DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ MUHADIDDTSIN
*****************************************************
#Post#: 365--------------------------------------------------
۩۞۩ Muhadiddtsin: Para Imam Ahlussunnah
Ashabul Hadits
DIR By: iscm
Date: January 3, 2024, 2:22 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Ashabul Hadits
[size=10pt]Mengenal Para Imam Ahlussunnah Ashabul Hadits
(Oleh: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad[/size] Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/ashabul-hadist/
Sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan mengikuti
Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Tapi kita tidak
mungkin mendengar sunnah dan pemahaman mereka kecuali dengan
melalui sanad (rantai para rawi) dan sanad termasuk dalam Dien.
Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Dien kalian. Sedangkan
yang paling mengerti tentang sanad adalah Ahlul Hadits. Maka
dalam tulisan ini kita akan lihat betapa tingginya kedudukan
mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
[right][size=16pt]نَضَّرَ
اللهُ
امْرَأً
سَمِعَ
مِنَّا
حَدِيْثًا
فَبَلَّغَهُ
﴿رواه
أحمد وأبو
داود
والترمذي
وغيرهم
وصححه
الألباني﴾[/right]
“Allah membuat cerah (muka) seorang yang mendengarkan (hadits)
dari kami, kemudian menyampaikannya.” [size=10pt](Hadits Shahih,
HR. Ahmad, Abu Dawud)
Syaikh Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali hafizhahullâh berkata: “Hadits
ini adalah SHAHIH, diriwayatkan oleh: Imam Ahmad dalam Musnad
5/183, Imam Abu Dawud dalam As-Sunan 3/322, Imam Tirmidzi dalam
As-Sunan 5/33, Imam Ibnu Majah dalam As-Sunan 1/84, Imam
Ad-Darimi dalam As-Sunan 1/86, Imam Ibnu Abi Ashim dalam
As-Sunan 1/45, Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi wa
Fadhlihi 1/38-39, lihat As-Shahihah oleh Al-’Allamah Al-Albani
(404) yang diriwayatkan dari banyak jalan sampai kepada Zaid ibn
Tsabit, Jubair ibn Muth’im, dan Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu
‘anhum.”
Hadits ini dinukil oleh beliau (Syaikh Rabi’) dalam kitab kecil
yang berjudul Makanatu Ahlil Hadits (Kedudukan Ahlul Hadits),
yaitu ketika menukil ucapan Imam besar Abu Bakar Ahmad ibn Ali
Al-Khatib Al-Baghdadi (wafat 463 H) dari kitabnya Syarafu
Ashabil Hadits yang artinya “Kemuliaan Ashabul Hadits.” Dalam
kitab tersebut, beliau menjelaskan kemuliaan dan ketinggian
derajat Ahlul Hadits. Demikian pula beliau juga menjelaskan
jasa-jasa mereka dan usaha mereka dalam membela Dien ini, serta
menjaganya dari berbagai macam bid’ah. Di antara pujian beliau
kepada mereka, beliau mengatakan: “Sungguh Allah telah
menjadikan golongannya (Ahlul Hadits) sebagai tonggak syari’at.
Melalui usaha mereka, Dia (Allah) menghancurkan setiap keburukan
bid’ah. Merekalah kepercayaan Allah di antara
makhluk-makhluk-Nya, sebagai perantara antara Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan umatnya. Dan merekalah yang
bersungguh-sungguh dalam menjaga millah (Dien)-Nya. Cahaya
mereka terang, keutamaan mereka merata, tanda-tanda mereka
jelas, madzhab mereka unggul, hujjah mereka tegas….”
Setelah mengutip hadits di atas, Al-Khatib rahimahullah menukil
ucapan Sufyan ibn Uyainah rahimahullah dengan sanadnya bahwa dia
mengatakan: “Tidak seorangpun mencari hadits (mempelajari
hadits) kecuali pada mukanya ada kecerahan karena ucapan Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: (kemudian menyebutkan hadits di
atas). Kemudian, setelah meriwayatkan hadits-hadits tentang
wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memuliakan
Ashabul Hadits, beliau meriwayatkan hadits berikut:
[right][size=16pt]بَدَأَ
اْلإِسْلاَمُ
غَرِيْبًا
وَسَيَعُوْدُ
غَرِيْبًا
فَطُوْبَى
لِلْغُرَبَاءِ
﴿رواه
مسلم وأحمد
والترمذي
وابن ماجه
والدارمي﴾[/right]
“Islam dimulai dengan keasingan dan akan kembali asing, maka
berbahagialah orang-orang yang (dianggap) asing.”
