URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
       *****************************************************
       #Post#: 359--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
       (Lainnya): Aisyah bint Thalhah
   DIR By: LeManz
       Date: January 1, 2024, 2:06 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Aisyah bint Thalhah [font=georgia]rahimahallah[/font]
       (Wafat 110 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=200
       Abu Zur’ah ad-Dimasyqi: “Aisyah [i]bint Thalhah adalah seorang
       wanita mulia. Ia mendapatkan hadits dari Aisyah Ummul Mukminin.”
       Al-'Ajliy: “Aisyah bint Thalhah seorang wanita Madinah, seorang
       tabi’in dan tsiqah (terpercaya dalam riwayatnya).” Al-Mazziy:
       “Tidak ada wanita yang lebih pandai dari murid-murid Aisyah
       Ummul-Mukminin; Amrah bint Abdur-Rahman, Hafshah bint Sirin dan
       Aisyah bint Thalhah.”[/i]
       &#10043; Gadis Yang Suci
       Inilah seorang tabi’in wanita yang mulia, sebagai keturunan
       keluarga yang berpengaruh di masa rasul. Ia tumbuh dalam
       lingkungan keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di bawah
       bimbingan Aisyah bint Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu
       memiliki kelebihan dalam hal identitas, etika dan kemuliaan.
       Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengaruniainya kecantikan yang
       memikat, seakan-akan ia adalah salah satu bidadari surga yang
       ada di dunia ini.
       Adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu melihatnya lalu berkata.
       “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cantik (indah) dari
       Aisyah bint Thalhah, kecuali Muawiyah saat berada di atas mimbar
       Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”
       Senada dengan ini adalah pernyataan dari Anas ibn Malik
       radhiyallahu’anhu “Sungguh demi Allah, saya tidak pernah melihat
       seorang yang lebih cantik darimu, kecuali Muawiyah saat berada
       di atas mimbar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam! maka ia
       menjawab: “Sungguh demi Allah, sesungguhnya saya lebih baik dari
       api di mata orang yang menggigil pada malam yang sangat
       dingin.”[1] Lalu dari keluarga yang manakah tabi’in wanita ini
       berasal?
       Sebelum kita masuk dalam kisah hidupnya, biarkan kami
       memperkenalkan keluarganya yang subur bagi benih-benih Islam.
       Ayahandanya adalah Thalhah ibn Ubaidillah at-Taimi al-Qurasyi,
       satu dari sepuluh orang shahabat yang dijanjikan surga, salah
       seorang shahabat terbaik dan demawan. Rasulullah Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam, memberikan sebutan 'Thalhah al-Juud (sang
       dermawan)', 'Thalhah al-Khair (yang baik)' dan 'Thalhah
       al-Fayyadh (yang sangat gemar berderma). Pernah suatu ketika
       beliau memanggilnya ash-Shabih, al-Malih, al-fashih (yang sangat
       cemerlang, ramah dan fashih berbahasa)’. Cukup sudah kebanggaan
       baginya sebagai salah satu dari delapan orang yang terdahulu
       masuk Islam.
       Sedangkan ibunya adalah; Ummu Kultsum bint Abi Bakr at-Taimi
       al-Qurasyi, seorang tabi’inyah yang mulia, ibunya Habibah ibn
       Kharijah al-Anshariyyah melahirkannya saat setelah Abu Bakar
       ash-Shiddiq meninggal dunia. Dan Ummu Kultsum inilah yang
       dikatakan oleh Abu Bakar kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha
       putrinya saat akan wafat, “Sesunggunya mereka berdua adalah dua
       saudaramu laki-laki dan dua saudaramu perempuan.”
       Aisyah radhiyallahu ‘anha menimpali, “Ini Asma yang sudah saya
       mengerti, lalu mana yang lainnya? Abu Bakar menjawab, “Adalah
       yang ada di kandungan bint Kharijah –yakni istrinya Habibah yang
       tengah hamil- padahal menurut persepsi saya sebelumnya ia adalah
       seorang budak wanita, namun yang kenyataannya adalah seperti
       yang dikatakan oleh Abu Bakar radhiyallahu’anhu dan Ummu Kultsum
       lahir setelah wafarnya.
       Bibi Aisyah bint Thalhah ini adalah Aisyah Ummul Mukminin, juga
       bibi yang lainnya adalah Dzatun-Nithaaqain Asma bint Abu Bakar.
