DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
C↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH ž...
*****************************************************
#Post#: 315--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
صلى ا لله
عليه وسلم :
Abdullah ibn Jahsy
DIR By: WalimanovSakti
Date: December 31, 2023, 8:54 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Abdullah ibn Jahsy
[font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
(Wafat 3 H / 625 M) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad
Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=297
Abdullah [i]ibn Riab ibn Yakmur adalah seorang sahabat asal dari
suku Bani Asad, saudara kandung Zainab bint Jahsy, ummul
mukminin. Ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini
meninggal dalam perang Uhud.
Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:
[color=blue]“Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi
menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah,
(menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari
sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat
fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. Mereka tidak
henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)
mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya
mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari
agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang
sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (2: 217). Menurut
beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan
Abdullah ibn Jahsy.[/i][/color]
✻ Abdullah ibn Jahsy radhiyallahu’anhu
Dalam Perang Uhud, kaum Quraisy laki-laki dan perempuan
melakukan belas dendam terhadap kaum Muslimin atas kekalahan
mereka dalam Perang Badar. Mereka bertindak seperti srigala
buas, merobek-robek perut Hamzah ibn Abdul Muththalib, paman
Rasulullah, dan memakan hatinya. Abdullah ibn Jahsy
radhiyallahu’anhu; Mereka potong hidung dan daun telinganya.
Abdullah ibn Jahsy radhiyallahu’anhu bangga sekali karena ia
merupakan kepala pasukan pertama yang dilantik Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dan komandan pasukan pertama yang
menetapkan kemenangan perang 1/5 (seperlima) bagian untuk
Rasulullah sebelum Allah mengukuhkannya.
Ayahnya adalah Jahsy ibn Riab ibn Khuzaimah al-Asadi, ibunya
adalah Aminah bint Abdul Muththalib ibn Hasyim, dan saudarinya
adalah Zainab bint Jahsy, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Jadi, dia adalah saudara misan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan ibunya, sekaligus iparnya.
Dia dilahirkan di Mekkah, dekat Baitullah al-Haram. Sesudah ia
dewasa barulah tahu jalan ke Ka’bah. Ia berdiri lama di depan
Ka’bah, mengamati jamaah haji yang datang berbondong-bondong
dari seluruh pelosok dunia.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri isak tangis mereka, air
mata sedih dan keharuan mereka, dan keluh kesah serta do’a
mereka di depan Ka’bah yang megah itu.
Berapakali telinganya mendengarkan rintihan dan bisikan mereka
dengan berbagai bahasa yang tidak dipahami maksud dan tujuannya.
Pada saat itu, ia merebahkan dirinya di pangkuan ibunya
menanyakan dengan penuh harap apa-apa yang dilihatnya.
Ibunya menjawabnya dengan penuh rasa kasih sayang sambil
mengusap-usap kepalanya dan pundaknya hingga ia tertidur.
Putranya itu lalu diselimuti dan dido’akannya supaya Tuhan
Ka’bah itu melindungi dan memeliharanya.
Pada suatu hari, ia datang kepada ibunya sambil menangis sedih.
Ia menceritakan bahwa sekelompok orang telah meruntuhkan
bangunan Ka’bah itu.
Ibunya menenangkan hatinya, menceritakan kepadanya bahwa mereka
sedang memugar bangunan itu supaya emas perak dan permata
mutumanikam yang ada di dalamnya tidak dicuri orang akibat
kerusakan yang ditimbulkan banjir.
Pada waktu itu, Abdullah melihat bagaimana persaingan keras
antara para kabilah Arab yang berebutan ingin meletakkan Hajar
Aswad di tempatnya, hingga hampir terjadi pertengkaran dan
peperangan antara mereka.
Untunglah, akhirnya, mereka menerima gagasan sesepuh mereka
untuk menyerahkan hal itu kepada orang yang pertama kali masuk
ke Baitullah esok paginya, untuk menetapkan kabilah mana yang
mendapat kehormatan meletakkannya.
Ternyata, orang yang masuk pertama itu Muhammad al-Amin, yang
kemudian ia menggelarkan mantelnya dan meletakkan Hajar Aswad
itu di tengahnya, lalu ia perintahkan kepada semua wakil kabilah
yang hadir untuk memegang ujung mantel itu dan mengangkatnya ke
dekat tempatnya, lalu ia mengangkat dengan tangannya dan menaruh
di tempatnya.
Sesudah Hajar al-Aswad diletakkan di tempatnya, para pekerja
meneruskan pekerjaannya memperbaiki Ka’bah.