[size=10pt](HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Syaikh Rabi’ berkata: “Hadits ini SHAHIH". (Diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahihnya 1/130, Imam Ahmad dalam Musnadnya
1/398, Imam Tirmidzi dalam Sunannya 5/19, Imam Ibnu Majah dalam
Sunnahnya 2/1319, dan Imam Ad-Darimi dalam Sunannya 2/402)
Setelah meriwayatkan hadits ini, Al-Khatib menukil ucapan Abdan
rahimahullah dari Abu Hurairah dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu
'anhu: “Mereka adalah Ashabul Hadits yang pertama.” Kemudian
meriwayatkan hadits:
“Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh sekian firqah,
semuanya dalam neraka kecuali satu.”
Syaikh Rabi’ berkata: “Hadits SHAHIH", (Diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dalam Musnad 2/332. Imam Abu Dawud dalam Sunan 4/197, dan
Hakim dalam Mustadrak 1/128. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh
kita, Al-’Allamah Al-Albani (203)
Beliau (Al-Khatib) kemudian mengucapkan dengan sanadnya sampai
ke Imam Ahmad ibn Hambal rahimahullah bahwa dia berkata:
“Tentang golongan yang selamat, kalau mereka bukan Ahlul Hadits,
saya tidak tahu siapa mereka.” (Hal 13, Syarafu Ashhabil Hadits
oleh Al-Khatib). Kemudian Syaikh Al-Khatib menyebutkan hadits
tentang thaifah yang selalu tegak dengan kebenaran:
“Akan tetap ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran. Tidak
merugikan mereka orang-orang yang mengacuhkan (membiarkan, tidak
menolong) mereka sampai datangnya hari kiamat.” (HR. Muslim,
Ahmad, Abu Dawud)
Syaikh Rabi’ berkata: “Hadits ini SHAHIH", (Diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahihnya 3/1523, Imam Ahmad dalam Musnad
5/278-279, Imam Abu Dawud dalam Sunan 4/420, Imam Ibnu Majah
dalam Sunan 1/4-5, Hakim dalam Mustadrak 4/449-450, Thabrani
dalam Mu’jamul Kabir 7643, dan At-Thayalisi dalam Musnad hal. 94
No. 689. Lihat As-Shahihah oleh Al-’Allamah Al-Albani 270-1955)
Kemudian berkata (Al-Khatib Al-Baghdadi): Yazid ibn Harun
berkata: “Kalau mereka bukan Ashabul Hadits, aku tidak tahu
siapa mereka.” Setelah itu, beliau meriwayatkan dengan sanadnya
sampai kepada Abdullah ibn Mubarak, dia berkata: “Mereka,
menurutku, adalah Ashabul Hadits.” Kemudian meriwayatkan juga
dengan sanadnya dari Imam Ahmad ibn Sinan dan Ali Ibnul Madini
bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya mereka adalah Ashabul
Hadits, ahli Ilmu, dan Atsar.” (Hal. 14-15)
Demikianlah, para ulama mengatakan bahwa Firqah Najiyah
(golongan yang selamat) yaitu golongan yang selalu tegak dengan
kebenaran dan selalu ditolong (Thaifah Manshurah), yaitu
orang-orang yang asing (Ghuraba’) di tengah-tengah kaum muslimin
yang sudah tercemar dengan berbagai macam bid’ah dan
penyelewengan dari manhaj As-Sunnah adalah Ashabul Hadits.
✻ Siapakah Ashabul Hadits?
Hadits yang pertama yang kita sebut menunjukkan ciri khas
Ashabul Hadits, yaitu mendengarkan hadits dan menyampaikannya.
Dengan demikian, mereka bisa kita katakan sebagai para ulama
yang mempelajari hadits, memahami sanad, meneliti mana yang
shahih mana yang dhaif, kemudian mengamalkannya dan
menyampaikannya. Merekalah pembela-pembela As-Sunnah, pemelihara
Dien dan pewaris Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Rasulullah
tidak mewariskan dirham atau dinar, tetapi mewariskan ilmu yang
kemudian dibawa oleh Ahlul Hadits ini. Seorang Ahli Fiqih tanpa
ilmu hadits adalah Aqlani (rasionalis) dan Ahli Tafsir tanpa
ilmu hadits adalah Ahli Takwil.
Imam Abu Muhammad Abdullah ibn Muslim ibn Qutaibah (W. 276 H)
berkata: "...Adapun Ashabul Hadits, sesungguhnya mereka mencari
kebenaran dari sisi yang benar dan mengikutinya dari tempatnya.
