DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
*****************************************************
#Post#: 352--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
(Lainnya): Rabi’ah Ar Ra’yi
DIR By: LeManz
Date: January 1, 2024, 2:03 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Rabi’ ibn Ziad al-Haritsy
[font=georgia]rahimahullah[/font]
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=193
Namanya adalah Ar-Rabi’ [i]ibn Ziad Al-Haritsy, Gubernur
Khurasan, penakluk Sajistan dan komandan yang gagah berani
sedang bergerak memimpin pasukannya berperang di jalan Allah
bersama budaknya yang pemberani, Farrukh. Setelah Allah
memuliakannya dengan penaklukan Sajistan dan belahan bumi
lainnya, dia bertekad untuk menutup kehidupannya yang semarak
dengan menyeberangi sungai Sihun (sebuah sungai besar yang
terletak setelah Samarkand, perbatasan Turkistan) dan mengangkat
bendera tauhid di atas puncak bumi yang disebut dengan Negeri Di
Balik Sungai itu.[/i]
Ar-Rabi’ ibn Ziad menyiapkan peralatan dan bekalnya untuk
peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Dan dia telah
menetapkan waktu dan tempat untuk menghadapi musuhnya.
Dan ketika peperangan telah berkobar, ar-Rabi’ dan pasukannya
yang gagah berani melancarkan serangan yang hingga kini masih
didokumentasikan oleh sejarah dengan penuh sanjungan dan
penghormatan.
Sementara budaknya, Farrukh telah menampakkan kegagahan dan
keberaniannya di medan laga sehingga membuat ar-Rabi’ tambah
kagum, hormat dan menghargai keistimewaannya itu.
Peperangan berakhir dengan kemenangan yang gemilang bagi kaum
muslimin. Mereka telah mampu menggoncang musuh,
mencerai-beraikan dan mengkocar-kacirkan pasukannya.
Kemudian mereka menyebrangi sungai yang menghalangi mereka untuk
menuju ke arah negeri Turki dan menahan laju mereka ke arah
negeri China dan kerajaan Shughd.
Ketika Panglima besar ini telah berhasil menyeberangi sungai dan
telah kedua kakinya telah menapak ke tanah pinggirannya, dia dan
pasukannya segera berwudhu dengan air sungai dengan
sebaik-baiknya.
Lalu mereka menghadap kiblat dan melakukan shalat dua raka’at
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, Penganugerah
kemenangan.
Setelah itu, dia membalas jasa budaknya, Farrukh dengan
memerdekakannya, memberinya bagian ghanimah yang sangat banyak,
ditambah harta pribadinya yang cukup banyak pula.
Kehidupan setelah hari yang cemerlang dan terang itu tidaklah
berlangsung lama bagi ar-Rabi’ ibn Ziad al-Haritsy.
Ajal pun menjemputnya setelah dua tahun dari tercapai impiannya
yang besar itu, untuk pergi menyongsong Rabbnya dengan penuh
ridha dan diridhai.
Sedangkan anak muda nan gagah lagi pemberani, Farrukh, kembali
ke Madinah al-Munawwarah dengan membawa bagian ghanimahnya yang
banyak dan pemberian berharga yang diberikan oleh panglima
besarnya.
Dan di atas semua itu, dia membawa kemerdekaan yang begitu mahal
harganya dan kenangan indah bersama ukiran kepahlawanan yang
dimahkotai oleh debu-debu peperangan.
Ketika menginjakkan kaki ke kota Rasulullah, Farrukh merupakan
seorang pemuda yang sempurna, energik dan penuh semangat ksatria
dan kepandaian berkuda. Ketika itu, usianya sudah menganjak
30-an tahun.
Farrukh telah berniat untuk membangun rumah tempat berteduh dan
memiliki seorang isteri tempat tambatan hatinya.
Lalu dia membeli sebuah rumah tipe menengah di Madinah dan
memilih seorang wanita yang cerdas otaknya, sempurna akhlaknya,
baik agamanya dan seumur dengannya, lalu dinikahinyalah wanita
itu.
Farrukh merasa nyaman dengan rumah yang dikaruniakan Allah
kepadanya.
