DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
*****************************************************
#Post#: 358--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
(Lainnya): Amir ibn Abdillah At-Tamimi
DIR By: LeManz
Date: January 1, 2024, 2:05 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Amir ibn Abdillah at-Tamimi
[font=georgia]rahimahullah[/font]
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=287
Sekarang kita berada di tahun 14 H. Saat di mana para
pembimbing generasi dan guru utama di kalangan para sahabat dan
senior tabi’in membuat perbatasan kota Bashrah atas perintah
khalifah muslimin Umar [i]ibn Khathab Radhiyallahu anhu wa
ardhaah. Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai
markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berperang di negeri
Persi. Sekaligus sebagai titik tolak untuk berdakwah ilallah
Subhanahu Wa Ta’ala, serta sebagai menara untuk meninggikan
kalimat Allah di muka bumi.[/i]
Di kota ini kaum muslimin dari segala penjuru Jazirah Arab, ada
yang dari Najd, Hijaz dan Yaman berkumpul untuk menjaga
perbatasan daerah kaum muslimin. Di antara yang turut berhijrah
tersebut terdapat pemuda Najed dari Bani Tamim yang dipanggil
dengan nama Amir ibn Abdillah At-Tamimi Al-Anbari. Usianya masih
remaja, masih lunak kulitnya, putih wajahnya, suci jiwanya dan
takwa hatinya.
Meskipun masih berstatus baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya
di negeri kaum muslimin dan paling melimpah hartanya, karena
tertumpuk di dalamnya hasil ghanimah perang dan tambang emas
murni.
Namun begitu, bagi pemuda dari Bani Tamim ini hal itu bukanlah
yang dia cari. Beliau dikenal zuhud terhadap apa yang dimiliki
manusia, berharap terhadap apa yang ada di sisi Allah,
berpaling dari dunia dan perhiasannya, menghadapkan jiwanya
kepada Allah dan keridhaan-Nya.
Ketika itu pemuka Bashrah adalah seorang sahabat agung Abu Musa
Al-Asy’ari, semoga Allah meridhainya dan menjadikan wajahnya
berseri di jannah-Nya. Beliau adalah Walikota Bashrah yang
bercahaya. Beliau juga panglima perang kaum muslimin yang
berasal dari Bashrah setiap kali menghadapi musuh. Beliau adalah
imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya menuju ke
jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kepada Abu Musa Al-Asy’ari inilah Amir ibn Abdillah berguru.
Baik dalam kondisi perang maupun damai. Aktif menemani beliau
setiap menempuh perjalanan, meneguk ilmu darinya tentang
Kitabullah yang masih segar seperti tatkala diturunkan di hati
Muhammad. Juga mengambil hadits shahih yang bersambung hingga
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mulia. Beliau menuntut
ilmu tentang agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala di hadapan Abu Musa
Al-Asy’ari.
Setelah beliau menyempumakan ilmu sesuai yang dikehendaki, maka
beliau membagi hidupnya menjadi tiga bagian.
- Bagian pertama adalah untuk halaqah dzikir di masjid Bashrah
yang di sana dibacakan dan diajarkan Al-Qur’an kepada manusia.
- [size=10pt]Kedua, beliau pergunakan untuk mengenyam manisnya
ibadah, beliau pancangkan kedua kakinya berdiri di hadapan Allah
hingga letih kedua telapak kakinya.
- [size=10pt]Ketiga, untuk terjun ke medan jihad, beliau
menghunus pedangnya untuk berperang di jalan Allah. Seluruh
umurnya tidak pernah absen sedikitpun dari tiga kesibukan
tersebut, sehingga beliau dikenal sebagai abid (ahli ibadahnya)
dan ahli zuhudnya penduduk Bashrah.
