URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
       *****************************************************
       #Post#: 357--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
       (Lainnya): Atba’ ibn Abi Rabah
   DIR By: LeManz
       Date: January 1, 2024, 2:05 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; ‘Atha' ibn Abi Rabah [font=georgia]rahimahullah[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=189
       “Saya tidak melihat orang yang mencari ilmu karena Allah,
       kecuali tiga orang yakni: ‘Atha’, Thawus, dan Mujahid.” Salamah
       [i]ibn Kuhail. Kita sekarang memasuki sepuluh hari terakhir
       bulan Dzul Hijjah tahun 97 H. Dan rumah tua (Ka’bah) ini
       disesaki oleh tamu-tamu Allah dari segala penjuru; para pejalan
       kaki dan para pengendara, Tua dan muda, Laki-laki dan perempuan,
       berkulit hitam dan putih; orang arab dan non Arab serta tuan dan
       ada yang dipertuan alias rakyat. Mereka semua telah datang
       menghadap Raja manusia dengan khusyu’ seraya bertalbiyah dan
       mengharapkan pahala Allah.[/i]
       Tersebutlah, Sulaiman ibn Abdul Malik, seorang Khalifah kaum
       muslimin dan salah seorang raja agung yang pernah bertahta di
       muka bumi sedang berthawaf di sekeliling Ka’bah dengan kepala
       terbuka dan bertelanjang kaki. Dia hanya mengenakan kain sarung
       dan selendang. Kondisinya kala itu sama seperti
       saudara-saudaranya fillah yang menjadi rakyat jelata. Sementara
       di belakangnya ada dua orang putranya, keduanya adalah dua anak
       muda yang keceriaan wajahnya bagaikan bulan purnama dan wangi
       dan kilauannya ibarat bunga yang sedang mekar. Begitu khalifah
       menyelesaikan thawafnya, beliau menengok ke arah salah seorang
       pengawalnya sembari berkata, “Di mana sahabatmu?.” Orang itu
       menjawab, “Dia di sana sedang shalat”, Sambil menunjuk ke pojok
       Barat Masjid Al-Haram. Lalu Khalifah dengan diikuti kedua
       putranya menuju tempat yang ditunjuk oleh pengawal tersebut.
       Para pengawal pribadinya ingin mengikuti khalifah guna
       melebarkan jalan bagi dan melindunginya dari suasana
       berdesak-desakan. Akan tetapi Khalifah melarang mereka melakukan
       hal itu sembari berkata,
       “Para raja dan rakyat jelata sama kedudukannya di tempat ini.
       Tidak seorang pun yang lebih mulia dari orang lain, kecuali
       berdasarkan penerimaan (terhadap amalnya) dan ketakwaan. Boleh
       jadi ada orang yang kusut dan lusuh berdebu datang kepada Allah,
       lalu Allah menerima ibadahnya dan pada saat yang sama, para raja
       tidak diterima oleh-Nya."
       Kemudian Khalifah berjalan menuju orang tersebut, lalu dia
       mendapatinya masih melaksanakan shalat, khusyu’ di dalam ruku’
       dan sujudnya. Sedangkan orang-orang duduk di belakang, di
       sebelah kanan dan kirinya, lalu Khalifah duduk di barisan paling
       belakang dari majlis tersebut dan mendudukkan kedua anaknya di
       situ. Mulailah dua anak muda Quraisy ini mengamati laki-laki
       yang dituju Amirul mu’minin (bapak mereka) dan duduk bersama
       orang-orang awam lainnya; menunggunya hingga selesai dari
       shalatnya.
       Ternyata orang itu adalah seorang tua yang berasal dari
       Habasyah, berkulit hitam, berambut keriting lebat dan pesek
       hidungnya. Jika dia duduk tampak bagaikan gagak hitam.
       Ketika orang itu telah selesai dari shalatnya, dia menoleh ke
       arah dimana Khalifah berada. Lalu Sulaiman ibn Abdul Malik, Sang
       Khalifah memberi salam dan orang itu membalasnya.
       Saat itulah Khalifah menyongsongnya dan bertanya tentang manasik
       haji, dari satu hal ke hal lainnya, dan orang itu menjawab
       setiap pertanyaan dengan jawaban yang tuntas dan memerincinya
       sehingga tidak memberikan kesempatan lagi bagi si penanya untuk
       bertanya lagi. Dan dia juga menisbahkan setiap perkataan yang
       diucapkannya kepada sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
       Wassallam.
