DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ ILMU
*****************************************************
#Post#: 608--------------------------------------------------
10 Prinsip Meraih Ilmu
DIR By: Host
Date: August 25, 2024, 1:37 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ 10 Prinsip Meraih Ilmu
Januari 27, 2011 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh ‘Abdullah ibn Shalfiq Azh-Zhafiri
بسم الله
الرحمن
الرحيم
Muqaddimah oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi
الحمد لله
والصلاة
والسلام
على رسول
الله ،
وعلى آله
وصحبه وبعد
:
Saudaraku fillah ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri telah
menunjukkan kepadaku buah penanya tentang prinsip-prinsip yang
selayaknya dijalani oleh para penuntut ilmu. Sungguh aku melihat
tulisan tersebut sebagai karya yang istimewa. Dia telah
mendapatkan taufiq untuk mengumpulkan prinsip-prinsip yang
dibutuhkan oleh penuntut ilmu, diiringi dengan dalil-dalil dari
Al-Kitab dan As-Sunnah.
Kesimpulannya, penulis telah melakukan suatu yang bagus dan
memberikan faidah. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan, dan
semoga Allah membanyakkan yang semisal ini.
Aku memberikan semangat kepada para penuntut ilmu untuk
menghafal dan memperhatikan prinsip-prinsip ini. Wabillahit
Taufiq.
Ahmad bin Yahya An-Najmi
27-4-1421 H
* * *
بسم الله
الرحمن
الرحيم
الحمد لله
رب
العالمين
والصلاة
والسلام
على رسول
الله، أما
بعد :
Tulisan ini merupakan penjelasan ringkas tentang prinsip-prinsip
penting yang diperlukan oleh seorang yang menempuh jalan
thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’i). Saya wasiatkan dan saya
ingatkan diriku dan saudara-saudaraku sekalian dengannya, karena
sesungguhnya seorang yang menempuh jalan thalabul ‘ilmi dan
ingin menuai hasilnya maka harus ada 10 prinsip :
>> Pertama: Meminta Tolong Kepada Allah
Manusia itu lemah. Tidak ada daya dan kekuatan baginya kecuali
dari Allah. Apabila dia diserahkan pada dirinya sendiri, maka
sungguh dia akan hancur dan binasa. Namun kalau dia menyerahkan
segala urusannya kepada Allah Ta’ala dan meminta tolong
kepada-Nya dalam menuntut ilmu, maka Allah pasti akan
menolongnya. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan dorongan
untuk berbuat demikian dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah
befirman :
( إياك نعبد
وإياك
نستعين )
Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta
pertolongan. [Al-Fatihah]
Allah juga berfirman :
(ومن يتوكل
على الله
فهو حسبة ) [
الطلاق : 3]
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia yang
akan menjadi sebagai pencukupnya.” [Ath-Thalaq: 3]
Allah juga berfirman :
( وعلي الله
فتوكلوا إن
كنتم
مؤمنين )
]المائدة : 23[
“dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakkal,
jika kalian memang kaum mukminin.”
Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
لو أنكم
توكلون على
الله حق
توكله
لرزقكم كما
يرزق الطير
، تغدو
خماصاً ،
وتروح
بطاناً
“Kalau seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan
sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada
kalian, sebagaimana Dia memberi rizki pada burung, yakni burung
tersebut berangkat pagi dalam keadaan lapar, pulang sore hari
dalam keadaan kenyang.” *1
Sebesar-besar rizki adalah: ilmu.
Nabi kita Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa
bertawakkal dan meminta pertolongan kepada Rabbnya dalam segala
urusan beliau. Dalam doa keluar rumah yang sah dari Nabi
Shallahu ‘alaihi wa Sallam terdapat dalil yang menunjukkan hal
tersebut. Beliau berdo’a :
بسم الله
توكلت على
الله ولا
حول ولا
قوة إلا
بالله
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan
kekuatan kecuali dari Allah.” *2
>> Kedua: Niat yang baik
Seseorang niatnya harus karena Allah ‘Azza wa Jalla dalam
menuntut ilmu. Bukan menginginkan didengar (orang lain) atau pun
ingin terkenal, tidak pula karena kepentingan-kepentingan
duniawi. Barangsiapa yang menjadikan niatkan hanya karena Allah,
maka Allah akan memberikan taufiq padanya serta memberikan
pahala atas amalannya tersebut. karena (menuntut) ilmu adalah
ibadah, bahkan termasuk ibadah yang terbesar.
