DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ MUHAMMAD صلى...
*****************************************************
#Post#: 66--------------------------------------------------
۩۞۩ 25 NABI DAN RASUL: NABI MUHAMMAD
صلى ا لله
عليه وسلم
DIR By: iscm
Date: December 22, 2023, 10:37 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS [color=beige]|
SEJARAH SINGKAT 25 NABI DAN RASUL[/shadow][/color][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Sejarah Singkat 25 Nabi dan Rasul ini dikaitkan dengan
nash Al-Qur'an. dan untuk lebih lengkap silahkan baca buku Ibnu
Katsir
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(9)-murid-murid-mereka/ibnu-katsir/msg152/#msg152[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ ۩۞۩ 25 NABI DAN RASUL
September 17, 2024 Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=230
🟦 NABI MUHAMMAD صلى ا
لله عليه
وسلم
[size=18pt][25] ۩۞۩ NABI MUHAMMAD
[font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Nabi Muhammad [i]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah nabi
pembawa risalah Islam, rasul terakhir penutup rangkaian
nabi-nabi dan rasul-rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala di muka
bumi. Ia adalah salah seorang dari yang tertinggi di antara 5
rasul yang termasuk dalam golongan Ulul Azmi atau mereka yang
mempunyai keteguhan hati [color=blue](QS. 46: 35). Keempat rasul
lainnya dalam Ulul Azmi tsb ialah Ibrahim Alaihissalam, Musa
Alaihissalam, Isa Alaihissalam, dan Nuh
Alaihissalam.[/i][/color]
[size=12pt]✻ Kelahiran Nabi Muhammad
[font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam[/font]
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah anggota Bani
Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy yang
mendominasi masyarakat Arab. Ayahnya bernama Abdullah Mutthalib,
seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya
bernama Aminah bint Wahab dari Bani Zuhrah. Baik dari garis ayah
maupun garis ibu, silsilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sampai kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail
Alaihissalam.
Tahun kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada tahun itu terjadi
peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Makkah
dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Pasukan itu dipimpin oleh
Abrahah, Gubernue Kerajaan Habsyi di Yaman. Abrahah ingin
mengambil alih kota Makkah dan Ka’bahnya sebagai pusat
perekonomian dan peribadatan bangsa Arab. Ini sejalan dengan
keingin Kaisar Negus dari Ethiopia untuk menguasai seluruh tanah
Arab, yang bersama-sama dengan Kaisar Byzantium menghadapi musuh
dari timur, yaitu Persia (Iraq).
Dalam penyerangan Ka’bah itu, tentara Abrahah hancur karena
terserang penyakit yang mematikan yang dibawa oleh burung Ababil
yang melempari tentara gajah. Abrahah sendiri lari kembali ke
Yaman dan tak lama kemudian meninggal dunia. Peristiwa ini
dikisahkan dalam Al-Qur’an surat (Al-Fîl: 1-5).
Beberapa bulan setelah penyerbuan tentara gajah, Aminah
melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama Muhammad. Ia
lahir pada malam menjelang dini hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun
Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Saat itu ayah Muhammad,
Abdullah, telah meninggal dunia.
Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya, Abdul Mutthalib. Nama itu
sedikit ganjil di kalangan orang-orang Quraisy, karenanya mereka
berkata kepada Abdul Mutthalib, “Sungguh di luar kebiasaan,
keluarga Tuan begitu besar, tetapi tak satu pun yang bernama
demikian.” Abdul Mutthalib menjawab, “Saya mengerti. Dia memang
berbeda dari yang lain. Dengam nama ini saya ingin agar seluruh
dunia memujinya.”
[size=12pt]✻ Masa Pengasuhan Haliman bint Abi Du’aib
as-Sa’diyah
Adalah suatu kebiasaan di Makkah, anak yang baru lahir diasuh
dan disusui oleh wanita desa dengan maksud supaya ia bisa tumbuh
dalam pergaulan masyarakat yang baik dan udara yang lebih
bersih. Saat Muhammad lahir, ibu-ibu dari desa Sa’ad datang ke
Makkah menghubungi keluarga-keluarga yang ingin menyusui
anaknya. Desa Sa’ad terletak kira-kira 60 km dari Makkah, dekat
kota Ta’if, suatu wilayah pegunungan yang sangat baik udaranya.
di antara ibu-ibu tsb terdapat seorang wanita bernama Halimah
bint Abu Du’aib as Sa’diyah. Keluarga Halimah tergolong miskin,
karenanya ia sempat ragu untuk mengasuh Muhammad karena keluarga
Aminah sendiri juga tidak terlalu kaya. Akan tetapi entah
mengapa bayi Muhammad sangat menawan hatinya, sehingga akhirnya
Halimah pun mengambil Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
sebagai anak asuhnya.
Ternyata kehadiran Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat
membawa berkah pada keluarga Halimah. Dikisahkan bahwa kambing
peliharaan Haris, suami Halimah, menjadi gemuk-gemuk dan
menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya. Rumput tempat
menggembala kambing itu juga tumbuh subur. Kehidupan keluarga
Halimah yang semula suram berubah menjadi bahagia dan penuh
kedamaian. Mereka yakin sekali bahwa bayi dari Makkah yang
mereka asuh itulah yang membawa berkah bagi kehidupan mereka.
✻ Tanda-tanda kenabian
Sejak kecil Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah
memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa.
Usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah
mampu berbicara. Pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama
anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing. Saat
itulah ia berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi
pada ibunya. Dengan berat hati Halimah terpaksa mengembalikan
anak asuhnya yang telah membawa berkah itu, sementara Aminah
sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan
segar.
Namun tak lama setelah itu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
kembali diasuh oleh Halimah karena terjadi wabah penyakit di
kota Makkah. Dalam masa asuhannya kali ini, baik Halimah maupun
anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Anak-anak Halimah sering mendengar
suara yang memberi salam kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam, “Assalamu ‘Alaika ya Muhammad,” padahal mereka tidak
melihat ada orang di situ.
Dalam kesempatan lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil
menangis dan mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar
dan berpakaian putih menangkap Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam. Halimah bergegas menyusul Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam. Saat ditanyai, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
menjawab, “Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka memberikan
salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku,
membasuhnya dengan air yang mereka bawa, lalu menutup kembali
dadaku tanpa aku merasa sakit.”
Halimah sangat gembira melihat keajaiban-keajaiban pada diri
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun karena kondisi
ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa
mengembalikan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang saat
itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Makkah.
Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
telah menjadi yatim-piatu. Aminah meninggal karena sakit
sepulangnya ia mengajak Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
berziarah ke makam ayahnya. Setelah kematian Aminah, Abdul
Mutthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun kemudian Abdul Mutthalib pun
meninggal, dan tanggung jawab pemeliharaan Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam beralih pada pamannya, Abi Thalib.
Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib mengabulkan permintaan
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk ikut serta dalam
kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam (Suriah). Usia
12 tahun sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam
perjalanan seperti itu, namun dalam perjalanan ini kembali
terjadi keajaiban yang merupakan tanda-tanda kenabian Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Segumpal awan terus menaungi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sehingga panas terik yang membakar kulit tidak
dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah
rombongan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bila mereka
berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kejadian ini menarik
perhatian seorang pendeta Kristen bernama Buhairah yang
memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Ia menguasai betul
isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat dalam
kafilah itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang
mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar
matahari oleh segumpal awan di atas kepalanya. “Inilah Roh
Kebenaran yang dijanjikan itu,” pikirnya.
Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-iringan kafilah itu
dan mengundang mereka dalam suatu perjamuan makan. Setelah
berbincang-bincang dengan Abi Thalib dan Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam sendiri, ia semakin yakin bahwa anak yang
bernama Muhammad adalah calon nabi yang ditunjuk oleh Allah
Subhanahu Wa Ta’ala. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh
kenyataan bahwa di belakang bahu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam terdapat sebuah tanda kenabian.
Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah
berpesan pada Abi Thalib, “Saya berharap Tuan berhati-hati
menjaganya. Saya yakin dialah nabi akhir zaman yang telah
ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan agar hal ini
jangan diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh
nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya
terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab
Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan.”
Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abi Thalib
segera mempercepat urusannya di Suriah dan segera pulang ke
Makkah.
✻ Gelar al-Amin
Pada usia 20 tahun, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
mendirikan Hilful-Fudűl, suatu lembaga yang bertujuan membantu
orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Makkah memang
sedang kacau akibat perselisihan yang terjadi antara suku
Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudűl inilah
sifat-sifat kepemimpinan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam lembaga ini, disamping
ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin terkenal
sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas
karena berita kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut,
sehingga ia mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang yang
terpercaya.
Selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang adil dan memiliki
rasa kemanusiaan yang tinggi. Suatu ketika bangunan Ka’bah rusak
karena banjir. Penduduk Makkah kemudian bergotong-royong
memperbaiki Ka’bah. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan
peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan.
Masing-masing suku ingin mendapat kehormatan untuk melakukan
pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian berkata,
“Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu
Shafa ini.”
Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam muncul dari sana. Semua hadirin berseru, “Itu
dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima semua
keputusannya.”
Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam lalu membentangkan sorbannya di atas tanah, dan
meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua
kepala suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara
bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian yang diharapkan,
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meletakkan batu itu pada
tempatnya semula. Dengan demikian selesailah perselisihan di
antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan cara
penyelesaian yang sangat bijak itu.
✻ Pernikahan dengan Khadijah
Pada usia 25 tahun, atas permintaan Khadijah bint Khuwailid,
seorang saudagar kaya raya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam berangkat ke Suriah membawa barang dagangan saudagar
wanita yang telah lama menjanda itu. Ia dibantu oleh Maisaroh,
seorang pembantu lelaki yang telah lama bekerja pada Khadijah.
Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam, Khadijah telah menaruh simpati melihat penampilan
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sopan itu.
Kekagumannya semakin bertambah mengetahui hasil penjualan yang
dicapai Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Suriah melebihi
perkiraannya.
Akhirnya Khadijah mengutus Maisaroh dan teman karibnya, Nufasah
untuk menyampaikan isi hatinya kepada Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam. Khadijah yang berusia 40 tahun, melamar
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjadi suaminya.
Setelah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu akhirnya
diterima dan dalam waktu dekat segera diadakan upacara
pernikahan dengan sederhana. yang hadir dalam acara itu antara
lain Abi Thalib, Waraqah ibn Nawfal dan Abu Bakar as-Siddiq.
Pernikahan bahagia itu dikaruniai 6 orang anak, terdiri dari 2
anak lelaki bernama Al-Qasim dan Abdullah, dan 4 anak perempuan
bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kedua anak
lelakinya meninggal selagi masih kecil. Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menikah lagi sampai Khadijah
meninggal, saat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berusia 50
tahun.
Dalam kehidupan rumah-tangganya dengan Khadijah, Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyakiti hati
istrinya. Sebaliknya istrinya pun ikhlas menyerahkan segalanya
pada suaminya. Kekayaan istrinya digunakan oleh Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk membantu orang-orang miskin
dan tertindas. Budak-budak yang telah dimiliki Khadijah sebelum
pernikahan mereka, semuanya ia bebaskan, salah satunya adalah
Zaid ibn Haritsah yang kemudian menjadi anak angkatnya.
✻ Wahyu Pertama
Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sering berkhalwat (menyendiri) ke Gua Hira, sekitar 6
km sebelah timur kota Makkah. Ia bisa berhari-hari bertafakur
dan beribadah disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6
Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang memenuhi ruangan
gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya sambil
berkata, “Iqra’ (bacalah).” Lalu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam menjawab, “Mâ anâ bi qâri’ (saya tidak dapat membaca).”
Mendengar jawaban Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Jibril
lalu memeluk tubuh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan
sangat erat, lalu melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca. Namun setelah dilakukan
sampai 3 kali dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap
memberikan jawaban yang sama, Malaikat Jibril kemudian
menyampaikan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala pertama, yang
artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang
Menciptakan. Ia menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Rabbmu-lah yang Paling Pemurah. yang mengajar
(manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 1-5)
Saat itu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berusia 40 tahun
6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan
berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut
perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari).
Dengan turunnya 5 ayat pertama ini, berarti Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala
sebagai rasul.
Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa
ketakutan dan cemas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah, “Selimuti aku,
selimuti aku.” Sekujur tubuhnya terasa panas dan dingin
berganti-ganti. Setelah lebih tenang, barulah ia bercerita
kepada istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah
mengajak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang pada
saudara sepupunya, Waraqah ibn Naufal, yang banyak mengetahui
kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang
dialami Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Waraqah pun
berkata, “Aku telah bersumpah dengan nama Tuhan, yang dalam
tangan-Nya terletak hidup Waraqah, Tuhan telah memilihmu menjadi
nabi kaum ini. An-Nâműs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang
kepadamu. Kaummu akan mengatakan bahwa engkau penipu, mereka
akan memusuhimu, dan mereka akan melawanmu. Sungguh, sekiranya
aku dapat hidup pada hari itu, aku akan berjuang membelamu.”
