URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ MUHADIDDTSIN
       *****************************************************
       #Post#: 365--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Muhadiddtsin: Para Imam Ahlussunnah
       Ashabul Hadits
   DIR By: iscm
       Date: January 3, 2024, 2:22 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Ashabul Hadits
       [size=10pt]Mengenal Para Imam Ahlussunnah Ashabul Hadits
       (Oleh: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad[/size] &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/ashabul-hadist/
       Sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan mengikuti
       Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Tapi kita tidak
       mungkin mendengar sunnah dan pemahaman mereka kecuali dengan
       melalui sanad (rantai para rawi) dan sanad termasuk dalam Dien.
       Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Dien kalian. Sedangkan
       yang paling mengerti tentang sanad adalah Ahlul Hadits. Maka
       dalam tulisan ini kita akan lihat betapa tingginya kedudukan
       mereka.
       Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
       [right][size=16pt]&#1606;&#1614;&#1590;&#1617;&#1614;&#1585;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;
       &#1575;&#1605;&#1618;&#1585;&#1614;&#1571;&#1611;
       &#1587;&#1614;&#1605;&#1616;&#1593;&#1614;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;
       &#1581;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1618;&#1579;&#1611;&#1575;
       &#1601;&#1614;&#1576;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1594;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#64831;&#1585;&#1608;&#1575;&#1607;
       &#1571;&#1581;&#1605;&#1583; &#1608;&#1571;&#1576;&#1608;
       &#1583;&#1575;&#1608;&#1583;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1578;&#1585;&#1605;&#1584;&#1610;
       &#1608;&#1594;&#1610;&#1585;&#1607;&#1605;
       &#1608;&#1589;&#1581;&#1581;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1571;&#1604;&#1576;&#1575;&#1606;&#1610;&#64830;[/right]
       “Allah membuat cerah (muka) seorang yang mendengarkan (hadits)
       dari kami, kemudian menyampaikannya.” [size=10pt](Hadits Shahih,
       HR. Ahmad, Abu Dawud)
       Syaikh Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali hafizhahullâh berkata: “Hadits
       ini adalah SHAHIH, diriwayatkan oleh: Imam Ahmad dalam Musnad
       5/183, Imam Abu Dawud dalam As-Sunan 3/322, Imam Tirmidzi dalam
       As-Sunan 5/33, Imam Ibnu Majah dalam As-Sunan 1/84, Imam
       Ad-Darimi dalam As-Sunan 1/86, Imam Ibnu Abi Ashim dalam
       As-Sunan 1/45, Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi wa
       Fadhlihi 1/38-39, lihat As-Shahihah oleh Al-’Allamah Al-Albani
       (404) yang diriwayatkan dari banyak jalan sampai kepada Zaid ibn
       Tsabit, Jubair ibn Muth’im, dan Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu
       ‘anhum.”
       Hadits ini dinukil oleh beliau (Syaikh Rabi’) dalam kitab kecil
       yang berjudul Makanatu Ahlil Hadits (Kedudukan Ahlul Hadits),
       yaitu ketika menukil ucapan Imam besar Abu Bakar Ahmad ibn Ali
       Al-Khatib Al-Baghdadi (wafat 463 H) dari kitabnya Syarafu
       Ashabil Hadits yang artinya “Kemuliaan Ashabul Hadits.” Dalam
       kitab tersebut, beliau menjelaskan kemuliaan dan ketinggian
       derajat Ahlul Hadits. Demikian pula beliau juga menjelaskan
       jasa-jasa mereka dan usaha mereka dalam membela Dien ini, serta
       menjaganya dari berbagai macam bid’ah. Di antara pujian beliau
       kepada mereka, beliau mengatakan: “Sungguh Allah telah
       menjadikan golongannya (Ahlul Hadits) sebagai tonggak syari’at.
       Melalui usaha mereka, Dia (Allah) menghancurkan setiap keburukan
       bid’ah. Merekalah kepercayaan Allah di antara
       makhluk-makhluk-Nya, sebagai perantara antara Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam dan umatnya. Dan merekalah yang
       bersungguh-sungguh dalam menjaga millah (Dien)-Nya. Cahaya
       mereka terang, keutamaan mereka merata, tanda-tanda mereka
       jelas, madzhab mereka unggul, hujjah mereka tegas….”
