URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ MUHAMMAD صل&#1609...
       *****************************************************
       #Post#: 66--------------------------------------------------
       ۩۞۩ 25 NABI DAN RASUL: NABI MUHAMMAD
       صلى ا لله
       عليه وسلم
   DIR By: iscm
       Date: December 22, 2023, 10:37 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS [color=beige]|
       SEJARAH SINGKAT 25 NABI DAN RASUL[/shadow][/color][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Sejarah Singkat 25 Nabi dan Rasul ini dikaitkan dengan
       nash Al-Qur'an. dan untuk lebih lengkap silahkan baca buku Ibnu
       Katsir
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(9)-murid-murid-mereka/ibnu-katsir/msg152/#msg152[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; &#1769;&#1758;&#1769; 25 NABI DAN RASUL
       September 17, 2024 Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=230
       &#128998; NABI MUHAMMAD &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;
       &#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;
       &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;
       [size=18pt][25] &#1769;&#1758;&#1769; NABI MUHAMMAD
       [font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       Nabi Muhammad [i]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah nabi
       pembawa risalah Islam, rasul terakhir penutup rangkaian
       nabi-nabi dan rasul-rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala di muka
       bumi. Ia adalah salah seorang dari yang tertinggi di antara 5
       rasul yang termasuk dalam golongan Ulul Azmi atau mereka yang
       mempunyai keteguhan hati [color=blue](QS. 46: 35). Keempat rasul
       lainnya dalam Ulul Azmi tsb ialah Ibrahim Alaihissalam, Musa
       Alaihissalam, Isa Alaihissalam, dan Nuh
       Alaihissalam.[/i][/color]
       [size=12pt]&#10043; Kelahiran Nabi Muhammad
       [font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam[/font]
       Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah anggota Bani
       Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy yang
       mendominasi masyarakat Arab. Ayahnya bernama Abdullah Mutthalib,
       seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya
       bernama Aminah bint Wahab dari Bani Zuhrah. Baik dari garis ayah
       maupun garis ibu, silsilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam sampai kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail
       Alaihissalam.
       Tahun kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada tahun itu terjadi
       peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Makkah
       dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Pasukan itu dipimpin oleh
       Abrahah, Gubernue Kerajaan Habsyi di Yaman. Abrahah ingin
       mengambil alih kota Makkah dan Ka’bahnya sebagai pusat
       perekonomian dan peribadatan bangsa Arab. Ini sejalan dengan
       keingin Kaisar Negus dari Ethiopia untuk menguasai seluruh tanah
       Arab, yang bersama-sama dengan Kaisar Byzantium menghadapi musuh
       dari timur, yaitu Persia (Iraq).
       Dalam penyerangan Ka’bah itu, tentara Abrahah hancur karena
       terserang penyakit yang mematikan yang dibawa oleh burung Ababil
       yang melempari tentara gajah. Abrahah sendiri lari kembali ke
       Yaman dan tak lama kemudian meninggal dunia. Peristiwa ini
       dikisahkan dalam Al-Qur’an surat (Al-Fîl: 1-5).
       Beberapa bulan setelah penyerbuan tentara gajah, Aminah
       melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama Muhammad. Ia
       lahir pada malam menjelang dini hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun
       Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Saat itu ayah Muhammad,
       Abdullah, telah meninggal dunia.
       Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya, Abdul Mutthalib. Nama itu
       sedikit ganjil di kalangan orang-orang Quraisy, karenanya mereka
       berkata kepada Abdul Mutthalib, “Sungguh di luar kebiasaan,
       keluarga Tuan begitu besar, tetapi tak satu pun yang bernama
       demikian.” Abdul Mutthalib menjawab, “Saya mengerti. Dia memang
       berbeda dari yang lain. Dengam nama ini saya ingin agar seluruh
       dunia memujinya.”
       [size=12pt]&#10043; Masa Pengasuhan Haliman bint Abi Du’aib
       as-Sa’diyah
       Adalah suatu kebiasaan di Makkah, anak yang baru lahir diasuh
       dan disusui oleh wanita desa dengan maksud supaya ia bisa tumbuh
       dalam pergaulan masyarakat yang baik dan udara yang lebih
       bersih. Saat Muhammad lahir, ibu-ibu dari desa Sa’ad datang ke
       Makkah menghubungi keluarga-keluarga yang ingin menyusui
       anaknya. Desa Sa’ad terletak kira-kira 60 km dari Makkah, dekat
       kota Ta’if, suatu wilayah pegunungan yang sangat baik udaranya.
       di antara ibu-ibu tsb terdapat seorang wanita bernama Halimah
       bint Abu Du’aib as Sa’diyah. Keluarga Halimah tergolong miskin,
       karenanya ia sempat ragu untuk mengasuh Muhammad karena keluarga
       Aminah sendiri juga tidak terlalu kaya. Akan tetapi entah
       mengapa bayi Muhammad sangat menawan hatinya, sehingga akhirnya
       Halimah pun mengambil Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       sebagai anak asuhnya.
       Ternyata kehadiran Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat
       membawa berkah pada keluarga Halimah. Dikisahkan bahwa kambing
       peliharaan Haris, suami Halimah, menjadi gemuk-gemuk dan
       menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya. Rumput tempat
       menggembala kambing itu juga tumbuh subur. Kehidupan keluarga
       Halimah yang semula suram berubah menjadi bahagia dan penuh
       kedamaian. Mereka yakin sekali bahwa bayi dari Makkah yang
       mereka asuh itulah yang membawa berkah bagi kehidupan mereka.
       &#10043; Tanda-tanda kenabian
       Sejak kecil Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah
       memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa.
       Usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah
       mampu berbicara. Pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama
       anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing. Saat
       itulah ia berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi
       pada ibunya. Dengan berat hati Halimah terpaksa mengembalikan
       anak asuhnya yang telah membawa berkah itu, sementara Aminah
       sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan
       segar.
       Namun tak lama setelah itu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       kembali diasuh oleh Halimah karena terjadi wabah penyakit di
       kota Makkah. Dalam masa asuhannya kali ini, baik Halimah maupun
       anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Anak-anak Halimah sering mendengar
       suara yang memberi salam kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam, “Assalamu ‘Alaika ya Muhammad,” padahal mereka tidak
       melihat ada orang di situ.
       Dalam kesempatan lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil
       menangis dan mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar
       dan berpakaian putih menangkap Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam. Halimah bergegas menyusul Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam. Saat ditanyai, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       menjawab, “Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka memberikan
       salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku,
       membasuhnya dengan air yang mereka bawa, lalu menutup kembali
       dadaku tanpa aku merasa sakit.”
       Halimah sangat gembira melihat keajaiban-keajaiban pada diri
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun karena kondisi
       ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa
       mengembalikan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang saat
       itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Makkah.
       Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       telah menjadi yatim-piatu. Aminah meninggal karena sakit
       sepulangnya ia mengajak Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       berziarah ke makam ayahnya. Setelah kematian Aminah, Abdul
       Mutthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun kemudian Abdul Mutthalib pun
       meninggal, dan tanggung jawab pemeliharaan Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam beralih pada pamannya, Abi Thalib.
       Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib mengabulkan permintaan
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk ikut serta dalam
       kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam (Suriah). Usia
       12 tahun sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam
       perjalanan seperti itu, namun dalam perjalanan ini kembali
       terjadi keajaiban yang merupakan tanda-tanda kenabian Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Segumpal awan terus menaungi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam sehingga panas terik yang membakar kulit tidak
       dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah
       rombongan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bila mereka
       berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kejadian ini menarik
       perhatian seorang pendeta Kristen bernama Buhairah yang
       memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Ia menguasai betul
       isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat dalam
       kafilah itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang
       mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar
       matahari oleh segumpal awan di atas kepalanya. “Inilah Roh
       Kebenaran yang dijanjikan itu,” pikirnya.
       Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-iringan kafilah itu
       dan mengundang mereka dalam suatu perjamuan makan. Setelah
       berbincang-bincang dengan Abi Thalib dan Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam sendiri, ia semakin yakin bahwa anak yang
       bernama Muhammad adalah calon nabi yang ditunjuk oleh Allah
       Subhanahu Wa Ta’ala. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh
       kenyataan bahwa di belakang bahu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam terdapat sebuah tanda kenabian.
       Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah
       berpesan pada Abi Thalib, “Saya berharap Tuan berhati-hati
       menjaganya. Saya yakin dialah nabi akhir zaman yang telah
       ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan agar hal ini
       jangan diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh
       nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya
       terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab
       Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan.”
       Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abi Thalib
       segera mempercepat urusannya di Suriah dan segera pulang ke
       Makkah.
       &#10043; Gelar al-Amin
       Pada usia 20 tahun, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       mendirikan Hilful-Fudűl, suatu lembaga yang bertujuan membantu
       orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Makkah memang
       sedang kacau akibat perselisihan yang terjadi antara suku
       Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudűl inilah
       sifat-sifat kepemimpinan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam lembaga ini, disamping
       ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin terkenal
       sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas
       karena berita kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut,
       sehingga ia mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang yang
       terpercaya.
       Selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang adil dan memiliki
       rasa kemanusiaan yang tinggi. Suatu ketika bangunan Ka’bah rusak
       karena banjir. Penduduk Makkah kemudian bergotong-royong
       memperbaiki Ka’bah. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan
       peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan.
       Masing-masing suku ingin mendapat kehormatan untuk melakukan
       pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian berkata,
       “Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu
       Shafa ini.”
       Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam muncul dari sana. Semua hadirin berseru, “Itu
       dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima semua
       keputusannya.”
       Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam lalu membentangkan sorbannya di atas tanah, dan
       meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua
       kepala suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara
       bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian yang diharapkan,
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meletakkan batu itu pada
       tempatnya semula. Dengan demikian selesailah perselisihan di
       antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan cara
       penyelesaian yang sangat bijak itu.
       &#10043; Pernikahan dengan Khadijah
       Pada usia 25 tahun, atas permintaan Khadijah bint Khuwailid,
       seorang saudagar kaya raya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam berangkat ke Suriah membawa barang dagangan saudagar
       wanita yang telah lama menjanda itu. Ia dibantu oleh Maisaroh,
       seorang pembantu lelaki yang telah lama bekerja pada Khadijah.
       Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam, Khadijah telah menaruh simpati melihat penampilan
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sopan itu.
       Kekagumannya semakin bertambah mengetahui hasil penjualan yang
       dicapai Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Suriah melebihi
       perkiraannya.
       Akhirnya Khadijah mengutus Maisaroh dan teman karibnya, Nufasah
       untuk menyampaikan isi hatinya kepada Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam. Khadijah yang berusia 40 tahun, melamar
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjadi suaminya.
       Setelah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu akhirnya
       diterima dan dalam waktu dekat segera diadakan upacara
       pernikahan dengan sederhana. yang hadir dalam acara itu antara
       lain Abi Thalib, Waraqah ibn Nawfal dan Abu Bakar as-Siddiq.
       Pernikahan bahagia itu dikaruniai 6 orang anak, terdiri dari 2
       anak lelaki bernama Al-Qasim dan Abdullah, dan 4 anak perempuan
       bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kedua anak
       lelakinya meninggal selagi masih kecil. Nabi Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menikah lagi sampai Khadijah
       meninggal, saat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berusia 50
       tahun.
       Dalam kehidupan rumah-tangganya dengan Khadijah, Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyakiti hati
       istrinya. Sebaliknya istrinya pun ikhlas menyerahkan segalanya
       pada suaminya. Kekayaan istrinya digunakan oleh Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk membantu orang-orang miskin
       dan tertindas. Budak-budak yang telah dimiliki Khadijah sebelum
       pernikahan mereka, semuanya ia bebaskan, salah satunya adalah
       Zaid ibn Haritsah yang kemudian menjadi anak angkatnya.
       &#10043; Wahyu Pertama
       Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam sering berkhalwat (menyendiri) ke Gua Hira, sekitar 6
       km sebelah timur kota Makkah. Ia bisa berhari-hari bertafakur
       dan beribadah disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6
       Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang memenuhi ruangan
       gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya sambil
       berkata, “Iqra’ (bacalah).” Lalu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam menjawab, “Mâ anâ bi qâri’ (saya tidak dapat membaca).”
       Mendengar jawaban Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Jibril
       lalu memeluk tubuh Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan
       sangat erat, lalu melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca. Namun setelah dilakukan
       sampai 3 kali dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap
       memberikan jawaban yang sama, Malaikat Jibril kemudian
       menyampaikan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala pertama, yang
       artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang
       Menciptakan. Ia menciptakan manusia dari segumpal darah.
       Bacalah, dan Rabbmu-lah yang Paling Pemurah. yang mengajar
       (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia
       apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 1-5)
       Saat itu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berusia 40 tahun
       6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan
       berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut
       perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari).
       Dengan turunnya 5 ayat pertama ini, berarti Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala
       sebagai rasul.
       Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa
       ketakutan dan cemas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah, “Selimuti aku,
       selimuti aku.” Sekujur tubuhnya terasa panas dan dingin
       berganti-ganti. Setelah lebih tenang, barulah ia bercerita
       kepada istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah
       mengajak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang pada
       saudara sepupunya, Waraqah ibn Naufal, yang banyak mengetahui
       kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang
       dialami Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Waraqah pun
       berkata, “Aku telah bersumpah dengan nama Tuhan, yang dalam
       tangan-Nya terletak hidup Waraqah, Tuhan telah memilihmu menjadi
       nabi kaum ini. An-Nâműs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang
       kepadamu. Kaummu akan mengatakan bahwa engkau penipu, mereka
       akan memusuhimu, dan mereka akan melawanmu. Sungguh, sekiranya
       aku dapat hidup pada hari itu, aku akan berjuang membelamu.”
