URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ MUAMALAH
       *****************************************************
       #Post#: 709--------------------------------------------------
       Fatwa Seputar Riba dan Bunga Bank (2-Selesai)
   DIR By: Host
       Date: August 25, 2024, 7:32 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
       BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
       AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
       [center]&#9701;&#8593;&#10043;'ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI,
       ARTIKEL DAN FATWA ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
       [center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
       fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-1/'ulama-sunnah/msg1037/#msg1037][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/kategori/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Muamalah: Fatwa Ulama[size=15pt]
       &#9678; [font=arial black]Fatwa Seputar Riba dan Bunga Bank
       (2-Selesai)[/font]
       Maret 27, 2009 oleh: Wira Mandiri Bachrun.
       Disalin kembali (Abdillah Ahmad) [size=10pt]&#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       &#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/03/27/fatwa-seputar-riba-dan-bunga-bank-2-selesai/[size=11pt]
       [size=10pt]Oleh: Kumpulan Ulama
       Berikut adalah kumpulan fatwa ulama sunnah seputar riba dan
       bunga bank yang dikumpulkan oleh ustadzunal karim Abu Abdillah
       Muhammad Afifuddin hafizhahullah yang kami nukilkan dari website
       majalah Asy Syariah
  HTML http://asysyariah.com/print.php?id_online=421.
       Karena panjangnya
       pembahasan ini maka kami sajikan dalam dua artikel. Artikel ini
       adalah bagian yang kedua.
       Masalah 4: Bolehkah membayar bunga yang diminta pihak bank
       dengan bunga yang diberikan pihak bank kepada kita?
       Misalnya, meminjam uang di bank dengan bunga 5% per bulan, lalu
       dibayar dengan bunga dari uang yang disimpan di bank.
       Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab kasus di atas (13/360-361):
       “Engkau menyimpan uang di bank dengan mengambil bunganya adalah
       haram. Dan engkau meminjam uang di bank dengan bunga juga haram.
       Maka tidak diperbolehkan bagimu untuk membayar bunga pinjaman
       yang diminta pihak bank dengan bunga yang diberikan pihak bank
       kepadamu karena tabunganmu.
       Tetapi, yang wajib bagimu adalah berlepas diri dari bunga yang
       telah engkau terima dengan menginfakkannya dalam perkara-perkara
       kebaikan, untuk fakir miskin, memperbaiki fasilitas umum dan
       semisalnya. Dan engkau wajib bertaubat dan beristighfar serta
       menjauhi muamalah riba, karena hal itu termasuk dosa besar.”
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [size=12pt]Masalah 5: Bolehkah mengambil bunga bank untuk
       membayar pajak?
       Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab (13/367): “Tidak diperbolehkan
       bagimu menyimpan uang di bank dengan faedah (bunga), untuk
       membayar pajak yang dibebankan kepadamu dari bunga tersebut,
       berdasarkan keumuman dalil tentang haramnya riba.”
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [size=12pt]Masalah 6: Hukum transfer uang via bank.
       Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu menjawab: “Bila
       sangat diperlukan transfer via bank-bank riba, maka tidak
       mengapa insya Allah, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa
       Ta’ala:
       [right][size=18pt]&#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1583;&#1618;
       &#1601;&#1614;&#1589;&#1617;&#1614;&#1604;&#1614;
       &#1604;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1605;&#1614;&#1575;
       &#1581;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575;
       &#1575;&#1590;&#1618;&#1591;&#1615;&#1585;&#1616;&#1585;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;[/right]
       “Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa
       yang diharamkan-Nya atas kalian, kecuali apa yang terpaksa
       kalian memakannya.” (Al-An’am: 119)
       Tidak syak lagi bahwa transfer via bank termasuk kebutuhan
       primer masa kini secara umum….” (Fatawa Ibn Baz, 1/148-150,
       lihat Fatawa Buyu’ hal. 138-139)
       Masalah 7: Hukum muamalah dengan cabang-cabang bank yang tidak
       mengandung riba, sementara kantor pusatnya adalah bank riba.
       Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab (13/374-375): “Tidak mengapa bila
       bermuamalah dengan bank atau cabangnya, bila muamalahnya tidak
       ada unsur riba. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalalkan
       jual beli dan mengharamkan riba. Juga karena hukum asal muamalah
       adalah halal, dengan bank ataupun yang lainnya, selama tidak
       mengandung perkara yang haram….”
       Masalah 8: Hukum bekerja di bank.
       Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu menjawab: “…Tidak
       diperbolehkan bekerja di bank seperti ini (bank riba), sebab
       termasuk ta’awun di atas dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wa
       Ta’ala berfirman:
       [right]&#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1608;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1585;&#1617;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1578;&#1617;&#1614;&#1602;&#1618;&#1608;&#1614;&#1609;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;
       &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1608;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1575;&#1618;&#1604;&#1573;&#1616;&#1579;&#1618;&#1605;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1615;&#1583;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1617;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1614;
       &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1614;
       &#1588;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1618;&#1583;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1602;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;[/right]
       “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan
       takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
       pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya
       Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Ma`idah: 2)
       Disebutkan dalam Ash-Shahih dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu
       ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau:
       [right]&#1604;&#1614;&#1593;&#1614;&#1606;&#1614;
       &#1570;&#1603;&#1616;&#1604;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;
       &#1608;&#1614;&#1605;&#1615;&#1608;&#1618;&#1603;&#1616;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1603;&#1575;&#1614;&#1578;&#1616;&#1576;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1588;&#1614;&#1575;&#1607;&#1616;&#1583;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;:
       &#1607;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1587;&#1614;&#1608;&#1614;&#1575;&#1569;&#1612;[/right]
       “Melaknat pelaku riba, yang memberi riba, penulis dan kedua
       saksinya. Beliau berkata: ‘Mereka semua sama’.”
       Adapun gaji yang telah anda terima, maka itu halal bagi anda
       bila anda tidak tahu hukumnya secara syar’i, dengan dasar firman
       Allah Subhanahu wa Ta’ala:
       [right]&#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1593;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1581;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;
       &#1601;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618;
       &#1580;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1605;&#1614;&#1608;&#1618;&#1593;&#1616;&#1592;&#1614;&#1577;&#1612;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1601;&#1614;&#1575;&#1606;&#1618;&#1578;&#1614;&#1607;&#1614;&#1609;
       &#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575;
       &#1587;&#1614;&#1604;&#1614;&#1601;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1605;&#1618;&#1585;&#1615;&#1607;&#1615;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618;
       &#1593;&#1614;&#1575;&#1583;&#1614;
       &#1601;&#1614;&#1571;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614;&#1574;&#1616;&#1603;&#1614;
       &#1571;&#1614;&#1589;&#1618;&#1581;&#1614;&#1575;&#1576;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;
       &#1607;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1601;&#1616;&#1610;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1582;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1583;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;
       &#1610;&#1614;&#1605;&#1618;&#1581;&#1614;&#1602;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;
       &#1608;&#1614;&#1610;&#1615;&#1585;&#1618;&#1576;&#1616;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1589;&#1617;&#1614;&#1583;&#1614;&#1602;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;
       &#1604;&#1575;&#1614;
       &#1610;&#1615;&#1581;&#1616;&#1576;&#1617;&#1615;
       &#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1614;
       &#1603;&#1614;&#1601;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1613;
       &#1571;&#1614;&#1579;&#1616;&#1610;&#1618;&#1605;&#1613;[/right]
       “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
       Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya,
       lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang
       telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya
       (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba),
       maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
       dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan
       Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran,
       dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 275-276)
       Adapun bila anda tahu bahwa pekerjaan tersebut tidak
       diperbolehkan, maka wajib bagi anda untuk menyalurkan gaji yang
       telah anda terima untuk kepentingan-kepentingan kebaikan dan
       menyantuni fakir miskin, disertai dengan taubat kepada Allah
       Subhanahu wa Ta’ala.
       Barangsiapa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
       taubat nasuha niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima
       taubatnya dan mengampuni kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
       berfirman:
       [right]&#1610;&#1614;&#1575;
       &#1571;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;
       &#1570;&#1605;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1578;&#1615;&#1608;&#1618;&#1576;&#1615;&#1608;&#1618;&#1575;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616;
       &#1578;&#1614;&#1608;&#1618;&#1576;&#1614;&#1577;&#1611;
       &#1606;&#1614;&#1589;&#1615;&#1608;&#1618;&#1581;&#1611;&#1575;
       &#1593;&#1614;&#1587;&#1614;&#1609;
       &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1571;&#1614;&#1606;&#1618;
       &#1610;&#1615;&#1603;&#1614;&#1601;&#1617;&#1616;&#1585;&#1614;
       &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1587;&#1614;&#1610;&#1616;&#1617;&#1574;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1608;&#1614;&#1610;&#1615;&#1583;&#1618;&#1582;&#1616;&#1604;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1580;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1578;&#1613;
       &#1578;&#1614;&#1580;&#1618;&#1585;&#1616;&#1610;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1578;&#1614;&#1581;&#1618;&#1578;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1575;&#1618;&#1604;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575;&#1585;&#1615;[/right]
       “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
       taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan
       menghapus kesalahankesalahan kalian dan memasukkan kalian ke
       dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
       (At-Tahrim: 8)
       Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:
       [right]&#1608;&#1614;&#1578;&#1615;&#1608;&#1618;&#1576;&#1615;&#1608;&#1618;&#1575;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616;
       &#1580;&#1614;&#1605;&#1616;&#1610;&#1618;&#1593;&#1611;&#1575;
       &#1571;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;
       &#1604;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1578;&#1615;&#1601;&#1618;&#1604;&#1616;&#1581;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;[/right]
       “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang
       yang beriman supaya kalian beruntung.” (An-Nur: 31) [Fatawa Ibn
       Baz, 2/195-196]
       Fatwa senada juga disampaikan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
       Al-’Utsaimin t, sebagaimana dalam Fatawa Buyu’ (hal 128-132),
       juga Fatawa Al-Lajnah (13/344-345).