Suatu amalan, seorang hamba tidak akan diberi pahala atas amalan
tersebut, kecuali apabila dia mengikhlashkan karena Allah, dan
mengikuti Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman :
( إن الله مع
الذين
اتقوا
والذين هم
محسنون ) [
النحل : 128[
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan
orang-orang yang berbuat ihsan.” [An-Nahl: 128]
Ketaqwaan yang terbesar adalah mengikhlashkan niat karena Allah.
Adapun orang yang riya’ dalam menuntut ilmu, disamping dia rugi
di dunia, dia juga akan diadzab di Hari Akhir. Sebagaimana dalam
hadits yang menjelaskan tentang 3 orang yang diseret di atas
wajah-wajah mereka. Salah satu dari tiga orang tersebut adalah
seorang penuntut ilmu, yang mencari ilmu agar dirinya dikatakan
sebagai orang ‘alim (berilmu), dan dia telah dikatakan demikian.
*3
>> Ketiga: Merendah Kepada Allah dan Memohon Kepada-Nya Taufiq
dan Ketepatan
Serta meminta kepada Rabbnya tambahan dalam menuntut ilmu.
Seorang hamba itu faqir, sangat butuh kepada Allah. Dan Allah
Ta’ala telah memberikan motivasi hamba-hamba-Nya untuk meminta
dan merendah kepada-Nya. Allah berfirman :
( ادعوني
أستجب لكم ) [
غافر : 60[
“Berdo’alah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuk kalian.”
[Ghafir: 60]
Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
( ينزل ربنا
كل ليلة
إلي سماء
الدنيا حين
يبقى ثلث
الليل
الآخر ،
فيقول: من
يدعوني
فأستجب له
، من
يسألني
فأعطية ،
ومن
يستغفرني
فأغفر له)
“Rabb kita tiap malam turun ke langit dunia ketika tersisa
sepertiga malam terakhir, seraya berkata: ‘Barangsiapa yang
berdo’a kepada-Ku pasti akan Aku kabulkan, barangsiapa yang
meminta kepada-Ku niscaya Aku beri dia, dan barangsiapa yang
meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni dia.” *4
Allah ‘Azza wa Jalla juga telah memerintahkan Nabi-Nya untuk
memohon kepada-Nya tambahan ilmu. Allah berfirman :
( وقل رب
زدني علما ) [
طه: 114]
Dan katakanlah (dalam doamu) Wahai Rabbku, tambahkan untukku
ilmu. [Thaha: 114]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman mengisahkan tentang
Nabi Ibrahim ‘alahis salam :
( رب هب لي
حكما
وألحقني
بالصالحين
) [ الشعراء: 83]
(Ibrahim berdoa): “Ya Rabbi, berikanlah kepadaku hikmah dan
masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalihin.”
[Asy-Syu’ara: 83]
Hikmah di sini yang dimaksud adalah ilmu. Sebagaimana sabda Nabi
Shallahu ‘alaihi wa Sallam :
إذا اجتهد
الحاكم …
الحديث
Apabila seorang hakim (berilmu) telah berijtihad … *5
Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mendo’kan shahabat Abu
Hurairah Radhiyallah ‘anhu agar diberi kekuatan hafalan. *6
Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam juga mendo’akan shahabat Ibnu
‘Abbas agar diberi karunia ilmu. beliau berdo’a :
اللهم فقهه
في الدين ،
وعلمه
التأويل
Ya Allah, jadikan ia faqih (berilmu) tentang agama, dan
ajarkanlah padanya ilmu tafsir.” *7
Allah pun mengabulkan doa beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam.
