DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH ž...
*****************************************************
#Post#: 298--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
صلى ا لله
عليه وسلم : Abu
Sufyan ibn Harits
DIR By: WalimanovSakti
Date: December 31, 2023, 8:45 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Abu Sufyan ibn Harits
[font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
September 17, 2024 Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=148
Abu Sufyan adalah anak paman Rasulullah [i]Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam yang paling dekat. Karena Al-Harits, ayah kandung Abu
Sufyan, dengan Abdullah ayahanda Rasululah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam adalah kakak beradik dari putra Abdul Muthallib. Di
samping itu, Abu Sufyan adalah saudara susuan Rasululah.
Kedua-duanya disusui oleh Halimatus Sa’diyah secara
bersama-sama. Setelah itu keduanya menjadi kawan bermain yang
saling mengasihi dan sahabat terdekat bagi Rasulullah sebelum
kenabian. Abu Sufyan adalah salah seorang yang sangat mirip
dengan Rasulullah. Maka, hubungan keluarga mana lagi yang lebih
dekat dan kuat dari hubungan Muhammad ibn Abdullah dengan Abu
Sufyan?[/i]
Karena hubungan yang demikian erat itulah, kebanyakan orang
menyangka bahwa Abu Sufyan adalah orang yang paling dahulu
menerima seruan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, dan
yang paling cepat mempercayai serta mematuhi ajarannya dengan
setia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, ia menjadi
penentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Ketika Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam mulai berdakwah
secara terang-terangan, Abu Sufyan menjadi penunggang kuda yang
terkenal. Di samping itu, ia adalah penyair yang berimajinasi
tinggi dan berbobot. Dengan kedua keistimewaannya itulah, Abu
Sufyan tampil memusuhi dan memerangi dakwah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Ia berusaha dengan segala daya
dan upaya untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Bila kaum
Quraisy menyalakan api peperangan melawan Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wassallam dan kaum muslimin, Abu Sufyan selalu turut
mengobarkannya dan setiap penganiayaan yang dilancarkannya
selalu membawa malapetaka besar bagi kaum muslimin.
Sementara itu, setan penyair Abu Sufyan selalu membangunkan dan
mempergunakan lidahnya untuk menyindir Rasulullah dengan
kata-kata tajam, kotor, dan menyakitkan.
Abu sufyan terus-menerus memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam berkelanjutan hingga masa dua puluh tahun. Selama masa
itu, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan meneror
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan kaum muslimin.
Tidak berapa lama sebelum penaklukan Makkah, seorang saudara Abu
Sufyan menulis surat kepadanya, mengajak masuk Islam sebelum
Makkah ditaklukkan. Ajakan saudaranya itu diterimanya, maka dia
pun masuk Islam. Tepati, buku-buku sejarah mencatat kisah
macam-macam tentang Islamnya Abu Sufyan. Karena itu, marilah
kita dengarkan dia menceritakan kisahnya sendiri. Ingatannya
tentu lebih dalam, sifatnya lebih terperinci dan lebih benar.
“Ketika Islam sudah berdiri teguh dan kuat, gencarlah berita
bahwa Rasulullah akan datang menaklukkan Makkah. Sementara itu,
bumi yang terbentang luas semakin sempit terasa bagiku. Aku
bertanya kepada diriku sendiri, “Hendak ke mana kau? Siapa
temanku? Dan, dengan siapa aku?”
Kemudian, aku panggil istri dan anak-anakku, lalu kukatakan,
“Bersiaplah kalian untuk mengungsi dari Makkah ini, karena tidak
lama lagi tentara Muhammad akan tiba. Aku pasti akan dibunuh
oleh kaum muslimin. Hal itu tidak mustahil terjadi jika mereka
menemukan aku. “
Mereka menjawab, “Apakah belum tiba juga masanya bagi Bapak
untuk menyaksikan bangsa-bangsa Arab dan bukan Arab tunduk patuh
dan setia kepada Muhammad dan agamanya, sedangkan Bapak
senantiasa memusuhinya. Seharusnya Bapaklah orang yang
pertama-tama memperkuat barisan Muhammad dan membantu segala
kegiatannya.”