✻ Dakwah Nabi Muhammad [font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam[/font]
Wahyu berikutnya adalah surat (Al-Muddatsir: 1-7), yang artinya:
"Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah
peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah,
dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan
janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang
lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu,
bersabarlah." (QS. 74: 1-7)
Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdakwah. Mula-mula ia
melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan
rekan-rekannya. Orang pertama yang menyambut dakwahnya adalah
Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam.
Menyusul setelah itu adalah Ali ibn Abi Thalib, saudara
sepupunya yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali
menjadi lelaki pertama yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar,
sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti
oleh Zaid ibn Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak
angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sejak ibunya masih hidup.
Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang
teman dekatnya, seperti, Usman ibn Affan, Zubair ibn Awwam,
Abdurrahman ibn Auf, Sa’d ibn Abi Waqqas, dan Talhah ibn
Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang
telah masuk Islam.
Setelah beberapa lama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah agar Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjalankan dakwah secara
terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya dalam
sebuah jamuan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ajarannya.
Namun ternyata hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak
dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya
adalah Abu Lahab.
Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke
Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang
banyak. Karena Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah
orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi
sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di
sekitar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam berkata, “Saudara-saudaraku, jika aku berkata, di
belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian,
percayakah kalian?”
Dengan serentak mereka menjawab, “Percaya, kami tahu saudara
belum pernah berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya.
Saudara yang mendapat gelar al-Amin.”
Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meneruskan, “Kalau
demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah seorang nazir (pemberi
peringatan). Allah telah memerintahkanku agar aku memperingatkan
saudara-saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah Allah saja.
Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara akan
terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan
kemudian tidak ada gunanya.”
Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu
marah, bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila.
Pada saat itu, Abu Lahab berteriak, “Celakalah engkau hai
Muhammad. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Sebagai
balasan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur’an
yang artinya: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya
dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan
apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang
bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.
yang di lehernya ada tali dari sabut." (QS. 111: 1-5)
✻ Aksi-aksi menentang Dakwah Nabi Muhammad
[font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam[/font]
Reaksi-reaksi keras menentang dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bermunculan, namun tanpa kenal lelah Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terus melanjutkan dakwahnya,
sehingga hasilnya mulai nyata. Hampir setiap hari ada yang
menggabungkan diri dalam barisan pemeluk agama Islam. Mereka
terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan
orang-orang miskin serta lemah. Meskipun sebagian dari mereka
adalah orang-orang yang lemah, namun semangat yang mendorong
mereka beriman sangat membaja.
Tantangan dakwah terberat datang dari para penguasa Makkah, kaum
feodal, dan para pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan
tradisi lama disamping juga khawatir jika struktur masyarakat
dan kepentingan-kepentingan dagang mereka akan tergoyahkan oleh
ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang
menekankan pada keadilan sosial dan persamaan derajat. Mereka
menyusun siasat untuk melepaskan hubungan keluarga antara Abi
Thalib dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengen
cara meminta pada Abu Thalib memilih satu di antara dua:
memerintahkan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar
berhenti berdakwah, atau menyerahkannya kepada mereka. Abi
Thalib terpengaruh oleh ancaman itu, ia meminta agar Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghentikan dakwahnya. Tetapi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menolak permintaannya dan
berkata, “Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan
amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak
saudara mengucilkan saya.”
Mendengar jawaban ini, Abi Thalib pun berkata, “Teruskanlah,
demi Allah aku akan terus membelamu.”
Gagal dengan cara pertama, kaum Quraisy lalu mengutus Walid ibn
Mugirah menemui Abi Thalib dengan membawa seorang pemuda untuk
dipertukarkan dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Pemuda itu bernama Umarah ibn Walid, seorang pemuda yang gagah
dan tampan. Walid ibn Mugirah berkata, “Ambillah dia menjadi
anak saudara, tetapi serahkan kepada kami Muhammad untuk kami
bunuh, karena dia telah menentang kami dan memecah belah kita.”
Usul Quraisy itu ditolak mentah-mentah oleh Abi Thalib dengan
berkata, “Sungguh jahat pikiran kalian. Kalian serahkan anak
kalian untuk saya asuh dan beri makan, dan saya serahkan
kemenakan saya untuk kalian bunuh. Sungguh suatu penawaran yang
tak mungkin saya terima.”
Kembali mengalami kegagalan, berikutnya mereka menghadapi Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara langsung. Mereka
mengutus Utbah ibn Rabi’ah, seorang ahli retorika, untuk
membujuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka menawarkan
takhta, wanita, dan harta yang mereka kira diinginkan oleh Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, asal Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersedia menghentikan dakwahannya. Namun semua tawaran
itu ditolak oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
dengan mengatakan, “Demi Allah, biarpun mereka meletakkan
matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku
tidak akan menghentikan dakwah agama Allah ini, hingga agama ini
memang atau aku binasa karenanya.”
Setelah gagal dengan cara-cara diplomatik dan bujuk rayu, kaum
Quraisy mulai melakukan tindak kekerasan. Budak-budak mereka
yang telah masuk Islam mereka siksa dengan sangat kejam. Mereka
dipukul, dicambuk, dan tidak diberi makan dan minum. Salah
seorang budak bernama Bilal, mendapat siksaan ditelentangkan di
atas pasir yang panas dan di atas dadanya diletakkan batu yang
besar dan berat.
Setiap suku diminta menghukum anggota keluarganya yang masuk
Islam sampai ia murtad kembali. Usman ibn Affan misalnya,
dikurung dalam kamar gelap dan dipukul hingga babak belur oleh
anggota keluarganya sendiri. Secara keseluruhan, sejak saat itu
umat Islam mendapat siksaan yang pedih dari kaum Quraisy Makkah.
Mereka dilempari kotoran, dihalangi untuk melakukan ibadah di
Ka’bah, dan lain sebagainya.
Kekejaman terhadap kaum Muslimin mendorong Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengungsikan
sahabat-sahabatnya keluar dari Makkah. Dengan pertimbangan yang
mendalam, pada tahun ke-5 kerasulannya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam menetapkan Abessinia atau Habasyah (Ethiopia sekarang)
sebagai negeri tempat pengungsian, karena raja negeri itu adalah
seorang yang adil, lapang hati, dan suka menerima tamu. Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasa pasti rombongannya akan
diterima dengan tangan terbuka.