Mereka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan
mengikuti sunnah Rasul-Nya serta mencari jejak-jejak dan
berita-beritanya (Hadits, red.), baik itu di darat dan di laut,
di Timur maupun di Barat. Salah seorang dari mereka (bahkan)
mengadakan perjalanan jauh dengan berjalan kaki hanya untuk
mencari satu berita atau satu hadits, agar dia mengambilnya
langsung dari penukilnya (secara dialog langsung). Mereka terus
menyaring dan membahas berita-berita (riwayat-riwayat) tersebut
sampai mereka memahami mana yang shahih dan mana yang lemah,
yang nasikh dan yang mansukh, dan mengetahui siapa-siapa dari
kalangan fuqaha yang menyelisihi berita-berita tersebut dengan
pendapatnya (ra’yunya), lalu memperingatkan mereka. Dengan
demikian, Al-Haq yang tadinya redup menjadi bercahaya, yang
tadinya bercerai-berai menjadi terkumpul. Demikian pula,
orang-orang yang tadinya menjauh dari sunnah menjadi terikat
dengannya, yang tadinya lalai menjadi ingat padanya, dan yang
dulunya berhukum dengan ucapan fulan ibn fulan menjadi berhukum
dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (Ta’wil
Mukhtalafil Hadits dalam Muqaddimah)
Imam Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban ibn Muadz ibn Ma’bad ibn
Said At-Tamimi (W. 354 H) berkata: “…Kemudian Allah memilih
sekelompok manusia dari kalangan pengikut jalan yang baik dalam
mengikuti sunnah dan atsar untuk memberi petunjuk kepada mereka
agar selalu taat kepada-Nya. Allah indahkan hati-hati mereka
dengan keimanan, dan memberikan pada lisan-lisan mereka Al-Bayan
(keterangan), yaitu mereka yang menyingkap rambu-rambu Dien-Nya,
mengikuti sunnah-sunnah nabi-Nya dengan menelusuri jalan-jalan
yang panjang, meninggalkan keluarga dan negerinya, untuk
mengumpulkan sunnah-sunnah dan menolak hawa nafsu (bid’ah).
Mereka memperdalam sunnah dengan menjauhi ra’yu...” Pada
akhirnya, beliau mengatakan: “Hingga Allah memelihara Dien ini
lewat mereka untuk kaum muslimin dan melindunginya dari
rongrongan para pencela. Allah menjadikan mereka sebagai
imam-imam (panutan-panutan) yang mendapatkan petunjuk di saat
terjadi perselisihan dan menjadikan mereka sebagai pelita malam
di kala terjadi fitnah. Maka merekalah pewaris-pewaris para nabi
dan orang-orang pilihan…” (Al-Ihsan 1/20-23)
Imam Abu Muhammad Al-Hasan Ibnu Abdurrahman ibn Khalad
Ar-Ramhurmuzi (W. 360 H) berkata: “Allah telah memuliakan hadits
dan memuliakan golongannya (Ahlul Hadits). Allah juga
meninggikan kedudukannya dan hukumnya di atas seluruh aliran.
Didahulukannya ia (hadits) di atas semua ilmu serta diangkatnya
nama-nama para pembawanya yang memperhatikannya. Maka jadilah
mereka (Ahlul Hadits) inti agama dan tempat bercahayanya hujjah.
Bagaimana mereka tidak mendapatkan keutamaan dan tidak berhak
mendapatkan kedudukan tinggi, sedangkan mereka adalah
penjaga-penjaga Dien ini atas umatnya…” (Al-Muhadditsul Fashil
1-4)
Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi
(W. 405 H) berkata setelah meriwayatkan dengan sanadnya dua
ucapan tentang Ahlul Hadits (yang artinya): Umar ibn Hafs ibn
Gayyats berkata: Aku mendengar ayahku ketika dikatakan
kepadanya: “Tidaklah engkau melihat Ashabul Hadits dan apa yang
ada pada mereka?” Dia berkata: “Mereka sebaik-baik penduduk
bumi.” Dan riwayat dari Abu Bakar ibn Ayyasy: “Sungguh aku
berharap Ahli Hadits adalah sebaik-baik manusia.” Kemudian
beliau (Abu Abdullah Al-Hakim) berkata: “Keduanya telah benar
bahwa Ashabul Hadits adalah sebaik-baik manusia. Bagaimana tidak
demikian? Mereka telah mengorbankan dunia seluruhnya di belakang
mereka. Kemudian menjadikan penulisan sebagai makanan mereka,
penelitian sebagai hidangan mereka, mengulang-ulang sebagai
istirahat mereka…” Dan akhirnya beliau mengatakan: “Maka
akal-akal mereka dipenuhi dengan kelezatan kepada sunnah.
