DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ ILMU
*****************************************************
#Post#: 605--------------------------------------------------
Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 2)
DIR By: Host
Date: August 24, 2024, 6:19 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 2)
Februari 22, 2011 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Abdurrahman Al Adeni -hafizhahullah-
Dan sebagaimana diketahui pula bahwa agama Allah ta’ala ini
sampai kepada kita dengan begitu mudah dan gampang seakan-akan
kita berhadapan dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- dengan taufiq, pertolongan dan keutamaan Allah ta’ala.
Yaitu dengan Allah ta’ala menyediakan bagi kita sebab-sebab
dengan adanya perjuangan yang besar yang dilakukan oleh ulama
salaf ini. Para pendahulu kita yang shalih dari kalangan
shahabat dan tabi’in serta yang datang setelah mereka dari
kalangan imam pembawa petunjuk dan penghilang kegelapan telah
melakukan perjuangan dan pengorbanan.
Para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam wa
radhiyallahu ‘anhum- sangat besar semangatnya untuk meraih ilmu
yang bermanfaat ini, dalam keadaan mereka itu sangat fakir dan
tidak berkecukupan. Diantara mereka ada yang jika tersibukkan
dia tetap berusaha mencari pengganti untuk hadir ke hadapan
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana hal ini
dilakukan oleh ‘Umar ibn Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu-
bersama tetangganya seorang anshar. ‘Umar hadir di suatu hari
lalu kembali dan menyampaikan kepada tentangganya apa yang dia
dengar, dan sang anshary hadir di suatu hari lalu kembali dan
menyampaikan kepada ‘Umar apa yang dia dengar berupa wahyu,
hikmah dan sunnah. Dan ini adalah satu dari sekian banyak contoh
(dari kalangan para shahabat).
(Diantaranya) apa yang terukir dari perawi umat islam dan
penghafalnya shahabat yaitu Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-.
Dia telah meriwayatkan bagi umat ini jumlah yang besar dan
kumpulan yang banyak dari hadits-hadits Rasulillah – shallallahu
‘alaihi wa sallam-, Yang mana jumlah yang besar dari hadits ini
telah membuat murka musuh-musuh islam dari kalangan orang
zindiq, atheis, zionis dan pengekor mereka. Maka mereka mencela
kejujurannya dan mereka menciptakan keraguan terhadapa
riwayat-riwayat ini sembari mengatakan “kenapa dia bersendiri
dengan jumlah yang besar ini dari para shahabat Rasulullah
–shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lain. Dan mereka tidak tahu
bahwa perbendaharaan yang besar ini yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- untuk umat ini terjadi setelah
adanya taufiq dari Allah ta’ala sebagai buah dari kesungguhan,
kegigihannya, pengorbanannya dan kesabarannya menahan lapar,
kesabarannya menahan sakit yang dilakukan oleh Abu Hurairah.
Kemudian dia –dengan keutamaan dari Allah Ta’ala- mampu
meriwayatkan jumlah yang besar ini untuk umat ini. Dalam
Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abu Hurairah –radhiyallahu
‘anhu- berkata:
يَقُولُونَ
إِنَّ
أَبَا
هُرَيْرَةَ
يُكْثِرُ
الْحَدِيثَ
وَاللَّهُ
الْمَوْعِدُ
وَيَقُولُونَ
مَا
لِلْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ
لَا
يُحَدِّثُونَ
