DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ ILMU
*****************************************************
#Post#: 604--------------------------------------------------
Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 3 - Selesai)
DIR By: Host
Date: August 24, 2024, 4:40 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu (Bag. 3 - Selesai)
Februari 24, 2011 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Abdurrahman Al Adeni -hafizhahullah-
‘Ikrimah rahimahullah termasuk pembesar ulama tabi’in berkata:
“Ibnu ‘Abbas mengikat kakiku dan mengajariku Al-Qur’an dan
fara’idh (ilmu waris).” Maka ‘Ikrimah mengantongi segudang
manfaat dari semangat gurunya -Ibnu ‘Abbas- ini, maka jadilah
dia seorang ‘alim dari sekian ulama umat pada zamannya dan zaman
tabi’in. Demikian pula para ulama kita dari genersi tabi’in dan
yang setelah mereka, mereka menyadari betapa berharganya ilmu
sehingga mereka mendermakan umur mereka yang berharga dan harta
yang melimpah lalu mereka memanfaatkan waktunya untuk melakukan
ketaatan kepada Allah dan meraih ilmu yang bermanfaat.
Kesungguhan yang besar, pengorbanan dan perjuangan yang
dilakukan ulama pendahulu kita. Mereka tidak kenal dengan hidup
malas dan curi-curi kesempatan untuk lari dari menuntut ilmu.
Akan tetapi waktu mereka siang dan malam terisi dengan usaha
menghasilkan ilmu yang bermanfaat.
Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata: “Aku membaca di hadapan
bapakku di saat dia menulis, di saat dia jalan, di saat
berkendara, di saat dia di rumah, di saat dia di kamar mandi.”
Ibnu Abi Hatim adalah syikhul islam dan anak dari seorang
syaikhul islam. Ibnu Abi Hatim merupakan pembesar penghafal
islam, dan bapaknya juga (Abu Hatim) merupakan pembesar
penghafal islam.
Majduddin Ibnu Taimiyah penulis Al-Muntaqa (kakek Syaikhul
Islam) jika dia masuk ke kamar mandi dia memberikan pada anaknya
sebuah kitab lalu berkata: “Bacalah kitab ini dan angkat
suaramu!.” Bacalah kitab ini dan angkat suaramu sedangkan dia
dalam kamar mandi. Adapun kita, kita memiliki kamar mandi, tapi
tempat apa? Ketika kita di dalam tempat itu adalah tempat kita
berpikir, membuka rencana proyek, masuk kamar mandi sembari
mengerjakan proyek, berpikir apa yang harus dikerjakan, apa yang
akan dibutuhkan pada hari ini dan koreksi apa yang telah lewat.
Mereka (para ulama) menyangka bahwa waktu akan terbuang sia-sia
ketika di kamar mandi. Jika masuk kamar mandi dia memberi
anaknya kitab dan menyuruhnya membaca dan “Angkat suaramu!”.
Al-Khathib Al-Baghdady rahimahullah tidaklah berjalan di suatu
jalan kecuali di tangannya ada permsalahan yang sedang dia
bahas. Demikian juga An-Nawawy rahimahullah. Al-Imam Tsa’lab
seorang imam ahli nahwu dan adab jika diundang seseorang ke
suatu walimah mensyaratkan bagi tuan rumah agar dia diberi
tempat yang lapang untuk kitabnya yang dia akan baca. “Saya akan
hadir tapi beri aku tempat yang lapang”. Dan adalah sebab
kematiannya bahwa dia keluar di hari jum’at setelah ‘Ashr dari
masjid, dan di tangannya ada kitab yang dia baca. Tiba-tiba
datanglah kuda menabraknya maka dia terjatuh dalam jurang, lalu
beliau dikeluarkan mengaduh sakit dan berteriak lalu meninggal
di hari yang kedua.
Tidaklah mereka (para ulama) menyia-nyiakan waktu merekaa,
bersungguh-sungguh siang dan sore.
Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata: “Kami berada di Mesir
selama tujuh bulan dan belum pernah merasakan kuah daging. Siang
kami gunakan untuk keliling ke majelis para ulama, dan malam
untuk pertemuan dan mencatat. Kami datang ke seorang ulama kami
dikabari bahwa dia sakit, maka kami kembali dan kami temukan di
jalan ada ikan dijual maka kami membelinya. Dan kami bertiga,
sampailah kami ke rumah lalu tibalah jadwal majelis berikutnya
maka kami pergi. Demikian berlangsung tiga hari sehingga kami
tidak sempat memberikan ikan ini kepada yang bisa membakarnya,
kemudian kami memakan ikan tersebut setelah tiga hari dalam
keadaan sudah tidak baik kondisinya. Kemudian apa yang dia
katakan?? ??
Dia berkata: “Tidak akan diraih ilmu ini dengan berleha-leha.”
Tidaklah dia ingin dipuji dengan hal ini, namun dia ingin
menjamkan cita-cita. Dan akhir hayat mereka menjadi bukti akan
kejujuran dan keikhlasan mereka. Mereka wafat di atas sunnah,
dan di atas kebaikan, Allah menjadikan ilmunya bermanfaat bagi
negara dan umat.
Al-Bukhary rahimahullah, salah seorang mereka berkata: “Aku
melihatnya di suatu malam, dia berdiri sekitar 15 sampai 20 kali
menyalakan lentera, menulis faedah (saduran ilmu) yang terbetik
pada dirinya kemudian mematikan lentera itu dan kembali.” Dalam
satu malam 15-20 kali menyalakan lentera demi menulis saduran
ilmu.
