DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ FIQH IBADAH
*****************************************************
#Post#: 684--------------------------------------------------
Khusyu’ dalam Shalat
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 7:17 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Khusyu’ dalam Shalat
Mei 11, 2009 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Fadhilatul ‘Allamah Dr. Shalih ibn Fauzan Al-Fauzan
hafizhahullah
Segala puji khusus bagi Allah, yang telah memerintahkan untuk
beristi’anah (meminta tolong kepada-Nya) dengan kesabaran dan
shalat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Dia
memberitakan bahwa hal itu merupakan suatu yang berat kecuali
bagi para hamba-Nya yang khusyu’. Allah juga menyifati kaum
mukminin dengan khusyu’ dalam shalat mereka. Allah menjadikannya
sebagai sifat-sifat mereka. Allah berfirman:
﴿ قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ.
الَّذِينَ
هُمْ فِي
صَلاتِهِمْ
خَاشِعُونَ
﴾
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, [Al-Mukminun: 1-2]
Aku memuji-Nya atas besarnya anugerah dan kebaikan-Nya. Aku
bersaksi bahwa tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah
satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk
pengagungan terhadap-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan rasul-Nya, sang juru dakwah kepada keridhaan-Nya,
shalat Allah atasnya dan atas keluarga dan para shahabatnya
serta siapapun yang mengikuti mereka dengan baik. Amma ba’d:
Wahai umat manusia, bertaqwalah kalian kepada Allah. Ketahuilah
bahwa khusyu’ dalam shalat merupakan ruh ibadah shalat tersebut
sekaligus maksud utama ditegakkannya ibadah shalat tersebut.
Allah telah menyifati para rasul-Nya dan para hamba-Nya yang
shalihin dengan sifat tersebut (khusyu’). Allah berfirman:
﴿
إِنَّهُمْ
كَانُوا
يُسَارِعُونَ
فِي
الْخَيْرَاتِ
وَيَدْعُونَنَا
رَغَبًا
وَرَهَبًا
وَكَانُوا
لَنَا
خَاشِعِينَ
﴾
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera
dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka
berdoa kepada kami dengan harap dan cemas [1], dan mereka adalah
orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya`: 90]
Allah juga berfirman:
﴿ قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ.
الَّذِينَ
هُمْ فِي
صَلاتِهِمْ
خَاشِعُونَ
﴾
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, [Al-Mukminun: 1-2]
Allah juga menyifati para ‘ulama dengan sifat khasy-yah (takut)
kepada-Nya dan khusyu’ tatkala mendengar Firman-Nya. Allah
berfirman:
﴿
إِنَّمَا
يَخْشَى
اللهَ مِنْ
عِبَادِهِ
الْعُلَمَاءُ
﴾
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama.” [Fathir: 28]
Allah juga berfirman:
﴿ إِنَّ
الَّذِينَ
أُوتُوا
الْعِلْمَ
مِنْ
قَبْلِهِ
إِذَا
يُتْلَى
عَلَيْهِمْ
يَخِرُّونَ
لِلأَذْقَانِ
سُجَّدًا.
وَيَقُولُونَ
سُبْحَانَ
رَبِّنَا
إِنْ كَانَ
وَعْدُ
رَبِّنَا
لَمَفْعُولا.
وَيَخِرُّونَ
لِلأَذْقَانِ
يَبْكُونَ
وَيَزِيدُهُمْ
خُشُوعًا
﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya apabila
Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas wajah
mereka sambil bersujud, seraya mereka berkata: “Maha Suci Rabb
kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi”. Dan mereka
menyungkur atas wajah mereka sambil menangis dan mereka
bertambah khusyu’.” [Al-Isra`: 107-109]
Asal makna khusyu’ adalah kelembutan dan ketenangan hati, serta
ketundukannya. Apabila hati telah khusyu’ maka akan diikuti oleh
khusyu’ anggota badan. Sebagaimana sabda Nabi Shallahu ‘alaihi
wa Sallam:
« أَلاَ
وَإِنَّ
فِى
الْجَسَدِ
مُضْغَةً
إِذَا
صَلَحَتْ
صَلَحَ
الْجَسَدُ
كُلُّهُ،
وَإِذَا
فَسَدَتْ
فَسَدَ
الْجَسَدُ
كُلُّهُ.
