan kaum muslimin dan memberi karunia kepada mereka untuk
       tetap mengikuti yang haq dan tetap konsisten dalam
       menjalankannya, serta mau bertaubat kepada-Nya dan meminta
       ampunan-Nya dari segala macam dosa, karena sesungguhnya Dia Maha
       Penerima taubat, Pemurah dan berkuasa atas segala galanya.
       Adapun yang telah disebutkan tentang tanda-tanda hari kiamat,
       maka hal itu sudah dijelaskan oleh hadits-hadits shahih, selain
       juga Al Qur’an telah menyinggung sebagian saja, barang siapa
       yang ingin mengetahuinya ia dapat mendapatkannya pada bab-bab
       tertentu dalam buku buku hadits serta karangan karangan para
       ahli ilmu dan iman.
       Akhirnya, sudah cukup jelas bagi kita bahwa kebohongan pendusta
       itu tidak diragukan lagi, karena ia telah mengkaburkan dan
       mencampur adukan antara yang haq dan yang batil, cukup Allahlah
       sebagai penolong kita, Dia sebaik baik pelindung, tak ada
       kekuasaan dan kekuatan apapun kecuali di tangan Allah.
       &#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; &#1604;&#1604;&#1607;
       &#1585;&#1576;
       &#1575;&#1604;&#1593;&#1575;&#1604;&#1605;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1608;&#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1593;&#1604;&#1609; &#1593;&#1576;&#1583;&#1607;
       &#1608;&#1585;&#1587;&#1608;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1589;&#1575;&#1583;&#1602;
       &#1575;&#1604;&#1571;&#1605;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1608;&#1593;&#1604;&#1609; &#1570;&#1604;&#1607;
       &#1608;&#1571;&#1589;&#1581;&#1575;&#1576;&#1607;
       &#1608;&#1571;&#1578;&#1576;&#1575;&#1593;&#1607;
       &#1576;&#1573;&#1581;&#1587;&#1575;&#1606; &#1573;&#1604;&#1609;
       &#1610;&#1608;&#1605; &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606;.
       &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Admin Blog Ulama Sunnah
       Wira Bachrun Al Bankawy
       Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
       Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
       e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       (Dikutip dari &#1575;&#1604;&#1581;&#1584;&#1585; &#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1576;&#1583;&#1593; Tulisan Syaikh Abdullah Bin
       Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen
       Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”)
       Beri peringkat:10 Votes
       Bagikan ini:
       RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
       Terkait
       Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari
       Juni 16, 2009
       dalam "Aqidah"
       Fatwa Tentang Nyanyian
       Februari 23, 2008
       dalam "Adab dan Akhlak"
       Biografi Asy Syaikh Washiyullah Abbas
       April 30, 2015
       dalam "Kisah dan Biografi"
       Ditulis dalam Aqidah |
       *****************************************************
       Page 1 of 1