Hati-hati mereka diramaikan dengan keridhaan dalam segala
keadaan. Kebahagiaan mereka adalah mempelajari sunnah. Hobi
mereka adalah majelis-majelis ilmu. Saudara mereka adalah
seluruh Ahlus Sunnah dan musuh mereka adalah seluruh Ahlul Ilhad
dan Ahlul Bid’ah.” (Ma’rifatu Ulumul Hadits 1-4)
Berkata Syaikh Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali tentang Ashabul
Hadits: “Mereka adalah orang-orang yang menjalani manhaj para
shahabat dan tabi’in, yang mengikuti mereka dengan ihsan dalam
berpegang dengan Kitab dan Sunnah, dan menggigit keduanya dengan
geraham mereka, mendahulukan keduanya di atas semua ucapan dan
petunjuk, apakah itu dalam masalah akidah, ibadah, mu’amalah,
akhlak, politik, ataukah sosial.
Oleh sebab itu, mereka adalah orang-orang yang mantap dalam
dasar-dasar dan cabang-cabang Dien ini, sesuai dengan apa yang
Allah turunkan dan wahyukan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan para hamba-Nya. Mereka tegak dalam dakwah, mengajak
kepada yang demikian dengan sungguh-sungguh dan jujur dengan
tekad yang kuat. Merekalah pembawa-pembawa ilmu Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan membersihkannya dari penyelewengan
orang-orang yang melampaui batas, dari kedustaan-kedustaan
orang-orang bathil dan dari takwil-takwilnya orang-orang bodoh.
Oleh karena itu, mereka selalu mengintai, memperhatikan setiap
firqah-firqah yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti
Jahmiyyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidhah, Murji’ah, Qadariyyah,
dan setiap firqah yang menyempal dari manhaj Allah di setiap
zaman dan di setiap tempat. Mereka tidak peduli dengan celaan
orang-orang yang mencela…”
Beliau pun akhirnya menyebut mereka sebagai golongan yang
selamat (Firqah Najiyah) yang selalu tegak dengan kebenaran dan
selalu ditolong oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Thaifah
Manshurah) kemudian berkata: “Mereka, setelah shahabat Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pimpinan mereka
Al-Khulafa’ur Rasyidin, adalah para tabi’in. Di antara
tokoh-tokoh mereka adalah:
✻ Pembelaan Mereka terhadap Aqidah
Sebagaimana telah disebutkan di atas, mereka adalah pembawa ilmu
dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka membelanya
dan membersihkannya dari penyelewengan, kedustaan, dan
takwil-takwil Ahli Bid’ah.
Maka, ketika muncul Ahli Bid’ah yang pertama yaitu Khawarij, Ali
radhiyallahu’anhu dan para shahabat bangkit membantah mereka,
kemudian memerangi mereka dan mengambil dari Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam riwayat-riwayat yang menyuruh untuk
membunuh mereka dan mengkhabarkan bahwa membunuh mereka adalah
sebaik-baik pendekatan diri kepada Allah. (Lihat Mawaqifus
Shahabah fil Fitnah Bab 3 juz 2 hal 191 oleh Dr Muhammad
Ahmazun)
Ketika Syi'ah muncul, Ali radhiyallahu’anhu mencambuk
orang-orang yang mengatakan dirinya lebih baik daripada Abu
Bakar dan Umar dengan delapan puluh kali cambukan. Dan
orang-orang ekstrim dari kalangan mereka yang mengangkat Ali
sampai ke tingkat Uluhiyyah (ketuhanan), dibakar dengan api.