Didampingi oleh sang isteri, dia juga mendapatkan rizki yang
memadai, perlakuan yang demikian baik dan kehidupan yang
cemerlang melebihi apa yang sebelumnya pernah diharapkan dan
dicita-citakannya.
Akan tetapi rumah yang mewah beserta kelebihannya dan istri yang
shalehah dengan segala yang dikaruniakan Allah kepadanya; sifat
yang baik dan prilaku yang agung, tidaklah mampu untuk
membendung hasrat sang ksatria Mukmin ini untuk kembali terjun
ke medan laga, kerinduan untuk mendengar suara gemerincing
pedang saling bersabetan dan kegandrungannya untuk kembali
berjihad di jalan Allah.
Setiap kali terdengar berita kemenangan pasukan muslim yang
berperang di jalan Allah di Madinah, semakin menyalalah
kerinduannya untuk berjihad dan semakin menggebulah hatinya
keinginannya mendapatkan kesyahidan.
Suatu kala di hari jum’at, Farrukh mendengar khathib masjid
Nabawi mengabarkan berita gembira perihal kemenangan pasukan
muslim di berbagai medan peperangan, mengajak jema’ah untuk
berjihad di jalan Allah dan menganjurkan untuk mencari
kesyahidan demi meninggikan agama-Nya dan mengharap
keridhaan-Nya,.
Maka pulanglah Farrukh ke rumahnya sementara dia telah memasang
tekad bulat untuk bergabung di bawah bendera kaum muslimin yang
bertebaran di bawah setiap komando. Dia menyampaikan niatnya
tersebut kepada sang isteri.
Maka sang istri menjawab,“Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa
engkau titipkan diriku dan jabang bayi yang sedang aku kandung
ini?! Sebab di Madinah ini adalah orang asing yang tidak
mempunyai keluarga dan sanak saudara.”
Lalu Farukh berkata,“Aku titipkan kamu kepada Allah dan
Rasul-Nya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu 30.000
dinar yang aku kumpulkan dari ghanimah perang; Jagalah dan
investasikanlah harta itu. Belanjakanlah untuk dirimu dan anakmu
darinya dengan baik hingga aku pulang dengan selamat dan membawa
ghanimah atau Allah karuniakan kepadaku kesyahidan yang aku
cita-citakan.”
Kemudian dia berpamitan dengannya dan pergi menuju tujuannya.
Istri yang cerdas otaknya ini kemudian melahirkan bayinya
setelah beberapa bulan dari kepergian sang suami.
Ternyata anaknya adalah laki-laki berwajah ceria, tampan dan
enak dipandang. Sang ibu sangat bahagia dengan kelahiranya,
sampai-sampai dia lupa akan kepergian ayahnya. Anak ini, dia
beri nama Rabi’ah.
Sejak kecil, tanda-tanda kecerdasan telah nampak pada anak kecil
ini. Tanda-tanda kepintaran itu nampak pada tingkah laku dan
perkataannya. Karena itu, sang ibu menyerahkannya kepada
beberapa orang guru dan berpesan kepada mereka agar
mengajarkannya dengan sebaik-baiknya. Dia juga mengundang
guru-guru akhlaq dan menyarankan merkea agar melakukan
penggemblengan yang ketat terhadapnya.
Tak berapa lama dari itu, sang anak sudah menekuni baca-tulis.
Dia juga dapat menghafal Kitabullah dan selalu membacanya secara
tartil dengan begitu indah layaknya saat diturunkan ke hati
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Begitu pula, dia banyak
menghafal hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pandai
memamerkan ungkapan Arab yang indah dan mengetahui
masalah-masalah agama yang esensial.
Untuk kebutuhan itu, Ummu Rabi’ah sudah banyak mengeluarkan
‘kocek’ buat para guru dan pendidik akhalq sang anak, demikian
juga memberi hadiah-hadiah kepada mereka. Setiap dia melihat
peningkatan ilmu sang anak, dia menambah uang buat mereka
sebagai bentuk kepeduliaan dan penghormatan.
