DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
*****************************************************
#Post#: 359--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
(Lainnya): Aisyah bint Thalhah
DIR By: LeManz
Date: January 1, 2024, 2:06 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Aisyah bint Thalhah [font=georgia]rahimahallah[/font]
(Wafat 110 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=200
Abu Zur’ah ad-Dimasyqi: “Aisyah [i]bint Thalhah adalah seorang
wanita mulia. Ia mendapatkan hadits dari Aisyah Ummul Mukminin.”
Al-'Ajliy: “Aisyah bint Thalhah seorang wanita Madinah, seorang
tabi’in dan tsiqah (terpercaya dalam riwayatnya).” Al-Mazziy:
“Tidak ada wanita yang lebih pandai dari murid-murid Aisyah
Ummul-Mukminin; Amrah bint Abdur-Rahman, Hafshah bint Sirin dan
Aisyah bint Thalhah.”[/i]
✻ Gadis Yang Suci
Inilah seorang tabi’in wanita yang mulia, sebagai keturunan
keluarga yang berpengaruh di masa rasul. Ia tumbuh dalam
lingkungan keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di bawah
bimbingan Aisyah bint Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu
memiliki kelebihan dalam hal identitas, etika dan kemuliaan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengaruniainya kecantikan yang
memikat, seakan-akan ia adalah salah satu bidadari surga yang
ada di dunia ini.
Adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu melihatnya lalu berkata.
“Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cantik (indah) dari
Aisyah bint Thalhah, kecuali Muawiyah saat berada di atas mimbar
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”
Senada dengan ini adalah pernyataan dari Anas ibn Malik
radhiyallahu’anhu “Sungguh demi Allah, saya tidak pernah melihat
seorang yang lebih cantik darimu, kecuali Muawiyah saat berada
di atas mimbar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam! maka ia
menjawab: “Sungguh demi Allah, sesungguhnya saya lebih baik dari
api di mata orang yang menggigil pada malam yang sangat
dingin.”[1] Lalu dari keluarga yang manakah tabi’in wanita ini
berasal?
Sebelum kita masuk dalam kisah hidupnya, biarkan kami
memperkenalkan keluarganya yang subur bagi benih-benih Islam.
Ayahandanya adalah Thalhah ibn Ubaidillah at-Taimi al-Qurasyi,
satu dari sepuluh orang shahabat yang dijanjikan surga, salah
seorang shahabat terbaik dan demawan. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, memberikan sebutan 'Thalhah al-Juud (sang
dermawan)', 'Thalhah al-Khair (yang baik)' dan 'Thalhah
al-Fayyadh (yang sangat gemar berderma). Pernah suatu ketika
beliau memanggilnya ash-Shabih, al-Malih, al-fashih (yang sangat
cemerlang, ramah dan fashih berbahasa)’. Cukup sudah kebanggaan
baginya sebagai salah satu dari delapan orang yang terdahulu
masuk Islam.
Sedangkan ibunya adalah; Ummu Kultsum bint Abi Bakr at-Taimi
al-Qurasyi, seorang tabi’inyah yang mulia, ibunya Habibah ibn
Kharijah al-Anshariyyah melahirkannya saat setelah Abu Bakar
ash-Shiddiq meninggal dunia. Dan Ummu Kultsum inilah yang
dikatakan oleh Abu Bakar kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha
putrinya saat akan wafat, “Sesunggunya mereka berdua adalah dua
saudaramu laki-laki dan dua saudaramu perempuan.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha menimpali, “Ini Asma yang sudah saya
mengerti, lalu mana yang lainnya? Abu Bakar menjawab, “Adalah
yang ada di kandungan bint Kharijah –yakni istrinya Habibah yang
tengah hamil- padahal menurut persepsi saya sebelumnya ia adalah
seorang budak wanita, namun yang kenyataannya adalah seperti
yang dikatakan oleh Abu Bakar radhiyallahu’anhu dan Ummu Kultsum
lahir setelah wafarnya.
Bibi Aisyah bint Thalhah ini adalah Aisyah Ummul Mukminin, juga
bibi yang lainnya adalah Dzatun-Nithaaqain Asma bint Abu Bakar.
