URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
       *****************************************************
       #Post#: 362--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
       (Lainnya): Abdullah ibn Tsuaib (Abu Muslim Al Khaulani)
   DIR By: LeManz
       Date: January 1, 2024, 2:07 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Abu Muslim Al-Khaulani, Abdullah ibn Tsuaib
       [font=georgia]rahimahullah[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=188
       Adalah Al-Aswad Al-‘Ansi seorang yang begitu kuat, bertubuh
       kekar, berkulit hitam. Di masa Jahiliyah  banyak kejahatannya,
       ia adalah seorang yang mumpuni dalam perdukunan, mahir dalam
       melakukan sihir atas manusia. Di samping itu pula ia adalah
       orang yang fasih lisannya, mengagumkan penjelasannya, pengkaui,
       mampu mempermainkan akal orang-orang awam dengan
       kebathilan-kebathilannya dan mampu menarik loyalitas orang-orang
       khusus dengan hibah dan pemberiannya.
       Ia tidak pernah muncul di hadapan manusia kecuali dengan menutup
       muka dengan cadar berwarna hitam untuk meliputi dirinya dengan
       sifat ditakuti karena tersembunyi dan berwibawa.
       Dakwah al-Aswad al-‘Ansi telah tersebar di Yaman sebagaimana
       menjalarnya api pada tanaman yang kering, dan kabilahnya dari
       Bani Madzhij yang megikutinya telah membantunya dalam meyebarkan
       dakwahnya.
       Pada saat itu, ia adalah kabilah Yaman yang paling banyak jumlah
       penduduknya, paling luas kawasannya dan paling kuat bala
       tentaranya.
       Sebagaimana telah membantunya dalam menyebarkan dakwahnya, yaitu
       kemampuannya untuk menciptakan kedustaan dan menghiasi
       perkataannya, serta permintaan bantuannya kepada orang-orang
       pengkaui yang menjadi pengikutnya.
       Ia mendakwakan kepada manusia bahwa malaikat turun kepadanya
       dengan membawa wahyu serta memberitakan hal-hal ghaib kepadanya.
       Untuk meyakinkan manusia atas kebenaran dakwaanya, ia telah
       menempuh banyak cara.
       (Diantaranya) ia menyebarkan mata-matanya di setiap tempat,
       untuk mengetahui urusan-urusan manusia dan musykilah mereka
       serta menyibak rahasia-rahasia dan berita-berita mereka, serta
       menembus apa yang terhimpun dalam lubuk hati mereka dari
       angan-angan dan kesusahan.
       Dan mereka di waktu yang sama merayu dan menipu mereka agar
       merujuk kepadanya (al-Aswad) dan meminta pertolongan darinya.
       Dan apabila mereka mendatanginya, ia menghadapi setiap orang
       yang punya hajat dengan hajatnya dan memulai setiap orang yang
       punya permasalahan dengan (menyelesaikan) permasalahannya.
       Dengan begitu seakan-akan ia memperlihatkan kepada mereka bahwa
       ia (mengetahui) rahasia-rahasia yang tersembunyi pada mereka dan
       menemukan apa yang tersembunyi dalam lubuk hati mereka.
       Ia mendatangkan hal-hal ajaib dan aneh yang mampu mencengangkan
       akal dan membingungkan pikiran.
       Tidaklah berselang lama hingga urusannya menjadi besar…
       Tersebarlah popularitasnya…
       Bertambah banyak pengikutnya…
       Bersama mereka ia menguasai Shan’a, dan dari Shan’a menguasai
       daerah-daerah lainnya, hingga negeri-negeri yang terletak antara
       “Hadlramaut” dan “Thaif” tunduk kepadanya, juga negeri-negeri
       yang terletak antara “al-Bahrain” dan “’Adan.”
       Setelah urusan menjadi mapan untuk al-Aswad al-‘Ansi serta
       negeri-negeri dan manusia tunduk kepadanya. Ia segera mengawasi
       para penentangnya dan orang-orang yang Allah berikan kepada
       mereka keimanan yang dalam terhadap agamanya yang lurus…
       Dan keyakinan yang mantap terhadap nabi-Nya yang mulia …
       Serta loyalitas (keta’atan) yang tulus kepada Allah dan
       Rasul-Nya…
       Juga menyuarakan al-haq dengan keras dan menantang kebathilan…
       Bersama mereka ia mulai menyerang dalam kekuatan besar dan
       menimpakan adzab yang pedih.