Seorang dari mereka berkata: “Aku bertetangga dengan Al-Mundziry
12 tahun, rumahku di atas rumahnya. Tidaklah aku bangun di suatu
malam kecuali terlihat ada cahaya lentera dan dia sibuk dengan
ilmu.”
Mereka bersungguh-sungguh sehingga sampai kepada derajat yang
tinggi dalam ilmu yang bermanfaat yang ditinggalkan untuk umat
ini.
Ibnu Abi Dawud salah seorang lautan ilmu berkata: “Aku masuk
Kufah dan hanya memiliki satu dirham lalu aku membeli 30 mud
baqlah (kacang-kacangan). Maka aku memakan baqlah dan aku
menulis riwayat dari Abu Sai’d Al-Asyad. Tidaklah habis kacang
itu sampai aku bisa menulis 30 ribu hadits yang maqthu’ dan
mursal.”
Mereka sangat pelit terkait dengan waktu yang mana waktu adalah
kebutuhan darurat manusia. Waktu makan, waktu buang hajat.
Sebagian mereka mengurangi makan, dan sebagian mereka memilih
menu yang tidak butuh waktu banyak untuk memakannya.
Al-Farahidy berkata: “Waktu yang paling berat bagiku adalah
waktu makan.” Demikian pula An-Nawawy rahimahullah tidaklah
makan dalam sehari kecuali satu kali di waktu sahur, dan tidak
minum kecuali satu kali menjauhi berbagi macam buah, karena dia
akan membasahi tubuhnya sehingga menjadikan aku banyak tidur.
Sebagian mereka menyedikitkan makan di saat makan sehingga tidak
butuh banyak minum, sehingga banyak masuk kamar mandi sehingga
terbuat sedikit waktunya.
Ibnu Aqil berkata (yang maknanya): “Aku memilih kue lalu siram
dengan air dibanding roti karena adanya perbedaan jenis.” Dia
mengambil kue lalu menjadikannya seperti tepung lalu menelannya
satu kali telan bersama dengan air, dan tidak memilih roti
(terlalu lama makannya). Ia tidaklah berlebih-lebihan, Ibnu Aqil
mampu dengan semangat ini mengarang kitab judulnya “Al-Funun”
yang terdiri dari 800 jilid.
Adz-Dazhaby berkata: “Tidak diketahui dalam islam karya yang
lebih besar dari kitab ini dalam 800 jild.” Beliau mengumpulkan
padanya permasalahan aqidah, fiqih, bahasa, ushul, tafsir,
sya’ir-sya’ir, wejangan, hasil pemikiran dan sebagainya. Maka
cepat dalam makan, dalam berjalan, dalam menulis sesuatu yang
dikenal dari ulama kita. As-Suyuthy berkata: berkata guru kami
Al-Kinany dari bapaknya (penulis Al-Khithabah”: “Kecepatan
temannya ilmu dalam tiga perkaraa: Dalam makan, berjalan dan
menulis.”
Ibnu Sahnun ahli fiqih dari Malikiyah, dia memiliki budak wanita
bernama Ummu Mudan. Suatu malan dia tersibukkan dengan menulis
suatu kitab sampai larut, dan Ummu Mudan telah menyiapkan makan
malam. Ummu Mudan berkata: “Tuanku makan malaan sudah siap.” Dia
berkata: “Aku sedang sibuk”. Ummu Mudan ingin tidur kaena telh
banyak begadang, namun dia beranjak menyuapi kepada Ibnu Sahnun
dan dia tidak merasa. Ketika telah adzan fajr dia berkata:
“Maafkan aku Ummu Mudan, malam ini sangat tersibukkan,
datngkanlah makanannya!” Ummu Mudan berkata: “Demi Allah, aku
telah suapkan kepadamu tuanku.” Dia berkata: “Demi Allah, aku
tidak menyadarinya.”
Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabary disebutkan padanya sebuah faedah
ilmiyah ketika dia menjelang kematiannya, maka dia meminta
diberi tinta dan kertas. Ada yang berkata: “Sekarang di saat
yang begini ahai imam?” Dia menjawab: “Tidak sepantasnya bagi
penuntut ilmu untuk meninggalkan menyalin ilmu sampai dia mati.”
Ibnul Qayyim berkata Syaikhul Islam guru kami mengabarkan bahwa
dia tertimpa suatu penyakit dan dokter berkata padanya: “Engkau
membaca dan menelaah itu akan menambah sakitmu”. Dia berkata:
“Aku tidak bisa”. Dia diminta untuk libur dan istirahat beberapa
hari. Dia berkata: “Aku tidak bisa.”
Sebuah semangat.
Kita mendorong dan menghibur diri kita dengan hikayat-hikayat
dan kisah ini, semoga Allah menolong kita untuk menanamkannya
pada diri kita.
Bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku, mari kita menanggung
ujian dan lelah demi ilmu, demikian wahai saudaraku untuk kita
bisa berusaha semampu mungkin meraih ilmu yang bermanfaat,
terlebih lagi sarana untuk kita mencari ilmu sangat mudah di
zaman ini. Maka kita harus memanfaatkan kesempatan dan kemudahan
ini. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta
salam semoga tercurah untuk nabi kita Muhammad, keluarga beliau
dan shahabat beliau semuanya.
Sekian sampai di sini dengan sedikit peringkasan.
Diterjemahkan oleh:
‘Umar Al-Indunisy
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
Sumber:
HTML http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/06/14/semangat-salaf-03/
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
*****************************************************
Page 1 of 1