URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
       *****************************************************
       #Post#: 348--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
       (Lainnya): Shilah ibn Asy Syam Al ‘Adawi
   DIR By: LeManz
       Date: January 1, 2024, 2:01 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Shilah ibn Asy-Yam Al-‘Adawi
       [font=georgia]rahimahullah[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=196
       Namanya adalaha Shilah [i]ibn asy Syam al ‘Adawi, ia Seorang
       yang ahli ibadah yang pemberani, singa tunduk padanya, mati
       syahid berdua putranya! Kisah ini sangat menarik sekali,
       sekaligus mengharukan. Betapa tidak? Bagaimana terkoleksi pada
       seorang tokoh dua sifat; seorang yang ahli ibadah tapi juga
       pemberani di medan perang. Ia menjadi rebutan para komandan
       pasukan Islam dalam peperangan mereka karena keberanian dan
       do’anya. Ia bernasib mujur karena mendapatkan isteri yang ahli
       ibadah pula dan seorang putra yang pemberani. Kekhusyu’an
       shalatnya tidak terpengaruh oleh kedatangan singa yang hendak
       menerkamnya bahkan singa itu kemudian tunduk padanya…[/i]
       “Shilah ibn Asy-yam al-‘Adawi menuntut ilmu dari sebagian besar
       sahabat dan mencontoh cara hidup halal dan akhlak mereka,”
       (Ucapan al-Ashbahaani)
       Shilah ibn Asyam al-‘Adawi seorang ahli ibadah dari para ahli
       ibadah malam… Seorang pejuang dari para pejuang siang.
       Apabila kegelapan telah menutupkan tirainya ke alam semesta dan
       manusia terlelap dalam tidur… ia pun bangkit dan menyempurnakan
       wudlu, kemudian ia berdiri di mihrabnya dan masuk dalam
       shalatnya serta mendapatkan suka cita dengan Rabb-nya.
       Maka, bersinarlah cahaya ilahi dalam dirinya, menyinari
       bashirahnya ke penjuru dunia… memperlihatkannya akan ayat-ayat
       Allah di ufuk. Disamping itu semua, ia adalah orang yang hobby
       membaca Al-Qur’an di waktu fajar.
       Apabila sepertiga malam terakhir telah tiba, ia mencondongkan
       bengkaunnya kepada juz-juz al-Qur’an… Mulailah (lidahnya)
       mentartil ayat-ayat Allah yang jelas dengan suara merdu dan
       suara tangisan.
       Terkadang ia mendapatkan kelezatan Al-Qur’an yang menyentuh ke
       dalam hatinya dan mendapatkan ketakutan kepada Allah dengan akal
       jernihnya. Pada sisi lain, ia merasakan Al-Qur’an berisi ancaman
       yang memecah hatinya…
       Shilah ibn Asyam tidak pernah bosan dari ibadahnya ini
       sekalipun. Tidak ada bedanya apakah di rumahnya atau dalam
       perjalanan, di saat sibuk atau di saat waktu luangnya.
       Ja’far ibn Zaid menghikayatkan, “Kami keluar bersama salah satu
       dari pasukan muslimin dalam sebuah perang ke kota “Kabul“
       (ibukota Afghanistan, terletak dekat sungai Kabul) dengan
       harapan Allah akan memberikan kemenangan kepada kami. Dan adalah
       Shilah ibn Asyam berada di tengah pasukan. Ketika malam telah
       menutupkan tirainya –dan kami berada di tengah perjalanan-, para
       pasukan menurunkan bekalnya dan menyantap makanannya lalu
       menunaikan shalat ‘Isya…
       Mereka kemudian pergi menuju ke kendaraannya mencari kesempatan
       untuk istirahat di sisinya… Maka, aku melihat Shilah ibn Asyam
       pergi menuju ke kendaraannya sebagaimana mereka pergi. Ia lalu
       meletakkan pinggangnya untuk tidur sebagaimana yang mereka
       lakukan.