Di samping hal itu, rupanya dia juga selalu menanti-nanti
kepulangan sang suami yang raib dan sudah berupaya untuk hanya
menjadikannya sebagai belahan hatinya dan anaknya.
Akan tetapi sang suami, Farrukh telah lama menghilang sementara
berita tentangnya masih simpang-siur; ada yang mengatakan dia
ditawan musuh. Ada yang mengatakan bahwa ia meneruskan jihad.
Sementara ada sekelompok orang lainnya yang sudah pulang dari
medan jihad bahwa ia telah meraih kesyahidan yang
diimpi-impikannya.
Bagi Ummu Rabi’ah pendapat terakhir ini lebih kuat karena sudah
terputusnya berita tentangnya. Karena itu, diapun sedih
sesedih-sedihnya yang membuat hatinya merana, lantas menyerahkan
semua itu kepada Allah Ta’ala semoga dibalas pahala atas
kesabarannya.
Ketika itu, Rabi’ah sudah beranjak remaja dan hampir masuk usia
pemuda.
Para pemberi nasehat berkata kepada ibundanya, “Ini si Rabi’ah
sudah menyelesaikan baca-tulis yang sudah semestinya
diselesaikan untuk orang seusianya. Bahkan dia unggul atas
teman-teman seumurnya; Dia hafal al-Qur’an dan juga meriwayatkan
hadits. Andaikata engkau pilihkan suatu pekerjaan yang dapat
menghasilkan kebaikan buatnya, pasti dengan begitu cepat dia
bisa menekuninya dan lantas dapat menafkahimu dan dirinya.”
Ibu Rabi’ah menjawab, “Aku memohon kepada Allah agar Dia
memilihkan untuknya hal terbaik bagi kehidupan dan akhiratnya…”
Sesungguhnya Rabi’ah telah memilih ilmu untuk dirinya dan
bertekad bulat untuk hidup sebagai penuntut ilmu dan pengajar
selama hayat dikandung badan.
Rabi’ah terus berlalu sesuai jalan yang telah digariskannya
untuk dirinya tanpa menunda-nunda dan berbuat teledor,
menyongsong halaqah-halaqah ilmu yang demikian sesak di masjid
Madinah sebagaimana layaknya seorang yang dahaga yang menuju
sumbe air nan lezat.
Dia berguru dengan para shahabat yang masih tersisa, terutama
Anas ibn Malik, khadim Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dia juga berguru dengan kontingen pertama dari generasi Tabi’in,
terutama Sa’id ibn al-Musayyib, Mak-hul asy-Syamy dan Salamah
ibn Dinar.
Dia terus berjerih payah pada malam hari dan siang harinya
hingga betul-betul kelelahan.
Kita pernah mendengar para gurunya berkata, “Sesungguhnya ilmu
itu tidak akan memberimu separoh dirinya kecuali bila kamu telah
memberinya seluruh ragamu.”
Tidak berapa lama berlalu, namanya kemudian menjadi bergema,
bintangnya telah berkibar dan saudara-saudaranya semakin banyak.
Para murid-muridnya amat menggandrunginya dan kaumnya telah
menjadikannya sebagai pemuka mereka.
Kehidupan ulama Madinah ini berjalan damai dan tentram; separoh
harinya dia berada di rumah bersama keluarga dan
saudara-saudaranya. Separuh lagi dia gunakan di masjid
Rasululullah guna menimba ilmu dari majlis-majlis dan
halaqahnya.
Kehidupannya berjalan samar-samar hingga terjadilah sesuatu yang
tidak pernah disangka-sangka
Pada suatu malam saat bulan purnama di musim panas, seorang
pejuang yang sudah berumur sekitar enam puluh tahun-an baru
sampai di Madinah.
Orang itu berjalan memasuki gang-gangnya dengan berkuda menuju
rumahnya. Dia tidak tahu, apakah rumahnya masih berdiri seperti
sedia kala atau sudah terjadi perubahan seiring dengan
perjalanan waktu.
Sudah lama ia tingglkan, yaitu selama tiga puluh tahun atau
sekitar itu.
Dia bertanya-tanya dalam hati tentang isterinya yang masih muda,
yang dia tinggalkan di rumah itu; apa yang telah dia lakukan?