       &#10043; Dakwah Nabi Muhammad [font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam[/font]
       Wahyu berikutnya adalah surat (Al-Muddatsir: 1-7), yang artinya:
       "Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah
       peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah,
       dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan
       janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang
       lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu,
       bersabarlah." (QS. 74: 1-7)
       Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdakwah. Mula-mula ia
       melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan
       rekan-rekannya. Orang pertama yang menyambut dakwahnya adalah
       Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam.
       Menyusul setelah itu adalah Ali ibn Abi Thalib, saudara
       sepupunya yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali
       menjadi lelaki pertama yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar,
       sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti
       oleh Zaid ibn Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak
       angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam sejak ibunya masih hidup.
       Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang
       teman dekatnya, seperti, Usman ibn Affan, Zubair ibn Awwam,
       Abdurrahman ibn Auf, Sa’d ibn Abi Waqqas, dan Talhah ibn
       Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang
       telah masuk Islam.
       Setelah beberapa lama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah agar Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjalankan dakwah secara
       terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya dalam
       sebuah jamuan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ajarannya.
       Namun ternyata hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak
       dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya
       adalah Abu Lahab.
       Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke
       Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang
       banyak. Karena Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah
       orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi
       sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di
       sekitar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam berkata, “Saudara-saudaraku, jika aku berkata, di
       belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian,
       percayakah kalian?”
       Dengan serentak mereka menjawab, “Percaya, kami tahu saudara
       belum pernah berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya.
       Saudara yang mendapat gelar al-Amin.”
       Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meneruskan, “Kalau
       demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah seorang nazir (pemberi
       peringatan). Allah telah memerintahkanku agar aku memperingatkan
       saudara-saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah Allah saja.
       Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara akan
       terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan
       kemudian tidak ada gunanya.”
       Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu
       marah, bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila.
       Pada saat itu, Abu Lahab berteriak, “Celakalah engkau hai
       Muhammad. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Sebagai
       balasan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur’an
       yang artinya: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya
       dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan
       apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang
       bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.
       yang di lehernya ada tali dari sabut." (QS. 111: 1-5)
       &#10043; Aksi-aksi menentang Dakwah Nabi Muhammad
       [font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam[/font]
       Reaksi-reaksi keras menentang dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam bermunculan, namun tanpa kenal lelah Nabi Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terus melanjutkan dakwahnya,
       sehingga hasilnya mulai nyata. Hampir setiap hari ada yang
       menggabungkan diri dalam barisan pemeluk agama Islam. Mereka
       terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan
       orang-orang miskin serta lemah. Meskipun sebagian dari mereka
       adalah orang-orang yang lemah, namun semangat yang mendorong
       mereka beriman sangat membaja.
       Tantangan dakwah terberat datang dari para penguasa Makkah, kaum
       feodal, dan para pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan
       tradisi lama disamping juga khawatir jika struktur masyarakat
       dan kepentingan-kepentingan dagang mereka akan tergoyahkan oleh
       ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang
       menekankan pada keadilan sosial dan persamaan derajat. Mereka
       menyusun siasat untuk melepaskan hubungan keluarga antara Abi
       Thalib dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengen
       cara meminta pada Abu Thalib memilih satu di antara dua:
       memerintahkan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar
       berhenti berdakwah, atau menyerahkannya kepada mereka. Abi
       Thalib terpengaruh oleh ancaman itu, ia meminta agar Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghentikan dakwahnya. Tetapi
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menolak permintaannya dan
       berkata, “Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan
       amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak
       saudara mengucilkan saya.”
       Mendengar jawaban ini, Abi Thalib pun berkata, “Teruskanlah,
       demi Allah aku akan terus membelamu.”
       Gagal dengan cara pertama, kaum Quraisy lalu mengutus Walid ibn
       Mugirah menemui Abi Thalib dengan membawa seorang pemuda untuk
       dipertukarkan dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Pemuda itu bernama Umarah ibn Walid, seorang pemuda yang gagah
       dan tampan. Walid ibn Mugirah berkata, “Ambillah dia menjadi
       anak saudara, tetapi serahkan kepada kami Muhammad untuk kami
       bunuh, karena dia telah menentang kami dan memecah belah kita.”
       Usul Quraisy itu ditolak mentah-mentah oleh Abi Thalib dengan
       berkata, “Sungguh jahat pikiran kalian. Kalian serahkan anak
       kalian untuk saya asuh dan beri makan, dan saya serahkan
       kemenakan saya untuk kalian bunuh. Sungguh suatu penawaran yang
       tak mungkin saya terima.”
       Kembali mengalami kegagalan, berikutnya mereka menghadapi Nabi
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara langsung. Mereka
       mengutus Utbah ibn Rabi’ah, seorang ahli retorika, untuk
       membujuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka menawarkan
       takhta, wanita, dan harta yang mereka kira diinginkan oleh Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, asal Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam bersedia menghentikan dakwahannya. Namun semua tawaran
       itu ditolak oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       dengan mengatakan, “Demi Allah, biarpun mereka meletakkan
       matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku
       tidak akan menghentikan dakwah agama Allah ini, hingga agama ini
       memang atau aku binasa karenanya.”
       Setelah gagal dengan cara-cara diplomatik dan bujuk rayu, kaum
       Quraisy mulai melakukan tindak kekerasan. Budak-budak mereka
       yang telah masuk Islam mereka siksa dengan sangat kejam. Mereka
       dipukul, dicambuk, dan tidak diberi makan dan minum. Salah
       seorang budak bernama Bilal, mendapat siksaan ditelentangkan di
       atas pasir yang panas dan di atas dadanya diletakkan batu yang
       besar dan berat.
       Setiap suku diminta menghukum anggota keluarganya yang masuk
       Islam sampai ia murtad kembali. Usman ibn Affan misalnya,
       dikurung dalam kamar gelap dan dipukul hingga babak belur oleh
       anggota keluarganya sendiri. Secara keseluruhan, sejak saat itu
       umat Islam mendapat siksaan yang pedih dari kaum Quraisy Makkah.
       Mereka dilempari kotoran, dihalangi untuk melakukan ibadah di
       Ka’bah, dan lain sebagainya.
       Kekejaman terhadap kaum Muslimin mendorong Nabi Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengungsikan
       sahabat-sahabatnya keluar dari Makkah. Dengan pertimbangan yang
       mendalam, pada tahun ke-5 kerasulannya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam menetapkan Abessinia atau Habasyah (Ethiopia sekarang)
       sebagai negeri tempat pengungsian, karena raja negeri itu adalah
       seorang yang adil, lapang hati, dan suka menerima tamu. Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasa pasti rombongannya akan
       diterima dengan tangan terbuka.
