URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH &#158...
       *****************************************************
       #Post#: 302--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
       صلى ا لله
       عليه وسلم : Abu
       Dardaa
   DIR By: WalimanovSakti
       Date: December 31, 2023, 8:48 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Abu Darda [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       (Wafat 32 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=363
       Uwaimir [i]ibn Malik al-Khazraji yang lebih dikenal dengan nama
       Abu Darda bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu,
       dia menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling
       istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada
       patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian
       termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar, sesudah itu
       patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang megah,
       yang diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari
       Yaman dan sengaja mengunjunginya.[/i]
       Setelah matahari agak tinggi, barulah Abu Darda masuk ke rumah
       dan bersiap hendak pergi ke tokonya. Tiba-tiba jalan di Yastrib
       menjadi ramai, penuh sesak dengan para pengikut Nabi Muhammad
       yang baru kembali dari peperangan Badar. Di muka sekali terlihat
       sekumpulan tawanan terdiri dari orang-orang Quraisy. Abu Darda
       mendekati keramaian dan bertemu dengan seorang pemuda suku
       Khazraj. Abu Darda menanyakan kepadanya keberdaan Abdullah ibn
       Rawahah. Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati
       pertanyaan Abu Darda, karena dia tahu bagaimana hubungan Abu
       Darda dengan Abdullah ibn Rawahah. Mereka tadinya adalah dua
       orang teman akrab di masa jahily. Setelah Islam datang, Abdullah
       ibn Rawahah segera masuk Islam, sedangkan Abu Darda tetap dalam
       kemusyrikan. Tetapi, hal itu tidak menyebabkan hubungan
       persahabatan keduanya menjadi putus. Karena, Abdullah berjanji
       akan mengunjungi Abu Darda sewaktu-waktu untuk mengajak dan
       menariknya ke dalam Islam. Dia kasihan kepada Abu Darda, karena
       umurnya dihapiskan dalam kemusyrikan.
       Abu Darda tiba di toko pada waktunya. Ia duduk bersila di atas
       kursi, sibuk jual beli dan mengatur para pelayan. Sementara itu,
       Abdullah ibn Rawahah datang ke rumah Abu Darda. Sampai di sana
       dia melihat Ummu Darda di halaman rumahnya.
       “Assalamu’alaiki, ya amatallah,” (Semoga Anda bahagia, hai hamba
       Allah) kata Abdullah memberi salam.
       “Wa’alaikassalam, ya akha Abi Darda’” (Dan semoga Anda bahagia
       pula, hai sahabat Abu Darda), jawab Ummu Darda.
       “Kemana Abu Darda?” tanya Abdullah.
       “Dia ke toko, tetapi tidak lama lagi dia akan pulang,” jawab
       Ummu Darda.
       “Bolehkah saya masuk?” tanya Abdullah.
       “Dengan segala senang hati, silakan!” jawab Ummu Darda.
       Ummu Darda melapangkan jalan bagi Abdullah, kemudian dia masuk
       ke dalam dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengasuh
       anak. Abdullah ibn Rawahah masuk ke kamar tempat Abu Darda
       meletakkan patung sembahannya. Dikeluarkannya kapak yang sengaja
       dibawanya. Dihampirinya patung itu, lalu dikapaknya hingga
       berkeping-keping. Katanya, “Ketahuilah, setiap yang disembah
       selain Allah adalah batil!” Setelah selesai menghancurkan patung
       tersebut, dia pergi meninggalkan rumah.
       Ummu Darda masuk ke kamar tempat patung berada. Alangkah
       terperanjatnya dia, ketika dilihatnya petung telah hancur
       berkeping-keping dan berserakan di lantai. Ummu Darda meratap
       menampar-nampar kedua pipinya seraya berkata, “Engkau celakan
       saya, hai Ibnu Rawahah.” Tidak berapa lama kemudian Abu Darda
       pulang dari toko. Ia mendapati istrinya sedang duduk dekat pintu
       kamar patung sambil menangis. Rasa cemas dan takut kelihatan
       jelas di wajahnya.
       “Mengapa engkau menangis?” tanya Abu Darda.
       “Teman Anda, Abdullah ibn Rawahah tadi datang kemari ketika Anda
       sedang di toko. Dia telah menghancurkan patung sembahan Anda.
       Cobalah Anda saksikan sendiri,” jawab Ummu Darda.