       Masalah 9: Berbisnis dengan modal uang haram.
       Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab (13/41-42): “Pertama: Allah
       Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan muamalah di kalangan kaum
       muslimin dengan akad-akad yang mubah, seperti akad jual-beli,
       sewa menyewa, salam, syarikah, dan semisalnya, yang mengandung
       kemaslahatan hamba.
       Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan sebagian akad
       karena mengandung unsur kemudaratan, seperti akad riba, asuransi
       bisnis, dan sebagian jual-beli barang haram seperti jual beli
       alat musik, menjual khamr, ganja dan rokok, karena mengandung
       beraneka macam kemudaratan.
       Sehingga, setiap muslim wajib menempuh cara-cara mubah dalam
       mencari ma’isyah (penghidupan) dan usaha. Dan hendaklah dia
       menjauhi harta-harta yang haram dan cara-cara yang terlarang.
       Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala tahu kejujuran niat seorang hamba
       dan tekadnya mengikuti syariat-Nya, upaya terbimbing dengan
       Sunnah Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya
       Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kemudahan atas segala
       urusannya dan akan melimpahkan rizki kepadanya dari arah yang
       tidak dia sangka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
       &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618;
       &#1610;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1602;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1614;
       &#1610;&#1614;&#1580;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1618;
       &#1604;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1605;&#1614;&#1582;&#1618;&#1585;&#1614;&#1580;&#1611;&#1575;.
       &#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1585;&#1618;&#1586;&#1615;&#1602;&#1618;&#1607;&#1615;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1581;&#1614;&#1610;&#1618;&#1579;&#1615; &#1604;&#1575;&#1614;
       &#1610;&#1614;&#1581;&#1618;&#1578;&#1614;&#1587;&#1616;&#1576;&#1615;
       “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
       memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah
       yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)
       Dalam sebuah hadits:
       &#1605;&#1614;&#1606;&#1618;
       &#1578;&#1614;&#1585;&#1614;&#1603;&#1614;
       &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1574;&#1611;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;
       &#1593;&#1614;&#1608;&#1617;&#1614;&#1590;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;
       &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1611;&#1575;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615;
       “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah
       akan memberinya ganti yang lebih baik.” (HR. Ahmad, 5/28)
       Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak diperbolehkan bagi
       anda untuk berbisnis dengan modal uang haram, baik itu pemberian
       ayahmu ataupun dari yang lainnya.”
       Masalah 10: Jual Beli Sistem Lelang
       Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah ini.
       Yang rajih adalah pendapat jumhur bahwa jual-beli system lelang
       pada dasarnya dibolehkan dan halal. Bahkan sebagian ulama
       menukilkan ijma’ dalam masalah ini, seperti Ibnu Qudamah dan
       Ibnu Abdil Barr.
       Ini adalah pendapat Al-Lajnah Ad-Da`imah (13/126), dan Syaikhuna
       Abdurrahman Al-’Adni hafizhahullah dalam Syarhul Buyu’ (hal.
       53).
