DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
*****************************************************
#Post#: 346--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
(Lainnya): Thaawus Ibnu Kaisan
DIR By: LeManz
Date: January 1, 2024, 2:00 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Thaawus ibn Kaisan [font=georgia]rahimahullah[/font]
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=199
“Aku melihatmu wahai Abu Abdirrahman dalam mimpi, engkau shalat
di Ka’bah dan Nabi berada di pintunya, beliau bersabda kepadamu,
[i]‘Bukalah penutup mukamu dan terangkanlah bacaanmu wahai
Thaawus.’” (Mujahid). Hampir saja Khalifah Muslimin Sulaiman ibn
Abdul Malik sampai dan menetap di ujung al-Baitul ‘Atiq (Ka’bah)
dan membasahi kerinduannya kepada Ka’bah yang agung hingga ia
menoleh kepada penjaganya dan berkata, “Carilah seorang alim
untuk kita yang dapat memberikan pemahaman agama kepada kita dan
mengingatkan kita pada hari yang mulia dari hari-hari Allah
ini.”[/i]
Penjaga tersebut pergi memandangi wajah-wajah Ahlul Mausim
(kumpulan orang yang berhaji), dan mulai menanyai mereka tentang
keinginan amirul mukminin, lalu ada yang memberitahukan
kepadanya, “Ini Thaawus ibn Kaisan, Ahli fiqih masanya, orang
yang paling jujur bahasanya dalam berdakwah kepada Allah,
ambillah ia!.”
Penjaga tersebut menemui Thaawus dan berkata, “Penuhilah
undangan amirul mukminin wahai Syaikh.”
Thaawus memenuhi undangan tanpa berlambat-lambat, hal itu karena
ia meyakini bahwa wajib bagi para dai kepada Allah ta’ala agar
memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan kepadanya di mana mereka
pasti sesegera mungkin mengambil kesempatan itu. Ia meyakini
bahwa kalimat yang paling afdhal (utama) adalah Kalimatul Haq
(Perkataan benar) yang diharapkan dapat meluruskan kebengkokan
para pemimpin dan menjauhkan mereka dari kezhaliman serta
mendekatkan mereka kepada Allah ta’ala.
Thaawus pun pergi bersama penjaga. Ketika masuk menemui amirul
mukminin, ia menyalaminya. Khalifah membalas salamnya dengan
yang lebih baik dari itu dan memuliakan penyambutannya dan
mendekatkan majlisnya.
Ia (khalifah) mulai menanyainya tentang apa yang musykil (pelik)
dari manasik-manasik haji dan ia (Thaawus) mendengarkannya
dengan penuh penghormatan dan pengagungan.
Thaawus berkata, “Ketika aku merasa bahwa amirul mukminin telah
sampai kepada keinginannya dan tidak tersisa apa yang akan
ditanyakannya. Aku berkata dalam diriku, ‘Sesungguhnya majlis
ini adalah majlis yang Allah akan menanyaimu tentangnya wahai
Thaawus!.” Kemudian aku menghadap kepadanya dan berkata, ‘Wahai
amirul mukminin, sesungguhnya ada batu besar berada di tepi
sumur di jurang Jahannam. Ia terus menggelinding di sumur
tersebut selama tujuh puluh tahun hingga sampai pada dasarnya.
Tahukah anda untuk siapa Allah menyiapkan satu sumur dari
sumur-sumur Jahannam ini wahai amirul mukminin?.”
Tanpa berpikir, ia pun menjawab, “Tidak.” Kemudian ia kembali
kepada dirinya dan berkata, “Aduh celaka, untuk siapa Allah
menyiapkannya?.”
Aku menjawab, “Allah telah menyiapkannya untuk orang yang telah
Dia jadikan sebagai wali dalam hukum-Nya kemudian ia berbuat
aniaya!.”
Sulaiman terkejut ketakutan dibuatnya. Aku mengira bahwa
nyawanya akan keluar dari badannya. Ia mulai menangis
tersedu-sedu mengiris urat jantung. Aku meninggalkannya dan
beranjak pergi sementara ia mengucapkan terima kasih kepadaku.
Ketika Umar ibn Abdul Aziz menjabat sebagai Khalifah, ia
mengirim surat kepada Thaawus ibn Kaisan dan berkata kepadanya,
“Wasiatilah aku wahai Abu Abdirrahman.”
Thaawus menulis risalah kepadanya dalam satu baris yang isinya,
“Apabila engkau menginginkan agar seluruh amalanmu baik, maka
pekerjakanlah Ahlul Khair (orang-orang yang baik), wassalam.”
