URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
       *****************************************************
       #Post#: 358--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
       (Lainnya): Amir ibn Abdillah At-Tamimi
   DIR By: LeManz
       Date: January 1, 2024, 2:05 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Amir ibn Abdillah at-Tamimi
       [font=georgia]rahimahullah[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=287
       Sekarang kita berada di tahun 14 H. Saat di mana para
       pem­bimbing generasi dan guru utama di kalangan para sahabat dan
       senior tabi’in membuat perbatasan kota Bashrah atas perintah
       khalifah muslimin Umar [i]ibn Khathab Radhiyallahu anhu wa
       ardhaah. Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai
       markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berperang di negeri
       Persi. Sekaligus sebagai titik tolak untuk berdakwah ilallah
       Subhanahu Wa Ta’ala, serta sebagai menara untuk meninggikan
       kalimat Allah di muka bumi.[/i]
       Di kota ini kaum muslimin dari segala penjuru Jazirah Arab, ada
       yang dari Najd, Hijaz dan Yaman berkumpul untuk menjaga
       perbata­san daerah kaum muslimin. Di antara yang turut berhijrah
       tersebut terdapat pemuda Najed dari Bani Tamim yang dipanggil
       dengan nama Amir ibn Abdillah At-Tamimi Al-Anbari. Usianya masih
       remaja, masih lunak kulitnya, putih wajahnya, suci jiwanya dan
       takwa hatinya.
       Meskipun masih berstatus baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya
       di negeri kaum muslimin dan paling melimpah hartanya, karena
       ter­tumpuk di dalamnya hasil ghanimah perang dan tambang emas
       mur­ni.
       Namun begitu, bagi pemuda dari Bani Tamim ini hal itu bukanlah
       yang dia cari. Beliau dikenal zuhud terhadap apa yang dimiliki
       ma­nusia, berharap terhadap apa yang ada di sisi Allah,
       berpaling dari dunia dan perhiasannya, menghadapkan jiwanya
       kepada Allah dan keridhaan-Nya.
       Ketika itu pemuka Bashrah adalah seorang sahabat agung Abu Musa
       Al-Asy’ari, semoga Allah meridhainya dan menjadikan wajahnya
       berseri di jannah-Nya. Beliau adalah Walikota Bashrah yang
       bercahaya. Beliau juga panglima perang kaum muslimin yang
       berasal dari Bashrah setiap kali menghadapi musuh. Beliau adalah
       imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya menuju ke
       jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
       Kepada Abu Musa Al-Asy’ari inilah Amir ibn Abdillah berguru.
       Baik dalam kondisi perang maupun damai. Aktif menemani beliau
       setiap menempuh perjalanan, meneguk ilmu darinya tentang
       Kitabullah yang masih segar seperti tatkala diturunkan di hati
       Muhammad. Juga mengambil hadits shahih yang bersambung hingga
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mulia. Beliau menuntut
       ilmu tentang agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala di hadapan Abu Musa
       Al-Asy’ari.
       Setelah beliau menyempumakan ilmu sesuai yang dikehendaki, maka
       beliau membagi hidupnya menjadi tiga bagian.
       - Bagian pertama adalah untuk halaqah dzikir di masjid Bashrah
       yang di sana dibacakan dan diajarkan Al-Qur’an kepada manusia.
       - [size=10pt]Kedua, beliau pergunakan untuk mengenyam manisnya
       ibadah, beliau pancangkan kedua kakinya berdiri di hadapan Allah
       hingga letih kedua telapak kakinya.
       - [size=10pt]Ketiga, untuk terjun ke medan jihad, beliau
       menghunus pedang­nya untuk berperang di jalan Allah. Seluruh
       umurnya tidak pernah absen sedikitpun dari tiga kesibukan
       tersebut, sehingga beliau dikenal sebagai abid (ahli ibadahnya)
       dan ahli zuhudnya penduduk Bashrah.