       Rombongan pertama terdiri dari 10 orang pria dan 5 orang wanita.
       di antara rombongan tsb adalah Usman ibn Affan beserta istrinya
       Ruqayah (putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), Zubair
       ibn Awwam, dan Abdur Rahman ibn Auf. Kemudian menyusul rombongan
       kedua yang dipimpin oleh Ja’far ibn Abi Thalib. Beberapa sumber
       menyatakan jumlah rombongan ini lebih dari 80 orang.
       Berbagai usaha dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghalangi
       hijrah ke Habasyah ini, termasuk membujuk raja negeri tsb agar
       menolak kehadiran umat Islam disana. Namun berbagai usaha itu
       pun gagal. Semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, justru
       semakin bertambah jumlah yang memeluk Islam. Bahkan di tengah
       meningkatnya kekejaman tsb, dua orang kuat Quraisy masuk Islam,
       yaitu Hamzah ibn Abdul Mutthalib dan Umar ibn Khattab. Dengan
       masuk Islamnya dua orang yang dijuluki “Singa Arab” itu, semakin
       kuatlah posisi umat Islam dan dakwah Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam pada waktu itu.
       Hal ini membuat reaksi kaum Quraisy semakin keras. Mereka
       berpendapat bahwa kekuatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam terletak pada perlindungan Bani Hasyim, maka mereka pun
       berusaha melumpuhkan Bani Hasyim dengan melaksanakan blokade.
       Mereka memutuskan segala macam hubungan dengan suku ini. Tidak
       seorang pun penduduk Makkah boleh melakukan hubungan dengan Bani
       Hasyim, termasuk hubungan jual-beli dan pernikahan. Persetujuan
       yang mereka buat dalam bentuk piagam itu mereka tanda-tangani
       bersama dan mereka gantungkan di dalam Ka’bah. Akibatnya, Bani
       Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Untuk
       meringankan penderitaan itu, Bani Hasyim akhirnya mengungsi ke
       suatu lembah di luar kota Makkah.
       Tindakan pemboikotan yang dimulai pada tahun ke-7 kenabian
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berlangsung selama 3
       tahun itu merupakan tindakan yang paling menyiksa. Pemboikotan
       itu berhenti karena terdapat beberapa pemimpin Quraisy yang
       menyadari bahwa tindakan pemboikotan itu sungguh keterlaluan.
       Kesadaran itulah yang mendorong mereka melanggar perjanjian yang
       mereka buat sendiri. Dengan demikian Bani Hasyim akhirnya dapat
       kembali pulang ke rumah masing-masing.
       Setelah Bani Hasyim kembali ke rumah mereka, Abi Thalib, paman
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang merupakan pelindung
       utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tiga hari
       kemudian, Khadijah, istrinya, juga meninggal dunia. Tahun ke-10
       kenabian ini benar-benar merupakan Tahun Kesedihan (‘Âm al-Huzn)
       bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Telebih
       sepeninggal dua pendukungnya itu, kaum Quraisy tidak segan-segan
       melampiaskan kebencian kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Hingga kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berusaha
       menyebarkan dakwah ke luar kota, yaitu ke Ta’if. Namun reaksi
       yang diterima Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Bani Saqif
       (penduduk Ta’if), tidak jauh berbeda dengan penduduk Makkah.
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diejek, disoraki, dilempari
       batu sampai ia luka-luka di bagian kepala dan badannya.
       &#10043; Peristiwa Isra’ Mi’raj
       Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj.
       Isra’, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidil Haram di Makkah
       ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.
       Mi’raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam dari Masjidil Aqsa ke langit melalui beberapa
       tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, Sidratulmuntaha, 'Arsy
       (Takhta Tuhan), dan Kursi (Singgasana Tuhan), hingga menerima
       wahyu di hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
       Dalam kesempatannnya berhadapan langsung dengan Allah Subhanahu
       Wa Ta’ala inilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       menerima perintah untuk mendirikan shalat 5 waktu sehari
       semalam. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini terdapat dalam Al-Qur’an
       surat (Al-Isrâ’: 1).
       &#10043; HIJRAH
       Harapan baru bagi perkembangan Islam muncul dengan datangnya
       jemaah haji ke Makkah yang berasal dari Yatsrib (Madinah). Nabi
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memanfaatkan kesempatan
       itu untuk menyebarkan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan
       mendatangi kemah-kemah mereka. Namun usaha ini selalu diikuti
       oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya dengan mendustakan Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertemu dengan 6
       orang dari suku Aus dan Khazraj yang berasal dari Yatsrib.
       Setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan
       pokok-pokok ajaran Islam, mereka menyatakan diri masuk Islam di
       hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka berkata,
       “Bangsa kami sudah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara
       suku Khazraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian.
       Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan
       perantaramu dan ajaran-ajaran yang kamu bawa. Oleh karena itu
       kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yang kami
       terima dari kamu ini.”
       Pada musim haji tahun berikutnya, datanglah delegasi Yatsrib
       yang terdiri dari 12 orang suku Khazraj dan Aus. Mereka menemui
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di suatu tempat bernama
       Aqabah. Di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka
       menyatakan ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di
       Aqabah, maka dinamakan Bai’at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb
       kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan ditemani
       oleh Mus’ab ibn Umair yang sengaja diutus oleh Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam atas permintaan mereka.
       Pada musim haji berikutnya, jemaah haji yang datang dari Yatsrib
       berjumlah 75 orang, termasuk 12 orang yang sebelumnya telah
       menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Aqabah. Mereka
       meminta agar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersedia pindah
       ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam dari segala ancaman. Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam menyetujui usul yang mereka ajukan.
       Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam dengan orang-orang Yatsrib, kaum Quraisy
       menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan para sahabatnya
       untuk hijrah ke Yatsrib. Secara diam-diam, berangkatlah
       rombongan-rombongan muslimin, sedikit demi sedikit, ke Yatsrib.
       Dalam waktu 2 bulan, kurang lebih 150 kaum muslimin telah berada
       di Yatsrib. Sementara itu Ali ibn Abi Thalib dan Abu Bakar
       as-Sidiq tetap tinggal di Makkah bersama Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam, membelanya sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.
       Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum ia sempat menyusul umatnya
       ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku.
       Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat.
       Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya,
       Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang
       diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali
       ibn Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy
       mengira bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih tidur.
       Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya tanpa
       diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menemui Abu Bakar yang telah siap
       menunggu. Mereka berdua keluar dari Makkah menuju sebuah Gua
       Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Makkah. Mereka
       bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan
       aman. Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun
       karena mengira Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah sampai di
       Yatsrib, keluarlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu
       Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah ibn Uraiqit
       yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor
       unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama Abu Bakar menuju
       Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak
       pernah ditempuh orang.
       Setelah 7 hari perjalanan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan
       Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari
       Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari.