مِثْلَ
أَحَادِيثِهِ
وَإِنَّ
إِخْوَتِي
مِنْ
الْمُهَاجِرِينَ
كَانَ
يَشْغَلُهُمْ
الصَّفْقُ
بِالْأَسْوَاقِ
وَإِنَّ
إِخْوَتِي
مِنْ
الْأَنْصَارِ
كَانَ
يَشْغَلُهُمْ
عَمَلُ
أَمْوَالِهِمْ
وَكُنْتُ
امْرَأً
مِسْكِينًا
أَلْزَمُ
رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
عَلَى
مِلْءِ
بَطْنِي
فَأَحْضُرُ
حِينَ
يَغِيبُونَ
وَأَعِي
حِينَ
يَنْسَوْنَ
وَقَالَ
النَّبِيُّ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَوْمًا
لَنْ
يَبْسُطَ
أَحَدٌ
مِنْكُمْ
ثَوْبَهُ
حَتَّى
أَقْضِيَ
مَقَالَتِي
هَذِهِ
ثُمَّ
يَجْمَعَهُ
إِلَى
صَدْرِهِ
فَيَنْسَى
مِنْ
مَقَالَتِي
شَيْئًا
أَبَدًا
فَبَسَطْتُ
نَمِرَةً
لَيْسَ
عَلَيَّ
ثَوْبٌ
غَيْرُهَا
حَتَّى
قَضَى
النَّبِيُّ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
مَقَالَتَهُ
ثُمَّ
جَمَعْتُهَا
إِلَى
صَدْرِي
فَوَالَّذِي
بَعَثَهُ
بِالْحَقِّ
مَا
نَسِيتُ
مِنْ
مَقَالَتِهِ
تِلْكَ
إِلَى
يَوْمِي
هَذَا
وَاللَّهِ
لَوْلَا
آيَتَانِ
فِي
كِتَابِ
اللَّهِ
مَا
حَدَّثْتُكُمْ
شَيْئًا
أَبَدًا
“Mereka berkata: “Sesungguhnya Abu Hurairah banyak meriwayatkan
hadits, dan di sisi Allah ada janji.” Mereka berkata: “Kenapa
muhajirun dan anshar tidak menyampaikan hadits seperti
hadits-haditsnya.” Sesungguhnya para saudaraku yang muhajirin
tersibukkan dengan kesepakatan dagang di pasar-pasar, dan
saudaraku yang anshar tersibukkan dengan pekerjaan harta
(pertanian, peternakan) mereka. Dan adalaah orang yang miskin,
aku terus mendamingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam keadaan tenang dengan kondisi perutku, maka aku hadir di
saat orang-orang pada absen, aku menghafal di saat mereka
terlupa. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada
suatu hari: “Tidak seorangpun dari kalian yang menghamparkan
pakaiannya sampai aku menyelesaikan ucapanku ini kemudian dia
melipatnya ke dadanya terlupa akan ucapanku selamanya meski
sedikit.” Maka aku menghamparkan pakaianku yang bergari dan
tidak ada yang melekat padaku kecuali itu sampai Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan sabdanya, kemudian
aku melipatnya ke dadaku. Maka demi Dzat yang mengutus beliau
dengan al-haq tidaklah aku lupa akan sabda beliau itu sampai
hari ini. Demi Allah kalau bukan karena dua ayat dalam
kitabullah tidaklah akau menyampaikan hadits kepada kalian meski
sedikit selamanya.”
إِنّ
الّذِينَ
يَكْتُمُونَ
مَآ
أَنزَلْنَا
مِنَ
الْبَيّنَاتِ
وَالْهُدَىَ
مِن بَعْدِ
مَا
بَيّنّاهُ
لِلنّاسِ
فِي
الْكِتَابِ
أُولَـَئِكَ
يَلعَنُهُمُ
اللّهُ
وَيَلْعَنُهُمُ
اللاّعِنُونَ
إِلاّ
الّذِينَ
تَابُواْ
وَأَصْلَحُواْ
وَبَيّنُواْ
فَأُوْلَـئِكَ
أَتُوبُ
عَلَيْهِمْ
وَأَنَا
التّوّابُ
الرّحِيمُ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang
diturunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami terangkan
kepada manusia dalam Al-Kitab mereka itulah orang-orang yang
dilaknat oleh Allah, dan mereka dilaknat oleh para pelaknat.
Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan
menjelaskan, maka mereka itulah yang Aku terima taubat mereka
dan adalah Aku Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.”
(Al-Baqarah: 159-160)
Kesungguhan, kegigihan, semangat dan pengorbanan dari Abu
Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, semangat menuntut ilmu itu –wahai
saudaraku di jalan Allah Ta’ala-, akan mengantarkan kita kepada
hasil yang besar yang kita harapkan.