(Lihat Fatawa Syaikhul Islam)
Demikian pula ketika sampai kepada Abdullah ibn Umar
radhiyallahu’anhu berita tentang suatu kaum yang menafikan
(menolak) takdir dan mengatakan bahwa menurut mereka perkara ini
terjadi begitu saja (kebetulan), beliau mengatakan kepada
pembawa berita tersebut: “Jika engkau bertemu mereka,
khabarkanlah pada mereka bahwa aku berlepas diri (bara`) dari
mereka dan mereka berlepas diri dariku! Demi yang jiwaku ada di
tangan-Nya, kalau salah seorang mereka memiliki emas segunung
Uhud, kemudian diinfaqkan di jalan Allah, Allah tidak akan
menerima daripadanya sampai dia beriman dengan taqdir baik dan
buruknya.” (HR. Muslim 1/36)
Imam Malik pun ketika ditanya tentang orang yang mengatakan
bahwa Al-Qur`an itu makhluk, maka beliau berkata: “Dia menurut
pendapat adalah kafir, bunuhlah dia!” Juga Ibnul Mubarak,
Al-Laits ibn Sa’d, Ibnu Uyainah, Hasyim, Ali ibn Ashim, Hafs ibn
Gayats maupun Waqi ibn Jarrah sependapat dengannya. Pendapat
yang seperti ini juga diriwayatkan dari Imam Tsauri, Wahab ibn
Jarir dan Yazid ibn Harun. (Mereka semua mengatakan):
orang-orang itu diminta untuk taubat. Kalau tidak mau, dipenggal
kepala mereka. (Syarah Ushul I’tikad 494, Khalqu Af’alil Ibad
hal 25, Asy’ariyah oleh Al-Ajuri hal 79, dan Syarhus
Sunnah/Al-Baghawi 1/187)
Rabi’ ibn Sulaiman Al-Muradi, shahabat Imam Syafi’i, berkata:
“Ketika Haf Al-Fardi mengajak bicara Imam Syafi’i dan dia
mengatakan Al-Qur`an itu makhluk, maka Imam berkata kepadanya:
‘engkau telah kafir kepada Allah yang maha Agung.” Imam Malik
pernah ditanya tentang bagaimana istiwa` Allah di atas
‘Arsy-Nya, maka dia mengatakan: “Istiwa` sudah diketahui
(maknanya), sedangkan bagaimananya tidak diketahui. Dan
pertanyaan tentang itu adalah bid’ah dan aku tidak melihatmu
kecuali Ahli Bid’ah!” Kemudian (orang yang bertanya itu)
diperintahkan untuk keluar dan beliau menegaskan bahwa
sesungguhnya Allah itu di langit. Dan beliau juga pernah
mengeluarkan seseorang dari majelisnya karena dia seorang
Murji’ah. (Syarah Ushul I’tiqad 664)
Said ibn Amir berkata: “Al-Jahmiyyah lebih jelek ucapannya
daripada Yahudi dan Nasrani. Yahudi dan Nasrani dan seluruh
penganut agama (samawi) telah sepakat bahwa Allah Tabaraka wa
Ta’ala di atas Arsy-Nya, tapi mereka (Al-Jahmiyyah) mengatakan
tidak ada sesuatu pun di atas Arsy.” (Khalqu Af’alil Ibad hal.
15)
Ibnul Mubarak berkata: “Kami tidak mengatakan seperti ucapan
Jahmiyyah bahwa Dia (Allah) itu di bumi. Tetapi (kami katakan)
Allah di atas Arsy-Nya beristiwa.” Ketika ditanyakan kepadanya:
“Bagaimana kita mengenali Rabb kita?” Beliau berkata: “Di atas
Arsy… Sesungguhnya kami bisa mengkisahkan ucapan Yahudi dan
Nasrani, tapi kami tidak mampu untuk mengkisahkan ucapan
Jahmiyyah.” (Khalqu Af’alil Ibad / Bukhari hal. 15, As-Sunnah /
Abdullah ibn Ahmad ibn Hambal 1/111 dan Radd Alal
Jahmiyyah/Ad-Darimi hal. 21 dan 184)
Imam Bukhari berkata: “Aku telah melihat ucapan Yahudi, Nasrani
dan Majusi. Tetapi aku tidak melihat yang lebih sesat dalam
kekufuran selain mereka (Jahmiyah) dan sesungguhnya aku
menganggap bodoh siapa yang tidak mengkafirkan mereka kecuali
yang tidak mengetahui kekufuran mereka.” (Khalqu Af’alil Ibad
hal 19)
Dikeluarkan oleh Baihaqi dengan sanad yang baik dari Al-Auza’i
bahwa dia berkata: “Kami dan seluruh tabi’in mengatakan bahwa
sesungguhnya Allah di atas Arsy-Nya dan kami beriman dengan
sifat-sifat yang diriwayatkan dalam sunnah.” Abul Qasim
menyebutkan sanadnya sampai ke Muhammad ibn Hasan As-Syaibani
bahwa dia berkata: “Seluruh fuqaha (ulama) di timur dan di barat
telah sepakat atas keimanan kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits yang
dibawa oleh rawi-rawi yang tsiqah (terpercaya) dari Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang sifat-sifat Rabb Subhanahu
Wa Ta’ala tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa tafsir (takwil).