       Inilah keluarga yang suci mulia yang menjadi tempat tumbuh dan
       berkembangnya Aisyah bint Thalhah ibn Ubaidillah, yang mendapat
       sebutan Ummu Imran at-Taimi al-Qurasyi.
       &#10043; Pernikahannya
       Aisyah bint Thalhah menikah dengan saudara sepupu (anak paman
       dari ibu)-nya, ia menikahinya atas saran dari Aisyah Ummul
       Mukminin, sedangkan nama suaminya adalah Abdullah ibn
       Abdur-Rahman ibn Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu ia
       mempunyai anak laki-laki darinya bernama Imran, dan dengan
       anaknya itu ia mendapatkan sebutan Ummu Imran, lalu
       Abdur-Rahman, Abu Bakar, Thalhah dan Nafisah.
       Anaknya yang bernama Thalhah ibn Abdullah termasuk orang yang
       sangat dermawan dan tokoh terhormat dari kalangan Quraisy.
       Adalah al-Huzain ad-Daili, seorang penyair yang menuturkan sifat
       dermawan dan nasabnya:
       Apabila engkau berikan aku
       seekor unta besar yang mudah bagimu, wahai Tahlhah!
       Dermamu kepadaku tidak hanya sekali dua kali,
       Akan tetapi berkali-kali
       Ayahmu dahulu seorang yang membenarkan Rasul Pilihan
       Selalu mengikuti beliau kemanapun berjalan
       Dan ibumu, wanita cemerlang dari suku Taimi
       Jika orang dihubungkan nasabnya pada suku tersebut,
       Maka adalah kebanggaan baginya.
       &#10043; Perawi Yang Cerdas
       Aisyah bint Thalhah orang yang paling mirip dengan bibinya,
       Aisyah Ummul Mukminin, orang yang paling dicintainya, orang yang
       paling berhasil dibimbing oleh Aisyah radhiyallahu 'anha dalam
       hal ilmu dan adabnya, sebab ia telah berguru kepadanya, begitu
       juga meriwayatkan darinya, dan hadits-hadits yang
       diriwayatkannya di-Takhrij-kan dalam kelompok hadits-hadits yang
       shahih.
       Ia mengutip ilmu, adab dan ilmu-ilmu seputarnya dari bibinya,
       sehingga menjadi tabi’in perempuan terbaik yang menjadi perawi
       hadits.
       Dan darinya banyak tokoh-tokoh tabi’in dan ulamanya yang
       meriwayatkan hadits, diantaranya adalah: Anaknya sendiri,
       Thalhah ibn Abdullah, keponakannya –Thalhah [i]ibn Yahya,
       keponakannya yang lain[/i]- Muawiyah ibn Ishaq, juga Minhal ibn
       Amr, Fudhail ibn Amr al-Faqimi, Hubaib ibn Abu Amrah[4], juga
       Atha’ ibn Abi Rabah dan Umar ibn Said juga yang lain-lainnya.
       &#10043; Beberapa Hadits dari Riwayatnya
       Termasuk riwayat hadits dari Aisyah bint Thalhah, sebagaimana
       hadits yang dikeluarkan (dari kumpulan besar hadits) oleh
       al-Hafizh Ibnu `Asakir beserta sanadnya dari Aisyah Ummul
       Mukminin, berkata, “Saya bertanya: Wahai Rasulullah,
       sesungguhnya seorang anak kecil dari golongan Anshar yang belum
       baligh, apakah menjadi seperti burung pipit surga?” Maka
       Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menjawab, “atau selain
       dari itu semua wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah menciptakan
       surga dan menciptakan penghuninya, juga menciptakan neraka, dan
       menciptakan penghuninya. Sedangkan mereka berada dalam keturunan
       bapak-bapak mereka.”
       Riwayat haditsnya yang lain, hadits yang dikeluarkan oleh Abu
       Dawud dengan sanadnya dari al-Minhal ibn Amr dari Aisyah ibn
       Thalhah dari Ummul-Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
       “saya tidak melihat orang yang paling banyak kemiripan tingkah,
       sikap dan kebaikan hati seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam, melebihi Fathimah radhiyallahu ‘anha. dia ketika
       datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka
       Beliau meraih tangannya lalu menciumnya dan mendudukkannya di
       tempat duduknya, dan ketika Beliau datang menemuinya maka ia
       berdiri menyambutnya, lalu meraih tangannya dan menciumnya
       kemudian mempersilahkan duduk di tempat duduknya.
