URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       C↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH &#158...
       *****************************************************
       #Post#: 315--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
       صلى ا لله
       عليه وسلم :
       Abdullah ibn Jahsy
   DIR By: WalimanovSakti
       Date: December 31, 2023, 8:54 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Abdullah ibn Jahsy
       [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       (Wafat 3 H / 625 M) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad
       &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=297
       Abdullah [i]ibn Riab ibn Yakmur adalah seorang sahabat asal dari
       suku Bani Asad, saudara kandung Zainab bint Jahsy, ummul
       mukminin. Ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini
       meninggal dalam perang Uhud.
       Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:
       [color=blue]“Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi
       menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah,
       (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari
       sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat
       fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. Mereka tidak
       henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)
       mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya
       mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari
       agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang
       sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah
       penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (2: 217). Menurut
       beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan
       Abdullah ibn Jahsy.[/i][/color]
       &#10043; Abdullah ibn Jahsy radhiyallahu’anhu
       Dalam Perang Uhud, kaum Quraisy laki-laki dan perempuan
       melakukan belas dendam terhadap kaum Muslimin atas kekalahan
       mereka dalam Perang Badar. Mereka bertindak seperti srigala
       buas, merobek-robek perut Hamzah ibn Abdul Muththalib, paman
       Rasulullah, dan memakan hatinya. Abdullah ibn Jahsy
       radhiyallahu’anhu; Mereka potong hidung dan daun telinganya.
       Abdullah ibn Jahsy radhiyallahu’anhu bangga sekali karena ia
       merupakan kepala pasukan pertama yang dilantik Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam dan komandan pasukan pertama yang
       menetapkan kemenangan perang 1/5 (seperlima) bagian untuk
       Rasulullah sebelum Allah mengukuhkannya.
       Ayahnya adalah Jahsy ibn Riab ibn Khuzaimah al-Asadi, ibunya
       adalah Aminah bint Abdul Muththalib ibn Hasyim, dan saudarinya
       adalah Zainab bint Jahsy, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam. Jadi, dia adalah saudara misan Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam dan ibunya, sekaligus iparnya.
       Dia dilahirkan di Mekkah, dekat Baitullah al-Haram. Sesudah ia
       dewasa barulah tahu jalan ke Ka’bah. Ia berdiri lama di depan
       Ka’bah, mengamati jamaah haji yang datang berbondong-bondong
       dari seluruh pelosok dunia.
       Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri isak tangis mereka, air
       mata sedih dan keharuan mereka, dan keluh kesah serta do’a
       mereka di depan Ka’bah yang megah itu.
       Berapakali telinganya mendengarkan rintihan dan bisikan mereka
       dengan berbagai bahasa yang tidak dipahami maksud dan tujuannya.
       Pada saat itu, ia merebahkan dirinya di pangkuan ibunya
       menanyakan dengan penuh harap apa-apa yang dilihatnya.
       Ibunya menjawabnya dengan penuh rasa kasih sayang sambil
       mengusap-usap kepalanya dan pundaknya hingga ia tertidur.
       Putranya itu lalu diselimuti dan dido’akannya supaya Tuhan
       Ka’bah itu melindungi dan memeliharanya.
       Pada suatu hari, ia datang kepada ibunya sambil menangis sedih.
       Ia menceritakan bahwa sekelompok orang telah meruntuhkan
       bangunan Ka’bah itu.
       Ibunya menenangkan hatinya, menceritakan kepadanya bahwa mereka
       sedang memugar bangunan itu supaya emas perak dan permata
       mutumanikam yang ada di dalamnya tidak dicuri orang akibat
       kerusakan yang ditimbulkan banjir.
       Pada waktu itu, Abdullah melihat bagaimana persaingan keras
       antara para kabilah Arab yang berebutan ingin meletakkan Hajar
       Aswad di tempatnya, hingga hampir terjadi pertengkaran dan
       peperangan antara mereka.
       Untunglah, akhirnya, mereka menerima gagasan sesepuh mereka
       untuk menyerahkan hal itu kepada orang yang pertama kali masuk
       ke Baitullah esok paginya, untuk menetapkan kabilah mana yang
       mendapat kehormatan meletakkannya.
       Ternyata, orang yang masuk pertama itu Muhammad al-Amin, yang
       kemudian ia menggelarkan mantelnya dan meletakkan Hajar Aswad
       itu di tengahnya, lalu ia perintahkan kepada semua wakil kabilah
       yang hadir untuk memegang ujung mantel itu dan mengangkatnya ke
       dekat tempatnya, lalu ia mengangkat dengan tangannya dan menaruh
       di tempatnya.
       Sesudah Hajar al-Aswad diletakkan di tempatnya, para pekerja
       meneruskan pekerjaannya memperbaiki Ka’bah.