Rombongan pertama terdiri dari 10 orang pria dan 5 orang wanita.
di antara rombongan tsb adalah Usman ibn Affan beserta istrinya
Ruqayah (putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), Zubair
ibn Awwam, dan Abdur Rahman ibn Auf. Kemudian menyusul rombongan
kedua yang dipimpin oleh Ja’far ibn Abi Thalib. Beberapa sumber
menyatakan jumlah rombongan ini lebih dari 80 orang.
Berbagai usaha dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghalangi
hijrah ke Habasyah ini, termasuk membujuk raja negeri tsb agar
menolak kehadiran umat Islam disana. Namun berbagai usaha itu
pun gagal. Semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, justru
semakin bertambah jumlah yang memeluk Islam. Bahkan di tengah
meningkatnya kekejaman tsb, dua orang kuat Quraisy masuk Islam,
yaitu Hamzah ibn Abdul Mutthalib dan Umar ibn Khattab. Dengan
masuk Islamnya dua orang yang dijuluki “Singa Arab” itu, semakin
kuatlah posisi umat Islam dan dakwah Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam pada waktu itu.
Hal ini membuat reaksi kaum Quraisy semakin keras. Mereka
berpendapat bahwa kekuatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam terletak pada perlindungan Bani Hasyim, maka mereka pun
berusaha melumpuhkan Bani Hasyim dengan melaksanakan blokade.
Mereka memutuskan segala macam hubungan dengan suku ini. Tidak
seorang pun penduduk Makkah boleh melakukan hubungan dengan Bani
Hasyim, termasuk hubungan jual-beli dan pernikahan. Persetujuan
yang mereka buat dalam bentuk piagam itu mereka tanda-tangani
bersama dan mereka gantungkan di dalam Ka’bah. Akibatnya, Bani
Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Untuk
meringankan penderitaan itu, Bani Hasyim akhirnya mengungsi ke
suatu lembah di luar kota Makkah.
Tindakan pemboikotan yang dimulai pada tahun ke-7 kenabian
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berlangsung selama 3
tahun itu merupakan tindakan yang paling menyiksa. Pemboikotan
itu berhenti karena terdapat beberapa pemimpin Quraisy yang
menyadari bahwa tindakan pemboikotan itu sungguh keterlaluan.
Kesadaran itulah yang mendorong mereka melanggar perjanjian yang
mereka buat sendiri. Dengan demikian Bani Hasyim akhirnya dapat
kembali pulang ke rumah masing-masing.
Setelah Bani Hasyim kembali ke rumah mereka, Abi Thalib, paman
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang merupakan pelindung
utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tiga hari
kemudian, Khadijah, istrinya, juga meninggal dunia. Tahun ke-10
kenabian ini benar-benar merupakan Tahun Kesedihan (‘Âm al-Huzn)
bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Telebih
sepeninggal dua pendukungnya itu, kaum Quraisy tidak segan-segan
melampiaskan kebencian kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Hingga kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berusaha
menyebarkan dakwah ke luar kota, yaitu ke Ta’if. Namun reaksi
yang diterima Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Bani Saqif
(penduduk Ta’if), tidak jauh berbeda dengan penduduk Makkah.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diejek, disoraki, dilempari
batu sampai ia luka-luka di bagian kepala dan badannya.
✻ Peristiwa Isra’ Mi’raj
Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj.
Isra’, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidil Haram di Makkah
ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Mi’raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dari Masjidil Aqsa ke langit melalui beberapa
tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, Sidratulmuntaha, 'Arsy
(Takhta Tuhan), dan Kursi (Singgasana Tuhan), hingga menerima
wahyu di hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam kesempatannnya berhadapan langsung dengan Allah Subhanahu
Wa Ta’ala inilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
menerima perintah untuk mendirikan shalat 5 waktu sehari
semalam. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini terdapat dalam Al-Qur’an
surat (Al-Isrâ’: 1).
✻ HIJRAH
Harapan baru bagi perkembangan Islam muncul dengan datangnya
jemaah haji ke Makkah yang berasal dari Yatsrib (Madinah). Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memanfaatkan kesempatan
itu untuk menyebarkan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan
mendatangi kemah-kemah mereka. Namun usaha ini selalu diikuti
oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya dengan mendustakan Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertemu dengan 6
orang dari suku Aus dan Khazraj yang berasal dari Yatsrib.
Setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan
pokok-pokok ajaran Islam, mereka menyatakan diri masuk Islam di
hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka berkata,
“Bangsa kami sudah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara
suku Khazraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian.
Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan
perantaramu dan ajaran-ajaran yang kamu bawa. Oleh karena itu
kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yang kami
terima dari kamu ini.”
Pada musim haji tahun berikutnya, datanglah delegasi Yatsrib
yang terdiri dari 12 orang suku Khazraj dan Aus. Mereka menemui
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di suatu tempat bernama
Aqabah. Di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka
menyatakan ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di
Aqabah, maka dinamakan Bai’at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb
kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan ditemani
oleh Mus’ab ibn Umair yang sengaja diutus oleh Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam atas permintaan mereka.
Pada musim haji berikutnya, jemaah haji yang datang dari Yatsrib
berjumlah 75 orang, termasuk 12 orang yang sebelumnya telah
menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Aqabah. Mereka
meminta agar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersedia pindah
ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dari segala ancaman. Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam menyetujui usul yang mereka ajukan.
Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dengan orang-orang Yatsrib, kaum Quraisy
menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan para sahabatnya
untuk hijrah ke Yatsrib. Secara diam-diam, berangkatlah
rombongan-rombongan muslimin, sedikit demi sedikit, ke Yatsrib.
Dalam waktu 2 bulan, kurang lebih 150 kaum muslimin telah berada
di Yatsrib. Sementara itu Ali ibn Abi Thalib dan Abu Bakar
as-Sidiq tetap tinggal di Makkah bersama Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, membelanya sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.
Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum ia sempat menyusul umatnya
ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku.
Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat.
Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya,
Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang
diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali
ibn Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy
mengira bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih tidur.
Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya tanpa
diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menemui Abu Bakar yang telah siap
menunggu. Mereka berdua keluar dari Makkah menuju sebuah Gua
Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Makkah. Mereka
bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan
aman. Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun
karena mengira Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah sampai di
Yatsrib, keluarlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu
Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah ibn Uraiqit
yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor
unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama Abu Bakar menuju
Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak
pernah ditempuh orang.