[size=11pt]Di antara berita tentang keadaan Amir ibn Abdillah
adalah seperti yang dikisahkan oleh seorang putra Bashrah yang
mengatakan: “Aku pernah mengikuti safar bersama rombongan yang
di dalamnya terdapat Amir [i]ibn Abdillah, tatkala menjelang
malam kami singgah di hutan. Aku melihat Amir mengemasi
barang-barangnya, mengikat kendaraannya di pohon dan
memanjangkan tali pengikatnya, mengumpulkan rerumputan yang
dapat mengenyangkan kendaraannya dan meletakkan di hadapannya…
kemudian beliau masuk ke hutan dan menghilang di dalamnya. Aku
berkata kepada diriku sendiri: “Demi Allah aku akan mengikutinya
dan aku ingin melihat apa yang sedang ia kerjakan di tengah
hutan malam ini.” Aku melihat Amir berjalan hingga berhenti di
suatu tempat yang lebat pepohonannya dan tersembunyi dari
pandangan manusia. Lalu dia menghadap ke kiblat, berdiri untuk
shalat. Aku tidak melihat shalat yang lebih bagus, lebih
sempurna dan lebih khusyuk dari shalatnya. Setelah berlalu
beberapa raka’at yang dikehendaki Allah, dia berdo’a kepada
Allah dan bermunajah kepada-Nya. Di antara yang dia ucapkan
adalah: “Wahai Ilahi, sungguh Engkau telah menciptakan aku
dengan perintah-Mu, lalu Engkau tempatkan aku ke dunia ini
sesuai kehendak-Mu, lalu Engkau perintahkan “berpegang
teguhlah!”, bagaimana aku akan berpegang teguh jika Engkau tidak
meneguhkan aku dengan kelembutan-Mu Yaa Qawiyyu yaa Matiin!
Wahai Ilahi… sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa seandainya aku
memiliki dunia dan seluruh isinya, kemudian diminta demi meraih
ridha-Mu niscaya aku akan memberikan kepada orang yang
memintanya, maka berikanlah jiwaku kepadaku ya Arhamar Rahimin!
Wahai Ilahi… kecintaanku kepada-Mu yang sangat, membuatku terasa
ringan menghadapi musibah, ridha atas segala qadha’, maka aku
tidak peduli apapun yang menimpa diriku pagi dan sore harinya
selagi masih bisa mencintaiMu.”[/i]
Putra Bashrah itu melanjutkan: “Kemudian rasa kantuk
mendatangiku hingga aku tertidur. Berkali-kali aku tidur dan
bangun sedangkan Amir masih tegak di tempatnya, tetap dalam
shalat dan munajahnya sampai datanglah waktu subuh.
🟢Usai shalat shubuh beliau berdo'a:
“Ya Allah, waktu subuh telah datang, manusia segera bangun dan
pergi mencari karunia-Mu. Sesungguhnya masing-masing mereka
memiliki keperluan, dan sesungguhnya keperluan Amir disisi-Mu
adalah agar Engkau mengampuninya. Ya Allah, kabulkanlah
keperluanku dan juga keperluan mereka ya Akramal Akramin. Ya
Allah, sesungguhnya aku telah memohon kepada-Mu tiga perkara,
lalu Engkau mengabulkan dua di antaranya dan tinggal satu saja
yang belum. Ya Allah, perkenankanlah permohonan tersebut
sehingga aku bisa beribadah kepada-Mu sesuka hatiku dan
sekehendakku!.”
Beliau beranjak dari tempat duduknya dan tiba-tiba pandangan
matanya tertuju kepadaku. Beliau terperanjat dan berkata:
“Apakah Anda membuntutiku sejak kemarin malam wahai saudaraku
dari Bashrah?” Aku menjawab: “Benar.” Beliau berkata:
“Rahasiakanlah apa yang Anda lihat, semoga Allah merahasiakan
aib Anda!” Aku menjawab: “Demi Allah, engkau beritahukan aku
terlebih dahulu tentang tiga permohonanmu kepada Allah tersebut,
atau aku akan memberitahukan kepada manusia tentang apa yang aku
lihat darimu.” Beliau berkata: “Duhai celaka, jangan sampai Anda
beritahukan kepada orang lain!” Aku katakan: “Dengan syarat
engkau penuhi permintaanku padamu.” Maka tatkala beliau melihat
keseriusanku, beliau berkata: “Akan aku ceritakan asalkan Anda
mau berjanji kepada Allah untuk tidak menceritakan hal ini
kepada siapapun.” Aku berkata: “Baiklah aku berjanji kepada
Allah untuk tidak menyebarkan rahasia ini selagi Anda masih
hidup.”
