DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ ILMU
*****************************************************
#Post#: 591--------------------------------------------------
Fatwa Penuntut Ilmu (1): Antara Ilmu dan Ijazah
DIR By: iscm
Date: August 23, 2024, 10:13 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA
ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar bin Abdul Aziz)
---------------------------------------------------------
✻ Fatwa Penuntut Ilmu (1): Antara Ilmu dan Ijazah
September 19, 2013 oleh Wira Mandiri Bachrun Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[size=10pt]◥↑ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/28/tanggung-jawab-kedua-orang-tua-serta-para-pengajar/
Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Baaz rahimahullah
Soal Pertama: Termasuk yang tersebar di kalangan para penuntut
ilmu, khususnya di universitas-universitas dan yayasan-yayasan
pendidikan, pernyataan sebagian orang bahwa ilmu telah pergi
bersama pemiliknya; dan bahwa tidak akan ditemukan seseorang
yang belajar di sebuah yayasan pendidikan kecuali dia bertujuan
untuk mencari ijazah dan perkara dunia. Bagaimana bantahan
terhadap mereka? Apa hukumnya apabila seseorang meniatkan
mencari ilmu untuk mendapatkan dunia dan ijazah, namun di
samping itu dia juga meniatkan untuk memberikan manfaat bagi
dirinya sendiri dan masyarakatnya?
Jawaban: Pendapat tersebut tidaklah benar dan tidak semestinya
terucap. Seseorang yang mengatakan bahwa manusia telah binasa,
maka dialah yang telah membinasakannya. Justru hendaknya dia
memberikan motivasi serta mengajak orang lain dalam mencari dan
berkonsentrasi untuk ilmu, bersabar, meneguhkan kesabaran dalam
mencarinya, dan berprasangka baik terhadap para pencari ilmu.
Kecuali orang yang diketahui bahwa dia memiliki sifat yang
bertolak belakang dari hal-hal tersebut.
Ketika menjelang wafat, Mu’adz radhiyallahu ‘anhu (dalam sebuah
riwayat) mewasiatkan kepada orang-orang yang di sekitarnya untuk
mencari ilmu seraya berkata, “Sesungguhnya ilmu dan iman
memiliki kedudukan. Barangsiapa menginginkan, maka dia akan
mendapatkannya keduanya.”
Maksudnya, kedudukan keduanya sangat agung dalam Al Qur`an dan
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya
seorang yang berilmu diwafatkan bersama dengan ilmunya, dan ilmu
dicabut dengan diwafatkannya para ulama. Namun, alhamdulillah,
senantiasa ada sekelompok manusia yang berada di atas kebenaran
yang ditolong oleh Allah subhanahu wata’ala.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ
اللهَ لاَ
يَقْبِضُ
الْعِلْمَ
انْتِزَاعاً
يَنْتَزِعُهُ
مِنْ
صُدُورِ
الرِّجَالِ
وَلَكِنْ
يَقْبِضُ
الْعِلْمَ
بِمَوْتِ
الْعُلَمَاءِ
حَتَّى
إِذَا لَمْ
يَبْقَ
عَالِمٌ
اتَّخَذَ
النَّاسُ
رُؤُوسًا
جُهَّالاً
فَسُئِلُوا
فَأَفْتَوا
بِغَيْرِ
عِلْمٍ
فَضَلُّوا
وَأَضَلُّوا
”Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan serta merta
dicabut dari qalbu manusia. Namun Allah mencabutnya dengan
mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa
seorang ulamapun, manusia akan mengambil pimpinan-pimpinan yang
bodoh. Lalu pimpinan-pimpinan yang bodoh tersebut akan ditanya
dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan
menyesatkan.” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya)
Inilah perkara yang sesungguhnya ditakutkan. Orang-orang bodoh
tampil untuk berfatwa dan mengajar, sehingga merekapun sesat dan
menyesatkan. Adapun perkataan orang itu bahwa ilmu telah pergi
dan tidak tersisa kecuali demikian dan demikian, dikhawatirkan
dia akan mengendorkan semangat sebagian manusia. Meskipun orang
yang kokoh dan berilmu tidak akan kendor semangatnya, bahkan hal
tersebut akan mendorongnya untuk menuntut ilmu sehingga mampu
menutup lubang (kekurangan) tersebut.
