URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA TABI’IN DAN TABI’UT TABI...
       *****************************************************
       #Post#: 343--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Tabi’in Dan Tabi’ut Tabi’in
       (Lainnya): Abdul Malik ibn Umar ibn Abdul Aziz
   DIR By: LeManz
       Date: January 1, 2024, 1:57 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Abdul Malik ibn ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz
       [font=georgia]rahimahullah[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=290
       ‘Umar [i]ibn ‘Abdul ‘Aziz dan Putranya, ‘Abdul Malik ibn ‘Umar
       ibn ‘Abdul ‘Aziz (Cerminan Keakraban dan Keharmonisan antara
       ayah yang shalih dan anak yang shalih). “Tahukah anda bahwa
       setiap kaum mempunyai orang cerdas, dan orang cerdas Bani
       Umayyah adalah ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz serta bahwa kelak dia
       dibangkitkan pada Hari Kiamat seorang diri sebagai umat?.”
       (Muhammad ibn Ali ibn al-Husain).[/i]
       Belum lagi seorang tabi’i yang agung, Amirul mu’minin, ‘‘Umar
       ibn ‘Abdul ‘Aziz membersihkan kedua tangannya dari debu kuburan
       pendahulunya (yakni, khalifah sebelumnya), Sulaiman ibn ‘Abdul
       Malik, tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh bumi di
       sekitarnya, lalu beliau berkata, “Apa ini?”
       Orang-orang berkata, “Ini adalah kendaraan Khalifah -Wahai
       Amirul Mu’minin- telah disiapkan untukmu agar engkau
       menaikinya.” Lalu Umar melihatnya dengan sebelah mata, kemudian
       berkata dengan suara gemetar dan terbata-bata karena kelelahan
       dan kurang tidur, “Apa hubungannya denganku? Jauhkanlah ini
       dariku, mudah-mudahan Allah memberkati kalian. Dan tolong bawa
       kemari keledaiku, karena ia sudah cukup bagiku.”
       Kemudian belum lagi pas posis duduk beliau di atas punggung
       keledai hingga datanglah komandan polisi yang berjalan di
       depannya. Bersamanya sekelompok anak-anak buahnya yang berbaris
       di sektor kanan dan kirinya. Di tangan-tangan mereka tergenggam
       tombak yang mengkilat. Lalu beliau menoleh ke arahnya dan
       berkata, “Aku tidak membutuhkan kamu dan mereka. Aku hanyalah
       orang biasa dari kalangan kaum muslimin. Aku berjalan pagi hari
       dan sore hari sama seperti mereka.
       Selanjutnya, beliau berjalan dan orang-orang berjalan bersamanya
       hingga memasuki masjid dan orang-orang dipanggil untuk shalat,
       “ash-Shalâtu Jami’ah…ash-Shalâtu Jami’ah.”
       Maka berdatanganlah orang-orang ke masjid dari segala penjuru.
       Ketika jumlah mereka telah sempurna, beliau berdiri sebagai
       khatib. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya serta bershalawat
       atas nabi, kemudian berkata,
       “Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapat cobaan dengan urusan
       ini (khilafah) yang tanpa aku dimintai persetujuan terlebih
       dahulu, memintanya ataupun dan bermusyawarah dulu dengan kaum
       muslimin.
       Sesungguhnya, aku telah melepaskan bai’at yang ada di pundak
       kalian untukku, untuk selanjutnya kalian pilihlah dari kalangan
       kalian sendiri seorang khalifah yang kalian ridhai.”
       Lantas orang-orangpun berteriak dengan satu suara, “Kami telah
       memilihmu, wahai Amirul mu’minin dan kami ridla terhadapmu. Maka
       aturlah urusan kami dengan berkat karunia dan barakah Allah.”
       Ketika suara-suara telah senyap dan hati telah tenang, beliau
       memuji Allah dan menyanjung-Nya sekali lagi dan bershalawat atas
       Muhammad, hamba dan utusan Allah.
       Beliau mulai menganjurkan orang-orang supaya bertakwa, mengajak
       mereka supaya berzuhud dari kehidupan dunia, mensugesti mereka
       kepada kehidupan akhirat dan mengingatkan mereka kepada kematian
       dengan intonasi yang dapat melunakkan hati yang keras,
       menjadikan air mata durhaka bercucuran dengan deras dan keluar
       dari lubuk hati pemiliknya sehingga terpatri di dalam lubuk hati
       para pendengarnya.