Lalu beliau berkata: “Tiada sesuatu yang memudharatkan agama
yang lebih aku takuti dari fitnah wanita, maka aku memohon
kepada Rabb-ku agar mencabut rasa cinta (syahwatku) kepada
wanita, maka Allah mengabulkan do’aku sehingga tatkala aku
berjalan, aku tidak peduli apakah yang aku lihat seorang wanita
ataukah tembok.” Aku berkata: “Ini yang pertama, lantas apa yang
kedua?” Beliau menjawab: “Yang kedua adalah, aku memohon kepada
Rabb-ku agar tidak diberi rasa takut kepada siapapun selain Dia,
maka Allah mengabulkan aku, sehingga demi Allah, tiadalah yang
aku takuti baik yang di langit dan di bumi selain Dia.”
Aku bertanya: “Lantas apa do’a yang ketiga?” Beliau menjawab:
“Aku memohon kepada Allah agar menghilangkan rasa kantuk dan
tidur sehingga aku bisa beribadah kepada-Nya di malarn dan siang
hari sesuka hatiku, namun Allah belum mengabulkannya.” Tatkala
aku mendengar dari beliau, aku berkata: “Kasihanilah dirimu,
Anda telah melakukan shalat di malam hari dan shaum di siang
hari, padahal jannah dapat diraih dengan amal yang lebih ringan
dari apa yang Anda kerjakan. Dan neraka dapat dihindari dengan
perjuangan yang lebih ringan dari apa yang Anda usahakan.”
Beliau berkata: “Aku takut jika nantinya aku menyesal selagi
tiada bermanfaat sedikitpun penyesalan itu. Demi Allah aku akan
bersungguh-sungguh untuk beribadah, tidak ada pilihan lain, jika
aku selamat itu semata-mata karena rahmat Allah, jika aku masuk
neraka maka itu karena keteledoranku.”
Amir ibn Abdillah bukan sekedar ahli ibadah di waktu malam saja,
namun juga mujahid di siang harinya. Tiada penyeru jihad fii
sabilillah memanggil melainkan beliau segera mendatanginya.
Sudah menjadi kebiasaan beliau, manakala hendak bergabung
bersama para mujahidin yang hendak berperang, beliau
melihat-lihat kelompok pasukan untuk memilihnya. Jika beliau
dapatkan yang sesuai, beliau berkata kepada mereka: “Wahai
saudara, sesungguhnya aku ingin bergabung bersama kelompok
kalian ini jika kalian mau mengabulkan tiga permintaanku.”
Mereka bertanya: “Apa tiga permintaan tersebut?” Beliau
menjawab: “Pertama, hendaknya kalian perkenankan aku untuk
menjadi pelayan bagi keperluan kalian, maka tidak boleh
seorangpun di antara kalian merebut tugas tersebut. Kedua,
hendaknya akulah yang dijadikan mu’adzin, maka tidak boleh
seorangpun di antara kalian merebut tugas adzan untuk shalat.
Ketiga, hendaknya kalian ijinkan aku untuk menginfakkan hartaku
kepada kalian sesuai kemampuanku.” Jika mereka menjawab: “ya”,
maka beliau segera bergabung, namun jika dijawab tidak, maka
beliau mencari kelompok pasukan lain yang mau menerima
permintaan tersebut.
Sungguh, di kalangan para mujahidin tersebut Amir ibn Abdillah
mengambil bagian yang banyak dalam hal resiko dan kesusahan,
namun mengambil bagian terkecil dalam hal yang menyenangkan
(pembagian ghanimah). Beliau terjun di kancah peperangan dengan
gigih yang tiada orang lain segigih beliau dalam berperang.
Akan tetapi di saat pembagian ghanimah, tiada yang lebih enggan
menerima daripada beliau.