Inilah keluarga yang suci mulia yang menjadi tempat tumbuh dan
berkembangnya Aisyah bint Thalhah ibn Ubaidillah, yang mendapat
sebutan Ummu Imran at-Taimi al-Qurasyi.
✻ Pernikahannya
Aisyah bint Thalhah menikah dengan saudara sepupu (anak paman
dari ibu)-nya, ia menikahinya atas saran dari Aisyah Ummul
Mukminin, sedangkan nama suaminya adalah Abdullah ibn
Abdur-Rahman ibn Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu ia
mempunyai anak laki-laki darinya bernama Imran, dan dengan
anaknya itu ia mendapatkan sebutan Ummu Imran, lalu
Abdur-Rahman, Abu Bakar, Thalhah dan Nafisah.
Anaknya yang bernama Thalhah ibn Abdullah termasuk orang yang
sangat dermawan dan tokoh terhormat dari kalangan Quraisy.
Adalah al-Huzain ad-Daili, seorang penyair yang menuturkan sifat
dermawan dan nasabnya:
Apabila engkau berikan aku
seekor unta besar yang mudah bagimu, wahai Tahlhah!
Dermamu kepadaku tidak hanya sekali dua kali,
Akan tetapi berkali-kali
Ayahmu dahulu seorang yang membenarkan Rasul Pilihan
Selalu mengikuti beliau kemanapun berjalan
Dan ibumu, wanita cemerlang dari suku Taimi
Jika orang dihubungkan nasabnya pada suku tersebut,
Maka adalah kebanggaan baginya.
✻ Perawi Yang Cerdas
Aisyah bint Thalhah orang yang paling mirip dengan bibinya,
Aisyah Ummul Mukminin, orang yang paling dicintainya, orang yang
paling berhasil dibimbing oleh Aisyah radhiyallahu 'anha dalam
hal ilmu dan adabnya, sebab ia telah berguru kepadanya, begitu
juga meriwayatkan darinya, dan hadits-hadits yang
diriwayatkannya di-Takhrij-kan dalam kelompok hadits-hadits yang
shahih.
Ia mengutip ilmu, adab dan ilmu-ilmu seputarnya dari bibinya,
sehingga menjadi tabi’in perempuan terbaik yang menjadi perawi
hadits.
Dan darinya banyak tokoh-tokoh tabi’in dan ulamanya yang
meriwayatkan hadits, diantaranya adalah: Anaknya sendiri,
Thalhah ibn Abdullah, keponakannya –Thalhah [i]ibn Yahya,
keponakannya yang lain[/i]- Muawiyah ibn Ishaq, juga Minhal ibn
Amr, Fudhail ibn Amr al-Faqimi, Hubaib ibn Abu Amrah[4], juga
Atha’ ibn Abi Rabah dan Umar ibn Said juga yang lain-lainnya.
✻ Beberapa Hadits dari Riwayatnya
Termasuk riwayat hadits dari Aisyah bint Thalhah, sebagaimana
hadits yang dikeluarkan (dari kumpulan besar hadits) oleh
al-Hafizh Ibnu `Asakir beserta sanadnya dari Aisyah Ummul
Mukminin, berkata, “Saya bertanya: Wahai Rasulullah,
sesungguhnya seorang anak kecil dari golongan Anshar yang belum
baligh, apakah menjadi seperti burung pipit surga?” Maka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menjawab, “atau selain
dari itu semua wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah menciptakan
surga dan menciptakan penghuninya, juga menciptakan neraka, dan
menciptakan penghuninya. Sedangkan mereka berada dalam keturunan
bapak-bapak mereka.”
Riwayat haditsnya yang lain, hadits yang dikeluarkan oleh Abu
Dawud dengan sanadnya dari al-Minhal ibn Amr dari Aisyah ibn
Thalhah dari Ummul-Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
“saya tidak melihat orang yang paling banyak kemiripan tingkah,
sikap dan kebaikan hati seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam, melebihi Fathimah radhiyallahu ‘anha. dia ketika
datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka
Beliau meraih tangannya lalu menciumnya dan mendudukkannya di
tempat duduknya, dan ketika Beliau datang menemuinya maka ia
berdiri menyambutnya, lalu meraih tangannya dan menciumnya
kemudian mempersilahkan duduk di tempat duduknya.
