URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ ILMU
       *****************************************************
       #Post#: 608--------------------------------------------------
       10 Prinsip Meraih Ilmu
   DIR By: Host
       Date: August 25, 2024, 1:37 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
       BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
       AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
       [center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
       ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
       [center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
       fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar bin Abdul Aziz)
       ---------------------------------------------------------
       &#10043; 10 Prinsip Meraih Ilmu
       Januari 27, 2011 oleh Wira Mandiri Bachrun &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [size=10pt]&#9701;&#8593;&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
       Oleh: Asy Syaikh ‘Abdullah ibn Shalfiq Azh-Zhafiri
       &#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       Muqaddimah oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi
       &#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; &#1604;&#1604;&#1607;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1589;&#1604;&#1575;&#1577;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605;
       &#1593;&#1604;&#1609; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1548;
       &#1608;&#1593;&#1604;&#1609; &#1570;&#1604;&#1607;
       &#1608;&#1589;&#1581;&#1576;&#1607; &#1608;&#1576;&#1593;&#1583;
       :
       Saudaraku fillah ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri telah
       menunjukkan kepadaku buah penanya tentang prinsip-prinsip yang
       selayaknya dijalani oleh para penuntut ilmu. Sungguh aku melihat
       tulisan tersebut sebagai karya yang istimewa. Dia telah
       mendapatkan taufiq untuk mengumpulkan prinsip-prinsip yang
       dibutuhkan oleh penuntut ilmu, diiringi dengan dalil-dalil dari
       Al-Kitab dan As-Sunnah.
       Kesimpulannya, penulis telah melakukan suatu yang bagus dan
       memberikan faidah. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan, dan
       semoga Allah membanyakkan yang semisal ini.
       Aku memberikan semangat kepada para penuntut ilmu untuk
       menghafal dan memperhatikan prinsip-prinsip ini. Wabillahit
       Taufiq.
       Ahmad bin Yahya An-Najmi
       27-4-1421 H
       * * *
       &#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; &#1604;&#1604;&#1607;
       &#1585;&#1576;
       &#1575;&#1604;&#1593;&#1575;&#1604;&#1605;&#1610;&#1606;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1589;&#1604;&#1575;&#1577;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605;
       &#1593;&#1604;&#1609; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1548; &#1571;&#1605;&#1575;
       &#1576;&#1593;&#1583; :
       Tulisan ini merupakan penjelasan ringkas tentang prinsip-prinsip
       penting yang diperlukan oleh seorang yang menempuh jalan
       thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’i). Saya wasiatkan dan saya
       ingatkan diriku dan saudara-saudaraku sekalian dengannya, karena
       sesungguhnya seorang yang menempuh jalan thalabul ‘ilmi dan
       ingin menuai hasilnya maka harus ada 10 prinsip :
       >> Pertama: Meminta Tolong Kepada Allah
       Manusia itu lemah. Tidak ada daya dan kekuatan baginya kecuali
       dari Allah. Apabila dia diserahkan pada dirinya sendiri, maka
       sungguh dia akan hancur dan binasa. Namun kalau dia menyerahkan
       segala urusannya kepada Allah Ta’ala dan meminta tolong
       kepada-Nya dalam menuntut ilmu, maka Allah pasti akan
       menolongnya. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan dorongan
       untuk berbuat demikian dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah
       befirman :
       ( &#1573;&#1610;&#1575;&#1603; &#1606;&#1593;&#1576;&#1583;
       &#1608;&#1573;&#1610;&#1575;&#1603;
       &#1606;&#1587;&#1578;&#1593;&#1610;&#1606; )
       Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta
       pertolongan. [Al-Fatihah]
       Allah juga berfirman :
       (&#1608;&#1605;&#1606; &#1610;&#1578;&#1608;&#1603;&#1604;
       &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1601;&#1607;&#1608; &#1581;&#1587;&#1576;&#1577; ) [
       &#1575;&#1604;&#1591;&#1604;&#1575;&#1602; : 3]
       “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia yang
       akan menjadi sebagai pencukupnya.” [Ath-Thalaq: 3]
       Allah juga berfirman :
       ( &#1608;&#1593;&#1604;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1601;&#1578;&#1608;&#1603;&#1604;&#1608;&#1575; &#1573;&#1606;
       &#1603;&#1606;&#1578;&#1605;
       &#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1610;&#1606; )
       ]&#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1574;&#1583;&#1577; : 23[
       “dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakkal,
       jika kalian memang kaum mukminin.”
       Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
       &#1604;&#1608; &#1571;&#1606;&#1603;&#1605;
       &#1578;&#1608;&#1603;&#1604;&#1608;&#1606; &#1593;&#1604;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1581;&#1602;
       &#1578;&#1608;&#1603;&#1604;&#1607;
       &#1604;&#1585;&#1586;&#1602;&#1603;&#1605; &#1603;&#1605;&#1575;
       &#1610;&#1585;&#1586;&#1602; &#1575;&#1604;&#1591;&#1610;&#1585;
       &#1548; &#1578;&#1594;&#1583;&#1608;
       &#1582;&#1605;&#1575;&#1589;&#1575;&#1611; &#1548;
       &#1608;&#1578;&#1585;&#1608;&#1581;
       &#1576;&#1591;&#1575;&#1606;&#1575;&#1611;
       “Kalau seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan
       sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada
       kalian, sebagaimana Dia memberi rizki pada burung, yakni burung
       tersebut berangkat pagi dalam keadaan lapar, pulang sore hari
       dalam keadaan kenyang.” *1
       Sebesar-besar rizki adalah: ilmu.
       Nabi kita Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa
       bertawakkal dan meminta pertolongan kepada Rabbnya dalam segala
       urusan beliau. Dalam doa keluar rumah yang sah dari Nabi
       Shallahu ‘alaihi wa Sallam terdapat dalil yang menunjukkan hal
       tersebut. Beliau berdo’a :
       &#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1578;&#1608;&#1603;&#1604;&#1578; &#1593;&#1604;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1608;&#1604;&#1575;
       &#1581;&#1608;&#1604; &#1608;&#1604;&#1575;
       &#1602;&#1608;&#1577; &#1573;&#1604;&#1575;
       &#1576;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan
       kekuatan kecuali dari Allah.” *2
       >> Kedua: Niat yang baik
       Seseorang niatnya harus karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam
       menuntut ilmu. Bukan menginginkan didengar (orang lain) atau pun
       ingin terkenal, tidak pula karena kepentingan-kepentingan
       duniawi. Barangsiapa yang menjadikan niatkan hanya karena Allah,
       maka Allah akan memberikan taufiq padanya serta memberikan
       pahala atas amalannya tersebut. karena (menuntut) ilmu adalah
       ibadah, bahkan termasuk ibadah yang terbesar.
       Suatu amalan, seorang hamba tidak akan diberi pahala atas amalan
       tersebut, kecuali apabila dia mengikhlashkan karena Allah, dan
       mengikuti Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu
       wa Ta’ala berfirman :
       ( &#1573;&#1606; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1605;&#1593;
       &#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606;
       &#1575;&#1578;&#1602;&#1608;&#1575;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606; &#1607;&#1605;
       &#1605;&#1581;&#1587;&#1606;&#1608;&#1606; ) [
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1581;&#1604; : 128[
       “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan
       orang-orang yang berbuat ihsan.” [An-Nahl: 128]
       Ketaqwaan yang terbesar adalah mengikhlashkan niat karena Allah.
       Adapun orang yang riya’ dalam menuntut ilmu, disamping dia rugi
       di dunia, dia juga akan diadzab di Hari Akhir. Sebagaimana dalam
       hadits yang menjelaskan tentang 3 orang yang diseret di atas
       wajah-wajah mereka. Salah satu dari tiga orang tersebut adalah
       seorang penuntut ilmu, yang mencari ilmu agar dirinya dikatakan
       sebagai orang ‘alim (berilmu), dan dia telah dikatakan demikian.