Dan tentang jabang bayi yang dikandungnya; apakah anak laki-laki
atau perempuan yang lahir? Apakah dia hidup atau mati? Dan jika
hidup, bagaimana keadaannya?
Dia juga bertanya-tanya tentang uang banyak yang dia kumpulkan
dari beberapa ghanimah jihad, yang dia titipkan padanya ketika
akan berangkat berperang di jalan Allah bersama tentara kaum
muslimin yang bergerak untuk menaklukkan negeri Bukhara,
Samarkand dan sekitarnya.
Waktu itu, gang-gang Madinah dan jalan-jalannya masih ramai oleh
orang-orang yang berlalu-lalang karena mereka hampir saja akan
melaksanakan shalat isya’.
Akan tetapi tidak seorangpun dari orang-orang yang dia lewati
mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya, tidak melihat
kudanya yang kurus dan tidak melihat pedangnya yang menggelayut
di pundaknya.
Penduduk kota-kota Islam telah terbiasa melihat pemandangan para
mujahidin yang hendak berangkat menuju peperangan di jalan Allah
atau kembali darinya.
Akan tetapi hal itulah yang justeru menimbulkan kesedihan dan
rasa cemas di hati pejuang ini.
Tatkala pejuang ini hanyut dalam alam pikirannya, sembari terus
berjalan mencari rumahnya di gang-gang yang sudah banyak berubah
itu, tiba-tiba dia mendapati dirinya sudah berada di depan
rumahnya.
Kebetulan dia dapati pintunya terbuka sehingga saking
gembiranya, dia lupa meminta izin dulu kepada penghuninya. Dia
langsung menyelonong masuk hingga sampai ke bagian dalam.
Pemilik rumah mendengar suara pintu, lalu dia melongok dari
lantai atas. Ternyata di bawah benderang sinar rembulan, dia
melihat seorang laki-laki yang menghunus pedang dan
menggantungkan tombaknya sedang memasuki rumahnya di malam hari.
Waktu itu istrinya yang masih muda berdiri tidak jauh dari
incaran mata orang asing itu.
Melihat gelagat itu, pemilik rumah langsung marah dan segera
turun tanpa alas kaki seraya berkata,
“Apakah anda ingin sembunyi di balik kegelapan wahai musuh Allah
dan merampok rumahku serta menyerang istriku?!”
Lalu dengan seketika, dia menyerang orang tersebut bak harimau
yang ingin mempertahankan sarangnya jika ada yang ingin
mengganggunya dan tidak memberikan kesempatan lagi kepadanya
untuk berbicara.
Akhirnya, masing-masing saling baku hantam sehingga suasana
gaduh semakin seru dan suaranya semakin mengencang. Karenanya,
para tetangga berhamburan menuju ke rumah itu dari segala
penjuru. Lalu mereka mengurung orang asing ini ibarat lingkaran
borgol di tangan dan membantu tetangga mereka untuk
menghadapinya.
Lantas pemilik rumah mencengkeram leher orang asing itu dan
mengencangkan cengkeramannya seraya berkata, “Demi Allah aku
tidak akan melepaskanmu -wahai musuh Allah- kecuali nanti di
samping Gubernur.”
Maka orang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan tidak
melakukan dosa apa-apa!. Ini adalah rumahku dan budakku, aku
mendapati pintunya terbuka lalu aku memasukinya.”
Kemudian orang asing itu menoleh ke arah khalayak sembari
berkata,
“Wahai hadirin, tolong dengarkan aku. Rumah ini adalah rumahku
yang aku beli dengan hartaku. Wahai hadirin, aku ini adalah
farrukh. Apakah tidak ada seorang tetanggapun yang masih
mengenali Farrukh yang pergi sejak tiga puluh tahun lalu untuk
berjihad di jalan Allah?!.”