       Sejak saat itulah, Abdullah mencintai Muhammad al-Amin dengan
       sepenuh hati dan mengagumi kebijaksanaannya memecahkan masalah
       yang hampir menimbulkan pertumpahan darah diantara kabilah Arab,
       dan caranya yang cerdik menyertakan semua kabilah ikut merasa
       mendapat kehormatan mengangkat Hajar al-Aswad ke tempatnya.
       Sejak itulah, ia menjadikan Muhammad sebagai tokoh favorit dan
       panutannya.
       Setiap hari, Abdullah berusaha menyertai dan duduk-duduk dengan
       Muhammad untuk belajar lebih banyak tentang berbagai hal, baik
       melalui tutur katanya maupun melalui tingkah lakunya.
       Pada suatu hari, Abdullah tidak melihat Muhammad al-Amin seperti
       biasanya. Ia tidak sabar menantinya, ia pergi mengetuk pintu
       rumahnya. Istri beliau memberitahukan bahwa beliau ada di Gua
       Hira.
       Ia pulang ke rumahnya dengan kecewa dan sedih karena rasa
       rindunya kepada laki-laki pujaannya itu. Kapan gerangan ia
       kembali duduk-duduk bersamanya lagi?.
       Pada suatu pagi yang membahagiakan, menjelang fajar menyingsing,
       dimana embusan angin membawa titik-titik embun yang
       membangkitkan kehidupan dan kesegaran, Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam sedang sujud di tempat shalatnya, memuja dan
       memuji Tuhannya, tiba-tiba ia mendengar seperti gemerincing
       suara bel, kemudian malaikat Jibril menyampaikan wahyu dan
       perintah Tuhan, “Dan, berilah peringatan kepada
       kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara: 214)
       Sang surya sudah menampakkan wajahnya yang perkasa dan
       memancarkan cahayanya, menghalau sisa titik-titik embun yang
       masih ada diatas daun. Sementara itu, Muhammad al-Amin
       melangkahkan kakinya menuju Bukit Shafa, tidak jauh dari Ka’bah,
       lalu teriaknya, “selamat pagi, selamat pagi.”
       Abdullah masih telentang diatas tempat tidurnya, matanya terbuka
       lebar, sambil berpikir untuk menemui Muhammad al-Amin di Gua
       Hira, seperti yang dikabarkan isteri beliau, Khadijah.
       Tiba-tiba, ia mendengar kumandang suara Muhammad, “selamat pagi,
       selamat pagi” dari atas bukit Shafa, tidak jauh dari rumahnya.
       Ia lalu melemparkan selimutnya dan pergi ke sana.
       Tampaknya, suara itu berhasil mengumpulkan kaum Quraisy;
       semuanya berdatangan ingin tahu ada apa sepagi itu mereka
       diundang.
       Sesudah mereka berkumpul, mulailah beliau menyeru mereka, “Hai
       keluarga Ghalib, keluarga Luai, keluarga Murrah, keluarga Kilab,
       keluarga Qushai, dan keluarga Abdu Manaf! Kalau aku
       memberitahukan kepada kalian bahwa di balik gunung itu ada musuh
       yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan
       mempercayaiku?.”
       Mereka menjawab serentak, “Ya, karena kau tidak pernah berbohong
       kepada kami.”
       Rasulullah melanjutkan, “Maka, janganlah kamu menyeru
       (menyembah) tuhan yang lain disamping Allah, yang menyebabkan
       kamu termasuk orang-orang yang diazab. Dan, berilah peringatan
       kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkan dirimu
       terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang
       beriman.” (Asy-Syu’araa’: 213-215)
       Kerumunan orang itu lalu bubar. Ada yang percaya dan ada yang
       tidak, masing-masing membela argumentasi dan kebenarannya.
       Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang
       kembali ke rumahnya. Abdullah pun kembali juga dengan membawa
       kata-kata baru yang dilontarkan Muhammad al-Amin itu. Ternyata,
       kata-katanya meyakinkan kalbunya, lalu ia pergi menyusul
       Muhammad ke rumahnya dan meyatakan keislamannya di sana.
       Sesudah ia mengucapkan kalimat syahadat, lalu ia mengajak kedua
       saudara perempuannya masuk Islam juga dan ternyata mereka
       mengikuti jejaknya, malah ia menjadikan salah sebuah ruangan
       dalam rumahnya sebagai mushalla untuk beribadah dengan tekun dan
       khusyu’ kepada Allah Ta’ala.
       Akan tetapi, Quraisy telah menunggangi kepalanya sendiri. Ia
       memaklumatkan perang tanpa ampun terhadap dakwah itu dan
       bertindak kejam dan keji terhadap para mustadh’afin yang berani
       mengikuti ajaran Muhammad termasuk juga Abdullah.
