URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ [3] PARA TABI'IN
       *****************************************************
       #Post#: 93--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in: Muhammad Ibn Al-Hanafiyyah
   DIR By: NepDevelopment
       Date: December 24, 2023, 1:31 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Muhammad ibn Al-Hanafiyyah
       (Wafat 181 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=63
       Namanya adalah Muhammad [i]ibn al-Hanafiah, ia banyak menimba
       ilmu dari ‘Ali ibn Abi Thalib’ pada saat Telah terjadi
       percekcokan antara Muhammad ibn al-Hanafiyyah dan saudaranya
       al-Hasan ibn Ali, maka ibn al-Hanafiah mengirim surat kepada
       saudaranya itu, isinya: “Sesungguhnya Allah telah memberikan
       kelebihan kepadamu atas diriku… Ibumu Fathimah [i]bint Muhammad
       ibn Abdullah, sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani
       ‘Haniifah’. Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan
       makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah
       Ja’far ibn Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah
       dan berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan
       atas diriku dalam segala hal.”[/i]
       Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan… ia segera ke
       rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad ibn
       al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang
       pandai dan berakhlak lembut ini? Marilah, kita membuka lembaran
       hidupnya dari awal.
       Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam. Pada suatu hari, Ali ibn Abi Thalib duduk
       bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berkata,
       “Wahai Rasulullah… apa pendapatmu apabila aku dikaruniani
       seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya
       dengan namamu dan memberikan kun-yah (sapaan yang biasanya
       diungkapkan dengan ‘Abu fulan…’) dengan kunyah-mu?.” “Ya” jawab
       beliau.
       Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang mulia
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertemu dengan ar-Rafiiqul al-A’laa
       (berpulang ke sisi Allah)…dan setelah hitungan beberapa bulan
       Fathimah yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul
       beliau (wafat).
       Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia menikahi
       Khaulah bint Ja’far ibn Qais al-Hanafiyyah, yang kemudian
       melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya
       “Muhammad” dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas
       izin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hanya saja
       orang-orang terlanjur memanggilnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah,
       untuk membedakannya dengan kedua saudaranya al-Hasan dan
       al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra. Kemudian iapun dikenal
       dalam sejarah dengan nama tersebut.
       Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa Khilafah
       Ash-Shiddiq (Abu Bakar) radhiyallahu 'anhu. Ia tumbuh dan
       terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali ibn Abi Thalib, ia
       lulus di bawah didikannya.
       Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya… mewarisi kekuatan
       dan keberaniannya…menerima kefasihan dan balaghoh darinya.
       Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran…singa
       mimbar di perkumpulan manusia…seorang ahli ibadah malam
       (Ruhbaanullail) apabila kegelapan telah menutup tirainya ke atas
       alam dan saat mata-mata tertidur lelap.
       Ayahnya telah mengutusnya ke dalam pertempuran-pertempuran yang
       ia ikuti.
       Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban
       pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya yang
       lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak
       pernah melemah keteguhannya.
       Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya, “Mengapakah ayahmu
       menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan membebankanmu apa yang
       kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang sempit
       tanpa kedua saudaramu al-Hasan dan al-Husain?”
       Ia menjawab, “Yang demikian itu karena kedua saudaraku menempati
       kedudukan dua mata ayahku… sedangkan aku menempati kedudukan dua
       tangannya… sehingga ia (Ali) menjaga kedua matanya dengan kedua
       tangannya.”
       Dalam perang “Shiffin” yang berkecamuk antara Ali ibn Abi Thalib
       dan Muawiyyah ibn Abi Sufyan radhiyallahu’anhu. Adalah Muhammad
       ibn al-Hanafiyyah membawa panji ayahnya.
       Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan dari dua
       kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia riwayatkan sendiri. Ia
       menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam perang
       “Shiffin”, kami bertemu dengan para sahabat Muawiyyah, kami
       saling membunuh hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa
       seorang pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini
       adalah perbuatan keji dan besar.
       Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang yang
       berteriak di belakangku,
       “Wahai kaum Muslimin… (takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada
       Allah)… Wahai kaum Muslimin…”
       “Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…”
       “Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…”
       “Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?…”
       “Wahai kaum Muslimin… takutlah kepada Allah, takutlah kepada
       Allah dan sisakan kaum muslimin, Wahai ma’syaral muslimin.”
       Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk tidak
       mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.