Ketika Umar membaca risalah tersebut, ia berkata, “Cukuplah ini
sebagai mauidzah… cukuplah ini sebagai mau’izhah!!.”
Ketika khilafah berpindah kepada Hisyam ibn Abdul Malik, ada
kejadian-kejadian masyhur yang diriwayatkan antara Thaawus
dengannya.
Di antarnya adalah bahwa Hisyam datang ke Baitul Haram
menunaikan haji. Sesampainya di al-Haram, berkatalah ia kepada
orang-orang terdekatnya dari penduduk Makkah, “Carilah untuk
kami seseorang dari sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi
wassalam.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya para sahabat -wahai
Amirul Mukminin- telah bertemu dengan Rabb mereka satu demi satu
hingga tidak tersisa seorang pun dari mereka.”
“Kalau demikian, maka dari tabi’inm,” katanya. Lalu
didatangkanlah Thaawus ibn Kaisan.Ketika masuk menemuinya, ia
melepas kedua sandalnya di ujung permadaninya. Kemudian ia
menyalami sang khalifah tanpa memanggilnya dengan sapaan Amirul
Mukminin tapi memanggilnya dengan namanya tanpa menggunakan
kunyah-nya. Ia juga duduk sebelum diizinkan untuk duduk.
Kemarahan menyala dalam diri Hisyam hingga terlihat di kedua
matanya. Yang demikian itu karena ia melihat tingkah laku
Thaawus yang begitu berani terhadapnya dan merendahkan wibawanya
di hadapan anggota majlis serta para bawahannya. Hanya saja ia
langsung teringat bahwa ia sedang berada di tanah haram Allah .
Ia menenangkan dirinya dan berkata kepada Thaawus, “Apa yang
membuatmu melakukan hal tersebut wahai Thaawus?!.” “Apa yang
telah aku lakukan?,” katanya. Khalifah kembali marah dan murka
seraya berkata, “Kamu melepaskan sandallmu di ujung karpetku.
Kamu tidak menyalamiku dengan sapaan amirul mukminin tapi kamu
memanggilku dengan namaku bukan dengan kunyah-ku, lalu kamu
duduk tanpa izin dariku!.”
Dengan tenang Thaawus menjawab, “Adapun kenapa aku melepas
sandalku di ujung karpetmu, maka aku melepaskannya di hadapan
Rabbul ‘Izzah setiap hari lima kali sedangkan Dia tidak
mencelaku dan marah kepadaku!?. Adapun ucapanmu bahwa aku tidak
menyalamimu dengan sapaan amirul mukminin, karena tidak seluruh
muslimin ridha dengan kepemimpinanmu sehingga aku takut berdusta
bila memanggilmu dengan amirul mukminin. Adapun celaanmu
terhadapku bahwa aku memanggilmu dengan namam, bukan dengan
julukanmu, maka sesungguhnya Allah memangggil para nabi-Nya
menggunakan nama-nama mereka, Allah berfirman, “Wahai Daud…
wahai Yahya… wahai ‘Isa!!” namun Dia malah memberikan julukan
kepada para musuh-Nya, Dia berfirman, “Binasalah kedua tangan
Abu Lahab (paman Nabi) dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS.
Al-Masad: 1). Adapun perkataanmu bahwa aku duduk sebelum engkau
mengizinkan, sesungguhnya aku mendengar amirul mukminin, ‘Ali
ibn Abi Thalib berkata, ‘Apabila engkau ingin melihat kepada
seseorang dari ahli neraka, maka lihatlah kepada orang yang
duduk sedangkan di sekelilingnya orang-orang berdiri di
hadapannya,” maka aku tidak mau kalau engkau menjadi orang yang
termasuk dari ahli neraka itu!!.”
Hisyam lalu menundukkan pandangannya ke tanah karena malu,
kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Nasihati aku wahai
Abu Abdirrahman.” Ia menjawab, “Aku mendengar ‘Ali ibn Abi
Thalib berkata, ‘Sesungguhnya di Jahannam ada ular-ular yang
seperti tiang yang tinggi kokoh dan kalajengking-kalajengking
yang besarnya seperti Bighal (hasil dari perkawinan antara kuda
dengan keledai, penj). Ia menyengat setiap pemimpin yang tidak
adil terhadap rakyatnya!!.”
Kemudian ia bangkit dan pergi. Sebagaimana Thaawus mendatangi
sebagian ulil amri untuk mengingatkan dan mengarahkan mereka. Ia
juga berpaling dari sebagian yang lain untuk merendahkan dan
mencela mereka. Putranya menceritakan, “Pada suatu tahun kami
keluar bersama ayah untuk menunaikan haji dari Yaman, kami
singgah di beberapa kota. Kota tersebut memiliki seorang pejabat
yang dikenal dengan sebutan ‘ibn Nujaih.’ Ia adalah pejabat yang
paling busuk, orang yang paling berani terhadap kebenaran dan
orang yang demikian banyak terjerumus ke dalam kebathilan.”