       Setelah mengutip hadits di atas, Al-Khatib rahimahullah menukil
       ucapan Sufyan ibn Uyainah rahimahullah dengan sanadnya bahwa dia
       mengatakan: “Tidak seorangpun mencari hadits (mempelajari
       hadits) kecuali pada mukanya ada kecerahan karena ucapan Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: (kemudian menyebutkan hadits di
       atas). Kemudian, setelah meriwayatkan hadits-hadits tentang
       wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memuliakan
       Ashabul Hadits, beliau meriwayatkan hadits berikut:
       [right][size=16pt]&#1576;&#1614;&#1583;&#1614;&#1571;&#1614;
       &#1575;&#1618;&#1604;&#1573;&#1616;&#1587;&#1618;&#1604;&#1575;&#1614;&#1605;&#1615;
       &#1594;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1576;&#1611;&#1575;
       &#1608;&#1614;&#1587;&#1614;&#1610;&#1614;&#1593;&#1615;&#1608;&#1618;&#1583;&#1615;
       &#1594;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1576;&#1611;&#1575;
       &#1601;&#1614;&#1591;&#1615;&#1608;&#1618;&#1576;&#1614;&#1609;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1594;&#1615;&#1585;&#1614;&#1576;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616;
       &#64831;&#1585;&#1608;&#1575;&#1607;
       &#1605;&#1587;&#1604;&#1605; &#1608;&#1571;&#1581;&#1605;&#1583;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1578;&#1585;&#1605;&#1584;&#1610;
       &#1608;&#1575;&#1576;&#1606; &#1605;&#1575;&#1580;&#1607;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1583;&#1575;&#1585;&#1605;&#1610;&#64830;[/right]
       “Islam dimulai dengan keasingan dan akan kembali asing, maka
       berbahagialah orang-orang yang (dianggap) asing.”
       [size=10pt](HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
       Syaikh Rabi’ berkata: “Hadits ini SHAHIH". (Diriwayatkan oleh
       Imam Muslim dalam Shahihnya 1/130, Imam Ahmad dalam Musnadnya
       1/398, Imam Tirmidzi dalam Sunannya 5/19, Imam Ibnu Majah dalam
       Sunnahnya 2/1319, dan Imam Ad-Darimi dalam Sunannya 2/402)
       Setelah meriwayatkan hadits ini, Al-Khatib menukil ucapan Abdan
       rahimahullah dari Abu Hurairah dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu
       'anhu: “Mereka adalah Ashabul Hadits yang pertama.” Kemudian
       meriwayatkan hadits:
       “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh sekian firqah,
       semuanya dalam neraka kecuali satu.”
       Syaikh Rabi’ berkata: “Hadits SHAHIH", (Diriwayatkan oleh Imam
       Ahmad dalam Musnad 2/332. Imam Abu Dawud dalam Sunan 4/197, dan
       Hakim dalam Mustadrak 1/128. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh
       kita, Al-’Allamah Al-Albani (203)
       Beliau (Al-Khatib) kemudian mengucapkan dengan sanadnya sampai
       ke Imam Ahmad ibn Hambal rahimahullah bahwa dia berkata:
       “Tentang golongan yang selamat, kalau mereka bukan Ahlul Hadits,
       saya tidak tahu siapa mereka.” (Hal 13, Syarafu Ashhabil Hadits
       oleh Al-Khatib). Kemudian Syaikh Al-Khatib menyebutkan hadits
       tentang thaifah yang selalu tegak dengan kebenaran:
       “Akan tetap ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran. Tidak
       merugikan mereka orang-orang yang mengacuhkan (membiarkan, tidak
       menolong) mereka sampai datangnya hari kiamat.” (HR. Muslim,
       Ahmad, Abu Dawud)
       Syaikh Rabi’ berkata: “Hadits ini SHAHIH", (Diriwayatkan oleh
       Imam Muslim dalam Shahihnya 3/1523, Imam Ahmad dalam Musnad
       5/278-279, Imam Abu Dawud dalam Sunan 4/420, Imam Ibnu Majah
       dalam Sunan 1/4-5, Hakim dalam Mustadrak 4/449-450, Thabrani
       dalam Mu’jamul Kabir 7643, dan At-Thayalisi dalam Musnad hal. 94
       No. 689. Lihat As-Shahihah oleh Al-’Allamah Al-Albani 270-1955)
       Kemudian berkata (Al-Khatib Al-Baghdadi): Yazid ibn Harun