       [size=11pt]Di antara berita tentang keadaan Amir ibn Abdillah
       adalah seperti yang dikisahkan oleh seorang putra Bashrah yang
       mengatakan: “Aku pernah mengikuti safar bersama rombongan yang
       di dalamnya terdapat Amir [i]ibn Abdillah, tatkala menjelang
       malam kami singgah di hutan. Aku melihat Amir mengemasi
       barang-barangnya, mengikat kendaraannya di pohon dan
       memanjangkan tali pengikatnya, mengumpulkan rerumputan yang
       dapat mengenyangkan kendaraannya dan meletakkan di hadapannya…
       kemudian beliau masuk ke hutan dan menghilang di dalamnya. Aku
       berkata kepada diriku sendiri: “Demi Allah aku akan mengikutinya
       dan aku ingin melihat apa yang sedang ia kerjakan di tengah
       hutan malam ini.” Aku melihat Amir berjalan hingga berhenti di
       suatu tempat yang lebat pepohonannya dan tersembunyi dari
       pandangan manusia. Lalu dia menghadap ke kiblat, berdiri untuk
       shalat. Aku tidak melihat shalat yang lebih bagus, lebih
       sempurna dan lebih khusyuk dari shalatnya. Setelah berlalu
       beberapa raka’at yang dikehendaki Allah, dia berdo’a kepada
       Allah dan bermunajah kepada-Nya. Di antara yang dia ucapkan
       adalah: “Wahai Ilahi, sungguh Engkau telah menciptakan aku
       dengan perintah-Mu, lalu Engkau tempatkan aku ke dunia ini
       sesuai kehen­dak-Mu, lalu Engkau perintahkan “berpegang
       teguhlah!”, bagaimana aku akan berpegang teguh jika Engkau tidak
       meneguhkan aku dengan kelembutan-Mu Yaa Qawiyyu yaa Matiin!
       Wahai Ilahi… sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa seandainya aku
       memiliki dunia dan seluruh isinya, kemudian diminta demi meraih
       ridha-Mu niscaya aku akan memberikan kepada orang yang
       memintanya, maka berikanlah jiwaku kepadaku ya Arhamar Rahimin!
       Wahai Ilahi… kecintaanku kepada-Mu yang sangat, membuatku terasa
       ringan menghadapi musibah, ridha atas segala qadha’, maka aku
       tidak peduli apapun yang menimpa diriku pagi dan sore harinya
       selagi masih bisa mencintai­Mu.”[/i]
       Putra Bashrah itu melanjutkan: “Kemudian rasa kantuk
       mendatangiku hingga aku tertidur. Berkali-kali aku tidur dan
       bangun sedangkan Amir masih tegak di tempatnya, tetap dalam
       shalat dan munajahnya sampai datanglah waktu subuh.
       &#128994;Usai shalat shubuh beliau berdo'a:
       “Ya Allah, waktu subuh telah datang, manusia segera bangun dan
       pergi mencari karunia-Mu. Sesungguhnya masing-masing mereka
       memiliki keperluan, dan sesungguhnya keperluan Amir disisi-Mu
       adalah agar Engkau mengampuninya. Ya Allah, kabulkanlah
       keperluanku dan juga keperluan mereka ya Akramal Akramin. Ya
       Allah, sesungguhnya aku telah memohon kepada-Mu tiga perkara,
       lalu Engkau mengabulkan dua di antaranya dan tinggal satu saja
       yang belum. Ya Allah, perkenankanlah permohonan tersebut
       sehingga aku bisa beribadah kepada-Mu sesuka hatiku dan
       sekehendakku!.”
       Beliau beranjak dari tempat duduknya dan tiba-tiba pandangan
       matanya tertuju kepadaku. Beliau terperanjat dan berkata:
       “Apakah Anda membuntutiku sejak kemarin malam wahai saudaraku
       dari Bashrah?” Aku menjawab: “Benar.” Beliau berkata:
       “Rahasiakanlah apa yang Anda lihat, semoga Allah merahasiakan
       aib Anda!” Aku menjawab: “Demi Allah, engkau beritahukan aku
       terlebih dahulu tentang tiga permohonanmu kepada Allah tersebut,
       atau aku akan memberitahukan kepada manusia tentang apa yang aku
       lihat darimu.” Beliau berkata: “Duhai celaka, jangan sampai Anda
       beritahukan kepada orang lain!” Aku katakan: “Dengan syarat
       engkau penuhi permintaanku padamu.” Maka tatkala beliau melihat
       keseriusanku, beliau berkata: “Akan aku ceritakan asalkan Anda
       mau berjanji kepada Allah untuk tidak menceritakan hal ini
       kepada siapapun.” Aku berkata: “Baiklah aku berjanji kepada
       Allah untuk tidak menyebarkan rahasia ini selagi Anda masih
       hidup.”