Kami mendatangi masjid negeri tersebut untuk melaksanakan shalat
fardhu. Ternyata ibn Nujaih telah mengetahui kedatangan ayahku.
Ia datang ke masjid dan duduk di hadapannya serta menyalaminya.
Ayahku tidak menjawabnya dan memalingkan punggungnya!?. Ia
mendatangi daru sebelah kanannya dan mengajaknya berbicara,
namun ayahku tetap berpaling darinya. Ia berpindah ke sebelah
kirinya dan mengajaknya bicara, tetapi ia berpaling juga
darinya. Ketika melihat hal tersebut, aku bangkit kepadanya dan
menjulurkan tanganku ke arahnya. Aku menyalaminya dan berkata
kepadanya, ‘Sesungguhnya ayahku belum mengenalmu.’ Ia menjawab,
‘Bahkan, sesungguhnya ayahmu telah mengenalku. Dan sesungguhnya
lantaran begitu kenal denganku membuatnya berbuat seperti apa
yang kamu lihat tadi!.’ Ia kemudian pergi, diam dan tidak
berkata sepatah pun.
Ketika kami kembali ke persinggahan, ayahku menoleh kepadaku dan
berkata, ‘Wahai dung!. (mengapa) kamu mencela mereka dengan
lidah tajammu di saat mereka tidak ada. Dan bila mereka datang,
kamu lembutkan perkataanmu kepada mereka!! Bukankah ini
benar-benar nifak?!.’”
Demikianlah, Thaawus ibn Kaisan tidaklah mengkhususkan para
khalifah dan umara dengan mauidzah-mauidzahnya, akan tetapi
mencurahkannya kepada setiap orang yang merasa memiliki hajat
dan raghbah (kecintaan) kepadanya.
Di antaranya yang diriwayatkan oleh ‘Athaa ibn Abi Rabbah, ia
berkata, “Thaawus ibn Kaisan melihatku di suatu tempat yang ia
tidak merasa senang. Ia berkata, ‘Wahai ‘Athaa, jauhi olehmu
untuk mengangkat hajat-hajatmu kepada orang yang menutup
pintunya di wajahmu serta menempatkan para penjaganya di
depanmu. Akan tetapi mintalah hajatmu dari Dzat yang membuka
pintu-pintuNya untukmu dan menuntutmu untuk berdo’a kepada-Nya
dan berjanji akan mengabulkan untukmu!.”
Ia pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, temanilah
orang-orang yang berakal, niscaya kamu akan dinasabkan kepada
mereka, walaupun engkau tidak termasuk dari mereka (bukan
seperti mereka). Janganlah engkau berteman dengan orang-orang
yang jahil, karena sesungguhnya bila engkau bersahabat dengan
mereka, engkau akan dinisbatkan kepada mereka walaupun engkau
tidak termasuk dari golongan mereka (bukan seperti mereka).
Ketahuilah bahwa segala sesuatu memiliki tujuan dan sesungguhnya
tujuan seorang manusia adalah kesempurnaan agamanya dan
kesempurnaan akhlaknya.” Putra beliau, Abdullah telah tumbuh di
bawahan asuhan dan didikan sang orang-tua, berakhlak seperti
akhlaknya dan mengikuti jejak perjalanan hidupnya. Di antaranya,
bahwa Khalifah al-‘Abbasi (khalifah Bani Abbasiyah), Abu Ja’far
al-Manshur telah memanggil putra Thawus, yakni Abdullah ibn
Thaawus serta (memanggil) Malik ibn Anas* untuk menziarahinya.
Ketika keduanya masuk menemuinya dan mengambil tempat duduknya
di dekatnya, khalifah menoleh kepada Abdullah ibn Thaawus dan
berkata, “Riwayatkan kepadaku sesuatu dari hadits yang telah
disampaikan ayahmu kepadamu.”
Ia menjawab, “Ayahku telah bercerita kepadaku bahwa manusia yang
peling keras adzabnya pada hari kiamat adalah seseorang yang
telah Allah jadikan sebagai pemimpin yang mengurusi urusan kaum
muslimin dalam kekuasaannya, kemudian ia memasukkan kezhaliman
dalam putusannya.”
Malik ibn Anas berkata, “Ketika mendengar perkataannya ini, aku
mendekap pakaianku takut darahnya menimpaku. Hanya saja Abu
Ja’far terdiam sesaat dan tidak berkata. Kemudian kami berlalu
dari situ dengan selamat.
