DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
*****************************************************
#Post#: 354--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
(Lainnya): Muhammad Ibnu Wa’asi Al Azdiy
DIR By: LeManz
Date: January 1, 2024, 2:04 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy
[font=georgia]rahimahullah[/font]
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=191
“Para umara memiliki qurra, orang-orang kaya memiliki qurra dan
Muhammad [i]ibn Waasi’ adalah qurranya ar-Rahman” kata Malik ibn
Dinar. Kita sekarang berada di bawah pemerintahan khilafah
Amirul Mukminin Sulaiman ibn Abdul Malik. Inilah Yazid ibn
al-Muhallab ibn Abi Shufrah salah seorang dari suyuuful Islam
(pedang Islam) yang terhunus dan wali Khurasan yang gagah
perkasa.[/i]
Ia bergerak bersama pasukannya yang berjumlah seratus ribu
personil, belum termasuk para sukarelawan dari para pencari
syahid dan orang-orang yang mengharapkan pahala.
Ia bertekad untuk menaklukkan “Jurjaan” dan “Thabaristan”*…Dan
adalah di antara para pelopor sukarelawan seorang tabi’in mulia
(yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy al-Anshari yang di beri
gelar Zainul Fuqaha (hiasan para fuqaha)…dan dikenal dengan
sebutan ‘Abid al-Bashrah (ahli ibadahnya Bashrah) serta murid
seorang sahabat mulia Anas ibn Malik al-Anshari, pelayan
Rasulullah .
Yazib ibn al-Muhallab singgah bersama pasukannya di “Dihistan”
yang dihuni sekelompok kaum dari “Turki” yang sangat keras
siksanya, sangat kuat dan sangat kokoh bentengnya.
Setiap hari mereka keluar untuk memerangi kaum muslimin. Apabila
ditimpa kepayahan dan pertempuran bertambah sengit mendesak
mereka, mereka berlindung di jalan-jalan perbukitan. Mereka
bertahan di benteng-benteng yang kokoh dan berlindung di
puncak-puncaknya yang tinggi.
Adalah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy memiliki peran signifikan
dalam pertempuran ini walaupun secara fisik kelihatan lemah dan
usianya telah lanjut.
Dan sungguh tentara muslimin mendapatkan ketenangan dengan
cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang lembut. Mereka
bersemangat untuk mendapatkan hangatnya dzikir yang menyala dari
lisannya yang sejuk. Mereka merasa tenteram dengan do’a-do’anya
yang mustajab di saat-saat genting dan bencana.
Yang biasa ia lakukan, apabila panglima pasukan telah menerobos
masuk ke medan perang, ia menyeru, “Wahai pasukan Allah naiklah…
wahai pasukan Allah naiklah…”
Hampir-hampir tidaklah tentara muslimin mendengar seruannya
kecuali mereka segera merangsak maju memerangi musuhnya
sebagaimana bergeraknya singa-singa yang menerkam. Mereka
mendatangi medan pertempuran bak orang-orang yang kehausan
mendatangi air dingin di hari yang terik.
Pada suatu pertempuran dari hari-hari pertempuran yang sengit
tersebut, muncullah seorang penunggang kuda dari barisan musuh
yang mana mata tidak pernah melihat badan yang sekekar itu,
begitu kuat, pemberani dan sangat kuat keteguhannya. Ia terus
saja menerobos masuk ke tengah-tengah barisan sehingga
memojokkan kaum muslimin dari tempat-tempat mereka. Ia juga
menimbulkan rasa takut dan gentar di hati mereka.
Kemudian ia mulai mengajak mereka untuk berduel menantang dengan
sombong. Ia terus mengulangi tantangannya.
Maka, tidaklah Muhammad ibn Waasi’ mendengar ajakannya kecuali
ia bertekad untuk berduel dengannya.
Di saat itulah kegagahan (keberanian) merayap dalam jiwa pasukan
muslimin…Salah seorang dari mereka mendatangi orang-tua ini dan
bersumpah agar ia tidak melakukannya dan memohonnya supaya
membiarkannya mengantikannya. Orang tua itu lantas mengabulkan
sumpahnya dan mendo’akan kemenangan dan pertolongan untuknya.
Kedua prajurit tersebut saling mendatangi lawannya laksana
datangnya kematian. Keduanya saling menerkam laksana dua singa
yang kuat. Mata dan hati seluruh tentara memperhatikan dari
setiap tempat. Keduanya terus saling menerkam dan menyerang
beberapa saat hingga kelelahan.