       Mereka menginap di rumah Kalsum bint Hindun. Di halaman rumah
       ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membangun sebuah masjid
       yang kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid
       pertama yang dibangun Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai
       pusat peribadatan.
       Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sementara itu penduduk Yatsrib
       menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka,
       berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah tiba di Yatsrib. Oleh
       sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang
       ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kedatangan Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan rombongan. Akhirnya waktu yang
       ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka
       mengelu-elukan kedatangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala’
       al-Badru, yang isinya:
       ***
       Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ’i (celah-celah
       bukit).
       Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada
       Ilahi,
       Wahai orang yang diutus kepada kami,
       Engkau telah membawa sesuatu yang harus kami ta'ati.
       ***
       Setiap orang ingin agar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam hanya berkata, “Aku akan menginap dimana untaku
       berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya.”
       Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu
       Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari.
       Dengan demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilih rumah
       Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tinggal di rumah Abu Ayyub,
       sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah
       untuknya.
       Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota
       nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota
       yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke
       seluruh dunia.
       &#10043; Terbentuknya Negara Madinah
       Setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di Madinah dan
       diterima penduduk Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       menjadi pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan
       dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi pembentukan suatu
       masyarakat baru.
       Dasar Pertama yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah
       (persaudaraan di dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin
       (orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar
       (penduduk Madinah yang masuk Islam dan ikut membantu kaum
       Muhajirin). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempersaudarakan
       individu-individu dari golongan Muhajirin dengan
       individu-individu dari golongan Anshar. Misalnya, Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempersaudarakan Abu Bakar dengan
       Kharijah ibn Zaid, Ja’far ibn Abi Thalib dengan Mu’az ibn Jabal.
       Dengan demikian diharapkan masing-masing orang akan terikat
       dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan persaudaraan
       yang semacam ini pula, Rasulullah telah menciptakan suatu
       persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama,
       menggantikan persaudaraan berdasarkan keturunan.
       Dasar Kedua adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa
       persaudaraan tsb, yaitu tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud
       adalah masjid, tempat untuk melakukan ibadah kepada Allah
       Subhanahu Wa Ta’ala secara berjamaah, yang juga dapat digunakan
       sebagai pusat kegiatan untuk berbagai hal, seperti
       belajar-mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam
       masyarakat, musyawarah, dan transaksi dagang.
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merencanakan pembangunan
       Masjid itu dan langsung ikut membangun bersama-sama kaum
       muslimin. Masjid yang dibangun ini kemudian dikenal sebagai
       Masjid Nabawi. Ukurannya cukup besar, dibangun di atas sebidang
       tanah dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dindingnya terbuat dari
       tanah liat, sedangkan atapnya dari daun-daun dan pelepah kurma.
       Di dekat masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keluarganya.
       Dasar Ketiga adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak
       lain yang tidak beragama Islam. Di Madinah, disamping
       orang-orang Arab Islam juga masih terdapat golongan masyarakat
       Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama
       nenek-moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat
       diwujudkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Perjanjian tsb
       diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut dengan Mîsâq
       Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain mengenai
       kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga
       keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan
       derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam menjadi kepala pemerintahan di Madinah.
       Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam di Madinah setelah hijrah itu sudah dapat dikatakan
       sebagai sebuah negara, dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam sebagai kepala negaranya. Dengan terbentuknya Negara
       Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang
       pesat itu membuat orang-orang Makkah menjadi resah. Mereka takut
       kalau-kalau umat Islam memukul mereka dan membalas kekejaman
       yang pernah mereka lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang
       mereka ke Suriah akan diganggu atau dikuasai oleh kaum muslimin.
       Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang baru
       didirikan itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengadakan
       beberapa ekspedisi ke luar kota, baik langsung di bawah
       pimpinannya maupun tidak. Hamzah ibn Abdul Mutthalib membawa 30
       orang berpatroli ke pesisir L. Merah. Ubaidah ibn Haris membawa
       60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa’ad ibn Abi Waqqas ke Hedzjaz
       dengan 8 orang Muhajirin. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       sendiri membawa pasukan ke Abwa dan disana berhasil mengikat
       perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke Buwat dengan membawa
       200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah. Di sini Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengadakan perjanjian dengan Bani
       Mudij.
       Ekspedisi-ekspedisi tsb sengaja digerakkan Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam sebagai aksi-aksi siaga dan melatih kemampuan
       calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan
       mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian perdamaian
       dengan kabilah dimaksudkan sebagai usaha memperkuat kedudukan
       Madinah.
       &#10043; Perang Badr
       Perang Badr yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah
       dan kaun musyrikin Quraisy Makkah terjadi pada tahun 2 H. Perang
       ini merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi
       antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy.
       Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang
       dilaksanakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam gagal.
       Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan
       perlengkapan senjata sederhana yang terdiri dari pedang, tombak,
       dan panah. Berkat kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam dan semangat pasukan yang membaja, kaum muslimin keluar
       sebagai pemenang. Abu Jahal, panglima perang pihak pasukan
       Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas
       dari pihak Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Di
       pihak kaum muslimin, hanya 14 yang gugur sebagai syuhada.
       Kemenangan itu sungguh merupakan pertolongan Allah Subhanahu Wa
       Ta’ala (QS. 3: 123).
       Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum
       muslimin. Mereka memang tidak pernah sepenuh hati menerima
       perjanjian yang dibuat antara mereka dan Nabi Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Piagam Madinah.
       Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memutuskan untuk
       membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai kemampuan
       masing-masing. Tawanan yang pandai membaca dan menulis
       dibebaskan bila bersedia mengajari orang-orang Islam yang masih
       buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan
       kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.
       Tidak lama setelah perang Badr, Nabi Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam mengadakan perjanjian dengan suku Badui yang
       kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam karenan melihat kekuatan Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja
       kekuatan semata.
       Sesudah perang Badr, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga
       menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi Madinah yang berkomplot
       dengan orang-orang Makkah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       lalu mengusir kaum Yahudi itu ke Suriah.
       &#10043; Perang Uhud
       Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3
       H. Perang ini disebabkan karena keinginan balas dendam
       orang-orang Quraisy Makkah yang kalah dalam perang Badr.
       Pasukan Quraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah,
       membawa 3.000 ekor unta dan 200 pasukan berkuda di bawah
       pimpinan Khalid ibn Walid. Tujuh ratus orang di antara mereka
       memakai baju besi.
       Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       hanya berjumlah 700 orang.
       Perang-pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul
       mundur pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy
       mulai mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.
       Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah
       yang ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan
       pos mereka dan turun untuk mengambil harta peninggalan musuh.
       Mereka lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos
       mereka dalam keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka
       tidak lagi menghiraukan gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan
       musuh untuk segera melancarkan serangan balik. Tanpa konsentrasi
       penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka
       terjepit, dan satu per satu pahlawan Islam berguguran.