Ketika menghadapi ucapan semacam ini, orang yang faham, ikhlas,
jujur dan berilmu, tidak akan kendor semangatnya. Dia justru
maju dan bersungguh-sungguh mencari ilmu, terus-menerus belajar
dan bersegera melakukannya, karena kebutuhan yang sangat
terhadap ilmu serta untuk menutup celah yang digunakan oleh
orang-orang untuk mengatakan bahwa tidak tersisa seorang pun
yang berilmu. Sehingga walaupun ilmu berkurang dan sebagian
besar ulama wafat, namun alhamdulillah akan senantiasa ada
sekelompok orang yang berada di atas kebenaran dan ditolong oleh
Allah ‘azza wajalla, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam,
[size=18pt]لاَ
تَزَالُ
طَائِفَةٌ
مِنْ
أُمَّتِي
عَلَى
الْحَقِّ
مَنْصُوْرَةً
لاَ
يَضُرُّهُمْ
مَنْ
خَالَفَهُمْ
وَلاَ مَنْ
خَذَلَهُمْ
حَتَّى
يَأتِيَ
أَمْرُ
اللهِ
“Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berada di atas
kebenaran dan mereka tertolong. Tidak akan menyusahkan mereka
orang-orang yang menyelisihi mereka dan orang-orang yang
meninggalkan mereka, sampai datang keputusan Allah (hari
kiamat).”
Sehingga kita wajib bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu,
memberikan motivasi untuk melakukannya, bersemangat untuk
menutup kekurangan, menegakkan kewajiban di kota kita maupun
yang lainnya, dalam rangka mengamalkan dalil-dalil syar’i yang
memberikan motivasi untuk melakukan hal tersebut. Kita juga
wajib bersemangat untuk memberikan manfaat pada kaum muslimin
dan mengajari ilmu agama kepada mereka. Sebagaimana hendaknya
kita juga memberi semangat untuk ikhlas dan jujur dalam mencari
ilmu.
Barangsiapa menginginkan ijazah agar menjadi kuat dalam
menyampaikan ilmu dan berdakwah kepada kebaikan, maka dia telah
berbuat sesuatu yang baik. Kalau dia menginginkan harta agar
menjadi kuat dalam berdakwah, tidak mengapa dia pergi belajar
kemudian mendapatkan ijazah yang akan membantunya dalam
menyebarkan ilmu serta mengambil harta yang dapat membantunya
dalam hal itu, agar manusia dapat menerima ilmu darinya. Karena
sesungguhnya kalau bukan karena pertolongan Allah subhanahu
wata’ala, kemudian manfaat dari harta tersebut maka kebanyakan
manusia tidak akan mampu untuk belajar dan menyampaikan
dakwahnya.
Harta dapat membantu seorang muslim dalam mencari ilmu,
menyelesaikan kebutuhannya, dan membantu dalam menyampaikan ilmu
kepada manusia. Tatkala ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menangani
beberapa pekerjaan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
memberikan harta kepadanya. Namun ‘Umar radhiyallahu ‘anhu
berkata, “Berikan harta itu kepada orang yang lebih membutuhkan
dariku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
[size=18pt]خُذْ
هَذَا
الْمَالَ
فَتَمُولُهُ
أَوْ
تَصَدَّقْ
بِهِ وَمَا
جَاءَكَ
مِنْ هَذَا
الْمَالُ
وَأَنتَ
غَيْرُ
مُشْرِفٍ
وَلاَ
سَائِلٍ
فَخُذْهُ
وَمَا لاَ
فَلاَ
تَتَّبِعْهُ
نَفْسُكَ
[size=11pt]“Ambillah harta ini agar engkau bisa menyimpannya
atau mengembangkannya. Apa yang telah engkau terima dari harta
ini sementara engkau bukanlah seorang yang mengharapkan dan
meminta harta tersebut, maka ambillah. Dan jika harta tersebut
tidak ditawarkan kepadamu, maka janganlah jiwamu meliriknya.”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan harta kepada para
muallaf yang dibujuk hatinya untuk memberikan dorongan kepada
mereka, sehingga mereka masuk ke dalam agama Allah subhanahu
wata’ala dengan berbondong-bondong. Seandainya perbuatan
tersebut hukumnya adalah haram maka niscaya Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam tidak akan memberikan harta tersebut kepada
mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberikannya
baik sebelum maupun setelah Fathu Makkah. Ketika Fathu Makkah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan seratus unta kepada
sebagian shahabatnya dan beliau memberi sebagaimana pemberian
orang yang tidak takut miskin. Hal tersebut dalam rangka memberi
motivasi untuk masuk Islam dan berdakwah kepada Islam.
Sungguh Allah subhanahu wata’ala telah memberikan hak bagi
orang-orang muallaf yang dibujuk hatinya untuk mendapatkan
zakat. Allah subhanahu wata’ala juga memberikan hak bagi para
muallaf, para pengajar, hakim-hakim dan kaum muslimin yang
lainnya untuk memperoleh bagian dari baitul maal. Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
(Sumber:
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com
dinukil dari kitab
Masuliyati Thalibil Ilm karya Syaikh ibn Baaz, edisi Indonesia
Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, penerjemah: Abu Luqman Abdullah,
penerbit Al Husna, Jogjakarta)
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
*****************************************************
Page 1 of 1