       Aku lantas berkata dalam hati, “Dimanakah yang orang-orang
       riwayatkan tentang shalatnya orang ini dan ibadahnya serta apa
       yang mereka sebarkan tentang shalat malamnya hingga kakinya
       bengkak?! Demi Allah, aku akan menunggunya malam ini hingga aku
       melihat apa yang dikerjakannya.”
       Tidak lama setelah para prajurit terlelap dalam tidurnya…hingga
       aku melihatnya bangun dari tidurnya dan berjalan menjauh dari
       perkemahan, bersembunyi dengan gelapnya malam dan masuk ke dalam
       hutan yang lebat dengan pepohonannya yang tinggi dan rumput
       liar. Seakan-akan belum pernah dijamah sejak waktu yang lama.
       Aku berjalan mengikutinya…
       Sesampinya ia di tempat yang kosong, ia mencari arah kiblat dan
       menghadap kepadanya. Ia bertakbir untuk shalat dan ia tenggelam
       di dalamnya…aku melihatnya dari kejauhan. Aku melihatnya
       berwajah berseri…tenang anggota badannya dan tenang jiwanya.
       Seakan-akan ia menemukan seorang teman dalam kesepian,
       (menemukan) kedekatan dalam jauh dan cahaya yang menerangi dalam
       gelap.
       Di saat dia demikian…tiba-tiba muncul kepada kami seekor singa
       dari sebelah timur hutan. Setelah aku merasa aku merasa yakin
       darinya, bahwa yang datang itu macan hatiku serasa copot saking
       takutnya. Aku lalu memanjat sebatang pohon yang tinggi untuk
       melindungiku dari ancamannya.
       Singa tersebut terus saja mendekat kepada Shilah ibn Asyam,
       sedangkan ia tenggelam dalam shalatnya hingga jaraknya tinggal
       beberapa langkah saja darinya… dan demi Allah ia tidak menoleh
       kepadanya… tidak mempedulikannya…
       Tatkala ia sujud, aku berkata, “Sekarang (saatnya) ia akan
       menerkamnya.” Ketika ia bangkit dari sujudnya dan duduk, singa
       itu berdiri di hadapannya seakan-akan memperhatikannya.
       Ketika ia salam dari shalatnya, ia memengkaung kepada singa itu
       dengan tenang…dan menggerakkan kedua bibirnya dengan ucapan yang
       tidak aku dengar. Dan tiba-tiba saja singa tersebut berpaling
       darinya dengan tenang, dan kembali ke tempat semula.
       Di saat fajar telah terbit, ia bangkit untuk menunaikan shalat
       fardlu. Kemudian ia mulai memuji Allah dengan pujian-pujian yang
       aku belum pernah mendengar yang sepertinya sekalipun.
       Ia kemudian berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
       kepadaMu agar menyelamatkan aku dari neraka…Apakah seorang hamba
       yang berbuat salah seperti aku berani untuk memohon surga
       kepadaMu?!” Ia terus saja mengulang-ulangnya hingga ia menangis
       dan membuatku ikut menangis.
       Kemudian ia kembali ke pasukannya tanpa ada seorang pun yang
       tahu.
       Nampak di mata orang-orang, seakan-akan ia baru bangun dari
       tidur di kasur. Sedangkan aku kembali dari mengikutinya, dan aku
       merasa (lelah dari) begadang malam… badan penat… dan ketakutan
       terhadap singa… dan apa-apa yang Allah Maha Tahu dengannya.
       Di samping itu semua, Shilah ibn Asyam tidak pernah membiarkan
       satu kesempatan dari kesempatan-kesempatan mauidzah dan
       peringatan kecuali ia memanfaatkannya.
       Dan metodhe dakwahnya adalah ia menyeru kepada jalan Rabbnya
       dengan hikmah dan mauidzah hasanah. Jiwa-jiwa yang lari ia
       condongkan (dekatkan)… hati-hati yang keras ia lemahkan
       (lunakkan).