       Adalah di barisan terdepan mereka (yang diperangi oleh al-Aswad)
       ada “Abdullah ibn Tsuwab” yang diberi kunyah “Abu Muslim
       al-Khaulani.”
       Abu Muslim al-Khaulani adalah seorang yang kokoh dalam agamanya…
       Kuat imannya… Keras kepala untuk menyuarakan al-haq dengan
       lantang…
       Ia telah mengikhlaskan dirinya untuk Allah, sehingga ia
       berpaling dari dunia dan perhiasannya… Zuhud terhadap keelokan
       hidup dan perdagangannya…
       Ia telah menadzarkan hidupnya untuk ta’at kepada Allah dan
       berdakwah kepada-Nya…
       Ia telah menjual dunia yang fana dengan akhirat yang kekal
       dengan penjualan yang murah…
       Sehingga orang-orang menempatkannya pada kedudukan yang tinggi
       dalam jiwa mereka. Mereka melihatnya seorang yang bersih jiwanya
       dan erat hubungannya dengan Allah dan do’anya mustajab di
       sisi-Nya.
       Al-Aswad al-‘Ansi berkeinginan untuk menyerang Abu Muslim dengan
       penyerangan besar…
       (Penyerangan) yang menghembuskan rasa takut dan gentar ke dalam
       hati para penentang dakwahnya secara sembunyi dan
       terang-terangan dan mengalahkan mereka dengan sebenar-benarnya
       (menjadikan para penentangnya kalang kabut).
       Ia menyuruh untuk mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya di
       tanah lapang di Shan’a lalu dinyalakan dengan api…
       Ia mengundang manusia untuk menyaksikan istitabah*nya faqih
       (ahli fikih) Yaman dan ‘abid (ahli ibadah) nya yaitu Abu Muslim
       al-Khaulani dan pengakuan terhadap kenabiannya.
       Pada waktu yang sudah ditentukan, al-Aswad al-‘Ansi mendatangi
       tanah lapang yang penuh sesak dengan manusia.
       Para thaghutnya dan pembesar pengikutnya mengelilinginya, juga
       para penjaga dan panglima pasukannya.
       Ia lalu duduk di atas kursinya yang besar yang telah diletakkan
       untuknya menghadap ke arah api.
       “Abu Muslim al-Khaulani” diseret kehadapannya di bawah tatapan
       manusia dan pendengaran mereka…
       Saat ia (Abu Muslim) sampai di hadapannya, orang yang sombong
       dan pendusta ini memengkaung kepadanya dengan penuh takabbur…
       Ia lalu memengkaung ke arah api yang berkobar-kobar di
       hadapannya dengan keras.
       Kemudian ia menoleh kepadanya dan berkata, “Apakah kamu bersaksi
       bahwa Muhammad utusan Allah?”
       Abu Muslim menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa ia hamba Allah dan
       utusan-Nya… dan ia adalah pemimpin para rasul dan juga penutup
       para nabi.”
       Al-Aswad al-‘Ansi mengerutkan dahinya dan mengangkat alisnya, ia
       berkata, “Dan kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”
       Ia menjawab, “Telingaku tuli, aku tidak mendengar apa yang kamu
       katakan.”
       Al-Aswad berkata, “Kalau demikian, aku akan melemparmu ke dalam
       api ini.”
       Abu Muslim berkata, “Apabila kamu melakukannya, berarti aku
       berlindung dengan api yang bahan bakarnya kayu bakar dari api
       yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan, penjaganya
       malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai
       Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
       selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
       Al-Aswad berkata, “Aku tidak akan terburu-buru terhadapmu, akan
       aku berikan kesempatan lain kepadamu untuk mengembalikan
       akalmu.”
       Ia lalu mengulangi pertanyaan kepadanya, ia berkata, “Apakah
       kamu bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?”
       Abu Muslim menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa ia adalah hamba
       Allah dan utusan-Nya. Allah telah mengutusnya dengan agama
       petunjuk dan haq dan Dia menutup segala risalah dengan
       risalahnya.”
       Maka al-Aswad bertambah murka dan berkata, “Dan kamu bersaksi
       bahwa aku adalah utusan Allah?.”
       Abu Muslim menjawab, “Bukankah sudah aku beritahukan kepadamu
       bahwa telingaku tuli, sehingga aku tidak mendengar perkataanmu
       ini?!.”
       Al-Aswad al-‘Ansi terbakar kemarahan akibat keberaniannya dalam
       menjawab, ketentraman jiwanya dan ketenangan anggota badannya…
       Ia berkehendak untuk menyuruh seseorang, dan melemparkannya ke
       dalam api.
