DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ [3] PARA TABI'IN
*****************************************************
#Post#: 93--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Tabi’in: Muhammad Ibn Al-Hanafiyyah
DIR By: NepDevelopment
Date: December 24, 2023, 1:31 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Muhammad ibn Al-Hanafiyyah
(Wafat 181 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=63
Namanya adalah Muhammad [i]ibn al-Hanafiah, ia banyak menimba
ilmu dari ‘Ali ibn Abi Thalib’ pada saat Telah terjadi
percekcokan antara Muhammad ibn al-Hanafiyyah dan saudaranya
al-Hasan ibn Ali, maka ibn al-Hanafiah mengirim surat kepada
saudaranya itu, isinya: “Sesungguhnya Allah telah memberikan
kelebihan kepadamu atas diriku… Ibumu Fathimah [i]bint Muhammad
ibn Abdullah, sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani
‘Haniifah’. Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan
makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah
Ja’far ibn Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah
dan berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan
atas diriku dalam segala hal.”[/i]
Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan… ia segera ke
rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad ibn
al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang
pandai dan berakhlak lembut ini? Marilah, kita membuka lembaran
hidupnya dari awal.
Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Pada suatu hari, Ali ibn Abi Thalib duduk
bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berkata,
“Wahai Rasulullah… apa pendapatmu apabila aku dikaruniani
seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya
dengan namamu dan memberikan kun-yah (sapaan yang biasanya
diungkapkan dengan ‘Abu fulan…’) dengan kunyah-mu?.” “Ya” jawab
beliau.
Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang mulia
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertemu dengan ar-Rafiiqul al-A’laa
(berpulang ke sisi Allah)…dan setelah hitungan beberapa bulan
Fathimah yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul
beliau (wafat).
Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia menikahi
Khaulah bint Ja’far ibn Qais al-Hanafiyyah, yang kemudian
melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya
“Muhammad” dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas
izin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hanya saja
orang-orang terlanjur memanggilnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah,
untuk membedakannya dengan kedua saudaranya al-Hasan dan
al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra. Kemudian iapun dikenal
dalam sejarah dengan nama tersebut.
Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa Khilafah
Ash-Shiddiq (Abu Bakar) radhiyallahu 'anhu. Ia tumbuh dan
terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali ibn Abi Thalib, ia
lulus di bawah didikannya.
Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya… mewarisi kekuatan
dan keberaniannya…menerima kefasihan dan balaghoh darinya.
Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran…singa
mimbar di perkumpulan manusia…seorang ahli ibadah malam
(Ruhbaanullail) apabila kegelapan telah menutup tirainya ke atas
alam dan saat mata-mata tertidur lelap.
Ayahnya telah mengutusnya ke dalam pertempuran-pertempuran yang
ia ikuti.
Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban
pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya yang
lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak
pernah melemah keteguhannya.
Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya, “Mengapakah ayahmu
menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan membebankanmu apa yang
kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang sempit
tanpa kedua saudaramu al-Hasan dan al-Husain?”
Ia menjawab, “Yang demikian itu karena kedua saudaraku menempati
kedudukan dua mata ayahku… sedangkan aku menempati kedudukan dua
tangannya… sehingga ia (Ali) menjaga kedua matanya dengan kedua
tangannya.”
Dalam perang “Shiffin” yang berkecamuk antara Ali ibn Abi Thalib
dan Muawiyyah ibn Abi Sufyan radhiyallahu’anhu. Adalah Muhammad
ibn al-Hanafiyyah membawa panji ayahnya.
Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan dari dua
kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia riwayatkan sendiri. Ia
menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam perang
“Shiffin”, kami bertemu dengan para sahabat Muawiyyah, kami
saling membunuh hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa
seorang pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini
adalah perbuatan keji dan besar.
Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang yang
berteriak di belakangku,
“Wahai kaum Muslimin… (takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada
Allah)… Wahai kaum Muslimin…”
“Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…”
“Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…”
“Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?…”
“Wahai kaum Muslimin… takutlah kepada Allah, takutlah kepada
Allah dan sisakan kaum muslimin, Wahai ma’syaral muslimin.”
Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk tidak
mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.