       Abu Darda menengok ke kamar patung, dilihatnya patung itu sudah
       berkeping-keping, maka timbullah marahnya. Mulanya dia bermaksud
       hendak mencari Abdullah. Tetapi, setelah kemarahannya berangsur
       padam, dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian
       katanya, “Seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup
       membela dirinya sendiri.” Maka, ditinggalkannya patung yang
       menyesatkan itu, lalu dia pergi mencari Abdullah ibn Rawahah.
       Bersama-sama dengan Abdullah, dia pergi kepada Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan menyatakan masuk agama Allah
       di hadapan beliau. Sejak detik pertama Abu Darda iman dengan
       Allah dan Rasul-Nya, dia iman dengan sebenar-benar iman. Dia
       sangat menyesal agak terlambat masuk Islam. Sementara itu,
       kawan-kawannya yang telah lebih dahulu masuk Islam telah
       memperoleh pengertian yang mendalam tentang agama Allah ini,
       hafal Alquran, senantiasa beribadat, dan takwa yang selalu
       mereka tanamkan dalam dirinya di sisi Allah. Karena itu, dia
       bertekad hendak mengejar ketinggalannya dengan sungguh-sunggu
       sekalipun dia berpayah-payah siang dan malam, hingga tersusul
       orang-orang yang telah berangkat lebih dahulu. Dia berpaling
       kepada ibadat dan memutuskan hubungannya dengan dunia;
       mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan;
       mempelajari Alquran dengan tekun dan menghafal ayat-ayat, serta
       menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala dirasakannya
       perdagangannya terganggu dan merintanginya untuk beribadat dan
       menghadiri majlis-majlis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaanya
       tanpa ragu-ragu dan tanpa menyesal.
       Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu, orang pernah bertanya
       kepadanya. Maka, dijawabnya, “Sebelum masa Rasulullah, saya
       menjadi seorang pedagang. Maka, setelah masuk Islam, saya ingin
       menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa
       Abu Darda dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu
       masjid supaya saya tidak luput salat berjamaah, kemudian saya
       berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar.” Kemudian, saya
       menengok kepada si penanya dan berkata, “Saya tidak mengatakan,
       Allah Ta’ala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi
       pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak menganggu saya
       untuk dzikrullah (berzikir).”
       Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya
       sekadar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan
       kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk
       menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi
       tubuh.
       Pada suatu malam yang sangat dingin, suatu jamaah bermalam di
       rumahnya. Abu Darda menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi
       tidak memberinya selimut. Ketika hendak tidur, mereka
       mempertanyakan selimut. Seorang di antaranya berkata, “Biarlah
       saya tanyakan kepada Abu Darda. Kata yang lain, “Tidak perlu!”
       Tetapi, orang yang seorang itu menolak saran orang yang tidak
       setuju. Dia terus pergi ke kamar Abu Darda. Sampai di muka pintu
       dilihatnya Abu Darda berbaring, dan istrinya duduk di
       sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak
       mungkin melindungi mereka dari kedinginan. Orang itu bertanya
       kepada Abu Darda, “Saya melihat Anda sama dengan kami, tengah
       malam sedingin ini tanpa selimut. Ke mana saja kekayaan dan
       harta benda Anda?”
       Jawab Abu Darda, “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Harta
       benda kami langsung kami kirimkan ke sana setiap kami peroleh.
       Seandainya masih ada yang tinggal di sini (berupa selimut),
       tentu sudah kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping itu, jalan
       ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki. Karena itu,
       membawa barang seringan mungkin lebih baik daripada membawa
       barang yang berat-berat. Kami memang sengaja meringankan beban
       kami supaya mudah dibawa. Kemudian Abu Darda bertanya kepada
       orang itu, “Pahamkah Anda?”
       Jawab orang itu, “Ya, saya mengerti.”
       Pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab, Umar
       mengangkat Abu Darda menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi, Abu
       Darda menolak pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah
       kepadanya. Lalu kata Abu Darda, “Bilamana Anda menghendaki saya
       pergi ke Syam, saya mau pergi untuk mengajarkan Alquran dan
       sunah Rasulullah kepada mereka serta menegakkan salat
       bersama-sama dengan mereka.” Khalifah Umar menyukai rencana Abu
       Darda tersebut. Lalu, Abu Darda berangkat ke Damsyiq. Sampai di
       sana didapatinya masyarakat telah mabuk kemewahan dan tenggelam
       dalam kenikmatan dunia. Hal itu sangat menyedihkannya. Maka,
       dipanggilnya orang banyak ke masjid, lalu dia berpidato di
       hadapan mereka.