       *3
       >> Ketiga: Merendah Kepada Allah dan Memohon Kepada-Nya Taufiq
       dan Ketepatan
       Serta meminta kepada Rabbnya tambahan dalam menuntut ilmu.
       Seorang hamba itu faqir, sangat butuh kepada Allah. Dan Allah
       Ta’ala telah memberikan motivasi hamba-hamba-Nya untuk meminta
       dan merendah kepada-Nya. Allah berfirman :
       ( &#1575;&#1583;&#1593;&#1608;&#1606;&#1610;
       &#1571;&#1587;&#1578;&#1580;&#1576; &#1604;&#1603;&#1605; ) [
       &#1594;&#1575;&#1601;&#1585; : 60[
       “Berdo’alah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuk kalian.”
       [Ghafir: 60]
       Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
       ( &#1610;&#1606;&#1586;&#1604; &#1585;&#1576;&#1606;&#1575;
       &#1603;&#1604; &#1604;&#1610;&#1604;&#1577;
       &#1573;&#1604;&#1610; &#1587;&#1605;&#1575;&#1569;
       &#1575;&#1604;&#1583;&#1606;&#1610;&#1575; &#1581;&#1610;&#1606;
       &#1610;&#1576;&#1602;&#1609; &#1579;&#1604;&#1579;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1610;&#1604;
       &#1575;&#1604;&#1570;&#1582;&#1585; &#1548;
       &#1601;&#1610;&#1602;&#1608;&#1604;: &#1605;&#1606;
       &#1610;&#1583;&#1593;&#1608;&#1606;&#1610;
       &#1601;&#1571;&#1587;&#1578;&#1580;&#1576; &#1604;&#1607;
       &#1548; &#1605;&#1606;
       &#1610;&#1587;&#1571;&#1604;&#1606;&#1610;
       &#1601;&#1571;&#1593;&#1591;&#1610;&#1577; &#1548;
       &#1608;&#1605;&#1606;
       &#1610;&#1587;&#1578;&#1594;&#1601;&#1585;&#1606;&#1610;
       &#1601;&#1571;&#1594;&#1601;&#1585; &#1604;&#1607;)
       “Rabb kita tiap malam turun ke langit dunia ketika tersisa
       sepertiga malam terakhir, seraya berkata: ‘Barangsiapa yang
       berdo’a kepada-Ku pasti akan Aku kabulkan, barangsiapa yang
       meminta kepada-Ku niscaya Aku beri dia, dan barangsiapa yang
       meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni dia.” *4
       Allah ‘Azza wa Jalla juga telah memerintahkan Nabi-Nya untuk
       memohon kepada-Nya tambahan ilmu. Allah berfirman :
       ( &#1608;&#1602;&#1604; &#1585;&#1576;
       &#1586;&#1583;&#1606;&#1610; &#1593;&#1604;&#1605;&#1575; ) [
       &#1591;&#1607;: 114]
       Dan katakanlah (dalam doamu) Wahai Rabbku, tambahkan untukku
       ilmu. [Thaha: 114]
       Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman mengisahkan tentang
       Nabi Ibrahim ‘alahis salam :
       ( &#1585;&#1576; &#1607;&#1576; &#1604;&#1610;
       &#1581;&#1603;&#1605;&#1575;
       &#1608;&#1571;&#1604;&#1581;&#1602;&#1606;&#1610;
       &#1576;&#1575;&#1604;&#1589;&#1575;&#1604;&#1581;&#1610;&#1606;
       ) [ &#1575;&#1604;&#1588;&#1593;&#1585;&#1575;&#1569;: 83]
       (Ibrahim berdoa): “Ya Rabbi, berikanlah kepadaku hikmah dan
       masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalihin.”
