DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
*****************************************************
#Post#: 772--------------------------------------------------
Wasiat Bohong dari ‘Syaikh Ahmad’ (Penjaga Kubur Rasulullah)
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 10:51 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Wasiat Bohong dari ‘Syaikh Ahmad’ (Penjaga Kubur
Rasulullah)
Februari 9, 2009 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz ibn Abdullah Bin Baaz
Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, ditujukan kepada siapa
saja diantara orang-orang Islam yang mendapatkan surat ini,
semoga Allah menjaga mereka dengan agama Islam, dan melindungi
kita serta mereka dari kejahatan para pendusta yang bohong dan
tengik.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Amma ba’du:
Kami telah membaca edaran yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad
Khodim Al Haram An Nabawi, dengan judul:
“Ini adalah wasiat dari Madinah Munawwarah dari Ahmad Khodim Al
Haram An Nabawi ”
Dalam wasiat ini dikatakan: pada suatu malam Jum’at aku pernah
tidak tidur, membaca Al Qur’an, dan setelah membaca Asma’ul
Husna aku bersiap siap untuk tidur, tiba tiba aku melihat
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah membawa ayat
ayat Al Qur’an dan hukum hukum yang mulia, kemudian beliau
berkata: wahai Syaikh Akhmad, aku menjawab: ya, ya Rasulullah,
wahai orang yang termulia diantara makhluk Allah, beliau berkata
kepadaku: aku sangat malu atas perbuatan buruk manusia itu,
sehingga aku tak bisa menghadap Tuhanku dan para malaikat,
karena dari hari Jum’at ke Jum’at telah meninggal dunia sekitar
seratus enam puluh ribu jiwa (160 000) dengan tidak memeluk
agama Islam.
Kemudian beliau menyebut contoh contoh dari perbuatan maksiat
itu, dan berkata: “maka wasiat ini sebagai rahmat bagi mereka
dari Allah MahaPerkasa”, selanjutnya beliau menyebutkan sebagian
tanda tanda hari kiamat dan berkata: “wahai Syaikh Ahmad,
sebarkanlah wasiat ini kepada mereka, sebab wasiat ini dinukil
dari Lauhul Mahfudz, barang siapa yang menulisnya dan
mengirimnya dari suatu negara ke negara lain, dari suatu tempat
ke tempat yang lain, baginya disediakan istana dalam sorga, dan
barang siapa yang tidak menulis dan tidak mengirimnya, maka
haramlah baginya syafaatku di hari kiamat nanti, barang siapa
yang menulisnya sedangkan ia fakir maka Allah akan membuat dia
kaya, atau ia berhutang maka Allah akan melunasinya, atau ia
berdosa maka Allah pasti mengampuninya, dia dan kedua orang
tuanya, berkat wasiat ini, sedangkan barang siapa yang tidak
menulisnya maka hitamlah mukanya di dunia dan ahirat.”
Kemudian beliau melanjutkan: “Demi Allah 3x wasiat ini adalah
benar, jika aku berbohong, aku keluar dari dunia ini dengan
tidak memeluk agama Islam, barang siapa yang percaya kepada
wasiat ini, ia akan selamat dari siksaan neraka, dan jika tidak
percaya maka kafirlah ia.”
Inilah ringkasan dari wasiat bohong yang dikatakan dari
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu, kita telah berkali
kali mendengar wasiat bohong ini, yang mana telah tersebar luas
dikalangan umat manusia secara terus menerus, anehnya hal ini
sangat laku dikalangan umum.
Dalam wasiat tersebut terdapat beberapa ungkapan yang saling
kontradiktif, diantaranya pendusta itu mengatakan bahwa ia
(Syaikh Ahmad) melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
ketika hendak tidur, berarti ia melihatnya ketika berjaga (tidak
dalam mimpi), ia juga telah mendakwakan (dalam wasiat itu)
berbagai hal yang jelas jelas bohong dan bathil, dan kami akan
terangkan nanti Insya Allah.
Pada tahun tahun yang lalu kami telah menjelaskan kepada semua
orang tentang kebohongan dan kebatilan wasiat itu secara
terang-terangan, ketika kami membaca selebaran terahir ini, kami
ragu-ragu menulisnya, karena jelas kebatilannya dan keberanian
pembohong itu, dan kami tidak menduga sebelumnya hal itu bisa
laku di kalangan orang-orang berakal sehat, bahkan banyak dari
kawan kami yang memberitahukan, bahwa wasiat bohong itu telah
tersebar diantara mereka, dan ada yang mempercayainya.