       Kemudian Ali mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di
       tangan Abdurrahman ibn Miljam)
       Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyyah ibn Abi Sufyan. Maka,
       Muhammad ibn al-Hanafiyyah membai’atnya untuk selalu ta’at dan
       patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya
       untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk
       menggapai izzah bagi Islam dan Muslimin.
       Muawiyyah merasakan ketulusan bai’at ini dan kesuciannya. Ia
       merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal mana
       menjadikannya mengundang Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk
       mengunjunginya.
       Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari sekali…dan
       lebih dari satu sebab.
       Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada
       Muawiyyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya raja-raja di sini saling
       berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka
       bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang
       mereka miliki… sebagin mereka saling berlomba dengan sebagian
       yang lain dengan keajaiban-keajaiban yang ada di
       kerajaan-kerajaan mereka. Maka, apakah kamu mengizinkan aku
       untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa
       yang terjadi di antara mereka?”
       Maka, Muawiyyah mengiyakannya dan mengizinkannya.
       Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya. Salah seorang
       darinya berbadan tinggi dan besar sekali sehingga seakan-akan ia
       ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau gedung
       tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang
       yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang
       liar yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya,
       ia berkata dalam suratnya, “Apakah di kerajaanmu ada yang
       menandingi kedua orang ini, tingginya dan kuatnya?.”
       Muawiyyah lalu berkata kepada ‘Amr ibn al-‘Aash, “Adapun orang
       yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang yang sepertinya
       bahkan lebih darinya… ia Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah. Adapun orang
       yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”
       ‘Amr berkata, “Di sana ada dua orang untuk urusan ini, hanya
       saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad ibn
       al-Hanafiyyah dan Abdullah ibn az-Zubair.”
       “Sesungguhnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidaklah jauh dari
       kita,” kata Muawiyyah.
       “Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla bersama
       kebesaran kemuliaannya dan ketinggian kedudukannya untuk
       mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton
       manusia?,” tanya ‘Amr.
       Muawiyyah berkata, “Sesungguhnya ia akan melakukan hal itu dan
       lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah bagi Islam
       padanya.”
       Kemudian Muawiyyah memanggil keduanya, Qais ibn Sa’d dan
       Muhammad ibn al-Hanafiyyah.
       Ketika majelis telah dimulai, Qais ibn Sa’d berdiri dan
       melepaskan sirwal-sirwal-nya (celana yang lebar) lalu
       melemparkannya kepada al-‘Ilj** dari Romawi dan menyuruhnya
       untuk memakainya. Ia pun memakainya…maka, sirwalnya menutupi
       sampai di atas kedua dadanya sehingga orang-orang ketawa
       dibuatnya.
       Adapun Muhammad ibn al-Hanafiyyah, ia berkata kepada
       penterjemahnya, “Katakan kepada orang Romawi ini… apabila ia
       mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya
       kepadaku. Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang
       mendudukkanku… Dan bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang
       duduk…”
       Orang Romawi tadi memilih duduk.
       Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya) berdiri…dan
       orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya) duduk…
       Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia memilih
       berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu memegang tangannya dan
       menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan
       lengannya dari pundaknya… dan mendudukkannya di tanah.
       Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada rajanya dalam
       keadaan kalah dan terhina.
       Hari-hari berputar lagi…
       Muawiyyah dan putranya Yazid serta Marwan ibn al-Hakam telah
       berpindah ke rahmatullah… Kepemimpinan Bani Umayyah berpindah
       kepada Abdul Malik ibn Marwan, ia mengumumkan dirinya sebagai
       khalifah muslimin dan penduduk Syam membai’atnya.
       Sementara penduduk Hijaz dan Irak telah membai’at Abdullah ibn
       az-Zubair.
       Setiap dari keduanya mulai menyeru orang yang belum membai’atnya
       untuk membai’atnya… dan mendakwakan kepada manusia bahwa ia yang
       paling berhak dengan kekhalifahan daripada sahabatnya. Barisan
       kaum muslimin pun terpecah lagi…
       Di sinilah Abdullah ibn az-Zubair meminta kepada Muhammad ibn
       al-Hanafiyyah untuk membai’atnya sebagaimana penduduk Hijaz
       telah membai’atnya.
       Hanya saja ibn al-Hanafiyyah memahami betul bahwa bai’at akan
       menjadikan hak-hak yang banyak di lehernya bagi orang yang ia
       bai’at. Di antaranya adalah menghunus pedang untuk menolongnya
       dan memerangi orang-orang yang menyelisihinya. Dan para
       penyelisihnya hanyalah orang-orang muslim yang telah berijtihad,
       lalu membai’at orang yang tidak ia bai’at.