       Ketika Khalifah telah selesai mengajukan pertanyaannya, beliau
       mengucapkan, “Mudah-mudahan Allah membalas anda dengan
       kebaikan,” dan beliau berkata kepada kedua putranya,
       “Berdirilah,” lalu keduanya berdiri… Kemudian mereka bertiga
       berlalu menuju tempat sa’i.
       Ketika mereka bertiga di pertengahan jalan menuju tempat sa’i,
       antara Shafa dan Marwa, kedua anak muda itu mendengar ada
       orang-orang yang berseru, “Wahai kaum muslimin, siapapun tidak
       boleh memberi fatwa kepada orang-orang di tempat ini, kecuali
       ‘Atha’ ibn Abi Rabah. Dan jika dia tidak ada, maka Abdullah ibn
       Abi Nujaih.
       Maka salah satu dari kedua anak muda itu menoleh kepada ayahnya
       seraya berkata, “Bagaimana mungkin pegawai Amirul mu’minin bisa
       menyuruh orang-orang supaya tidak meminta fatwa kepada siapapun
       selain kepada ‘Atha’ ibn Abi Rabah dan sahabatnya kemudian kita
       telah datang meminta fatwa kepada orang ini?… seorang yang tidak
       peduli terhadap kehadiran Khalifah dan tidak memberikan
       penghormatan yang layak terhadapnya?.”
       Maka Sulaiman berkata kepada putranya, “Orang yang telah kamu
       lihat -wahai anakku- dan yang kamu lihat kita tunduk di depannya
       inilah ‘Atha’ ibn Abi Rabah, pemilik fatwa di Masjid Haram dan
       pewaris Abdullah ibn Abbas di dalam kedudukan yang besar ini.”
       Kemudian Khalifah melanjutkan perkataannya, “Wahai anakku,
       belajarlah ilmu, karena dengan ilmu orang rendah akan menjadi
       mulia, orang yang malas akan menjadi pintar dan budak-budak akan
       melebihi derajat raja.”
       Perkataan Sulaiman ibn Abdul Malik kepada putranya tentang
       masalah ilmu tidaklah berlebihan. Karena ‘Atha’ ibn Abi Rabah
       pada masa kecilnya adalah hamba sahaya milik seorang perempuan
       penduduk Makkah. Akan tetapi, Allah ‘Azza Wa Jalla memuliakan
       budak Habasyah ini, dengan meletakkan kedua kakinya semenjak
       kecil di jalan ilmu. Dia membagi waktunya menjadi tiga bagian:
       Satu bagian untuk majikan perempuannya, mengabdi kepadanya
       dengan sebaik-baik pengabdian dan memberikan hak-haknya dengan
       sempurna. Dan satu bagian dia jadikan untuk Tuhannya. Waktu ini
       dia gunakan untuk beribadah dengan sepenuh-penuhnya,
       sebaik-baiknya dan se-ikhlas-ikhlasnya kepada Allah ‘Azza wa
       Jalla. Dan satu bagian lagi dia jadikan untuk mencari ilmu. Dia
       banyak berguru kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam yang masih hidup, dan menyerap ilmu-ilmu mereka
       yang banyak dan murni.
       Dia berguru kepada Abu Hurairah, ‘Abdullah ibn Umar, ‘Abdullah
       ibn Abbas, Abdullah ibn Az-Zubair dan sahabat-sahabat mulia
       lainnya radhiyallahu’anhum, sehingga hatinya dipenuhi ilmu,
       fiqih dan riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Ketika Majikan perempuannya melihat bahwa budaknya telah menjual
       jiwanya kepada Allah dan mewakafkan hidupnya untuk mencari ilmu,
       maka dia melepaskan haknya terhadap ‘Atha’, kemudian
       memerdekakannya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa
       Jalla, Mudah-mudah Allah menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan
       kaum muslimin.
       Semenjak hari itu, ‘Atha’ ibn Abi Rabah menjadikan Baitul Haram
       sebagai tempat tinggalnya, sebagai rumahnya, tempat dia berteduh
       dan sebagai sekolahan yang dia belajar di dalamnya, sebagai
       tempat shalat yang dia bertaqarrub kepada Allah dengan penuh
       ketakwaan dan keta’atan. Hal ini membuat ahli sejarah berkata,
       “Masjid Haram menjadi tempat tinggal ‘Atha’ ibn Abi Rabah kurang
       lebih dua puluh tahun.”
