URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
       *****************************************************
       #Post#: 352--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
       (Lainnya): Rabi’ah Ar Ra’yi
   DIR By: LeManz
       Date: January 1, 2024, 2:03 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Rabi’ ibn Ziad al-Haritsy
       [font=georgia]rahimahullah[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=193
       Namanya adalah Ar-Rabi’ [i]ibn Ziad Al-Haritsy, Gubernur
       Khurasan, penakluk Sajistan dan komandan yang gagah berani
       sedang bergerak memimpin pasukannya berperang di jalan Allah
       bersama budaknya yang pemberani, Farrukh. Setelah Allah
       memuliakannya dengan penaklukan Sajistan dan belahan bumi
       lainnya, dia bertekad untuk menutup kehidupannya yang semarak
       dengan menyeberangi sungai Sihun (sebuah sungai besar yang
       terletak setelah Samarkand, perbatasan Turkistan) dan mengangkat
       bendera tauhid di atas puncak bumi yang disebut dengan Negeri Di
       Balik Sungai itu.[/i]
       Ar-Rabi’ ibn Ziad menyiapkan peralatan dan bekalnya untuk
       peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Dan dia telah
       menetapkan waktu dan tempat untuk menghadapi musuhnya.
       Dan ketika peperangan telah berkobar, ar-Rabi’ dan pasukannya
       yang gagah berani melancarkan serangan yang hingga kini masih
       didokumentasikan oleh sejarah dengan penuh sanjungan dan
       penghormatan.
       Sementara budaknya, Farrukh telah menampakkan kegagahan dan
       keberaniannya di medan laga sehingga membuat ar-Rabi’ tambah
       kagum, hormat dan menghargai keistimewaannya itu.
       Peperangan berakhir dengan kemenangan yang gemilang bagi kaum
       muslimin. Mereka telah mampu menggoncang musuh,
       mencerai-beraikan dan mengkocar-kacirkan pasukannya.
       Kemudian mereka menyebrangi sungai yang menghalangi mereka untuk
       menuju ke arah negeri Turki dan menahan laju mereka ke arah
       negeri China dan kerajaan Shughd.
       Ketika Panglima besar ini telah berhasil menyeberangi sungai dan
       telah kedua kakinya telah menapak ke tanah pinggirannya, dia dan
       pasukannya segera berwudhu dengan air sungai dengan
       sebaik-baiknya.
       Lalu mereka menghadap kiblat dan melakukan shalat dua raka’at
       sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, Penganugerah
       kemenangan.
       Setelah itu, dia membalas jasa budaknya, Farrukh dengan
       memerdekakannya, memberinya bagian ghanimah yang sangat banyak,
       ditambah harta pribadinya yang cukup banyak pula.
       Kehidupan setelah hari yang cemerlang dan terang itu tidaklah
       berlangsung lama bagi ar-Rabi’ ibn Ziad al-Haritsy.
       Ajal pun menjemputnya setelah dua tahun dari tercapai impiannya
       yang besar itu, untuk pergi menyongsong Rabbnya dengan penuh
       ridha dan diridhai.
       Sedangkan anak muda nan gagah lagi pemberani, Farrukh, kembali
       ke Madinah al-Munawwarah dengan membawa bagian ghanimahnya yang
       banyak dan pemberian berharga yang diberikan oleh panglima
       besarnya.
       Dan di atas semua itu, dia membawa kemerdekaan yang begitu mahal
       harganya dan kenangan indah bersama ukiran kepahlawanan yang
       dimahkotai oleh debu-debu peperangan.
       Ketika menginjakkan kaki ke kota Rasulullah, Farrukh merupakan
       seorang pemuda yang sempurna, energik dan penuh semangat ksatria
       dan kepandaian berkuda. Ketika itu, usianya sudah menganjak
       30-an tahun.
       Farrukh telah berniat untuk membangun rumah tempat berteduh dan
       memiliki seorang isteri tempat tambatan hatinya.
       Lalu dia membeli sebuah rumah tipe menengah di Madinah dan
       memilih seorang wanita yang cerdas otaknya, sempurna akhlaknya,
       baik agamanya dan seumur dengannya, lalu dinikahinyalah wanita
       itu.
       Farrukh merasa nyaman dengan rumah yang dikaruniakan Allah
       kepadanya.