Waktu itu ibu pemilik rumah ini sedang tidur lalu terbangun
karena mendengar keributan. Dia melongok dari jendela lantai
atas dan melihat yang ternyata benar-benar suaminya dari ujung
rambut hingga ujung kaki. Hampir-hampir saja saking terkejutnya,
lisannya tak dapat berbicara, untunglah tak berapa lama kemudian
dia dapat mengatasinya seraya berkata,
“Biarkan dia, biarkan dia! wahai Rabi’ah! Biarkan dia, wahai
anakku. Sesungguhnya dia itu adalah ayahmu. Wahai hadirin,
pergilah kalian semua, semoga Allah memberkati kalian.”
“Berhati-hatilah, wahai Abu Abdurrahman!. Sesungguhnya orang
yang engkau hadapi itu adalah anak dan belahan hatimu sendiri.”
Begitu ucapannya menyentuh telinganya, maka Farrukhpun segera
menyongsong Rabi’ah, merengkuh dan memeluknya.
Sedangkan Rabi’ah, langsung menyongsong Farrukh lalu mencium
kedua tangannya, lehernya dan kepalanya. Dan orang-orang pun
bubar…
Ummu Rabi’ah turun untuk memberi salam kepada suaminya yang
sebelumnya dia tidak mengira akan bertemu dengannya di tanah ini
setelah beritanya terputus selama hampir sepertiga abad.
Farrukh duduk di sebelah istrinya dan mulai bercerita tentang
pengalamannya serta menyampaikan sebab terputusnya berita
tentang dirinya tersebut.
Akan tetapi Ummu Rabi’ah tidak begitu memperhatikan omongannya.
Rasa takut akan amarah suaminya karena telah menyia-nyiakan
harta yang telah dititipkannya padanya telah memperkeruh
kegembiraannya bertemu dengannya dan pertemuannya dengan
anaknya.
Dalam hati dia berkata, “Kalau dia menanyaiku sekarang tentang
sekian banyak uang yang dititipkannya padaku sebagai amanat,
yang waktu itu dia berpesan agar aku membelanjakannya di jalan
yang ma’ruf (baik), apa yang harus kujawab? Apa kira-kira
reaksinya andai aku beritahu bahwa tidak ada sepeserpun yang
tersisa? Apakah dia akan percaya bila aku katakan bahwa semua
hartanya yang dia tinggalkan itu telah aku gunakan untuk biaya
pendidikan dan pengajaran anaknya? Apakah mungkin biaya seorang
anak bisa mencapai 30.000 dinar? Apakah dia akan percaya bahwa
tangan sang anak lebih mulia daripada awan yang menurunkan hujan
dan bahwa dia tidak menyisakan sepeser dinar atau dirham-pun
untuk dirinya? Apakah dia akan percaya bahwa semua orang di
Madinah ini pasti tahu bahwa anaknya itu telah menginfakkan
beribu-ribu uang untuk rekan-rekannya?.”
Pada saat Ummu Rabi’ah tenggelam dalam lamunannya ini, suaminya
menoleh kepadanya seraya berkata,“Sekarang aku bawa lagi
untukmu, wahai Ummu Rabi’ah sebanyak empat ribu dinar. Maka
tolong perlihatkan uang yang dulu aku titipkan padamu supaya
kita kalkulasi dengan yang ini, lalu harta kita semuanya itu
kita belikan sebuah kebun atau real estate sehingga dari
omsetnya kita bisa hidup selama hayat dikandung badan.”
Ummu Rabi’ah pura-pura menyibukkan diri dan tidak memberikan
jawaban sedikitpun.
Lalu suaminya mengulang permintaannya kembali sembari
berkata,“Ayo, mana harta itu supaya aku gabungkan dengan yang
ada di tanganku ini?”
Lalu Ummu Rabi’ah berkata,“Aku telah menyimpannya di tempat yang
layak dan akan aku berikan padamu beberapa hari lagi, insya
Allah.” Untunglah, suara adzan memutus perbincangan keduanya.
Lalu Farrukh bergegas mengambil kendi dan berwudlu.Kemudian
cepat-cepat menuju pintu dan berteriak, “Di mana Rabi’ah?.”
Mereka menjawab, “Dia telah mendahuluimu ke masjid sejak adzan
pertama, dan kami kira kamu tidak akan mendapatkan shalat
jama’ah.”