Setelah 7 hari perjalanan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan
Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari
Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari.
Mereka menginap di rumah Kalsum bint Hindun. Di halaman rumah
ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membangun sebuah masjid
yang kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid
pertama yang dibangun Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai
pusat peribadatan.
Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sementara itu penduduk Yatsrib
menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka,
berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah tiba di Yatsrib. Oleh
sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang
ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kedatangan Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan rombongan. Akhirnya waktu yang
ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka
mengelu-elukan kedatangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala’
al-Badru, yang isinya:
***
Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ’i (celah-celah
bukit).
Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada
Ilahi,
Wahai orang yang diutus kepada kami,
Engkau telah membawa sesuatu yang harus kami ta'ati.
***
Setiap orang ingin agar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam hanya berkata, “Aku akan menginap dimana untaku
berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya.”
Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu
Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari.
Dengan demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilih rumah
Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tinggal di rumah Abu Ayyub,
sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah
untuknya.
Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota
nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota
yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke
seluruh dunia.
✻ Terbentuknya Negara Madinah
Setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di Madinah dan
diterima penduduk Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
menjadi pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan
dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi pembentukan suatu
masyarakat baru.
Dasar Pertama yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah
(persaudaraan di dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin
(orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar
(penduduk Madinah yang masuk Islam dan ikut membantu kaum
Muhajirin). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempersaudarakan
individu-individu dari golongan Muhajirin dengan
individu-individu dari golongan Anshar. Misalnya, Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempersaudarakan Abu Bakar dengan
Kharijah ibn Zaid, Ja’far ibn Abi Thalib dengan Mu’az ibn Jabal.
Dengan demikian diharapkan masing-masing orang akan terikat
dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan persaudaraan
yang semacam ini pula, Rasulullah telah menciptakan suatu
persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama,
menggantikan persaudaraan berdasarkan keturunan.
Dasar Kedua adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa
persaudaraan tsb, yaitu tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud
adalah masjid, tempat untuk melakukan ibadah kepada Allah
Subhanahu Wa Ta’ala secara berjamaah, yang juga dapat digunakan
sebagai pusat kegiatan untuk berbagai hal, seperti
belajar-mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam
masyarakat, musyawarah, dan transaksi dagang.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merencanakan pembangunan
Masjid itu dan langsung ikut membangun bersama-sama kaum
muslimin. Masjid yang dibangun ini kemudian dikenal sebagai
Masjid Nabawi. Ukurannya cukup besar, dibangun di atas sebidang
tanah dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dindingnya terbuat dari
tanah liat, sedangkan atapnya dari daun-daun dan pelepah kurma.
Di dekat masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keluarganya.
Dasar Ketiga adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak
lain yang tidak beragama Islam. Di Madinah, disamping
orang-orang Arab Islam juga masih terdapat golongan masyarakat
Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama
nenek-moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat
diwujudkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Perjanjian tsb
diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut dengan Mîsâq
Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain mengenai
kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga
keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan
derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam menjadi kepala pemerintahan di Madinah.
Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam di Madinah setelah hijrah itu sudah dapat dikatakan
sebagai sebuah negara, dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sebagai kepala negaranya. Dengan terbentuknya Negara
Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang
pesat itu membuat orang-orang Makkah menjadi resah. Mereka takut
kalau-kalau umat Islam memukul mereka dan membalas kekejaman
yang pernah mereka lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang
mereka ke Suriah akan diganggu atau dikuasai oleh kaum muslimin.
Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang baru
didirikan itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengadakan
beberapa ekspedisi ke luar kota, baik langsung di bawah
pimpinannya maupun tidak. Hamzah ibn Abdul Mutthalib membawa 30
orang berpatroli ke pesisir L. Merah. Ubaidah ibn Haris membawa
60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa’ad ibn Abi Waqqas ke Hedzjaz
dengan 8 orang Muhajirin. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
sendiri membawa pasukan ke Abwa dan disana berhasil mengikat
perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke Buwat dengan membawa
200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah. Di sini Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengadakan perjanjian dengan Bani
Mudij.
Ekspedisi-ekspedisi tsb sengaja digerakkan Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam sebagai aksi-aksi siaga dan melatih kemampuan
calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan
mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian perdamaian
dengan kabilah dimaksudkan sebagai usaha memperkuat kedudukan
Madinah.
✻ Perang Badr
Perang Badr yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah
dan kaun musyrikin Quraisy Makkah terjadi pada tahun 2 H. Perang
ini merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi
antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy.
Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang
dilaksanakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam gagal.
Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan
perlengkapan senjata sederhana yang terdiri dari pedang, tombak,
dan panah. Berkat kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan semangat pasukan yang membaja, kaum muslimin keluar
sebagai pemenang. Abu Jahal, panglima perang pihak pasukan
Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas
dari pihak Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Di
pihak kaum muslimin, hanya 14 yang gugur sebagai syuhada.
Kemenangan itu sungguh merupakan pertolongan Allah Subhanahu Wa
Ta’ala (QS. 3: 123).
Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum
muslimin. Mereka memang tidak pernah sepenuh hati menerima
perjanjian yang dibuat antara mereka dan Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Piagam Madinah.
Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memutuskan untuk
membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai kemampuan
masing-masing. Tawanan yang pandai membaca dan menulis
dibebaskan bila bersedia mengajari orang-orang Islam yang masih
buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan
kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.
Tidak lama setelah perang Badr, Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam mengadakan perjanjian dengan suku Badui yang
kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam karenan melihat kekuatan Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja
kekuatan semata.
Sesudah perang Badr, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga
menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi Madinah yang berkomplot
dengan orang-orang Makkah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
lalu mengusir kaum Yahudi itu ke Suriah.
✻ Perang Uhud
Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3
H. Perang ini disebabkan karena keinginan balas dendam
orang-orang Quraisy Makkah yang kalah dalam perang Badr.
Pasukan Quraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah,
membawa 3.000 ekor unta dan 200 pasukan berkuda di bawah
pimpinan Khalid ibn Walid. Tujuh ratus orang di antara mereka
memakai baju besi.
Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
hanya berjumlah 700 orang.
Perang-pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul
mundur pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy
mulai mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.
Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah
yang ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan
pos mereka dan turun untuk mengambil harta peninggalan musuh.