Termasuk riwayat haditsnya yang lain adalah seperti yang
diriwayatkan dalam kumpulan hadits-hadits shahih yang
dikeluarkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Thalhah ibn
Yahya ibn Thalhah dari Aisyah bint Thalhah danri Aisyah Ummul
Mukminin, berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
bersabda, “Orang tercepat dari kalian yang menyusulku adalah
orang dari kalian yang terpanjang tangannya.”
Maka mereka menjulur-julurkan tangannya untuk mengetahui
siapakah gerangan yang terpanjang tangannya dari mereka, dan
ternyata yang terpanjang tanganya adalah Zainab bint Jahsy istri
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebab ia selalu bekerja
dengan tangannya dan banyak memberi shadaqah..
✻ 'Aisyah dalam Pandangan Ulama
Tidak diragukan lagi, bahwa seorang wanita tabi’in seperti
Aisyah bint Thalhah yang tumbuh dalam keluarga besar Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, jika kemudian menjadi tokoh wanita
dalam ilmu, kedudukan dan kejujurannya. Karenanya banyak ulama
dan tokoh-tokoh besar yang mengenal riwayat hadits dan memiliki
pengalaman dengan ilmu-ilmunya memberikan pujian dan apresiasi
yang positif. Cukup baginya sebagai kebanggaan tatkala seorang
Imam Jarh dan Ta’dil, tokoh ilmu hadits dan imam bagi para
ahli-hadits di jamannya Yahya ibn Ma’yan memasukkannya dalam
golongan perawi yang tsiqat dan hadits-haditsnya dijadikan
sebagai hujjah (sandaran argumentasi hukum), dia mengatakan,
“perawi yang tsiqat dari kalangan wanita adalah Aisyah bint
Thalhah, ia seorang rawi yang tsiqah dan haditsnya sebagai
hujjah.”
Sementara itu, Abu Zar’ah ad-Dimasyqi memberikan pujian, dan
menuturkan keutamaan dan kedudukannya dengan mengatakan, “Aisyah
bint Thalhah adalah seorang wanita mulia yang meriwayatkan
hadits dari Aisyah Ummul-Mukminin, dan banyak orang yang
meriwayatkan hadits darinya karena kedudukan dan adabnya.”
Dalam komentar pujian terhadapnya, al-'Ajli mengatakan, “Aisyah
bint Thalhah seorang wanita yang berpikiran positif, seorang
tabi’in dan tsiqah.”
Begitu juga dalam kitab 'ats-Tsiqat’ Ibnu Hibban memasukkan
namanya dan memberikan pujian kepadanya..
Dan dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Imam Ibnu Katsir
mengutip pernyataan dari gurunya al-Mazziy, “Tidak ada dalam
golongan perempuan yang lebih pandai dari murid-murid perempuan
dari Aisyah Ummul-Mukminin, mereka adalah Amrah bint
Abdur-Rahman, Hafshah bint Sirin dan Aisyah bint Thalhah.”
✻ Kehormatan bagi 'Aisyah
Aisyah bint Thalhah menghabiskan banyak waktunya untuk
berdzikir, lidahnya tidak lelah untuk melantunkan tasbih di pagi
dan sore hari, menjadikan jiwanya bersih dengan kejernihan yang
menjadikannya istimewa diantara anak-anak perempuan Thalhah, ini
dilakukan dalam rangka menunaikan suatu hal penting yang
dilihatnya dalam mimpi.
Banyak literatur menyebutkan[9] dengan merangkum semuanya,
bahwasanya Aisyah melihat ayahnya dalam mimpi setelah tigapuluh
sekian tahun wafatnya sang ayah, dalam mimpinya sang ayah
berkata kepadanya,
“Wahai putriku, keluarkanlah aku dari air yang menyakitiku ini,
sesungguhnya air rembesan ini sangat menggangguku.”
maka saat terjaga dari tidurnya, ia mengumpulkan teman-temannya
kemudian bergegas menaiki kudanya bersama letihnya menuju
kuburan sang ayah lalu menggalinya, lalu ia mendapatinya seperti
sediakala saat dikuburkan, tidak berubah sehelai rambutpun, sisi
badannya berona hijau seperti bilur air yang mengalir padanya.