Maka shahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu tidaklah beliau
mendengar satu hadits/ilmu kecuali beliau menghafalnya. Dan
jadilah Ibnu ‘Abbas Radhiyallah ‘anhuma sebagai hibrul ummah dan
turjumanul qur`an (gelar bagi shahabat Ibnu ‘Abbas karena
keilmuannya yang sangat luas dan pemahamannya yang sangat
mendalam terhadap tafsir Al-Qur’an).
Para ‘ulama pun senantiasa berjalan di atas prinsip ini. Inilah
Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau menuju ke
masjid, kemudian sujud kepada Allah dan meminta kepada-Nya
dengan mengatakan: “Wahai Dzat yang telah mengajari Nabi
Ibrahim, ajarilah aku. Wahai Dzat yang telah memberikan
pemahaman kepada Nabi Sulaiman, pahamkanlah aku.”
Maka Allah pun mengabulkan doa beliau. Sampai-sampai Ibnu
Daqiqil ‘Id rahimahullah mengatakan: “Sungguh Allah telah
mengumpulkan ilmu untuknya, sampai seakan-akan ilmu tersebut
berada di antara kedua matanya, yang bisa beliau ambil
sekehendak beliau.”
>> Keempat: Kebaikan Hati
Hati merupakan wadah bagi ilmu. apabila wadah tersebut bagus,
maka bisa melindung dan menjaga sesuatu yang ada di dalamnya.
Namun apabila wadanya rusak, maka sesuatu yang ada di dalamnya
bisa hilang.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menjadikan hati sebagai
dasar bagi segala sesuatu. Beliau bersabda :
ألا وإن في
الجسد مضغه
، إذا صلحت
صلح الجسد
كله ، وإذا
فسدت فسد
الجسد كله
، ألا وهي
القلب
“Ketahuilah bahwa dalam jasad itu terdapat segumpal daging.
Apabila segumpal daging tersebut baik, maka baiklah seluruh
jasad. Namun jika jelek, maka jasad seluruhnya pun jelek.
Ketahulah bahwa segumpal daging tersebut adalah hati.” *8
Kebaikan hati akan terwujud dengan ma’rifatullah (mengenal Allah
Subhanahu wa Ta’ala) dengan nama-nama, sifat-sifat, dan
perbuatan-perbuatan-Nya, serta merenungkan makhluk-makhluk dan
ayat-ayat-Nya.
Kebaikan hati juga akan terwujud dengan merenungkan Al-Qur`anul
‘Azhim. Demikian juga kebiakan hati akan terwujud dengan banyak
sujud dan shalat malam.
Hendaknya seseorang menjauh/menghindarkan dari perusak-perusak
dan penyakit-penyakit hati. Perusak dan penyakit tersebut
apabila ada dalam hati, maka hati tersebut tidak akan mampu
membawa ilmu, kalau pun bisa membawanya namun ia tidak akan
memahaminya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
tentang orang-orang munafik yang sakit hatinya,
Mereka punya hati namun mereka tidak bisa memahaminya.
[Al-A’raf: 179]
Penyakit-penyakit hati, terbagi dua: syahwat dan syubhat.
Syahwat, seperti cinta dunia dan berbagai kelezatannya, serta
menyibukkan diri denganya, senang kepada gambar-gambar yang
haram, suka mendengarkan sesuatu yang diharamkan berupa suara
musik atau lagu, dan juga melihat sesuatu yang haram.
Syubhat, seperti keyakinan-keyakinan yang rusak, amal-amal yang
bid’ah, menisbahkan diri pada berbagai paham pemikiran bid’ah
yang menyimpang dan menyelisihi manhaj salaf.
Termasuk penyakit hati yang bisa menghalangi dari ilmu adalah,
hasad ,khianat, dan sombong.
Termasuk perusak hati juga adalah kebanyakan tidur, banyak
bicara, dan banyak makan.
Maka hendaknya dihindarkan penyakit-penyakit dan perusak-perusak
kebaikan hati di atas.
>> Kelima: Kecerdasan
Kecerdasan itu ada yang alami, ada pula yang muktasab (bisa
diupayakan). Apabila seseorang memang cerdas, maka dia harus
semakin menguatkannya. Kalau tidak, maka dia harus menampa diri
agar bisa meraih kecerdasan tersebut.