       Didampingi oleh sang isteri, dia juga mendapatkan rizki yang
       memadai, perlakuan yang demikian baik dan kehidupan yang
       cemerlang melebihi apa yang sebelumnya pernah diharapkan dan
       dicita-citakannya.
       Akan tetapi rumah yang mewah beserta kelebihannya dan istri yang
       shalehah dengan segala yang dikaruniakan Allah kepadanya; sifat
       yang baik dan prilaku yang agung, tidaklah mampu untuk
       membendung hasrat sang ksatria Mukmin ini untuk kembali terjun
       ke medan laga, kerinduan untuk mendengar suara gemerincing
       pedang saling bersabetan dan kegandrungannya untuk kembali
       berjihad di jalan Allah.
       Setiap kali terdengar berita kemenangan pasukan muslim yang
       berperang di jalan Allah di Madinah, semakin menyalalah
       kerinduannya untuk berjihad dan semakin menggebulah hatinya
       keinginannya mendapatkan kesyahidan.
       Suatu kala di hari jum’at, Farrukh mendengar khathib masjid
       Nabawi mengabarkan berita gembira perihal kemenangan pasukan
       muslim di berbagai medan peperangan, mengajak jema’ah untuk
       berjihad di jalan Allah dan menganjurkan untuk mencari
       kesyahidan demi meninggikan agama-Nya dan mengharap
       keridhaan-Nya,.
       Maka pulanglah Farrukh ke rumahnya sementara dia telah memasang
       tekad bulat untuk bergabung di bawah bendera kaum muslimin yang
       bertebaran di bawah setiap komando. Dia menyampaikan niatnya
       tersebut kepada sang isteri.
       Maka sang istri menjawab,“Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa
       engkau titipkan diriku dan jabang bayi yang sedang aku kandung
       ini?! Sebab di Madinah ini adalah orang asing yang tidak
       mempunyai keluarga dan sanak saudara.”
       Lalu Farukh berkata,“Aku titipkan kamu kepada Allah dan
       Rasul-Nya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu 30.000
       dinar yang aku kumpulkan dari ghanimah perang; Jagalah dan
       investasikanlah harta itu. Belanjakanlah untuk dirimu dan anakmu
       darinya dengan baik hingga aku pulang dengan selamat dan membawa
       ghanimah atau Allah karuniakan kepadaku kesyahidan yang aku
       cita-citakan.”
       Kemudian dia berpamitan dengannya dan pergi menuju tujuannya.
       Istri yang cerdas otaknya ini kemudian melahirkan bayinya
       setelah beberapa bulan dari kepergian sang suami.
       Ternyata anaknya adalah laki-laki berwajah ceria, tampan dan
       enak dipandang. Sang ibu sangat bahagia dengan kelahiranya,
       sampai-sampai dia lupa akan kepergian ayahnya. Anak ini, dia
       beri nama Rabi’ah.
       Sejak kecil, tanda-tanda kecerdasan telah nampak pada anak kecil
       ini. Tanda-tanda kepintaran itu nampak pada tingkah laku dan
       perkataannya. Karena itu, sang ibu menyerahkannya kepada
       beberapa orang guru dan berpesan kepada mereka agar
       mengajarkannya dengan sebaik-baiknya. Dia juga mengundang
       guru-guru akhlaq dan menyarankan merkea agar melakukan
       penggemblengan yang ketat terhadapnya.
       Tak berapa lama dari itu, sang anak sudah menekuni baca-tulis.
       Dia juga dapat menghafal Kitabullah dan selalu membacanya secara
       tartil dengan begitu indah layaknya saat diturunkan ke hati
       Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Begitu pula, dia banyak
       menghafal hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pandai
       memamerkan ungkapan Arab yang indah dan mengetahui
       masalah-masalah agama yang esensial.
       Untuk kebutuhan itu, Ummu Rabi’ah sudah banyak mengeluarkan
       ‘kocek’ buat para guru dan pendidik akhalq sang anak, demikian
       juga memberi hadiah-hadiah kepada mereka. Setiap dia melihat
       peningkatan ilmu sang anak, dia menambah uang buat mereka
       sebagai bentuk kepeduliaan dan penghormatan.