Inilah Sa’ad ibn Abi Waqash tatkala usai perang Qadisiyah di
Istana Kisra, beliau perintahkan Amru ibn Muqarrin untuk
mengumpulkan ghanimah dan menghitungnya agar selanjutnya
seperlima dari ghanimah tersebut dapat dikirim ke baitul maal
bagi kaum muslimin. Adapun sisanya dibagikan kepada para
mujahidin. Maka dikumpulkanlah harta benda berharga yang luar
biasa banyaknya. Di sana ada keranjang besar yang tertutup oleh
tumpukan bebatuan berisi penuh bejana-bejana dari emas dan perak
yang biasa dipakai oleh raja-raja Persi untuk makan dan minum.
Ada pula sebuah kotak dari kayu mewah yang tatkala dibuka
ternyata berisi baju-baju, pakaian dan selendang kaisar yang
berenda permata dan mutiara. AdaAda juga kotak yang berisi
senjata-senjata milik raja-raja Persi terdahulu, dan
pedang-pedang para raja maupun pemimpin yang tunduk kepada Persi
sepanjang perjalanan sejarah. lagi kotak perhiasan yang berisi
barang-barang berharga seperti kalung dan perhiasan yang
beraneka ragam.
Di saat orang-orang bekerja menghitung ghanimah di bawah
pengawasan kaum muslimin… tiba-tiba muncullah seorang laki-laki
yang kusut dan berdebu sedang membawa kotak perhiasan yang
berukuran besar dan berat bebannya, dia mengangkat dengan kedua
tangannya sekaligus.
Mereka memperhatikan dengan seksama, mata mereka belum pernah
melihat kotak perhiasan sebesar itu, belum ada pula di antara
kotak perhiasan yang telah terkumpul yang setara atau mendekati
besarnya dengan kotak tersebut. Mereka melihat apa yang ada di
dalamnya, ternyata penuh berisi perhiasan permata dan intan,
lalu mereka bertanya kepada laki-laki tersebut: “Di manakah Anda
dapatkan simpanan yang berharga itu?” Orang tersebut menjawab:
“Aku dapatkan dalam peperangan anu.. di tempat anu..” Mereka
bertanya, “Sudahkah Anda mengambil sebagiannya? “Orang itu
menjawab: “Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian! Demi
Allah, sesungguhnya kotak perhiasan ini dan seluruh apa yang
dimiliki raja-raja Persi bagiku tidaklah sebanding dengan kuku
hitamku. Kalaulah bukan karena ini merupakan hak bagi kaum
muslimin niscaya aku tidak sudi mengangkatnya dari dalam tanah
dan tidak akan aku bawa kesini.” Mereka bertanya: “Siapakah
Anda, semoga Allah memuliakan Anda!” Orang itu menjawab: “Demi
Allah, aku tidak akan memberitahukannya karena kalian nanti
akan memujiku, tidak pula aku ceritakan kepada selain kalian
karena mereka akan menyanjungku. Akan tetapi aku memuji Allah
Subhanahu Wa Ta’ala dan mengharap pahala-Nya.” Kemudian ia
meninggalkan mereka dan pergi. Mereka menyuruh seseorang untuk
mengikuti laki-laki tersebut untuk memberitahukan kepada mereka
siapa sebenarnya laki-laki misterius tersebut. Utusan tersebut
terus membuntuti di belakangnya tanpa sepengetahuan beliau
hingga sampai kepada para sahabatnya. Utusan tersebut bertanya
kepada mereka perihal laki-laki itu, lalu mereka menjawab:
“Apakah Anda belum tahu siapa laki-laki itu? Dialah ahli
zuhudnya orang Basrah… Amir ibn Abdillah At-Tamimi.”
Meski demikian gemilangnya perjalanan hidup Amir ibn Abdillah
-sebagaimana yang Anda lihat- namun beliau tidak terhindar pula
dari hasutan dan gangguan manusia.
Beliau menghadapi resiko seperti yang biasa dialami oleh orang
yang lantang menyuarakan kebenaran, mencegah kemungkaran dan
berusaha untuk menghilangkannya.