       Katanya, “Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku
       seagama; tetangga senegeri; dan pembela dalam melawan musuh
       bersama. Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah yang
       menyebabkan kalian tidak menyenangi saya? Padahal, saya tidak
       mengharapkan balas jasa dari kalian. Nasihatku berguna untuk
       kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian. Saya tidak suka
       melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara
       orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan
       kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Taala, dan
       menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian
       mengumpulkan harta kekayaan banyak-banyak, tetapi tidak kalian
       pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang
       mewah, tetapi tidak kalian tempati atau kalian mencita-citakan
       sesuatu yang tak mungkin tercapai oleh kalian. Bangsa-bangsa
       sebelum kamu pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan
       bercita-cita setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebntar, harta
       yang mereka tumpuk habis kikis, cita-cita mereka hancur
       berantakan, dan bangunan-bangunan mewah yang mereka bangun rubuh
       menjadi kuburan.
       Hai penduduk Damsyiq! Inilah bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud
       'alaihissalam)yang telah memenuhi negeri (antara Aden dan Oman)
       dengan harta kekayaan dan anak-anak. Siapakah di antara kalian
       yang berani membeli dariku peninggalan kaum ‘Ad itu dengan harga
       dua dirham?”
       Mendengar pidato Abu Darda tersebut orang banyak menangis,
       sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid. Sejak
       hari itu Abu Darda senantiasa mengunjungi majelis-majelis
       masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Jika ada yang
       bertanya kepadanya, dijawabnya; jika dia bertemu dengan orang
       bodoh, diajarinya; dan jika dia melihat orang terlalai,
       diingatkannya. Direbutnya setiap kesempatan yang baik sesuai
       dengan situasi dan kondisi serta kemampuan yang ada padanya.
       Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok
       seorang laki-laki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan
       dicaci-maki mereka. Abu Darda datang menghampiri, lalu bertanya,
       “Apa yang telah terjadi?
       Jawab mereka, “Orang ini jatuh ke dalam dosa besar.”
       Kata Abu Darda, “Seandainya dia jatuh ke dalam sumur, tidakkah
       kalian keluarkan dia dari sumur itu?”
       Jawab mereka, “Tentu!”
       Kata Abu Darda, “Karena itu, janganlah kalian caci maki dia, dan
       jangan pula kalian pukuli. Tetapi, berilah dia pengajaran dan
       sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa
       memaafkan kalian dari dosanya.”
       Tanya mereka, “Apakah Anda tidak membencinya?”
       Jawab Abu Darda, “Sesungguhnya saya membenci perbuatannya.
       Apabila dia telah menghentikan perbuatannya yang berdosa itu,
       dia adalah saudara saya.” Orang itu menangis dan taubat dari
       kesalahannya.
       Kali yang lain seorang pemuda mendatangi Abu Darda dan berkata
       kepadanya, “Wahai sahabat Rasulullah! Ajarilah saya!”
       Jawab Abu Darda, “Hai anakku! Ingatlah kepada Allah di waktu
       kamu bahagia. Maka Allah akan mengingatmu di waktu kamu
       sengsara.
       Hai anakku! Jadilah kamu pengajar atau menjadi pelajar atau
       menjadi pendengar. Dan, janganlah sekali-kali menjadi yang
       keempat (yaitu orang bodoh), karena yang keempat pasti celaka.
       Hai anakku! Jadikanlah masjid menjadi tempat tinggalmu, karena
       aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam
       bersabda, “Setiap masjid adalah tempat tinggal orang yang
       bertakwa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan bagi orang yang
       menjadikan masjid sebagai tempat tinggalnya, kesenangan,
       kelapangan rahmat, dan lewat di jalan yang diridlai Allah
       Taala.”
       Abu Darda pernah pula melihat sekelompok pemuda duduk-duduk di
       pinggir jalan. Mereka ngobrol sambil melihat orang-orang yang
       lalu lintas. Abu Darda mengahmpiri mereka dan berkata kepadanya,
       “Hai anak-anakku! Tempat yang paling baik bagi orang muslim
       adalah rumahnya. Di sana dia dapat memelihara diri dan
       pandangannya. Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan dan di
       pasar-pasar, karena hal itu menghabiskan waktu dengan percuma.
       Ketika Abu Darda tinggal di Damsyiq, Gubernur Muawiyah ibn Abu
       Sufyan melamar anak gadis Abu Darda, yaitu Darda, untuk
       putranya, Yazid. Abu Darda menolak lamaran Muawiyah tersebut.