       Lalu beliau berkata: “Tiada sesuatu yang memudharatkan agama
       yang lebih aku takuti dari fitnah wanita, maka aku memohon
       kepada Rabb-ku agar mencabut rasa cinta (syahwatku) kepada
       wanita, maka Allah mengabulkan do’aku sehingga tatkala aku
       berjalan, aku tidak peduli apakah yang aku lihat seorang wanita
       ataukah tembok.” Aku berkata: “Ini yang pertama, lantas apa yang
       kedua?” Beliau menjawab: “Yang kedua adalah, aku memohon kepada
       Rabb-ku agar tidak diberi rasa takut kepada siapapun selain Dia,
       maka Allah mengabulkan aku, sehingga demi Allah, tiadalah yang
       aku takuti baik yang di langit dan di bumi selain Dia.”
       Aku bertanya: “Lantas apa do’a yang ketiga?” Beliau menjawab:
       “Aku memohon kepada Allah agar menghilangkan rasa kantuk dan
       tidur sehingga aku bisa beribadah kepada-Nya di malarn dan siang
       hari sesuka hatiku, namun Allah belum mengabulkannya.” Tatkala
       aku mendengar dari beliau, aku berkata: “Kasihanilah dirimu,
       Anda telah melakukan shalat di malam hari dan shaum di siang
       hari, padahal jannah dapat diraih dengan amal yang lebih ringan
       dari apa yang Anda kerjakan. Dan neraka dapat dihindari dengan
       perjuangan yang lebih ringan dari apa yang Anda usahakan.”
       Beliau berkata: “Aku takut jika nantinya aku menyesal selagi
       tiada bermanfaat sedikitpun penyesalan itu. Demi Allah aku akan
       bersungguh-sungguh untuk beribadah, tidak ada pilihan lain, jika
       aku selamat itu semata-mata karena rahmat Allah, jika aku masuk
       neraka maka itu karena keteledoranku.”
       Amir ibn Abdillah bukan sekedar ahli ibadah di waktu malam saja,
       namun juga mujahid di siang harinya. Tiada penyeru jihad fii
       sabilillah memanggil melainkan beliau segera mendatanginya.
       Sudah menjadi kebiasaan beliau, manakala hendak bergabung
       ber­sama para mujahidin yang hendak berperang, beliau
       melihat-lihat kelompok pasukan untuk memilihnya. Jika beliau
       dapatkan yang sesuai, beliau berkata kepada mereka: “Wahai
       saudara, sesungguhnya aku ingin bergabung bersama kelompok
       kalian ini jika kalian mau mengabulkan tiga permintaanku.”
       Mereka bertanya: “Apa tiga permintaan tersebut?” Beliau
       menjawab: “Pertama, hendaknya kalian perkenankan aku untuk
       menjadi pelayan bagi keperluan kalian, maka tidak boleh
       seorangpun di antara kalian merebut tugas tersebut. Kedua,
       hendaknya akulah yang dijadikan mu’adzin, maka tidak boleh
       seorangpun di antara kalian merebut tugas adzan untuk shalat.
       Ketiga, hendaknya kalian ijinkan aku untuk menginfakkan hartaku
       kepada kalian sesuai kemampuan­ku.” Jika mereka menjawab: “ya”,
       maka beliau segera bergabung, namun jika dijawab tidak, maka
       beliau mencari kelompok pasukan lain yang mau menerima
       permintaan tersebut.
       Sungguh, di kalangan para mujahidin tersebut Amir ibn Abdillah
       mengambil bagian yang banyak dalam hal resiko dan kesusahan,
       na­mun mengambil bagian terkecil dalam hal yang menyenangkan
       (pem­bagian ghanimah). Beliau terjun di kancah peperangan dengan
       gigih ­yang tiada orang lain segigih beliau dalam berperang.
       Akan tetapi di saat pembagian ghanimah, tiada yang lebih enggan
       menerima daripada beliau.