Mereka lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos
mereka dalam keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka
tidak lagi menghiraukan gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan
musuh untuk segera melancarkan serangan balik. Tanpa konsentrasi
penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka
terjepit, dan satu per satu pahlawan Islam berguguran.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri terkena serangan
musuh. Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh berita tidak
benar yang diterima musuh bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sudah meninggal. Berita ini membuat mereka mengendurkan
serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu.
Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai
syuhada.
✻ Perang Khandaq
Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara
kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang
mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Makkah.
Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu
beberapa suku).
Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman
al-Farisi, sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan di
bagian-bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini
disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.
Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah
dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan
lamanya. Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah
menderita karena hubungan mereka dengan dunia luar menjadi
terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan
orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah
pimpinan Ka’ab ibn Asad.
Namun akhirnya pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
menyelamatkan kaum muslimin. Setelah sebulan mengadakan
pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu berkurang.
Sementara itu pada malam hari angin dan badai turun dengan amat
kencang, menghantam dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh
perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka terpaksa
menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing
tanpa suatu hasil.
Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman
mati. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an surat (Al-Ahzâb:
25-26).
✻ Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyari’atkan, hasrat
kaum muslimin untuk mengunjungi Makkah sangat bergelora. Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memimpin langsung sekitar 1.400
orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan,
bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan
pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga
diri, bukan untuk berperang.
Sebelum tiba di Makkah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang
terletak beberapa kilometer dari Makkah. Orang-orang kafir
Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Makkah dengan
menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga. Akhirnya
diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Makkah,
yang isinya antara lain:
Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama
10 tahun.
Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia
harus dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyeberang ke pihak Quraisy,
pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maupun dengan pihak
Quraisy.
Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah pada tahun tsb,
tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.
Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Makkah, orang
Quraisy harus keluar lebih dulu.
Kaum muslimin memasuki kota Makkah dengan tidak diizinkan
membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak
boleh tinggal di Makkah lebih dari 3 hari 3 malam.
Tujuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membuat perjanjian tsb
sebenarnya adalah berusaha merebut dan menguasai Makkah, untuk
kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ada 2
faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini:
- Makkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan
melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam
dapat tersebar ke luar.
- [size=10pt]Apabila Suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam
akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy
mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa
Arab.
[size=11pt]Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai
perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah
menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping
juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam
Madinah.
[size=12pt]✻ Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain
Gencatan senjata dengan penduduk Makkah memberi kesempatan
kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengalihkan
perhatian ke berbagai negeri-negeri lain sambil memikirkan
bagaimana cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang
ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian adalah
dengan mengirim utusan dan surat ke berbagai kepala negara dan
pemerintahan.
Di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam adalah raja Gassan dari Iran, raja Mesir,
Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan cara itu tidak ada
raja-raja yang masuk Islam, namun setidaknya risalah Islam sudah
sampai kepada mereka. Reaksi para raja itu pun ada yang menolak
dengan baik dan simpatik sambil memberikan hadiah, ada pula yang
menolak dengan kasar.
Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang
dikirim Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dibunuhnya dengan
kejam. Sebagai jawaban, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
kemudian mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 orang dibawah
pimpinan Zaid ibn Haritsah. Peperangan terjadi di Mu’tah,
sebelah utara Semenanjung Arab.
Pasukan Islam mendapat kesulitan menghadapi tentara Gassan yang
mendapat bantuan langsung dari Romawi. Beberapa syuhada gugur
dalam pertempuran melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang
itu. di antara mereka yang gugur adalah Zaid ibn Haritsah
sendiri, Ja’far ibn Abi Thalib, dan Abdullah ibn Abi Rawahah.
Melihat kekuatan yang tidak seimbang itu, Khalid ibn Walid,
bekas panglima Quraisy yang sudah masuk Islam, mengambil alih
komando dan memerintahkan pasukan Islam menarik diri dan kembali
ke Madinah.
Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut
dengan Perang Mu’tah.
✻ Kembali ke Makkah
Selama 2 tahun Perjanjian Hudaibiyah, dakwah Islam sudah
menjangkau Semenanjung Arab dan mendapat tanggapan yang positif.
Hampir seluruh Semenanjung Arab, termasuk suku-suku yang paling
selatan, telah menggabungkan diri ke dalam Islam. Hal ini
membuat orang-orang Makkah merasa terpojok. Perjanjian
Hudaibiyah ternyata telah menjadi senjata bagi umat Islam untuk
memperkuat dirinya. Oleh karena itu secara sepihak orang-orang
Quraisy membatalkan perjanjian tsb. Mereka menyerang Bani
Khuza’ah yang berada di bawah perlindungan Islam hanya karena
kabilah ini berselisih dengan Bani Bakar yang menjadi sekutu
Quraisy. Sejumlah orang Kuza’ah mereka bunuh dan sebagian
lainnya dicerai-beraikan. Bani Khuza’ah segera mengadu pada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan meminta keadilan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam segera bertolak dengan
10.000 orang tentara untuk melawan kaum musyrik Makkah itu.
Kecuali perlawanan kecil dari kaum Ikrimah dan Safwan, Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengalami kesukaran
memasuki kota Makkah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memasuki
kota itu sebagai pemenang. Pasukan Islam memasuki kota Makkah
tanpa kekerasan. Mereka kemudian menghancurkan patung-patung
berhala di seluruh negeri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“…Kebenaran sudah datang dan yang bathil telah lenyap.
Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”
(QS. 17: 81)
Setelah melenyapkan berhala-berhala itu, Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam berkhotbah menjanjikan ampunan bagi orang-orang
Quraisy. Setelah khotbah tsb, berbondong-bondong mereka datang
dan masuk Islam. Ka’bah bersih dari berhala dan tradisi-tradisi
serta kebiasaan-kebiasaan musyrik.
Sejak itu, Makkah kembali berada di bawah kekuasaan Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Setelah Makkah dapat dikalahkan, masih terdapat suku-suku Arab
yang menentang, yaitu Bani Saqif, Bani Hawazin, Bani Nasr, dan
Bani Jusyam. Suku-suku ini berkomplot membentuk satu pasukan
untuk memerangi Islam karena ingin menuntut bela atas
berhala-berhala mereka yang diruntuhkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan umat Islam di Ka’bah. Pasukan mereka dipimpin oleh
Malik ibn Auf (dari Bani Nasr).
Dalam perjalanan mereka ke Makkah, mereka berkemah di Lembah
Hunain yang sangat strategis.