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri terkena serangan
       musuh. Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh berita tidak
       benar yang diterima musuh bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam sudah meninggal. Berita ini membuat mereka mengendurkan
       serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu.
       Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai
       syuhada.
       &#10043; Perang Khandaq
       Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara
       kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang
       mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Makkah.
       Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu
       beberapa suku).
       Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman
       al-Farisi, sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
       mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan di
       bagian-bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini
       disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.
       Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah
       dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan
       lamanya. Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah
       menderita karena hubungan mereka dengan dunia luar menjadi
       terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan
       orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah
       pimpinan Ka’ab ibn Asad.
       Namun akhirnya pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
       menyelamatkan kaum muslimin. Setelah sebulan mengadakan
       pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu berkurang.
       Sementara itu pada malam hari angin dan badai turun dengan amat
       kencang, menghantam dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh
       perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka terpaksa
       menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing
       tanpa suatu hasil.
       Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman
       mati. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an surat (Al-Ahzâb:
       25-26).
       &#10043; Perjanjian Hudaibiyah
       Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyari’atkan, hasrat
       kaum muslimin untuk mengunjungi Makkah sangat bergelora. Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memimpin langsung sekitar 1.400
       orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan,
       bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan
       pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga
       diri, bukan untuk berperang.
       Sebelum tiba di Makkah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang
       terletak beberapa kilometer dari Makkah. Orang-orang kafir
       Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Makkah dengan
       menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga. Akhirnya
       diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Makkah,
       yang isinya antara lain:
       Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama
       10 tahun.
       Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia
       harus dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyeberang ke pihak Quraisy,
       pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maupun dengan pihak
       Quraisy.
       Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah pada tahun tsb,
       tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.
       Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Makkah, orang
       Quraisy harus keluar lebih dulu.
       Kaum muslimin memasuki kota Makkah dengan tidak diizinkan
       membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak
       boleh tinggal di Makkah lebih dari 3 hari 3 malam.
       Tujuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membuat perjanjian tsb
       sebenarnya adalah berusaha merebut dan menguasai Makkah, untuk
       kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain. Ada 2
       faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini:
       - Makkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan
       melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam
       dapat tersebar ke luar.
       - [size=10pt]Apabila Suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam
       akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy
       mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa
       Arab.
       [size=11pt]Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai
       perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah
       menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping
       juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam
       Madinah.
       [size=12pt]&#10043; Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain
       Gencatan senjata dengan penduduk Makkah memberi kesempatan
       kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengalihkan
       perhatian ke berbagai negeri-negeri lain sambil memikirkan
       bagaimana cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang
       ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian adalah
       dengan mengirim utusan dan surat ke berbagai kepala negara dan
       pemerintahan.
       Di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam adalah raja Gassan dari Iran, raja Mesir,
       Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan cara itu tidak ada
       raja-raja yang masuk Islam, namun setidaknya risalah Islam sudah
       sampai kepada mereka. Reaksi para raja itu pun ada yang menolak
       dengan baik dan simpatik sambil memberikan hadiah, ada pula yang
       menolak dengan kasar.
       Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang
       dikirim Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dibunuhnya dengan
       kejam. Sebagai jawaban, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       kemudian mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 orang dibawah
       pimpinan Zaid ibn Haritsah. Peperangan terjadi di Mu’tah,
       sebelah utara Semenanjung Arab.
       Pasukan Islam mendapat kesulitan menghadapi tentara Gassan yang
       mendapat bantuan langsung dari Romawi. Beberapa syuhada gugur
       dalam pertempuran melawan pasukan berkekuatan ratusan ribu orang
       itu. di antara mereka yang gugur adalah Zaid ibn Haritsah
       sendiri, Ja’far ibn Abi Thalib, dan Abdullah ibn Abi Rawahah.
       Melihat kekuatan yang tidak seimbang itu, Khalid ibn Walid,
       bekas panglima Quraisy yang sudah masuk Islam, mengambil alih
       komando dan memerintahkan pasukan Islam menarik diri dan kembali
       ke Madinah.
       Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut
       dengan Perang Mu’tah.
       &#10043; Kembali ke Makkah
       Selama 2 tahun Perjanjian Hudaibiyah, dakwah Islam sudah
       menjangkau Semenanjung Arab dan mendapat tanggapan yang positif.
       Hampir seluruh Semenanjung Arab, termasuk suku-suku yang paling
       selatan, telah menggabungkan diri ke dalam Islam. Hal ini
       membuat orang-orang Makkah merasa terpojok. Perjanjian
       Hudaibiyah ternyata telah menjadi senjata bagi umat Islam untuk
       memperkuat dirinya. Oleh karena itu secara sepihak orang-orang
       Quraisy membatalkan perjanjian tsb. Mereka menyerang Bani
       Khuza’ah yang berada di bawah perlindungan Islam hanya karena
       kabilah ini berselisih dengan Bani Bakar yang menjadi sekutu
       Quraisy. Sejumlah orang Kuza’ah mereka bunuh dan sebagian
       lainnya dicerai-beraikan. Bani Khuza’ah segera mengadu pada Nabi
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan meminta keadilan.
       Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam segera bertolak dengan
       10.000 orang tentara untuk melawan kaum musyrik Makkah itu.
       Kecuali perlawanan kecil dari kaum Ikrimah dan Safwan, Nabi
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengalami kesukaran
       memasuki kota Makkah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memasuki
       kota itu sebagai pemenang. Pasukan Islam memasuki kota Makkah
       tanpa kekerasan. Mereka kemudian menghancurkan patung-patung
       berhala di seluruh negeri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
       “…Kebenaran sudah datang dan yang bathil telah lenyap.
       Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”
       (QS. 17: 81)
       Setelah melenyapkan berhala-berhala itu, Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam berkhotbah menjanjikan ampunan bagi orang-orang
       Quraisy. Setelah khotbah tsb, berbondong-bondong mereka datang
       dan masuk Islam. Ka’bah bersih dari berhala dan tradisi-tradisi
       serta kebiasaan-kebiasaan musyrik.
       Sejak itu, Makkah kembali berada di bawah kekuasaan Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Setelah Makkah dapat dikalahkan, masih terdapat suku-suku Arab
       yang menentang, yaitu Bani Saqif, Bani Hawazin, Bani Nasr, dan
       Bani Jusyam. Suku-suku ini berkomplot membentuk satu pasukan
       untuk memerangi Islam karena ingin menuntut bela atas
       berhala-berhala mereka yang diruntuhkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam dan umat Islam di Ka’bah. Pasukan mereka dipimpin oleh
       Malik ibn Auf (dari Bani Nasr).
       Dalam perjalanan mereka ke Makkah, mereka berkemah di Lembah
       Hunain yang sangat strategis.