       [Asy-Syu’ara: 83]
       Hikmah di sini yang dimaksud adalah ilmu. Sebagaimana sabda Nabi
       Shallahu ‘alaihi wa Sallam :
       &#1573;&#1584;&#1575; &#1575;&#1580;&#1578;&#1607;&#1583;
       &#1575;&#1604;&#1581;&#1575;&#1603;&#1605; …
       &#1575;&#1604;&#1581;&#1583;&#1610;&#1579;
       Apabila seorang hakim (berilmu) telah berijtihad … *5
       Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mendo’kan shahabat Abu
       Hurairah Radhiyallah ‘anhu agar diberi kekuatan hafalan. *6
       Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam juga mendo’akan shahabat Ibnu
       ‘Abbas agar diberi karunia ilmu. beliau berdo’a :
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1605; &#1601;&#1602;&#1607;&#1607;
       &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606; &#1548;
       &#1608;&#1593;&#1604;&#1605;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1578;&#1571;&#1608;&#1610;&#1604;
       Ya Allah, jadikan ia faqih (berilmu) tentang agama, dan
       ajarkanlah padanya ilmu tafsir.” *7
       Allah pun mengabulkan doa beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam.
       Maka shahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu tidaklah beliau
       mendengar satu hadits/ilmu kecuali beliau menghafalnya. Dan
       jadilah Ibnu ‘Abbas Radhiyallah ‘anhuma sebagai hibrul ummah dan
       turjumanul qur`an (gelar bagi shahabat Ibnu ‘Abbas karena
       keilmuannya yang sangat luas dan pemahamannya yang sangat
       mendalam terhadap tafsir Al-Qur’an).
       Para ‘ulama pun senantiasa berjalan di atas prinsip ini. Inilah
       Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau menuju ke
       masjid, kemudian sujud kepada Allah dan meminta kepada-Nya
       dengan mengatakan: “Wahai Dzat yang telah mengajari Nabi
       Ibrahim, ajarilah aku. Wahai Dzat yang telah memberikan
       pemahaman kepada Nabi Sulaiman, pahamkanlah aku.”
       Maka Allah pun mengabulkan doa beliau. Sampai-sampai Ibnu
       Daqiqil ‘Id rahimahullah mengatakan: “Sungguh Allah telah
       mengumpulkan ilmu untuknya, sampai seakan-akan ilmu tersebut
       berada di antara kedua matanya, yang bisa beliau ambil
       sekehendak beliau.”
       >> Keempat: Kebaikan Hati
       Hati merupakan wadah bagi ilmu. apabila wadah tersebut bagus,
       maka bisa melindung dan menjaga sesuatu yang ada di dalamnya.
       Namun apabila wadanya rusak, maka sesuatu yang ada di dalamnya
       bisa hilang.
       Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menjadikan hati sebagai
       dasar bagi segala sesuatu. Beliau bersabda :
       &#1571;&#1604;&#1575; &#1608;&#1573;&#1606; &#1601;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1580;&#1587;&#1583; &#1605;&#1590;&#1594;&#1607;
       &#1548; &#1573;&#1584;&#1575; &#1589;&#1604;&#1581;&#1578;
       &#1589;&#1604;&#1581; &#1575;&#1604;&#1580;&#1587;&#1583;
       &#1603;&#1604;&#1607; &#1548; &#1608;&#1573;&#1584;&#1575;
       &#1601;&#1587;&#1583;&#1578; &#1601;&#1587;&#1583;
       &#1575;&#1604;&#1580;&#1587;&#1583; &#1603;&#1604;&#1607;
       &#1548; &#1571;&#1604;&#1575; &#1608;&#1607;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1602;&#1604;&#1576;
       “Ketahuilah bahwa dalam jasad itu terdapat segumpal daging.
       Apabila segumpal daging tersebut baik, maka baiklah seluruh
       jasad. Namun jika jelek, maka jasad seluruhnya pun jelek.
       Ketahulah bahwa segumpal daging tersebut adalah hati.” *8
       Kebaikan hati akan terwujud dengan ma’rifatullah (mengenal Allah
       Subhanahu wa Ta’ala) dengan nama-nama, sifat-sifat, dan
       perbuatan-perbuatan-Nya, serta merenungkan makhluk-makhluk dan
       ayat-ayat-Nya.