       Beberapa orang mustadh’afin datang menghadap Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta supaya Allah
       meringankan beban yang mereka derita. Dengan agak gusar,
       Rasulullah bersabda: “Demi Allah, orang-orang sebelum kalian
       ditangkap dan tubuhnya dibelah dua, namun mereka tidak bergeser
       dari agamanya sedikitpun. Ada lagi yang tubuhnya disisir dengan
       sisir besi diantara tulang dan dagingnya, tetapi hal itu tidak
       memaksa mereka beralih agama. Hal ini akan berjalan terus hingga
       para musafir dari Shan’a’ ke Hadramaut tidak merasa gentar lagi
       selain kepada Allah atau para gembala tidak takut lagi kepada
       ternaknya dari terkaman srigala, tetapi memanglah kalian suatu
       kaum yang terburu nafsu.”
       Penyiksaan Quraisy makin ganas dan kejam. Abu Jahal menyiksa dan
       menganiaya Sumayyah, ibu Ammar radhiyallahu’anhu hingga tewas,
       begitu pula suaminya, Yasir dan puteranya, Ammar.
       Sudah tentu berita itu menimbulkan rasa ngeri dan gelisah pada
       kaum mustadh’afin karena mereka tidak diperkenankan
       memaklumatkan perang terhadap kaum mustakbirin itu. Apa yang
       harus mereka lakukan sedangkan kaum kafir Quraisy tidak henti-
       hentinya melakukan tindakan penindasan dan perang permusuhan?.
       Mereka berkumpul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       untuk meminta dicarikan jalan pemecahan dari ancaman dan
       terkaman orang-orang ganas dan buas yang tidak
       berperikemanusiaan itu.
       Pada saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       mengemukakan gagasannya: “Kalau kalian mau hijrah ke negeri
       Habasyah, disana terdapat seorang raja yang tidak berlaku zhalim
       kepada siapapun, dialah negeri kejujuran hingga Allah membukakan
       kelapangan dari keadaan kalian dewasa ini.”
       Kini, mereka diperkenankan melakukan hijrah, menyelamatkan diri
       dan agamanya ke negeri yang lebih aman agar bisa menunaikan
       ibadahnya dengan bebas dan tenang.
       Pada waktu itu, Abdullah dan kedua saudara laki-lakinya serta
       kedua saudara perempuannya, bahkan dengan semua anggota
       keluarganya, pergi hijrah ke negeri yang dimaksudkan Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai negeri kejujuran, yang
       rajanya tidak pernah berlaku zhalim itu.
       Amr ibnul Ash radhiyallahu’anhu berkisah, “Pada suatu hari, aku
       duduk di Majelis an-Najasyi, Raja Habasyah, lalu masuklah Amr
       ibn Umayyah adh-Dhamari. Pada waktu itu, ia sedang membawa surat
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Raja Habasyah itu.
       Sesudah ia keluar, aku berkata kepada Najasyi, ‘orang itu
       perutusan musuh kami. Ia yang telah menegangkan situasi dan
       membuat tokoh-tokoh kami setengah mati. Serahkanlah dia kepada
       kami, kami akan membunuhnya’.
       Ia gusar sekali atas omongan itu, lalu ia memukul mukaku dengan
       keras hingga terasa hidungku seakan-akan copot dan mengucurkan
       darah banyak sekali ke bajuku. Aku merasa terhina sekali di
       tengah-tengah majelis itu. Rasanya, aku lebih rela mati terkubur
       dalam tanah daripada menderita malu serupa itu.
       Untuk melunakkan amarahnya, aku berkata lagi, ‘kalau aku tahu
       baginda akan murka seperti ini, aku tidak akan mengajukan
       permintaan seperti itu’.
       ‘Ya Amr, kau meminta kepadaku supaya aku menyerahkan perutusan
       orang yang mendapatkan Namus yang maha besar, yang pernah datang
       kepada Musa ‘alaihissalam dan ‘Isa ‘alaihissalam. Kau meminta
       aku menyerahkan perutusannya untuk dibunuh?’.”
       “Sejak saat itu,”kata Amr selanjutnya, “dalam hati kecilku
       terjadi perubahan sikap, lalu kataku dalam hati, ‘Bangsa Arab
       dan ‘Ajam/asing mengenal kebenaran ini sedangkan kau akan
       melawannya’. Aku kemudian bertannya kepadanya, ‘Apakah yang
       mulia percaya atas hal itu?’.”
       ‘Ya, Aku bersaksi di hadapan Allah, wahai Amr! Percayalah
       kepadaku, dia adalah benar, dia akan dimenangkan atas orang yang
       melawannya, seperti halnya Musa ‘alaihissalam dimenangkan
       melawan Fir’aun dan pasukannya’.