أَلاَ
وَهِىَ
الْقَلْبُ
»
“Ketahuilah, bahwa dalam jasad itu terdapat segumpal daging.
Kalau ia baik, maka baik pulalah seluruh jasad, namun apabila ia
jelek maka jelek pulalah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa
segumpal darah tersebut adalah hati.” [Muttafaqun ‘alaihi]
Apabila seseorang membuat-buat khusyu’ pada anggota badannya
tanpa diiringi kekhusyu’an hati, maka yang demikian adalah
khusyu’ nifaq. ‘Umar Radhiyallah ‘anhu pernah melihat seorang
pemuda menundukkan kepalanya, maka ‘Umar pun berkata, “Wahai
kamu, angkat kepalamu, karena khusyu’ itu letaknya bukan di
leher. Sesungguhnya khusyu’ itu tidak lebih dari apa yang
terdapat dalam hati.”
Khusyu’ yang terdapat dalam hati tidak lain dihasilkan dari
ma’rifah (pengenal dan ilmu) tentang Allah ‘Azza wa Jalla dan
ma’rifah tentang keagungan-Nya. Barangsiapa yang semakin
mengenal dan berilmu tentang Allah, maka dia makin khusyu’
terhadap-Nya. Di antara sebab terbesar tercapainya khusyu’
adalah mentadabburi Kalamullah. Allah ‘Azza wa Jalla telah
berfirman:
﴿ لَوْ
أَنْزَلْنَا
هَذَا
الْقُرْآنَ
عَلَى
جَبَلٍ
لَرَأَيْتَهُ
خَاشِعًا
مُتَصَدِّعًا
مِنْ
خَشْيَةِ
اللهِ ﴾
“Kalau seandainya Kami turunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah
gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah
disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan itlah
perumpamaan-perumpamaan kami buat untuk manusia agar mereka
berfikir.” [Al-Hasyr: 21]
Allah telah menyifati para ‘ulama dari kalangan Ahlul Kitab
dengan sifat khusyu’ ketika mendengar Al-Qur`an ini. Allah
Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ
الَّذِينَ
أُوتُوا
الْعِلْمَ
مِنْ
قَبْلِهِ
إِذَا
يُتْلَى
عَلَيْهِمْ
يَخِرُّونَ
لِلأَذْقَانِ
سُجَّدًا.
وَيَقُولُونَ
سُبْحَانَ
رَبِّنَا
إِنْ كَانَ
وَعْدُ
رَبِّنَا
لَمَفْعُولا.
وَيَخِرُّونَ
لِلأَذْقَانِ
يَبْكُونَ
وَيَزِيدُهُمْ
خُشُوعًا
﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya apabila
Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas wajah
mereka sambil bersujud, seraya mereka berkata: “Maha Suci Rabb
kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi”. Dan mereka
menyungkur atas wajah mereka sambil menangis dan mereka
bertambah khusyu’.” [Al-Isra`: 107-109]
Allah telah mencela orang yang tidak khusyu’ ketika mendengar
Firman-Nya. Allah berfirman:
﴿ أَلَمْ
يَأْنِ
لِلَّذِينَ
آمَنُوا
أَنْ
تَخْشَعَ
قُلُوبُهُمْ
لِذِكْرِ
اللهِ
وَمَا
نَزَلَ
مِنَ
الْحَقِّ
وَلا
يَكُونُوا
كَالَّذِينَ
أُوتُوا
الْكِتَابَ
مِنْ
قَبْلُ
فَطَالَ
عَلَيْهِمُ
الأَمَدُ
فَقَسَتْ
قُلُوبُهُمْ
وَكَثِيرٌ
مِنْهُمْ
فَاسِقُونَ
﴾
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk
khusyu’ hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang
telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah
orang-orang yang fasik.” [Al-Hadid: 16]
Bahkan Allah mengancam pemilik hati yang keras dengan
firman-Nya:
﴿
فَوَيْلٌ
لِلْقَاسِيَةِ
قُلُوبُهُمْ
مِنْ
ذِكْرِ
اللهِ
أُولَئِكَ
فِي ضَلالٍ
مُبِينٍ ﴾
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah mengeras
hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang
nyata. [Az-Zumar: 22]
Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam dulu sering berlindung kepada
Allah dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah:
Bahwa Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam dulu sering berdo’a:
«
اللَّهُمَّ
إِنِّى
أَعُوذُ
بِكَ مِنْ
عِلْمٍ لاَ
يَنْفَعُ
وَمِنْ
قَلْبٍ لاَ
يَخْشَعُ
وَمِنْ
نَفْسٍ لاَ
تَشْبَعُ
وَمِنْ
دَعْوَةٍ
لاَ
يُسْتَجَابُ
لَهَا »
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak
bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah
puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Allah telah mensyari’atkan berbagai jenis ibadah yang
menampakkan kekhusyu’an hati dan badan. Di antaranya yang
terbesar adalah ibadah shalat. Dan Allah telah memuji
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya dengan firman-Nya:
﴿ قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ.