Kurang lebih 2 minggu kemudian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam memimpin sekitar 12.000 tentara menuju Hunain. Saat
melihat banyak pasukan Islam yang gugur, sebagian pasukan yang
masih hidup menjadi goyah dan kacau balau, sehingga Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian memberi semangat dan
memimpin langsung peperangan tsb. Akhirnya umat Islam berhasil
menang. Pasukan musuh yang melarikan diri ke Ta’if terus diburu
selama beberap minggu sampai akhirnya mereka menyerah. Pemimpin
mereka, Malik ibn Auf, menyatakan diri masuk Islam.
Dengan ditaklukannya Bani Saqif dan Bani Hawazin, kini seluruh
Semenanjung Arab berada di bawah satu kepemimpinan, yaitu
kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Melihat
kenyataan itu, Heraclius, pemimpin Romawi, menyusun pasukan
besar di Suriah, kawasan utara Semenanjung Arab yang merupakan
daerah pendudukan Romawi. Dalam pasukan besar itu bergabung Bani
Gassan dan Bani Lachmides.
Dalam masa panen dan pada musim yang sangat panas, banyak
pahlawan Islam yang menyediakan diri untuk berperang bersama
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pasukan Romawi kemudian
menarik diri setelah melihat betapa besarnya pasukan yang
dipimpin Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam sendiri tidak melakukan pengejaran, melainkan
ia berkemah di Tabuk. Disini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
membuat beberapa perjanjian dengan penduduk setempat. Dengan
demikian daerah perbatasan itu dapat dirangkul ke dalam barisan
Islam.
Perang yang terjadi di Tabuk ini merupakan perang terakhir yang
diikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Pada tahun 9 dan 10 H banyak suku dari seluruh pelosok Arab yang
mengutus delegasinya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam untuk menyatakan tunduk kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam. Masuknya orang Makkah ke dalam agama Islam mempunyai
pengaruh yang amat besar pada penduduk Arab. Oleh karena itu,
tahun ini disebut dengan Tahun Perutusan atau ‘Âm al-Bi’sah.
Mereka yang datang ke Makkah, rombongan demi rombongan,
mempelajari ajaran-ajaran Islam dan setelah itu kembali ke
negeri masing-masing untuk mengajarkan kepada kaumnya. Dengan
cara ini, persatuan Arab terbentuk. Peperangan antar suku yang
berlangsung selama ini berubah menjadi persaudaraan agama. Pada
saat itu turunlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: "Apabila
telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat
manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka
bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." (QS. 110: 1-3)
Kini apa yang ditugaskan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam sudah tercapai.
Di tengah-tengah suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban,
telah lahir seorang nabi.
Ia telah berhasil membacakan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala
kepada mereka dan mensucikannya serta mengajarkan kitab dan
hikmah kepada mereka, padahal sebelumnya mereka berada dalam
kegelapan yang pekat.
Pada awalnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
mendapati mereka bergelimang dalam ketakhyulan yang merendahkan
derajat manusia, lalu ia mengilhami mereka dengan kepercayaan
kepada satu-satunya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kasih Sayang.
Saat mereka bercerai-berai dan terlibat dalam peperangan yang
seolah tak ada habisnya, dipersatukannya mereka dalam ikatan
persaudaraan. Kalau sebelumnya Semenanjung Arab berada dalam
kegelapan rohani, maka ia datang membawa cahaya terang-benderang
untuk menyinari rohani mereka. Pekerjaannya selesai sudah, dan
seluruhnya dikerjakan dengan baik semasa hidupnya. Disinilah
letak keunggulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
dibanding dengan nabi-nabi yang lain.
✻ Ibadah Haji Terakhir
Pada tahun 10 H, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengerjakan
ibadah haji yang terakhir, yang disebut juga dengan haji wada’.
Pada tanggal 25 Zulkaidah 10/23 Februari 632 Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meninggalkan Madinah. Sekitar
seratus ribu jemaah turut menunaikan ibadah haji bersamanya.
Pada waktu wukuf di Arafah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah. Isi
khotbah itu antara lain:
[*]Larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq (benar) dan
mengambil harta orang lain dengan bathil (salah), karena nyawa
dan harta benda adalah suci.
[*][size=10pt]Larangan riba dan larangan menganiaya
[*][size=10pt]Perintah untuk memperlakukan para istri dengan
baik serta lemah lembut
[*][size=10pt]Perintah menjauhi dosa
[*][size=10pt]Semua pertengkaran di antara mereka di zaman
Jahiliah harus dimaafkan
[*][size=10pt]Pembalasan dengan tebusan darah sebagaimana yang
berlaku di zaman Jahiliyah tidak lagi dibenarkan
[*][size=10pt]Persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus
ditegakkan
[*][size=10pt]Hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, yaitu
mereka memakan apa yang dimakan majikannya dan memakai apa yang
dipakai majikannya.
[*][size=10pt]Dan yang terpenting, bahwa umat Islam harus selalu
berpegang teguh pada dua sumber yang tak akan pernah usang,
yaitu Al-Qur’an dan Sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
.
[size=11pt]Setelah itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bertanya kepada seluruh jemaah, “Sudahkan aku menyampaikan
amanat Allah, kewajibanku, kepada kamu sekalian?.”
Jama'ah yang ada di hadapannya segera menjawab, “Ya, memang
demikian adanya.”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian menengadah
ke langit sambil mengucapkan, “Ya Allah, Engkaulah menjadi
saksiku.”
Dengan kata-kata seperti itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam mengakhiri khotbahnya.
[size=12pt]✻ Kembali ke Madinah
Setelah upacara haji yang lain disempurnakan, Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kembali ke Madinah. Disinilah ia
menghabiskan sisa hidupnya. Ia mengatur organisasi masyarakat di
kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam dan menjadi bagian dari
persekutuan Islam. Petugas keamanan dan para da’i dikirimnya ke
berbagai daerah untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam, mengatur
peradilan Islam, dan memungut zakat. Salah seorang di antara
petugas itu adalah Mu’az ibn Jabal yang dikirim oleh Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ke Yaman. Ketika itulah hadist
Mu’az yang terkenal muncul, yaitu perintah Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam agar Mu’az menggunakan pertimbangan akalnya
dalam mengatur persoalan-persoalan agama apabila ia tidak
menemukan petunjuk dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam.