       berkata: “Kalau mereka bukan Ashabul Hadits, aku tidak tahu
       siapa mereka.” Setelah itu, beliau meriwayatkan dengan sanadnya
       sampai kepada Abdullah ibn Mubarak, dia berkata: “Mereka,
       menurutku, adalah Ashabul Hadits.” Kemudian meriwayatkan juga
       dengan sanadnya dari Imam Ahmad ibn Sinan dan Ali Ibnul Madini
       bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya mereka adalah Ashabul
       Hadits, ahli Ilmu, dan Atsar.” (Hal. 14-15)
       Demikianlah, para ulama mengatakan bahwa Firqah Najiyah
       (golongan yang selamat) yaitu golongan yang selalu tegak dengan
       kebenaran dan selalu ditolong (Thaifah Manshurah), yaitu
       orang-orang yang asing (Ghuraba’) di tengah-tengah kaum muslimin
       yang sudah tercemar dengan berbagai macam bid’ah dan
       penyelewengan dari manhaj As-Sunnah adalah Ashabul Hadits.
       &#10043; Siapakah Ashabul Hadits?
       Hadits yang pertama yang kita sebut menunjukkan ciri khas
       Ashabul Hadits, yaitu mendengarkan hadits dan menyampaikannya.
       Dengan demikian, mereka bisa kita katakan sebagai para ulama
       yang mempelajari hadits, memahami sanad, meneliti mana yang
       shahih mana yang dhaif, kemudian mengamalkannya dan
       menyampaikannya. Merekalah pembela-pembela As-Sunnah, pemelihara
       Dien dan pewaris Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Rasulullah
       tidak mewariskan dirham atau dinar, tetapi mewariskan ilmu yang
       kemudian dibawa oleh Ahlul Hadits ini. Seorang Ahli Fiqih tanpa
       ilmu hadits adalah Aqlani (rasionalis) dan Ahli Tafsir tanpa
       ilmu hadits adalah Ahli Takwil.
       Imam Abu Muhammad Abdullah ibn Muslim ibn Qutaibah (W. 276 H)
       berkata: "...Adapun Ashabul Hadits, sesungguhnya mereka mencari
       kebenaran dari sisi yang benar dan mengikutinya dari tempatnya.
       Mereka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan
       mengikuti sunnah Rasul-Nya serta mencari jejak-jejak dan
       berita-beritanya (Hadits, red.), baik itu di darat dan di laut,
       di Timur maupun di Barat. Salah seorang dari mereka (bahkan)
       mengadakan perjalanan jauh dengan berjalan kaki hanya untuk
       mencari satu berita atau satu hadits, agar dia mengambilnya
       langsung dari penukilnya (secara dialog langsung). Mereka terus
       menyaring dan membahas berita-berita (riwayat-riwayat) tersebut
       sampai mereka memahami mana yang shahih dan mana yang lemah,
       yang nasikh dan yang mansukh, dan mengetahui siapa-siapa dari
       kalangan fuqaha yang menyelisihi berita-berita tersebut dengan
       pendapatnya (ra’yunya), lalu memperingatkan mereka. Dengan
       demikian, Al-Haq yang tadinya redup menjadi bercahaya, yang
       tadinya bercerai-berai menjadi terkumpul. Demikian pula,
       orang-orang yang tadinya menjauh dari sunnah menjadi terikat
       dengannya, yang tadinya lalai menjadi ingat padanya, dan yang
       dulunya berhukum dengan ucapan fulan ibn fulan menjadi berhukum
       dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (Ta’wil
       Mukhtalafil Hadits dalam Muqaddimah)
       Imam Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban ibn Muadz ibn Ma’bad ibn
       Said At-Tamimi (W. 354 H) berkata: “…Kemudian Allah memilih
       sekelompok manusia dari kalangan pengikut jalan yang baik dalam
       mengikuti sunnah dan atsar untuk memberi petunjuk kepada mereka
       agar selalu taat kepada-Nya. Allah indahkan hati-hati mereka
       dengan keimanan, dan memberikan pada lisan-lisan mereka Al-Bayan
       (keterangan), yaitu mereka yang menyingkap rambu-rambu Dien-Nya,
       mengikuti sunnah-sunnah nabi-Nya dengan menelusuri jalan-jalan
       yang panjang, meninggalkan keluarga dan negerinya, untuk
       mengumpulkan sunnah-sunnah dan menolak hawa nafsu (bid’ah).