       Seorang tabi’i yang mulia ‘Atha’ ibn Abi Rabah ini telah sampai
       kepada kedudukan yang sangat tinggi di dalam bidang ilmu dan
       sampai kepada derajat yang tidak dicapai, kecuali oleh beberapa
       orang semasanya.
       Telah diriwayatkan bahwa ‘Abdullah ibn Umar sedang menuju ke
       Makkah untuk beribadah umrah. Lalu orang-orang menemuinya untuk
       bertanya dan meminta fatwa, maka ‘Abdullah berkata,
       “Sesungguhnya saya sangat heran kepada kalian, wahai penduduk
       Makkah, mengapa kamu mengerumuniku untuk menanyakan suatu
       permasalahan, sedangkan di tengah-tengah kalian sudah ada ‘Atha’
       ibn Abi Rabah?!.”
       ‘Atha’ ibn Abi Rabah telah sampai kepada derajat agama dan ilmu
       dengan dua sifat:
       Pertama, bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas
       jiwanya. Dia tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk
       bersenang-senang dengan sesuatu yang tidak berguna.
       Kedua, bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas
       waktunya. Dia tidak membiarkannya hanyut di dalam perkataan dan
       perbuatan yang melebihi keperluan.
       Muhammad ibn Suqah bercerita kepada pengunjungnya, “Maukah kamu
       mendengar suatu ucapan, barangkali ucapan ini dapat memberi
       manfaat kepadamu, sebagaimana ia telah memberi manfaat
       kepadaku?.”
       Mereka berkata, “Baik.”
       Dia berkata, “Pada suatu hari, ‘Atha’ ibn Abi Rabah
       menasehatiku, Dia berkata, ‘Wahai keponakanku, Sesungguhnya
       orang-orang sebelum kami dahulu tidak menyukai perkataan yang
       sia-sia.” Lalu aku berkata, ‘Dan apa perkataan yang sia-sia
       menurut mereka?’ ‘Atha’ berkata, ‘Dahulu mereka menganggap
       setiap perkataan yang bukan membaca atau memahami Kitab Allah
       ‘Azza Wa Jalla sebagai perkataan sia-sia. Demikian pula dengan
       bukan meriwayatkan dan mengaji hadits Rasulullah Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam atau menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang
       mungkar atau ilmu yang dapat dibuat taqarrub kepada Allah Ta’ala
       atau kamu berbicara tentang kebutuhanmu dan ma’isyahmu yang
       harus dibicarakan Kemudian dia mengarahkan pandangannya kepadaku
       dan berkata, Apakah kamu mengingkari, “Sesungguhnya bagi kamu
       ada (Malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu).” (QS.
       Al-Infithar, Ayat: 10)
       Dan bersama setiap kamu ada dua malaikat, “Seorang duduk di
       sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu
       ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat
       pengawas yang selalu hadir.“ (QS. Qaaf, Ayat: 17-18)
       Kemudian dia berkata, “Apakah salah seorang di antara kita tidak
       malu, jika buku catatannya yang dia penuhi awal siangnya dibuka
       di depannya, lalu dia menemukannya apa yang tertulis di dalamnya
       bukan urusan agamanya dan bukan urusan dunianya.”
       Allah Azza wa Jalla benar-benar menjadikan ilmu ‘Atha’ ibn Abi
       Rabah bermanfaat bagi banyak golongan manusia. Di antara mereka
       ada orang-orang yang khusus ahli ilmu dan ada orang-orang
       pekerja dan lain-lainnya.
       Imam Abu Hanifah An-Nu’man bercerita tentang dirinya. Dia
       berkata: Aku telah berbuat kesalahan dalam lima bab dari manasik
       haji di Makkah, lalu tukang cukur mengajariku…yaitu bahwa aku
       ingin mencuckur rambutku supaya aku keluar dari ihram, lalu aku
       sewaktu hendak cukur, aku berkata, “Dengan bayaran berapa anda
       mencukur rambutku?”
       Maka tukang cukur itu menjawab: “Mudah-mudahan Allah memberi
       petunjuk kepada anda. Ibadah tidak disyaratkan dengan bayaran,
       duduklah dan berikan sekedar kerelaan.” Maka aku merasa malu dan
       aku duduk, namun aku duduk dalam keadaan berpaling dari arah
       kiblat.
       Lalu tukang cukur itu menoleh ke arahku supaya aku menghadap
       kiblat, dan aku menurutinya, dan aku semakin grogi.