Di saat yang bersamaan keduanya saling menebas kepala lawannya…
Adapun pedang prajurit Turki menancap di penutup kepala prajurit
muslim…sedangkan pedang prajurit muslim turun mengenai pelipis
prajurit Turki sehingga membelah kepalanya menjadi dua bagian.
Terpecahlah kepalanya menjadi dua…
Prajurit yang menang tersebut kembali ke barisan muslimin di
bawah tatapan mata yang tidak pernah menyaksikan pemandangan
seperti itu.
Pedang di tangannya meneteskan darah…
Dan sebuah pedang menancap di atas ‘helm’-nya berkilat di bawah
sinar matahari.
Kaum muslimin menyambutnya dengan tahlil, takbir dan tahmid.
Yazid ibn al-Muhallab memandang kepada kilatan dua pedang itu,
‘helm’ dan senjata orang tersebut. Ia berkata, “Alangkah
menakjubkannya prajurit ini!!, “Manusia apakah dia?.”
Maka dikatakan kepadanya bahwa ia adalah orang yang telah
mendapatkan berkah dari do’anya Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.
Neraca kekuatan berbalik setelah tewasnya prajurit Turki…rasa
takut dan gentar menjalar di dalam diri kaum musyrikin seperti
api yang menyambar daun ilalang yang kering-kerontang.
Api semangat dan izzah kemudian menyala dalam dada kaum
Muslimin.
Mereka mendatangi musuhnya laksana datangnya air bah…
Mereka mengepungnya seperti kalung yang melingkar di leher…
Mereka juga memutuskan (pintu-pintu) air dan suplai makanan.
Sehingga raja mereka tidak menemukan jalan selain perdamaian. Ia
kemudian mengirim utusan kepada Yazid untuk menawarkan
perdamaian kepadanya, dan mengumumkan kesiapannya untuk
menyerahkan negara yang ada dalam kekuasaannya dengan segenap
apa dan siapa yang ada padanya, dengan jaminan ia (Yazid)
memberikan keamanan kepada dirinya, harta dan keluarganya.
Yazid menerima perdamaian darinya dan memberikan syarat agar ia
memberikan tujuh ratus ribu dirham kepadanya dengan cara
diangsur dan membayar tunai di muka sebesar empat ratus ribu.
Dan memberikan empat ratus kendaraan yang dipenuhi dengan
Za’faraan** kepadanya. Dan hendaklah ia menggiring empat ratus
orang, pada tangan setiap orang terdapat satu gelas yang terbuat
dari perak dan di atas kepalanya terdapat Burnus*** dari sutra
dan di atas Burnus terdapat Thailasan**** yang terbuat dari
beludru sutra dan selendang sutra yang akan di pakai oleh
istri-istri para prajurit.
Ketika peperangan telah mereda, Yazid ibn al-Muhallab berkata
kepada penjaga gudangnya, “Hitunglah Ghanimah yang kita raih
sehingga kita bisa memberi kepada setiap orang haknya.”
Si penjaga gudang dan orang yang bersamanya berusaha untuk
menghitungnya namun mereka kewalahan. Akhirnya ghanimah tersebut
dibagi di antara prajurit dengan pembagian yang dibangun atas
toleransi.
Dalam ghanimah tersebut, kaum muslimin menemukan sebuah mahkota
yang di lapisi emas murni, dihias dengan berlian dan mutiara,
dan dihias dengan ukiran-ukiran yang indah.
Orang-orang saling mendongakkan leher (untuk melihat)
kearahnya…mata-mata tidak berkedip memengkaung kemilaunya.
Yazid memungut dengan tangannya dan mengangkatnya sehingga yang
belum melihatnya bisa melihatnya, kemudian ia berkata, “Apakah
kalian melihat ada orang yang zuhud terhadap mahkota ini?!”
“Semoga Allah memperbaiki keadaan tuanku… siapakah orangnya yang
akan zuhud kepadanya” jawab mereka.
Ia berkata, “Kalian akan melihat, bahwa masih ada pada umat
Muhammad orang yang zuhud terhadapnya dan terhadap sepenuh bumi
yang sepertinya.”
Ia menoleh kepada pengawalnya dan berkata, “Carilah Muhammad ibn
Waasi’ al-Azdiy untukku.”
Penjaga tersebut segera bertolak mencarinya di setiap arah…dan
ia menemukannya telah menepi di tempat yang jauh dari manusia.
Ia berdiri tegak mengerjakan shalat sunnah dan berdo’a serta
memohon ampun.