       Di saat itu, salah satu pembesar thaghutnya maju kepadanya dan
       membisikkan ke telinganya, ia berkata, “Sesungguhnya orang ini
       –sebagaimana yang kamu tahu- adalah bersih jiwanya, terkabulkan
       do’anya… Dan sesungguhnya Allah tidak akan menghinakan seorang
       mukmin yang tidak menghinakan-Nya di saat-saat genting…
       Dan sesungguhnya kamu, apabila melemparkannya ke dalam api lalu
       Allah menyelamatkannya, maka berarti kamu telah menghancurkan
       seluruh apa yang telah kamu bangun dalam sesaat. Dan kamu
       mendorong manusia untuk kufur terhadap kenabianmu…
       Dan bila api membakarnya, niscaya orang-orang akan bertambah
       kagum terhadapnya dan tambah membesarkannya, dan mereka akan
       mengangkatnya ke dalam barisan para syuhada.
       Maka berilah kebaikan kepadanya dengan membebaskannya, dan
       buanglah ia dari negerimu, kamu akan terbebas darinya dan merasa
       tenang.”
       Al-Aswad lalu menerima pendapat thaghutnya dan memerintahkan Abu
       Muslim untuk meninggalkan negeri saat itu juga*
       Abu Muslim al-Khaulani melangkahkan kakinya pergi ke arah
       Madinah.
       Ia mengangan-angankan dirinya untuk bisa bertemu Rasulullah . Ia
       telah beriman kepadanya sebelum kedua matanya merasakan
       kenikmatan memengkaungnya, dan jiwanya bergembira menjadi
       sahabatnya.
       Akan tetapi hampir saja ia sampai di ujung “Yatsrib (Madinah)”
       sehingga berita kematian Nabi sampai ke telinganya, juga berita
       Abu Bakar yang menjabat sebagai khalifah kaum Muslimin
       setelahnya.
       Kesedihan yang sangat menggelayuti lubuk hatinya atas wafatnya
       Nabi yang mulia.
       Abu Muslim sampai di Madinah dan menuju ke masjid Rasulullah.
       Saat ia menghampiri masjid, ia mengikat untanya dekat dengan
       pintu masjid, ia masuk ke al-haram an-nabawi (masjid nabawi)
       yang mulia dan mengucapkan salam kepada Rasulullah.
       Ia berdiri di salah satu pilar dari pilar-pilar masjid dan mulai
       shalat…
       Saat ia selesai dari shalatnya, Umar ibn al-Khaththab berjalan
       ke arahnya, hingga sampai di depannya. Ia berkata, “Dari mana
       kamu?” Ia menjawab, “Dari Yaman.”
       Umar berkata, “Apa yang telah Allah perbuat dengan sahabat kami
       yang mana musuh Allah telah membakarnya dengan api, lalu Allah
       menyelamatkannya darinya?”
       Ia menjawab, “Ia dalam kebaikan dan penuh nikmat dari Allah….”
       Umar berkata, “Aku menyumpahmu dengan nama Allah, bukankah kamu
       adalah dia?”
       “Ya” jawabnya.
       Umar lalu mencium keningnya dan berkata, “Tahukah kamu apa yang
       Allah perbuat kepada musuh Allah dan musuhmu?”
       Ia berkata, “Sekali-kali tidak, beritanya telah terputus dariku
       semenjak aku meninggalkan Yaman.”
       Umar menjawab, “Allah telah membunuhnya melalui tangan-tangan
       orang-orang yang tersisa dari kalangan kaum Mukminin yang benar
       dan Dia melenyapkan kerajaannya serta mengembalikan para
       pengikutnya kepada agama Allah….”
       Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang belum mengeluarkan aku
       dari dunia sehingga mataku bergembira dengan kematiannya dan
       kembalinya orang-orang yang terperdaya dari penduduk Yaman ke
       dalam pangkuan Islam.”
       Umar berkata kepadanya, “Dan aku memuji Allah yang telah
       memperlihatkan kepadaku dalam umat Muhammad seseorang yang
       diperlakukan sebagaimana yang diperlakukan kepada khalilurrahman
       bapak kita Ibrahim alaihissalam.
       Kemudian ia (Umar) menggandeng tangannya dan berjalan bersamanya
       menuju kepada Abu Bakar. Saat ia masuk menemuinya, ia
       mengucapkan salam dengan panggilan khalifah dan mambai’atnya.