       ‘Apakah yang mulia mau menerima bai’atku masuk Islam atas
       namanya?’.
       ‘Ya!, ia lalu mengulurkan tangannya membai’atku masuk Islam.”
       Abdullah dan keluarganya hidup di negeri Habasyah dalam
       perlindungan raja yang murah hati itu hingga datang berita yang
       mengatakan bahwa kaum Quraisy sudah sadar dan masuk Islam, lalu
       Abdullah dan beberapa orang Muhajirin lainnya kembali ke Mekkah.
       Ternyata, berita Islamnya kaum Quraisy itu hanyalah isapan
       jempol yang disebarluaskan Quraisy supaya para Muhajirin itu
       kembali untuk menghadapi siksaan dan penganiayaan yang baru
       lagi.
       Abdullah dan keluarganya tinggal beberapa saat lamanya di Mekkah
       hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan
       melakukan hijrah kembali sehingga rumah mereka di Mekkah kosong
       melompong, tidak ada yang menghuninya. Sesudah Abu Sufyan
       melihat hal ini, lalu ia menawarkan dan menjualnya. Sesudah
       berita itu terdengar oleh keluarga Jahsy, Abdullah
       memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam, Rasulullah lalu menjawab, “wahai Abdullah!
       Apakah kau tidak mau Allah menggantimu dengan sebuah rumah yang
       lebih baik di surga?.”
       “Sudah tentu mau,” sahut Abdullah ibn Jahsy.Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, “Nah, itu untukmu
       kelak.”
       Sesudah kota Mekkah ditaklukkan, Abu Ahmad, saudara Abdullah ibn
       Jahsy, datang membicarakan lagi soal rumah-rumah keluarga Jahsy
       yang dijual oleh Abu Sufyan itu, tetapi Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam mengulur-ulur masalah itu. Beberapa orang lalu
       memberi keterangan,”wahai Abu Ahmad, Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam tidak suka membahas kembali kekayaan yang
       dirampas dari kalian demi karena Allah.”
       Sejak itulah, ia tidak mau lagi mengungkit-ungkit soal
       tersebut.Abdullah ibn Jahsy merupakan komandan pasukan pertama
       yang dikirimkan ke perbatasan kota Mekkah sehingga menimbulkan
       kontak senjata dan meninggalnya Amru al-Hadhrami serta
       tertawannya Utsman ibn Abdullah ibn al-Mughirah dan al-Hakam ibn
       Kisan, yang menimbulkan kegusaran kaum Quraisy. Mereka berkata:
       “Muhammad dan kawan-kawannya menghalalkan bulan haram.”
       Abdullah mengikuti Perang Badar dan semua peristiwa sesudahnya
       bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga Perang
       Uhud yang rupanya Allah Ta’ala ingin menguji kaum muslimin.
       Abdullah ibn Ubay, kepala kaum munafiqin di Madinah, kembali ke
       Madinah di tengah perjalanan dengan 1/3 pasukan, tetapi kaum
       Muslimin mendesak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk
       tetap keluar dari Madinah.
       Sebelum perang dimulai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       duduk di sebuah pondok yang dibikin khusus baginya.
       Ummu Salamah datang memberikan daging panggang kepada
       Rasulullah, lalu dimakannya. Ia lalu memberikan air anggur, lalu
       diminumnya. Salah seorang yang hadir lalu meminumnya dan sisanya
       diminum oleh Abdullah ibn Jahsy. Salah seorang bertanya
       kepadanya, “Tahukah kau, kemana perginya minumanmu itu esok?.”
       “Ya, aku lebih suka menemui Allah dalam keadaan puas daripada
       dalam keadaan dahaga,” jawabnya seraya berdo’a, “Ya Allah, aku
       mohon supaya aku memperoleh syahadah dalam jalanMu.”
       Menurut putera Sa’ad ibn Abi Waqqash, ayahnya berkata,”pada
       waktu itu, sebelum Perang Uhud berkobar, Abdullah ibn Jahsy
       bertanya, ‘apakah tidak sebaiknya kami berdo’a kepada Allah?.”
       Mereka masing-masing berdo’a. Sa’ad berdo’a,”Ya Allah, kalau
       kami bertemu musuh esok hari, pertemukanlah aku dengan seorang
       yang bertenaga kuat dan beremosi tinggi. Saya akan membunuhnya
       dan merampas miliknya.”
       Abdullah ibn Jahsy berdo’a, “Ya Allah, pertemukanlah aku esok
       dengan seorang yang kuat tenaganya dan tinggi emosinya. Aku akan
       membunuhnya karena-Mu, lalu orang itu membunuhku, kemudian ia
       memotong hidung dan kedua telingaku. Apabila engkau bertanya
       kepadaku kelak, ‘Ya Abdullah, mengapa hidung dan telingamu
       itu?’. Aku akan menjawab, ‘Ia dipotong oleh orang karena-Mu dan
       karena Rasul-Mu semata-mata, Ya Allah’. Engkau lalu berfirman,
       ‘benar kau, Abdullah’.”