Farrukh sampai di masjid, dan mendapati imam baru saja selesai
dari shalat. Dia kemudian melakukan shalat wajib, lalu menuju
kuburan yang mulia untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, kemudian beranjak ke Raudhah yang
suci, karena hatinya masih rindu untuk melakukan shalat di sana.
Dia memilih suatu tempat di hamparannya yang sejuk dan melakukan
shalat sunnah semampunya di sana, kemudian berdo’a kepada Allah.
Dan ketika ingin meninggalkan masjid, dia menemukan ruangannya
yang luas telah disesaki majlis ilmu yang belum pernah dia
saksikan sebanyak itu sebelumnya.
Dia melihat orang-orang telah melingkar di sekeliling Syaikh,
satu demi satu hingga tidak ada lagi tempat menginjakkan kaki di
lokasi itu, lalu dia mengarahkan pandangannya ke arah
orang-orang, ternyata di sana banyak sekali syaikh-syaikh yang
memakai syal dan sudah tua-tua, orang-orang terhormat yang dari
gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka orang-orang penting
(berpangkat) dan para pemuda yang banyak sekali sedang bersimpuh
di atas lutut mereka sembari mengambil pena dengan tangan untuk
menulis apa saja yang dikatakan Syaikh tersebut layaknya
permata-permata yang diperebutkan. Lalu menyimpan tulisan itu di
dalam buku catatan mereka sebagaimana halnya benda-benda
berharga disimpan.
Orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke arah di mana syaikh
duduk, mendengarkan penuh khidmat setiap ucapan yang keluar
hingga seakan-akan di atas kepala mereka ada burung yang
bertengger. Para petugas penyampaian (Muballigh) menyampaikan
apa yang diucapkan syaikh, paragraf demi paragraf sehingga
sekalipun seseorang jauh tempatnya, tidak akan ketinggalan satu
patah katapun.
Dalam pada itu, Farrukh berusaha memasati (mengamati dengan
jelas) wajah si syaikh tersebut namun tidak berhasil karena
tempatnya yang jauh.
Penjelasannya yang cemerlang, ilmunya yang mumpuni dan
ingatannya yang luar biasa membuatnya tertawan, terlebih lagi
dengan pemandangan orang-orang yang begitu tunduk di hadapannya.
Tidak berapa lama, syaikhpun menutup majlis pengajiannya dan
bangkit berdiri. Maka, serta-merta orang-orang menyongsong ke
arahnya, berdesak-desakan, melingkarinya dan berdorong-dorong
mengikuti dari belakangnya guna mengantarnya hingga ke luar
arena masjid.
Ketika itulah, Farrukh menoleh ke arah orang yang duduk di
sebelahnya tadi seraya berkata, “Tolong katakan kepadaku –atas
nama Rabbmu- siapa syaikh itu?.”
“Bukankah anda ini berasal dari Madinah?.” Jawab orang itu
dengan penuh keheranan.
“Benar.” Kata Farrukh
“Apakah ada orang yang tidak mengenal syaikh di Madinah ini?.”
kata orang itu lagi
“Ma’afkan aku, bila aku tidak begitu mengenalnya. Sudah sekitar
30 tahun aku habiskan waktu jauh dari kota Madinah ini dan baru
kemarin aku kembali.” Kata Farrukh lagi
“Kalau begitu, nggak apa-apa. Mari duduk bersamaku sebentar,
biar aku ceritakan tentang syaikh ini.”
Orang itu melanjutkan, “Syaikh yang anda nikmati pengajiannya
tadi itu adalah salah seorang pemuka Tabi’in dan tokoh kaum
Muslimin. Dia lah Ahli hadits kota Madinah ini, Faqih berikut
Imamnya sekalipun usianya masih belia.”
“Masya Allah, La Quwwata Illa Billah.” Jawab Farrukh
orang tadi meneruskan, “Sebagaimana yang anda lihat, majlis
pengajiannya juga dijubeli oleh Mâlik ibn Anas, Abu Hanîfah
(keduanya adalah imam madzhab terkenal), Yahya ibn Sa’îd
al-Anshâry, Sufyân ats-Tsaury, ‘Abdurrahmân ibn ‘Amr al-Awzâ’iy,
al-Laits dan banyak lagi yang lainnya.”