الَّذِينَ
هُمْ فِي
صَلاتِهِمْ
خَاشِعُونَ
﴾
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, [Al-Mukminun: 1-2]
Mujahid berkata: “Dulu para ‘ulama, apabila salah seorang dari
mereka berdiri dalam shalatnya, maka mereka taku kepada
Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla untuk melirikkan pandangannya, atau
menoleh, atau memainkan pasir, atau melakukan sesuatu, atau
mengajak berbicara dirinya tentang urusan dunia kecuali jika
lupa, selama ia berada dalam shalatnya.”
Dalam Shahih Muslim dari shahabat ‘Utsman Radhiyallah ‘anhu dari
Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
« مَا مِنِ
امْرِئٍ
مُسْلِمٍ
تَحْضُرُهُ
صَلاَةٌ
مَكْتُوبَةٌ
فَيُحْسِنُ
وُضُوءَهَا
وَخُشُوعَهَا
وَرُكُوعَهَا
إِلاَّ
كَانَتْ
كَفَّارَةً
لِمَا
قَبْلَهَا
مِنَ
الذُّنُوبِ
مَا لَمْ
يُؤْتِ
كَبِيرَةً
وَذَلِكَ
الدَّهْرَ
كُلَّهُ »
“Tidaklah seorang muslim yang telah tiba kepadanya waktu shalat
wajib, kemudian dia membaikkan wudhu`nya, khusyu’nya, dan
ruku’nya kecuali itu menjadi kaffarah (penebus) atas dosa yang
telah lalu, selama tidak dilakukan dosa besar. dan itu berlaku
sepanjang tahun.”
Wahai para hamba,
Untuk tercapainya khusyu’ ada sebab-sebabnya,
di antara sebab yang terbesar: Seorang hamba mengingat akan
keagungan Allah ‘Azza wa Jalla yang dia sedang berdiri di
hadapan-Nya, dan bahwasanya Dia dekat dengannya, melihat, dan
mendengarnya, serta mengetahui segala apa yang terbesit dalam
hatinya, sehingga mendorongnya untuk malu kepada-Nya ‘Azza wa
Jalla.
Di antara sebab-sebab tercapainya khusyu’ dalam shalat:
meletakkan tangan yang satu di atas tangan yang lain
(bersedekap), yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
di dada. Makna sikap yang demikian adalah menunjukkan
pengrendahan diri dan berkeping-kepingnya hati di hadapan Allah
‘Azza wa Jalla. Al-Imam Ahmad rahimahullah telah ditanya tentang
maksud dari sikap (bersedekap) tersebut, maka beliau menjawab:
“Itu merupakan bentuk pengrendahan diri di hadapan Dzat Yang
Maha Perkasa.”