Peristiwa yang melatarbelakangi beliau mendapatkan hasutan
tersebut bermula ketika beliau melihat salah seorang anak buah
dari kepala polisi Bashrah sedang memegang leher seorang ahli
dzimmah dan menariknya. Sementara orang dzimmi tersebut
berteriak meminta tolong kepada manusia: “Tolonglah aku semoga
Allah menolong kalian! Tolonglah ahli dzimmah (yang dilindungi)
Nabi kalian wahai kaum muslimin!” Maka Amir ibn Abdillah
menghampirinya dan bertanya:
“Kamu sudah menunaikan jizyah yang menjadi kewajibanmu?” Ahli
dzimmah itu menjawab: “Ya, aku sudah menunaikannya.” Kemudian
Amir menoleh kepada orang yang memegang leher ahli dzimmah
tersebut dan bertanya: “Apa yang Anda inginkan darinya?” Dia
menjawab: “Aku ingin dia pergi bersamaku untuk membersihkan
kebun milik Kepala Polisi.” Amir bertanya kepada si dzimmi:
“Anda berhasrat untuk kerja di tempat tersebut?” Si dzimi
menjawab: “Tidak, karena tugas itu akan memeras tenagaku dan aku
tidak bisa mencari makan untuk keluargaku!” Lalu Amir menoleh
lagi kepada laki-laki yang memegang leher dzimi tersebut:
“Lepaskan dia!” Ia menjawab: “Aku tidak akan melepaskannya.”
Maka tidak ada pilihan bagi Amir selain menyelamatkan orang
dzimmi tersebut sambil berkata: “Demi Allah, tidak boleh
perjanjian orang dzimmi (untuk dilindungi) dengan nabi Muhammad
dibatalkan selagi saya masih hidup.” Kemudian berkumpullah
manusia dan turut membantu Amir mengalahkan polisi itu dan
akhirnya selamatlah orang dzimmi tersebut. Sebagai
pelampiasannya teman-teman petugas polisi tersebut menuduh Amir
sebagai orang yang tidak ta’at pemerintah dan keluar dari ahlus
sunnah wal jama’ah. Mereka berkata: “Dia tidak mau menikah
dengan wanita… tidak mau makan daging hewan dan susunya… tidak
mau menghadiri pertemuan yang diadakan pemerintah…” Dan mereka
mengadukan persoalan tersebut kepada amirul mukminin Utsman ibn
Affan.
Khalifah memerintahkan wali Bashrah untuk memanggil Amir ibn
Abdillah dan meminta keterangan kepadanya perihal tuduhan yang
ditujukan atasnya, lalu hasilnya agar dilaporkan kepada
khalifah. Maka wali Bashrah memanggil Amir dan berkata:
“Sesungguhnya amirul mukminin –semoga Allah memanjangkan
umurnya- telah menyuruhku bertanya kepadamu perihal
perkara-perkara yang dituduhkan kepada Anda.” Amir menjawab:
“Silakan Anda bertanya sesuai dengan yang diinginkan amirul
mukminin.” Lalu wali Bashrah bertanya: “Mengapa Anda menjauhi
sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak mau
menikah?” Beliau menjawab: “Aku tidak menikah bukan karena ingin
menyimpang dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
karena aku tahu bahwa tidak ada kerahiban (hidup membujang untuk
beribadah) dalam Islam. Namun aku hanya memiliki satu jiwa saja,
maka aku jadikan ia untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan aku
khawatir jika istriku kelak akan mengalahkan hal itu.”
Wali berkata: “Lalu mengapa Anda tidak mau makan daging?” Beliau
menjawab: “Aku bersedia memakannya bila aku berselera dan aku
mendapatkannya. Namun apabila aku tidak berselera atau aku
berselera namun tidak mendapatkannya maka aku tidak memakannya.”