       Selanjutnya, Sa’ad ibn Abi waqqash berkata, “ternyata do’a
       Abdullah ibn Jahsy lebih baiik dari do’aku. Pada keesokan
       harinya, menjelang hari berakhir, aku melihat kedua daun
       telinganya dan ujung hidungnya bergantung dengan seutas tali.”
       Begitulah cita-cita dan dambaan pengikut Muhammad berebut maju
       dalam medan perang, ingin mendapatkan salah satu diantara dua
       kebaikan; meninggikan kalimat Allah dan memenangkan agamaNya
       atau mati syahid.
       Ternyata, do’a mereka dikabulkan Allah Ta’ala, cita-citanya
       dipenuhi sesuai dengan firmanNya, “Berdo’alah kepadaKu niscaya
       Aku akan memperkenankan bagimu.” (Al-Mukmin: 60)
       Allah Ta’ala sudah mengabulkan do’a Abdullah ibn Jahsy
       radhiyallahu’anhu dan sudah berkenan menerimanya di sisiNya
       karena ia sudah menunaikan tugas kewajibannya dengan baik
       terhadap Tuhan, agama dan Rasulnya. Jadi, fungsinya dinyatakan
       selesai dan takdir-Nya sudah jatuh tempo. Akan tetapi, misi
       Sa’ad ibn Abi Waqqash belum selesai, tugas kewajiban yang
       menantinya masih banyak dan panjang, menunggu penanganannya.
       Seusai Perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       memerintahkan untuk menguburkan jenazah pamannya, Hamzah dan
       Abdullah dalam satu kubur dan memerintahkan Amru ibnul Jumuh dan
       Abdullah ibn Umar ibn Haram juga dalam satu kubur karena
       keduanya kawan karib di dunia.
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku menjadi
       saksi mereka bahwa tidak terdapat luka di jalan Allah melainkan
       Allah akan melahirkan kembali lukanya itu berdarah di hari
       kiamat; warnanya seperti warna darah dan baunya seperti bau misk
       (kesturi).”
       &#10043; Sebab Turunnya Ayat
       Menurut keterangan Ahli Tafsir (mufassirin), pada bulan Jumadil
       Akhir dua bulan sebelum Perang Badar berkobar, kira-kira tujuh
       belas bulan sesudah hijrah ke Madinah, Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam mengirimkan delapan orang Muhajirin dibawah
       pimpinan Abdullah ibn Jahsy dengan pesan,
       “Pergilah kau dengan Asma Allah dan janganlah kau buka suratku
       ini hingga engkau berjalan selama dua hari. Sesudah menempuh
       jarak itu barulah kau buka suratku itu dan bacakan kepada
       kawan-kawanmu. Setelah itu, teruskan perjalananmu sesuai
       perintahku. Janganlah ada diantara kawan-kawanmu itu yang pergi
       mengikuti karena dipaksa (terpaksa).”
       Abdullah ibn Jahsy berjalan selama dua hari, kemudian ia
       berhenti dan membuka surat Rasulullah itu.
       “Bismillaahr-ahmaanirahiim. Amma ba’du, pergilah kau dengan
       kawan-kawan yang menyertaimu disertai keberkahan dari Allah
       hingga kau mencapai sebuah kebun kurma. Dari sana, kau bisa
       mengintai kegiatan kafilah Quraisy, lalu kau kembali membawa
       berita mereka.”
       Sesudah membaca isi surat itu, Abdullah berkata: ”Sam’an wa thaa
       ‘atan, aku mendengar dan patuh kepada perintahmu”, lalu berkata
       kepada para pengikutnya, “Rasulullah melarang saya memaksa
       kalian ikut dalam misi ini.”
       Rombongan ini berjalan atas perintah Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam dan dengan perlindungan Allah Ta’ala. Di suatu
       tempat bernama Bahran, Sa’ad ibn Abi Waqqash dan Utbah ibn
       Ghazwan kehilangan ontanya. Keduanya pergi mencari ontanya itu
       hingga tertinggal oleh rombongannya. Abdullah ibn Jahsy
       meneruskan perjalanannya sesuai petunjuk Rasulullah hingga
       mencapai sebuah perkebunan kurma. Tiba-tiba, mereka melihat
       kafilah Quraisy dikawal oleh Amru ibnul Hadhrami, Utsman ibnul
       Mughirah, dan saudaranya; Naufal dan al-Hakam ibn Kisan.
