DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
*****************************************************
#Post#: 731--------------------------------------------------
Bagaimana Cara Meruqyah yang Benar?
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 7:43 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Bagaimana Cara Meruqyah yang Benar?
Februari 2, 2009 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Rabi’ ibn Hadi Al Madkhali
Pertanyaan:
Yang mulia, guru dan orang tua kami, Rabi’ bin Hadi Al Madkhali
hafidzakumullah! Di tengah kami ada seorang peruqyah
memerintahkan wanita yang kerasukan agar meletakkan minyak wangi
misik di kemaluan, dubur, kedua puting payudara, dan dua bibir.
Dia berpandangan bahwa tata cara ini bisa mencegah dari
persetubuhan jin yang sedang merasukinya. Menurutnya, hal ini
telah teruji dengan pengalaman. Apakah perbuatannya ini benar?
Berilah kami penjelasan, semoga Allah memberkahi anda.
Jawab:
Dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. Segala
puji bagi Allah, dan semoga shalawat dan salam tercurahkan atas
Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang
mengambil hidayah dengan petunjuknya.
Berobat adalah perkara yang disyariatkan dan diperbolehkan.
“Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan Allah
menurunkan pula obatnya. Mengetahuinya siapa yang bisa
mengetahuinya dan tidak mengetahuinya siapa yang tidak bisa
mengetahuinya.”
Ruqyah disyariatkan dengan menggunakan Al Qur`an. Al Qur`an
adalah penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Al
Qur`an tidak memberi manfaat pada orang-orang yang zhalim
melainkan kerugian. Tak ada obat yang lebih ampuh daripada
ruqyah dengan menggunakan Al Qur`an dan As Sunnah, tetapi dengan
beberapa syarat:
• Keikhlasan peruqyah dan yang diruqyah, semoga Allah memberkahi
anda. Selain itu, penyandaran diri yang benar kepada Allah. Bila
dua belah pihak ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya tak
ada obat yang lebih ampuh dibanding ruqyah dengan Al Qur`an
maupun As Sunnah. Ini perkara yang dikenal di kalangan para
ulama, mereka sendiri yang mengatakan dan menukilkannya.
Al ‘ain merupakan perkara yang dikenal. Al ‘ain adalah
menimpakan sesuatu melalui proses sorotan mata pelaku. Bisa jadi
pelaku Al ‘ain adalah orang yang jahat. Dari sorot kedua matanya
yang jahat, bahaya dapat menimpa seorang yang didengki sehingga
mencelakainya. Al ’ain itu terjadi namun dengan seizin Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa Al ‘ain memiliki pengaruh. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Al ‘ain adalah benar (adanya).” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Sihir adalah perkara nyata, tetapi tidak membahayakan kecuali
dengan seizin Allah. Pengobatan yang paling ampuh untuk sihir,
Al ‘ain, Al humah (panas yang dahsyat akibat tersengat binatang
berbisa, pent.), dan yang serupanya, yaitu ruqyah syar’iyyah
dengan menggunakan Al Qur`an dan As Sunnah, jika terpenuhi
syarat keikhlasan dan kejujuran. Sebab, bisa saja seorang tidak
punya kepercayaan atau malah buruk sangka kepada Allah atau si
peruqyah adalah seorang dajjal yang pendusta, sehingga dia tidak
mau menggunakan Al Qur`an dan justru bersandar kepada tipu
daya-tipu daya lainnya.
Banyak manusia yang suka mengorbitkan diri untuk meruqyah. Dia
unjuk diri serta mempublikasikan dan menyebarluaskan berbagai
iklan bahwa dirinya adalah peruqyah yang maasyaa Allah (hebat).
Perbuatan ini merupakan kelicikan, kedustaan, penonjolan diri,
serta perampasan harta manusia tanpa kebenaran. Mereka
sedikitpun tidak menguntungkan manusia.
Acapkali, mereka menggunakan tipu daya. Ini merupakan metode
yang hampa. Orang ini mengatakan bahwa dirinya didatangi oleh
seorang wanita bahkan dua atau tiga orang wanita, lalu dia
mengajaknya berbicara dengan tata cara rendahan, (yaitu ucapan),
“Oleskan pada kemaluanmu..oleskan pada duburmu…”
Ini adalah orang yang buruk akhlaq lagi rendah. Saya
menasehatkannya agar bertakwa kepada Allah dan meninggalkan
profesi meruqyah. Ruqyah bisa dilakukan oleh setiap muslim yang
ikhlas, jujur, dan dikenal dengan ketakwaan serta keshalihan.
Tidak perlu dia mengorbitkan diri dan mengiklankan kepada
manusia bahwa dirinya seorang peruqyah, sehingga para lelaki dan
wanita berdatangan kepadanya dari berbagai tempat, baik dari
jarak jauh maupun dekat. Hal ini sama sekali tidak disyariatkan.