       Kurang lebih 2 minggu kemudian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam memimpin sekitar 12.000 tentara menuju Hunain. Saat
       melihat banyak pasukan Islam yang gugur, sebagian pasukan yang
       masih hidup menjadi goyah dan kacau balau, sehingga Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian memberi semangat dan
       memimpin langsung peperangan tsb. Akhirnya umat Islam berhasil
       menang. Pasukan musuh yang melarikan diri ke Ta’if terus diburu
       selama beberap minggu sampai akhirnya mereka menyerah. Pemimpin
       mereka, Malik ibn Auf, menyatakan diri masuk Islam.
       Dengan ditaklukannya Bani Saqif dan Bani Hawazin, kini seluruh
       Semenanjung Arab berada di bawah satu kepemimpinan, yaitu
       kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Melihat
       kenyataan itu, Heraclius, pemimpin Romawi, menyusun pasukan
       besar di Suriah, kawasan utara Semenanjung Arab yang merupakan
       daerah pendudukan Romawi. Dalam pasukan besar itu bergabung Bani
       Gassan dan Bani Lachmides.
       Dalam masa panen dan pada musim yang sangat panas, banyak
       pahlawan Islam yang menyediakan diri untuk berperang bersama
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pasukan Romawi kemudian
       menarik diri setelah melihat betapa besarnya pasukan yang
       dipimpin Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam sendiri tidak melakukan pengejaran, melainkan
       ia berkemah di Tabuk. Disini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       membuat beberapa perjanjian dengan penduduk setempat. Dengan
       demikian daerah perbatasan itu dapat dirangkul ke dalam barisan
       Islam.
       Perang yang terjadi di Tabuk ini merupakan perang terakhir yang
       diikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Pada tahun 9 dan 10 H banyak suku dari seluruh pelosok Arab yang
       mengutus delegasinya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam untuk menyatakan tunduk kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam. Masuknya orang Makkah ke dalam agama Islam mempunyai
       pengaruh yang amat besar pada penduduk Arab. Oleh karena itu,
       tahun ini disebut dengan Tahun Perutusan atau ‘Âm al-Bi’sah.
       Mereka yang datang ke Makkah, rombongan demi rombongan,
       mempelajari ajaran-ajaran Islam dan setelah itu kembali ke
       negeri masing-masing untuk mengajarkan kepada kaumnya. Dengan
       cara ini, persatuan Arab terbentuk. Peperangan antar suku yang
       berlangsung selama ini berubah menjadi persaudaraan agama. Pada
       saat itu turunlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: "Apabila
       telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat
       manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka
       bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
       Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." (QS. 110: 1-3)
       Kini apa yang ditugaskan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam sudah tercapai.
       Di tengah-tengah suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban,
       telah lahir seorang nabi.
       Ia telah berhasil membacakan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala
       kepada mereka dan mensucikannya serta mengajarkan kitab dan
       hikmah kepada mereka, padahal sebelumnya mereka berada dalam
       kegelapan yang pekat.
       Pada awalnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       mendapati mereka bergelimang dalam ketakhyulan yang merendahkan
       derajat manusia, lalu ia mengilhami mereka dengan kepercayaan
       kepada satu-satunya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kasih Sayang.
       Saat mereka bercerai-berai dan terlibat dalam peperangan yang
       seolah tak ada habisnya, dipersatukannya mereka dalam ikatan
       persaudaraan. Kalau sebelumnya Semenanjung Arab berada dalam
       kegelapan rohani, maka ia datang membawa cahaya terang-benderang
       untuk menyinari rohani mereka. Pekerjaannya selesai sudah, dan
       seluruhnya dikerjakan dengan baik semasa hidupnya. Disinilah
       letak keunggulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       dibanding dengan nabi-nabi yang lain.
       &#10043; Ibadah Haji Terakhir
       Pada tahun 10 H, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengerjakan
       ibadah haji yang terakhir, yang disebut juga dengan haji wada’.
       Pada tanggal 25 Zulkaidah 10/23 Februari 632 Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meninggalkan Madinah. Sekitar
       seratus ribu jemaah turut menunaikan ibadah haji bersamanya.
       Pada waktu wukuf di Arafah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah. Isi
       khotbah itu antara lain:
       [*]Larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq (benar) dan
       mengambil harta orang lain dengan bathil (salah), karena nyawa
       dan harta benda adalah suci.
       [*][size=10pt]Larangan riba dan larangan menganiaya
       [*][size=10pt]Perintah untuk memperlakukan para istri dengan
       baik serta lemah lembut
       [*][size=10pt]Perintah menjauhi dosa
       [*][size=10pt]Semua pertengkaran di antara mereka di zaman
       Jahiliah harus dimaafkan
       [*][size=10pt]Pembalasan dengan tebusan darah sebagaimana yang
       berlaku di zaman Jahiliyah tidak lagi dibenarkan
       [*][size=10pt]Persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus
       ditegakkan
       [*][size=10pt]Hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, yaitu
       mereka memakan apa yang dimakan majikannya dan memakai apa yang
       dipakai majikannya.
       [*][size=10pt]Dan yang terpenting, bahwa umat Islam harus selalu
       berpegang teguh pada dua sumber yang tak akan pernah usang,
       yaitu Al-Qur’an dan Sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       .
       [size=11pt]Setelah itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       bertanya kepada seluruh jemaah, “Sudahkan aku menyampaikan
       amanat Allah, kewajibanku, kepada kamu sekalian?.”
       Jama'ah yang ada di hadapannya segera menjawab, “Ya, memang
       demikian adanya.”
       Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian menengadah
       ke langit sambil mengucapkan, “Ya Allah, Engkaulah menjadi
       saksiku.”
       Dengan kata-kata seperti itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam mengakhiri khotbahnya.
       [size=12pt]&#10043; Kembali ke Madinah
       Setelah upacara haji yang lain disempurnakan, Nabi Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kembali ke Madinah. Disinilah ia
       menghabiskan sisa hidupnya. Ia mengatur organisasi masyarakat di
       kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam dan menjadi bagian dari
       persekutuan Islam. Petugas keamanan dan para da’i dikirimnya ke
       berbagai daerah untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam, mengatur
       peradilan Islam, dan memungut zakat. Salah seorang di antara
       petugas itu adalah Mu’az ibn Jabal yang dikirim oleh Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ke Yaman. Ketika itulah hadist
       Mu’az yang terkenal muncul, yaitu perintah Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam agar Mu’az menggunakan pertimbangan akalnya
       dalam mengatur persoalan-persoalan agama apabila ia tidak
       menemukan petunjuk dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam.
       Pada saat-saat itu pula wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang
       terakhir turun: “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
       agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
       Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu...” (QS. 5: 3)
       Mendengar ayat ini, banyak orang yang bergembira karena telah
       sempurna agama mereka, tetapi ada pula yang menangis, seperti
       Abu Bakar, karena mengetahui bahwa ayat itu jelas merupakan
       pertanda berakhirnya tugas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam.