       Di antaranya, bahwa ia pernah keluar ke daratan di tanah Bashrah
       untuk khalwah (menyepi) dan beribadah… Lalu sekelompok pemuda
       yang akan bersenang-senang melewatinya…
       Mereka bermain-main… bersendau gurau dan bergembira… Ia (Shilah)
       menyalami mereka dengan halus…
       Dan dengan lembut ia berkata kepada mereka, “Apa yang kalian
       katakan tentang suatu kaum yang ber’azam untuk safar karena
       suatu urusan besar, hanya saja mereka di waktu siang berbelok
       dari jalan untuk berbuat sia-sia dan bermain-main…. dan di waktu
       malam mereka tidur untuk istirahat. Maka kapankah kalian melihat
       mereka menyelesaikan perjalanannya dan sampai di tempat
       tujuan?!”
       Dan ia terbiasa mengucapkan kalimat tersebut di saat itu dan
       pada saat yang lain…
       Pada suatu ketika ia bertemu dengan mereka dan ia mengucapkan
       kata-katanya tersebut kepada mereka…
       Maka, salah seorang pemuda dari mereka bangkit dan berkata,
       “Sesungguhnya dia –demi Allah- tidak memaksudkan perkataannya
       kepada siapapun selain kita. Kita di siang hari
       bermain-main….dan di malam hari tidur…”
       Kemudian pemuda tersebut memisahkan diri dari teman-temannya dan
       mengikuti Shilah ibn Asyam sejak hari itu. Ia terus menemaninya
       hingga kematian menjemputnya.
       Di antaranya pula, bahwa pada suatu siang ia pernah pergi
       bersama sekelompok sahabatnya kepada suatu tujuan. Lalu lewatlah
       di depan mereka seorang pemuda yang menakjubkan dan bagus
       penampilannya…. Pemuda tersebut memanjangkan kain celananya
       hingga ia menyeretnya di tanah seperti orang sombong…
       Para sahabatanya lalu bermaksud (melakukan tindakan) terhadap
       pemuda tersebut, mereka ingin mencemoohnya dengan perkataan dan
       memukulnya dengan keras… Maka Shilah berkata kepada mereka,
       “Biarkan aku, yang akan menyelesaikan urusannya.” Ia mendekati
       pemuda tersebut dan berkata dengan kelembutan seorang ayah yang
       penuh sayang…dan bahasa seorang sahabat yang jujur, “Wahai anak
       saudaraku, sesungguhnya aku punya hajat kepadamu.” Pemuda itu
       berhenti, dan berkata, “Apa itu wahai paman?” Ia berkata,
       “Hendaklah kamu mengangkat kainmu, sesungguhnya yang demikian
       itu lebih suci untuk pakaianmu… lebih bertakwa kepada Rabb-mu…
       dan lebih dekat dengan sunnah Nabimu.” Dengan rasa malu pemuda
       itu berkata, “Ya, dengan senang hati…”
       Kemudian ia segera mengangkat kainnya.
       Shilah berkata kepada sahabatnya, “Sesungguhnya yang seperti ini
       lebih baik daripada apa yang kalian inginkan… kalau seengkauinya
       kalian memukulnya dan mencemoohnya niscaya ia akan memukul dan
       mencemooh kalian… dan tetap membiarkan kainnya menjulur menyapu
       tanah.”
       Pada suatu kali seorang pemuda dari Bashrah mendatangainya dan
       berkata, “Wahai Abu ash-Shahbaa, ajari aku apa-apa yang telah
       Allah ajarkan kepadamu.”
       Maka Shilah tersenyum dan berseri wajahnya, dan ia berkata,
       “Sungguh kamu telah mengingatkan aku -wahai anak saudaraku-
       tentang kenangan lama yang tidak aku lupakan…dimana pada saat
       itu aku seorang pemuda sepertimu…Aku mendatangi orang yang
       tersisa dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
       dan aku berkata kepada mereka, “Ajarilah aku apa-apa yang telah
       Allah ajarkan kepada kalian.” Mereka berkata, “Jadikanlah
       al-Qur’an sebagai penjaga jiwamu dan kebun hatimu. Dengarkan
       nasehatnya dan nasehatilah kaum muslimin dengannya. Perbanyaklah
       berdo’a kepada Allah ’Azza Wa Jalla semampumu.”