       Di samping hal itu, rupanya dia juga selalu menanti-nanti
       kepulangan sang suami yang raib dan sudah berupaya untuk hanya
       menjadikannya sebagai belahan hatinya dan anaknya.
       Akan tetapi sang suami, Farrukh telah lama menghilang sementara
       berita tentangnya masih simpang-siur; ada yang mengatakan dia
       ditawan musuh. Ada yang mengatakan bahwa ia meneruskan jihad.
       Sementara ada sekelompok orang lainnya yang sudah pulang dari
       medan jihad bahwa ia telah meraih kesyahidan yang
       diimpi-impikannya.
       Bagi Ummu Rabi’ah pendapat terakhir ini lebih kuat karena sudah
       terputusnya berita tentangnya. Karena itu, diapun sedih
       sesedih-sedihnya yang membuat hatinya merana, lantas menyerahkan
       semua itu kepada Allah Ta’ala semoga dibalas pahala atas
       kesabarannya.
       Ketika itu, Rabi’ah sudah beranjak remaja dan hampir masuk usia
       pemuda.
       Para pemberi nasehat berkata kepada ibundanya, “Ini si Rabi’ah
       sudah menyelesaikan baca-tulis yang sudah semestinya
       diselesaikan untuk orang seusianya. Bahkan dia unggul atas
       teman-teman seumurnya; Dia hafal al-Qur’an dan juga meriwayatkan
       hadits. Andaikata engkau pilihkan suatu pekerjaan yang dapat
       menghasilkan kebaikan buatnya, pasti dengan begitu cepat dia
       bisa menekuninya dan lantas dapat menafkahimu dan dirinya.”
       Ibu Rabi’ah menjawab, “Aku memohon kepada Allah agar Dia
       memilihkan untuknya hal terbaik bagi kehidupan dan akhiratnya…”
       Sesungguhnya Rabi’ah telah memilih ilmu untuk dirinya dan
       bertekad bulat untuk hidup sebagai penuntut ilmu dan pengajar
       selama hayat dikandung badan.
       Rabi’ah terus berlalu sesuai jalan yang telah digariskannya
       untuk dirinya tanpa menunda-nunda dan berbuat teledor,
       menyongsong halaqah-halaqah ilmu yang demikian sesak di masjid
       Madinah sebagaimana layaknya seorang yang dahaga yang menuju
       sumbe air nan lezat.
       Dia berguru dengan para shahabat yang masih tersisa, terutama
       Anas ibn Malik, khadim Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Dia juga berguru dengan kontingen pertama dari generasi Tabi’in,
       terutama Sa’id ibn al-Musayyib, Mak-hul asy-Syamy dan Salamah
       ibn Dinar.
       Dia terus berjerih payah pada malam hari dan siang harinya
       hingga betul-betul kelelahan.
       Kita pernah mendengar para gurunya berkata, “Sesungguhnya ilmu
       itu tidak akan memberimu separoh dirinya kecuali bila kamu telah
       memberinya seluruh ragamu.”
       Tidak berapa lama berlalu, namanya kemudian menjadi bergema,
       bintangnya telah berkibar dan saudara-saudaranya semakin banyak.
       Para murid-muridnya amat menggandrunginya dan kaumnya telah
       menjadikannya sebagai pemuka mereka.
       Kehidupan ulama Madinah ini berjalan damai dan tentram; separoh
       harinya dia berada di rumah bersama keluarga dan
       saudara-saudaranya. Separuh lagi dia gunakan di masjid
       Rasululullah guna menimba ilmu dari majlis-majlis dan
       halaqahnya.
       Kehidupannya berjalan samar-samar hingga terjadilah sesuatu yang
       tidak pernah disangka-sangka
       Pada suatu malam saat bulan purnama di musim panas, seorang
       pejuang yang sudah berumur sekitar enam puluh tahun-an baru
       sampai di Madinah.
       Orang itu berjalan memasuki gang-gangnya dengan berkuda menuju
       rumahnya. Dia tidak tahu, apakah rumahnya masih berdiri seperti
       sedia kala atau sudah terjadi perubahan seiring dengan
       perjalanan waktu.
       Sudah lama ia tingglkan, yaitu selama tiga puluh tahun atau
       sekitar itu.
       Dia bertanya-tanya dalam hati tentang isterinya yang masih muda,
       yang dia tinggalkan di rumah itu; apa yang telah dia lakukan?