Pada saat-saat itu pula wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang
terakhir turun: “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu...” (QS. 5: 3)
Mendengar ayat ini, banyak orang yang bergembira karena telah
sempurna agama mereka, tetapi ada pula yang menangis, seperti
Abu Bakar, karena mengetahui bahwa ayat itu jelas merupakan
pertanda berakhirnya tugas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam.
✻ Wafatnya Nabi [font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam[/font]
Dua bulan setelah menunaikan ibadah haji wada’ di Madinah, Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sakit demam. Meskipun badannya
mulai lemah, ia tetap memimpin shalat berjamaah. Baru setelah
kondisinya tidak memungkinkan lagi, yaitu 3 hari menjelang
wafatnya, ia tidak mengimami shalat berjamaah. Sebagai gantinya
ia menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat. Tenaganya dengan
cepat semakin berkurang.
Pada tanggal 13 Rabiulawal 11/8 Juni 632, Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghembuskan nafasnya yang
terakhir di rumah istrinya, Aisyah bint Abu Bakar, dengan wasiat
terakhir, “Ingatlah shalat, dan taubatlah...”
✻ Ummul Mukminin
Setelah Khadijah meninggal, Nabi Muhammad menikah lagi sebanyak
10 kali, sehingga jumlah wanita yang menjadi istrinya ada 11
orang. Kesebelas wanita ini disebut sebagai Ummul Mukminin (ibu
dari orang-orang yang beriman). Sebutan tsb menunjukkan bahwa
para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah
wanita-wanita yang terpilih dan dimuliakan Allah Subhanahu Wa
Ta’ala.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahi para wanita itu
karena beberapa alasan, antara lain untuk melindungi mereka dari
tekanan kaum musyrikin, membebaskannya dari status tawanan
perang, dan mengangkat derajatnya. Tidak jarang pernihakan yang
dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menciptakan hubungan
perdamaian antara dua suku yang sebelumnya saling bermusuhan.
Para Ummul Mukminin itu adalah:
- Khadijah bint Khuwailid
- [size=10pt]Sa’udah bint Zam’ah
- [size=10pt]'Aisyah bint Abu Bakar as-Shiddiq
- [size=10pt]Zainab bint Huzaimah ibn Abdullah ibn Umar
- [size=10pt]Juwairiyah bint Haris
- [size=10pt]Sofiyah bint Hay ibn Akhtab
- [size=10pt]Hindun bint Abi Umaiyah ibn Mugirah ibn Abdullah
ibn Amr ibn Mahzum
- [size=10pt]Ramlah bint Abu Sufyan
- [size=10pt]Hafsah bint Umar ibn Khattab
- [size=10pt]Zainab bint Jahsy ibn Ri’ah ibn Ja’mur ibn Sabrah
ibn Murrah
- [size=10pt]Maimunah bint Haris
[size=11pt]Beberapa dari istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
ini juga menjadi periwayat hadist, yaitu Aisyah, Hafsah, dan
Zainab bint Jahsy. Ꞁ[size=8pt]1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
#Post#: 88--------------------------------------------------
Re: NABI MUHAMMAD صلى ا
لله عليه
وسلم
DIR By: iscm
Date: December 23, 2023, 5:43 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS [color=beige]|
SEJARAH SINGKAT 25 NABI DAN RASUL[/shadow][/color][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Sejarah Singkat 25 Nabi dan Rasul ini dikaitkan dengan
nash Al-Qur'an. dan untuk lebih lengkap silahkan baca buku Ibnu
Katsir
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(9)-murid-murid-mereka/ibnu-katsir/msg152/#msg152[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ ۩۞۩ 25 NABI DAN RASUL
September 17, 2024 Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/
[size=9pt]Read slowly then Click or Press (ARROW
[color=red]▶ Articles In Forum)[/color]
◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/15/adam-idris/
۩۞۩ BLOG ┐SEJARAH SINGKAT 25 NABI DAN
RASUL
HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/
- ۩۞۩ ADAM, IDRIS
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=229
◥↑ Adam, Idris
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=229<br
/>▶[color=maroon](GOTO Articles in Forum)[/color]
HTML http://iscm.createaforum.com/adam-idris/adam-idris/msg77/#msg77
- ۩۞۩ NUH, HUD, SHALEH
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=230
◥↑ Nuh, Hud, Saleh
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=230
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-nuh-hud-saleh/nuh-hud-shaleh/msg76/#msg76
- ۩۞۩ IBRAHIM, ISMAIL
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=231
◥↑ Ibrahim, Ismail
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=231
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-ibrahim-ismail/ibrahim-ismail/msg75/#msg75
- ۩۞۩ LUTH, ISHAQ, YAQUB
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=232
◥↑ Luth, Ishaq, Yaqub
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=232
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-luth-ishaq-yaqub/luth-ishaq-yaqub/msg74/#msg74
- ۩۞۩ YUSUF
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=233
◥↑ Yusuf
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=233
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-yusuf/yusuf/msg73/#msg73
- ۩۞۩ AYYUB, ZULKIFLI, SYU'AIB
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=234
◥↑ Ayyub, Zulkifli, Syu’aib
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=234
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-ayyub-zulkifli-syuaib/ayyub-zulkifli-syuaib/msg72/#msg72
- ۩۞۩ MUSA, HARUN
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=235
◥↑ Musa, Harun
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=235
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-musa-harun/musa-wa-harun/msg71/#msg71
- ۩۞۩ DAWUD, SULAIMAN
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=236
◥↑ Dawud, Sulaiman
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=236
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-daud-sulaiman/daud-sulaiman/msg70/#msg70
- ۩۞۩ ILYAS, ILYASA, YUNUS
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=237
◥↑ Ilyas, Ilyasa, Yunus
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=237
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-ilyas-ilyasa-yunus/ilyas-ilyasa-yunus/msg69/#msg69
- ۩۞۩ ZAKARIA, YAHYA, ISA
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=238
◥↑ Zakaria, Yahya, Isa
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=238
▶
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-zakaria-yahya-isa/zakariya-yahya-isa/msg67/#msg67
- ۩۞۩ MUHAMMAD
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=239
صلى
ا لله عليه
وسلم
◥↑ Muhammad [color=teal]صلى
ا لله عليه
وسلم
[url=
HTML http://iscm.createaforum.com/128998-muhammad-158916041609-1575-160416041607-1593160416101607-1608158716041605/nabi-muhammad-158916041609-1575-160416041607-1593160416101607-1608158716041605/msg66/#msg66]▶
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=239
[size=11pt] Ꞁ[size=8pt]1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1