       &#10043; Wafatnya Nabi [font=georgia]Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam[/font]
       Dua bulan setelah menunaikan ibadah haji wada’ di Madinah, Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sakit demam. Meskipun badannya
       mulai lemah, ia tetap memimpin shalat berjamaah. Baru setelah
       kondisinya tidak memungkinkan lagi, yaitu 3 hari menjelang
       wafatnya, ia tidak mengimami shalat berjamaah. Sebagai gantinya
       ia menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat. Tenaganya dengan
       cepat semakin berkurang.
       Pada tanggal 13 Rabiulawal 11/8 Juni 632, Nabi Muhammad
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghembuskan nafasnya yang
       terakhir di rumah istrinya, Aisyah bint Abu Bakar, dengan wasiat
       terakhir, “Ingatlah shalat, dan taubatlah...”
       &#10043; Ummul Mukminin
       Setelah Khadijah meninggal, Nabi Muhammad menikah lagi sebanyak
       10 kali, sehingga jumlah wanita yang menjadi istrinya ada 11
       orang. Kesebelas wanita ini disebut sebagai Ummul Mukminin (ibu
       dari orang-orang yang beriman). Sebutan tsb menunjukkan bahwa
       para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah
       wanita-wanita yang terpilih dan dimuliakan Allah Subhanahu Wa
       Ta’ala.
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahi para wanita itu
       karena beberapa alasan, antara lain untuk melindungi mereka dari
       tekanan kaum musyrikin, membebaskannya dari status tawanan
       perang, dan mengangkat derajatnya. Tidak jarang pernihakan yang
       dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menciptakan hubungan
       perdamaian antara dua suku yang sebelumnya saling bermusuhan.
       Para Ummul Mukminin itu adalah:
       - Khadijah bint Khuwailid
       - [size=10pt]Sa’udah bint Zam’ah
       - [size=10pt]'Aisyah bint Abu Bakar as-Shiddiq
       - [size=10pt]Zainab bint Huzaimah ibn Abdullah ibn Umar
       - [size=10pt]Juwairiyah bint Haris
       - [size=10pt]Sofiyah bint Hay ibn Akhtab
       - [size=10pt]Hindun bint Abi Umaiyah ibn Mugirah ibn Abdullah
       ibn Amr ibn Mahzum
       - [size=10pt]Ramlah bint Abu Sufyan
       - [size=10pt]Hafsah bint Umar ibn Khattab
       - [size=10pt]Zainab bint Jahsy ibn Ri’ah ibn Ja’mur ibn Sabrah
       ibn Murrah
       - [size=10pt]Maimunah bint Haris
       [size=11pt]Beberapa dari istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       ini juga menjadi periwayat hadist, yaitu Aisyah, Hafsah, dan
       Zainab bint Jahsy. &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       #Post#: 88--------------------------------------------------
       Re: NABI MUHAMMAD &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;
       &#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;
       &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;
   DIR By: iscm
       Date: December 23, 2023, 5:43 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS [color=beige]|
       SEJARAH SINGKAT 25 NABI DAN RASUL[/shadow][/color][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Sejarah Singkat 25 Nabi dan Rasul ini dikaitkan dengan
       nash Al-Qur'an. dan untuk lebih lengkap silahkan baca buku Ibnu
       Katsir
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(9)-murid-murid-mereka/ibnu-katsir/msg152/#msg152[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; &#1769;&#1758;&#1769; 25 NABI DAN RASUL
       September 17, 2024 Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/
       [size=9pt]Read slowly then Click or Press (ARROW
       [color=red]&#9654; Articles In Forum)[/color]
       &#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/15/adam-idris/
       &#1769;&#1758;&#1769; BLOG &#9488;SEJARAH SINGKAT 25 NABI DAN
       RASUL
  HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/
       -  &#1769;&#1758;&#1769; ADAM, IDRIS
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=229
       &#9701;&#8593; Adam, Idris
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=229<br
       />&#9654;[color=maroon](GOTO Articles in Forum)[/color]
  HTML http://iscm.createaforum.com/adam-idris/adam-idris/msg77/#msg77
       -  &#1769;&#1758;&#1769; NUH, HUD, SHALEH
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=230
       &#9701;&#8593; Nuh, Hud, Saleh
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=230
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-nuh-hud-saleh/nuh-hud-shaleh/msg76/#msg76
       -  &#1769;&#1758;&#1769; IBRAHIM, ISMAIL
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=231
       &#9701;&#8593; Ibrahim, Ismail
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=231
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-ibrahim-ismail/ibrahim-ismail/msg75/#msg75
       -  &#1769;&#1758;&#1769; LUTH, ISHAQ, YAQUB
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=232
       &#9701;&#8593; Luth, Ishaq, Yaqub
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=232
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-luth-ishaq-yaqub/luth-ishaq-yaqub/msg74/#msg74
       -  &#1769;&#1758;&#1769; YUSUF
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=233
       &#9701;&#8593; Yusuf
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=233
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-yusuf/yusuf/msg73/#msg73
       -  &#1769;&#1758;&#1769; AYYUB, ZULKIFLI, SYU'AIB
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=234
       &#9701;&#8593; Ayyub, Zulkifli, Syu’aib
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=234
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-ayyub-zulkifli-syuaib/ayyub-zulkifli-syuaib/msg72/#msg72
       -  &#1769;&#1758;&#1769; MUSA, HARUN
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=235
       &#9701;&#8593; Musa, Harun
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=235
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-musa-harun/musa-wa-harun/msg71/#msg71
       -  &#1769;&#1758;&#1769; DAWUD, SULAIMAN
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=236
       &#9701;&#8593; Dawud, Sulaiman
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=236
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-daud-sulaiman/daud-sulaiman/msg70/#msg70
       -  &#1769;&#1758;&#1769; ILYAS, ILYASA, YUNUS
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=237
       &#9701;&#8593; Ilyas, Ilyasa, Yunus
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=237
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-ilyas-ilyasa-yunus/ilyas-ilyasa-yunus/msg69/#msg69
       -  &#1769;&#1758;&#1769; ZAKARIA, YAHYA, ISA
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=238
       &#9701;&#8593; Zakaria, Yahya, Isa
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=238
       &#9654;
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-zakaria-yahya-isa/zakariya-yahya-isa/msg67/#msg67
       -  &#1769;&#1758;&#1769; MUHAMMAD
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=239
       &#1589;&#1604;&#1609;
       &#1575; &#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;
       &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;
       &#9701;&#8593; Muhammad [color=teal]&#1589;&#1604;&#1609;
       &#1575; &#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;
       &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;
       [url=
  HTML http://iscm.createaforum.com/128998-muhammad-158916041609-1575-160416041607-1593160416101607-1608158716041605/nabi-muhammad-158916041609-1575-160416041607-1593160416101607-1608158716041605/msg66/#msg66]&#9654;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=239
       [size=11pt] &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/176917581769-25-nabi-dan-rasul-(templates)/][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/25-nabi-dan-rasul/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1