       Dan tentang jabang bayi yang dikandungnya; apakah anak laki-laki
       atau perempuan yang lahir? Apakah dia hidup atau mati? Dan jika
       hidup, bagaimana keadaannya?
       Dia juga bertanya-tanya tentang uang banyak yang dia kumpulkan
       dari beberapa ghanimah jihad, yang dia titipkan padanya ketika
       akan berangkat berperang di jalan Allah bersama tentara kaum
       muslimin yang bergerak untuk menaklukkan negeri Bukhara,
       Samarkand dan sekitarnya.
       Waktu itu, gang-gang Madinah dan jalan-jalannya masih ramai oleh
       orang-orang yang berlalu-lalang karena mereka hampir saja akan
       melaksanakan shalat isya’.
       Akan tetapi tidak seorangpun dari orang-orang yang dia lewati
       mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya, tidak melihat
       kudanya yang kurus dan tidak melihat pedangnya yang menggelayut
       di pundaknya.
       Penduduk kota-kota Islam telah terbiasa melihat pemandangan para
       mujahidin yang hendak berangkat menuju peperangan di jalan Allah
       atau kembali darinya.
       Akan tetapi hal itulah yang justeru menimbulkan kesedihan dan
       rasa cemas di hati pejuang ini.
       Tatkala pejuang ini hanyut dalam alam pikirannya, sembari terus
       berjalan mencari rumahnya di gang-gang yang sudah banyak berubah
       itu, tiba-tiba dia mendapati dirinya sudah berada di depan
       rumahnya.
       Kebetulan dia dapati pintunya terbuka sehingga saking
       gembiranya, dia lupa meminta izin dulu kepada penghuninya. Dia
       langsung menyelonong masuk hingga sampai ke bagian dalam.
       Pemilik rumah mendengar suara pintu, lalu dia melongok dari
       lantai atas. Ternyata di bawah benderang sinar rembulan, dia
       melihat seorang laki-laki yang menghunus pedang dan
       menggantungkan tombaknya sedang memasuki rumahnya di malam hari.
       Waktu itu istrinya yang masih muda berdiri tidak jauh dari
       incaran mata orang asing itu.
       Melihat gelagat itu, pemilik rumah langsung marah dan segera
       turun tanpa alas kaki seraya berkata,
       “Apakah anda ingin sembunyi di balik kegelapan wahai musuh Allah
       dan merampok rumahku serta menyerang istriku?!”
       Lalu dengan seketika, dia menyerang orang tersebut bak harimau
       yang ingin mempertahankan sarangnya jika ada yang ingin
       mengganggunya dan tidak memberikan kesempatan lagi kepadanya
       untuk berbicara.
       Akhirnya, masing-masing saling baku hantam sehingga suasana
       gaduh semakin seru dan suaranya semakin mengencang. Karenanya,
       para tetangga berhamburan menuju ke rumah itu dari segala
       penjuru. Lalu mereka mengurung orang asing ini ibarat lingkaran
       borgol di tangan dan membantu tetangga mereka untuk
       menghadapinya.
       Lantas pemilik rumah mencengkeram leher orang asing itu dan
       mengencangkan cengkeramannya seraya berkata, “Demi Allah aku
       tidak akan melepaskanmu -wahai musuh Allah- kecuali nanti di
       samping Gubernur.”
       Maka orang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan tidak
       melakukan dosa apa-apa!. Ini adalah rumahku dan budakku, aku
       mendapati pintunya terbuka lalu aku memasukinya.”
       Kemudian orang asing itu menoleh ke arah khalayak sembari
       berkata,
       “Wahai hadirin, tolong dengarkan aku. Rumah ini adalah rumahku
       yang aku beli dengan hartaku. Wahai hadirin, aku ini adalah
       farrukh. Apakah tidak ada seorang tetanggapun yang masih
       mengenali Farrukh yang pergi sejak tiga puluh tahun lalu untuk
       berjihad di jalan Allah?!.”