Sejak saat itulah, Abdullah mencintai Muhammad al-Amin dengan
sepenuh hati dan mengagumi kebijaksanaannya memecahkan masalah
yang hampir menimbulkan pertumpahan darah diantara kabilah Arab,
dan caranya yang cerdik menyertakan semua kabilah ikut merasa
mendapat kehormatan mengangkat Hajar al-Aswad ke tempatnya.
Sejak itulah, ia menjadikan Muhammad sebagai tokoh favorit dan
panutannya.
Setiap hari, Abdullah berusaha menyertai dan duduk-duduk dengan
Muhammad untuk belajar lebih banyak tentang berbagai hal, baik
melalui tutur katanya maupun melalui tingkah lakunya.
Pada suatu hari, Abdullah tidak melihat Muhammad al-Amin seperti
biasanya. Ia tidak sabar menantinya, ia pergi mengetuk pintu
rumahnya. Istri beliau memberitahukan bahwa beliau ada di Gua
Hira.
Ia pulang ke rumahnya dengan kecewa dan sedih karena rasa
rindunya kepada laki-laki pujaannya itu. Kapan gerangan ia
kembali duduk-duduk bersamanya lagi?.
Pada suatu pagi yang membahagiakan, menjelang fajar menyingsing,
dimana embusan angin membawa titik-titik embun yang
membangkitkan kehidupan dan kesegaran, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam sedang sujud di tempat shalatnya, memuja dan
memuji Tuhannya, tiba-tiba ia mendengar seperti gemerincing
suara bel, kemudian malaikat Jibril menyampaikan wahyu dan
perintah Tuhan, “Dan, berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara: 214)
Sang surya sudah menampakkan wajahnya yang perkasa dan
memancarkan cahayanya, menghalau sisa titik-titik embun yang
masih ada diatas daun. Sementara itu, Muhammad al-Amin
melangkahkan kakinya menuju Bukit Shafa, tidak jauh dari Ka’bah,
lalu teriaknya, “selamat pagi, selamat pagi.”
Abdullah masih telentang diatas tempat tidurnya, matanya terbuka
lebar, sambil berpikir untuk menemui Muhammad al-Amin di Gua
Hira, seperti yang dikabarkan isteri beliau, Khadijah.
Tiba-tiba, ia mendengar kumandang suara Muhammad, “selamat pagi,
selamat pagi” dari atas bukit Shafa, tidak jauh dari rumahnya.
Ia lalu melemparkan selimutnya dan pergi ke sana.
Tampaknya, suara itu berhasil mengumpulkan kaum Quraisy;
semuanya berdatangan ingin tahu ada apa sepagi itu mereka
diundang.
Sesudah mereka berkumpul, mulailah beliau menyeru mereka, “Hai
keluarga Ghalib, keluarga Luai, keluarga Murrah, keluarga Kilab,
keluarga Qushai, dan keluarga Abdu Manaf! Kalau aku
memberitahukan kepada kalian bahwa di balik gunung itu ada musuh
yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan
mempercayaiku?.”
Mereka menjawab serentak, “Ya, karena kau tidak pernah berbohong
kepada kami.”
Rasulullah melanjutkan, “Maka, janganlah kamu menyeru
(menyembah) tuhan yang lain disamping Allah, yang menyebabkan
kamu termasuk orang-orang yang diazab. Dan, berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkan dirimu
terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang
beriman.” (Asy-Syu’araa’: 213-215)
Kerumunan orang itu lalu bubar. Ada yang percaya dan ada yang
tidak, masing-masing membela argumentasi dan kebenarannya.
Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang
kembali ke rumahnya. Abdullah pun kembali juga dengan membawa
kata-kata baru yang dilontarkan Muhammad al-Amin itu. Ternyata,
kata-katanya meyakinkan kalbunya, lalu ia pergi menyusul
Muhammad ke rumahnya dan meyatakan keislamannya di sana.
Sesudah ia mengucapkan kalimat syahadat, lalu ia mengajak kedua
saudara perempuannya masuk Islam juga dan ternyata mereka
mengikuti jejaknya, malah ia menjadikan salah sebuah ruangan
dalam rumahnya sebagai mushalla untuk beribadah dengan tekun dan
khusyu’ kepada Allah Ta’ala.
Akan tetapi, Quraisy telah menunggangi kepalanya sendiri. Ia
memaklumatkan perang tanpa ampun terhadap dakwah itu dan
bertindak kejam dan keji terhadap para mustadh’afin yang berani
mengikuti ajaran Muhammad termasuk juga Abdullah.