Atas dasar itu semua kami memandang perlu untuk menulisnya;
menjelaskan ketidakbenaran dan kebohongan wasiat itu terhadap
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tak seorangpun
dapat tertipu olehnya.
Barang siapa diantara para ahli ilmu yang beriman dan orang
orang yang berfikiran sehat mau mempelajarinya, niscaya ia akan
tahu bahwa hal itu adalah kebohongan ditinjau dari beberapa
segi, kami telah menanyakan kepada keluarga dekat Syaikh Ahmad
yang wasiat bohong itu dinisbatkan kepadanya, tetapi mereka
mengingkari kebohongan itu, bahkan hal itu merupakan pembohongan
terhadap almarhum Syaikh Ahmad, sebab beliau belum pernah
mengatakannya sama sekali, dan beliau telah lama meninggal
dunia, seandainya Syaikh Ahmad tersebut maupun yang lebih hebat
daripadanya mendakwakan bahwasanya ia melihat Nabi Muhammad
ketika sedang tidur atau berjaga, kemudian mewasiatkan seperti
ini, pasti kita tahu bahwa hal itu bohong belaka, atau yang
mengatakan kepadanya setan bukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wa sallam, berdasarkan keterangan keterangan di bawah ini.
Diantaranya: bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak
akan dapat dilihat oleh seseorang ketika ia berjaga setelah
beliau wafat, jika ada dari kalangan sufi yang mendakwakan
bahwasanya ia melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
ketika ia berjaga setelah ia wafat, atau beliau menghadiri
peringatan maulid atau yang lainnya, maka betul-betul ia telah
berbuat salah dan menyeleweng, karena sesungguhnya mayat itu
akan bangkit dari kuburnya pada hari kiamat, bukan di dunia
sekarang ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ثم إنكم
بعد ذلك
لميتون، ثم
إنكم يوم
القيامة
تبعثون
“Kemudian sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian pasti akan
mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan
(dari kuburmu) di hari kiamat” (Al Mu’minun, 15-16).
Dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
menjelaskan bahwasanya kebangkitan mayat itu pada hari kiamat
bukan di dunia seperti sekarang ini, barang siapa yang menyalahi
itu berarti ia jelas pembohong dan penyeleweng, ia tidak
mengetahui kebenaran sebagaimana telah diketahui oleh ulama
salaf, para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan
para pengikut mereka dengan sebaik-baiknya.
Kedua: bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan
mengatakan sesuatu berlawanan dengan yang hak, baik di masa
hidupnya maupun sesudah wafatnya, dan wasiat di atas tadi
benar-benar telah menyalahi syariatnya secara terang terangan
ditinjau dari beberapa segi seperti di bawah ini.
Memang kadang kadang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
dapat dilihat dalam mimpi, barang siapa yang melihat wajah
beliau yang mulia, berarti ia betul-betul melihatnya, karena
syaithan tidak bisa meyerupai wajah beliau, sebagaimana hal itu
dijelaskan dalam hadits hadits shohih. Yang paling penting ialah
bagaimana keimanan orang yang mimpi tersebut, kejujurannya,
keadilannya, hafalannya, agamanya dan amanatnya ? Apakah ia
melihat wajah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam atau yang
lainnya ? Jika ada hadits disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam di masa hidupnya diriwayatkan tidak melalui
jalur orang orang terpercaya, adil dan kuat hafalannya, maka
hadits tersebut tidak bisa dijadikan landasan huhum (argumen),
atau hadits tersebut melalui jalur di atas, tapi bertentangan
dengan riwayat para perowi lain yang lebih terpercaya dan lebih
kuat hafalannya, sedangkan tidak ada jalur sanad yang lain untuk
dikorelasikan, maka yang pertama dimansukh (dihapus masa
berlakunya) oleh yang kedua, dan tidak boleh diamalkan, dan
hadits kedua sebagai nasikh, boleh diamalkan dengan syarat
syarat tertentu jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan untuk
dikorelasikan maka yang lebih lemah hafalannya dan lebih rendah
tingkat keadilannya harus ditinggalkan, berarti kedudukan hadits
tadi syadz (bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
dan tidak bisa diamalkan.