Ia lantas menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya Amir memanggilmu
untuk menemuinya, dan memintamu untuk berangkat ke sana sekarang
juga.”
Ia berangkat bersama penjaga, hingga ketika ia telah berada di
sisi Amir, ia mengucapkan salam dan duduk di dekatnya. Amir
menjawab salamnya dengan yang lebih baik darinya.
Ia kemudian mengangkat mahkota dengan tangannya dan berkata,
“Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya tentara muslimin telah
beruntung dengan (mendapatkan) mahkota yang berharga ini…dan aku
berpendapat untuk memuliakanmu dengannya, dan menjadikannya
termasuk bagianmu, sehingga jiwa para tentara pun menjadi lega
dengannya.”
“Engkau menjadikannya termasuk bagianku, wahai amir?!” katanya.
“Ya, termasuk bagianmu,” kata Amir
Ia berkata, “Aku sama sekali tidak membutuhkannya wahai
Amir…semoga engkau dan mereka dibalasi dengan kebaikan atasku.”
“Aku bersumpah dengan nama Allah atasmu agar kamu mengambilnya,”
kata Amir.
Ketika Amir bersumpah, Muhammad ibn Waasi’ pun terpaksa
mengambil mahkota, kemudian ia memohon pamit kepadanya dan
beranjak pergi.
Beberapa orang yang tidak mengenal syaikh berkata, “Inilah
orangnya yang telah mengkhususkan dirinya dengan mahkota dan ia
pergi membawanya.”
Yazid lantas memerintahkan seorang budaknya untuk menguntitnya
dengan sembunyi-sembunyi… dan untuk memperhatikan apa yang akan
ia perbuat dengan mahkota tersebut… kemudian datang dengan
membawa beritanya.
Budak tersebut menguntitnya sedangkan syaikh tidak
mengetahuinya.
Muhammad ibn Waasi’ berjalan di jalannya sedangkan mahkota
barada di tangannya…ia lalu dihadang oleh seseorang yang
berambut acak-acakan, berdebu dan berpenampilan dekil, ia
memintanya dengan berkata, “Dari harta Allah….”
Syaikh memengkaung ke sebelah kanannya, kirinya dan
belakanganya…ketika ia yakin tidak ada seorang pun yang
melihatnya, ia menyerahkan mahkota tersebut kepada orang yang
meminta tadi…kemudian ia bertolak dengan perasaan gembira dan
senang… seakan-akan ia telah melemparkan beban berat dari
pundaknya yang memberatkan punggungnya.
Budak tersebut lantas memegang tangan si peminta tadi, lalu
membawanya kepada Amir dan ia menceritakan kisahnya kepadanya…
Amir kemudian mengambil mahkota tesebut dari tangan si peminta,
dan menggantinya dengan harta yang cukup sehingga menjadikannya
ridla. Kemudian ia menoleh kepada para tentaranya dan berkata,
“Bukankah sudah aku katakan kepada kalian, sesungguhnya masih
ada di antara umat Muhammad orang-orang yang zuhud terhadap
mahkota ini dan yang semisalnya dan yang semisalnya.”
Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terus saja ikut berjihad
(memerangi) musyrikin di bawah bendera Yazid ibn al-Muhallab
hingga musim haji mendekat.
Ketika tidak tersisa di hadapannya kecuali hanya waktu yang
singkat, ia masuk menemui Amir dan meminta ijinnya untuk
berangkat mengerjakan nusuk.*****
Yazid berkata kepadanya, “Ijinmu berada di tanganmu sendiri
wahai Abu Abdillah, berangkatlah kapan saja kamu mau…dan kami
telah memerintahkan untuk memberikan harta kepadamu agar bisa
membantu hajimu.”
Ia menjawab, “Apakah kamu juga memerintahkan (untuk memberikan)
seperti harta ini kepada setiap tentara-tentaramu wahai Amir?!”
“Tidak…” jawab Amir
Ia berkata, “Aku tidak punya hajat dengan sesuatu yang aku
dikhususkan dengannya tanpa tentara muslimin yang lain.”
Ia kemudian mengucapkan selamat berpisah dan segera berangkat.
Kepergian Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terasa begitu memberatkan
Yazid ibn al-Muhallab sebagaimana juga terasa berat atas tentara
muslimin yang telah berjalan di temani olehnya.
Mereka merasa bersedih atas terhalangnya pasukan yang menang
dari berkah-berkahnya, mereka berharap agar ia kembali lagi
setelah selesai menunaikan nusuk-nya.