       Termasuk riwayat haditsnya yang lain adalah seperti yang
       diriwayatkan dalam kumpulan hadits-hadits shahih yang
       dikeluarkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Thalhah ibn
       Yahya ibn Thalhah dari Aisyah bint Thalhah danri Aisyah Ummul
       Mukminin, berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
       bersabda, “Orang tercepat dari kalian yang menyusulku adalah
       orang dari kalian yang terpanjang tangannya.”
       Maka mereka menjulur-julurkan tangannya untuk mengetahui
       siapakah gerangan yang terpanjang tangannya dari mereka, dan
       ternyata yang terpanjang tanganya adalah Zainab bint Jahsy istri
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebab ia selalu bekerja
       dengan tangannya dan banyak memberi shadaqah..
       &#10043; 'Aisyah dalam Pandangan Ulama
       Tidak diragukan lagi, bahwa seorang wanita tabi’in seperti
       Aisyah bint Thalhah yang tumbuh dalam keluarga besar Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, jika kemudian menjadi tokoh wanita
       dalam ilmu, kedudukan dan kejujurannya. Karenanya banyak ulama
       dan tokoh-tokoh besar yang mengenal riwayat hadits dan memiliki
       pengalaman dengan ilmu-ilmunya memberikan pujian dan apresiasi
       yang positif. Cukup baginya sebagai kebanggaan tatkala seorang
       Imam Jarh dan Ta’dil, tokoh ilmu hadits dan imam bagi para
       ahli-hadits di jamannya Yahya ibn Ma’yan memasukkannya dalam
       golongan perawi yang tsiqat dan hadits-haditsnya dijadikan
       sebagai hujjah (sandaran argumentasi hukum), dia mengatakan,
       “perawi yang tsiqat dari kalangan wanita adalah Aisyah bint
       Thalhah, ia seorang rawi yang tsiqah dan haditsnya sebagai
       hujjah.”
       Sementara itu, Abu Zar’ah ad-Dimasyqi memberikan pujian, dan
       menuturkan keutamaan dan kedudukannya dengan mengatakan, “Aisyah
       bint Thalhah adalah seorang wanita mulia yang meriwayatkan
       hadits dari Aisyah Ummul-Mukminin, dan banyak orang yang
       meriwayatkan hadits darinya karena kedudukan dan adabnya.”
       Dalam komentar pujian terhadapnya, al-'Ajli mengatakan, “Aisyah
       bint Thalhah seorang wanita yang berpikiran positif, seorang
       tabi’in dan tsiqah.”
       Begitu juga dalam kitab 'ats-Tsiqat’ Ibnu Hibban memasukkan
       namanya dan memberikan pujian kepadanya..
       Dan dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Imam Ibnu Katsir
       mengutip pernyataan dari gurunya al-Mazziy, “Tidak ada dalam
       golongan perempuan yang lebih pandai dari murid-murid perempuan
       dari Aisyah Ummul-Mukminin, mereka adalah Amrah bint
       Abdur-Rahman, Hafshah bint Sirin dan Aisyah bint Thalhah.”
       &#10043; Kehormatan bagi 'Aisyah
       Aisyah bint Thalhah menghabiskan banyak waktunya untuk
       berdzikir, lidahnya tidak lelah untuk melantunkan tasbih di pagi
       dan sore hari, menjadikan jiwanya bersih dengan kejernihan yang
       menjadikannya istimewa diantara anak-anak perempuan Thalhah, ini
       dilakukan dalam rangka menunaikan suatu hal penting yang
       dilihatnya dalam mimpi.
       Banyak literatur menyebutkan[9] dengan merangkum semuanya,
       bahwasanya Aisyah melihat ayahnya dalam mimpi setelah tigapuluh
       sekian tahun wafatnya sang ayah, dalam mimpinya sang ayah
       berkata kepadanya,
       “Wahai putriku, keluarkanlah aku dari air yang menyakitiku ini,
       sesungguhnya air rembesan ini sangat menggangguku.”
       maka saat terjaga dari tidurnya, ia mengumpulkan teman-temannya
       kemudian bergegas menaiki kudanya bersama letihnya menuju
       kuburan sang ayah lalu menggalinya, lalu ia mendapatinya seperti
       sediakala saat dikuburkan, tidak berubah sehelai rambutpun, sisi
       badannya berona hijau seperti bilur air yang mengalir padanya.