Beliau ditanya lagi: “Mengapa Anda tidak mau makan keju?” Beliau
menjawab: “Sesungguhnya di daerah saya banyak tinggal
orang-orang majusi yang membuat keju, mereka adalah suatu kaum
yang tidak membedakan antara bangkai dengan hewan yang
disembelih, sehingga saya khawatir jika minyak yang merupakan
satu bagian dari bahan pembuat keju berasal dari hewan yang
tidak disembelih. Jika telah ada dua orang muslim yang melihat
bahwa keju tersebut dibuat dari minyak hewan yang disembelih,
tentulah aku akan memakannya.” Beliau ditanya: “Apa yang
menghalangi Anda untuk mendatangi pertemuan yang diadakan
pemerintah dan menyaksikannya?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya
di depan pintu kalian begitu banyak orang yang ingin dipenuhi
hajatnya, maka undanglah mereka ke tempat kalian dan cukupilah
kebutuhan mereka dengan apa yang kalian punya, dan biarkanlah
orang yang tidak meminta kebutuhan kepada kalian.”
Usai pertemuan tersebut, jawaban Amir ibn Abdillah ini
dilaporkan kepada amirul mukminin Utsman ibn Affan dan khalifah
memandang tidak ada indikasi menyimpang dari keta’atan atau
keluar dari ahlussunnah wal jama’ah pada diri Amir.
Hanya saja api kejahatan belum padam sampai di situ, isu yang
membicarakan keburukan Amir ibn Abdillah makin gencar, hingga
nyaris saja terjadi fitnah antara pembela beliau dengan
orang-orang yang menjadi saingannya, lalu 'Utsman ibn Affan
radhiyallahu’anhu memerintahkan beliau untuk berpindah ke negeri
Syam dan menjadikan negeri tersebut sebagai tempat tinggalnya.
Khalifah mewasiatkan Walikota Syam Mu’awiyah ibn Abi Sufyan
untuk menyambut baik kedatangan Amir dan menjaga kehormatannya.
Sampailah hari di mana Amir ibn Abdilah memutuskan untuk
berpindah dari Bashrah. Para sahabat dan murid-murid beliau
keluar untuk mengucapkan perpisahan dengan beliau. Mereka
mengantar beliau hingga sampai di Marbad, setibanya di sana
beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya saya adalah penyeru
maka jagalah seruanku.” Lalu orang-orang melongok agar dapat
melihat beliau dan mereka tenang tidak bergerak dan mata mereka
tertuju kepada beliau, sementara beliau mengangkat kedua
tangannya dan berdo’a: “Ya Allah, orang yang telah menghasut dan
mendustaiku serta menjadi sebab terusirnya aku dari negeriku,
memisahkan antara diriku dengan para sahabatku… Ya Allah
sesungguhnya aku telah memaafkannnya, maka maafkanlah dia.
Berilah ia karunia kesehatan dalam agama dan dunianya.
Limpahkanlah aku, dia dan juga seluruh kaum muslimin dengan
rahmat-Mu, ampunan-Mu dan kebaikan-Mu wahai Yang Paling
pengasih.” Kemudian beliau mengarahkan kendaraannya menuju Syam.
Amir ibn Abdillah memutuskan hidup di negeri Syam untuk mengisi
sisa-sisa umurnya. Beliau memilih Baitul Maqdis sebagai tempat
tinggal dan beliau mendapatkan perlakuan baik dari pemimpin Syam
Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, dihormati dan dihargai.
Tatkala beliau sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau
menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis.
Mereka bertanya:
“Apa yang menyebabkan Anda menangis, padahal Anda memiliki
keutamaan ini dan itu?.” Beliau menjawab: “Demi Allah aku
menangis bukan karena ingin hidup lama di dunia atau takut
menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya
perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh, aku berada
di antara tebing dan jurang… bisa jadi ke jannah bisa jadi pula
tergelincir ke neraka, aku tidak tahu dimana aku akan sampai…”
Kemudian beliau menghela nafas pelan sedang lisannya basah
dengan dzikrullah… di sana… di sana… di kiblat yang pertama…
Haramain yang ketiga… tempat Rasul [i]Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam melakukan isra’… Amir ibn Abdilah At-Tamimi berdiam
diri.[/i]
Semoga Allah menerangi Amir di dalam kuburnya dan
membahagiakannya di jannah-Nya yang kekal. Ꞁ[size=8pt]1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1