“Tetapi kamu…” celetuk Farrukh
Namun orang itu tidak memberikannya kesempatan untuk melanjutkan
ucapannya tersebut dan langsung melanjutkan, “Di atas semua itu,
dia adalah seorang tuan, yang mulia pekertinya dan rendah diri
lagi dicintai orang serta dermawan. Penduduk Madinah ini tidak
pernah mengenal orang yang lebih dermawan darinya baik terhadap
teman ataupun anak teman…tidak ada yang lebih zuhud darinya
terhadap glamour duniawi serta tidak ada yang lebih besar
cintanya terhadap anugerah Allah selainnya.”
“Tapi kamu belum juga menyebutkan kepadaku, siapa namanya!.”
Komentar Farrukh
“Dia adalah Rabi’ah ar-Ra`yi.” Jawab orang itu
“Rabi’ah ar-Ra`yi?!” kata Farrukh“Ya, namanya Rabi’ah… akan
tetapi para ulama dan syaikh Madinah ini memanggilnya dengan
Rabi’ah ar-Ra`yi karena bila mereka tidak mendapatkan satu
nashpun dari suatu masalah baik di dalam Kitabullah ataupun
hadits Rasulullah, pasti merujuk kepadanya, lantas dia
berijtihad dengan ra`yi (pendapat)nya sendiri dalam hal itu. Dia
analogkan masalah yang tidak terdapat nashnya itu terhadap
masalah yang ada nashnya, lalu memberikan putusan terhadap
masalah yang dirasakan rumit oleh mereka tersebut; sebuah
putusan yang berkenan di hati.” Kata orang itu melanjutkan
“Tapi kamu belum menyebutkan siapa ayahnya kepadaku!.” Kata
Farrukh memelas
“Dia lah Rabi’ah ibn Farrukh, yang dijuluki dengan Abu
‘Abdirrahman. Dia dilahirkan setelah ayahnya itu meninggalkan
Madinah ini untuk tujuan berjihad di jalan Allah sehingga ibunya
lah yang kemudian mengurusi pendidikan dan pertumbuhannya. Aku
sudah mendengar menjelang waktu shalat ini masuk tadi, ada
orang-orang mengatakan bahwa ayahnya sudah kembali malam tadi.”
Kata orang itu
Ketika itulah, dua tetes besar air mata Farrukh mengalir dari
kedua matanya sehingga membuat orang tadi tidak mengetahui apa
gerangan sebabnya.
Dia kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju rumahnya.
Tatkala Ummu Rabi’ah melihatnya berlinangkan air mata, dia
menanyakan, “Ada apa denganmu, wahai Rabi’ah?.”
“Ah, Aku baik-baik saja. Aku tadi telah melihat betapa anak kita
sudah mencapai kedudukan ilmu, kehormatan dan kemuliaan yang
tidak pernah dimiliki oleh orang-orang sebelumnya.” Jawabnya
UmmU Rabi’ah kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini seraya
berkata,
“Kalau begitu; mana yang lebih kau cintai: 30.000 dinar atau
martabat ilmu dan kehormatan yang telah dicapai anakmu ini?.”
“Demi Allah, malah inilah yang lebih aku cintai dan lebih aku
dahulukan ketimbang seluruh harta dunia ini.”
“Sebenarnya, semua yang engkau titipkan padaku itu telah aku
habiskan untuk membiayainya.” Kata Ummu Rabi’ah meyakinkan
“Ya, terimakasih, semoga engkau, dia dan kaum Muslimin
mendapatkan balasan dariku dengan sebaik-baik balasan.” Ucapnya.
Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: (Tadzkirah al-Huffâzh, I:148, Hilyah al-Awliyâ`,
III:259, Sifah ash-Shafwah, II:83, Dzayl al-Muzîl, h.101, Târîkh
Baghdâd, VIII:420, At-Tâjj, X:141, Wafayât al-A’yân, I:138,
Târîkh ath-Thabariy)
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1