Tidaklah mengherankan, sungguh para panglima muslimin yang
tersebar di seluruh penjuru negeri telah berlomba-lomba agar
‘Abidul Bashrah (yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy berada
dalam kelompok pasukannya. Mereka bergembira dengan
keberadaannya bersama mereka dengan kebaikan yang banyak…mereka
mengharap kepada Allah ’Azza Wa Jalla agar menganugerahkan
kemenangan gemilang dengan kebaikan do’anya dan berkahnya yang
banyak.
Selanjutnya, alangkah mulia jiwa-jiwa ini yang terasa begitu
kecil di matanya… (namun) begitu besar di sisi Allah dan para
manusia. Alangkah mulia sejarah ini yang telah beruntung dengan
orang-orang langka dari manusia-manusia yang menakjubkan. Sampai
berjumpa lagi bersama ‘Abidul Bashrah Muhammad ibn Waasi’
al-Azdiy.
✻ Bersama Qutaibah ibn Muslim (Kemesraan Ulama dan
Penguasa)
“Sesungguhnya jemari-jemari Muhammad [i]ibn Waasi’ al-Azdiy
lebih aku cintai daripada seribu pedang yang terhunus yang
dibawa oleh seribu pemuda yang gagah”[/i] (Qutaibah ibn Muslim)
Kita sekarang berada pada tahun 87 H…
Inilah kebanggaan kaum muslimin seorang panglima al-Faatih (yang
telah menaklukkan banyak kota) yaitu Qutaibah ibn Muslim
al-Bahili, ia berangkat bersama pasukannya yang banyak dari kota
Marwa* mengarah ke daerah Bukhara.**
Ia bertekad untuk menaklukkan apa yang tersisa dari
negeri-negeri Maa Waraa’ an-Nahri***…dan memerangi ujung Cina
dan mewajibkan jizyah (upeti) kepada para penduduknya.
Akan tetapi belum sampai Qutaibah ibn Muslim menyeberangi sungai
“Sihuun“**** penduduk Bukhara sudah mengetahui dan bersiap-siap
(menghadapinya). Berhamburlah mereka memukul genderang
pertempuran di setiap tempat.
Mereka mulai memanggil kaum-kaum yang berada di sekitar mereka
dari ash-Shughd,***** Turki, Cina dan yang lainnya.
Maka, terhimpunlah pasukan besar dari berbagai kulit dan asal,
juga bahasa dan agama…hingga jumlah mereka sampai berlipat-lipat
melebihi kaum muslimin baik dari segi perbekalan maupun
jumlahnya.
Mereka segera menutup mulut-mulut jalan di hadapan kaum
muslimin…mereka juga menutup perbatasan dan jalan-jalan.
Sampai-sampai Qutaibah ibn Muslim tidak mampu menyusupkan
detasemen kecil dari detasemen-detasemennya kepada mereka untuk
mencuri berita tentang keadaan mereka dan datang dengan membawa
beritanya… Sebagaimana tidak seorangpun dari mata-matanya yang
disebar di antara mereka mampu untuk menembusnya.
Qutaibah ibn Muslim membangun perkemahan bersama pasukannya
dekat dengan kota “Bailand”, ia menetap di sana tidak maju dan
tidak pula mundur.
Bersama terbitnya pagi, mulailah musuh muncul (menyerangnya)
dengan front terdepannya, dan mencoba kekuatan pasukannya
sepanjang siang. Apabila malam telah gelap mereka kembali ke
benteng-benteng mereka yang kokoh lagi aman.
Keadaan seperti ini terus berlanjut selama dua bulan
berturut-turut. Dan Qutaibah bingung dibuatnya. Ia tidak tahu
apakah akan mundur atau maju?.
Tidak berselang lama, hingga berita tentang Qutaibah dan
tentaranya sampai ke telinga kaum muslimin di setiap tempat.
Orang-orang pun bersedih terhadap pasukan besar yang belum
pernah terkalahkan… dan panglima agung yang belum terkalahkan.
Pengarahan-pengarahan berdatangan kepada para wali di seluruh
kota untuk mendo’akan pasukan muslimin yang sedang berjuang
keras di negeri Maa Waraa’ an-Nahri setiap selesai shalat.
Masjid-masjid mulai bergema dengan do’a untuk mereka…
Menara-menara adzan terus bergaung dengan do’a dan permohonan.
Para imam bersungguh-sungguh melakukan qunut nazilah pada setiap
shalat.
Berhamburanlah jumlah yang banyak untuk menolong pasukan yang
kuat itu. Dan adalah yang memimpin mereka seorang tabi’in mulia
Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.