Pembongkaran itu dipimpin oleh Abdur-Tahman ibn Salamah
al-Taimi, kemudian ia melipatkan beberapa lipat kain padanya.
Sementara Aisyah bint Thalhah membeli sebidang tanah dari Abu
Bakarah di Bashrah lalu menguburkan ayahnya disana, dan kemudian
membangun masjid di sampingnya. Sementara ada seorang wanita
Bashrah datang membawa botol berisi air kembang lalu
menuangkannya di atas kubur itu hingga habis. Dan wanita-wanita
yang lainnya melakukan hal ini hingga tanah kubur itu menjadi
berbau harum dan wangi. Kuburan itu sangat terkenal di sana.
✻ Bersama Mush’ab ibn Az-Zubair
Setelah suaminya Abdullah ibn Abdur-Rahman ibn Abu Bakar
ash-Shiddiq meninggal dunia, ia dinikahi oleh pemimpin Iraq saat
itu, Mush’ab ibn az-Zubair al-Qurasyi al-Asadi, ia seorang
ksatria pemberani, tampan dan menarik, tentang sifat-sifatnya
seperti yang digambarkan oleh Ubaidillah ibn Qays ar-Ruqayyat:
Sungguh, Mush’ab adalah macan dari Allah,
Tampak dari wajahnya ketegasan
Singgasananya adalah singgasana kemuliaan,
Tanpa kemewahan dan keangkuhan
Senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam segala urusan
Sungguh beruntung orang yang mencita-citakan ketaqwaan.
Sebelumnya Mush’ab mengidamkan dapat menikahi Aisyah bint
Thalhah, perempuan cerdas nan cantik dari Quraisy ini, untuk hal
ini ada kisahnya yang lucu namun juga mengharukan, dan sekaligus
menunjukkan cita-cita yang tinggi.
Dalam sebuah kelompok pertemuan di pelataran Ka’bah, terkumpul
Abdullah, Mush’ab, Urwah ibn az-Zubair serta Abdullah ibn Umar,
dan menurut sebuah versi riwayat Abdul-Malik ibn Marwan. Mush’ab
berkata kepada mereka, “berharaplah kalian!!.” maka mereka
mengatakan, “Mulailah kamu dahulu!.”
Maka ia mengatakan, “Kekuasaan di Iraq dan pernikahan dengan
Sukainah bint al-Husain serta Aisyah bint Thalhah ibn
Ubaidillah.” Maka ia mendapatkan semuanya dan ia memberikan
maskwin pada masing-masing keduanya sebanyak 500.000 dirham
serta menyiapkan semua pakaian dan perhiasan seperti lainnya.
Sedangkan Urwah ibn az-Zubair berharap ilmu fiqih dan dapat
mengahal hadits, maka ia mendapatkan harapannya itu.
Sementara Abdul-Malik ibn Marwan mengharap kepemimpin khalifah,
dan ia mendapatkannya. Lalu Abdullah ibn Umar mengharap surga,
dan semoga Allah mengampuninya.
Mush’ab benar menikahi Aisyah, seorang wanita tercantik dan
terdepan di jamannya, sampai wanita-wanita cantik di masanya
mengakui kecantikannya dan memberikan komentar manis seputar
dirinya. Ini adalah pengakuan besar bagi Aisyah. Sebab hanya
wanita yang lebih memahami wanita dan lebih jeli dengan
rahasia-rahasia kecantikan yang tersembunyi daripada laki-laki.
✻ Beberapa Cerita Lucu
Dari beberapa cerita tentang Aisyah ini, terkesan bahwa ia agak
bersikap keras dalam batasan tertentu terhadap suaminya,
Mush’ab. Terkadang ia bertengkar dengannya. Dan pada sisi ini
terdapat cerita dan peristiwa yang lucu.
Diceritakan bahwa suatu ketika ia marah kepada Mush’ab, padahal
ia sangat dicintainya. Maka Mush’ab mengeluhkan hal ini kepada
Asy’ab. Maka ia berkata, “Apa yang akan aku dapatkan jika ia mau
kembali?.”