       Ash-Shiddiq lalu mendudukkannya antara dia dan Umar.
       Mulailah dua syaikh (Yaitu Abu Bakar dan Umar) tersebut meminta
       Abu Muslim untuk menceritakan kembali kisahnya bersama al-Aswad
       al-‘Ansi.
       Abu Muslim al-Khaulani tinggal beberapa waktu di Madinah
       Munawwarah dan di sela-sela itu ia selalu menetapi masjid
       Rasulullah…
       Ia shalat sebanyak apa yang Allah kehendaki untuk shalat di
       Raudlah yang suci, ia juga menimba ilmu dari pembesar sahabat
       seperti Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, Abu Dzarr al-Ghifaari, Ubadah
       ibn ash-Shaamit, Mu’adz ibn Jabal dan ’Auf ibn Malik al-Asyja’i.
       Kemudian terbesitlah dalam hati Abu Muslim al-Khaulani untuk
       pergi ke negeri Syam dan menjadikannya sebagai tempat tinggal.
       Tujuan kepindahannya adalah agar ia menjadi dekat dengan
       perbatasan Syam untuk ikut serta dengan pasukan muslimin dalam
       memerangi Romawi dan beruntung dengan mendapatkan pahala
       murabathah (menjaga perbatasan) di jalan Allah.
       Ketika khilafah berpindah kepada amirul mukminin “Muawiyah ibn
       Abi Sufyan,” ia banyak bolak-balik menemuinya dan menghadiri
       majlis-majlisnya. Ia memiliki beberapa kejadian yang
       diingat-ingat dan masyhur yang menjadi saksi atas tingginya
       kedudukan kedua orang tersebut… dan memberitahukan tentang apa
       yang keduanya berhias dengannya dari ketinggian sifat…
       Di antaranya, bahwa Abu Muslim masuk menemui Muawiyah
       radhiyallahu ‘anhu, maka ia melihatnya duduk di bagian depan
       majlisnya yang ramai.
       Para pejabat negeri telah mengelilinginya, juga panglima pasukan
       dan para tokoh kaumnya…
       Ia melihat orang-orang berlebih-lebihan dalam mengagungkannya
       dan memuliakannya, sehingga ia merasa khawatir terhadapnya
       dengan kekhawatiran yang sangat. Ia mengatakan, “Assalamu’alaika
       ya Ajiirul (pelayan) mukminin.”
       Orang-orang menoleh kepadanya dan berkata, “Amirul
       mukminin…wahai Abu Muslim….”
       Ia tidak menggubris mereka dan berkata, “Assalamu’alaika ya
       ajiirul mukminin.”
       Orang-orang berkata, “Amirul Mukminin wahai Abu Muslim.”
       Ia tidak mendengarkan perkataan mereka dan tidak menoleh kepada
       mereka dan ia berkata, “Assalamu’alaika ya ajiirul mukminin.”
       Saat orang-orang berkehendak untuk mengulanginya, Muawiyah
       menoleh kepada mereka dan berkata, “Biarkan Abu Muslim, ia lebih
       tahu dengan apa yang ia katakan.”
       Abu Muslim mendekat kepada Muawiyah dan berkata kepadanya,
       “Sesungguhnya permisalanmu –setelah Allah mengangkatmu sebagai
       wali bagi urusan manusia- sebagaimana permisalannya orang yang
       menyewa seseorang atau mewakilkan kepadanya urusan dombanya. Ia
       memberikan upah kepadanya untuk mengurusi gembalanya, menjaga
       badannya dan memperbanyak wool-nya dan susunya…
       Apabila ia mengerjakan apa yang menjadi kesepakatan dengannya
       sehingga domba yang kecil tumbuh menjadi besar, yang kurus
       menjadi gemuk dan yang sakit menjadi sehat…ia memberikan upahnya
       dan melebihkannya.
       Sebaiknya jika tidak becus dalam mengurus gembalanya dan lalai
       darinya hingga yang kurus menjadi binasa, yang gemuk menjadi
       kurus dan hilang wool-woolnya dan susu-susunya…maka ia menahan
       upahnya dan memarahinya serta menghukumnya.
       Maka pilihlah untuk dirimu apa yang ada kebaikan dan pahalanya
       untukmu.”
       Muawiyah mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk ke
       tanah, ia berkata, “Semoga Allah membalasimu dengan kebaikan
       atas kami dan atas rakyat wahai Abu Muslim, kami tidak
       mengetahuimu kecuali seorang yang memberikan nasehat kepada
       Allah dan Rasul-Nya dan juga kepada kaum muslimin pada umumnya.”