       Kemudian aku menyilakannya supaya dia mencukur kepalaku sebelah
       kiri, tetapi, dia berkata, “Berikan bagian kanan kepala anda,
       lalu aku berputar. Dan mulailah dia mencukur kepalaku, sedangkan
       aku terdiam sambil melihatnya dan merasa kagum kepadanya. Lalu
       dia berkata kepadaku, “Kenapa anda diam? Bertakbirlah.” Lalu aku
       bertakbir, sehingga aku berdiri untuk siap-siap pergi. Lalu dia
       berkata: Ke mana anda akan pergi? Maka aku menjawab, “Aku akan
       menuju kendaraanku.” Lalu dia berkata, shalatlah dua raka’at,
       kemudian pergilah kemana anda suka.” Lalu aku shalat dua raka’at
       dan aku berkata di dalam hati, “Seorang tukang cukur tidak akan
       berbuat seperti ini, kecuali dia adalah orang yang berilmu.”
       Maka aku berkata kepadanya: Dari mana anda dapatkan manasik yang
       anda perintahkan kepadaku ini?
       Maka dia berkata: Demi Allah, Aku telah melihat ‘Atha’ ibn Abi
       Rabah melakukannya lalu aku mengikutinya dan aku mengarahkan
       orang lain kepadanya.
       Dunia telah berdatangan kepada ‘Atha’ ibn Abi Rabah namun dia
       berpaling dan menolaknya dengan keras Dia hidup sepanjang
       umurnya hanya dengan mengenakan baju yang harganya tidak
       melebihi lima dirham.
       Para Khalifah telah mengundangnya supaya dia menemani mereka.
       Akan tetapi bukan dia tidak memenuhi ajakan mereka, karena
       mengkhawatirkan agamanya daripada dunianya; akan tetapi
       disamping itu dia datang kepada mereka jika dalam kedatangannya
       ada manfaat bagi kaum muslimin atau ada kebaikan untuk Islam. Di
       antaranya seperti yang diceritakan oleh Utsman ibn ‘Atha’
       Al-Khurasani, dia berkata, “Aku di dalam suatu perjalanan
       bersama ayahku, kami ingin berkunjung kepada Hisyam ibn Abdul
       Malik. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus, tiba-tiba
       kami melihat orang-tua di atas Himar hitam, dengan mengenakan
       baju jelek dan kasar jahitannya. serta memakai jubah lusuh dan
       berpeci. Tempat duduknya terbuat dari kayu, maka aku tertawakan
       dia dan aku berkata kepada ayah, “Siapa ini?” Maka ayah berkata,
       “Diam, ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz ‘Atha’ ibn
       Abi Rabah.” Ketika orang itu telah dekat dengan kami, ayah turun
       dari keledainya.
       Orang itu juga turun dari himarnya, lalu keduanya berpelukan dan
       saling menyapa. Kemudian keduanya kembali menaiki kendaraannya,
       sehingga keduanya berhenti di pintu istana Hisyam ibn Abdul
       Malik. Ketika keduanya telah duduk dengan tenang, keduanya
       dipersilakan masuk. Ketika ayah telah ke luar, aku berkata
       kepadanya, Ceritakanlah kepadaku; tentang apa yang anda berdua
       lakukan, maka ayah berkata, “Ketika Hisyam mengetahui bahwa
       ‘Atha’ ibn Abi Rabah berada di depan pintu, beliau segera
       mempersilakannya masuk- dan demi Allah, aku tidak bisa masuk,
       kecuali karena sebab dia, dan ketika Hisyam melihatnya, beliau
       berkata, Selamat datang, selamat datang. Kemari, kemari, dan
       terus beliau berkata kepadanya, Kemari, kemari, sehingga beliau
       mempersilakan duduk bersamanya di atas permadaninya, dan
       menyentuhkan lututnya dengan lututnya.” Dan di antara
       orang-orang yang duduk adalah orang-orang besar, dan tadinya
       mereka berbincang-bincang lalu mereka terdiam. Kemudian Hisyam
       menghadap kepadanya dan berkata, “Apa keperluan anda wahai Abu
       Muhammad?” ‘Atha’ berkata, “Wahai Amirul Mu’minin; Penduduk
       Haramain (Makkah dan Madinah) adalah penduduk Allah dan tetangga
       Rasul-Nya, berikanlah kepada mereka rizki-rizki dan
       pemberian-pemberian. Maka Hisyam menjawab, “Baik, Wahai ajudan;
       Tulislah untuk penduduk Makkah dan Madinah pemberian-pemberian
       dan rizki-rizki mereka untuk waktu satu tahun.