Dalam Ash-Shahih diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dia
berkata:
يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
إِنِّي
أَسْمَعُ
مِنْكَ
حَدِيثًا
كَثِيرًا
أَنْسَاهُ
قَالَ
ابْسُطْ
رِدَاءَكَ
فَبَسَطْتُهُ
قَالَ
فَغَرَفَ
بِيَدَيْهِ
ثُمَّ
قَالَ
ضُمَّهُ
فَضَمَمْتُهُ
فَمَا
نَسِيتُ
شَيْئًا
بَعْدَهُ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar dari engkau hadits
yang banyak namun aku melupakannya”. Beliau bersabda: “Hamparkan
selendangmu!” Maka aku menghamparkannya. Lalu beliau menciduk
dengan kedua tangan beliau kemudian bersabda: “Genggamlah!” Maka
aku menggenggamnya maka tidaklah aku lupa sesuatu setelahnya.”
Semangat yang kita butuhkan mengisyaratkan pada penuntut ilmu
agar kita memilki kemauan, semangat untuk meraih ilmu yang
bermanfaat, selalu dan terus-menerus maka akan datang hasilnya.
Abu Hurairah tidak sebatas hanya memiliki keterusan bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterusan bersama guru
itu bisa jadi terjadi selama puluhan atau ratusan kali, namun
jika bisa terkumpul antara keterusan bersama guru, kesabaran dan
semangat seorang penuntut ilmu akan meraih kebaikan yang banyak
bi idznillah.
Dan Abu Hurairah berkumpul padanya dua pekara keterusan dan
bersabar bersama guru dan semangat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjadi saksi akan semangatnya mencari ilmu. Dalam
Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah berkata,
يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
مَنْ
أَسْعَدُ
النَّاسِ
بِشَفَاعَتِكَ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
لَقَدْ
ظَنَنْتُ
يَا أَبَا
هُرَيْرَةَ
أَنْ لَا
يَسْأَلُنِي
عَنْ هَذَا
الْحَدِيثِ
أَحَدٌ
أَوَّلُ
مِنْكَ
لِمَا
رَأَيْتُ
مِنْ
حِرْصِكَ
عَلَى
الْحَدِيثِ
أَسْعَدُ
النَّاسِ
بِشَفَاعَتِي
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
مَنْ قَالَ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
اللَّهُ
خَالِصًا
مِنْ
قَلْبِهِ
أَوْ
نَفْسِهِ
“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling bahagia dengan
syafa’at engkau pada hari kiamat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Aku telah menyangka wahai Abu Hurairah, tiada
seorangpun yang bertanya akan hadits ini sebelum engkau, karena
apa yang aku lihat akan semaangatmu mendapatkan hadits. Orang
yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat orang
yang berkata: “Tiada ilah yang benar kecuali Allah” secar ikhlas
dari kalbunya atau dari dirinya.”
Demikian terjadi pada banyak shahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum. Bersungguh-sungguh,
semangat dan berkorban.
Berikut terjemah Al-Qur’an dan tinta dari tinta-tinta umat ini
yaitu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam mendo’akannya:
اللَّهُمَّ
فَقِّهْهُ
فِي
الدِّينِ،
وَعَلِّمْهُ
التَّأْوِيلَ
“Ya Allah dalamkanlah pemahamannya dalam agama ini dan ajarkan
padanya tafsir.”
Yaitu dengan Allah ta’ala menambahkan kepadanya ilmu dan hikmah,
dan dia tidaklah hanya bersandar kepada do’a nabawy ini lalu
duduk di rumahnya. Bahkan dia semangat dan bersungguh-sungguh
dan begadang (demi ilmu) sampai dia menjadi ulama besar islam,
mendalam dalam fiqih, tafsir, aqidah, bahasa dan ilmu nasab,
serta tentang hari-hari arab dan selan itu.
Dari mana Ibnu ‘Abbas mendapatkan ilmu yang luas ini? Terwujud
padanya do’a nabawiyah, Allah mengabulkan do’a nabi-Nya Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Ibnu ‘Abbas juga Allah
menolongnya untuk mengejar ilmu dan semangat meraihnya,
memanfaatkan waktu dan kesempatan sedang dia berada di zaman
yang penuh menuntut ilmu yaitu zaman pembesar shahabat. Ada Abu
Bakar orang terbaik umat ini setelah nabinya, ‘Umar, ‘Utsman,
‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay, Mu’adz dan mereka-mereka para ulama
besar.