       Kemudian beliau meninggikan suaranya yang agak serak supaya
       semua orang mendengarnya,
       “Wahai manusia barangsiapa yang ta’at kepada Allah, maka dia
       wajib dita’ati. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah,
       maka tidak seorangpun yang boleh ta’at kepadanya. Wahai manusia,
       Taatilah aku selama aku menaati Allah dalam menangani urusan
       kalian. Jika aku bermaksiat kepada Allah, maka kalian tidak usah
       ta’at kepadaku.”
       Kemudian beliau turun dari mimbar untuk menuju ke rumahnya dan
       masuk ke kamarnya. Beliau benar-benar ingin mendapatkan sedikit
       istirahat, setelah kelelahan yang amat sangat, semenjak wafatnya
       khalifah sebelumnya.
       Akan tetapi, ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz baru saja mau meletakkan
       punggungnya di tempat tidurnya, hingga datanglah putranya,
       ‘‘Abdul Malik yang waktu itu baru menginjak usia tujuh belas
       tahun. Lalu sang putra berkata, “Apa yang ingin engkau lakukan,
       wahai Amirul mu’minin?!!” Ayahnya menjawab,
       “Wahai anakku, aku ingin tidur sejenak, karena sudah tersisa
       lagi tenagaku ini.”
       “Apakah engkau masih ingin tidur sejenak sebelum mengembalikan
       hak-hak orang yang dizhalimi, wahai Amirul mukminin?!!” kata
       putranya lagi.
       Lalu sang ayah menjawab,
       “Wahai anakku, sesungguhnya aku tadi malam bergadang malam
       (tidak tidur) karena bersama pamanmu Sulaiman. Nanti kalau sudah
       datang waktu Dzuhur, aku akan shalat bersama orang-orang dan
       akan aku mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi tersebut,
       insyaa Allah.”
       Sang putra berkata lagi,
       “Siapakah yang menjaminmu, wahai Amirul mukminin kalau usiamu
       hanya sampai Zhuhur?!”
       Ucapan ini berhasil membakar semangat Umar dan melenyapkan rasa
       kantuk dari kedua matanya sehingga membangkitkan kekuatan dan
       kesegaran badannya yang sebelumnya demikian lelah. Ketik itu
       berkatalah dia kepada sang putra,
       “Mendekatlah kemari wahai putraku!.”
       Sang putrapun mendekat dan Umar langsung memeluk serta menciumi
       keningnya seraya berkata,
       “Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan dari keturunanku
       orang yang menolongku di dalam menjalankan agama.”
       Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya di umumkan kepada
       orang-orang, “barangsiapa yang merasa teraniaya, maka hendaklah
       dia mengajukan perkaranya.”
       Lalu, siapakah ‘Abdul Malik ini?! Bagaimana cerita anak muda ini
       sehingga menjadi buah bibir orang-orang?
       Sungguh, dialah anak yang berhasil mensugesti ayahnya untuk
       rajin beribadah dan mengarahkannya agar menempuh jalan
       kezuhudan. Marilah kita telusuri lagi kisah pemuda yang shalih
       ini dari awalnya!.
       Adalah ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz mempunyai lima belas orang anak,
       tiga di antaranya ada tiga perempuan. Anak-anak itu semuanya
       adalah anak-anak yang memiliki tingkat ketakwaan dan keshalihan
       yang sangat memadai. Namun ‘Abdul Malik adalah putra paling
       menonjol di antara saudara-saudaranya dan bintangnya mereka yang
       bersinar-sinar. Dia seorang anak yang ahli sastra, mahir lagi
       cerdik sekalipun usia masih muda tetapi cara berpikirnya sudah
       dewasa.
       Di samping itu, dia memang tumbuh sebagai anak yang ta’at kepada
       Allah sejak mudanya sehingga dialah orang yang tingkah lakunya
       paling dekat dengan keluarga besar al-Khaththab secara umum
       serta yang paling mirip dengan ‘Abdulllah ibn ‘Umar, khususnya
       dari sisi ketakwaan kepada Allah, rasa takut berbuat maksiat
       kepada-Nya serta bertaqarrub kepada-Nya dengan melakukan
       keta’atan.