Thaawus ibn Kaisan telah diberi umur panjang hingga mencapai
seratus tahun atau lebih sedikit. Hanya saja ketuaan dan usia
yang lanjut tidak sedikitpun mempengaruhi kejernihan akalnya dan
ketajaman pikirannya serta kecepatan dalam menjawab.
Abdullah asy-Syaami menceritakan, “Aku mendatangi Thaawus di
rumahnya untuk menimba ilmu darinya padahal aku tidak
mengenalnya. Maka ketika aku mengetuk pintu, keluarlah seorang
syaikh tua menemuiku. Aku mengucapkan salam kepadanya dan aku
berkata, ‘Apakah anda Thaawus ibn Kaisan?.” Ia menjawab, “Bukan,
aku adalah putranya.’ Aku berkata, ‘Bila kamu adalah putranya,
aku tidak merasa aman bila syaikh menjadi pikun dan rusak
akalnya (karena ketuaan), sesungguhnya aku menujunya dari tempat
yang jauh untuk menimba ilmunya.’ Ia menjawab, ‘Celaka engkau!
Sesesungguhnya para pengemban kitab Allah tidak rusak akalnya!
Masuklah menemuinya.”
Aku masuk menemui Thaawus dan menyalaminya seraya berkata,
’Sungguh, aku telah mendatangimu untuk menimba ilmumu dan cinta
kepada nasehatmu.’ Ia (Thaawus) berkata, ‘Tanyakanlah dan
ringkaslah. ’Aku menjawab, ‘Aku akan menyingkatnya semampuku,
insya Allah.’ Ia berkata, ‘Apakah kamu ingin agar aku
mengumpulkan untukmu inti dari apa yang ada dalam Taurat, Zabur
(kitab Nabi Daud alaihissalam), Injil dan al-Qur’an?’ ‘Ya,’
jawabku.
Ia berkata, ‘Takutlah kepada Allah ta’ala dengan penuh rasa
takut dimana tidak ada sesuatupun yang lebih kamu takuti
dari-Nya. Dan berharaplah dari Dia dengan pengharapan yang lebih
besar dari rasa takutmu kepada-Nya. Cintailah untuk manusia
apa-apa yang kamu cintai untuk dirimu!!.’”
Pada malam kesepuluh dari bulan Dzulhijjah tahun 106 H,
bertolaklah syaikh yang telah berusia lanjut, Thaawus ibn Kaisan
bersama para jema’ah haji dari Arafah menuju Muzdalifah untuk
yang keempat puluh kalinya. Ketika ia menjejakkan kakinya di
tanahnya yang suci dan melaksanakan shalat Maghrib bersama Isya
(jamak takdim). Ia merebahkan punggungnya ke tanah dan ingin
istirahat sebentar. Sesaat kemudian, kematian menjemput beliau.
Ia menemui kematiannya jauh dari sanak keluarga dan kampung
halaman, dalam keadaan bertaqarrub kepada Allah. Bertalbiyah dan
berihram mengharapkan pahala Allah, keluar dari dosa-dosanya
seperti ia dilahirkan oleh ibunya berkat karunia Allah.
Ketika subuh telah muncul dan orang-orang ingin menguburnya.
Mereka tidak mampu mengeluarkan jenazahnya karena saking
banyaknya orang yang berdesak-desakan terhadapnya. Maka Emir
Makkah mengarahkan penjaga untuk menggiring kerumunan manusia
itu dari jenazahnya hingga memudahkan prosesi penguburannya.
Begitu banyak orang yang menyalatinya sehingga tidak ada yang
bisa menghitung jumlahnya kecuali Allah. Dan di antara kelompok
yang menyalatinya itu adalah Khalifah kaum muslimin, Hisyam ibn
Abdul Malik. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Ath-Thabaqatul Kubra oleh ibn Sa’d: 5/537, Thabaqat
khalifah ibn Khayyaat: 287, Tarikh khalifah ibn Khayyaat: 236,.
At-Tarikh al-Kabiir: 4/365, Al-Jarh wat Ta’diil: 4/500, Hilyatul
Auliyaa: 4/3, 23, Thabaqatul Fuqaha oleh asy-Syiirazi: 73,
Al-Lubaab: 1/241, Tahdziibut Tahdziib: 2/101, Tarikhul Islam:
4/126, Tadzkiratul Huffadz: 1/90, Al-‘Ibar: 1/130, Thabaqatul
Qurra: 1/341, An-Nujumuz Zaahirah: 1/26, Syadzaratudz Dzahab:
1/133
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1