       Pembongkaran itu dipimpin oleh Abdur-Tahman ibn Salamah
       al-Taimi, kemudian ia melipatkan beberapa lipat kain padanya.
       Sementara Aisyah bint Thalhah membeli sebidang tanah dari Abu
       Bakarah di Bashrah lalu menguburkan ayahnya disana, dan kemudian
       membangun masjid di sampingnya. Sementara ada seorang wanita
       Bashrah datang membawa botol berisi air kembang lalu
       menuangkannya di atas kubur itu hingga habis. Dan wanita-wanita
       yang lainnya melakukan hal ini hingga tanah kubur itu menjadi
       berbau harum dan wangi. Kuburan itu sangat terkenal di sana.
       &#10043; Bersama Mush’ab ibn Az-Zubair
       Setelah suaminya Abdullah ibn Abdur-Rahman ibn Abu Bakar
       ash-Shiddiq meninggal dunia, ia dinikahi oleh pemimpin Iraq saat
       itu, Mush’ab ibn az-Zubair al-Qurasyi al-Asadi, ia seorang
       ksatria pemberani, tampan dan menarik, tentang sifat-sifatnya
       seperti yang digambarkan oleh Ubaidillah ibn Qays ar-Ruqayyat:
       Sungguh, Mush’ab adalah macan dari Allah,
       Tampak dari wajahnya ketegasan
       Singgasananya adalah singgasana kemuliaan,
       Tanpa kemewahan dan keangkuhan
       Senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam segala urusan
       Sungguh beruntung orang yang mencita-citakan ketaqwaan.
       Sebelumnya Mush’ab mengidamkan dapat menikahi Aisyah bint
       Thalhah, perempuan cerdas nan cantik dari Quraisy ini, untuk hal
       ini ada kisahnya yang lucu namun juga mengharukan, dan sekaligus
       menunjukkan cita-cita yang tinggi.
       Dalam sebuah kelompok pertemuan di pelataran Ka’bah, terkumpul
       Abdullah, Mush’ab, Urwah ibn az-Zubair serta Abdullah ibn Umar,
       dan menurut sebuah versi riwayat Abdul-Malik ibn Marwan. Mush’ab
       berkata kepada mereka, “berharaplah kalian!!.” maka mereka
       mengatakan, “Mulailah kamu dahulu!.”
       Maka ia mengatakan, “Kekuasaan di Iraq dan pernikahan dengan
       Sukainah bint al-Husain serta Aisyah bint Thalhah ibn
       Ubaidillah.” Maka ia mendapatkan semuanya dan ia memberikan
       maskwin pada masing-masing keduanya sebanyak 500.000 dirham
       serta menyiapkan semua pakaian dan perhiasan seperti lainnya.
       Sedangkan Urwah ibn az-Zubair berharap ilmu fiqih dan dapat
       mengahal hadits, maka ia mendapatkan harapannya itu.
       Sementara Abdul-Malik ibn Marwan mengharap kepemimpin khalifah,
       dan ia mendapatkannya. Lalu Abdullah ibn Umar mengharap surga,
       dan semoga Allah mengampuninya.
       Mush’ab benar menikahi Aisyah, seorang wanita tercantik dan
       terdepan di jamannya, sampai wanita-wanita cantik di masanya
       mengakui kecantikannya dan memberikan komentar manis seputar
       dirinya. Ini adalah pengakuan besar bagi Aisyah. Sebab hanya
       wanita yang lebih memahami wanita dan lebih jeli dengan
       rahasia-rahasia kecantikan yang tersembunyi daripada laki-laki.
       &#10043; Beberapa Cerita Lucu
       Dari beberapa cerita tentang Aisyah ini, terkesan bahwa ia agak
       bersikap keras dalam batasan tertentu terhadap suaminya,
       Mush’ab. Terkadang ia bertengkar dengannya. Dan pada sisi ini
       terdapat cerita dan peristiwa yang lucu.
       Diceritakan bahwa suatu ketika ia marah kepada Mush’ab, padahal
       ia sangat dicintainya. Maka Mush’ab mengeluhkan hal ini kepada
       Asy’ab. Maka ia berkata, “Apa yang akan aku dapatkan jika ia mau
       kembali?.”