Sekarang bagaimana dengan penyampaian wasiat yang tidak
diketahui bahwa ia telah menukil dari Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam, tidak diketahui keadilan dan amanatnya ?
Benar-benar wasiat ini harus ditinggalkan dan tidak perlu
diperhatikan, walaupun isinya tidak bertentangan dengan syariat
Islam, dan harus lebih ditinggalkan jika wasiat itu mencakup hal
hal yang menunjukkan kebatilan dan kebohongan terhadap
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mencakup
pensyariatan agama yang tidak diizinkan oleh Allah, sedangkan
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
” من قال علي
ما لم أقل
فليتبوأ
مقعده من
النار .”
“Barang siapa yang mengatakan sesuatu hal (yang dinisbatkan
kepada saya) yang saya sendiri tidak pernah mengatakannya maka
bersiaplah ia menduduki tempatnya dari api neraka.”
Pendusta itu telah mengatakan wasiat itu dari Rasulullah,
sedangkan beliau tidak pernah mengatakannya, berarti ia telah
berdusta pada Rasulullah dan pada dirinya sendiri, bagaimana ia
akan bebas dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat pedih
itu, jika ia tidak cepat-cepat bertaubat kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala, dan memberitahukan kepada khayalak ramai bahwa ia
telah mendakwakan dengan kebohongan wasiat itu atas diri
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebab orang yang telah
menyebarkan kebatilan diantara manusia tidak akan diterima
taubatnya kecuali dengan mengumumkannya, sehingga diketahui oleh
mereka bahwa ia telah kembali kepada jalan yang lurus.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إن الذين
يكتمون ما
أنزلنا من
البينات
والهدى من
بعد ما
بيناه
للناس في
الكتاب
أولئك
يلعنهم
الله
ويلعنهم
اللاعنون،
إلا الذين
تابوا
وأصلحوا
وبينوا
فأولئك
أتوب عليهم
وأنا
التواب
الرحيم.
“Sesungguhnya orang orang yang menyembunyikan apa yang telah
Kami turunkan, berupa keterangan keterangan (yang jelas) dan
petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al
Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat(pula)oleh semua
(makhluk)yang dapat melaknat, kecuali mereka yang telah
bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebaikan),
maka terhadap merekalah Aku (Allah) menerima taubatnya dan
Akulah penerima taubat lagi MahaPenyayang” (Al Baqarah,
159-160).
Dalam ayat di atas, Allah telah menjelaskan barang siapa yang
menyembunyikan suatu kebenaran, maka taubatnya tidak akan
diterima, kecuali jika ia mengadakan perbaikan dan menjelaskan
kebenaran tersebut, Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi
hamba-Nya, dan menyempunakan ni’mat-Nya kepada mereka dengan
mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan wahyu
yang diturunkan kepadanya adalah sempurna, beliau tidak akan
dicabut nyawanya kecuali telah disempurnakan agama-Nya,
sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya:
البوم
أكملت لكم
دينكم
وأتممت
عليكم
نعمتي
ورضيت لكم
الإسلام
دينا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nu’matKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai
agama bagimu” (Al Maidah, 3).
Pendusta wasiat ini telah datang pada abad keempat belas untuk
mengelabuhi manusia dan mensyariatkan kepada mereka agama baru,
barang siapa yang mengikutinya, maka baginya disediakan sorga,
dan barang siapa yang menolak syariat itu, maka baginya
disediakan neraka. Dengan demikian ia hendak menjadikan wasiat
ini lebih baik dari Al Qur’an, yang mana jika seseorang tidak
menulisnya dan tidak mengirimkannya dari suatau negara ke negara
lainnya diharamkan baginya syafaat Nabi Muhammad Shalallahu
‘alaihi wa sallam pada hari kiamat, ini merupakan pembohongan
yang paling hina dan jelas sekali, betapa tidak punya malu
pembohong itu, ia telah berani berbuat bohong, kerena barang
siapa yang menulis Al Qur’an yang mulia dan mengirimkannya dari
suatu negara ke negara yang lain, atau dari suatu tempat ke
tempat yang lainnya, tidak akan mendapatkan keutamaan seperti
itu jika ia tidak mengamalkan kandungannya, bagaimana ia bisa
memperoleh keutamaan itu jika hanya menulis dan mengirimkan
wasiat bohong itu dari suatu negara ke negara yang lain.