       Kemudian Hisyam berkata, Apakah ada keperluan lain wahai Abu
       Muhammad?.” ‘Atha’ berkata, “Ya Wahai Amirul Mu’minin, penduduk
       Hijaz dan penduduk Najd adalah inti arab dan pemuka Islam, maka
       berikanlah kepada mereka kelebihan sedekah mereka.” Maka Hisyam
       berkata, “Baik, wahai ajudan, tulislah, bahwa kelebihan sedekah
       mereka dikembalikan kepada mereka.”
       “Apakah ada keperluan lain selain itu wahai Abu Muhammad?” Ya
       Wahai Amirul Mu’minin, Kaum muslimin yang menjaga di perbatasan,
       mereka berdiri di depan musuh-musuh anda, dan mereka akan
       membunuh setiap orang yang berbuat jahat kepada kaum muslimin,
       maka berikanlah sebagian rizki kepada mereka, karena kalau
       mereka mati, maka perbatasan akan hilang.”
       Maka Hisyam berkata, “Baik, wahai ajudan, tulislah, supaya
       dikirim rizki kepada mereka.” “Apakah ada keperluan lain wahai
       Abu Muhammad?”
       ‘Atha’ berkata, “Ya, wahai Amirul mu’minin; Orang-orang kafir
       dzimmi supaya tidak dibebani dengan apa yang mereka tidak mampu,
       karena apa yang anda tarik dari mereka adalah merupakan bantuan
       untuk anda atas musuh anda.”
       Maka Hisyam berkata, “Wahai ajudan tulislah untuk orang-orang
       kafir dzimmi, supaya mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang
       mereka tidak mampu.”
       “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?
       ‘Atha’ berkata, Ya, Bertakwalah kepada Allah di dalam diri anda
       wahai Amirul mu’minin, dan ketahuilah bahwa anda diciptakan di
       dalam keadaan sendiri. dan anda akan mati didalam keadaan
       sendiri…dan anda akan dibangkitkan di dalam keadaan sendiri dan
       anda akan dihisab dalam keadaan sendiri dan demi Allah tidak
       seorang pun dari orang yang anda lihat bersama anda.”
       Maka Hisyam menyungkurkan wajahnya ke tanah dan menangis, lalu
       ‘Atha’ berdiri dan aku berdiri bersamnya.
       Dan ketika kami telah sampai ke pintu, ternyata ada seseorang
       yang mengikuti ‘Atha’ dengan membawa kantong, dan aku tidak tahu
       apa yang ada di dalamnya, dan orang itu berkata kepadanya,
       “Sesungguhnya Amirul mu’minin mengirim ini kepada anda.” Maka
       ‘Atha’ berkata, “Maaf aku tidak akan menerima ini.”
       “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas
       ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta
       alam.” (QS. Asy-Syuara’, Ayat: 109)
       &#128994;Demi Allah, Sesungguhnya ‘Atha’ menemui Khalifah dan
       keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun. Selanjutnya
       ‘Atha’ ibn Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga seratus
       tahun. Umur itu dia penuhi dengan ilmu, amal, kebaikan dan
       takwa. Dan dia membersihkannya dengan zuhud dari kekayaan yang
       ada di tangan manusia dan sangat mengharap ganjaran yang ada di
       sisi Allah. Ketika dia wafat, dia di dalam keadaan ringan dari
       beban dunia. Banyak berbekal dengan amal akhirat. Selain itu,
       Dia melakukan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali, beliau
       melakukan di dalammya 70 kali wukuf di Arafah. Di sana dia
       memohon kepada Allah keridhaan-Nya dan surga-Nya dan memohon
       perlindungan kepada-Nya dari murka-Nya dan dari neraka-Nya.
       &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: -Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa’d: 2/386.- Hilyatul
       Auliya’, oleh Abu Nu’aim: 3/310.- Sifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu
       Al-Jauzi: 2/211. – Wafayat Al-A’yan, oleh Ibnu Khalkan: 3/261 –
       Thabaqat Asy-Syairazi: lembar ke 17. – Nukatu Al-Hamya: 199. –
       Al-I’tidal: 2/197 – Tadzkiratu Al-Huffadz: 1/92. – Tahdzib
       At-Tahdzib: 7/199.
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1