       Para shahabat itu bermusyawarah tentang mereka. Salah seorang
       berkata, “kalau kalian membiarkan mereka pergi malam ini, mereka
       akan memasuki Tanah Haram dan kalian tidak bisa berbuat apa-apa.
       Akan tetapi, kalau kalian memerangi mereka, kita ada dalam bulan
       haram?.” Pada waktu itu, mereka ada di akhir bulan Rajab.
       Mereka ragu-ragu dan takut menindaknya. Tapi akhirnya, mereka
       memberanikan dan memutuskan untuk memeranginya dengan
       sekuat-kuatnya. Salah seorang dari shahabat itu lalu melepaskan
       anak panah kepada Amru ibnul Hadhrami dan tewaslah ia seketika.
       Mereka berhasil menawan Utsman ibnul Mughirah dan al-Hakam ibn
       Kisan, sedangkan Naufal dan saudaranya Utsman, berhasil
       melarikan diri.
       Menurut keterangan sebagian keluarga Abdullah ibn Jahsy, pada
       waktu itu, Abdullah mengatakan kepada para shahabatnya itu, “Dua
       puluh persen dari kemenangan yang kita peroleh ini untuk
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sisanya dibagi
       diantara kita.” Ini terjadi sebelum ketetapan 20% itu dikukuhkan
       oleh al-Qur’an.
       Sesampainya rombongan di Madinah, Rasulullah bersabda kepada
       mereka, “Aku tidak memerintahkan kalian mengadakan peperangan di
       bulan haram,” seraya menolak untuk mengambil bagiannya dari
       hasil kemenangan itu.
       Abdullah ibn Jahsy dan para shahabatnya bersedih hati karena
       telah bertindak di luar perintah. Lebih-lebih, setelah semua
       shahabat Rasulullah menyesalkan tindakannya itu. Belum lagi
       kampanye Quraisy yang diembus-embuskan dengan gencar, “Muhammad
       dan shahabatnya menghalalkan pertumpahan darah, perampasan hak
       milik dan penawanan orang di bulan haram.”
       Sesudah bicara orang dipusatkan pada soal itu, keputusan langit
       turun untuk mengesahkan dan sekaligus mengukuhkan tindakan
       Abdullah ibn Jahsy dan kawan-kawannya itu,
       “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram.
       Katakanlah, ‘berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi
       menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah,
       (menghalangi masuk) Masjid Haram, dan mengusir penduduknya dari
       sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah . Dan, berbuat
       fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak
       henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)
       mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya
       mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari
       agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang
       sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah
       penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
       Ibnu Ishaq berkata, “sesudah ayat tersebut turun, legalah
       Abdullah dan kawan-kawannya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam mau menerima tawanan dan hasil rampasan perang itu.
       Setelah itu, datang perutusan dari kaum Quraisy untuk menebus
       Utsman dan al-Hakam ibn Kisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam berkata kepada perutusan itu, “Kami tidak akan menerima
       tebusan keduanya hingga shahabat kami datang, yakni: Sa’ad ibn
       Abi Waqqash dan Utbah ibn Ghazwan. Kami khawatir, kalian telah
       menangkap keduanya. Kalau kalian membunuh keduanya, kami juga
       akan membunuh shahabat kalian.”
       Tak lama, Sa’ad dan Utbah datang, lalu Rasulullah menyerahkan
       kedua tawanan itu kepada perutusan Quraisy itu.”
       Al-Hakam ibn Kisan kemudian masuk Islam dengan baik dan tinggal
       bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga syahid
       pada peristiwa Bi’ir Ma’unah. Utsman pulang kembali ke Mekkah
       dan mati dalam keadaan kafir. Adapun Naufal terjatuh bersama
       kudanya ke dalam lubang parit (khandaq ) sehingga tewas
       tertumbuk batu. Kaum Musyrikin meminta mayatnya dengan imbalan
       uang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bawalah,
       karena mayatnya buruk dan tebusannya buruk.”
       &#10043; Renungan
       Di sebelah Baitullah al-Haram, rumah yang Allah jadikan daerah
       aman dan damai bagi hamba-hambaNya, menyambut do’a bapak para
       nabi, Ibrahim ‘alaihissalam, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini
       negeri yang aman sentosa.” (Al-Baqarah: 126). Di sana, Asma’,
       ibu Ammar dan Yasir, ayahnya, dibunuh dengan keji dan kejam,
       bukan karena berdosa tapi semata-mata karena keduanya menyatakan
       “Tuhan kami hanya Allah.”
       Di daerah yang Allah tetapkan sebagai daerah aman dan damai
       secara mutlak dari semua sengketa, peperangan dan pertengkaran,
       supaya mereka kembali sadar dan menginsafi apa yang tepat dan
       benar, hidup bersaudara dan berdampingan di dalam daerah itu,
       oleh kaum Quraisy dijadikan ajang pembunuhan sekelompok orang
       yang tiada berdaya dan berdosa.