Barang siapa yang tidak menulis Al Qur’an dan tidak
mengirimkannya dari suatu negara ke negara yang lain, maka tidak
diharamkannya baginya syafaat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam, jika ia benar-benar mengimaninya dan mengikuti
syariatnya, satu kebohongan dalam wasiat ini saja sudah menjadi
bukti atas kebatilannya, kebohongannya yang jelas, kecerobohan,
kebodohan, dan jauhnya dari ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wa sallam.
Selain apa yang telah kami sebutkan tadi, masih banyak lagi
hal-hal yang menunjukkan ketidakbenaran wasiat tersebut,
walaupun pendusta itu bersumpah seribu kali atau lebih atas
kebenarannya.
Seandainya pembuat wasiat itu bersumpah, jika ia berdusta pasti
ia akan tertimpa azab yang sangat pedih sebagai saksi atas
kebenarannya, maka tetap ia tidak bisa dipercaya, dan wasiat itu
tidak berubah menjadi benar, bahkan saya berani bersumpah demi
Allah dan demi Allah, bahwa perbuatan itu merupakan kebohongan
yang paling besar dan kebatilan yang paling hina, kita bersaksi
kepada Allah dan kepada malaikat yang telah datang kepada kita
dan kepada kaum muslimin yang telah memperoleh tulisan ini,
suatu kesaksian kita sampaikan kepada Allah, bahwasanya wasiat
ini dusta dan bohong kalau dinisbatkan kepada Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wassalam, semoga Allah membuat hina orang
orang yang menisbatkan wasiat itu kepada Nabi Muhammad
Shalallahu ‘alaihi wassalam, dan menyiksanya sesuai dengan
perbuatannya.
Diantara sekian banyak kebatilan dan kebohongan wasiat tersebut
adalah:
Pertama:
Isi kandungan wasiat tersebut yang berbunyi: “karena dari Jum’at
ke Jum’at telah meninggal dunia sekitar 160.000 orang dengan
tidak memeluk agama Islam ”, kerena hal itu merupakan ilmu
ghaib, dan wahyu bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
telah berhenti setelah beliau wafat, sedangkan pada masa
hidupnya beliau tidak tahu ilmu ghoib, mana mungkin hal itu bisa
terjadi sepeninggal beliau ?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قل لا أقول
لكم عندي
خزائن الله
ولا أعلم
الغيب ولا
أقول لكم
إني ملك إن
أتبع إلا
ما يوحى
إلي قل هل
يستوي
الأعمى
والبصير
أفلا
تتفكرون
“Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan
Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghoib dan
tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat,
aku mengetahui apa yang telah diwahyukan kepadaku, katakanlah,
apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat ? maka
apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Al An’am, 50).
قل لا يعلم
من في
السموات
والأرض
الغيب إلا
الله وما
يشعرون
أيان
يبعثون
“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang
mengetahui perkara ghoib, kecuali Allah, dan mereka tidak
mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan” (An Naml, 65).
Dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
” يذاد رجال
عن حوضي
يوم
القيامة
فأقول: يا
رب، أصحابي
أصحابي،
فيقال لي:
إنك لا
تدري ما
أحدثوا
بعدك،
فأقول كما
قال العبد
الصالح:
وكنت عليهم
شهيدا ما
دمت فيهم،
فلما
توفيتني
كنت أنت
الرقيب
عليهم وأنت
على كل شيء
قدير .”
.”
“Banyak orang orang yang dijauhkan dari telagaku pada hari
kiamat nanti, maka aku berkata: ya Rabb, mereka adalah sahabat
sahabatku, mereka sahabat sahabatku, maka dikatakan kepadaku:
sesungguhnya engkau tidak tahu tentang apa yang mereka perbuat
setelah engkau wafat ?, maka aku berkata sebagaimana hamba
sholeh(Nabi Isa) berkata: “Dan aku menjadi saksi bagi mereka
selama aku hidup bersama mereka, maka setelah Engkau telah
mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi penguasa bagi mereka dan
sesungguhnya Engkau MahaMengetahui atas segala sesuatu.”