       Anak muda itu berkata, “Berdo’alah untukku, semoga engkau
       dibalasi dengan kebaikan.”
       &#128994;Ia menjawab, “Semoga Allah menjadikanmu senang
       (antusias) untuk memperoleh yang kekal (akhirat)…dan
       menjadikanmu zuhud terhadap yang fana (dunia)…dan menganugrahkan
       keyakinan kepadamu yang mana jiwa menjadi tenang kepadanya, dan
       dibutuhkan kepadanya dalam agama.”
       Shilah memiliki seorang misan perempuan bernama “Mu’âdzah
       Al-‘Adawiyah.” ..Dia adalah seorang tabi’in sepertinya… di mana
       ia pernah bertemu dengan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu
       'anha dan mengambil ilmu darinya.
       Kemudian al-Hasan al-Bashri -semoga Allah mengharumkan ruhnya-
       berjumpa dengannya dan mengambil (ilmu) darinya.
       Ia seorang wanita yang bertakwa dan suci… ta’at ibadah dan
       zuhud. Di antara kebiasaannya adalah apabila malam tiba, ia
       berkata, “Bisa jadi ini adalah malam terakhir bagiku, maka
       janganlah kamu tidur hingga pagi….” Dan apabila siang tiba, ia
       berkata, “Mungkin ini adalah hari terakhir bagiku, maka
       janganlah pinggang ini merasa tenang hingga sore.”
       Di musim dingin, ia mengenakan pakaian yang tipis sehingga rasa
       dingin menghalanginya untuk condong kepada tidur dan berhenti
       dari ibadah. Ia menghidupkan malamnya dengan shalat dan banyak
       beribadah.
       Apabila rasa kantuk mengalahkannya ia berjalan berputar-putar di
       rumahnya dan berkata, “Wahai jiwa, di depanmu ada tidur panjang…
       besok kamu akan tidur panjang di kuburan… entah di atas
       penyesalan atau di atas kesenangan. Maka pilihlah untuk dirimu
       wahai Mu’aadzah pada hari ini apa yang kamu sukai agar kamu
       besok menjadi apa.”
       Shilah ibn Asyam walaupun begitu kuat dalam beribadah dan begitu
       tinggi zuhudnya tidaklah ia membenci sunnah Nabinya Shallallahu
       alaihi wassalam (dalam hal menikah), ia lalu meminang anak
       perempuan pamannya (misannya) “Mu’aadzah” untuk dirinya. Ketika
       hari disandingkannya ia kepada Shilah, keponakan laki-lakinya
       mengurusinya dan membawanya ke kamar mandi kemudian
       memasukkannya menemui istrinya di rumah yang diberi
       wewangian…Setelah keduanya bersama-sama, ia berdiri shalat dua
       raka’at sunnah, ia (istrinya) berdiri shalat dengan shalatnya
       dan mengikutinya.
       Di pagi harinya, keponakannya datang menemuinya dan berkata,
       “Wahai paman, anak perempuan pamanmu telah disandingkan
       kepadamu, lalu kamu berdiri shalat sepanjang malam dan kamu
       meninggalkannya.” Ia menjawab, “Wahai anak
       saudaraku…sesungguhnya kemarin kamu telah memasukkan aku ke
       sebuah rumah yang dengannya kamu telah mengingatkan aku kepada
       neraka…kemudian kamu memasukan aku ke tempat lain yang dengannya
       kamu mengingatkan aku kepada surga…Pikiranku terus saja
       memikirkan keduanya hingga pagi.”
       Anak muda itu berkata, “Apa itu wahai paman?!.”