       Mereka memperdalam sunnah dengan menjauhi ra’yu...” Pada
       akhirnya, beliau mengatakan: “Hingga Allah memelihara Dien ini
       lewat mereka untuk kaum muslimin dan melindunginya dari
       rongrongan para pencela. Allah menjadikan mereka sebagai
       imam-imam (panutan-panutan) yang mendapatkan petunjuk di saat
       terjadi perselisihan dan menjadikan mereka sebagai pelita malam
       di kala terjadi fitnah. Maka merekalah pewaris-pewaris para nabi
       dan orang-orang pilihan…” (Al-Ihsan 1/20-23)
       Imam Abu Muhammad Al-Hasan Ibnu Abdurrahman ibn Khalad
       Ar-Ramhurmuzi (W. 360 H) berkata: “Allah telah memuliakan hadits
       dan memuliakan golongannya (Ahlul Hadits). Allah juga
       meninggikan kedudukannya dan hukumnya di atas seluruh aliran.
       Didahulukannya ia (hadits) di atas semua ilmu serta diangkatnya
       nama-nama para pembawanya yang memperhatikannya. Maka jadilah
       mereka (Ahlul Hadits) inti agama dan tempat bercahayanya hujjah.
       Bagaimana mereka tidak mendapatkan keutamaan dan tidak berhak
       mendapatkan kedudukan tinggi, sedangkan mereka adalah
       penjaga-penjaga Dien ini atas umatnya…” (Al-Muhadditsul Fashil
       1-4)
       Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi
       (W. 405 H) berkata setelah meriwayatkan dengan sanadnya dua
       ucapan tentang Ahlul Hadits (yang artinya): Umar ibn Hafs ibn
       Gayyats berkata: Aku mendengar ayahku ketika dikatakan
       kepadanya: “Tidaklah engkau melihat Ashabul Hadits dan apa yang
       ada pada mereka?” Dia berkata: “Mereka sebaik-baik penduduk
       bumi.” Dan riwayat dari Abu Bakar ibn Ayyasy: “Sungguh aku
       berharap Ahli Hadits adalah sebaik-baik manusia.” Kemudian
       beliau (Abu Abdullah Al-Hakim) berkata: “Keduanya telah benar
       bahwa Ashabul Hadits adalah sebaik-baik manusia. Bagaimana tidak
       demikian? Mereka telah mengorbankan dunia seluruhnya di belakang
       mereka. Kemudian menjadikan penulisan sebagai makanan mereka,
       penelitian sebagai hidangan mereka, mengulang-ulang sebagai
       istirahat mereka…” Dan akhirnya beliau mengatakan: “Maka
       akal-akal mereka dipenuhi dengan kelezatan kepada sunnah.
       Hati-hati mereka diramaikan dengan keridhaan dalam segala
       keadaan. Kebahagiaan mereka adalah mempelajari sunnah. Hobi
       mereka adalah majelis-majelis ilmu. Saudara mereka adalah
       seluruh Ahlus Sunnah dan musuh mereka adalah seluruh Ahlul Ilhad
       dan Ahlul Bid’ah.” (Ma’rifatu Ulumul Hadits 1-4)
       Berkata Syaikh Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali tentang Ashabul
       Hadits: “Mereka adalah orang-orang yang menjalani manhaj para
       shahabat dan tabi’in, yang mengikuti mereka dengan ihsan dalam
       berpegang dengan Kitab dan Sunnah, dan menggigit keduanya dengan
       geraham mereka, mendahulukan keduanya di atas semua ucapan dan
       petunjuk, apakah itu dalam masalah akidah, ibadah, mu’amalah,
       akhlak, politik, ataukah sosial.