       Inilah Sa’ad ibn Abi Waqash tatkala usai perang Qadisiyah di
       Ista­na Kisra, beliau perintahkan Amru ibn Muqarrin untuk
       mengumpul­kan ghanimah dan menghitungnya agar selanjutnya
       seperlima dari gha­nimah tersebut dapat dikirim ke baitul maal
       bagi kaum muslimin. Adapun sisanya dibagikan kepada para
       mujahidin. Maka dikumpul­kanlah harta benda berharga yang luar
       biasa banyaknya. Di sana ada keranjang besar yang tertutup oleh
       tumpukan bebatuan berisi penuh bejana-bejana dari emas dan perak
       yang biasa dipakai oleh raja-raja Persi untuk makan dan minum.
       Ada pula sebuah kotak dari kayu mewah yang tatkala dibuka
       ter­nyata berisi baju-baju, pakaian dan selendang kaisar yang
       berenda per­mata dan mutiara. AdaAda juga kotak yang berisi
       senjata-senjata milik raja-raja Persi terdahulu, dan
       pedang-pedang para raja maupun pemimpin yang tunduk kepada Persi
       sepanjang perjalanan sejarah. lagi kotak perhiasan yang berisi
       barang-barang berharga seperti kalung dan perhiasan yang
       beraneka ragam.
       Di saat orang-orang bekerja menghitung ghanimah di bawah
       pe­ngawasan kaum muslimin… tiba-tiba muncullah seorang laki-laki
       yang kusut dan berdebu sedang membawa kotak perhiasan yang
       berukuran besar dan berat bebannya, dia mengangkat dengan kedua
       tangannya sekaligus.
       Mereka memperhatikan dengan seksama, mata mereka belum per­nah
       melihat kotak perhiasan sebesar itu, belum ada pula di antara
       kotak perhiasan yang telah terkumpul yang setara atau mendekati
       besarnya dengan kotak tersebut. Mereka melihat apa yang ada di
       dalamnya, ternyata penuh berisi perhiasan permata dan intan,
       lalu mereka bertanya kepada laki-laki tersebut: “Di manakah Anda
       dapatkan simpanan yang berharga itu?” Orang tersebut menjawab:
       “Aku dapatkan dalam peperangan anu.. di tempat anu..” Mereka
       ber­tanya, “Sudahkah Anda mengambil sebagiannya? “Orang itu
       menjawab: “Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian! Demi
       Allah, sesung­guhnya kotak perhiasan ini dan seluruh apa yang
       dimiliki raja-raja Persi bagiku tidaklah sebanding dengan kuku
       hitamku. Kalaulah bukan karena ini merupakan hak bagi kaum
       muslimin niscaya aku tidak sudi mengangkatnya dari dalam tanah
       dan tidak akan aku bawa kesini.” Mereka bertanya: “Siapakah
       Anda, semoga Allah memuliakan Anda!” Orang itu menjawab: “Demi
       Allah, aku tidak akan memberitahukan­nya karena kalian nanti
       akan memujiku, tidak pula aku ceritakan kepada selain kalian
       karena mereka akan menyanjungku. Akan tetapi aku memuji Allah
       Subhanahu Wa Ta’ala dan mengharap pahala-Nya.” Kemudian ia
       me­ninggalkan mereka dan pergi. Mereka menyuruh seseorang untuk
       mengikuti laki-laki tersebut untuk memberitahukan kepada mereka
       siapa sebenarnya laki-laki misterius tersebut. Utusan tersebut
       terus mem­buntuti di belakangnya tanpa sepengetahuan beliau
       hingga sampai kepada para sahabatnya. Utusan tersebut bertanya
       kepada mereka perihal laki-laki itu, lalu mereka menjawab:
       “Apakah Anda belum tahu siapa laki-laki itu? Dialah ahli
       zuhudnya orang Basrah… Amir ibn Abdillah At-Tamimi.”
       Meski demikian gemilangnya perjalanan hidup Amir ibn Abdillah
       -sebagaimana yang Anda lihat- namun beliau tidak terhindar pula
       dari hasutan dan gangguan manusia.
       Beliau menghadapi resiko seperti yang biasa dialami oleh orang
       yang lantang menyuarakan kebenaran, mencegah kemungkaran dan
       berusaha untuk menghilangkannya.