       Mereka dipaksa keluar dan menyimpang dari agamanya. Mereka
       dilarang mengikuti pelajaran yang diberikan Nabi Muhammad
       shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Allah sudah menetapkan bahwa daerah Masjid al-Haram dan
       sekitarnya itu semacam daerah margasatwa, dimana burung-burung
       bebas beterbangan tanpa rasa takut, dimana hewan, manusia dan
       bahkan serangga bisa hidup berdampingan secara aman dan damai
       tanpa rasa takut satu dengan yang lainnya. Mengapa negeri yang
       telah ditetapkan menjadi daerah aman dan damai berubah menjadi
       daerah yang menakutkan dan penuh kengerian. Daerah bebas merdeka
       itu berganti menjadi daerah perbudakan, dimana kebebasan orang
       memilih agama dan hak mengamalkan keyakinannya dibatasi dan
       dihalang-halangi.
       Menyambut seruan agama tauhid yang dikumandangkan Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai kafir dan murtad
       karena keluar dari agama nenek moyang yang percaya kepada
       berhala-berhala; Latta, ‘Uzza dan Manat yang dideretkan di
       sekitar Ka’bah.
       Allah telah menetapkan haram (suci)nya rumah itu sejak Ibrahim
       dan putranya Ismail ‘alaihissalam membangunnya. Sejak saat
       itulah, Allah telah menetapkan daerah itu aman bagi semua orang
       dan sekalgus daerah haram mengadakan peperangan dan pembunuhan.
       “(Dan) ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah)
       tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman…”
       (Al-Baqarah: 125)
       Rahmat dan nikmat yang dikaruniakan Alah kepada hambaNya itu
       oleh kaum Quraisy disulap bagi kaum mustadh’afin di daerah aman
       dan damai itu. Mereka dikejar dan disiksa, agamanya diejek dan
       dihina, keluarganya diganggu dan dianiaya.
       Alasan palsu mereka diungkapkan oleh al-Qur’an,
       “…jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu niscaya kami akan
       diusir dari negeri kami…” (Al-Qashash: 57)
       Siapa selain mereka yang mampu melakukan tindak kejahatan di
       daerah itu? Siapa yang berani melanggar haram Allah seperti
       mereka?.
       Memang pernah terjadi, Abrahah dengan pasukan gajahnya hendak
       menghancurkan Baitullah al-Haram itu. Ia dengan sombonnya datang
       sampai di pinggiran kota Mekkah. Semua nasehat dan peringatan
       orang tidak diindahkan. Kaum Quraisy tahu apa yang dikehendaki
       Abrahah. Mereka juga tahu kekeuatan pasukan Abrahah. Maka dari
       itu, mereka tidak berpikir hendak melindungi Ka’bah dari
       serangannya. Mereka melarikan diri ke luar kota Mekkah.
       Abrahah kaget melihat sikap kaum Quraisy yang membiarkan kotanya
       terbuka, tidak dipertahankan sedikitpun. Malah, ia merasa heran
       ketika Abdul Muththalib, sesepuh kota Mekkah, datang
       menghadapnya untuk meminta ontanya dikembalikan dan tidak
       berbicara soal Baitullah sama sekali, hanya menjawab dengan
       jawaban yang tersohor itu, “onta itu milik saya sedangkan
       al-Bait itu ada Pemiliknya yang nanti akan melindunginya!.”
       Tak salah lagi dugaan Abdul Muthathlib, Tuhan al-Bait itu telah
       melindunginya dari serangan Abrahah dan pasukannya. Mereka yang
       hendak berbuat onar, hendak mengeruhkan suasana aman dan damai
       di daerah haram itu, dihukum.
       “Dan, Dia mengirimkan kepada mereka burung yang
       berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal)
       dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti
       daun-daun yang dimakan (ulat).” (Al-Fiil: 3-5)
       Kepandaian mereka bersilat lidah, “Jika kami mengikuti petunjuk
       bersama kamu niscaya kami akan diusir dari negeri kami,”
       langsung dipatahkan dengan firmanNya, “Dan, apakah Kami tidak
       meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang
       aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala
       macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi
       Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al-Qashash:
       57)
       Disamping menjadikan Mekkah sebagai daerah damai, Allah Ta’ala
       juga menjadikannya bulan-bulan haram sebagai masa-masa damai,
       tetapi bangsa Arab mempermainkan bulan-bulan itu sesuai dengan
       selera dan nafsu mereka. Adakalanya dipercepat dengan fatwa
       pimpinan agama atau kabilahnya yang kuat dari tahun ke tahun.