       Dalam sistem lelang, penjual tidak diperkenankan menyebutkan
       terlebih dahulu harga barang yang dilelang, karena dikhawatirkan
       ada orang yang mendengar dari jauh dan mengira barang itu
       dihargai dengan nominal tersebut. Namun para pembeli
       dikumpulkan, lalu salah satu dari mereka menyebutkan harga
       nominal harga. Kemudian sang penjual mengatakan: “Siapa yang mau
       menambah harga?” Demikianlah hingga harga barang tersebut
       berhenti pada orang terakhir yang menyebutkannya. (Fatawa
       Al-Lajnah Ad-Da`imah, 13/120-121, dan Syarhul Buyu’ hal. 53)
       Dalam lelang tidak boleh ada unsur najsy, yaitu adanya pihak
       yang menaikkan harga barang padahal dia bukan pembeli (tidak
       bermaksud membelinya). Al-Lajnah Ad-Da`imah menjelaskan:
       “Seseorang yang menambahi harga barang yang dilelang padahal dia
       tidak bermaksud membelinya, tindakan tersebut adalah haram
       karena mengandung penipuan terhadap para pembeli. Sebab pembeli
       akan mengira/meyakini bahwa orang tersebut tidak akan berani
       menambah harga melainkan karena memang barang itu seharga
       tersebut, padahal tidak demikian. Inilah yang dinamakan najsy
       yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
       larangan haram. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar
       radhiyallahu ‘anhuma:
       &#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;
       &#1585;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1618;&#1604;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616;
       &#1589;&#1614;&#1604;&#1609;&#1617;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;
       &#1606;&#1614;&#1607;&#1614;&#1609; &#1593;&#1614;&#1606;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1580;&#1618;&#1588;&#1616;
       “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang
       najsy.” (Muttafaqun ‘alaih)
       Juga dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
       Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
       &#1604;&#1575;&#1614;
       &#1578;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1617;&#1614;&#1608;&#1618;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1615;&#1603;&#1618;&#1576;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;
       &#1610;&#1614;&#1576;&#1616;&#1593;&#1618;
       &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1590;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1609;&#1614;
       &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1593;&#1616;
       &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1590;&#1613;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;
       &#1578;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;&#1580;&#1614;&#1588;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;
       &#1610;&#1614;&#1576;&#1616;&#1593;&#1618;
       &#1581;&#1614;&#1575;&#1590;&#1616;&#1585;&#1612;
       &#1604;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;&#1583;&#1613;
       “Janganlah kalian mencegah kafilah dagang (sebelum masuk pasar).
       Jangan pula sebagian kalian membeli apa yang sedang dibeli orang
       lain. Jangan pula kalian saling najsy. Dan orang kota tidak
       boleh menjualkan barang orang dusun.” (Muttafaqun ‘alaih)
       Bila terjadi najsy dan ada unsur penipuan dalam akad yang tidak
       seperti biasanya, maka sang pembeli diberi pilihan: membatalkan
       akad atau meneruskannya, sebab kasus di atas masuk dalam khiyar
       ghubn.”
       Dalam lelang, tidak diperbolehkan bagi pembeli untuk bersepakat
       tidak menambah harga dan menghentikannnya pada nominal tertentu
       padahal mereka membutuhkannya, dengan tujuan agar penjual
       melepas barangnya dengan harga di bawah standar. Demikian uraian
       Syaikhul Islam dalam Al-Ikhtiyarat, lihat Majmu’ Fatawa
       (29/304).
       Al-Lajnah Ad-Da`imah (13/114) juga melarang tindakan di atas dan
       menggolongkannya ke dalam akhlak yang tercela. Bagi pembeli yang
       merasa ditipu, dia boleh memilih antara membatalkan akad atau
       meneruskannya.
       Dalam lelang, biasanya para pembeli melakukan sistem muqana’ah,
       yaitu bersepakat menjadi kongsi dalam lelang. Setelah lelang
       selesai, mereka melakukan transaksi lagi di antara mereka
       sendiri. Sistem ini juga tidak diperbolehkan. Demikian fatwa
       Al-Lajnah Ad-Da`imah (13/115), karena di dalamnya terkandung
       unsur kedzaliman terhadap penjual untuk kemaslahatan mereka
       sendiri.
       Wallahu a’lam bish-shawab. &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Admin Blog Ulama Sunnah
       Wira Bachrun Al Bankawy
       Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
       Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
       e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       Beri peringkat:7 Votes
       Bagikan ini:
       RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
       Terkait
       Fatwa Seputar Riba dan Bunga Bank (1)
       Maret 25, 2009
       dalam "Muamalah"
       Haramkah Bekerja di Bank?
       Februari 26, 2008
       dalam "Adab dan Akhlak"
       Perbankan Ribawi Hanya Menyulitkan Perekonomian Umat
       Februari 27, 2008
       dalam "Muamalah"
       Ditulis dalam Muamalah | Dengan kaitkata bank muamalat, bunga
       bank haram, fatwa bank |
       *****************************************************
       Page 1 of 1