       Oleh sebab itu, mereka adalah orang-orang yang mantap dalam
       dasar-dasar dan cabang-cabang Dien ini, sesuai dengan apa yang
       Allah turunkan dan wahyukan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam dan para hamba-Nya. Mereka tegak dalam dakwah, mengajak
       kepada yang demikian dengan sungguh-sungguh dan jujur dengan
       tekad yang kuat. Merekalah pembawa-pembawa ilmu Nabi Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam dan membersihkannya dari penyelewengan
       orang-orang yang melampaui batas, dari kedustaan-kedustaan
       orang-orang bathil dan dari takwil-takwilnya orang-orang bodoh.
       Oleh karena itu, mereka selalu mengintai, memperhatikan setiap
       firqah-firqah yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti
       Jahmiyyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidhah, Murji’ah, Qadariyyah,
       dan setiap firqah yang menyempal dari manhaj Allah di setiap
       zaman dan di setiap tempat. Mereka tidak peduli dengan celaan
       orang-orang yang mencela…”
       Beliau pun akhirnya menyebut mereka sebagai golongan yang
       selamat (Firqah Najiyah) yang selalu tegak dengan kebenaran dan
       selalu ditolong oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Thaifah
       Manshurah) kemudian berkata: “Mereka, setelah shahabat Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pimpinan mereka
       Al-Khulafa’ur Rasyidin, adalah para tabi’in. Di antara
       tokoh-tokoh mereka adalah:
       &#10043; Pembelaan Mereka terhadap Aqidah
       Sebagaimana telah disebutkan di atas, mereka adalah pembawa ilmu
       dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka membelanya
       dan membersihkannya dari penyelewengan, kedustaan, dan
       takwil-takwil Ahli Bid’ah.
       Maka, ketika muncul Ahli Bid’ah yang pertama yaitu Khawarij, Ali
       radhiyallahu’anhu dan para shahabat bangkit membantah mereka,
       kemudian memerangi mereka dan mengambil dari Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam riwayat-riwayat yang menyuruh untuk
       membunuh mereka dan mengkhabarkan bahwa membunuh mereka adalah
       sebaik-baik pendekatan diri kepada Allah. (Lihat Mawaqifus
       Shahabah fil Fitnah Bab 3 juz 2 hal 191 oleh Dr Muhammad
       Ahmazun)
       Ketika Syi'ah muncul, Ali radhiyallahu’anhu mencambuk
       orang-orang yang mengatakan dirinya lebih baik daripada Abu
       Bakar dan Umar dengan delapan puluh kali cambukan. Dan
       orang-orang ekstrim dari kalangan mereka yang mengangkat Ali
       sampai ke tingkat Uluhiyyah (ketuhanan), dibakar dengan api.
       (Lihat Fatawa Syaikhul Islam)
       Demikian pula ketika sampai kepada Abdullah ibn Umar
       radhiyallahu’anhu berita tentang suatu kaum yang menafikan
       (menolak) takdir dan mengatakan bahwa menurut mereka perkara ini
       terjadi begitu saja (kebetulan), beliau mengatakan kepada
       pembawa berita tersebut: “Jika engkau bertemu mereka,
       khabarkanlah pada mereka bahwa aku berlepas diri (bara`) dari
       mereka dan mereka berlepas diri dariku! Demi yang jiwaku ada di
       tangan-Nya, kalau salah seorang mereka memiliki emas segunung
       Uhud, kemudian diinfaqkan di jalan Allah, Allah tidak akan
       menerima daripadanya sampai dia beriman dengan taqdir baik dan
       buruknya.” (HR. Muslim 1/36)
       Imam Malik pun ketika ditanya tentang orang yang mengatakan
       bahwa Al-Qur`an itu makhluk, maka beliau berkata: “Dia menurut
       pendapat adalah kafir, bunuhlah dia!” Juga Ibnul Mubarak,
       Al-Laits ibn Sa’d, Ibnu Uyainah, Hasyim, Ali ibn Ashim, Hafs ibn