Adalah Qutaibah ibn Muslim al-Bahili memiliki seorang mata-mata
keturunan ‘ajam (non Arab), ia orang yang diakui pengalamannya,
hikmahnya dan kecerdikannya. Ia biasa dipanggil “Taidzar.”
Para musuh kemudian merayu dan memikatnya agar mau bergabung
dengan mereka. Mereka memberikan kepadanya harta secara royal.
Mereka meminta kepadanya untuk mempergunakan muslihat dan
kecerdikannya guna melemahkan kekuatan muslimin, dan membawa
mereka untuk meninggalkan negeri tersebut tanpa peperangan.
“Taidzar” masuk menemui Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy,
majlisnya pada saat itu penuh dengan para pembesar panglimanya
dan para tentaranya. Ia lalu mengambil tempat di dekatnya,
kemudian memiringkan badannya dan membisikkan ke telinganya,
“Wahai amir, kosongkanlah majlismu bila engkau kehendaki.”
Qutaibah memberikan isyarat kepada orang yang berada di
majlisnya agar beranjak, semuanya beranjak pergi kecuali Dlirar
ibn al-Hushain yang diminta Qutaibah untuk tetap tinggal.
Di saat itulah “Taidzar” menoleh kepada Qutaibah dan berkata,
“Aku memiliki berita untukmu wahai amir…”
“Sampaikanlah,” Qutaibah berkata dengan penasaran.
Taidzar berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin di Damaskus telah
memecat al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqofi…dan memecat para
panglima yang dipimpinnya…engkau termasuk salah satunya. Ia
telah mengangkat para panglima baru untuk pasukannya dan
mengerahkan mereka ke tempat-tempat kerja mereka. Dan
sesungguhnya orang yang akan menggantikanmu akan datang dalam
waktu yang tidak lama lagi. Dan aku mengusulkan agar engkau
segera meninggalkan negeri ini bersama pasukanmu. Dan hendaklah
engkau kembali ke Marwa untuk memikirkan urusanmu jauh dari
medan pertempuran.
Belum selesai “Taidzar” menyempurnakan perkataannya hingga
Qutaibah ibn Muslim memanggil budaknya “Siyaah”, ketika ia telah
berada di depannya, Qutaibah berkata kepadanya, “Penggallah
leher pengkhianat ini wahai Siyaah!.”
Siyaah kemudian memenggal lehernya dan kembali ke tempatnya
semula.
Lalu Qutaibah menoleh kepada Dlirar ibn al-Hushain dan berkata,
“Tidak ada seorangpun di bumi ini yang mendengar berita tersebut
selain aku dan kamu, sungguh aku bersumpah demi Allah Yang Maha
Tinggi lagi Maha Agung, apabila perkara ini diketahui oleh
seseorang sebelum berakhirnya perang kita ini, sungguh-sungguh
aku akan menyusulkanmu dengan pengkhianat ini (memenggalmu).
Apabila kamu memiliki hajat dalam dirimu, maka sembunyikanlah
perkara ini dan jangan engkau ceritakan kepada siapapun.
Ketahuilah bahwa tersebarnya pembicaraan ini akan melemahkan
kekuatan pasukan…dan akan menimpakan kekalahan yang menyakitkan
kepada kita.”
Qutaibah kemudian mengijinkan orang-orangnya masuk menemuinya.
Tatkala mereka melihat “Taidzar” terkapar di tanah, tenggelam
dalam darahnya…mereka berdiri kaget, diam dan ketakutan.
Maka, Qutaibah berkata kepada mereka, “Apa yang menjadikan
kalian takut dengan kematian seorang pengkhianat?”
Mereka menjawab, “Kami (dahulu) menganggapnya seorang pemberi
nasihat bagi kaum muslimin.”
“Bahkan ia adalah seorang penipu bagi mereka (muslimin),
sehingga Allah mengadzabnya dengan sebab dosanya,” kata Qutaibah
Ia kemudian mengangkat suaranya seraya berkata, “Sekarang
berangkatlah untuk memerangi musuh kalian…dan hadapilah dengan
hati yang berbeda dengan hati yang kalian gunakan untuk
menghadapi mereka sebelumnya.”
Para pasukan melaksanakan perintah panglima mereka Qutaibah ibn
Muslim. Mereka menyeberangi perbatasan untuk menghadapi musuh.
Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin melihat
jumlah musuh yang banyak dan perlengkapan serta persiapan mereka
yang cukup, hal ini menjadian hati mereka dipenuhi rasa takut
dan gentar.