Barangsiapa menafsirkan sesuatu daripadanya dan mengucapkan
seperti ucapan Jahm (ibn Sufyan), maka dia telah keluar dari apa
yang ada di atasnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan
para shahabatnya, dan dia telah memisahkan diri dari Al-Jama’ah
karena telah mensifati Allah dengan sifat yang tidak ada.”
(Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah 740)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Manaqib Syafi’i dari
Yunus ibn Abdul A’la: Aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Allah
memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tidak seorangpun bisa
menolaknya. Barangsiapa yang menyelisihinya setelah tetap
(jelas) baginya hujjah, maka dia telah kafir. Adapun jika
(menyelisihinya) sebelum tegaknya hujjah, maka dia dimaklumi
karena bodoh. Karena ilmu tentangnya tidak bisa dicapai dengan
akal dan mimpi. Tidak pula dengan pemikiran. Oleh sebab itu,
kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan tasybih
sebagaimana Allah menafikan dari dirinya sendiri.” (Lihat Fathul
Bari 13/406-407)
Abu Isa Muhammad ibn Isa At-Tirmidzi berkata setelah
meriwayatkan hadits tentang Allah menerima sedekah dengan tangan
kanannya (muttafaqun alaih), katanya: “Tidak hanya satu dari
Ahli Ilmu (ulama) yang telah berkata tentang hadits ini dan yang
mirip dengan ini dari riwayat-riwayat tentang sifat-sifat Allah
seperti turunnya Allah tabaraka wa Ta’ala setiap malam ke langit
dunia. Mereka semuanya mengatakan: Telah tetap riwayat-riwayat
tentangnya, diimani dengannya, tidak menduga-duga dan tidak
mengatakan “bagaimana.” Demikian pula ucapan seluruh ahli ilmu
dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
Demikianlah contoh ucapan-ucapan mereka dalam menjaga dan
membela aqidah ini yang bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah.
Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah menukil dari Abu Hatim dari
Abdullah ibn Dawud Al-Khuraibi bahwa Ashabul Hadits dan
pembawa-pembawa ilmu adalah kepercayaan-kepercayaan Allah atas
Dien-Nya dan penjaga-penjaga sunnah nabi-Nya, selama mereka
berilmu dan beramal. Ditegaskan oleh Imam Ats-Tsauri
rahimahullah: “Malaikat adalah penjaga-penjaga langit dan
Ashabul Hadits adalah penjaga-penjaga dunia.” Ibnu Zurai’
rahimahullah juga menambahkan: “Setiap Dien memiliki pasukan
berkuda. Maka pasukan berkuda dalam Dien ini adalah Ashabul
Asanid (Ahlul Hadits).” Mereka memang benar. Ashabul Hadits
adalah pasukan inti dalam Dien ini. Mereka membela dan menjaga
Dien dari penyelewengan, kesesatan dan kedustaan orang-orang
munafiqin dan Ahlul Bid’ah. Hampir semua Ashabul Hadits menulis
kitab-kitab tentang aqidah Ahlus Sunnah serta membantah aqidah
dan pemahaman-pemahaman bid’ah dan sesat, baik itu fuqaha (ahli
fiqih) mereka, mufasir (ahli tafsir) mereka maupun seluruh
ulama-ulama dari kalangan mereka (Ahlul Hadits). Semoga Allah
memberi pahala bagi mereka dengan amalan-amalan mereka, dan
memberi pahala atas usaha mereka yang sampai hari dirasakan
manfaatnya oleh kaum muslimin dengan ilmu-ilmu yang mereka
tulis, riwayat-riwayat yang mereka kumpulkan dan hadits-hadits
yang mereka periksa.
Akhirnya, marilah kita simak perkataan Imam Syafi’i rahimahullah
ini: “Jika aku melihat seseorang dari Ashabul Hadits, maka aku
seakan-akan melihat Nabi [i]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hidup
kembali.”[/i] (HR. Al-Khatib dengan sanad SHAHIH, Syaraf Ashabul
Hadits hal 26)
Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang
lebih dulu beriman daripada kami. Dan janganlah Kau jadikan di
hati kami kebencian atau kedengkian kepada mereka. Wahai Rabb
kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Majalah Salafy edisi IV/Dzulqa’dah/1416/1996 rubrik
Mabhats
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1