Di antara sebab-sebab tercapainya khusyu’ dalam shalat:
menghentikan segala gerakan dan segala yang tidak bermanfaat,
serta senantiasa diam. Oleh karena itu, ketika seorang ‘ulama
salaf melihat seorang pria bermain-main dengan tangannya dalam
shalatnya, maka ‘ulama salaf tersebut berkata, “Kalau seandainya
hati orang ini khusyu’, niscaya akan khusyu’ pula anggota
badannya.” Peristiwa ini diriwayatkan juga secara marfu’ sampai
kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Sebagian orang apabila
dia berdiri menunaikan shalatnya, terkadang mereka masih
bermain-main, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, atau
bermain-main dengan jenggot dan hidungnya, sampai-sampai tingkah
lakunya untuk mengganggu orang yang di sebelahnya. Ini
menunjukkan tidak adanya khusyu’ dalam shalat.
Di antara sebab-sebab tercapainya khusyu’ dalam shalat:
menghadirkan hati dalam shalat, dan tidak menyibukkan dengan
berbagai kesibukan dan pekerjaan duniawi. Ia konsentrasi penuh
menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan hatinya. Dan tidak
menyibukkan dengan sesuatu selain shalat.
Telah ada larangan untuk menoleh dalam shalat. Dijelaskan oleh
para ‘ulama, bahwa menoleh itu ada dua macam:
Pertama, berpalingnya hati dari Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu hati
berpaling kepada dunia dan berbagai kesibukkannya, dan sama
sekali tidak konsentrasi menghadap Rabbnya.
Dalam Shahih Muslim, dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam beliau
bersabda tentang keutamaan dan pahala wudhu’:
« … فَإِنْ
هُوَ قَامَ
فَصَلَّى
فَحَمِدَ
اللهَ
وَأَثْنَى
عَلَيْهِ
وَمَجَّدَهُ
بِالَّذِى
هُوَ لَهُ
أَهْلٌ
وَفَرَّغَ
قَلْبَهُ
للهِ
إِلاَّ
انْصَرَفَ
مِنْ
خَطِيئَتِهِ
كَهَيْئَتِهِ
يَوْمَ
وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ »
“Jika kemudian dia berdiri menunaikan shalat, seraya memuji,
menyanjung, dan memuliakan Allah dengan pujian yang sesuai
bagi-Nya, dan hatinya konsentrasi penuh kepada Allah, maka ia
akan terlepas dari dosa-dosa seperti kondisinya pada hari ketika
ia dilahirkan oleh ibunya.”
Kedua, menoleh dengan pandangan ke kanan atau ke kiri. Yang
dituntunkan dalam syari’at adalah membatasi pandangan hanya pada
tempat sujudnya saja, karena itu merupakan di antara konsekuensi
kekhusyu’an, yang dengannya terputuslah darinya segala
pemandangan di sekitarnya yang bisa menyibukkannya.
Dalam Shahih Al-Bukhari dari shahabat ‘Aisyah Radhiyallah ‘anha:
“Saya bertanya kepada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dari
menoleh/berpaling dalam shalat? Maka beliau menjawab:
« هُوَ
اخْتِلاَسٌ
يَخْتَلِسُ
الشَّيْطَانُ
مِنْ
صَلاَةِ
أَحَدِكُمْ
»
“Itu adalah curian, yang dicuri oleh syaithan dari shalat
kalian.”
Al-Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari shahabat
Al-Harits Al-Asy’ari, dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam:
Bahwa Allah memerintahkan Nabi Yahya bin Zakariyya ‘alaihis
salam untuk menegakkan shalat.
فَإِنَّ
اللَّهَ
يَنْصِبُ
وَجْهَهُ
لِوَجْهِ
عَبْدِهِ
مَا لَمْ
يَلْتَفِتْ
، فَإِذَا
صَلَّيْتُمْ
فَلاَ
تَلْتَفِتُوا
Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-Nya
selama sang hamba tersebut tidak berpaling/menoleh. Maka jika
kalian sedang shalat jangalah berpaling/menoleh.”
Al-Imam Ahmad juga meriwayatkan dari shahabat Abu Dzarr
Radhiyallah ‘anhu, dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam
bersabda:
“Allah senantiasa menghadap kepada seorang hamba dalam
shalat-Nya selama sang hamba tersebut tidak berpaling/menoleh.
Jika sang hamba tersebut berpaling/menoleh, maka Allah pun akan
berpaling darinya.”