Kemudian Ali mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di
tangan Abdurrahman ibn Miljam)
Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyyah ibn Abi Sufyan. Maka,
Muhammad ibn al-Hanafiyyah membai’atnya untuk selalu ta’at dan
patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya
untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk
menggapai izzah bagi Islam dan Muslimin.
Muawiyyah merasakan ketulusan bai’at ini dan kesuciannya. Ia
merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal mana
menjadikannya mengundang Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk
mengunjunginya.
Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari sekali…dan
lebih dari satu sebab.
Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada
Muawiyyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya raja-raja di sini saling
berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka
bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang
mereka miliki… sebagin mereka saling berlomba dengan sebagian
yang lain dengan keajaiban-keajaiban yang ada di
kerajaan-kerajaan mereka. Maka, apakah kamu mengizinkan aku
untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa
yang terjadi di antara mereka?”
Maka, Muawiyyah mengiyakannya dan mengizinkannya.
Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya. Salah seorang
darinya berbadan tinggi dan besar sekali sehingga seakan-akan ia
ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau gedung
tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang
yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang
liar yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya,
ia berkata dalam suratnya, “Apakah di kerajaanmu ada yang
menandingi kedua orang ini, tingginya dan kuatnya?.”
Muawiyyah lalu berkata kepada ‘Amr ibn al-‘Aash, “Adapun orang
yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang yang sepertinya
bahkan lebih darinya… ia Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah. Adapun orang
yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”
‘Amr berkata, “Di sana ada dua orang untuk urusan ini, hanya
saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad ibn
al-Hanafiyyah dan Abdullah ibn az-Zubair.”
“Sesungguhnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidaklah jauh dari
kita,” kata Muawiyyah.
“Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla bersama
kebesaran kemuliaannya dan ketinggian kedudukannya untuk
mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton
manusia?,” tanya ‘Amr.
Muawiyyah berkata, “Sesungguhnya ia akan melakukan hal itu dan
lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah bagi Islam
padanya.”
Kemudian Muawiyyah memanggil keduanya, Qais ibn Sa’d dan
Muhammad ibn al-Hanafiyyah.
Ketika majelis telah dimulai, Qais ibn Sa’d berdiri dan
melepaskan sirwal-sirwal-nya (celana yang lebar) lalu
melemparkannya kepada al-‘Ilj** dari Romawi dan menyuruhnya
untuk memakainya. Ia pun memakainya…maka, sirwalnya menutupi
sampai di atas kedua dadanya sehingga orang-orang ketawa
dibuatnya.
Adapun Muhammad ibn al-Hanafiyyah, ia berkata kepada
penterjemahnya, “Katakan kepada orang Romawi ini… apabila ia
mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya
kepadaku. Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang
mendudukkanku… Dan bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang
duduk…”
Orang Romawi tadi memilih duduk.
Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya) berdiri…dan
orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya) duduk…
Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia memilih
berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu memegang tangannya dan
menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan
lengannya dari pundaknya… dan mendudukkannya di tanah.
Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada rajanya dalam
keadaan kalah dan terhina.
Hari-hari berputar lagi…
Muawiyyah dan putranya Yazid serta Marwan ibn al-Hakam telah
berpindah ke rahmatullah… Kepemimpinan Bani Umayyah berpindah
kepada Abdul Malik ibn Marwan, ia mengumumkan dirinya sebagai
khalifah muslimin dan penduduk Syam membai’atnya.
Sementara penduduk Hijaz dan Irak telah membai’at Abdullah ibn
az-Zubair.
Setiap dari keduanya mulai menyeru orang yang belum membai’atnya
untuk membai’atnya… dan mendakwakan kepada manusia bahwa ia yang
paling berhak dengan kekhalifahan daripada sahabatnya. Barisan
kaum muslimin pun terpecah lagi…
Di sinilah Abdullah ibn az-Zubair meminta kepada Muhammad ibn
al-Hanafiyyah untuk membai’atnya sebagaimana penduduk Hijaz
telah membai’atnya.
Hanya saja ibn al-Hanafiyyah memahami betul bahwa bai’at akan
menjadikan hak-hak yang banyak di lehernya bagi orang yang ia
bai’at. Di antaranya adalah menghunus pedang untuk menolongnya
dan memerangi orang-orang yang menyelisihinya. Dan para
penyelisihnya hanyalah orang-orang muslim yang telah berijtihad,
lalu membai’at orang yang tidak ia bai’at.