Qutaibah merasakan apa yang berputar dalam pikiran pasukannya,
ia pun berkeliling di antara pleton-pleton dan meneguhkan niat
serta menguatkan tekad mereka.
Ia menoleh kepada orang-orang di sekelilingnya dan berkata,
“Dimana Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.”
“Ia berada di sayap kanan, wahai amir,” jawab mereka
“Apa yang ia lakukan,” katanya
Mereka menjawab, “Ia sedang bersandar pada tombaknya, matanya
terbuka dan ia menggerakkan jemarinya ke arah langit…apakah kami
memanggilnya untukmu wahai amir?”
“Biarkan ia,” katanya, kemudian ia menyambung perkataannya,
“Demi Allah, sesungguhnya jari-jari itu lebih aku cintai dari
pada seribu pedang yang terhunus dibawa oleh seribu pemuda yang
gagah… biarkan ia berdo’a… kami tidak mengenalnya kecuali orang
yang terkabulkan do’anya.”
Pasukan muslimin dan pasukan musuh saling bergerak menerjang
seperti singa-singa yang akan menyergap buruannya.
Bertemulah dua pasukan laksana bertemunya gelombang samudera
yang berkejaran sambung-menyambung di waktu badai.
Allah menurunkan ketenangan di hati kaum muslimin…dan Allah
membantu mereka dengan pertolongan dari sisi-Nya. Mereka terus
membabatkan pedang ke arah musuh sepanjang siang, hingga ketika
malam telah datang, Allah menggetarkan kaki-kaki kaum musyrikin
dan melemparkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga mereka
lari tunggang langgang meninggalkan kaum muslimin. Para
mujahidin mengungguli mereka dengan membunuh, menawan dan
mengusir.
Di saat itulah mereka meminta perdamaian dan fidyah (tebusan)
kepada Qutaibah…ia pun menerima perdamaian dari mereka.
Di antara tawanan musuh ada seorang yang buruk jiwanya, sangat
jahat perangainya dan memiliki pengaruh yang kuat untuk
menggerakkan kaumnya melawan kaum muslimin…ia berkata kepada
Qutaibah ibn Muslim, “Aku akan menebus diriku wahai amir.”
Maka dikatakan kepadanya, “Berapa yang akan kamu berikan
(sebagai tebusan).”
Ia menjawab, “Lima ribu (kain) sutra Cina yang berharga satu
juta.”
Qutaibah menoleh ke arah pasukannya dan berkata, “Apa pendapat
kalian?”
Mereka menjawab “Kami melihat bahwa harta ini akan menambah
ghanimah kaum muslimin…kemudian setelah menjaga kemenangan ini,
kita tidak merasa takut terhadap kejahatan orang ini dan yang
semisalnya…”
Qutaibah lalu menoleh kepada Muhammad ibn Waasi’ dan berkata,
“Apa pendapatmu wahai Abu Abdillah?”
Ia menjawab, “Wahai amir, sesungguhnya kaum muslimin tidak
keluar dari rumah-rumah mereka untuk mengumpulkan ghanimah dan
memperbanyak harta, akan tetapi mereka keluar mengharap ridla
Allah… dan menyebarkan agama-Nya di muka bumi… serta (untuk)
menghajar musuhnya.”
“Jazakallah khairan… demi Allah, aku tidak akan membiarkannya
menakut-nakuti seorang muslimah setelah ini, walaupun ia
memberikan harta dunia sebagai tebusan untuk dirinya…” kata
Qutaibah.
Kemudian ia memerintahkan untuk membunuhnya.
Hubungan antara Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy dengan para
penguasa Bani Umayyah tidak terbatas dengan Yazid ibn
al-Muhallab dan Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy…akan tetapi
berlanjut kepada selain mereka berdua dari para wali dan umara.
Adalah di antara yang paling menonjol yang memiliki hubungan
dengannya adalah wali Bashrah yaitu Bilal ibn Abi Burdah.
Ada kisah-kisah yang (diceritakan) turun temurun dan masyhur
antara dirinya dengan guberner tersebut, juga cerita-cerita yang
diriwayatkan dan terjaga…di antaranya adalah, bahwa ia suatu
hari masuk menemuinya dengan mengenakan midra’ah****** kasar
yang terbuat dari wool. Maka Bilal berkata kepadanya, “Apa yang
mendorongmu untuk mengenakan pakaian kasar ini wahai Abu
Abdillah?”