Kecerdasan merupakan di antara sebab kuat yang menunjang dalam
pengumpulan ilmu, memahami, dan menghafalnya, serta membedakan
antara berbagai masalah, memadukan dalil-dalil, dan sebagainya.
>> Keenam: Antusias Mengumpulkan Ilmu merupakan sebab untuk bisa
memperolehnya dan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala
terhadapnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
( إن الله مع
الذين
اتقوا
والذين هو
محسنون ) [
النحل: 128]
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan
orang-orang yang berbuat ihsan.” [An-Nahl: 128]
Seseorang apabila dia tahu tentang nilai penting sesuatu, maka
ia akan antusias untuk meraihnya. Sedangkan ilmu merupakan suatu
terbesar yang semestinya diraih oleh seseorang.
Maka wajib atas penuntut ilmu: Antusias yang kuat untuk
menghafal dan memahami ilmu, duduk bersama para ‘ulama dan
talaqqi ilmu langsung dari mereka, semangat untuk banyak
membaca, menyibukkan umur dan waktunya (untuk ilmu), dan sangat
perhitungan terhadap waktunya.
>> Ketujuh: Keseriusan, Kesungguhan, dan Kontiunitas dalam
Meraih Ilmu
Menjauh dari kemalasan dan kelemahan. Mujahadatun Nafs
(memerangi diri sendiri) dan memerangi syaithan. Jiwa dan
Syaithan merupakan dua penghalang amalan menuntut ilmu.
Di antara sebab yang membantu membangkitkan kesungguhan dalam
menuntut ilmu adalah: Membaca biografi-biografi para ‘ulama,
tentang kesabaran, kekokohan menanggung beban/resiko, dan
perjalanan mereka dalam meraih ilmu dan hadits.
>> Kedelapan: Konsentrasi
Yaitu seorang penuntut ilmu mencurahkan segala kesungguhannya
hingga ia berhasil sampai kepada tujuannya dalam ilmu dan
kekokohan padanya, baik kekuatan hafalan, pemahaman, dan pondasi
yang kokoh.
>> Kesembilan: Terus Berada di Sisi Guru dan Pengajar
Ilmu itu diambil dari mulut para ‘ulama. Maka seorang penuntut
ilmu, agar kokoh dalam ilmu di atas pondisi yang benar, maka
hendaknya ia bermulazamah kepada ‘ulama, talaqqi (mengambil)
ilmu langsung dari mereka. Sehingga pencarian ilmunya tegak di
atas kaidah-kaidah yang benar. mampu melafazhkan nash-nash
qur’ani dan hadits dengan pelafazhan yang benar, tidak ada
kesalahan maupun kekeliruan. Memahami ilmu dengan pemahaman yang
tepat sesuai maksudnya. Dan lebih dari itu, dia bisa mengambil
faidah dari ‘ulama: adab, akhlaq, dan sifat wara’. Hendaknya dia
menghindar agar jangan sampai yang menjadi gurunya adalah kitab.
Karena sesungguhnya barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya
maka ia akan banyak salahnya sedikit benarnya.
Demikianlah, inilah yang terjadi pada umat ini. Tidak seorang
tampil menonjol dalam ilmu kecuali ia sebelumnya telah
tertarbiyyah dan terdidik di hadapan ‘ulama.
>> Kesepuluh: Menempuh Waktu yang Lama
Janganlah seorang penuntut ilmu mengira bahwa menuntut ilmu akan
selesai sehari atau dua hari, setahun atau dua tahun. Bahkan
menuntut ilmu itu butuh kesabaran bertahun-tahun.
Al-Qadhi ‘Iyadh ditanya,
“Sampai kapan seseorang itu menuntut ilmu?”
Beliau menjawab,
“Sampai mati, sehingga tintanya menemaninya sampai ke kuburnya.”
Al-Imam Ahmad berkata:
“Aku duduk mempelajari Kitabul Haidh selama sembilan tahun
hingga aku memahaminya.”