       Ia menjawab, “Sungguh kamu telah memasukkan aku ke kamar mandi,
       maka hawa panasnya telah mengingatkan aku akan panas
       neraka…kemudin kamu memasukkan aku ke rumah pengantin, sehingga
       bau harumnya mengingatkan aku kepada wangi surga…”
       Shilah ibn Asyam bukan hanya orang yang banyak khasyah kepada
       Allah dan banyak bertaubat, ahli ibadah dan zuhud semata.
       Disamping itu ia adalah seorang penunggang kuda (prajurit) yang
       kuat dan pahlawan yang berjihad.
       Sedikit sekali medan pertempuran yang mengenal seorang pemberani
       yang lebih kuat darinya…lebih kuat jiwanya…dan lebih tajam
       tebasan pedangnya. Sehingga para panglima muslimin
       berlomba-lomba untuk menariknya kepada (pasukan) mereka. Setiap
       dari mereka ingin memperoleh kemenangan dengan keberadaannya di
       perkemahannya, agar dengan karunia keberaniannya ia memetik
       kemenangan besar yang dicita-citakan.
       Ja’far ibn Zaid meriwayatkan, ia menuturkan, “Kami keluar dalam
       suatu peperangan. Dan bersama kami ada Shilah ibn Asyam dan
       Hisyam ibn ‘Aamir… Ketika kami telah bertemu musuh, Shilah dan
       sahabatnya melesat dari barisan kaum muslimin dan keduanya
       menerobos kumpulan musuh, menusuk dengan tombak dan membabat
       dengan pedang, sehingga keduanya memberi pengaruh yang besar
       terhadap front depan pasukan. Maka sebagian panglima musuh
       berkata kepada sebagian yang lain, “Dua orang tentara muslimin
       telah menurunkan (menimpakan) kepada kita hal seperti ini,
       bagaimana jadinya apabila mereka seluruhnya memerangi kita?
       Tunduklah kalian kepada hukum muslimin dan tunduklah dengan
       ta’at kepada mereka.”
       Pada tahun 76 H, Shilah ibn Asyam keluar dalam sebuah peperangan
       bersama pasukan muslimin menuju negeri Maa waraaun nahri* dan ia
       ditemani oleh anaknya.
       Ketika kedua pasukan saling berhadapan, dan perang semakin
       berkecamuk. Berkatalah Shilah kepada anaknya, “Wahai anakku…
       majulah dan perangilah musuh-musuh Allah sehingga jika kamu
       syahid, aku akan mengharap pahalanya dari Allah Dzat yang tidak
       akan pernah hilang titipan-titipan di sisi-Nya.”
       Pemuda tersebut melesat memerangi musuh layaknya anak panah yang
       melesat dari busurnya, ia terus saja bertempur hingga jatuh
       tersungkur syahid.
       Tidak berlangsung lama, sehingga ayahnya pergi mengikutinya. Ia
       terus berjihad sehingga mati syahid di sampingnya.
       Ketika berita kematian keduanya sampai ke Bashrah, para wanita
       segera menemui “Mu’aadzah al-Adawiyah” untuk menghiburnya. Ia
       lalu berkata kepada mereka, “Apabila kalian datang untuk
       mengucapkan selamat kepadaku, maka selamat datang atas kalian…
       namun apabila kalian datang untuk hal lain, maka kembalilah dan
       semoga kalian dibalasi dengan kebaikan…” &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Ath-Thabaqatul Kubra oleh ibn Sa’d: 7/134, At-Tarikhul
       Kabir: 4/321, Al-Kuna: 2/13, Al-Jarh wat Ta’diil: 4/447,
       Hilyatul Auliyaa: 2/237, Usdul Ghaabah: 4/34, Tarikhul Islam:
       3/19, Al-Bidayah wan Nihayah: 9/15, Al-Ishabah: 2/200, Thabaqat
       Khalifah dan Shifatush Shafwah oleh Ibnul Jauzi
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1