       Sesudah Islam datang, ia menetapkan dengan tegas bahwa penundaan
       percepatan, dan perubahan dari ketetapan Allah itu hukumnya
       kafir, batil dan sesat,
       “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah
       kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan
       mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkan pada suatu tahun dan
       mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat
       menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka
       mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan)
       menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk
       itu. Dan, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
       (At-Taubah: 37)
       Jelaslah bahwa kaum Quraisy yang pertama merusak kelestarian
       daerah damai itu. Mereka mempermainkan pantangan pada
       bulan-bulan itu. Kaum Muslimin dijadikan bulan-bulanan karena
       agamanya; mereka dikejar-kejar, disiksa, diananiaya, dipecuti,
       dijemur diterik padang pasir, dan bahkan ada yang dibunuh karena
       tidak mau murtad dari Islamnya. Mereka lebih suka pergi
       berhijrah sesudah izin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam meninggalkan tanah air tercintanya, meninggalkan semua
       harta milik yang diperoleh dari hasil jerih payah seumur hidup,
       demi mempertahankan iman dan tauhidnya.
       Sudah tentu kaum Muslimin akan menuntut balas kapan pun dan
       dimana pun terhadap gerombolan penjahat yang sesat itu. Tidak
       heran kalau luapan itu diledakkan oleh pasukan yang dipimpin
       Abdullah ibn Jahsy sehingga menimbulkan korban tewas dan
       beberapa orang tertawan di kalangan Quraisy, seperti diutarakan
       di awal pembahasan.
       Oleh kaum Quraisy, kejadian itu dimanfaatkan menarik simpati
       kabilah Arab dan sekaligus untuk memecah-belah barisan kaum
       Muslimin. Mereka menghasut bahwa pengikut Muhammad telah
       merobek-robek kehormatan bulan-bulan haram. Kampanye lihai
       mereka hampir berhasil memecah-belah barisan kaum Muslimin.
       Untunglah keputusan langit cepat turun, mengingatkan kaum
       Muslimin supaya tetap memelihara persatuan dan kesatuannya, dan
       supaya tidak menganggap remeh tindak-tanduk dan fitnah
       lawan-lawannya itu.
       “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram.
       Katakanlah, ‘berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi
       menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah,
       (mengahalangi masuk ke) Masjid al-Haram, dan mengusir
       penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi
       Allah. Dan, berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada
       membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai
       mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada
       kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
       diantara kamu dari agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka
       mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan akhirat, dan
       mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
       (Al-Baqarah: 217)
       Demikianlah berita wahyu itu mengungkapkan tampang kaum Quraisy
       yang sebenarnya, bagaimana taktik dan strategi mereka menghadapi
       kaum Muslimin, mereka akan berusaha sekuat-kuatnya dengan segala
       cara, legal atau ilegal, halal atau haram, memaksa mereka
       menjadi kafir kembali.
       Akan tetapi, kehendak Allah sudah menetapkan umat Muhammad
       shallallahu ‘alaihi wasallam yang konsekuen menjalankan ajaran
       agamanya akan dijadikan pemimpin dunia seluruhnya.
       “Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam)
       umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
       (perbuatan) manusia dan agar Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi
       atas (perbuatan) kamu..” (Al-Baqarah: 143)
       Memang secara keseluruhan, mental dan moral jamaah Islam dapat
       menahan diri dan menghindarkan diri dari godaan duniawi,
       menyambut dengan patuh titah peritah Allah Ta’ala, tidak
       melakukan penyerangan terhadap mereka yang telah mengusir keluar
       dari tanah airnya, yang merampas harta bendanya, dan yang tidak
       memperkenankan menunaikan manasik haji di Baitullah al-Haram.
       Mereka merasa gusar dan marah dalam hati atas sikap
       lawan-lawannya itu, namun mereka harus mampu menahan diri sesuai
       dengan petunjuk agamanya.
       “…Dan, janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada suatu kaum
       karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram,
       mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolong
       dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
       Allah sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” (Al-Maidah: 2)
       Kaum Muslimin menyambut dengan lapang dada dan sukacita ajaran
       yang digariskan langit itu. Mereka memelihara persatuannya,
       memadu kegiatannya, menaburkan bibit kebaikan dan ketakwaan dan
       menumpas kuman-kuman dan permusuhan. Dalam sekejap saja, dunai
       menyambut mereka bagai pemimpin dan guru dunia. Akan tetapi,
       mengapa cucu-cucu mereka kini berpaling hanya menjadi pengekor?.
       Bagaimana mereka telah menghilangkan landasan hidup yang mereka
       rintiskan? Allahumma ihdi qaumi. Wallâhu a’lam. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Sirah Shahabiah Nabi, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1