Syaikh pun (Muhammad ibn Waasi’) menyibukkan dirinya dan tidak
menjawabnya.
Bilal memegangnya dan berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak
menjawabku wahai Abu Abdillah?!”
Ia menjawab, “Aku benci untuk mengatakan (bahwa aku) zuhud
sehingga aku mensucikan diriku…dan aku benci untuk mengatakan
bahwa aku fakir sehingga aku mengeluh kepada Tuhanku…dan aku
tidak menginginkan (jawaban) yang ini tidak juga yang itu.”
“Lalu apakah kamu punya hajat sehingga kami akan menunaikannya
wahai Abu Abdillah” tanya Bilal.
Ia menjawab, “Adapun aku, maka aku tidak punya hajat yang aku
memintanya kepada seorang pun dari manusia…hanyalah aku
mendatangimu pada suatu hajat untuk saudara muslim…apabila Allah
mengijinkan untuk menunaikannya maka engkau menunaikannya, dan
engkau terpuji… namun bila Allah tidak mengijinkannya maka
engkau tidak menunaikannya dan engkau termaafkan.”
“Bahkan aku akan menunaikannya dengan ijin Allah” katanya.
Kemudian ia menoleh kepadanya dan berkata, “Apa yang kamu
katakan tentang qadla dan qadar wahai Abu Abdillah?”
Ia menjawab, “Wahai amir…sesungguhnya Allah ’Azza Wa Jalla tidak
akan menanyai hamba-Nya tentang qadla dan qadar pada hari
kiamat… Dia hanyalah menanyai tentang amalan mereka.”
Sang Gubernur pun malu terhadapnya dan memilih diam.
Dan di saat syaikh sedang duduk di sisinya, tibalah waktu makan
siang, maka wali mengundangnya untuk makan tetapi ia menolaknya…
wali memaksanya, sehingga ia mulai beralasan dengan
bermacam-macam alasan…
Gubernur sedikit marah kepadanya, dan berkata, “Aku melihatmu
tidak suka menyantap makanan kami wahai Abu Abdillah!!!”
Ia berkata kepadanya “Engkau jangan berkata begitu wahai
amir…demi Allah, sungguh orang terbaik di antara kalian –wahai
sekalian para penguasa- benar-benar lebih aku cintai daripada
anak-anak kami dan keluaga kami yang terdekat.”
Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy telah diminta untuk menduduki
jabatan Qadla (pengadilan) lebih dari sekali namun ia menolaknya
dengan keras…dan disebabkan karena penolakannya ia telah
menyebabkan siksa untuk dirinya…
Di antarnya, bahwa Muhammad ibn al-Mundzir pejabat keamanan
Bashroh telah mengundangnya, dan ia berkata, “Sesungguhnya
penguasa Iraq meminta dariku untuk memanggilmu agar menduduki
jabatan Qadla.”
Ia menjawab, “Maafkan aku dari hal tersebut, semoga Allah
memaafkanmu.”
Ia (Muhammad ibn al-Mundzir) memintanya kembali untuk yang kedua
dan ketiga kalinya, namun ia terus menolaknya.
Ia berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh-sungguh kamu harus
menduduki jabatan Qadla, atau aku akan mencambukmu sebanyak tiga
ratus cambukan, dan sungguh-sungguh aku akan mempermalukanmu.”
“Kalau engkau mau melakukannya, sesungguhnya engkau adalah orang
yang bebas…dan sesungguhnya diadzab di dunia lebih baik daripada
diadzab di akhirat” jawabnya.
Ia (Muhammad ibn al-Mundzir) merasa malu (mendengar jawaban)
darinya dan ia pun melepaskannya dan memperlakukannya dengan
baik.
Majlis Muhammad ibn Waasi’ di masjid Bashrah merupakan tempat
bernaungnya para penuntut ilmu dan tempat berkumpulnya para
pencari hikmah dan mau’idzah.
Kitab-kitab tarikh dan sirah penuh dengan cerita-cerita tentang
majlisnya ini.
Di antaranya, bahwa salah seorang dari mereka berkata kepadanya,
“Berilah wasiat kepadaku wahai Abu Abdillah.”
“Aku wasiatkan kepadamu agar menjadi raja di dunia dan di
akhirat” jawabnya.
Si penanya terheran, dan berkata, “Bagaimana aku mendapatkan itu
wahai Abu Abdillah?!”