Demikianlah, para penuntut ilmu yang cerdas senantiasa duduk
bermulazamah kepada ‘ulama selama sepuluh tahun atau dua puluh
tahun. Bahkan sebagian mereka terus bermulazamah hingga Allah
mewafatkannya.
Inilah beberapa prinsip yang perlu untuk diperhatikan oleh
penuntut ilmu guna meraih ilmu.
Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufiq terhadap kita
dan antum kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.
وصلي الله
على نبينا
محمد ،
وعلي آله
وصحبه ومن
تبعهم
واقتفي
أثرهم
بإحسان إلي
يوم الدين .
تم ولله
الحمد .
Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
Catatan Kaki :
* 1: HR. Ahmad (I/30), At-Tirmidzi (2344), Ibnu Majah (4164),
dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallah ‘anhu.
Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.
310.
* 2: HR. Abu Dawud (5095). At-Tirmidzi (3426), dari shahabat
Anas bin Malik Radhiyallah ‘anhu. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani dalam Al-Kalimuth Thayyib no. 59.
* 3: Yaitu hadits dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu
bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menceritakan tentang
tiga orang yang pertama kali diadili para hari Kiamat nanti,
salah satu di antara mereka adalah orang yang diberi karunia
ilmu :
… وَرَجُلٌ
تَعَلَّمَ
الْعِلْمَ
وَعَلَّمَهُ
وَقَرَأَ
الْقُرْآنَ
فَأُتِىَ
بِهِ
فَعَرَّفَهُ
نِعَمَهُ
فَعَرَفَهَا
قَالَ
فَمَا
عَمِلْتَ
فِيهَا
قَالَ
تَعَلَّمْتُ
الْعِلْمَ
وَعَلَّمْتُهُ
وَقَرَأْتُ
فِيكَ
الْقُرْآنَ.
قَالَ
كَذَبْتَ
وَلَكِنَّكَ
تَعَلَّمْتَ
الْعِلْمَ
لِيُقَالَ
عَالِمٌ.
وَقَرَأْتَ
الْقُرْآنَ
لِيُقَالَ
هُوَ
قَارِئٌ.
فَقَدْ
قِيلَ
ثُمَّ
أُمِرَ
بِهِ
فَسُحِبَ
عَلَى
وَجْهِهِ
حَتَّى
أُلْقِىَ
فِى
النَّارِ. …
“… dan seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta
rajin membaca Al-Qur’an. Maka ia pun didatangkan, kemudian
diperlihatkan kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan
kepadanya, maka ia pun mengakuinya. Allah berkata: ‘Apa yang
kamu amalkan dengan nikmat-nikmat tersebut?’ Dia menjawab: ‘Saya
mempelajari ilmu dan mempelajarinya, serta aku rajin membaca
Al-Qur’an karena Engkau.’ Allah menjawab: ‘kamu telah berdusta!!
Engkau mempelajari ilmu karena ingin dikatakan sebagai seorang
yang ‘alim (berilmu), dan engkau rajin membaca Al-Qur’an supaya
dikatakan dia adalah qari’, dan kamu telah dikatakan demikian.’
Maka dia diperintahkan diseret di atas wajah, kemudian
dicampakkan ke dalam Neraka. …” [HR. Muslim 1905]
* 4: HR. Al-Bukhari 1145, Muslim 758, dari shahabat Abu Hurairah
Radhiyallah ‘anhu
* 5: HR. Al-Bukhari 7352, Muslim 1716 dari shahabat ‘Amr bin
Al-‘Ash dan shahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhuma.
* 6: Lihat HR. Al-Bukhari 119
* 7: Penggal pertama do’a ini:
(اللهم
فقهه في
الدين ) diriwayatkan oleh
Al-Bukhari 143. Adapun penggal kedua diriwayatkan oleh
Ath-Thabarani. Lihat Ash-Shahihah no. 2589.
* 8: HR. Al-Bukhari no. 52, Muslim 1599, dari shahabat An-Nu’man
bin Basyir Radhiyallah ‘anhu.
Sumber:
HTML http://www.dammajhabibah.wordpress.com
*****************************************************
Page 1 of 1