       Kebaikan hati juga akan terwujud dengan merenungkan Al-Qur`anul
       ‘Azhim. Demikian juga kebiakan hati akan terwujud dengan banyak
       sujud dan shalat malam.
       Hendaknya seseorang menjauh/menghindarkan dari perusak-perusak
       dan penyakit-penyakit hati. Perusak dan penyakit tersebut
       apabila ada dalam hati, maka hati tersebut tidak akan mampu
       membawa ilmu, kalau pun bisa membawanya namun ia tidak akan
       memahaminya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
       tentang orang-orang munafik yang sakit hatinya,
       Mereka punya hati namun mereka tidak bisa memahaminya.
       [Al-A’raf: 179]
       Penyakit-penyakit hati, terbagi dua: syahwat dan syubhat.
       Syahwat, seperti cinta dunia dan berbagai kelezatannya, serta
       menyibukkan diri denganya, senang kepada gambar-gambar yang
       haram, suka mendengarkan sesuatu yang diharamkan berupa suara
       musik atau lagu, dan juga melihat sesuatu yang haram.
       Syubhat, seperti keyakinan-keyakinan yang rusak, amal-amal yang
       bid’ah, menisbahkan diri pada berbagai paham pemikiran bid’ah
       yang menyimpang dan menyelisihi manhaj salaf.
       Termasuk penyakit hati yang bisa menghalangi dari ilmu adalah,
       hasad ,khianat, dan sombong.
       Termasuk perusak hati juga adalah kebanyakan tidur, banyak
       bicara, dan banyak makan.
       Maka hendaknya dihindarkan penyakit-penyakit dan perusak-perusak
       kebaikan hati di atas.
       >> Kelima: Kecerdasan
       Kecerdasan itu ada yang alami, ada pula yang muktasab (bisa
       diupayakan). Apabila seseorang memang cerdas, maka dia harus
       semakin menguatkannya. Kalau tidak, maka dia harus menampa diri
       agar bisa meraih kecerdasan tersebut.
       Kecerdasan merupakan di antara sebab kuat yang menunjang dalam
       pengumpulan ilmu, memahami, dan menghafalnya, serta membedakan
       antara berbagai masalah, memadukan dalil-dalil, dan sebagainya.
       >> Keenam: Antusias Mengumpulkan Ilmu merupakan sebab untuk bisa
       memperolehnya dan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala
       terhadapnya
       Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
       ( &#1573;&#1606; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1605;&#1593;
       &#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606;
       &#1575;&#1578;&#1602;&#1608;&#1575;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606; &#1607;&#1608;
       &#1605;&#1581;&#1587;&#1606;&#1608;&#1606; ) [
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1581;&#1604;: 128]
       “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan
       orang-orang yang berbuat ihsan.” [An-Nahl: 128]
       Seseorang apabila dia tahu tentang nilai penting sesuatu, maka
       ia akan antusias untuk meraihnya. Sedangkan ilmu merupakan suatu
       terbesar yang semestinya diraih oleh seseorang.
       Maka wajib atas penuntut ilmu: Antusias yang kuat untuk
       menghafal dan memahami ilmu, duduk bersama para ‘ulama dan
       talaqqi ilmu langsung dari mereka, semangat untuk banyak
       membaca, menyibukkan umur dan waktunya (untuk ilmu), dan sangat
       perhitungan terhadap waktunya.
       >> Ketujuh: Keseriusan, Kesungguhan, dan Kontiunitas dalam
       Meraih Ilmu
       Menjauh dari kemalasan dan kelemahan. Mujahadatun Nafs
       (memerangi diri sendiri) dan memerangi syaithan. Jiwa dan
       Syaithan merupakan dua penghalang amalan menuntut ilmu.
       Di antara sebab yang membantu membangkitkan kesungguhan dalam
       menuntut ilmu adalah: Membaca biografi-biografi para ‘ulama,
       tentang kesabaran, kekokohan menanggung beban/resiko, dan
       perjalanan mereka dalam meraih ilmu dan hadits.