Mush’ab menjawab, “Terserah engkau!.”
Asy’ab berkata, “sepuluh ribu dirham.”
Mush’ab menjawab, “Setuju.”
Maka Asy’ab bergegas pergi menemui Aisyah, lalu berkata, “Aku
bertaruh untuk menjadi penjaminmu!, ini sebuah kesempatan yang
terhampar untukku sekiranya engkau memenuhi hakku dan terima
kasihku untukmu.”
Aisyah bertanya, “Apa keperluanmu wahai Asy’ab.” Ia menjawab,
“baginda (Gubernur) menjanjikanku uang sepuluh ribu dirham
seandainya engkau mau kembali kepadanya.” Aisyah menjawab,
“Sialan, dia tidak akan mendapatkan diriku dengan upaya seperti
ini.”
Asy’ab terus membujuknya, “sungguh saya mohon, relakanlah dan
kembalilah padanya sampai ia memberiku uang itu, kemudian
kembalilah pada keburukan akhlak yang telag engkau biasakan
ini!.”
Maka Aisyah tertawa dan kembali kepada Mush’ab.
Pada cerita yang lain tentang sisi kepribadiannya, ia termasuk
orang yang sering membanggakan diri, banyak bersikap manja pada
suaminya, sikap ini terkadang berlanjut hingga sampai pada batas
yang berlebihan. Suatu ketika Mush’ab datang kepadanya saat ia
sedang tidur di pagi hari. Ia membawakan butiran-butiran berlian
yang nilainya mencapai duapuluh ribu dinar, ia menyebarkan
berlian-berlian itu di pangkuan istrinya. Maka Aisyah berkata
kepada suaminya, “Tidurku ini lebih aku senangi daripada
berlian-berlian ini.”[12] Suatu ketika Mush’ab mengeluhkan
seringnya sang istri membanggakan diri kepada Abdullah ibn Abi
Farwah, sekeretarisnya. Barangkali ia menemukan jalan keluar dan
solusi bagi sikap berlebihan Aisyah dalam kemanjaan dan
ke-ngambek-annya.
Ia berkata kepadanya, “Apakah engkau mengijinkanku untuk membuat
alibi?.”
Mush’ab menjawab, “Ya, lakukan yang engkau inginkan, sebab ia
adalah kemewahan dunia terindah yang aku dapatkan.” Maka Ibnu
Abi Farwah mendatangi Aisyah malam hari, lalu ia meminta ijin
masuk. Aisyah berkata, “Waktu selarut ini?”
Ia menjawab, “Ya.” maka Aisyah terkejut karena takut sebab ia
datang bersama dua orang yang besar dan hitam kulitnya.
Pembantu Aisyah bertanya, “Apa keperluanmu?”
Ia menjawab, “petaka bagi tuamu Aisyah.”
Ia bertanya, “Ada apa dengannya?”
Ia menjawab, “Si penjahat yang gemar membantai orang ini
menyuruhku untuk membuat sumur, lalu aku kuburkan Aisyah di
dalamnya hidup-hidup, padahal saya sudah berusaha untuk
menghindar dari tugas ini lalu ia mengancam akan membunuhku.”
Ia berkata, “lepaskan aku agar dapat menemuinya.”
Ia menjawab dengan suara keras dan tegas, “Tidak mungkin, engkau
tidak ada kesempatan lagi.” Kemudian ia berkata kepada kedua
orang hitam itu dengan nada yang sangat tegas, “Buatlah galian!”
Maka Aisyah langsung menangis, ia melihat kesungguhan pada
sekretaris suaminya ini, lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Abi
Farwah, engkau sungguh akan membunuhku?”
Ia menjawab, “Tidak ada pilihan lain, meski saya yakin Allah
akan membalasnya sesudah kematianmu, akan tetapi sungguh ia
telah marah dengan semarah-marahnya.”
Aisyah berkata, “perlakuan diriku yang manakah yang membuatnya
marah?”
Ia menjawab, “Penolakanmu terhadapnya, ia mengira engkau telah
benci padanya, dan engkau telah mulai berpaling pada laki-laki
selain dirinya, sehingga ia sekarang menjadi gila.”