       Keponakannya Ashim (ibn Abu Bakar ibn Abdul Aziz ibn Marwan, dia
       adalah anak saudara ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz) bercerita, “Suatu
       waktu, aku bertandang ke Damaskus lantas mampir di rumah anak
       pamanku (sepupuku), ‘Abdul Malik. saat itu, dia masih bujangan,
       lalu kami menunaikan shalat isya’ kemudian masing-masing kami
       beranjak ke tempat tidur. Lalu ‘Abdul Malik mendekati lampu dan
       mematikannya sementara masing-masing kami mulai tidur. Kemudian
       aku bangun pada tengah malam, ternyata ‘Abdul Malik sedang
       berdiri shalat dengan khusyu’nya seraya membaca firman Allah
       ’Azza Wa Jalla (artinya),
       “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka
       kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka
       azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna
       bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.
       Asy-Syu’arâ': 205-207)
       Tidak ada yang membuatku begitu terkesan kepadanya kecuali saat
       dia mengulang-ulang ayat tersebut dan menangis dengan tangisan
       yang tersedu-sedu dari dalam hati (tidak terdengar). setiap kali
       dia selesai dari ayat itu, dia mengulanginya kembali, sehingga
       aku berkata dalam hati, “Anak ini bisa mati oleh tangisannya.”
       Ketika aku melihatnya seperti itu, aku mendesis,
       “Lâ ilâha illallâh wal hamdu lillâh. Seakan ucapan orang yang
       bangun dari tidur, padahal tujuanku untuk menghentikan
       tangisannya.
       Ketika mendengar suaraku, dia terdiam dan tidak lagi terdengar
       suara rintihannya tersebut.”
       Pemuda dari keluarga besar ‘Umar ini banyak berguru kepada
       ulama’-ulama’ besar pada zamannya sehingga begitu ‘enjoy’ dengan
       Kitab Allah, kenyang dengan hadits Rasulullah serta pemahaman
       terhadap agama.
       Sehingga dia menjadi seorang yang dapat berkompetisi dengan para
       ulama kelas atas (ternama) pada zamanya, sekalipun usianya
       ketika itu masih sangat muda.
       Diriwayatkan bahwa ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz pernah mengumpulkan
       para Qurra` (ahli baca al-Qur’an) dan ahli fiqih negeri Syam.
       ketika itu, beliau berkata,
       “Sesungguhnya aku memanggil kalian untuk penanganan tindak
       kezhaliman yang sekarang ada di tangan keluargaku, bagaimana
       pandangan kalian?”
       Maka mereka berkata,
       “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya hal itu tidak termasuk
       kawasan wewenang anda. Dosa-dosa atas tindakan kezhaliman
       tersebut sepenuhnya berada di pundak orang yang mengambilnya
       secara tidak benar (merampasnya).”
       Rupanya beliau belum puas dengan jawaban mereka tersebut, lalu
       melirik ke arah salah seorang di antara mereka yang tidak
       sependapat dengan pendapat mereka itu, seraya berkata kepadanya,
       “Utuslah orang untuk memanggil ‘Abdul Malik, karena dia tidak
       lebih rendah ilmunya, pemahaman (fiqih)nya ataupun daya nalarnya
       dari orang-orang telah yang engkau undang.”
       Ketika ‘Abdul Malik menemuinya, Umar berkata kepadanya,
       “Bagaimana pendapatmu tentang harta orang-orang yang diambil
       anak-anak paman kita secara dzalim, sedangkan pemilik-pemiliknya
       telah datang dan memintanya dan kita telah mengetahui hak mereka
       pada harta itu?!”
       ‘Abdul Malik berkata, “Menurutku, hendaknya ayahanda
       mengembalikan harta itu kepada para pemiliknya selama ayahanda
       mengetahui permasalahannya. Sebab, jika tidak, berarti ayahanda
       termasuk kongsi orang-orang yang mengambilnya secara dzalim
       tersebut.”
       Maka lapanglah seluruh rongga-rongga tubuh Umar, jiwanya menjadi
       lega dan apa yang menghantuinyapun hilang.
       Anak muda keturunan Umar ini lebih menyukai “Murabathah”
       (berjaga-jaga di perbatasan dari serangan musuh) dengan tinggal
       di salah satu kota yang dekat dengannya ketimbang tetap tinggal
       di negeri Syam.