       Mush’ab menjawab, “Terserah engkau!.”
       Asy’ab berkata, “sepuluh ribu dirham.”
       Mush’ab menjawab, “Setuju.”
       Maka Asy’ab bergegas pergi menemui Aisyah, lalu berkata, “Aku
       bertaruh untuk menjadi penjaminmu!, ini sebuah kesempatan yang
       terhampar untukku sekiranya engkau memenuhi hakku dan terima
       kasihku untukmu.”
       Aisyah bertanya, “Apa keperluanmu wahai Asy’ab.” Ia menjawab,
       “baginda (Gubernur) menjanjikanku uang sepuluh ribu dirham
       seandainya engkau mau kembali kepadanya.” Aisyah menjawab,
       “Sialan, dia tidak akan mendapatkan diriku dengan upaya seperti
       ini.”
       Asy’ab terus membujuknya, “sungguh saya mohon, relakanlah dan
       kembalilah padanya sampai ia memberiku uang itu, kemudian
       kembalilah pada keburukan akhlak yang telag engkau biasakan
       ini!.”
       Maka Aisyah tertawa dan kembali kepada Mush’ab.
       Pada cerita yang lain tentang sisi kepribadiannya, ia termasuk
       orang yang sering membanggakan diri, banyak bersikap manja pada
       suaminya, sikap ini terkadang berlanjut hingga sampai pada batas
       yang berlebihan. Suatu ketika Mush’ab datang kepadanya saat ia
       sedang tidur di pagi hari. Ia membawakan butiran-butiran berlian
       yang nilainya mencapai duapuluh ribu dinar, ia menyebarkan
       berlian-berlian itu di pangkuan istrinya. Maka Aisyah berkata
       kepada suaminya, “Tidurku ini lebih aku senangi daripada
       berlian-berlian ini.”[12] Suatu ketika Mush’ab mengeluhkan
       seringnya sang istri membanggakan diri kepada Abdullah ibn Abi
       Farwah, sekeretarisnya. Barangkali ia menemukan jalan keluar dan
       solusi bagi sikap berlebihan Aisyah dalam kemanjaan dan
       ke-ngambek-annya.
       Ia berkata kepadanya, “Apakah engkau mengijinkanku untuk membuat
       alibi?.”
       Mush’ab menjawab, “Ya, lakukan yang engkau inginkan, sebab ia
       adalah kemewahan dunia terindah yang aku dapatkan.” Maka Ibnu
       Abi Farwah mendatangi Aisyah malam hari, lalu ia meminta ijin
       masuk. Aisyah berkata, “Waktu selarut ini?”
       Ia menjawab, “Ya.” maka Aisyah terkejut karena takut sebab ia
       datang bersama dua orang yang besar dan hitam kulitnya.
       Pembantu Aisyah bertanya, “Apa keperluanmu?”
       Ia menjawab, “petaka bagi tuamu Aisyah.”
       Ia bertanya, “Ada apa dengannya?”
       Ia menjawab, “Si penjahat yang gemar membantai orang ini
       menyuruhku untuk membuat sumur, lalu aku kuburkan Aisyah di
       dalamnya hidup-hidup, padahal saya sudah berusaha untuk
       menghindar dari tugas ini lalu ia mengancam akan membunuhku.”
       Ia berkata, “lepaskan aku agar dapat menemuinya.”
       Ia menjawab dengan suara keras dan tegas, “Tidak mungkin, engkau
       tidak ada kesempatan lagi.” Kemudian ia berkata kepada kedua
       orang hitam itu dengan nada yang sangat tegas, “Buatlah galian!”
       Maka Aisyah langsung menangis, ia melihat kesungguhan pada
       sekretaris suaminya ini, lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Abi
       Farwah, engkau sungguh akan membunuhku?”
       Ia menjawab, “Tidak ada pilihan lain, meski saya yakin Allah
       akan membalasnya sesudah kematianmu, akan tetapi sungguh ia
       telah marah dengan semarah-marahnya.”
       Aisyah berkata, “perlakuan diriku yang manakah yang membuatnya
       marah?”
       Ia menjawab, “Penolakanmu terhadapnya, ia mengira engkau telah
       benci padanya, dan engkau telah mulai berpaling pada laki-laki
       selain dirinya, sehingga ia sekarang menjadi gila.”