       Gayats maupun Waqi ibn Jarrah sependapat dengannya. Pendapat
       yang seperti ini juga diriwayatkan dari Imam Tsauri, Wahab ibn
       Jarir dan Yazid ibn Harun. (Mereka semua mengatakan):
       orang-orang itu diminta untuk taubat. Kalau tidak mau, dipenggal
       kepala mereka. (Syarah Ushul I’tikad 494, Khalqu Af’alil Ibad
       hal 25, Asy’ariyah oleh Al-Ajuri hal 79, dan Syarhus
       Sunnah/Al-Baghawi 1/187)
       Rabi’ ibn Sulaiman Al-Muradi, shahabat Imam Syafi’i, berkata:
       “Ketika Haf Al-Fardi mengajak bicara Imam Syafi’i dan dia
       mengatakan Al-Qur`an itu makhluk, maka Imam berkata kepadanya:
       ‘engkau telah kafir kepada Allah yang maha Agung.” Imam Malik
       pernah ditanya tentang bagaimana istiwa` Allah di atas
       ‘Arsy-Nya, maka dia mengatakan: “Istiwa` sudah diketahui
       (maknanya), sedangkan bagaimananya tidak diketahui. Dan
       pertanyaan tentang itu adalah bid’ah dan aku tidak melihatmu
       kecuali Ahli Bid’ah!” Kemudian (orang yang bertanya itu)
       diperintahkan untuk keluar dan beliau menegaskan bahwa
       sesungguhnya Allah itu di langit. Dan beliau juga pernah
       mengeluarkan seseorang dari majelisnya karena dia seorang
       Murji’ah. (Syarah Ushul I’tiqad 664)
       Said ibn Amir berkata: “Al-Jahmiyyah lebih jelek ucapannya
       daripada Yahudi dan Nasrani. Yahudi dan Nasrani dan seluruh
       penganut agama (samawi) telah sepakat bahwa Allah Tabaraka wa
       Ta’ala di atas Arsy-Nya, tapi mereka (Al-Jahmiyyah) mengatakan
       tidak ada sesuatu pun di atas Arsy.” (Khalqu Af’alil Ibad hal.
       15)
       Ibnul Mubarak berkata: “Kami tidak mengatakan seperti ucapan
       Jahmiyyah bahwa Dia (Allah) itu di bumi. Tetapi (kami katakan)
       Allah di atas Arsy-Nya beristiwa.” Ketika ditanyakan kepadanya:
       “Bagaimana kita mengenali Rabb kita?” Beliau berkata: “Di atas
       Arsy… Sesungguhnya kami bisa mengkisahkan ucapan Yahudi dan
       Nasrani, tapi kami tidak mampu untuk mengkisahkan ucapan
       Jahmiyyah.” (Khalqu Af’alil Ibad / Bukhari hal. 15, As-Sunnah /
       Abdullah ibn Ahmad ibn Hambal 1/111 dan Radd Alal
       Jahmiyyah/Ad-Darimi hal. 21 dan 184)
       Imam Bukhari berkata: “Aku telah melihat ucapan Yahudi, Nasrani
       dan Majusi. Tetapi aku tidak melihat yang lebih sesat dalam
       kekufuran selain mereka (Jahmiyah) dan sesungguhnya aku
       menganggap bodoh siapa yang tidak mengkafirkan mereka kecuali
       yang tidak mengetahui kekufuran mereka.” (Khalqu Af’alil Ibad
       hal 19)
       Dikeluarkan oleh Baihaqi dengan sanad yang baik dari Al-Auza’i
       bahwa dia berkata: “Kami dan seluruh tabi’in mengatakan bahwa
       sesungguhnya Allah di atas Arsy-Nya dan kami beriman dengan
       sifat-sifat yang diriwayatkan dalam sunnah.” Abul Qasim
       menyebutkan sanadnya sampai ke Muhammad ibn Hasan As-Syaibani
       bahwa dia berkata: “Seluruh fuqaha (ulama) di timur dan di barat
       telah sepakat atas keimanan kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits yang
       dibawa oleh rawi-rawi yang tsiqah (terpercaya) dari Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang sifat-sifat Rabb Subhanahu
       Wa Ta’ala tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa tafsir (takwil).
       Barangsiapa menafsirkan sesuatu daripadanya dan mengucapkan
       seperti ucapan Jahm (ibn Sufyan), maka dia telah keluar dari apa
       yang ada di atasnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan
       para shahabatnya, dan dia telah memisahkan diri dari Al-Jama’ah
       karena telah mensifati Allah dengan sifat yang tidak ada.”