Dan hal itu tidak memalingkan Ibnu ‘Abbas dari menuntut ilmu
sebagaimana terkadang terjadi pada sebagian kita. Ketike melihat
adanya ulama besar dan bahwa Allah ta’ala telah memberikan
manfaat dengan mereka pada umat, negara dan masyarakat, lalu dia
minder dan meremehkan dirinya -dan pantas baginya untuk
meremehkan dirinya- namun peremehan dirinya ini bukn pada
tempatnya. Dia meremehkan dirinya kemudian menyebabkan dirinya
tidak berusaha meraih ilmu dan berkata: Alhamdulillah.
Wahai saudaraku, ulama boleh jadi sekarang hidup, namun bisa
jadi besok meninggal, dan harus ada orang yang menggantikan
mereka pada umat ini dalam ilmunya. Jika penghamba dunia
semangat untuk mengadakan orang yang mengganti posisi mereka
dalam semua bidang, dalam ketentaraan, penerbangan, kedokteran,
dan teknologi sampai tingkatan sihir sekalipun diperhatikan,
sebagaimana dalam hadits yang shahih dalam kisah anak dengan
penyihir dan raja.
Lalu bagaimana dengan ilmu syari’at, jika tidak ada perhatian
dari umat, maka ia akan hilang dan habis tidak akan tersisa lagi
silsilah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu ‘Abbas di dalam hadits yang masyhur di sisi kalian tidaklah
bersandar dan menyerah, namun dia melihat dengan pandangan yang
jauh ke depan. Ad-Darimy meriwayatkan, dan Ahmad dalam
Al-Fadha’il, dan Ibnu Sa’d dan selain mereka dari hadits Ibnu
‘Abbas dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam wafat aku berkata kepada seorang pemuda anshar: “Marilah
wahai fulan, kita menuntut ilmu. Sesungguhnya para shahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup”. Dia
menjawab: “Sungguh aneh engkau wahai Ibnu ‘Abbas, engkau lihat
manusia butuh kepadamu sementara di antara mereka ada shahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata:
“Maka aku tinggalkan dia dan aku mengejar menuntut ilmu, jika
ada hadits yang sampai kepadaku dari seorang shahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia telah mendegarnya dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku datangi dia
dan aku duduk di depan pintu rumahnya lalu angin menrepa
wajahku. Lalu shahabat tersebut berkata kepadaku: “Wahai anak
paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang
membuatmu datang kemari? Apa kebutuhanmu?” Aku katakan: “Suatu
hadits sampai kepadaku yang engkau riwayatkan dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka dia berkata: “Tidakkah
engkau utus seseorang kepadaku?” Maka aku katakan: “Aku yang
lebih pantas untuk mendatangimu.” Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata:
“Maka orang anshar tadi masih dlam kondisinya sehingga manusia
berkumpul kepadaku, makaa dia berkata: “Pemuda ini lebih berakal
dari pada aku.”
Kenapa demikian? Karena para pembesar dari shahabat (yang
anshary tadi beralasan dengan keberadaan mereka), mereka itu
meninggal.
{ إِنّكَ
مَيّتٌ
وَإِنّهُمْ
مّيّتُونَ
}
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mengalami kematian dan
mereka juga akan mati.” (Az-Zumar: 30)
Kematian mesti datang kepada setiap jiwa, berapapun umur
seseorang, mesti dia akan sampai pada kematian. Kesungguhan ini
pada diri Ibnu ‘Abbas pada dirinya bersama para muridnya.
Demikian pula yang kita contoh dari ulama dan masyayikh kita,
mereka bersungguh-sungguh pada diri mereka dan mereka semangat
untuk mendorong murid-murid mereka. Demikian pula Ahlus sunnah
di setiap tempat berada dalam koridor nasehat ini untuk diri
mereka, saudara mereka dan murid mereka.
---------------------------------------------------------
(Bersambung ke bagian 3) Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
Sumber:
HTML http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/06/10/semangat-salaf-ilmu-02/
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
*****************************************************
Page 1 of 1