       Dia tidak mau mengawinkan anak gadisnya, Darda, dengan Yazid
       (putra Gubernur). Bahkan, Darda dikawinkannya dengan pemuda
       muslim, anak orang kebanyakan. Abu Darda menyukai agama dan
       akhlak pemuda itu. Orang banyak heran dengan sikap Abu Darda,
       dan berbisik-bisik sesama mereka, “Anak gadis Abu Darda dilamar
       oleh Yazid ibn Muawiyah, tetapi lamarannya ditolak. Kemudian Abu
       Darda mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak
       orang kebanyakan.”
       Seorang penanya bertanya kepada Abu Darda,”Mengapa Anda
       bertindak seperti itu.”
       Jawab Abu Darda, “Saya bebas berbuat sesuatu untuk kemaslahatan
       Darda.”
       Tanya, “Mengapa?”
       Jawab Abu Darda, “Bagaimana pendapat Anda, apabila nanti Darda
       telah berada di tengah-tengah inang pengasuh yang senantiasa
       siap sedia melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang
       gemerlapan menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda
       ketika itu?”
       Pada suatu waktu ketika Abu Darda berada di negeri Syam, Amirul
       Mukminin Umar ibn Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi
       sahabat itu di rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka
       pintu rumah Abu Darda, ternyata pintu itu tidak dikunci dan
       rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu Darda mendengar suara
       Khalifah, Abu Darda berdiri mengucapkan selamat datang dan
       menyilakan Khalifah Umar untuk duduk. Keduanya segera terlibat
       dalam pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan
       menyelubungi keduanya, sehingga masing-masing tidak melihat
       kawannya berbicara. Khalifah Umar meraba-raba bantal alas duduk
       Abu Darda, kiranya sebuah pelana kuda. Dirabanya pula kasur
       tempat tidur Abu Darda, kiranya berisi pasir belaka. Dirabanya
       pula selimut, kiranya pakaian-pakaian tipis yang tidak mencukupi
       untuk musim dingin.
       Kata Khalifah Umar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada
       Anda. Maukan Anda saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu
       untuk melapangkan kehidupan Anda?”
       Jawab Abu Darda, “Ingatkah Anda hai Umar sebuah hadis yang
       disampaikan Rasulullah kepada kita?”
       Tanya Umar, “Hadis apa gerangan?”
       Jawab Abu Darda, “Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Hendaklah
       puncak salah seorang kamu tentang dunia seperti perbekalan
       seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya).”
       Jawab Khalifah Umar, “Ya, saya ingat!” Kata Abu Darda, “Nah, apa
       yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?”
       Khalifah Umar menangis, Abu Darda pun menangis pula. Akhirnya,
       mereka berdua bertangis-tangisan sampai waktu subuh.
       Abu Darda menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi
       pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan
       kitab (Alquran) dan hikmah kepada mereka sampai dia meninggal.
       Tatkala Abu Darda hampir meninggal, para sahabatnya datang
       berkunjung.
       Mereka bertanya, “Sakit apa yang Anda rasakan?”
       Jawab Abu Darda, “Dosa-dosaku!”
       Tanya, “Apa yang Anda inginkan?”
       Jawab, “Ampunan Tuhanku.”
       Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir di
       sekitarnya, “Ulangkanlah kepadaku kalimah, Laa ilaaha illallah,
       Muhammad Rasulullah.”
       Abu Darda senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang
       hingga nafasnya yang terakhir. Setelah Abu Darda pergi menemui
       Tuhannya, Auf ibn Malik al-Asyja’iy bermimpi. Dia melihat dalam
       mimpinya sebuah padang rumput yang luas menghijau. Maka,
       mengambanglah bau harum semerbak dan muncul suatu bayangan
       berupa sebuah kubah besar dari kulit. Sekitar kubah berbaring
       hewan ternak yang belum pernah terlihat sebelumnya.
       Dia bertanya, “Milik siapa ini?”
       Jawab, “Milik Abdur Rahman ibn Auf.”
       Abdur Rahman muncul dari dalam kubah. Dia berkata kepada Auf ibn
       Malik, “Hai, Ibnu Malik! Inilah karunia Allah kepada kita berkat
       Al-Qur'an. Seandainya engkau mengawasi jalan ini, engkau akan
       melihat suatu pemandangan yang belum pernah engkau saksikan, dan
       mendengar sesuatu yang belum pernah engkau dengar, dan tidak
       pernah terlintas dalam pikiranmu.”
       Tanya Auf ibn Malik, “Untuk siapa semuanya, hai Abu Muhammad?
       Jawab, “Disediakan Allah Taala untuk Abu Darda, karena dia telah
       menolak dunia dengan mudah dan lapang dada.” &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: kitab Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor
       ‘Abdurrahman Ra’fat Basya
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1