       Aisyah berkata, “Saya berjanji kepada Allah untuk tidak
       mengulanginya lagi.”
       Ia menjawab, “Saya khawatir ia akan membunuhku.”
       Maka Aisyah beserta pembantu-pembantunya menangis, Ibnu Abi
       Farwah melihat hal ini dan merasakan tuan putrinya ini mulai
       tenang, ia berkata kepadanya, “Saya berempati dengan keadaanmu
       sekarang, lalu apa yang harus saya katakan kepada Mush’ab?.” ia
       menjawab, “sebuah jaminan dariku bahwasanya aku tidak akan
       mengulangi perselisihan dengannya lagi selamanya.”
       Ibnu Abi Farwah berkata, “Berikanlah bukti-bukti tentang hal itu
       kepadaku!.” maka ia-pun memberikannya, lalu ia berkata kepada
       kedua orang yang hitam itu, “kembalilah ke asal kamu sekarang.”
       Kemudian Ibnu Abi Farwah mendatangi Mush’ab untuk memberitahukan
       semua yang terjadi, maka Mush’ab berkata kepadanya, “Mintalah
       komitmen darinya dengan bersumpah.” Ia-pun bergegas pergi
       menemui Aisyah, “Sesungguhnya Mush’ab sudah mulai melunak
       sedikit, bersumpahlah kepadaku kiranya engkau tidak akan
       mengulanginya.”
       Maka Aisyah bersumpah dan berkomitmen padanya, serta berbuat
       baik kepada Mush’ab berkat pelajaran langka dan luar-biasa itu.
       &#10043; Setelah Mush’ab
       Setelah meninggalnya Mush’ab, Aisyah menikah lagi dengan Umar
       ibn Ubaidillah ibn Ma’mar at-Taimi, ia tinggal bersamanya selama
       delapan tahun, dan suaminya ini meninggal tahun 82 H, lalu ia
       menangis dengan berdiri. Menurut kebiasaan bangsa Arab, apabila
       seorang wanita menangisi suaminya yang mati dengan berdiri, maka
       mereka mengetahui bahwa sang istri tidak akan menikah lagi
       sesudahnya.
       Dan setelah menjanda, ia tinggal di Makkah selama setahun, di
       Madinah selama setahun, lalu ia keluar untuk keperluan bisnisnya
       ke Thaif sekaligus mengurus kehidupannya sendiri. Pada saat
       kehidupan di Thaif ini banyak sekali cerita bersama para
       penyair, ini menunjukkan kejelian pemahamannya serta kebaikan
       ide dan semangat bersastra.
       &#10043; Cerita Tentang Kedudukan dan Kebanggaannya
       Aisyah bint Thalhah hidup dalam gelimang kekayaan, ia sangat
       suka melihat jejak kenikmatan yang Allah berikan kepadanya.
       Diceritakan saat ia hendak menunaikan ibadah haji ia membawa
       barang-barang mewah yang ia perlukan, semua kebutuhannya itu
       diangkut oleh enam puluh kuda raja lengkap dengan tandu
       diatasnya serta muatannya. Urwah ibn az-Zubair –satu dari
       ahli-fiqih Tabiin yang berjumlah tujuh
       mengatakan,
       Hidup, wahai pemilik enampuluh kuda, Apakah setiap tahun seperti
       ini engkau menunaikan ibadah haji?
       Sifat-sifat ini menjadikan Aisyah bangga pada lainnya dengan
       nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, baik yang tampak
       maupun yang tersembunyi. Disebutkan bahwa ia berhaji bersama
       madu-nya Sukainah bint al-Husain, dan Aisyah lebih baik dalam
       penampilan dan perbekalan, lalu penuntun kudanya menirukan
       perkataan Urwah ibn az- Zubair tadi,Hidup, wahai pemilik
       enampuluh kuda, Apakah setiap tahun seperti ini engkau
       menunaikan ibadah haji?
       Ungkapan ini terdengar kurang menyenangkan di hati Sukainah,
       maka penuntun kudanya berkata,
       Hidup, inilah madumu yang meragukanmu, Seandainya bukan karena
       kakeknya, niscaya kakekmu tidak akan mendapatkan Hidayah,
       Maka Aisyah memerintahkan penuntun kudanya untuk diam, maka
       ia-pun diam sebagai bentuk penghormatan kepada Sukainah.