Tidaklah orang yang berakal sempurna lupa akan kejadian di hari
“Shiffin.”
Tahun yang panjang belum mampu menghapus suara yang menggelegar
dari kedua pendengarannya, kuat dan penuh kesedihan, dan suara
itu memanggil dari belakangnya,
“Wahai kaum Muslimin… (takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada)
Allah… Wahai kaum Muslimin…
Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…
Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami.”
Ya, ia belum lupa sedikitpun dari itu semua.
Maka, ia berkata kepada Abdullah ibn az-Zubair, “Sesungguhnya
engkau mengetahui dengan sebenar-benarnya, bahwa dalam perkara
ini aku tidak memiliki tujuan dan tidak pula permintaan…hanyalah
aku ini seseorang dari kaum muslimin. Apabila kalimat (suara)
mereka berkumpul kepadamu atau kepada Abdul Malik, maka aku akan
membai’at orang yang suara mereka berkumpul padanya. Adapun
sekarang, aku tidak membai’atmu… juga tidak membai’atnya.”
Mulailah Abdullah mempergaulinya dan berlemah lembut kepadanya
dalam satu kesempatan. Dan dalam kesempatan yang lain ia
berpaling darinya dan bersikap keras kepadanya.
Hanya saja, Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak berselang lama
hingga banyak orang yang bergabung dengannya ketika mereka
mengikuti pendapatnya. Dan mereka menyerahkan kepemimpinan
mereka kepadanya, hingga jumlah mereka sampai tujuh ribu orang
dari orang-orang yang memilih untuk memisahkan diri dari fitnah.
Dan mereka enggan untuk menjadikan diri mereka kayu bakar bagi
apinya yang menyala.
Setiap kalii pengikut ibn al-Hanafiyyah bertambah jumlahnya,
bertambahlah kemarahan ibn az-Zubair kepadanya dan ia terus
mendesaknya untuk membai’atnya.
Ketika ibn az-Zubair telah putus asa, ia memerintahkannya dan
orang-orang yang bersamanya dari Bani Hasyim dan yang lainnya
untuk menetap di Syi’b (celah di antara dua bukit) mereka di
Makkah, dan ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi mereka.
Kemudian ia berkata kepada mereka, “Demi Allah, sungguh-sungguh
kalian harus membai’atku atau benar-benar aku akan membakar
kalian dengan api…
Kemudian ia menahan mereka di rumah-rumahnya dan mengumpulkan
kayu bakar untuk mereka, lalu mengelilingi rumah-rumah dengannya
hingga sampai ujung tembok. Sehingga seandainya ada satu kayu
bakar menyala niscaya akan membakar semuanya.
Di saat itulah, sekelompok dari para pengikut ibn al-Hanafiyyah
berdiri kepadanya dan berkata, “Biarkan kami membunuh ibn
az-Zubair dan menenangkan manusia dari (perbuatan)nya.”
Ia berkata, “Apakah kita akan menyalakan api fitnah dengan
tangan-tangan kita yang karenanya kita telah menyepi (memisahkan
diri)… dan kita membunuh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wassalam dan anak-anak dari sahabatnya?! Tidak, demi
Allah kita tidak akan melakukan sedikitpun apa yang manjadikan
Allah dan Rasul-Nya murka.”
Berita tentang apa yang diderita oleh Muhammad ibn al-Hanafiyah
dan para pengikutnya dari kekerasan Abdullah ibn az-Zubair
sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan. Ia melihat kesempatan
emas untuk menjadikan mereka condong kepadanya.
Ia lantas mengirim surat bersama seorang utusannya, yang
seandainya ia menulisnya untuk salah seorang anaknya tentunya
‘dialek’nya tidak akan sehalus itu dan redaksinya tidak selembut
itu.
Dan di antara isi suratnya adalah, “Telah sampai berita kepadaku
bahwa ibn az-Zubair telah mempersempit gerakmu dan orang-orang
yang bersamamu… ia memutus tali persaudaraanmu… dan merendahkan
hakmu. Ini negeri Syam terbuka di depanmu, siap menjemputmu dan
orang-orang yang bersamamu dengan penuh kelapangan dan keluasan…
singgahlah di sana dimana engkau mau, niscaya engkau akan
menemukan penduduknya mengucapkan selamat kepadamu dan para
tetangga yang mencintaimu… dan engkau akan mendapatkan kami
orang-orang yang memahami hakmu… menghormati keutamaanmu… dan
menyambung tali persaudaraanmu insyaaAllah…
Muhammad ibn al-Hanafiyah dan orang-orang yang bersamanya
berjalan menuju negeri Syam… sesampainya di “Ublah”, mereka
menetap di sana.