Beberapa orang mustadh’afin datang menghadap Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta supaya Allah
meringankan beban yang mereka derita. Dengan agak gusar,
Rasulullah bersabda: “Demi Allah, orang-orang sebelum kalian
ditangkap dan tubuhnya dibelah dua, namun mereka tidak bergeser
dari agamanya sedikitpun. Ada lagi yang tubuhnya disisir dengan
sisir besi diantara tulang dan dagingnya, tetapi hal itu tidak
memaksa mereka beralih agama. Hal ini akan berjalan terus hingga
para musafir dari Shan’a’ ke Hadramaut tidak merasa gentar lagi
selain kepada Allah atau para gembala tidak takut lagi kepada
ternaknya dari terkaman srigala, tetapi memanglah kalian suatu
kaum yang terburu nafsu.”
Penyiksaan Quraisy makin ganas dan kejam. Abu Jahal menyiksa dan
menganiaya Sumayyah, ibu Ammar radhiyallahu’anhu hingga tewas,
begitu pula suaminya, Yasir dan puteranya, Ammar.
Sudah tentu berita itu menimbulkan rasa ngeri dan gelisah pada
kaum mustadh’afin karena mereka tidak diperkenankan
memaklumatkan perang terhadap kaum mustakbirin itu. Apa yang
harus mereka lakukan sedangkan kaum kafir Quraisy tidak henti-
hentinya melakukan tindakan penindasan dan perang permusuhan?.
Mereka berkumpul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
untuk meminta dicarikan jalan pemecahan dari ancaman dan
terkaman orang-orang ganas dan buas yang tidak
berperikemanusiaan itu.
Pada saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengemukakan gagasannya: “Kalau kalian mau hijrah ke negeri
Habasyah, disana terdapat seorang raja yang tidak berlaku zhalim
kepada siapapun, dialah negeri kejujuran hingga Allah membukakan
kelapangan dari keadaan kalian dewasa ini.”
Kini, mereka diperkenankan melakukan hijrah, menyelamatkan diri
dan agamanya ke negeri yang lebih aman agar bisa menunaikan
ibadahnya dengan bebas dan tenang.
Pada waktu itu, Abdullah dan kedua saudara laki-lakinya serta
kedua saudara perempuannya, bahkan dengan semua anggota
keluarganya, pergi hijrah ke negeri yang dimaksudkan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai negeri kejujuran, yang
rajanya tidak pernah berlaku zhalim itu.
Amr ibnul Ash radhiyallahu’anhu berkisah, “Pada suatu hari, aku
duduk di Majelis an-Najasyi, Raja Habasyah, lalu masuklah Amr
ibn Umayyah adh-Dhamari. Pada waktu itu, ia sedang membawa surat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Raja Habasyah itu.
Sesudah ia keluar, aku berkata kepada Najasyi, ‘orang itu
perutusan musuh kami. Ia yang telah menegangkan situasi dan
membuat tokoh-tokoh kami setengah mati. Serahkanlah dia kepada
kami, kami akan membunuhnya’.
Ia gusar sekali atas omongan itu, lalu ia memukul mukaku dengan
keras hingga terasa hidungku seakan-akan copot dan mengucurkan
darah banyak sekali ke bajuku. Aku merasa terhina sekali di
tengah-tengah majelis itu. Rasanya, aku lebih rela mati terkubur
dalam tanah daripada menderita malu serupa itu.
Untuk melunakkan amarahnya, aku berkata lagi, ‘kalau aku tahu
baginda akan murka seperti ini, aku tidak akan mengajukan
permintaan seperti itu’.
‘Ya Amr, kau meminta kepadaku supaya aku menyerahkan perutusan
orang yang mendapatkan Namus yang maha besar, yang pernah datang
kepada Musa ‘alaihissalam dan ‘Isa ‘alaihissalam. Kau meminta
aku menyerahkan perutusannya untuk dibunuh?’.”
“Sejak saat itu,”kata Amr selanjutnya, “dalam hati kecilku
terjadi perubahan sikap, lalu kataku dalam hati, ‘Bangsa Arab
dan ‘Ajam/asing mengenal kebenaran ini sedangkan kau akan
melawannya’. Aku kemudian bertannya kepadanya, ‘Apakah yang
mulia percaya atas hal itu?’.”
‘Ya, Aku bersaksi di hadapan Allah, wahai Amr! Percayalah
kepadaku, dia adalah benar, dia akan dimenangkan atas orang yang
melawannya, seperti halnya Musa ‘alaihissalam dimenangkan
melawan Fir’aun dan pasukannya’.