       Waktu itu ibu pemilik rumah ini sedang tidur lalu terbangun
       karena mendengar keributan. Dia melongok dari jendela lantai
       atas dan melihat yang ternyata benar-benar suaminya dari ujung
       rambut hingga ujung kaki. Hampir-hampir saja saking terkejutnya,
       lisannya tak dapat berbicara, untunglah tak berapa lama kemudian
       dia dapat mengatasinya seraya berkata,
       “Biarkan dia, biarkan dia! wahai Rabi’ah! Biarkan dia, wahai
       anakku. Sesungguhnya dia itu adalah ayahmu. Wahai hadirin,
       pergilah kalian semua, semoga Allah memberkati kalian.”
       “Berhati-hatilah, wahai Abu Abdurrahman!. Sesungguhnya orang
       yang engkau hadapi itu adalah anak dan belahan hatimu sendiri.”
       Begitu ucapannya menyentuh telinganya, maka Farrukhpun segera
       menyongsong Rabi’ah, merengkuh dan memeluknya.
       Sedangkan Rabi’ah, langsung menyongsong Farrukh lalu mencium
       kedua tangannya, lehernya dan kepalanya. Dan orang-orang pun
       bubar…
       Ummu Rabi’ah turun untuk memberi salam kepada suaminya yang
       sebelumnya dia tidak mengira akan bertemu dengannya di tanah ini
       setelah beritanya terputus selama hampir sepertiga abad.
       Farrukh duduk di sebelah istrinya dan mulai bercerita tentang
       pengalamannya serta menyampaikan sebab terputusnya berita
       tentang dirinya tersebut.
       Akan tetapi Ummu Rabi’ah tidak begitu memperhatikan omongannya.
       Rasa takut akan amarah suaminya karena telah menyia-nyiakan
       harta yang telah dititipkannya padanya telah memperkeruh
       kegembiraannya bertemu dengannya dan pertemuannya dengan
       anaknya.
       Dalam hati dia berkata, “Kalau dia menanyaiku sekarang tentang
       sekian banyak uang yang dititipkannya padaku sebagai amanat,
       yang waktu itu dia berpesan agar aku membelanjakannya di jalan
       yang ma’ruf (baik), apa yang harus kujawab? Apa kira-kira
       reaksinya andai aku beritahu bahwa tidak ada sepeserpun yang
       tersisa? Apakah dia akan percaya bila aku katakan bahwa semua
       hartanya yang dia tinggalkan itu telah aku gunakan untuk biaya
       pendidikan dan pengajaran anaknya? Apakah mungkin biaya seorang
       anak bisa mencapai 30.000 dinar? Apakah dia akan percaya bahwa
       tangan sang anak lebih mulia daripada awan yang menurunkan hujan
       dan bahwa dia tidak menyisakan sepeser dinar atau dirham-pun
       untuk dirinya? Apakah dia akan percaya bahwa semua orang di
       Madinah ini pasti tahu bahwa anaknya itu telah menginfakkan
       beribu-ribu uang untuk rekan-rekannya?.”
       Pada saat Ummu Rabi’ah tenggelam dalam lamunannya ini, suaminya
       menoleh kepadanya seraya berkata,“Sekarang aku bawa lagi
       untukmu, wahai Ummu Rabi’ah sebanyak empat ribu dinar. Maka
       tolong perlihatkan uang yang dulu aku titipkan padamu supaya
       kita kalkulasi dengan yang ini, lalu harta kita semuanya itu
       kita belikan sebuah kebun atau real estate sehingga dari
       omsetnya kita bisa hidup selama hayat dikandung badan.”
       Ummu Rabi’ah pura-pura menyibukkan diri dan tidak memberikan
       jawaban sedikitpun.
       Lalu suaminya mengulang permintaannya kembali sembari
       berkata,“Ayo, mana harta itu supaya aku gabungkan dengan yang
       ada di tanganku ini?”
       Lalu Ummu Rabi’ah berkata,“Aku telah menyimpannya di tempat yang
       layak dan akan aku berikan padamu beberapa hari lagi, insya
       Allah.” Untunglah, suara adzan memutus perbincangan keduanya.
       Lalu Farrukh bergegas mengambil kendi dan berwudlu.Kemudian
       cepat-cepat menuju pintu dan berteriak, “Di mana Rabi’ah?.”
       Mereka menjawab, “Dia telah mendahuluimu ke masjid sejak adzan
       pertama, dan kami kira kamu tidak akan mendapatkan shalat
       jama’ah.”