Penduduknya menempatkan mereka di tempat yang paling mulia dan
menjamu mereka dengan baik sebaga tetangga.
Mereka mencitai Muhammad ibn al-Hanafiyah dan mengagungkannya,
karena apa yang mereka lihat dari kedalaman (ketekunan)
ibadahnya dan kejujuran zuhudnya.
Ia mulai menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka
dari yang munkar. Ia mendirikan syi’ar-syi’ar di antara mereka
dan mengadakan ishlah dalam perselisihan mereka. Ia tidak
membiarkan seorang pun dari manusia mendzalimi orang lain.
Di saat berita itu sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan, hal
tersebut memberatkan hatinya. Ia kemudian bermusyawarah dengan
orang-orang terdekatnya. Mereka berkata kepadanya, “Kami tidak
berpendapat agar engkau memperbolehkannya tinggal di kerajaanmu.
Sedangkan sirahnya sebagaimana yang engkau ketahui…entah ia
membai’atmu… atau ia kembali ke tempatnya semula.”
Maka, Abdul Malik menulis surat untuknya dan berkata,
“Sesungguhnya engkau telah mendatangi negeriku dan engkau
singgah di salah satu ujungnya. Dan ini peperangan yang terjadi
antara diriku dan Abdullah ibn az-Zubair. Dan engkau adalah
seseorang yang memiliki tempat dan nama di antara kaum Muslimin.
Dan aku melihat agar engkau tidak tinggal di negeriku kecuali
bila engkau membai’atku. Bila engkau membai’atku, aku akan
memberimu seratus kapal yang datang kepadaku dari “al-Qalzam”
kemarin, ambillah beserta apa yang ada padanya. Bersama itu
engkau berhak atas satu juta dirham ditambah dengan jumlah yang
kamu tentukan sendiri untuk dirimu, anak-anakmu, kerabatmu,
budak-budakmu dan orang-orang yang bersamamu. Bila engkau
menolaknya maka pergilah dariku ke tempat yang aku tidak
memiliki kekuasaan atasnya.”
Muhammad ibn al-Hanafiyah kemudian menulis balasan, “Dari
Muhammad ibn Ali, kepada Abdul Malik ibn Marwan. Assalamu
‘alaika… Sesungguhnya aku memuji kepada Allah yang tidak ada
Ilah yang berhak disembah selain Dia, (aku berterima kasih)
kepadamu. Amma ba’du… Barangkali engkau menjadi ketakutan
terhadapku. Dan aku mengira engkau adalah orang yang paham
terhadap hakikat sikapku dalam perkara ini. Aku telah singgah di
Makkah, maka Abdullah ibn az-Zubair menginginkan aku untuk
membai’atnya, dan tatkala aku menolaknya ia pun berbuat jahat
terhadap pertentanganku. Kemudian engkau menulis surat kepadaku,
memanggilku untuk tinggal di negeri Syam, lalu aku singgah di
sebuah tempat di ujung tanahmu di karenakan harganya murah dan
jauh dari markaz (pusat) pemerintahanmu. Kemudian engkau menulis
kepadaku apa yang telah engkau tuliskan. Dan kami InsyaaAllah
akan meninggalkanmu.”
Muhammad ibn al-Hanafiyyah beserta orang-orangnya dan kelurganya
meninggalkan negeri Syam, dan setiap kali ia singgah di suatu
tempat ia pun di usir darinya dan diperintahkan agar pergi
darinya.
Dan seakan-akan kesusahan belum cukup atasnya, hingga Allah
berkehendak mengujinya dengan kesusahan lain yang lebih besar
pengaruhnya dan lebih berat tekanannya…
Yang demikian itu, bahwa sekelompok dari pengikutnya dari
kalangan orang-orang yang hatinya sakit dan yang lainnya dari
kalangan orang-orang lalai. Mereka mulai berkata, “Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menitipkan di hati
Ali dan keluarganya banyak sekali rahasia-rahasia ilmu,
qaidah-qaidah agama dan perbendaharaan syariat. Beliau telah
mengkhususkan Ahlul Bait dengan apa yang orang lain tidak
mengetahuinya.”