“Zuhudlah terhadap dunia yang fana ini, niscaya kamu akan
menjadi raja di sini dengan kamu merasa cukup (tidak
membutuhkan) terhadap apa yang ada di tangan manusia…dan kamu
akan menjadi raja di sana dengan mendapatkan kemenangan
memperoleh pahala yang baik di sisi Allah” jawab syaikh.
Orang lain lagi berkata kepadanya, “Sungguh aku mencintaimu
karena Allah wahai Abu Abdillah.”
“Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya”
jawab syaikh.
Kemudian ia (syaikh) pergi seraya berkata, “Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari aku dicintai karena-Mu sedangkan
Engkau membenciku.”
Dan setiap kali ia mendengar pujian manusia kepadanya dan
sanjungan mereka terhadap ketakwaan dan ibadahnya, ia berkata
kepada mereka, “Seandainya dosa-dosa mempunyai bau busuk yang
menyengat, maka tidak ada seorang pun dari kalian yang mampu
mendekat kepadaku karena ia akan merasa terganggu dengan bauku.”
Muhammad ibn Waasi’ senantiasa mendorong murid-muridnya untuk
selalu berpegang teguh dengan kitab Allah ’Azza Wa Jalla dan
hidup di bawah petunjuknya. Ia berkata, “Al-Qur’an adalah
kebunnya orang muslim… di manapun ia menempatinya, maka ia
singgah di taman…”
Sebagaimana ia juga mewasiati mereka untuk sedikit makan, ia
berkata, “Barangsiapa yang sedikit makannya akan faham dan bisa
memahamkan (orang lain)…ia akan suci dan menjadi lembut
(hatinya)…karena sesungguhnya banyak makan akan membikin orang
berat untuk melakukan banyak hal yang ia inginkan.”
Muhammad ibn Waasi’ telah sampai kepada tingkat ketakwaan dan
wara’ yang begitu agung. Banyak sekali cerita yang telah
diriwayatkan baginya akan hal tersebut…
Di antaranya, ia pernah terlihat berada di pasar, ia menawarkan
himarnya (keledainya) untuk dijual, maka ada seseorang yang
memintanya, “Apakah engkau ridla ia untukku wahai syaikh?”
“Apabila aku meridlainya untuk diriku maka aku tidak akan
menjualnya,” jawabnya.
Muhammad ibn Waasi’ telah menjalani seluruh hidupnya dengan
perasaan takut terhadap dosa-dosanya dan takut terhadap
dipaparkannya amalan di hadapan Tuhannya.
Apabila ditanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai Abu
Abdillah?
Ia menjawab, “Aku bangun dalam keadaan telah dekat ajalku… jauh
angan-anganku… dan buruk amalanku.”
Apabila ia melihat suatu keheranan yang nampak dari pancaran
wajah orang-orang yang menanyainya, ia berkata, “Apa prasangka
kalian terhadap orang yang setiap hari memutus satu tingkatan ke
akhirat?!”
Ketika Muhammad ibn Waasi’ jatuh sakit yang menjadi sebab akhir
hayatnya, orang-orang berdatangan membesuknya hingga rumahnya
tenggelam oleh banyaknya orang yang keluar masuk…yang berdiri
dan duduk di rumahnya…
Ia kemudian memiringkan badannya kepada salah seorang kerabatnya
dan berkata, “Kabarkan kepadaku, bahwa mereka tidak akan mampu
menolongku apabila esok (di hari kiamat) telah di pegang
ubun-ubun dan kaki kita?! Dan mereka tidak akan bermanfaat
untukku bila aku dilemparkan ke neraka?!
🟢Kemudian ia menghadap kepada Tuhannya dan mulai
berkata,
“Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu dari setiap tempat buruk
yang aku berdiri padanya… dari setiap tempat duduk yang buruk
yang aku duduki… dari setiap tempat masuk yang buruk yang aku
masuki… dari setiap tempat keluar yang buruk yang aku keluar
darinya… dari setiap amalan buruk yang aku kerjakan… dari setiap
perkataan buruk yang aku ucapkan. Ya Allah, aku memohon ampun
kepada-Mu dari itu semua, maka ampunilah aku. Aku bertaubat
kepada-Mu, maka terimalah taubatku… dan aku sampaikan salam
kepada-Mu sebelum aku dihisab.” Kemudian lepaslah ruhnya.
Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: · Tarikh al-Bukhari: 1/255 · At-Tarikh ash-Shaghir:
1/318-319 · Al-Jarh wat Ta’dil: 8/113 · Hilyatul Auliyaa:
2/345-357 · Al-Waafi bil Wifyaat: 5/272 · Tahdzibut Tahdziib:
9/499-500.
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1