‘Apakah yang mulia mau menerima bai’atku masuk Islam atas
namanya?’.
‘Ya!, ia lalu mengulurkan tangannya membai’atku masuk Islam.”
Abdullah dan keluarganya hidup di negeri Habasyah dalam
perlindungan raja yang murah hati itu hingga datang berita yang
mengatakan bahwa kaum Quraisy sudah sadar dan masuk Islam, lalu
Abdullah dan beberapa orang Muhajirin lainnya kembali ke Mekkah.
Ternyata, berita Islamnya kaum Quraisy itu hanyalah isapan
jempol yang disebarluaskan Quraisy supaya para Muhajirin itu
kembali untuk menghadapi siksaan dan penganiayaan yang baru
lagi.
Abdullah dan keluarganya tinggal beberapa saat lamanya di Mekkah
hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan
melakukan hijrah kembali sehingga rumah mereka di Mekkah kosong
melompong, tidak ada yang menghuninya. Sesudah Abu Sufyan
melihat hal ini, lalu ia menawarkan dan menjualnya. Sesudah
berita itu terdengar oleh keluarga Jahsy, Abdullah
memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, Rasulullah lalu menjawab, “wahai Abdullah!
Apakah kau tidak mau Allah menggantimu dengan sebuah rumah yang
lebih baik di surga?.”
“Sudah tentu mau,” sahut Abdullah ibn Jahsy.Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, “Nah, itu untukmu
kelak.”
Sesudah kota Mekkah ditaklukkan, Abu Ahmad, saudara Abdullah ibn
Jahsy, datang membicarakan lagi soal rumah-rumah keluarga Jahsy
yang dijual oleh Abu Sufyan itu, tetapi Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam mengulur-ulur masalah itu. Beberapa orang lalu
memberi keterangan,”wahai Abu Ahmad, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam tidak suka membahas kembali kekayaan yang
dirampas dari kalian demi karena Allah.”
Sejak itulah, ia tidak mau lagi mengungkit-ungkit soal
tersebut.Abdullah ibn Jahsy merupakan komandan pasukan pertama
yang dikirimkan ke perbatasan kota Mekkah sehingga menimbulkan
kontak senjata dan meninggalnya Amru al-Hadhrami serta
tertawannya Utsman ibn Abdullah ibn al-Mughirah dan al-Hakam ibn
Kisan, yang menimbulkan kegusaran kaum Quraisy. Mereka berkata:
“Muhammad dan kawan-kawannya menghalalkan bulan haram.”
Abdullah mengikuti Perang Badar dan semua peristiwa sesudahnya
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga Perang
Uhud yang rupanya Allah Ta’ala ingin menguji kaum muslimin.
Abdullah ibn Ubay, kepala kaum munafiqin di Madinah, kembali ke
Madinah di tengah perjalanan dengan 1/3 pasukan, tetapi kaum
Muslimin mendesak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk
tetap keluar dari Madinah.
Sebelum perang dimulai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
duduk di sebuah pondok yang dibikin khusus baginya.
Ummu Salamah datang memberikan daging panggang kepada
Rasulullah, lalu dimakannya. Ia lalu memberikan air anggur, lalu
diminumnya. Salah seorang yang hadir lalu meminumnya dan sisanya
diminum oleh Abdullah ibn Jahsy. Salah seorang bertanya
kepadanya, “Tahukah kau, kemana perginya minumanmu itu esok?.”
“Ya, aku lebih suka menemui Allah dalam keadaan puas daripada
dalam keadaan dahaga,” jawabnya seraya berdo’a, “Ya Allah, aku
mohon supaya aku memperoleh syahadah dalam jalanMu.”
Menurut putera Sa’ad ibn Abi Waqqash, ayahnya berkata,”pada
waktu itu, sebelum Perang Uhud berkobar, Abdullah ibn Jahsy
bertanya, ‘apakah tidak sebaiknya kami berdo’a kepada Allah?.”
Mereka masing-masing berdo’a. Sa’ad berdo’a,”Ya Allah, kalau
kami bertemu musuh esok hari, pertemukanlah aku dengan seorang
yang bertenaga kuat dan beremosi tinggi. Saya akan membunuhnya
dan merampas miliknya.”