       >> Kedelapan: Konsentrasi
       Yaitu seorang penuntut ilmu mencurahkan segala kesungguhannya
       hingga ia berhasil sampai kepada tujuannya dalam ilmu dan
       kekokohan padanya, baik kekuatan hafalan, pemahaman, dan pondasi
       yang kokoh.
       >> Kesembilan: Terus Berada di Sisi Guru dan Pengajar
       Ilmu itu diambil dari mulut para ‘ulama. Maka seorang penuntut
       ilmu, agar kokoh dalam ilmu di atas pondisi yang benar, maka
       hendaknya ia bermulazamah kepada ‘ulama, talaqqi (mengambil)
       ilmu langsung dari mereka. Sehingga pencarian ilmunya tegak di
       atas kaidah-kaidah yang benar. mampu melafazhkan nash-nash
       qur’ani dan hadits dengan pelafazhan yang benar, tidak ada
       kesalahan maupun kekeliruan. Memahami ilmu dengan pemahaman yang
       tepat sesuai maksudnya. Dan lebih dari itu, dia bisa mengambil
       faidah dari ‘ulama: adab, akhlaq, dan sifat wara’. Hendaknya dia
       menghindar agar jangan sampai yang menjadi gurunya adalah kitab.
       Karena sesungguhnya barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya
       maka ia akan banyak salahnya sedikit benarnya.
       Demikianlah, inilah yang terjadi pada umat ini. Tidak seorang
       tampil menonjol dalam ilmu kecuali ia sebelumnya telah
       tertarbiyyah dan terdidik di hadapan ‘ulama.
       >> Kesepuluh: Menempuh Waktu yang Lama
       Janganlah seorang penuntut ilmu mengira bahwa menuntut ilmu akan
       selesai sehari atau dua hari, setahun atau dua tahun. Bahkan
       menuntut ilmu itu butuh kesabaran bertahun-tahun.
       Al-Qadhi ‘Iyadh ditanya,
       “Sampai kapan seseorang itu menuntut ilmu?”
       Beliau menjawab,
       “Sampai mati, sehingga tintanya menemaninya sampai ke kuburnya.”
       Al-Imam Ahmad berkata:
       “Aku duduk mempelajari Kitabul Haidh selama sembilan tahun
       hingga aku memahaminya.”
       Demikianlah, para penuntut ilmu yang cerdas senantiasa duduk
       bermulazamah kepada ‘ulama selama sepuluh tahun atau dua puluh
       tahun. Bahkan sebagian mereka terus bermulazamah hingga Allah
       mewafatkannya.
       Inilah beberapa prinsip yang perlu untuk diperhatikan oleh
       penuntut ilmu guna meraih ilmu.
       Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufiq terhadap kita
       dan antum kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.
       &#1608;&#1589;&#1604;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1593;&#1604;&#1609; &#1606;&#1576;&#1610;&#1606;&#1575;
       &#1605;&#1581;&#1605;&#1583; &#1548;
       &#1608;&#1593;&#1604;&#1610; &#1570;&#1604;&#1607;
       &#1608;&#1589;&#1581;&#1576;&#1607; &#1608;&#1605;&#1606;
       &#1578;&#1576;&#1593;&#1607;&#1605;
       &#1608;&#1575;&#1602;&#1578;&#1601;&#1610;
       &#1571;&#1579;&#1585;&#1607;&#1605;
       &#1576;&#1573;&#1581;&#1587;&#1575;&#1606; &#1573;&#1604;&#1610;
       &#1610;&#1608;&#1605; &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606; .
       &#1578;&#1605; &#1608;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; .
       &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Admin Blog Ulama Sunnah
       Wira Bachrun Al Bankawy
       Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
       Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
       e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       Catatan Kaki :
       * 1: HR. Ahmad (I/30), At-Tirmidzi (2344), Ibnu Majah (4164),
       dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallah ‘anhu.
       Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.
       310.
       * 2: HR. Abu Dawud (5095). At-Tirmidzi (3426), dari shahabat
       Anas bin Malik Radhiyallah ‘anhu. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh
       Al-Albani dalam Al-Kalimuth Thayyib no. 59.
