URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ ILMU
       *****************************************************
       #Post#: 610--------------------------------------------------
       Tanggung Jawab Penuntut Ilmu (3): Ikhlas dan Niat yang Baik
   DIR By: Host
       Date: August 25, 2024, 1:39 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
       BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
       AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
       [center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
       ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
       [center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
       fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar bin Abdul Aziz)
       ---------------------------------------------------------
       &#10043; Tanggung Jawab Penuntut Ilmu (3): Ikhlas dan Niat yang
       Baik
       Oktober 7, 2010 oleh Wira Mandiri Bachrun &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [size=10pt]&#9701;&#8593;&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
       Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Baaz rahimahullah
       Orang yang tidak memiliki ilmu tidaklah dianggap sebagai seorang
       ulama. Orang yang seperti ini tidak akan memberi manfaat kepada
       manusia, baik dalam permasalahan dakwah atau perkara-perkara
       dunia. Yang saya maksud di sini adalah manfaat yang konkrit dan
       hasil yang nyata, walaupun terkadang orang yang tidak berilmu
       bisa memberi manfaat kepada sebagian manusia dengan nasehat yang
       dia ketahui, atau dengan suatu permasalahan yang dia hafal, atau
       dengan bantuan materi yang dia berikan kepada orang lain.
       Akan tetapi manfaat yang konkrit akan muncul dari kejujuran,
       keikhlasan, banyaknya ilmu, kemapanan ilmu serta kesabaran dari
       seorang penuntut ilmu.
       Ada suatu permasalahan yang penting, yaitu tanggung jawab yang
       ada pada seorang penuntut ilmu dari sisi menyampaikan ilmu dan
       mengajarkannya kepada manusia. Karena sesungguhnya para ulama
       adalah pengganti dan pewaris para rasul. Kedudukan para rasul
       tidaklah tersamar lagi, merekalah pembimbing dan pemberi
       petunjuk bagi umat. Mereka adalah pengantar umat menuju kepada
       kebahagiaan dan keselamatan. Sehingga dalam hal ini, para ulama
       menempati kedudukan para rasul dalam menyampaikan ilmu syar’i.
       Kerasulan telah ditutup oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi
       wasallam sehingga tugas yang tersisa saat ini adalah
       menyampaikan syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
       berdakwah, menjelaskan dan menyebarkannya kepada manusia. Semua
       itu tidak ada yang lebih pantas untuk melakukannya kecuali para
       ulama. Karena Allah subhanahu wata’ala telah memberi mereka
       keahlian untuk berdakwah, membimbing umat dengan perkataan,
       perbuatan dan perjalanan hidup mereka yang zhahir dan batin.
       Oleh karena itu, kewajiban mereka sangatlah besar. Dan mereka
       harus berhati-hati, karena umat berada dalam tanggungan mereka.
       Selain itu umat juga sangat membutuhkan penyampaian dan
       penjelasan ulama dengan berbagai sarananya.
       Di zaman ini sarana-sarana untuk melakukan dakwah sangatlah
       banyak. Di antaranya adalah media massa yang berbentuk bacaan,
       maupun media audio/visual. Sarana-sarana tersebut mempunyai
       pengaruh yang besar dalam menyesatkan manusia maupun memberikan
       petunjuk kepada mereka. Begitu pula khutbah-khutbah di hari
       Jum’at, hari raya, acara-acara tertentu, seminar,
       perayaan-perayaan apa saja (yang syar’i), terbitan-terbitan baik
       berupa buku yang besar ataupun kecil. Sarana-sarana tersebut
       mempunyai pengaruh yang besar terhadap dakwah. Alhamdullilah,
       sarana-sarana dakwah yang ada pada zaman ini begitu mudah dan
       banyak.
       Namun, yang menjadi musibah adalah lemahnya semangat seorang
       penuntut ilmu serta berpaling dan lalainya dia dari menuntut
       ilmu. Inilah musibah yang sangat besar. Allah subhanahu wata’ala
       berfirman,
       “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
       menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,
       “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”
       (Fushshilat: 33)
       Di alam semesta ini, tidak ada seorang pun yang lebih baik
       ucapannya daripada mereka, terutama para rasul dan nabi,
       kemudian para ulama yang setelah mereka.
       Setiap kali ilmu bertambah banyak, dan rasa taqwa, takut serta
       ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala bertambah sempurna, maka
       manfaat yang diperoleh akan bertambah banyak. Sehingga dakwahnya
       kepada ajaran Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu
       ‘alaihi wasallam bertambah sempurna. Begitu juga sebaliknya.
       Setiap kali rasa taqwa, ilmu dan takut kepada Allah subhanahu
       wata’ala melemah atau sedikit, di sisi lain dia diuji dengan
       kesibukan-kesibukan dan syahwat dunia maka akan sedikit pula
       ilmu dan kebaikannya.