       Farrukh sampai di masjid, dan mendapati imam baru saja selesai
       dari shalat. Dia kemudian melakukan shalat wajib, lalu menuju
       kuburan yang mulia untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah
       Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, kemudian beranjak ke Raudhah yang
       suci, karena hatinya masih rindu untuk melakukan shalat di sana.
       Dia memilih suatu tempat di hamparannya yang sejuk dan melakukan
       shalat sunnah semampunya di sana, kemudian berdo’a kepada Allah.
       Dan ketika ingin meninggalkan masjid, dia menemukan ruangannya
       yang luas telah disesaki majlis ilmu yang belum pernah dia
       saksikan sebanyak itu sebelumnya.
       Dia melihat orang-orang telah melingkar di sekeliling Syaikh,
       satu demi satu hingga tidak ada lagi tempat menginjakkan kaki di
       lokasi itu, lalu dia mengarahkan pandangannya ke arah
       orang-orang, ternyata di sana banyak sekali syaikh-syaikh yang
       memakai syal dan sudah tua-tua, orang-orang terhormat yang dari
       gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka orang-orang penting
       (berpangkat) dan para pemuda yang banyak sekali sedang bersimpuh
       di atas lutut mereka sembari mengambil pena dengan tangan untuk
       menulis apa saja yang dikatakan Syaikh tersebut layaknya
       permata-permata yang diperebutkan. Lalu menyimpan tulisan itu di
       dalam buku catatan mereka sebagaimana halnya benda-benda
       berharga disimpan.
       Orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke arah di mana syaikh
       duduk, mendengarkan penuh khidmat setiap ucapan yang keluar
       hingga seakan-akan di atas kepala mereka ada burung yang
       bertengger. Para petugas penyampaian (Muballigh) menyampaikan
       apa yang diucapkan syaikh, paragraf demi paragraf sehingga
       sekalipun seseorang jauh tempatnya, tidak akan ketinggalan satu
       patah katapun.
       Dalam pada itu, Farrukh berusaha memasati (mengamati dengan
       jelas) wajah si syaikh tersebut namun tidak berhasil karena
       tempatnya yang jauh.
       Penjelasannya yang cemerlang, ilmunya yang mumpuni dan
       ingatannya yang luar biasa membuatnya tertawan, terlebih lagi
       dengan pemandangan orang-orang yang begitu tunduk di hadapannya.
       Tidak berapa lama, syaikhpun menutup majlis pengajiannya dan
       bangkit berdiri. Maka, serta-merta orang-orang menyongsong ke
       arahnya, berdesak-desakan, melingkarinya dan berdorong-dorong
       mengikuti dari belakangnya guna mengantarnya hingga ke luar
       arena masjid.
       Ketika itulah, Farrukh menoleh ke arah orang yang duduk di
       sebelahnya tadi seraya berkata, “Tolong katakan kepadaku –atas
       nama Rabbmu- siapa syaikh itu?.”
       “Bukankah anda ini berasal dari Madinah?.” Jawab orang itu
       dengan penuh keheranan.
       “Benar.” Kata Farrukh
       “Apakah ada orang yang tidak mengenal syaikh di Madinah ini?.”
       kata orang itu lagi
       “Ma’afkan aku, bila aku tidak begitu mengenalnya. Sudah sekitar
       30 tahun aku habiskan waktu jauh dari kota Madinah ini dan baru
       kemarin aku kembali.” Kata Farrukh lagi
       “Kalau begitu, nggak apa-apa. Mari duduk bersamaku sebentar,
       biar aku ceritakan tentang syaikh ini.”
       Orang itu melanjutkan, “Syaikh yang anda nikmati pengajiannya
       tadi itu adalah salah seorang pemuka Tabi’in dan tokoh kaum
       Muslimin. Dia lah Ahli hadits kota Madinah ini, Faqih berikut
       Imamnya sekalipun usianya masih belia.”
       “Masya Allah, La Quwwata Illa Billah.” Jawab Farrukh
       orang tadi meneruskan, “Sebagaimana yang anda lihat, majlis
       pengajiannya juga dijubeli oleh Mâlik ibn Anas, Abu Hanîfah
       (keduanya adalah imam madzhab terkenal), Yahya ibn Sa’îd
       al-Anshâry, Sufyân ats-Tsaury, ‘Abdurrahmân ibn ‘Amr al-Awzâ’iy,
       al-Laits dan banyak lagi yang lainnya.”