Abdullah ibn Jahsy berdo’a, “Ya Allah, pertemukanlah aku esok
dengan seorang yang kuat tenaganya dan tinggi emosinya. Aku akan
membunuhnya karena-Mu, lalu orang itu membunuhku, kemudian ia
memotong hidung dan kedua telingaku. Apabila engkau bertanya
kepadaku kelak, ‘Ya Abdullah, mengapa hidung dan telingamu
itu?’. Aku akan menjawab, ‘Ia dipotong oleh orang karena-Mu dan
karena Rasul-Mu semata-mata, Ya Allah’. Engkau lalu berfirman,
‘benar kau, Abdullah’.”
Selanjutnya, Sa’ad ibn Abi waqqash berkata, “ternyata do’a
Abdullah ibn Jahsy lebih baiik dari do’aku. Pada keesokan
harinya, menjelang hari berakhir, aku melihat kedua daun
telinganya dan ujung hidungnya bergantung dengan seutas tali.”
Begitulah cita-cita dan dambaan pengikut Muhammad berebut maju
dalam medan perang, ingin mendapatkan salah satu diantara dua
kebaikan; meninggikan kalimat Allah dan memenangkan agamaNya
atau mati syahid.
Ternyata, do’a mereka dikabulkan Allah Ta’ala, cita-citanya
dipenuhi sesuai dengan firmanNya, “Berdo’alah kepadaKu niscaya
Aku akan memperkenankan bagimu.” (Al-Mukmin: 60)
Allah Ta’ala sudah mengabulkan do’a Abdullah ibn Jahsy
radhiyallahu’anhu dan sudah berkenan menerimanya di sisiNya
karena ia sudah menunaikan tugas kewajibannya dengan baik
terhadap Tuhan, agama dan Rasulnya. Jadi, fungsinya dinyatakan
selesai dan takdir-Nya sudah jatuh tempo. Akan tetapi, misi
Sa’ad ibn Abi Waqqash belum selesai, tugas kewajiban yang
menantinya masih banyak dan panjang, menunggu penanganannya.
Seusai Perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
memerintahkan untuk menguburkan jenazah pamannya, Hamzah dan
Abdullah dalam satu kubur dan memerintahkan Amru ibnul Jumuh dan
Abdullah ibn Umar ibn Haram juga dalam satu kubur karena
keduanya kawan karib di dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku menjadi
saksi mereka bahwa tidak terdapat luka di jalan Allah melainkan
Allah akan melahirkan kembali lukanya itu berdarah di hari
kiamat; warnanya seperti warna darah dan baunya seperti bau misk
(kesturi).”
✻ Sebab Turunnya Ayat
Menurut keterangan Ahli Tafsir (mufassirin), pada bulan Jumadil
Akhir dua bulan sebelum Perang Badar berkobar, kira-kira tujuh
belas bulan sesudah hijrah ke Madinah, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam mengirimkan delapan orang Muhajirin dibawah
pimpinan Abdullah ibn Jahsy dengan pesan,
“Pergilah kau dengan Asma Allah dan janganlah kau buka suratku
ini hingga engkau berjalan selama dua hari. Sesudah menempuh
jarak itu barulah kau buka suratku itu dan bacakan kepada
kawan-kawanmu. Setelah itu, teruskan perjalananmu sesuai
perintahku. Janganlah ada diantara kawan-kawanmu itu yang pergi
mengikuti karena dipaksa (terpaksa).”
Abdullah ibn Jahsy berjalan selama dua hari, kemudian ia
berhenti dan membuka surat Rasulullah itu.
“Bismillaahr-ahmaanirahiim. Amma ba’du, pergilah kau dengan
kawan-kawan yang menyertaimu disertai keberkahan dari Allah
hingga kau mencapai sebuah kebun kurma. Dari sana, kau bisa
mengintai kegiatan kafilah Quraisy, lalu kau kembali membawa
berita mereka.”
Sesudah membaca isi surat itu, Abdullah berkata: ”Sam’an wa thaa
‘atan, aku mendengar dan patuh kepada perintahmu”, lalu berkata
kepada para pengikutnya, “Rasulullah melarang saya memaksa
kalian ikut dalam misi ini.”
Rombongan ini berjalan atas perintah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan dengan perlindungan Allah Ta’ala. Di suatu
tempat bernama Bahran, Sa’ad ibn Abi Waqqash dan Utbah ibn
Ghazwan kehilangan ontanya. Keduanya pergi mencari ontanya itu
hingga tertinggal oleh rombongannya. Abdullah ibn Jahsy
meneruskan perjalanannya sesuai petunjuk Rasulullah hingga
mencapai sebuah perkebunan kurma. Tiba-tiba, mereka melihat
kafilah Quraisy dikawal oleh Amru ibnul Hadhrami, Utsman ibnul
Mughirah, dan saudaranya; Naufal dan al-Hakam ibn Kisan.