       Allah subhanahu wata’ala berfirman,
       “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
       mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang
       nyata.” (Yusuf: 108)
       Allah subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa misi Nabi shallallahu
       ‘alaihi wasallam adalah berdakwah kepada Allah subhanahu
       wata’ala dengan dilandasi ilmu. Dan Allah subhanahu wata’ala
       memerintahkan beliau untuk menyampaikan hal tersebut kepada
       umatnya. “&#1602;&#1615;&#1604;&#1618; ” yaitu katakanlah (wahai
       Rasul kepada manusia),
       &#1607;&#1614;&#1584;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1587;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610;&#1618;&#1604;&#1616;&#1610;
       (inilah jalan (agama) ku) yaitu syariat dan jalan yang aku
       berada di atasnya, berupa ucapan atau perbuatan. Itulah jalanku
       dan manhajku menuju kepada Allah subhanahu wata’ala.
       Oleh karena itu, seorang yang berilmu wajib untuk berjalan di
       atas jalan yang telah ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
       wasallam ini, yaitu dakwah kepada Allah subhanahu wata’ala
       dengan berlandaskan ilmu. Itulah jalan beliau shallallahu
       ‘alaihi wasallam dan juga jalan orang-orang yang mengikutinya.
       Sehingga seorang hamba tidak akan menjadi pengikut Rasul
       shallallahu ‘alaihi wasallam yang sejati dan sempurna kecuali
       apabila dia menelusuri jalannya. Maka barangsiapa yang berdakwah
       kepada Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berlandaskan
       ilmu, berlepas diri dari syirik dan istiqamah di atas kebenaran,
       maka dia adalah pengikut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Oleh karena itu Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman
       setelahnya,
       &#61480;
       “Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang
       musyrik.” (Yusuf: 108)
       Seorang dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wata’ala lagi
       jujur dalam berdakwah, dialah orang yang mengikuti Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam di atas ilmu. Bukannya dengan
       kedustaan atau perkataan tentang Allah tanpa ilmu, Maha tinggi
       Allah dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya. Bersamaan
       dengan itu dia mensifati Allah shallallahu ‘alaihi wasallam
       dengan sifat-sifat kesempurnaan, mensucikan-Nya dari penyerupaan
       dengan makhluk, mentauhidkan-Nya, ikhlas kepada-Nya dan berlepas
       diri dari syirik beserta pelakunya.
       Seorang dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wata’ala wajib
       untuk mentauhidkan Allah subhanahu wata’ala dan beristiqamah di
       atas syariat-Nya. Di samping itu, dia mensucikan Allah subhanahu
       wata’ala dari menyerupakan-Nya dengan makhluk, mensifati-Nya
       dengan sifat yang ditetapkan oleh Dia sendiri atau oleh
       Rasul-Nya, mensucikan-Nya dari sifat-sifat kekurangan dan
       kelemahan, menetapkan Asma`ul Husna dan sifat-sifat-Nya yang
       tinggi nan sempurna yang terdapat dalam Al Qur`an atau Sunnah
       Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam Al Amin dalam bentuk
       penetapan yang layak bagi kemuliaan-Nya dengan tanpa tamtsil
       (menyerupakan sifat Allah subhanahu wata’ala dengan sifat
       makhluk-Nya -pent) dan mensucikan-Nya tanpa ta’thil (meniadakan
       makna sifat Allah subhanahu wata’ala yang haq -pent).
       Oleh karena itu, seorang hamba wajib menetapkan sifat-sifat dan
       nama-nama Allah subhanahu wata’ala dengan penetapan yang
       sempurna tanpa tamtsil dan tasybih (menyerupakan sifat Allah
       subhanahu wata’ala dengan sifat makhluk-Nya, pen), mensucikan
       semua sifat-sifat Allah subhanahu wata’ala dari penyerupaan
       terhadap makhluk dengan pensucian yang bersih dari ta’thil.
       Selain itu, seorang hamba wajib menamai Allah subhanahu wata’ala
       dengan Asma`ul Husna, mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang
       mulia yang terdapat dalam Al Qur`an atau sunnah yang shahih
       tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil, tanpa menambah dan
       mengurangi. Dengan demikian, dia adalah seorang pengikut Rasul,
       bukan ahlu bid’ah. Dia telah berjalan di atas manhaj lurus yang
       telah ditempuh oleh para rasul dan para pengikutnya dengan baik,
       yang paling utama dari mereka adalah Nabi kita Muhammad
       subhanahu wata’ala dan para shahabat beliau yang setelahnya.
       Kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, di mana
       pelopor mereka adalah para imam yang terkenal setelah shahabat
       seperti Al Imam Malik bin Anas, Al Imam Muhammad bin Idris
       Asy-Syafi’i, Al Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, Al Imam
       Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Al Imam Al Auza’i, Al Imam Sufyan
       Ats-Tsauri, Al Imam Ishaq bin Rahuyah, dan para ulama selain
       mereka yang berjalan di atas manhaj yang lurus dalam hal
       menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wata’ala,
       serta mensucikan-Nya dari penyerupaan terhadap makhluk.(*)
       &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Admin Blog Ulama Sunnah
       Wira Bachrun Al Bankawy
       Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
       Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
       e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       Sumber: (Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, Asy Syaikh Ibn Baaz,
       penerbit Al Husna Jogjakarta)
       *****************************************************
       Page 1 of 1