       Tidaklah orang yang berakal sempurna lupa akan kejadian di hari
       “Shiffin.”
       Tahun yang panjang belum mampu menghapus suara yang menggelegar
       dari kedua pendengarannya, kuat dan penuh kesedihan, dan suara
       itu memanggil dari belakangnya,
       “Wahai kaum Muslimin… (takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada)
       Allah… Wahai kaum Muslimin…
       Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…
       Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…
       Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami.”
       Ya, ia belum lupa sedikitpun dari itu semua.
       Maka, ia berkata kepada Abdullah ibn az-Zubair, “Sesungguhnya
       engkau mengetahui dengan sebenar-benarnya, bahwa dalam perkara
       ini aku tidak memiliki tujuan dan tidak pula permintaan…hanyalah
       aku ini seseorang dari kaum muslimin. Apabila kalimat (suara)
       mereka berkumpul kepadamu atau kepada Abdul Malik, maka aku akan
       membai’at orang yang suara mereka berkumpul padanya. Adapun
       sekarang, aku tidak membai’atmu… juga tidak membai’atnya.”
       Mulailah Abdullah mempergaulinya dan berlemah lembut kepadanya
       dalam satu kesempatan. Dan dalam kesempatan yang lain ia
       berpaling darinya dan bersikap keras kepadanya.
       Hanya saja, Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak berselang lama
       hingga banyak orang yang bergabung dengannya ketika mereka
       mengikuti pendapatnya. Dan mereka menyerahkan kepemimpinan
       mereka kepadanya, hingga jumlah mereka sampai tujuh ribu orang
       dari orang-orang yang memilih untuk memisahkan diri dari fitnah.
       Dan mereka enggan untuk menjadikan diri mereka kayu bakar bagi
       apinya yang menyala.
       Setiap kalii pengikut ibn al-Hanafiyyah bertambah jumlahnya,
       bertambahlah kemarahan ibn az-Zubair kepadanya dan ia terus
       mendesaknya untuk membai’atnya.
       Ketika ibn az-Zubair telah putus asa, ia memerintahkannya dan
       orang-orang yang bersamanya dari Bani Hasyim dan yang lainnya
       untuk menetap di Syi’b (celah di antara dua bukit) mereka di
       Makkah, dan ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi mereka.
       Kemudian ia berkata kepada mereka, “Demi Allah, sungguh-sungguh
       kalian harus membai’atku atau benar-benar aku akan membakar
       kalian dengan api…
       Kemudian ia menahan mereka di rumah-rumahnya dan mengumpulkan
       kayu bakar untuk mereka, lalu mengelilingi rumah-rumah dengannya
       hingga sampai ujung tembok. Sehingga seandainya ada satu kayu
       bakar menyala niscaya akan membakar semuanya.
       Di saat itulah, sekelompok dari para pengikut ibn al-Hanafiyyah
       berdiri kepadanya dan berkata, “Biarkan kami membunuh ibn
       az-Zubair dan menenangkan manusia dari (perbuatan)nya.”
       Ia berkata, “Apakah kita akan menyalakan api fitnah dengan
       tangan-tangan kita yang karenanya kita telah menyepi (memisahkan
       diri)… dan kita membunuh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu
       ‘Alaihi Wassalam dan anak-anak dari sahabatnya?! Tidak, demi
       Allah kita tidak akan melakukan sedikitpun apa yang manjadikan
       Allah dan Rasul-Nya murka.”
       Berita tentang apa yang diderita oleh Muhammad ibn al-Hanafiyah
       dan para pengikutnya dari kekerasan Abdullah ibn az-Zubair
       sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan. Ia melihat kesempatan
       emas untuk menjadikan mereka condong kepadanya.
       Ia lantas mengirim surat bersama seorang utusannya, yang
       seandainya ia menulisnya untuk salah seorang anaknya tentunya
       ‘dialek’nya tidak akan sehalus itu dan redaksinya tidak selembut
       itu.
       Dan di antara isi suratnya adalah, “Telah sampai berita kepadaku
       bahwa ibn az-Zubair telah mempersempit gerakmu dan orang-orang
       yang bersamamu… ia memutus tali persaudaraanmu… dan merendahkan
       hakmu. Ini negeri Syam terbuka di depanmu, siap menjemputmu dan
       orang-orang yang bersamamu dengan penuh kelapangan dan keluasan…
       singgahlah di sana dimana engkau mau, niscaya engkau akan
       menemukan penduduknya mengucapkan selamat kepadamu dan para
       tetangga yang mencintaimu… dan engkau akan mendapatkan kami
       orang-orang yang memahami hakmu… menghormati keutamaanmu… dan
       menyambung tali persaudaraanmu insyaaAllah…
       Muhammad ibn al-Hanafiyah dan orang-orang yang bersamanya
       berjalan menuju negeri Syam… sesampainya di “Ublah”, mereka
       menetap di sana.