Orang yang ‘alim, beramal dan mahir ini memahami betul apa yang
diusung oleh ucapan ini dari penyimpangan, serta bahaya-bahaya
yang mungkin diseretnya atas Islam dan Muslimin. Ia pun
mengumpulkan manusia dan berdiri mengkhutbahi mereka… ia memuji
Allah subhanahu wata’ala dan menyanjungnya dan bershalawat atas
Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam… kemudian
berkata, “Sebagian orang beranggapan bahwa kami segenap Ahlul
Bait mempunyai ilmu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengkhususkan kami dengannya, dan tidak memberitahukan kepada
siapapun selain kami. Dan kami -demi Allah- tidaklah mewarisi
dari Rasulullah melainkan apa yang ada di antara dua lembaran
ini, (dan ia menunjuk ke arah mushaf). Dan sesungguhnya
barangsiapa yang beranggapan bahwa kami mempunyai sesuatu yang
kami baca selain kitab Allah, sungguh ia telah berdusta.”
Adalah sebagian pengikutnya mengucapkan salam kepadanya, mereka
berkata, “Assalamu’alaika wahai Mahdi.”
Ia menjawab, “Ya, aku adalah Mahdi (yang mendapat petunjuk)
kepada kebaikan… dan kalian adalah para Mahdi kepada kebaikan
insyaaAllah… akan tetapi apabila salah seorang dari kalian
mengucapkan salam kepadaku, maka hendaklah menyalamiku dengan
namaku. Hendaklah ia berkata, “Assalamu’alaika ya Muhammad.”
Tidak berlangsung lama kebingungan Muhammad ibn al-Hanafiyyah
tentang tempat yang akan ia tinggali beserta orang-orang yang
bersamanya… Allah telah berkehendak agar al-Hajjaj ibn Yusuf
ats-Tsaqafi menumpas Abdullah ibn az-Zubair… dan agar manusia
seluruhnya membai’at Abdul Malik ibn Marwan.
Maka, tidaklah yang ia lakukan kecuali menulis surat kepada
Abdul Malik, ia berkata, “Kepada Abdul Malik ibn Marwan, Amirul
Mukminin, dari Muhammad ibn Ali. Amma ba’du… Sesungguhnya
setelah aku melihat perkara ini kembali kepadamu, dan manusia
membai’atmu. Maka, aku seperti orang dari mereka. Aku
membai’atmu untuk walimu di Hijaz. Aku mengirimkan bai’atku ini
secara tertulis. Wassalamu’alaika.”
Ketika Abdul Malik membacakan surat tersebut kepada para
sahabatnya, mereka berkata, “Seandainya ia ingin memecah tongkat
keta’atan (baca: keluar dari keta’atan) dan membikin perpecahan
dalam perkara ini, niscaya ia mampu melakukannya, dan niscaya
engkau tidak memiliki jalan atasnya… Maka tulislah kepadanya
dengan perjanjian dan keamanan serta perjanjian Allah dan
Rasul-Nya agar ia tidak diusir dan diusik, ia dan para
sahabatnya.”
Abdul Malik kemudian menulis hal tersebut kepadanya. Hanya saja
Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak hidup lama setelah itu. Allah
telah memilihnya untuk berada di sisi-Nya dalam keadaan ridla
dan diridlai.
Semoga Allah memberikan cahaya kepada Muhammad ibn al-Hanafiyah
di kuburnya, dan semoga Allah mengindahkan ruhnya di surga… ia
termasuk orang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi tidak
pula ketinggian di antara manusia. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: – Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu’aim, III: 174, –
Tahdziib at-Tahdziib, IX:354, – Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul
Jauzi (cet. Halab), II: 77-79, – Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu
Sa’d, V:91, – Al-Waafi ibn al-Wafayaat (terjemah): 1583, –
Wafayaat al-A’yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169, – Al-Kamil,
III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H, –
Syadzarat adz-Dzahab, I:89,- Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat,
I:88-89, – Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76, – Al-Ma’arif oleh
Ibnu Qutaibah: 123, – Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih,
tahqiq al-‘Urayyan, Juz II, III, V dan VII.
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1