Para shahabat itu bermusyawarah tentang mereka. Salah seorang
berkata, “kalau kalian membiarkan mereka pergi malam ini, mereka
akan memasuki Tanah Haram dan kalian tidak bisa berbuat apa-apa.
Akan tetapi, kalau kalian memerangi mereka, kita ada dalam bulan
haram?.” Pada waktu itu, mereka ada di akhir bulan Rajab.
Mereka ragu-ragu dan takut menindaknya. Tapi akhirnya, mereka
memberanikan dan memutuskan untuk memeranginya dengan
sekuat-kuatnya. Salah seorang dari shahabat itu lalu melepaskan
anak panah kepada Amru ibnul Hadhrami dan tewaslah ia seketika.
Mereka berhasil menawan Utsman ibnul Mughirah dan al-Hakam ibn
Kisan, sedangkan Naufal dan saudaranya Utsman, berhasil
melarikan diri.
Menurut keterangan sebagian keluarga Abdullah ibn Jahsy, pada
waktu itu, Abdullah mengatakan kepada para shahabatnya itu, “Dua
puluh persen dari kemenangan yang kita peroleh ini untuk
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sisanya dibagi
diantara kita.” Ini terjadi sebelum ketetapan 20% itu dikukuhkan
oleh al-Qur’an.
Sesampainya rombongan di Madinah, Rasulullah bersabda kepada
mereka, “Aku tidak memerintahkan kalian mengadakan peperangan di
bulan haram,” seraya menolak untuk mengambil bagiannya dari
hasil kemenangan itu.
Abdullah ibn Jahsy dan para shahabatnya bersedih hati karena
telah bertindak di luar perintah. Lebih-lebih, setelah semua
shahabat Rasulullah menyesalkan tindakannya itu. Belum lagi
kampanye Quraisy yang diembus-embuskan dengan gencar, “Muhammad
dan shahabatnya menghalalkan pertumpahan darah, perampasan hak
milik dan penawanan orang di bulan haram.”
Sesudah bicara orang dipusatkan pada soal itu, keputusan langit
turun untuk mengesahkan dan sekaligus mengukuhkan tindakan
Abdullah ibn Jahsy dan kawan-kawannya itu,
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram.
Katakanlah, ‘berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi
menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah,
(menghalangi masuk) Masjid Haram, dan mengusir penduduknya dari
sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah . Dan, berbuat
fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak
henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)
mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya
mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari
agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang
sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Ibnu Ishaq berkata, “sesudah ayat tersebut turun, legalah
Abdullah dan kawan-kawannya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam mau menerima tawanan dan hasil rampasan perang itu.
Setelah itu, datang perutusan dari kaum Quraisy untuk menebus
Utsman dan al-Hakam ibn Kisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam berkata kepada perutusan itu, “Kami tidak akan menerima
tebusan keduanya hingga shahabat kami datang, yakni: Sa’ad ibn
Abi Waqqash dan Utbah ibn Ghazwan. Kami khawatir, kalian telah
menangkap keduanya. Kalau kalian membunuh keduanya, kami juga
akan membunuh shahabat kalian.”
Tak lama, Sa’ad dan Utbah datang, lalu Rasulullah menyerahkan
kedua tawanan itu kepada perutusan Quraisy itu.”
Al-Hakam ibn Kisan kemudian masuk Islam dengan baik dan tinggal
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga syahid
pada peristiwa Bi’ir Ma’unah. Utsman pulang kembali ke Mekkah
dan mati dalam keadaan kafir. Adapun Naufal terjatuh bersama
kudanya ke dalam lubang parit (khandaq ) sehingga tewas
tertumbuk batu. Kaum Musyrikin meminta mayatnya dengan imbalan
uang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bawalah,
karena mayatnya buruk dan tebusannya buruk.”
✻ Renungan
Di sebelah Baitullah al-Haram, rumah yang Allah jadikan daerah
aman dan damai bagi hamba-hambaNya, menyambut do’a bapak para
nabi, Ibrahim ‘alaihissalam, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini
negeri yang aman sentosa.” (Al-Baqarah: 126). Di sana, Asma’,
ibu Ammar dan Yasir, ayahnya, dibunuh dengan keji dan kejam,
bukan karena berdosa tapi semata-mata karena keduanya menyatakan
“Tuhan kami hanya Allah.”