       Dia tetap berangkat ke sana sementara di belakangnya kota
       Damaskus yang bertaman indah, naungan yang rimbun dan memiliki
       tujuh sungai dia tinggalkan begitu saja.
       Dalam pada itu, sekalipun sang ayah telah mengetahui keshalehan
       dan ketakwaan anaknya, beliau masih mengkhawatirkannya dan
       kasihan kalau-kalau dia bisa luluh oleh godaan syaitan dan
       gejolak-gejolak masa muda serta begitu antusias untuk mengetahui
       segala-galanya tentang dirinya tersebut selama dia bisa
       mengetahuinya. Dan beliau tidak pernah melalaikan hal itu dan
       tidak pernah mengabaikannya sama sekali.
       Maimun ibn Mahran, seorang Menteri, Qadli sekaligus penasehat
       ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, pernah bercerita,
       “Sewaktu menemui ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, aku mendapatinya sedang
       menulis surat kepada anaknya, ‘Abdul Malik. Dalam suratnya itu,
       beliau memberikan nasehat, pengarahan, peringatan, berita
       menakutkan dan gembira.”
       Di antara isinya adalah, ‘Amma ba’du, sesungguhnya engkaulah
       orang yang paling pantas untuk menangkap dan memahamai ucapanku.
       Dan sesungguhnya pula, segala puji bagi Allah, Dia telah berbuat
       baik kepada kita dari urusan sekecil-kecilnya hingga
       sebeasar-besarnya. Maka ingatlah karunia Allah kepadamu dan
       kepada kedua orang-tuamu. Janganlah sekali-kali kamu berlaku
       sombong dan bangga diri, karena hal itu adalah termasuk
       perbuatan syaitan, sedangkan syaitan itu adalah musuh yang nyata
       bagi orang-orang yang beriman. Dan ketahuilah, bahwa aku
       mengirimkan surat ini, bukan karena ada laporan tentang dirimu
       sebab aku tidak mengetahui tentangmu kecuali hal yang baik-baik.
       Namun demikian, telah sampai laporan kepadaku bahwa perihal
       tindakanmu yang suka berbangga-bangga diri. Seandainya
       kebanggaan ini menyeretmu kepada sesuatu yang aku benci, tentu
       kamu mendapatkan telah melihat dariku sesuatu yang kamu benci.
       Maimun berkata, “Kemudian Umar menoleh kepadaku seraya berkata,
       ‘Wahai Maimun, sesungguhnya anakku -’Abdul Malik- telah
       menghiasi mataku (dikasihi dan tidak ada lagi cacatnya) dan aku
       menuduh diriku telah melakukan itu. Karenanya, aku khawatir
       kalau rasa cintaku kepadanya telah melebihi pengetahuanku
       tentang dirinya sehingga apa yang menimpa nenek moyangku dulu
       yang buta terhadap aib anak-anaknya menimpa diriku juga. Maka
       pergilah untuk mengawasinya, carilah informasi akurat tentangnya
       serta perhatikanlah apakah ada padanya sesuatu yang mirip
       kesombongan dan berbangga-bangg itu, karena dia masih anak muda
       dan aku belum dapat menjamin dirinya bisa terhindar dari godaan
       syaithan.”
       Maimun berkata lagi, “Maka aku segera berangkat hingga bertemu
       dengan ‘Abdul Malik, lalu minta permisi dan masuk. Ternyata dia
       adalah seorang yang baru menginjak remaja dan masih muda belia,
       memiliki pandangan yang ceria dan sangat tawadlu’ (rendah diri).
       Dia duduk di atas hamparan putih, di atas karpet yang terbuat
       dari bulu. Lantas menyambutku sembari berkata, ‘Aku telah
       mendengar ayahanda sering berbicara tentang dirimu yang memang
       pantas kamu menyandangnya, yaitu seorang yang baik. Aku berharap
       Allah menjadikanmu orang yang berguna.’ Aku bertanya kepadanya,
       ‘Bagaimana keadaanmu?’