       * 3: Yaitu hadits dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu
       bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menceritakan tentang
       tiga orang yang pertama kali diadili para hari Kiamat nanti,
       salah satu di antara mereka adalah orang yang diberi karunia
       ilmu :
       … &#1608;&#1614;&#1585;&#1614;&#1580;&#1615;&#1604;&#1612;
       &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1571;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1585;&#1618;&#1570;&#1606;&#1614;
       &#1601;&#1614;&#1571;&#1615;&#1578;&#1616;&#1609;&#1614;
       &#1576;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1601;&#1614;&#1593;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1601;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1606;&#1616;&#1593;&#1614;&#1605;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1601;&#1614;&#1593;&#1614;&#1585;&#1614;&#1601;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;
       &#1601;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;
       &#1593;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1578;&#1614;
       &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;
       &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1578;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615;
       &#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1571;&#1618;&#1578;&#1615;
       &#1601;&#1616;&#1610;&#1603;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1585;&#1618;&#1570;&#1606;&#1614;.
       &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;
       &#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1576;&#1618;&#1578;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1603;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1603;&#1614;
       &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1578;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;
       &#1604;&#1616;&#1610;&#1615;&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;
       &#1593;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1605;&#1612;.
       &#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1571;&#1618;&#1578;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1585;&#1618;&#1570;&#1606;&#1614;
       &#1604;&#1616;&#1610;&#1615;&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;
       &#1607;&#1615;&#1608;&#1614;
       &#1602;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;&#1574;&#1612;.
       &#1601;&#1614;&#1602;&#1614;&#1583;&#1618;
       &#1602;&#1616;&#1610;&#1604;&#1614;
       &#1579;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614;
       &#1571;&#1615;&#1605;&#1616;&#1585;&#1614;
       &#1576;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1601;&#1614;&#1587;&#1615;&#1581;&#1616;&#1576;&#1614;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1608;&#1614;&#1580;&#1618;&#1607;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609;
       &#1571;&#1615;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616;&#1609;&#1614;
       &#1601;&#1616;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;. …
       “… dan seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta
       rajin membaca Al-Qur’an. Maka ia pun didatangkan, kemudian
       diperlihatkan kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan
       kepadanya, maka ia pun mengakuinya. Allah berkata: ‘Apa yang
       kamu amalkan dengan nikmat-nikmat tersebut?’ Dia menjawab: ‘Saya
       mempelajari ilmu dan mempelajarinya, serta aku rajin membaca
       Al-Qur’an karena Engkau.’ Allah menjawab: ‘kamu telah berdusta!!
       Engkau mempelajari ilmu karena ingin dikatakan sebagai seorang
       yang ‘alim (berilmu), dan engkau rajin membaca Al-Qur’an supaya
       dikatakan dia adalah qari’, dan kamu telah dikatakan demikian.’
       Maka dia diperintahkan diseret di atas wajah, kemudian
       dicampakkan ke dalam Neraka. …” [HR. Muslim 1905]
       * 4: HR. Al-Bukhari 1145, Muslim 758, dari shahabat Abu Hurairah
       Radhiyallah ‘anhu
       * 5: HR. Al-Bukhari 7352, Muslim 1716 dari shahabat ‘Amr bin
       Al-‘Ash dan shahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhuma.
       * 6: Lihat HR. Al-Bukhari 119
       * 7: Penggal pertama do’a ini:
       (&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1605;
       &#1601;&#1602;&#1607;&#1607; &#1601;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606; ) diriwayatkan oleh
       Al-Bukhari 143. Adapun penggal kedua diriwayatkan oleh
       Ath-Thabarani. Lihat Ash-Shahihah no. 2589.
       * 8: HR. Al-Bukhari no. 52, Muslim 1599, dari shahabat An-Nu’man
       bin Basyir Radhiyallah ‘anhu.
       Sumber:
  HTML http://www.dammajhabibah.wordpress.com
       *****************************************************
       Page 1 of 1