       Tampak pada cerita-cerita tentang Aisyah bahwa superioritas dan
       sikap membanggakan diri menjadi karakternya, pernah ia
       membanggakan ibunya, seperti yang diceritakan kembali oleh Ishaq
       ibn Thalhah –saudara seayah- berkata,
       “Suatu ketika saya berkunjung kepada Ummul-mukminin Aisyah
       [i]radhiyallahu ‘anha dan sana ada Aisyah bint Thalhah, ia
       berkata kepada ibunya –Ummu Kultsum [i]bint Abu Bakar[/i], “Saya
       lebih baik darimu, dan ayahku lebih baik dari ayahmu.”[/i]
       Sang ibu lalu terheran dengannya dan berkata, “engkau lebih baik
       dariku?” lalu Aisyah Ummul-Mukminin berkata, “Tidakkah sebaiknya
       aku menjadi penengah untuk kalian berdua?” mereka berdua
       menjawab, “Ya.”
       Aisyah –Ummul-mukminin berkata, “Suatu ketika Abu Bakar datang
       menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu beliau
       bersabda, “Engkau wahai Abu Bakar adalah 'Atiiqullah (orang yang
       Allah halangi) dari neraka.” maka siapa gerangan setelah itu
       yang mendapat julukan 'Atiiq.
       Kemudian Thalah ibn Ubaidillah masuk, lalu ia berkata,
       “Engkau wahai Thalhah, adalah termasuk orang yang meneruskan
       perjalanannya.”
       &#10043; Pengetahuan dan Ilmunya
       Sedikit sekali kita temukan wanita yang diberikan limpahan
       harta-kekayaan, dan diberikan kecantikan yang menawan masih
       mempunyai perhatian yang besar pada ilmu dan pengetahuan, selain
       Aisyah bint Thalhah dan wanita-wanita yang berada dalam
       tingkatannya yang sangat berbeda dengan kebanyakan wanita yang
       sering sibuk dengan dandanan, perhiasan dan aksesoris dari
       segala sesuatu.
       Aisyah adalah seorang yang cerdas dan pandai, juga berani
       mengungkapkan ide, memiliki keluasan pengetahuan yang
       beraneka-ragam. Termasuk cerita yang memberikan kesaksian
       tentang ilmu dan keberaniannya dalam mengatakan kebenaran,
       sebagaimana yang diriwayatkan bahwasanya ia pergi dalam
       rombongan Hisyam ibn Abdul-Malik menuju ke Damascus. Hisyam
       berkata kepadanya,
       “Apa yang membuatmu pergi wahai Aisyah??.”
       Ia menjawab, “Karena langit menahan hujannya, dan sang raja
       menghalangi kebenaran.”
       Hisyam berkata, “Saya akan mengubungkan kerabatmu, dan saya
       mengetahui hak-hakmu.”
       Kemudian ia mengirimkan utusan kepada pembesar-pembesar Bani
       Umayyah dan berpesan, “Bahwasanya Aisyah bint Thalhah
       al-Taimiyyah berada padaku, maka pergilah secara diam-diam ke
       sini malam hari.” dan ternyat benar mereka datang, maka tidak
       ada sesuatu yang mereka perbincangkan tentang cerita-cerita dan
       syair Arab serta peristiwa yang terjadi kecuali Aisyah ikut
       dalam perbincangan itu bersama mereka, dan tidak ada bintang
       kemintang dan rasi yang muncul kecuali ia dapat menamainya. Lalu
       Hisyam berkata kepadanya dengan kagum, “Adapun yang pertama
       –tentang cerita dan syair Arab saya tidak mengingkarinya; namin
       tentang perbintangan, dari manakah engkau mendapatkannya?.”
       Ia menjawab, “Saya belajar dari bibiku Aisyah Ummul Mukminin,”
       maka Hisyam memberikan hadiah kepadanya sebanyak 100.000 dirham
       dan mengembalikan Aisyah ke Madinah secara baik, mulia dan
       terhormat.
       Aisyah senantiasa menjadi wanita langka di jamannya, dengan
       kisah yang penuh kebaikan dan keindahan, langkah dan etika,
       kehormatan dan keilmuan hingga wafat pada tahun 101 H.
       Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Aisyah bint Thalhah,
       dan memejamkan kedua-matanya dengan penuh kenikmatan. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER dari:
       - Dari kitab Tarikh Dimasyq hal. 209 dan 210
       - Tarikh Dimasyq, hal. 207 Nawadir al-Makhthuthat jilid 1 hal
       70, dan Taqrib at-Tahdzib jilid 2 hal. 606.
       - Lihat Jamharatu Ansabi al-`Arab, Ibnu Hazm jilid 1 hal 137.
       - Al-Qashshab, Abu Abdullah al-Hammani, budak mereka yang
       berasal dari Kufah, seorang Tabiiy, ia meriwayatkan hadits dari
       Mujahid, Said ibn Jubair, Aisyah bint Thalhah, Ummu ad-Darda,
       dan juga banyak tokoh-tokoh Tabiin yang meriwayatkan hadits
       darinya. Ia dikenal tsiqah, sedikit riwayatnya, sekitar 15
       hadits. Menurut pendapat Ibnu Ma’yan dan an-Nasa’i, “ia orang
       yang tsiqah”, sedangkan menurut Imam Ahmad, “Ia adalah seorang
       Syaikh yang tsiqah” wafat pada tahun 142 H. di ringkas dari
       Tahdzib at-Tahdzib jilid 2 hal 188, dan Taqrib at-Tahdzib jilid
       1 hal 150
       - Dari kitab Tarikh Dimasyq hal 207.
       - Dikeluarkan oleh Abu Dawud nomor hadits 5217 dari bab Adab,
       dan diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dengan nomor hadits 3872
       dalam bab Manaqib, Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak 3/152
       dia mengatakan, “ini adalah hadits yang shahih menurut syarat
       hadits shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan keduanya tidak
       mengeluarkan hadits ini.”
       - Dari kitab Shahih Muslim juz 7 hal 144 bab: Keutamaan Zainab
       Ummul-Mukminin. Dan lihat juga buku kami Nisa Mubasysyarat
       bil-Jannah juz 1 hal. 272.
       - Dikutip dari kitab Tarikh Dimasy hal 207-210, dan Tahdzib
       at-Tahdzib 12/437.
       - Lihat; al-Thabaqat al-Kubra 3/223-224, al-Maarif hal.229,
       Siyaru A’lam an-Nubala 1/40, al-`Iqdu al-Farid 4/323, lihat
       biografi Thalhah dalam kitab al-Isti’ab dan Usud al-Ghabah
       - Lihat kisah dengan redaksi yang hampir sama pada kitab
       al-Hilyah 2/176, Wafayat al-A’yan 3/29 dan 258, Uyun al-Akhbar
       1/258, al-Bidayah wa al-Nihayah 8/322-323, Siyaru A’lam
       al-Nubala 4/141 dan literatur lainnya.
       - ibn Jubair al-Madani. Sosok yang menjadi icon dalam sikap
       tamak, diceritakan dari Ikrimah dan Aban dari Utsman dan Salim
       ibn Abdullah. Wafat tahun 154 H. sumber: Wafayat al-A’yan 1/37
       - Dari kitab Nawadir al-Makhthuthat 1/77.
       - Dikutip dari Nawadir al-Makhthuthat 1/80 dengan ringkasannya.
       - Istilah Ahli Fiqih Tujuh muncul di tengah-tengah penduduk
       Madinah, yang mereka maksudkan adalah para ahli-fiqih yang
       menonjol di Madinah dari generasi Tabiin. Tampaknya mereka ini
       sering berkumpul bermusyawarah untuk menghasilkan satu pendapat
       yang merupakan kesimpulan bersama dari permasahan-permsahan
       fiqih yang mereka hadapi, mereka ini membawa semangat dari para
       shahabat Rasulullah, menerangi sisa abad dan memulai abad kedua
       Hijriyah,mereka menjadi tempat dan sistematika pembelajaran
       fiqih Madinah yang berdasar pada fatwa yang dikemukakan oleh
       para shahabat pendahulu, mereka semua adalah; Said ibn
       al-Musayyib, Urwah ibn az-Zubair, Abu Bakr ibn Abdur-Rahman ibn
       al-Harits, al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakr, Ubaidillah ibn
       Abdullah ibn Utbah ibn Mas’ud, Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit dan
       Sulaiman ibn Yasar.
       - Dari kitab Tarikh Dimsyq hal.210.
       - Dari kitab A’lam an-Nisa 3/154.
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1