       Dia menjawab, ‘Senantiasa dalam keadaan baik dan mendapat nikmat
       dari Allah Azza wa Jalla. Hanya saja, aku khawatir bilamana
       sangkaan baik ayahanda terhadapku membuatku terbuai sementara
       sebenarnya aku belum mencapai tingkat keutamaan sebagaimana yang
       disangkanya itu. Dan sungguh aku khawatir kalau kecintaan
       ayahanda kepadaku telah melebihi pengetahuannya tentang diriku
       sehingga aku malah menjadi bebannya.’
       Mendengar jawaban itu, aku (Maimun) jadi terkagum-kagum kenapa
       bisa terjadi kecocokan hati di antara keduanya. Kemudian aku
       bertanya kepadanya,
       ‘Tolong beritahu aku dari mana sumber penghidupanmu?.’
       Dia berkata, “Dari hasil tanah yang aku beli dari seseorang yang
       mendapat warisan ayahnya. Aku membayarnya dengan uang yang bukan
       syubhat sama sekali sehingga karenanya aku tidak membutuhkan
       lagi harta Fai’ (yang didapat tidak melalui peperangan -red.,)
       kaum Muslimin.’ Aku bertanya lagi,
       ‘Apa makananmu?’
       ‘Terkadang daging, terkadang ‘Adas dan minyak dan terkadang cuka
       dan minyak. Dan, ini sudah cukup.”
       Lalu aku bertanya lagi,
       “Apakah kamu tidak merasa bangga dengan dirimu sendiri?” Dia
       menjawab, “Pernah aku merasakan sedikit dari hal semacam itu
       namun tatkala ayahandaku memberikan wejangan kepadaku, dia
       berhasil membelalakkan mataku akan hakikat diriku dan
       menjadikannya kecil bagiku dan jatuh harkatnya di mataku
       sehingga akhirnya Allah 'Azza wa Jalla menjadikan wejangan itu
       bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah membalas kebaikan
       ayahandaku.”
       Satu jam aku habiskan untuk mengobrol bersamanya dan rileks
       dengan ucapannya. Rasanya, belum pernah aku melihat pemuda
       setampan dia, sesempurna otaknya dan seluhur akhlaqnya padahal
       dia masih beliau dan kurang pengalaman.
       Ketika di penghujung siang, pembantunya datang semberi berkata,
       “Semoga Allah memperbaiki dirimu, kami sudah kosongkan!.” Lalu
       dia diam…
       Aku bertanya kepadanya,
       “Apa yang mereka kosongkan itu?.”
       “WC.” Katanya
       “Bagaimana caranya?.” Tanyaku lagi
       “Yah, mereka kosongkan dari orang-orang.” Jawabnya
       “Tadinya sikapmu mendapatkan tempat yang agung di hatiku hingga
       sekarang aku dengar hal ini.” Kataku.
       Dia begitu cemas dan mengucap Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi
       Râji’ûn, lalu berkata,
       “Apa itu, wahai paman -semoga Allah merahmatimu-?.”
       “Apakah WC itu milikmu?.” Tanyaku.
       “Bukan.” Katanya.
       “Lantas apa alasanmu mengeluarkan orang-orang darinya?.
       Sepertinya dengan tindakanmu itu, engkau ingin mengangkat dirimu
       di atas mereka dan menjadikan kedudukanmu berada di atas
       kedudukan mereka. Kemudian engkau juga menyakiti si penunggu WC
       ini dengan tidak mengabaikan upah hariannya dan membuat orang
       yang datang ke mari pulang sia-sia.” Kataku lagi
       Dia berkata, “Adapun mengenai penunggu WC ini, maka aku sudah
       membuatnya rela dengan memberikan upah hariannya.”
       “Ini namanya pengeluaran foya-foya yang dicampuri oleh
       kesombongan. Apa sih yang membuatmu enggan masuk WC bersama
       orang-orang padahal engkau sama saja dengan salah seorang dari
       mereka?.” Kataku “Yang membuatku enggan hanyalah polah beberapa
       orang-orang tak beres yang masuk WC tanpa penghalang sehingga
       kau tidak suka melihat aurat-aurat mereka itu. Demikian pula,
       aku tidak suka memaksa mereka mengenakan penghalang sehingga hal
       ini bisa mereka anggap sebagai campur tanganku terhadap mereka
       dengan menggunakan kewenangan penguasa yang aku bermohon kepada
       Allah agar kita terhindar darinya. Karena itu, tolong nasehati
       aku -semoga Allah merahmatimu- sehingga berguna bagiku dan
       carilah solusi dari permasalahan ini!” Jawabnya.