Di daerah yang Allah tetapkan sebagai daerah aman dan damai
secara mutlak dari semua sengketa, peperangan dan pertengkaran,
supaya mereka kembali sadar dan menginsafi apa yang tepat dan
benar, hidup bersaudara dan berdampingan di dalam daerah itu,
oleh kaum Quraisy dijadikan ajang pembunuhan sekelompok orang
yang tiada berdaya dan berdosa.
Mereka dipaksa keluar dan menyimpang dari agamanya. Mereka
dilarang mengikuti pelajaran yang diberikan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah sudah menetapkan bahwa daerah Masjid al-Haram dan
sekitarnya itu semacam daerah margasatwa, dimana burung-burung
bebas beterbangan tanpa rasa takut, dimana hewan, manusia dan
bahkan serangga bisa hidup berdampingan secara aman dan damai
tanpa rasa takut satu dengan yang lainnya. Mengapa negeri yang
telah ditetapkan menjadi daerah aman dan damai berubah menjadi
daerah yang menakutkan dan penuh kengerian. Daerah bebas merdeka
itu berganti menjadi daerah perbudakan, dimana kebebasan orang
memilih agama dan hak mengamalkan keyakinannya dibatasi dan
dihalang-halangi.
Menyambut seruan agama tauhid yang dikumandangkan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai kafir dan murtad
karena keluar dari agama nenek moyang yang percaya kepada
berhala-berhala; Latta, ‘Uzza dan Manat yang dideretkan di
sekitar Ka’bah.
Allah telah menetapkan haram (suci)nya rumah itu sejak Ibrahim
dan putranya Ismail ‘alaihissalam membangunnya. Sejak saat
itulah, Allah telah menetapkan daerah itu aman bagi semua orang
dan sekalgus daerah haram mengadakan peperangan dan pembunuhan.
“(Dan) ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah)
tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman…”
(Al-Baqarah: 125)
Rahmat dan nikmat yang dikaruniakan Alah kepada hambaNya itu
oleh kaum Quraisy disulap bagi kaum mustadh’afin di daerah aman
dan damai itu. Mereka dikejar dan disiksa, agamanya diejek dan
dihina, keluarganya diganggu dan dianiaya.
Alasan palsu mereka diungkapkan oleh al-Qur’an,
“…jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu niscaya kami akan
diusir dari negeri kami…” (Al-Qashash: 57)
Siapa selain mereka yang mampu melakukan tindak kejahatan di
daerah itu? Siapa yang berani melanggar haram Allah seperti
mereka?.
Memang pernah terjadi, Abrahah dengan pasukan gajahnya hendak
menghancurkan Baitullah al-Haram itu. Ia dengan sombonnya datang
sampai di pinggiran kota Mekkah. Semua nasehat dan peringatan
orang tidak diindahkan. Kaum Quraisy tahu apa yang dikehendaki
Abrahah. Mereka juga tahu kekeuatan pasukan Abrahah. Maka dari
itu, mereka tidak berpikir hendak melindungi Ka’bah dari
serangannya. Mereka melarikan diri ke luar kota Mekkah.
Abrahah kaget melihat sikap kaum Quraisy yang membiarkan kotanya
terbuka, tidak dipertahankan sedikitpun. Malah, ia merasa heran
ketika Abdul Muththalib, sesepuh kota Mekkah, datang
menghadapnya untuk meminta ontanya dikembalikan dan tidak
berbicara soal Baitullah sama sekali, hanya menjawab dengan
jawaban yang tersohor itu, “onta itu milik saya sedangkan
al-Bait itu ada Pemiliknya yang nanti akan melindunginya!.”
Tak salah lagi dugaan Abdul Muthathlib, Tuhan al-Bait itu telah
melindunginya dari serangan Abrahah dan pasukannya. Mereka yang
hendak berbuat onar, hendak mengeruhkan suasana aman dan damai
di daerah haram itu, dihukum.
“Dan, Dia mengirimkan kepada mereka burung yang
berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal)
dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti
daun-daun yang dimakan (ulat).” (Al-Fiil: 3-5)
Kepandaian mereka bersilat lidah, “Jika kami mengikuti petunjuk
bersama kamu niscaya kami akan diusir dari negeri kami,”
langsung dipatahkan dengan firmanNya, “Dan, apakah Kami tidak
meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang
aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala
macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi
Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al-Qashash:
57)
Disamping menjadikan Mekkah sebagai daerah damai, Allah Ta’ala
juga menjadikannya bulan-bulan haram sebagai masa-masa damai,
tetapi bangsa Arab mempermainkan bulan-bulan itu sesuai dengan
selera dan nafsu mereka. Adakalanya dipercepat dengan fatwa
pimpinan agama atau kabilahnya yang kuat dari tahun ke tahun.