       Penduduknya menempatkan mereka di tempat yang paling mulia dan
       menjamu mereka dengan baik sebaga tetangga.
       Mereka mencitai Muhammad ibn al-Hanafiyah dan mengagungkannya,
       karena apa yang mereka lihat dari kedalaman (ketekunan)
       ibadahnya dan kejujuran zuhudnya.
       Ia mulai menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka
       dari yang munkar. Ia mendirikan syi’ar-syi’ar di antara mereka
       dan mengadakan ishlah dalam perselisihan mereka. Ia tidak
       membiarkan seorang pun dari manusia mendzalimi orang lain.
       Di saat berita itu sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan, hal
       tersebut memberatkan hatinya. Ia kemudian bermusyawarah dengan
       orang-orang terdekatnya. Mereka berkata kepadanya, “Kami tidak
       berpendapat agar engkau memperbolehkannya tinggal di kerajaanmu.
       Sedangkan sirahnya sebagaimana yang engkau ketahui…entah ia
       membai’atmu… atau ia kembali ke tempatnya semula.”
       Maka, Abdul Malik menulis surat untuknya dan berkata,
       “Sesungguhnya engkau telah mendatangi negeriku dan engkau
       singgah di salah satu ujungnya. Dan ini peperangan yang terjadi
       antara diriku dan Abdullah ibn az-Zubair. Dan engkau adalah
       seseorang yang memiliki tempat dan nama di antara kaum Muslimin.
       Dan aku melihat agar engkau tidak tinggal di negeriku kecuali
       bila engkau membai’atku. Bila engkau membai’atku, aku akan
       memberimu seratus kapal yang datang kepadaku dari “al-Qalzam”
       kemarin, ambillah beserta apa yang ada padanya. Bersama itu
       engkau berhak atas satu juta dirham ditambah dengan jumlah yang
       kamu tentukan sendiri untuk dirimu, anak-anakmu, kerabatmu,
       budak-budakmu dan orang-orang yang bersamamu. Bila engkau
       menolaknya maka pergilah dariku ke tempat yang aku tidak
       memiliki kekuasaan atasnya.”
       Muhammad ibn al-Hanafiyah kemudian menulis balasan, “Dari
       Muhammad ibn Ali, kepada Abdul Malik ibn Marwan. Assalamu
       ‘alaika… Sesungguhnya aku memuji kepada Allah yang tidak ada
       Ilah yang berhak disembah selain Dia, (aku berterima kasih)
       kepadamu. Amma ba’du… Barangkali engkau menjadi ketakutan
       terhadapku. Dan aku mengira engkau adalah orang yang paham
       terhadap hakikat sikapku dalam perkara ini. Aku telah singgah di
       Makkah, maka Abdullah ibn az-Zubair menginginkan aku untuk
       membai’atnya, dan tatkala aku menolaknya ia pun berbuat jahat
       terhadap pertentanganku. Kemudian engkau menulis surat kepadaku,
       memanggilku untuk tinggal di negeri Syam, lalu aku singgah di
       sebuah tempat di ujung tanahmu di karenakan harganya murah dan
       jauh dari markaz (pusat) pemerintahanmu. Kemudian engkau menulis
       kepadaku apa yang telah engkau tuliskan. Dan kami InsyaaAllah
       akan meninggalkanmu.”
       Muhammad ibn al-Hanafiyyah beserta orang-orangnya dan kelurganya
       meninggalkan negeri Syam, dan setiap kali ia singgah di suatu
       tempat ia pun di usir darinya dan diperintahkan agar pergi
       darinya.
       Dan seakan-akan kesusahan belum cukup atasnya, hingga Allah
       berkehendak mengujinya dengan kesusahan lain yang lebih besar
       pengaruhnya dan lebih berat tekanannya…
       Yang demikian itu, bahwa sekelompok dari pengikutnya dari
       kalangan orang-orang yang hatinya sakit dan yang lainnya dari
       kalangan orang-orang lalai. Mereka mulai berkata, “Sesungguhnya
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menitipkan di hati
       Ali dan keluarganya banyak sekali rahasia-rahasia ilmu,
       qaidah-qaidah agama dan perbendaharaan syariat. Beliau telah
       mengkhususkan Ahlul Bait dengan apa yang orang lain tidak
       mengetahuinya.”