       Peristiwa yang melatarbelakangi beliau mendapatkan hasutan
       ter­sebut bermula ketika beliau melihat salah seorang anak buah
       dari kepala polisi Bashrah sedang memegang leher seorang ahli
       dzimmah dan menariknya. Sementara orang dzimmi tersebut
       berteriak meminta tolong kepada manusia: “Tolonglah aku semoga
       Allah menolong kalian! Tolonglah ahli dzimmah (yang dilindungi)
       Nabi kalian wahai kaum muslimin!” Maka Amir ibn Abdillah
       menghampirinya dan bertanya:
       “Kamu sudah menunaikan jizyah yang menjadi kewajibanmu?” Ahli
       dzimmah itu menjawab: “Ya, aku sudah menunaikannya.” Kemudian
       Amir menoleh kepada orang yang memegang leher ahli dzimmah
       tersebut dan bertanya: “Apa yang Anda inginkan darinya?” Dia
       menjawab: “Aku ingin dia pergi bersamaku untuk membersihkan
       kebun milik Kepala Polisi.” Amir bertanya kepada si dzimmi:
       “Anda berhasrat untuk kerja di tempat tersebut?” Si dzimi
       menjawab: “Tidak, karena tugas itu akan memeras tenagaku dan aku
       tidak bisa mencari makan untuk keluargaku!” Lalu Amir menoleh
       lagi kepada laki-laki yang memegang leher dzimi tersebut:
       “Lepaskan dia!” Ia menjawab: “Aku tidak akan melepaskannya.”
       Maka tidak ada pilihan bagi Amir selain menyelamatkan orang
       dzimmi tersebut sambil berkata: “Demi Allah, tidak boleh
       perjanjian orang dzimmi (untuk dilindungi) dengan nabi Muhammad
       dibatalkan selagi saya masih hidup.” Kemudian berkumpullah
       manusia dan turut membantu Amir mengalahkan polisi itu dan
       akhirnya selamatlah orang dzimmi tersebut. Sebagai
       pelampiasannya teman-teman petugas polisi tersebut menuduh Amir
       sebagai orang yang tidak ta’at pemerintah dan keluar dari ahlus
       sunnah wal jama’ah. Mereka berkata: “Dia tidak mau menikah
       dengan wanita… tidak mau makan daging hewan dan susunya… tidak
       mau menghadiri pertemuan yang diadakan pemerintah…” Dan mereka
       mengadukan persoalan tersebut kepada amirul muk­minin Utsman ibn
       Affan.
       Khalifah memerintahkan wali Bashrah untuk memanggil Amir ibn
       Abdillah dan meminta keterangan kepadanya perihal tuduhan yang
       ditujukan atasnya, lalu hasilnya agar dilaporkan kepada
       khali­fah. Maka wali Bashrah memanggil Amir dan berkata:
       “Sesungguh­nya amirul mukminin –semoga Allah memanjangkan
       umurnya- telah menyuruhku bertanya kepadamu perihal
       perkara-perkara yang ditu­duhkan kepada Anda.” Amir menjawab:
       “Silakan Anda bertanya sesuai dengan yang diinginkan amirul
       mukminin.” Lalu wali Bashrah ber­tanya: “Mengapa Anda menjauhi
       sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak mau
       menikah?” Beliau menjawab: “Aku tidak menikah bukan karena ingin
       menyimpang dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       karena aku tahu bahwa tidak ada kerahiban (hidup membujang untuk
       beribadah) dalam Islam. Namun aku hanya memiliki satu jiwa saja,
       maka aku jadikan ia untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan aku
       khawatir jika istriku kelak akan mengalahkan hal itu.”
       Wali berkata: “Lalu mengapa Anda tidak mau makan daging?” Beliau
       menjawab: “Aku bersedia memakannya bila aku berselera dan aku
       mendapatkannya. Namun apabila aku tidak berselera atau aku
       berselera namun tidak mendapatkannya maka aku tidak memakannya.”