       Aku berkata,
       “Tunggulah dulu hingga orang-orang keluar dari WC pada malam
       hari dan kembali ke rumah-rumah mereka, lalu masuklah!.”
       “Kalau begitu, aku berjanji. Aku tidak akan masuk selama-lamanya
       pada siang hari semenjak hari ini dan andaikata bukan karena
       begitu dinginnya temperatur di negeri ini (sehingga selalu ingin
       buang hajat -red.,), tentu aku tidak akan masuk ke WC itu
       selama-lamanya.” Katanya
       Dia berhenti sejenak seakan memikirkan sesuatu, kemudian
       mengangkat kepalanya menoleh ke arahku sembari berkata,
       “Aku bersumpah di hadapanmu, tolong dengan sangat engkau simpan
       rahasia ini sehingga tidak didengar ayahandaku, sebab aku tidak
       suka dia masih marah padaku. Aku khawatir bila datang ajal
       sementara tidak mendapatkan keridlaan beliau.”
       Maimun berkata,
       “Lalu aku berniat ingin mengetesnya seberapa jauh ke dalaman
       akalnya, seraya berkata kepadanya, ‘Jika Amirul Mukminin (‘Umar
       ibn ‘Abdul ‘Aziz, ayahandanya) bertanya kepadaku, apakah aku
       melihat sesuatu darimu, apakah engkau tega aku berdusta
       terhadapnya?.”
       “Tidak. Ma’adzallâh, akan tetapi katakan padanya, ‘aku telah
       melihat sesuatu darinya lantas aku nasehati dia, aku jadikan hal
       itu sebagai perkara besar di hadapan matanya lalu dia
       cepat-cepat sadar.’ Setelah itu, ayahandaku pasti tidak akan
       menanyakanmu untuk menyingkap hal-hal yang tidak engkau
       tampakkan padanya. Sebab, Allah Ta’ala juga melindunginya dari
       mencari hal-hal yang masih terselubung.” Jawabnya.
       Maimun berkata, “Sungguh, aku belum pernah sama sekali melihat
       seorang anak dan ayah seperti mereka berdua -semoga Allah
       merahmati keduanya-.“
       Semoga Allah meridlai Khalifah ar-Rasyid kelima, ‘Umar ibn
       ‘Abdul ‘Aziz, menyejukkan kuburannya dan kuburan putra serta
       buah hatinya, ‘‘Abdul Malik.
       Keselamatanlah bagi keduanya pada hari bertemu dengan Allah
       Ta’ala, Ar-Rafîq al-A’la.
       Keselamatanlah bagi keduanya pada hari dibangkitkan bersama
       orang-orang pilihan dan ahli kebajikan. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       CATATAN: Sebagai bahan tambahan mengenai biografi ‘Umar ibn
       ‘Abdul ‘Aziz dan anaknya ‘Abdul Malik, silahkan rujuk:
       - Sîrah ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz karya ibn al-Jauziy.
       - Sîrah ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz karya ibn Abdil Hakam.
       - Ath-Thabaqât al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Jilid. I, II, III, IV,
       V, VI, VII, VIII
       - Shifah ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauziy, Jld. II, hal.
       113-126. Dan di halaman 127 (buku asli) dan setelahnya terdapat
       bigrafi khusus tentang putranya ‘Abdul Malik.
       - Hilyah al-Auliyâ` karya al-Ashfahâniy, Jld. V, hal. 203-353.
       Dan di halaman 353 hingga halaman 364 (buku asli) terdapat
       biografi khusus tentang putranya ‘Abdul Malik.
       - Wafayât al-A’yân karya ibn Khalakân, Jilid. I, II, III, IV, V
       - Târîkh ath-Thabariy, Jilid. I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII
       - Al-‘Iqd al-Farîd karya ibn ‘Abd Rabbih, Jilid. I, II, III, IV,
       V, VI, VI, VII, VIII
       - Al-Bayân wa at-Tabyîn karya al-Jâhizh
       - Târîkh Madînah Dimasyq karya ibn ‘Asâkir, Jilid.II, hal.
       115-127
       - Tahdzîb at-Tahdzîb karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Jilid. VII,
       hal. 475-478
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1