Kedua:
Ungkapan yang mengatakan: “barang siapa yang menulisnya
sedangkan ia orang fakir, maka Allah akan menjadikan kaya, atau
ia berhutang maka Allah akan melunasinya, atau ia berdosa maka
Allah akan mengampuninya serta kedua orang tuanya berkat wasiat
ini, … dan seterusnya”, ini merupakan kebohongan besar dan bukti
nyata atas kebohongan pedusta itu, betapa ia tidak punya malu
terhadap Allah dan hamba hambaNya, karena ketiga hal di atas
tidak bisa dicapai hanya dengan menulis Al Qur’an, apalagi
menulis wasiat ini yang jelas batilnya, tidak lain pelaku dosa
ini hanyalah akan mengkaburkan manusia saja, serta menjadikan
mereka selalu bergantung kepada wasiat itu, sehingga mereka mau
menulisnya dan mengelu elukan keutamaan yang dijanjikan, dengan
meninggalkan tuntunan yang telah disyari’atkan Allah kepada
hamba hambaNya, ia menjadikan wasiat itu sebagai sarana mencapai
kekayaan, membayar hutang, dan ampunan Tuhan, kita berlindung
kepada Allah dari kehinaan, mengikuti hawa nafsu dan syaithan.
Ketiga:
Isi kandungannya yang berbunyi: “Sedangkan barang siapa yang
tidak menulisnya, maka hitamlah mukanya di dunia dan akhirat.”
Ini juga merupakan kebohongan besar dan bukti nyata atas
kebatilan wasiat tersebut serta pengecutnya pendustanya, mana
ada orang yang berakal akan menerima perkataan itu, pembawa
wasiat itu adalah seorang manusia yang hidup pada abad keempat
belas hijriyah, dan tidak diketahui identitasnya, ia mendakwakan
kebohongan atas diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
dengan anggapan bahwa barang siapa yang menulisnya akan dijamin
dengan tiga jaminan di atas.
MahaSuci Engkau Ya Allah, ini merupakan kebohongan yang besar,
bukti bukti dan realita yang secara empiris telah menunjukkan
atas kebohongan pendusta itu, betapa besar dosanya di sisi
Allah, sebab kelancangannya benar-benar ia tidak punya malu
terhadap Allah dan semua manusia, karena telah banyak orang yang
tidak menulis wasiat ini, namun mereka toh mukanya tidak hitam,
di lain pihak telah banyak orang yang menulis wasiat ini, namun
mereka masih juga tetap tidak bisa membayar hutangnya, dan tetap
saja dalam kefakirannya.
Maka marilah kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dari kecenderungan hati dan dari kotoran dosa, sifat-sifat dan
balasan-balasan di atas tidak pernah di janjikan oleh syariat
yang mulia bagi orang orang yang menulis kitab suci Al Qur’an,
kitab yang paling mulia dan paling agung, bagaimana hal itu bisa
dicapai oleh orang yang menulis wasiat bohong, wasiat yang
mencakup berbagai kebatilah, dan dihiasi bermacam macam
kekafiran.
MahaSuci Allah, alangkah sabarnya Dia (Allah) terhadap hamba
hamba yang berbuat dusta atas-Nya.
Keempat:
Isi wasiat ini berbunyi: “Barang siapa yang percaya kepada
wasiat ini, pasti akan selamat dari siksaan neraka, jika tidak
percaya kafirlah dia.”
Ini juga merupakan keberanian yang luar biasa untuk berbuat
bohong, dengan kebatilannya pendusta itu mengajak semua manusia
untuk mempercayai tipu dayanya, ia mengira bahwasanya mereka
akan selamat dari api neraka jika memang mau mempercayainya, dan
barang siapa yang tidak mempercayainya maka ia pantas dianggap
kafir, demi Allah, pembohong itu tidak mengatakan sesuatu yang
haq, bahkan sebaliknya, jika ada orang yang mempercayainya maka
ia pasti dianggap kafir, bukan orang yang mendustakannya karena
dakwaannya tidak berdasar dalil.
Kita bersaksi kepada Allah, bahwasanya dakwaan itu adalah bohong
belaka, pendusta itu hendak mensyariatkan kepada manusia apa apa
yang tidak di izinkan Allah, dan sengaja memasukkan sesuatu hal
baru dalam agama mereka apa apa yang tidak ada didalamnya,
sedangkan Allah telah melengkapi dan mencukupkan agama umat ini,
sejak empat belas abad yang silam, yaitu sebelum datangnya
pendusta ini.