Aisyah berkata, “Saya berjanji kepada Allah untuk tidak
mengulanginya lagi.”
Ia menjawab, “Saya khawatir ia akan membunuhku.”
Maka Aisyah beserta pembantu-pembantunya menangis, Ibnu Abi
Farwah melihat hal ini dan merasakan tuan putrinya ini mulai
tenang, ia berkata kepadanya, “Saya berempati dengan keadaanmu
sekarang, lalu apa yang harus saya katakan kepada Mush’ab?.” ia
menjawab, “sebuah jaminan dariku bahwasanya aku tidak akan
mengulangi perselisihan dengannya lagi selamanya.”
Ibnu Abi Farwah berkata, “Berikanlah bukti-bukti tentang hal itu
kepadaku!.” maka ia-pun memberikannya, lalu ia berkata kepada
kedua orang yang hitam itu, “kembalilah ke asal kamu sekarang.”
Kemudian Ibnu Abi Farwah mendatangi Mush’ab untuk memberitahukan
semua yang terjadi, maka Mush’ab berkata kepadanya, “Mintalah
komitmen darinya dengan bersumpah.” Ia-pun bergegas pergi
menemui Aisyah, “Sesungguhnya Mush’ab sudah mulai melunak
sedikit, bersumpahlah kepadaku kiranya engkau tidak akan
mengulanginya.”
Maka Aisyah bersumpah dan berkomitmen padanya, serta berbuat
baik kepada Mush’ab berkat pelajaran langka dan luar-biasa itu.
✻ Setelah Mush’ab
Setelah meninggalnya Mush’ab, Aisyah menikah lagi dengan Umar
ibn Ubaidillah ibn Ma’mar at-Taimi, ia tinggal bersamanya selama
delapan tahun, dan suaminya ini meninggal tahun 82 H, lalu ia
menangis dengan berdiri. Menurut kebiasaan bangsa Arab, apabila
seorang wanita menangisi suaminya yang mati dengan berdiri, maka
mereka mengetahui bahwa sang istri tidak akan menikah lagi
sesudahnya.
Dan setelah menjanda, ia tinggal di Makkah selama setahun, di
Madinah selama setahun, lalu ia keluar untuk keperluan bisnisnya
ke Thaif sekaligus mengurus kehidupannya sendiri. Pada saat
kehidupan di Thaif ini banyak sekali cerita bersama para
penyair, ini menunjukkan kejelian pemahamannya serta kebaikan
ide dan semangat bersastra.
✻ Cerita Tentang Kedudukan dan Kebanggaannya
Aisyah bint Thalhah hidup dalam gelimang kekayaan, ia sangat
suka melihat jejak kenikmatan yang Allah berikan kepadanya.
Diceritakan saat ia hendak menunaikan ibadah haji ia membawa
barang-barang mewah yang ia perlukan, semua kebutuhannya itu
diangkut oleh enam puluh kuda raja lengkap dengan tandu
diatasnya serta muatannya. Urwah ibn az-Zubair –satu dari
ahli-fiqih Tabiin yang berjumlah tujuh
mengatakan,
Hidup, wahai pemilik enampuluh kuda, Apakah setiap tahun seperti
ini engkau menunaikan ibadah haji?
Sifat-sifat ini menjadikan Aisyah bangga pada lainnya dengan
nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, baik yang tampak
maupun yang tersembunyi. Disebutkan bahwa ia berhaji bersama
madu-nya Sukainah bint al-Husain, dan Aisyah lebih baik dalam
penampilan dan perbekalan, lalu penuntun kudanya menirukan
perkataan Urwah ibn az- Zubair tadi,Hidup, wahai pemilik
enampuluh kuda, Apakah setiap tahun seperti ini engkau
menunaikan ibadah haji?
Ungkapan ini terdengar kurang menyenangkan di hati Sukainah,
maka penuntun kudanya berkata,
Hidup, inilah madumu yang meragukanmu, Seandainya bukan karena
kakeknya, niscaya kakekmu tidak akan mendapatkan Hidayah,
Maka Aisyah memerintahkan penuntun kudanya untuk diam, maka
ia-pun diam sebagai bentuk penghormatan kepada Sukainah.