       Abu Muslim menghadiri shalat Jum’at di masjid jami’ di Damaskus.
       Dan adalah amirul mukminin Muawiyah yang berkhutbah di hadapan
       manusia, ia mengingatkan kepada mereka perintahnya untuk
       menggali sungai “Baradaa” sehingga airnya menjadi jernih.
       Abu Muslim lalu memanggilnya di antara kelompok manusia dan
       berkata, “Ingatlah wahai Muawiyah, bahwa kamu akan mati entah
       hari ini atau besok, dan bahwa tempat tinggalmu adalah
       kuburan…apabila kamu mendatanginya dengan membawa sesuatu, maka
       kamu akan mendapatkan sesuatu padanya. Dan bila kamu
       mendatanginya dengan tangan hampa, maka kamu akan mendapatkannya
       kosong dan rata.
       Dan sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Allah untukmu
       wahai Muawiyah, agar kamu tidak beranggapan bahwa khilafah hanya
       sekedar menggali sungai… mengumpulkan harta… Akan tetapi
       khilafah adalah beramal dengan al-haq… berkata adil… dan
       mengajak manusia kepada keridlaan Allah…
       Wahai Muawiyah, sesungguhnya kami tidak peduli dengan keruhnya
       sungai apabila mata kepala kami jernih dan sesungguhnya engkau
       adalah mata kepala kami, maka berijtihadlah agar engkau
       senantiasa jernih.
       Wahai Muawiyah, sesungguhnya engkau apabila berbuat dzalim
       kepada satu orang, maka kadzalimanmu akan menghilangkan
       keadilanmu.
       Maka hati-hatilah kamu dari berbuat dzalim… Karena sesungguhnya
       kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
       Setelah Abu Muslim selesai dari perkataannya, Muawiyah turun
       dari mimbar dan menghampirinya. Ia berkata, “Semoga Allah
       merahmatimu wahai Abu Muslim dan membalasimu dengan sebaik-baik
       balasan atas kami.”
       Pada kali yang lain, Muawiyah naik mimbar dan memulai
       khutbahnya. Sementara ia telah menahan pemberiannya kepada
       orang-orang selama dua bulan.
       Maka Abu Muslim memanggilnya dan berkata, “Wahai Muawiyah,
       sesungguhnya harta ini bukanlah hartamu, tidak pula harta ayah
       dan ibumu…dengan hak apa kamu menahannya dari manusia?!.”
       Nampaklah kemarahan pada wajah Muawiyah, dan orang-orang mulai
       menanti apa yang akan terjadi.
       Tidak ada yang ia lakukan kecuali ia mengisyaratkan kepada
       orang-orang agar tetap tinggal di tempat mereka dan tidak
       meninggalkannya.
       Ia turun dari mimbar dan berwudlu dan menyiramkan sedikit air
       kebadannya. Kemudian ia naik mimbar, lalu memuji Allah ’Azza Wa
       Jalla dan menyanjungnya dengan sanjungn yang sesuai dengan-Nya
       dan berkata, “Sesungguhnya Abu Muslim telah menyebutkan bahwa
       harta ini bukanlah hartaku, bukan pula harta ayah dan ibuku…
       Dan sungguh Abu Muslim telah benar atas apa yang ia katakan… Dan
       sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, “Kemarahan itu
       dari syaithan… dan syaithan (diciptakan) dari api… dan air
       memadamkan api. Maka apabila salah seorang dari kamu marah
       hendaklah ia mandi.” “Wahai manusia, bergegaslah untuk mengambil
       hak-hak kalian atas berkah Allah.”
       Semoga Allah membalasi Abu Muslim al-Khaulani dengan sebaik-baik
       balasan. Ia adalah seorang permisalan yang langka dalam
       menyuarakan kalimatul haq.
       Semoga Allah meridhai Muawiyah ibn Abi Sufyan dan memperbanyak
       keridlaan-Nya. Ia merupakan tauladan yang mengagumkan dalam
       rujuk (kembali) kepada kalimatul haq. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Thabaqat ibn Sa’d: 7/448, Tarikh al-Bukhari: 5/58,
       Al-Ma’rifah wat Tarikh: 2/308, 382, Al-Istii’ab: 1479, Tarikh
       ibn Asakir: 9/12, Tadzkiratul Huffadz: 1/49, Al-Bidayah wan
       Nihayah: 8/146, Al-Ishaabah: 6302, Syadzaratudz Dzahab: 1/70
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1