Sesudah Islam datang, ia menetapkan dengan tegas bahwa penundaan
percepatan, dan perubahan dari ketetapan Allah itu hukumnya
kafir, batil dan sesat,
“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah
kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan
mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkan pada suatu tahun dan
mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat
menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka
mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan)
menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk
itu. Dan, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(At-Taubah: 37)
Jelaslah bahwa kaum Quraisy yang pertama merusak kelestarian
daerah damai itu. Mereka mempermainkan pantangan pada
bulan-bulan itu. Kaum Muslimin dijadikan bulan-bulanan karena
agamanya; mereka dikejar-kejar, disiksa, diananiaya, dipecuti,
dijemur diterik padang pasir, dan bahkan ada yang dibunuh karena
tidak mau murtad dari Islamnya. Mereka lebih suka pergi
berhijrah sesudah izin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam meninggalkan tanah air tercintanya, meninggalkan semua
harta milik yang diperoleh dari hasil jerih payah seumur hidup,
demi mempertahankan iman dan tauhidnya.
Sudah tentu kaum Muslimin akan menuntut balas kapan pun dan
dimana pun terhadap gerombolan penjahat yang sesat itu. Tidak
heran kalau luapan itu diledakkan oleh pasukan yang dipimpin
Abdullah ibn Jahsy sehingga menimbulkan korban tewas dan
beberapa orang tertawan di kalangan Quraisy, seperti diutarakan
di awal pembahasan.
Oleh kaum Quraisy, kejadian itu dimanfaatkan menarik simpati
kabilah Arab dan sekaligus untuk memecah-belah barisan kaum
Muslimin. Mereka menghasut bahwa pengikut Muhammad telah
merobek-robek kehormatan bulan-bulan haram. Kampanye lihai
mereka hampir berhasil memecah-belah barisan kaum Muslimin.
Untunglah keputusan langit cepat turun, mengingatkan kaum
Muslimin supaya tetap memelihara persatuan dan kesatuannya, dan
supaya tidak menganggap remeh tindak-tanduk dan fitnah
lawan-lawannya itu.
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram.
Katakanlah, ‘berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi
menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah,
(mengahalangi masuk ke) Masjid al-Haram, dan mengusir
penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi
Allah. Dan, berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada
membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai
mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada
kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
diantara kamu dari agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka
mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan akhirat, dan
mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
(Al-Baqarah: 217)
Demikianlah berita wahyu itu mengungkapkan tampang kaum Quraisy
yang sebenarnya, bagaimana taktik dan strategi mereka menghadapi
kaum Muslimin, mereka akan berusaha sekuat-kuatnya dengan segala
cara, legal atau ilegal, halal atau haram, memaksa mereka
menjadi kafir kembali.
Akan tetapi, kehendak Allah sudah menetapkan umat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam yang konsekuen menjalankan ajaran
agamanya akan dijadikan pemimpin dunia seluruhnya.
“Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam)
umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia dan agar Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi
atas (perbuatan) kamu..” (Al-Baqarah: 143)
Memang secara keseluruhan, mental dan moral jamaah Islam dapat
menahan diri dan menghindarkan diri dari godaan duniawi,
menyambut dengan patuh titah peritah Allah Ta’ala, tidak
melakukan penyerangan terhadap mereka yang telah mengusir keluar
dari tanah airnya, yang merampas harta bendanya, dan yang tidak
memperkenankan menunaikan manasik haji di Baitullah al-Haram.
Mereka merasa gusar dan marah dalam hati atas sikap
lawan-lawannya itu, namun mereka harus mampu menahan diri sesuai
dengan petunjuk agamanya.
“…Dan, janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada suatu kaum
karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram,
mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
Allah sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” (Al-Maidah: 2)
Kaum Muslimin menyambut dengan lapang dada dan sukacita ajaran
yang digariskan langit itu. Mereka memelihara persatuannya,
memadu kegiatannya, menaburkan bibit kebaikan dan ketakwaan dan
menumpas kuman-kuman dan permusuhan. Dalam sekejap saja, dunai
menyambut mereka bagai pemimpin dan guru dunia. Akan tetapi,
mengapa cucu-cucu mereka kini berpaling hanya menjadi pengekor?.
Bagaimana mereka telah menghilangkan landasan hidup yang mereka
rintiskan? Allahumma ihdi qaumi. Wallâhu a’lam. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Sirah Shahabiah Nabi, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1