Maka berwaspadalah, wahai para sidang pembaca dan kawan-kawan
seagama, janganlah percaya terhadap dakwaan-dakwaan dusta
seperti ini, jauhilah penyebarannya di kalangan anda sekalian,
karena yang haq selalu disinari oleh cahaya yang tidak kabur,
carilah kebenaran disertai dalilnya, bertanyalah kepada para
Ulama jika kamu mendapatkan kesulitan, dan janganlah tertipu
oleh sumpah sumpah bohong pendusta, karena iblis telah bersumpah
kepada kedua orang tua kita yaitu Adam dan Hawa, bahwasanya ia
sebagai penasehat bagi keduanya, padahal ia tak lain adalah
gembong penghianat dan pendusta ulung, sebagaimana yang
diceritakan Allah dalam Al Qur’an:
وقاسمهما
إني لكما
لمن
الناصحين
“Dan dia (syaithan) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa),
sesungguhnya saya adalah termasuk orang orang yang memberi
nasehat kepadmu sekalian ” (Al A’raf, 21).
Maka dari itu, anda sekalian harus selalu waspada terhadap
pendusta ini dan para pengikutnya, sebab banyak diantara mereka
yang mempunyai sumpah bohong, mengingkari janji, dan menghiasi
perkataan-perkataannya untuk membujuk dan menyesatkan.
Semoga Allah tetap memelihara kami, anda sekalian dan kaum
muslimin semua dari segala kejahatan syaithan, fitnah
orang-orang yang menyesatkan, penyelewengan orang orang yang
menyimpang, dan tipu daya musuh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
mereka hendak membaurkan agama dan memadamkan cahaya Allah
dengan mulut-mulut mereka dan mengkaburkan agamaNya bagi umat
manusia, tetapi Allah pasti menyempurnakan cahaya-Nya serta
menolong agama-Nya, walaupun musuh musuh-Nya baik dari kelompok
syaithan dan pengikutnya maupun orang orang kafir dan atheis itu
tidak rela.
Adapun hal hal yang telah disebutkan pendusta ini tentang
timbulnya kemungkaran-kemungkaran adalah realitas, dan Al Qur’an
dan hadits pun telah memperingatkan kita sejauh mungkin, pada
keduanya (Al Qur’an dan Hadits) terdapat hidayah dan kecukupan.
Mari kita memohon kepada Allah, agar berkenan memperbaiki
keadaan kaum muslimin dan memberi karunia kepada mereka untuk
tetap mengikuti yang haq dan tetap konsisten dalam
menjalankannya, serta mau bertaubat kepada-Nya dan meminta
ampunan-Nya dari segala macam dosa, karena sesungguhnya Dia Maha
Penerima taubat, Pemurah dan berkuasa atas segala galanya.
Adapun yang telah disebutkan tentang tanda-tanda hari kiamat,
maka hal itu sudah dijelaskan oleh hadits-hadits shahih, selain
juga Al Qur’an telah menyinggung sebagian saja, barang siapa
yang ingin mengetahuinya ia dapat mendapatkannya pada bab-bab
tertentu dalam buku buku hadits serta karangan karangan para
ahli ilmu dan iman.
Akhirnya, sudah cukup jelas bagi kita bahwa kebohongan pendusta
itu tidak diragukan lagi, karena ia telah mengkaburkan dan
mencampur adukan antara yang haq dan yang batil, cukup Allahlah
sebagai penolong kita, Dia sebaik baik pelindung, tak ada
kekuasaan dan kekuatan apapun kecuali di tangan Allah.
الحمد لله
رب
العالمين،
وصلى الله
على عبده
ورسوله
الصادق
الأمين،
وعلى آله
وأصحابه
وأتباعه
بإحسان إلى
يوم الدين.
Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
(Dikutip dari الحذر من
البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin
Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen
Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”)
Beri peringkat:10 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari
Juni 16, 2009
dalam "Aqidah"
Fatwa Tentang Nyanyian
Februari 23, 2008
dalam "Adab dan Akhlak"
Biografi Asy Syaikh Washiyullah Abbas
April 30, 2015
dalam "Kisah dan Biografi"
Ditulis dalam Aqidah |
*****************************************************
Page 1 of 1