       Beliau ditanya lagi: “Mengapa Anda tidak mau makan keju?” Beliau
       menjawab: “Sesungguhnya di daerah saya banyak tinggal
       orang-orang majusi yang membuat keju, mereka adalah suatu kaum
       yang tidak membedakan antara bangkai dengan hewan yang
       disembelih, sehingga saya khawatir jika minyak yang merupakan
       satu bagian dari bahan pembuat keju berasal dari hewan yang
       tidak disembelih. Jika telah ada dua orang muslim yang melihat
       bahwa keju tersebut dibuat dari minyak hewan yang disembelih,
       tentulah aku akan memakannya.” Beliau ditanya: “Apa yang
       menghalangi Anda untuk mendatangi pertemuan yang diadakan
       pemerintah dan menyaksikannya?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya
       di depan pintu kalian begitu banyak orang yang ingin dipenuhi
       hajatnya, maka undanglah mereka ke tempat kalian dan cukupilah
       kebutuhan mereka dengan apa yang kalian punya, dan biarkanlah
       orang yang tidak meminta kebutuhan kepada kalian.”
       Usai pertemuan tersebut, jawaban Amir ibn Abdillah ini
       dilapor­kan kepada amirul mukminin Utsman ibn Affan dan khalifah
       memandang tidak ada indikasi menyimpang dari keta’atan atau
       keluar dari ahlussunnah wal jama’ah pada diri Amir.
       Hanya saja api kejahatan belum padam sampai di situ, isu yang
       membicarakan keburukan Amir ibn Abdillah makin gencar, hingga
       nyaris saja terjadi fitnah antara pembela beliau dengan
       orang-orang yang menjadi saingannya, lalu 'Utsman ibn Affan
       radhiyallahu’anhu memerintahkan beliau untuk berpindah ke negeri
       Syam dan menjadikan negeri tersebut sebagai tempat tinggalnya.
       Khalifah mewasiatkan Walikota Syam Mu’awiyah ibn Abi Sufyan
       untuk menyambut baik kedatangan Amir dan menjaga kehormatannya.
       Sampailah hari di mana Amir ibn Abdilah memutuskan untuk
       ber­pindah dari Bashrah. Para sahabat dan murid-murid beliau
       keluar untuk mengucapkan perpisahan dengan beliau. Mereka
       mengantar beliau hingga sampai di Marbad, setibanya di sana
       beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya saya adalah penyeru
       maka jagalah seruanku.” Lalu orang-orang melongok agar dapat
       melihat beliau dan mereka tenang tidak bergerak dan mata mereka
       tertuju kepada beliau, sementara beliau mengangkat kedua
       tangannya dan berdo’a: “Ya Allah, orang yang telah menghasut dan
       mendustaiku serta menjadi sebab terusirnya aku dari negeriku,
       memisahkan antara diriku dengan para sahabatku… Ya Allah
       sesungguhnya aku telah memaafkannnya, maka maafkanlah dia.
       Berilah ia karunia kesehatan dalam agama dan dunianya.
       Limpahkanlah aku, dia dan juga seluruh kaum muslimin dengan
       rahmat-Mu, ampunan-Mu dan kebaikan-Mu wahai Yang Paling
       pengasih.” Kemudian beliau mengarahkan kendaraannya menuju Syam.
       Amir ibn Abdillah memutuskan hidup di negeri Syam untuk me­ngisi
       sisa-sisa umurnya. Beliau memilih Baitul Maqdis sebagai tempat
       tinggal dan beliau mendapatkan perlakuan baik dari pemimpin Syam
       Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, dihormati dan dihargai.
       Tatkala beliau sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau
       menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis.
       Mereka bertanya:
       “Apa yang menyebabkan Anda menangis, padahal Anda memiliki
       keutamaan ini dan itu?.” Beliau menjawab: “Demi Allah aku
       menangis bukan karena ingin hidup lama di dunia atau takut
       menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya
       per­jalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh, aku berada
       di antara tebing dan jurang… bisa jadi ke jannah bisa jadi pula
       tergelincir ke neraka, aku tidak tahu dimana aku akan sampai…”
       Kemudian beliau menghela nafas pelan sedang lisannya basah
       dengan dzikrullah… di sana… di sana… di kiblat yang pertama…
       Haramain yang ketiga… tempat Rasul [i]Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam melakukan isra’… Amir ibn Abdilah At-Tamimi berdiam
       diri.[/i]
       Semoga Allah menerangi Amir di dalam kuburnya dan
       membahagiakannya di jannah-Nya yang kekal. &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1