Tampak pada cerita-cerita tentang Aisyah bahwa superioritas dan
sikap membanggakan diri menjadi karakternya, pernah ia
membanggakan ibunya, seperti yang diceritakan kembali oleh Ishaq
ibn Thalhah –saudara seayah- berkata,
“Suatu ketika saya berkunjung kepada Ummul-mukminin Aisyah
[i]radhiyallahu ‘anha dan sana ada Aisyah bint Thalhah, ia
berkata kepada ibunya –Ummu Kultsum [i]bint Abu Bakar[/i], “Saya
lebih baik darimu, dan ayahku lebih baik dari ayahmu.”[/i]
Sang ibu lalu terheran dengannya dan berkata, “engkau lebih baik
dariku?” lalu Aisyah Ummul-Mukminin berkata, “Tidakkah sebaiknya
aku menjadi penengah untuk kalian berdua?” mereka berdua
menjawab, “Ya.”
Aisyah –Ummul-mukminin berkata, “Suatu ketika Abu Bakar datang
menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu beliau
bersabda, “Engkau wahai Abu Bakar adalah 'Atiiqullah (orang yang
Allah halangi) dari neraka.” maka siapa gerangan setelah itu
yang mendapat julukan 'Atiiq.
Kemudian Thalah ibn Ubaidillah masuk, lalu ia berkata,
“Engkau wahai Thalhah, adalah termasuk orang yang meneruskan
perjalanannya.”
✻ Pengetahuan dan Ilmunya
Sedikit sekali kita temukan wanita yang diberikan limpahan
harta-kekayaan, dan diberikan kecantikan yang menawan masih
mempunyai perhatian yang besar pada ilmu dan pengetahuan, selain
Aisyah bint Thalhah dan wanita-wanita yang berada dalam
tingkatannya yang sangat berbeda dengan kebanyakan wanita yang
sering sibuk dengan dandanan, perhiasan dan aksesoris dari
segala sesuatu.
Aisyah adalah seorang yang cerdas dan pandai, juga berani
mengungkapkan ide, memiliki keluasan pengetahuan yang
beraneka-ragam. Termasuk cerita yang memberikan kesaksian
tentang ilmu dan keberaniannya dalam mengatakan kebenaran,
sebagaimana yang diriwayatkan bahwasanya ia pergi dalam
rombongan Hisyam ibn Abdul-Malik menuju ke Damascus. Hisyam
berkata kepadanya,
“Apa yang membuatmu pergi wahai Aisyah??.”
Ia menjawab, “Karena langit menahan hujannya, dan sang raja
menghalangi kebenaran.”
Hisyam berkata, “Saya akan mengubungkan kerabatmu, dan saya
mengetahui hak-hakmu.”
Kemudian ia mengirimkan utusan kepada pembesar-pembesar Bani
Umayyah dan berpesan, “Bahwasanya Aisyah bint Thalhah
al-Taimiyyah berada padaku, maka pergilah secara diam-diam ke
sini malam hari.” dan ternyat benar mereka datang, maka tidak
ada sesuatu yang mereka perbincangkan tentang cerita-cerita dan
syair Arab serta peristiwa yang terjadi kecuali Aisyah ikut
dalam perbincangan itu bersama mereka, dan tidak ada bintang
kemintang dan rasi yang muncul kecuali ia dapat menamainya. Lalu
Hisyam berkata kepadanya dengan kagum, “Adapun yang pertama
–tentang cerita dan syair Arab saya tidak mengingkarinya; namin
tentang perbintangan, dari manakah engkau mendapatkannya?.”
Ia menjawab, “Saya belajar dari bibiku Aisyah Ummul Mukminin,”
maka Hisyam memberikan hadiah kepadanya sebanyak 100.000 dirham
dan mengembalikan Aisyah ke Madinah secara baik, mulia dan
terhormat.
Aisyah senantiasa menjadi wanita langka di jamannya, dengan
kisah yang penuh kebaikan dan keindahan, langkah dan etika,
kehormatan dan keilmuan hingga wafat pada tahun 101 H.
Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Aisyah bint Thalhah,
dan memejamkan kedua-matanya dengan penuh kenikmatan. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER dari:
- Dari kitab Tarikh Dimasyq hal. 209 dan 210
- Tarikh Dimasyq, hal. 207 Nawadir al-Makhthuthat jilid 1 hal
70, dan Taqrib at-Tahdzib jilid 2 hal. 606.
- Lihat Jamharatu Ansabi al-`Arab, Ibnu Hazm jilid 1 hal 137.
- Al-Qashshab, Abu Abdullah al-Hammani, budak mereka yang
berasal dari Kufah, seorang Tabiiy, ia meriwayatkan hadits dari
Mujahid, Said ibn Jubair, Aisyah bint Thalhah, Ummu ad-Darda,
dan juga banyak tokoh-tokoh Tabiin yang meriwayatkan hadits
darinya. Ia dikenal tsiqah, sedikit riwayatnya, sekitar 15
hadits. Menurut pendapat Ibnu Ma’yan dan an-Nasa’i, “ia orang
yang tsiqah”, sedangkan menurut Imam Ahmad, “Ia adalah seorang
Syaikh yang tsiqah” wafat pada tahun 142 H. di ringkas dari
Tahdzib at-Tahdzib jilid 2 hal 188, dan Taqrib at-Tahdzib jilid
1 hal 150
- Dari kitab Tarikh Dimasyq hal 207.
- Dikeluarkan oleh Abu Dawud nomor hadits 5217 dari bab Adab,
dan diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dengan nomor hadits 3872
dalam bab Manaqib, Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak 3/152
dia mengatakan, “ini adalah hadits yang shahih menurut syarat
hadits shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan keduanya tidak
mengeluarkan hadits ini.”
- Dari kitab Shahih Muslim juz 7 hal 144 bab: Keutamaan Zainab
Ummul-Mukminin. Dan lihat juga buku kami Nisa Mubasysyarat
bil-Jannah juz 1 hal. 272.
- Dikutip dari kitab Tarikh Dimasy hal 207-210, dan Tahdzib
at-Tahdzib 12/437.
- Lihat; al-Thabaqat al-Kubra 3/223-224, al-Maarif hal.229,
Siyaru A’lam an-Nubala 1/40, al-`Iqdu al-Farid 4/323, lihat
biografi Thalhah dalam kitab al-Isti’ab dan Usud al-Ghabah
- Lihat kisah dengan redaksi yang hampir sama pada kitab
al-Hilyah 2/176, Wafayat al-A’yan 3/29 dan 258, Uyun al-Akhbar
1/258, al-Bidayah wa al-Nihayah 8/322-323, Siyaru A’lam
al-Nubala 4/141 dan literatur lainnya.
- ibn Jubair al-Madani. Sosok yang menjadi icon dalam sikap
tamak, diceritakan dari Ikrimah dan Aban dari Utsman dan Salim
ibn Abdullah. Wafat tahun 154 H. sumber: Wafayat al-A’yan 1/37
- Dari kitab Nawadir al-Makhthuthat 1/77.
- Dikutip dari Nawadir al-Makhthuthat 1/80 dengan ringkasannya.
- Istilah Ahli Fiqih Tujuh muncul di tengah-tengah penduduk
Madinah, yang mereka maksudkan adalah para ahli-fiqih yang
menonjol di Madinah dari generasi Tabiin. Tampaknya mereka ini
sering berkumpul bermusyawarah untuk menghasilkan satu pendapat
yang merupakan kesimpulan bersama dari permasahan-permsahan
fiqih yang mereka hadapi, mereka ini membawa semangat dari para
shahabat Rasulullah, menerangi sisa abad dan memulai abad kedua
Hijriyah,mereka menjadi tempat dan sistematika pembelajaran
fiqih Madinah yang berdasar pada fatwa yang dikemukakan oleh
para shahabat pendahulu, mereka semua adalah; Said ibn
al-Musayyib, Urwah ibn az-Zubair, Abu Bakr ibn Abdur-Rahman ibn
al-Harits, al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakr, Ubaidillah ibn
Abdullah ibn Utbah ibn Mas’ud, Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit dan
Sulaiman ibn Yasar.
- Dari kitab Tarikh Dimsyq hal.210.
- Dari kitab A’lam an-Nisa 3/154.
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1