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengorbitkan
dirinya seperti itu. Dahulu beliau meruqyah dirinya atau orang
lain bila manusia membutuhkan. Adapun seorang yang mengorbitkan
dan meletakkan dirinya pada posisi ruqyah laksana jabatan
berfatwa merupakan kekeliruan, terlebih lagi bila dia bersandar
kepada cara-cara yang mengandung petunjuk akan keinginan dan
tujuan yang rendah, serta kedunguan.
Wahai saudaraku! Lakukanlah pengobatan dan jangan membebani
dirimu.
“Dan tidaklah Aku termasuk orang-orang yang membebani diri.”
(Shaad: 86)
Rasulullah sudah memberitakan kepadamu bahwa ruqyah itu adalah
dengan Al Qur’an dan As sunnah. Segala urusan berada di tangan
Allah ‘Azza wa Jalla. Laksanakanlah sebab yang telah
disyariatkan dan jangan engkau berasandar kepada tipu daya-tipu
daya, pengalaman-pengalaman yang jelek , dan omong kosong.
• Mengikuti Rasulullah secara benar. Maksudnya, engkau melakukan
sebagaimana yang dilakukannya dan jangan engkau
mengubah-ubahnya, tidak pada tata cara, bentuk, dan apapun juga.
Lakukanlah sebagaimana beliau melakukannnya. Engkau shalat
sebagaimana beliau shalat. Engkau haji sebagaimana beliau haji.
Engkau mengikutinya dalam segala perkara, dan engkau berbuat
sebagaimana beliau memperbuatnya. Adapun mengada-ada dalam bab
ini, maksudnya bab ruqyah, dan segala kebutuhan ini, bukanlah
perkara diperbolehkan.
Jika engkau meruqyah manusia dengan Al Qur`an maupun As Sunnah
tidak memberi manfaat, bisa jadi karena kekurangan yang terjadi
pada pihak yang diruqyah atau karena suatu perkara yang memang
Allah ta’ala inginkan. Lalu kenapa engkau pergi kepada
sarana-sarana lain dan mengada-ada berbagai perkara yang lain
pula? Tak ada yang membebanimu (dengan hal itu) melainkan
kecintaan kepada harta, ketenaran, dan ucapan kosong.
Aku sendiri tidak meruqyah seorang pun, bahkan aku tidak suka
meruqyah karena perbuatan orang-orang yang mengorbitkan
diri-diri mereka untuk meruqyah dalam rangka merampas harta
manusia, lalu mereka bersandar kepada berbagai cara dan tipu
daya yang seperti ini.
• Aku menasehatkan kepada orang ini –jika dia adalah seorang
salafy- agar bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meniggalkan
keinginan untuk mencari ketenaran, maupun mengorbitkan diri
untuk profesi ruqyah. Hendaklah dia meniggalkan metode tersebut.
Engkau adalah salah satu dari kaum muslimin. Bila ada yang
membutuhkanmu, ruqyahlah dia dengan cara yang syar’i, dan itu
cukup bagimu. Biarkan arena itu untuk yang selainmu dan
janganlah engkau menumpuk-numpuk pekerjaan ruqyah. Sebab,
menumpuk-numpuk pekerjaan ruqyah menunjukkan kepada tujuan yang
jelek, semoga Allah memberkahi anda.
Di tengah masyarakat tentu ada orang yang lebih baik darimu.
Doanya lebih dikabulkan daripada doamu. Lalu kenapa engkau
menumpuk-numpuk pekerjaan ini (untuk dirimu) dan bersandar pada
cara-cara itu?
Aku menasehatkan orang ini agar bertakwa kepada Allah, mengikuti
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jalan Al
mukminin. Jangan dia menampilkan diri untuk meruqyah dan
membebani diri dalam perkara-perkara itu. Hendaknya, dia memberi
kesempatan bagi orang lain. Muslim manapun yang pada dirinya
terdapat kebaikan dan takwa, maka dia adalah ruang pengabulan.
Jika dia berdoa, niscaya akan dikabulkan. Jika dia membaca Al
Qur`an, niscaya Allah akan mengabulkan doanya. Allah pun akan
menyembuhkan penyakit disebabkan dirinya, keikhlasannya,
kejujurannya, dan sarana syar’i yang telah ditempuhnya.
Semoga Allah melimpahkan bimbingan-Nya kepada kita semua, yang
membawa kepada kecintaan dan keridhaan-Nya. Dan semoga Allah
mencurahkan shalawat dan salam-Nya kepada nabi kita Muhammad dan
keluarganya. Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
(Dinukil untuk Blog Ulamasunnah dari buku Menguak Misteri
Ruqyah, karya Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani, Penerbit: Al
Husna Jogjakarta)
Beri peringkat:6 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Nasehat Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali
Juli 28, 2009
dalam "Manhaj"
Biografi Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali
Februari 4, 2008
dalam "Aqidah"
Kedudukan Jesus Kristus Dalam Islam (1) – Pengantar Redaksi
Desember 22, 2008
dalam "Aqidah"
Ditulis dalam Aqidah | Dengan kaitkata Ruqyah dan Thibbun Nabawy
|
*****************************************************
Page 1 of 1