       (Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah 740)
       Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Manaqib Syafi’i dari
       Yunus ibn Abdul A’la: Aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Allah
       memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tidak seorangpun bisa
       menolaknya. Barangsiapa yang menyelisihinya setelah tetap
       (jelas) baginya hujjah, maka dia telah kafir. Adapun jika
       (menyelisihinya) sebelum tegaknya hujjah, maka dia dimaklumi
       karena bodoh. Karena ilmu tentangnya tidak bisa dicapai dengan
       akal dan mimpi. Tidak pula dengan pemikiran. Oleh sebab itu,
       kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan tasybih
       sebagaimana Allah menafikan dari dirinya sendiri.” (Lihat Fathul
       Bari 13/406-407)
       Abu Isa Muhammad ibn Isa At-Tirmidzi berkata setelah
       meriwayatkan hadits tentang Allah menerima sedekah dengan tangan
       kanannya (muttafaqun alaih), katanya: “Tidak hanya satu dari
       Ahli Ilmu (ulama) yang telah berkata tentang hadits ini dan yang
       mirip dengan ini dari riwayat-riwayat tentang sifat-sifat Allah
       seperti turunnya Allah tabaraka wa Ta’ala setiap malam ke langit
       dunia. Mereka semuanya mengatakan: Telah tetap riwayat-riwayat
       tentangnya, diimani dengannya, tidak menduga-duga dan tidak
       mengatakan “bagaimana.” Demikian pula ucapan seluruh ahli ilmu
       dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”
       Demikianlah contoh ucapan-ucapan mereka dalam menjaga dan
       membela aqidah ini yang bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah.
       Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah menukil dari Abu Hatim dari
       Abdullah ibn Dawud Al-Khuraibi bahwa Ashabul Hadits dan
       pembawa-pembawa ilmu adalah kepercayaan-kepercayaan Allah atas
       Dien-Nya dan penjaga-penjaga sunnah nabi-Nya, selama mereka
       berilmu dan beramal. Ditegaskan oleh Imam Ats-Tsauri
       rahimahullah: “Malaikat adalah penjaga-penjaga langit dan
       Ashabul Hadits adalah penjaga-penjaga dunia.” Ibnu Zurai’
       rahimahullah juga menambahkan: “Setiap Dien memiliki pasukan
       berkuda. Maka pasukan berkuda dalam Dien ini adalah Ashabul
       Asanid (Ahlul Hadits).” Mereka memang benar. Ashabul Hadits
       adalah pasukan inti dalam Dien ini. Mereka membela dan menjaga
       Dien dari penyelewengan, kesesatan dan kedustaan orang-orang
       munafiqin dan Ahlul Bid’ah. Hampir semua Ashabul Hadits menulis
       kitab-kitab tentang aqidah Ahlus Sunnah serta membantah aqidah
       dan pemahaman-pemahaman bid’ah dan sesat, baik itu fuqaha (ahli
       fiqih) mereka, mufasir (ahli tafsir) mereka maupun seluruh
       ulama-ulama dari kalangan mereka (Ahlul Hadits). Semoga Allah
       memberi pahala bagi mereka dengan amalan-amalan mereka, dan
       memberi pahala atas usaha mereka yang sampai hari dirasakan
       manfaatnya oleh kaum muslimin dengan ilmu-ilmu yang mereka
       tulis, riwayat-riwayat yang mereka kumpulkan dan hadits-hadits
       yang mereka periksa.
       Akhirnya, marilah kita simak perkataan Imam Syafi’i rahimahullah
       ini: “Jika aku melihat seseorang dari Ashabul Hadits, maka aku
       seakan-akan melihat Nabi [i]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hidup
       kembali.”[/i] (HR. Al-Khatib dengan sanad SHAHIH, Syaraf Ashabul
       Hadits hal 26)
       Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang
       lebih dulu beriman daripada kami. Dan janganlah Kau jadikan di
       hati kami kebencian atau kedengkian kepada mereka. Wahai Rabb
       kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang.
       Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Majalah Salafy edisi IV/Dzulqa’dah/1416/1996 rubrik
       Mabhats
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1