       “Tetapi kamu…” celetuk Farrukh
       Namun orang itu tidak memberikannya kesempatan untuk melanjutkan
       ucapannya tersebut dan langsung melanjutkan, “Di atas semua itu,
       dia adalah seorang tuan, yang mulia pekertinya dan rendah diri
       lagi dicintai orang serta dermawan. Penduduk Madinah ini tidak
       pernah mengenal orang yang lebih dermawan darinya baik terhadap
       teman ataupun anak teman…tidak ada yang lebih zuhud darinya
       terhadap glamour duniawi serta tidak ada yang lebih besar
       cintanya terhadap anugerah Allah selainnya.”
       “Tapi kamu belum juga menyebutkan kepadaku, siapa namanya!.”
       Komentar Farrukh
       “Dia adalah Rabi’ah ar-Ra`yi.” Jawab orang itu
       “Rabi’ah ar-Ra`yi?!” kata Farrukh“Ya, namanya Rabi’ah… akan
       tetapi para ulama dan syaikh Madinah ini memanggilnya dengan
       Rabi’ah ar-Ra`yi karena bila mereka tidak mendapatkan satu
       nashpun dari suatu masalah baik di dalam Kitabullah ataupun
       hadits Rasulullah, pasti merujuk kepadanya, lantas dia
       berijtihad dengan ra`yi (pendapat)nya sendiri dalam hal itu. Dia
       analogkan masalah yang tidak terdapat nashnya itu terhadap
       masalah yang ada nashnya, lalu memberikan putusan terhadap
       masalah yang dirasakan rumit oleh mereka tersebut; sebuah
       putusan yang berkenan di hati.” Kata orang itu melanjutkan
       “Tapi kamu belum menyebutkan siapa ayahnya kepadaku!.” Kata
       Farrukh memelas
       “Dia lah Rabi’ah ibn Farrukh, yang dijuluki dengan Abu
       ‘Abdirrahman. Dia dilahirkan setelah ayahnya itu meninggalkan
       Madinah ini untuk tujuan berjihad di jalan Allah sehingga ibunya
       lah yang kemudian mengurusi pendidikan dan pertumbuhannya. Aku
       sudah mendengar menjelang waktu shalat ini masuk tadi, ada
       orang-orang mengatakan bahwa ayahnya sudah kembali malam tadi.”
       Kata orang itu
       Ketika itulah, dua tetes besar air mata Farrukh mengalir dari
       kedua matanya sehingga membuat orang tadi tidak mengetahui apa
       gerangan sebabnya.
       Dia kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju rumahnya.
       Tatkala Ummu Rabi’ah melihatnya berlinangkan air mata, dia
       menanyakan, “Ada apa denganmu, wahai Rabi’ah?.”
       “Ah, Aku baik-baik saja. Aku tadi telah melihat betapa anak kita
       sudah mencapai kedudukan ilmu, kehormatan dan kemuliaan yang
       tidak pernah dimiliki oleh orang-orang sebelumnya.” Jawabnya
       UmmU Rabi’ah kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini seraya
       berkata,
       “Kalau begitu; mana yang lebih kau cintai: 30.000 dinar atau
       martabat ilmu dan kehormatan yang telah dicapai anakmu ini?.”
       “Demi Allah, malah inilah yang lebih aku cintai dan lebih aku
       dahulukan ketimbang seluruh harta dunia ini.”
       “Sebenarnya, semua yang engkau titipkan padaku itu telah aku
       habiskan untuk membiayainya.” Kata Ummu Rabi’ah meyakinkan
       “Ya, terimakasih, semoga engkau, dia dan kaum Muslimin
       mendapatkan balasan dariku dengan sebaik-baik balasan.” Ucapnya.
       &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: (Tadzkirah al-Huffâzh, I:148, Hilyah al-Awliyâ`,
       III:259, Sifah ash-Shafwah, II:83, Dzayl al-Muzîl, h.101, Târîkh
       Baghdâd, VIII:420, At-Tâjj, X:141, Wafayât al-A’yân, I:138,
       Târîkh ath-Thabariy)
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1