DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ ILMU
*****************************************************
#Post#: 714--------------------------------------------------
Mendahulukan Belajar Ilmu Syar’i
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 7:35 pm
---------------------------------------------------------
Mendahulukan Belajar Ilmu Syar’i
Februari 12, 2008 oleh Wira Mandiri Bachrun
Oleh: Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
Tanya:
Apakah dalam belajar kita hanya mencukupkan diri dengan
mempelajari ilmu syar’i (ilmu agama), tidak belajar ilmu dunia?
Jawab:
Asy-Syaikhul Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu
menjawab:
“Ilmu yang wajib untuk kita pelajari dan kita dahulukan adalah
ilmu syar’i. Ilmu inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan
atas anda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ
الْعِلْمِ
فَرِيْضَةٌ
عَلَى
كُلِّ
مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”
Bila anda ingin mengerjakan shalat sebagaimana shalat Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pelajari ilmunya sebelum
anda mempelajari kimia, fisika, dan selainnya. Bila ingin
berhaji, anda harus mengetahui bagaimana manasik haji yang
ditunaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian
pula dalam masalah akidah dan pembayaran zakat.
Bila ingin melakukan transaksi jual beli, semestinya anda
pelajari hukum jual beli sebelum anda mempelajari kimia, fisika
dan selainnya. Setelah anda pelajari perkara yang memberikan
manfaat kepada anda dan anda mengenal akidah yang benar, tidak
apa-apa bagi anda mempelajari ilmu yang mubah yang anda
inginkan.
Akan tetapi bila anda diberi taufiq, dikokohkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan dijadikan anda cinta terhadap ilmu yang
bermanfaat, ilmu Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka teruslah
mempelajarinya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ
يُرِدِ
اللهُ بِهِ
خَيْرًا
يُفَقِّهْهُ
فِي
الدِّيْنِ
“Siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Allah faqihkan
(pahamkan) dia dalam agama.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَعْرِضْ
عَنْ مَنْ
تَوَلَّى
عَنْ
ذِكْرِنَا
وَلَمْ
يُرِدْ
إِلاَّ
الحْيَاَةَ
الدُّنْيَا.
ذَلِكَ
مَبْلَغُهُمْ
مِنَ
الْعِلْمِ
“Berpalinglah engkau dari orang yang enggan berzikir kepada Kami
dan ia tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Yang demikian
itu merupakan kadar ilmu yang mereka capai.” (An-Najm: 29-30)
يَعْلَمُوْنَ
ظَاهِرًا
مِنَ
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَهُمْ
عَنِ
اْلآخِرَةِ
هُمْ
غَافِلُوْنَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia
sementara mereka lalai dari akhirat.” (Ar-Rum: 7)
Bila seseorang telah mempelajari ilmu yang wajib baginya,
kemudian setelah itu ia ingin belajar kedokteran, teknik, atau
ilmu lainnya maka tidak mengapa. Kita sedikitpun tidak
mengharamkan atas manusia apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
halalkan untuk mereka. Akan tetapi sepantasnya ia mengetahui
bahwa kaum muslimin lebih butuh kepada orang yang dapat
mengajari mereka agama yang murni sebagaimana yang dibawa oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lebih butuh
kepada orang yang alim tentang agama ini daripada kebutuhan
mereka terhadap ahli teknik, dokter, pilot, dan sebagainya.
Dengan keberadaan ulama, kaum muslimin diajari tentang syariat
Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang apa yang sepantasnya
dilakukan oleh seorang dokter, dan seterusnya. Sebaliknya jika
tidak ada yang mengajarkan kebenaran (agama) kepada kaum
muslimin, mereka tidak dapat membedakan mana orang yang alim dan
mana ahli nujum. Mereka tidak tahu apa yang sepantasnya
dilakukan oleh ahli teknik. Mereka tidak dapat membedakan antara
komunis dengan seorang muslim.
Dengan demikian, wahai saudaraku, rakyat yang bodoh ini butuh
kepada ulama untuk menerangkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada mereka dan mengajari mereka kepada Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ijabatus Sa`il ‘ala
Ahammil Masa`il, hal. 300-301)
Dicopy dari:
HTML http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=457
Beri peringkat:Rate This
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Surat Terbuka dari Ummu Abdillah Al Wadi’iyah
Maret 5, 2008
dalam "Adab dan Akhlak"
Bagaimana Asy-Syaikh Muqbil Mendidik Putri Beliau?
Februari 5, 2008
dalam "Mutiara Kehidupan"
Menggugat Demokrasi – Dengan Ikut Pemilu Berarti Memilih Bahaya
Yang Paling Ringan!
Juni 3, 2008
dalam "Manhaj"
Ditulis dalam Ilmu | Dengan kaitkata belajar, Fatwa, Menuntut
Ilmu, muqbil |
*****************************************************
Page 1 of 1