       Orang yang ‘alim, beramal dan mahir ini memahami betul apa yang
       diusung oleh ucapan ini dari penyimpangan, serta bahaya-bahaya
       yang mungkin diseretnya atas Islam dan Muslimin. Ia pun
       mengumpulkan manusia dan berdiri mengkhutbahi mereka… ia memuji
       Allah subhanahu wata’ala dan menyanjungnya dan bershalawat atas
       Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam… kemudian
       berkata, “Sebagian orang beranggapan bahwa kami segenap Ahlul
       Bait mempunyai ilmu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       mengkhususkan kami dengannya, dan tidak memberitahukan kepada
       siapapun selain kami. Dan kami -demi Allah- tidaklah mewarisi
       dari Rasulullah melainkan apa yang ada di antara dua lembaran
       ini, (dan ia menunjuk ke arah mushaf). Dan sesungguhnya
       barangsiapa yang beranggapan bahwa kami mempunyai sesuatu yang
       kami baca selain kitab Allah, sungguh ia telah berdusta.”
       Adalah sebagian pengikutnya mengucapkan salam kepadanya, mereka
       berkata, “Assalamu’alaika wahai Mahdi.”
       Ia menjawab, “Ya, aku adalah Mahdi (yang mendapat petunjuk)
       kepada kebaikan… dan kalian adalah para Mahdi kepada kebaikan
       insyaaAllah… akan tetapi apabila salah seorang dari kalian
       mengucapkan salam kepadaku, maka hendaklah menyalamiku dengan
       namaku. Hendaklah ia berkata, “Assalamu’alaika ya Muhammad.”
       Tidak berlangsung lama kebingungan Muhammad ibn al-Hanafiyyah
       tentang tempat yang akan ia tinggali beserta orang-orang yang
       bersamanya… Allah telah berkehendak agar al-Hajjaj ibn Yusuf
       ats-Tsaqafi menumpas Abdullah ibn az-Zubair… dan agar manusia
       seluruhnya membai’at Abdul Malik ibn Marwan.
       Maka, tidaklah yang ia lakukan kecuali menulis surat kepada
       Abdul Malik, ia berkata, “Kepada Abdul Malik ibn Marwan, Amirul
       Mukminin, dari Muhammad ibn Ali. Amma ba’du… Sesungguhnya
       setelah aku melihat perkara ini kembali kepadamu, dan manusia
       membai’atmu. Maka, aku seperti orang dari mereka. Aku
       membai’atmu untuk walimu di Hijaz. Aku mengirimkan bai’atku ini
       secara tertulis. Wassalamu’alaika.”
       Ketika Abdul Malik membacakan surat tersebut kepada para
       sahabatnya, mereka berkata, “Seandainya ia ingin memecah tongkat
       keta’atan (baca: keluar dari keta’atan) dan membikin perpecahan
       dalam perkara ini, niscaya ia mampu melakukannya, dan niscaya
       engkau tidak memiliki jalan atasnya… Maka tulislah kepadanya
       dengan perjanjian dan keamanan serta perjanjian Allah dan
       Rasul-Nya agar ia tidak diusir dan diusik, ia dan para
       sahabatnya.”
       Abdul Malik kemudian menulis hal tersebut kepadanya. Hanya saja
       Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak hidup lama setelah itu. Allah
       telah memilihnya untuk berada di sisi-Nya dalam keadaan ridla
       dan diridlai.
       Semoga Allah memberikan cahaya kepada Muhammad ibn al-Hanafiyah
       di kuburnya, dan semoga Allah mengindahkan ruhnya di surga… ia
       termasuk orang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi tidak
       pula ketinggian di antara manusia. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: – Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu’aim, III: 174, –
       Tahdziib at-Tahdziib, IX:354, – Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul
       Jauzi (cet. Halab), II: 77-79, – Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu
       Sa’d, V:91, – Al-Waafi ibn al-Wafayaat (terjemah): 1583, –
       Wafayaat al-A’yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169, – Al-Kamil,
       III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H, –
       Syadzarat adz-Dzahab, I:89,- Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat,
       I:88-89, – Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76, – Al-Ma’arif oleh
       Ibnu Qutaibah: 123, – Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih,
       tahqiq al-‘Urayyan, Juz II, III, V dan VII.
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1