Wahai para hamba Allah,
Sesungguh ibadah shalat, dalam semua gerakannya menunjukkan
ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seperti berdiri, ruku’,
sujud, serta bacaan dzikir yang diucapkan dalam masing-masing
gerakan tersebut. Allah berfirman:
﴿
وَقُومُوا
للهِ
قَانِتِينَ
﴾
“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”
[Al-Baqarah: 238]
Allah berfirman:
﴿
وَارْكَعُوا
مَعَ
الرَّاكِعِينَ
﴾
“Ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “ [Al-Baqarah: 43]
Karena ruku’ merupakan bentuk ketundukan kepada Allah dan
menghinakan diri di hadapan-Nya dengan sikap badan. Sungguh
orang-orang yang mutakabbir (sombong) menolak untuk sujud kepada
Allah, maka Allah pun mengancam mereka dengan firman-Nya:
﴿ وَإِذَا
قِيلَ
لَهُمُ
ارْكَعُوا
لا
يَرْكَعُونَ.
وَيْلٌ
يَوْمَئِذٍ
لِلْمُكَذِّبِينَ
﴾
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ruku’lah kalian, niscaya
mereka tidak mau ruku’. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu
bagi orang-orang yang mendustakan.” [Al-Mursalat: 48-49]
Di antaranya juga adalah sujud, yang itu merupakan gerakan
terbesar yang tampak padanya kehinaan seorang hamba terhadap
Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Yaitu ketika sang hamba menjadikan
anggota badan yang paling utama dan paling mulia serta paling
tinggi, menjadi paling rendah di hadapan Rabb-nya. Sang hamba
meletakkan wajahnya ke tanah, diiringi dengan berkeping-keping
hati, merendah, dan kekhusyu’an kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh karena itu balasan bagi seorang mukmin apabila ia melakukan
hal tersebut, maka Allah mendekatkannya kepada-Nya. Nabi
Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
« أَقْرَبُ
مَا
يَكُونُ
الْعَبْدُ
مِنْ
رَبِّهِ
وَهُوَ
سَاجِدٌ »
“Sesungguh kondisi terdekat seorang hamba kepada Rabb-nya adalah
ketika dia sedang sujud.”
Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya:
﴿
وَاسْجُدْ
وَاقْتَرِبْ
﴾
“dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” [Al-’Alaq:
19]
Iblis telah sombong dari sujud, maka ia menuai laknat dan
kehinaan. Demikian kaum musyrikin dan munafiqin telah sombong
dari sujud, maka Allah ‘Azza wa Jalla ancam mereka bahwa mereka
akan Allah haramkan dari sujud kepada-Nya pada hari pertemuan
dengan-Nya, karena mereka tidak mau sujud kepada-Nya di dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَوْمَ
يُكْشَفُ
عَنْ سَاقٍ
وَيُدْعَوْنَ
إِلَى
السُّجُودِ
فَلا
يَسْتَطِيعُونَ.
خَاشِعَةً
أَبْصَارُهُمْ
تَرْهَقُهُمْ
ذِلَّةٌ
وَقَدْ
كَانُوا
يُدْعَوْنَ
إِلَى
السُّجُودِ
وَهُمْ
سَالِمُونَ
﴾
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk
bersujud; maka mereka tidak mampu melakukannya, (dalam keadaan)
pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan.
Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) telah diajak untuk
bersujud, dalam keadaan mereka sejahtera.” [Al-Qalam: 42-43]
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id
Al-Khudri Radhiyallah ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah
Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
« يَكْشِفُ
رَبُّنَا
عَنْ
سَاقِهِ
فَيَسْجُدُ
لَهُ كُلُّ
مُؤْمِنٍ
وَمُؤْمِنَةٍ
،
وَيَبْقَى
مَنْ كَانَ
يَسْجُدُ
فِى
الدُّنْيَا
رِئَاءً
وَسُمْعَةً
،
فَيَذْهَبُ
لِيَسْجُدَ
فَيَعُودُ
ظَهْرُهُ
طَبَقًا
وَاحِدًا »
“Rabb kita menyingkap betis-Nya, maka sujudlah kepada-Nya
seluruh mukmin dan mukminah, namun tinggal orang-orang yang dulu
sujud di dunia karena riya’ atau sum’ah. Dia berupaya hendak
bersujud, namun ternyata punggungnya hanya satu tulang saja
(sehigga tidak bisa digerakkan untuk sujud).”
Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Hadits diriwayatkan dalam dua
kitab shahih (yakin Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan
kitab-kitab lainnya dari banyak jalur periwayatan dan berbagai
macam lafazh, itu adalah hadits yang panjang dan terkenal.”
Di antara kesempurnaan kekhusyu’an seorang hamba dalam ruku’ dan
sujudnya, bahwa apabila dia menghinakan diri dihadapan Rabbnya
dengan ruku’ dan sujud, hendaknya dia menyifati Rabb-nya ketika
itu dengan sifat Kemuliaan, Kebesaran, Keagungan, dan
Ketinggian. Seakan-akan dia berkata: “Kehinaan dan kerendahan
adalah sifatku, sementara Ketinggian, Keagungan, dan Kebesaran
adalah sifat-Mu.” Oleh karena itu disyari’atkan kepada hamba
dalam ruku’ untuk membaca:
( سبحان ربي
العظيم )
“Maha Suci Rabbku yang Maha Agung”
Dan ketika sujud membaca:
( سبحان ربي
الأعلى )
“Maha Suci Rabbku yang Maha Tinggi”
Wahai kaum muslimin,
Sesungguhnya merenungkan rahasia-rahasia dan faidah-faidah
shalat adalah di antara yang bisa menjadikan seorang hamba mudah
mengerjakannya dan bisa merasakan lezatnya. Sebagaimana sabda
Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam:
وَجُعِلَتْ
قُرَّةُ
عَيْنِي
فِي
الصَّلاَة
“Telah dijadikan kesejukan mataku dalam shalat.”
Allah telah berfirman:
﴿
وَإِنَّهَا
لَكَبِيرَةٌ
إِلا عَلَى
الْخَاشِعِينَ
﴾
“Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu’,” [Al-Baqarah: 45]
Allah juga berfirman:
﴿
وَاسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ
وَالصَّلاةِ
﴾
“Minta tolonglah kalian (kepada Allah) dengan cara sabar dan
shalat.” [Al-Baqarah: 45]
Allah juga berfirman:
﴿
وَأَقِمِ
الصَّلاةَ
إِنَّ
الصَّلاةَ
تَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرُ
﴾
“dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari
pada ibadah-ibadah lain). Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” [Al-’Ankabut: 45]
Namun tatkala seorang hamba lalai dari berbagai faidah dan
rahasia shalat, maka shalat menjadi berat atasnya. Apabila dia
masuk padanya, seakan-akan dia berada dalam penjara sampai ia
selesai darinya. Oleh karena itu kebanyakan motivasi
pendorongnya untuk masuk dalam shalat, hanyalah dalam rangka
sebagai suatu rutinitas belaka, atau sekadar membagus-baguskan
diri.
Maka bertaqwalah kalian wahai para hamba Allah dalam
shalat-shalat kalian. Karena sesungguhnya shalat merupakan tiang
agama, bisa mencegah dari berbagai perbuatan keji dan dosa. Dan
shalat merupakan wasiat terakhir Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam
ketika beliau meninggalkan dunia ini, sekaligus amalan terakhir
yang hilang dari agama. Maka tidak ada agama lagi setelah
hilangnya shalat. Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
Diterjemahkan dari:
HTML http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=218
[1] Maksudnya: mengharap agar Allah mengabulkan doanya dan
khawatir akan azab-Nya
Dicopy dari:
HTML http://www.assalafy.org/mahad/?p=324#more-324
Beri peringkat:1 Votes
Bagikan ini:
RedditSurat elektronikFacebookTwitterCetakPress-kan Ini
Terkait
Membongkar Ajaran Tasawuf: Rambu-Rambu Ibadah yang Benar
Juli 8, 2008
dalam "Manhaj"
Wajibnya Shalat Berjama’ah
Februari 17, 2008
dalam "Fiqh Ibadah"
Hukum Gerakan yang Sia-sia dalam Shalat
Juni 8, 2009
dalam "Aqidah"
Ditulis dalam Fiqh Ibadah |
*****************************************************
Page 1 of 1