“Istri dan anak-anakku senantiasa membujukku masuk Islam,
sehingga akhirnya Allah melapangkan dadaku menerimanya.”
“Saya bangkit dan berkata kepada pelayanku, Madzkur, ‘Siapkan
bagi kami unta dan kuda.’ Lalu, anakku Ja’far kubawa
bersama-sama denganku. Kami mempercepat jalan menuju Abwa’,
yaitu daerah antara Makkah dan Madinah. Kami mendapat kabar
bahwa Muhammad telah sampai di sana dan menduduki tempat itu dan
di sana aku masuk Islam. Ketika kami hampir tiba, aku menyamar,
sehingga tidak seorang pun mengenalku, lalu aku menyatakan Islam
di hadapan beliau.”
“Aku meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Setalah satu
mil aku berjalan, aku bertemu dengan pasukan perintis kaum
muslimin menuju Makkah. Pasukan demi pasukan lewat. Aku
menghindar dari jalan mereka, karena khawatir ada di antara
mereka yang mengenalku.”
“Lalu, terlihat olehku Rasulullah berada di tengah-tengah
pasukan pengawalnya. Aku memberanikan diri menemuinya sampai aku
tegak berhadapan muka dengannya. Lalu, kubuka topeng dari
wajahku, setelah dia melihat dan mengenalku, dia memalingkan
muka dariku ke arah lain. Aku pun pindah berdiri ke arah dia
melihat, tetapi dia berpaling pula ke arah lain. Aku tetap
mengejar sehingga hal seperti itu terjadi beberapa kali.”
“Aku tidak pernah ragu, jika aku mendatangi Rasulullah, beliau
akan gembira dengan keislamanku. Dan, para sahabat akan gembira
pula karena nabinya gembira. Tetapi, ketika kaum muslimin
melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berpaling
dariku, mereka pun memperlihatkan muka masam dan semuanya
memalingkan muka dariku.”
“Aku bertemu dengan Abu Bakar, tetapi dia memalingkan mukanya
dariku. Aku memandang kepada Umar ibn Khattab dengan pandangan
lembut, tetapi Umar melongos dengan cara yang menjengkelkan.
Bahkan, ada seorang Anshar berkata dengan semangat kepadaku,
‘Hai Musuh Allah! Engkau telah banyak menyakiti Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan para sahabat. Kejahatanmu
telah sampai ke ujung timur dan barat permukaan bumi ini’.”
Orang Anshar ini semakin mengeraskan suaranya memaki-makiku,
sehingga kaum muslimin menyorotkan pandangan menghina kepadaku,
tetapi aku gembira dengan cemoohan yang sedang kualami.
Sementara itu, aku melihat pamanku, Abbas. Aku mendekatinya
seraya berkata, “Wahai paman! Aku berharap semoga Rasulullah
gembira karena aku masuk Islam, sebagai famili dekat baginya,
yang paman mengetahui seluruhnya. Tolonglah paman bicarakan
dengannya (Muhammad) mengenai maksudku.”
Jawab Abbas, “Demi Allah, saya tidak berani satu kalimat pun
bicara dengannya setelah kulihat dia memalingkan muka darimu.
Kecuali, bila datang kesempatan lain yang lebih baik, akan saya
coba.”
“Sekarang kepada siapa akan paman serahkan aku?’ tanyaku.”
Jawab Abbas,”Saya tidak berwenang apa-apa selain yang engkau
dengar.”
“Aku sungguh susah dan sedih karena jawaban paman Abbas
kepadaku. Tidak lama kemudian aku melihat adik sepupuku, Ali ibn
Abi Thalib. Maka, kubicarakan dengannya maksudku. Ali pun
menjawab seperti jawaban paman Abbas.”
“Aku kembali menemui paman Abbas. Aku berkata, ‘Jika paman tidak
sanggup membujuk Rasulullah mengenai diriku, tolong cegah
orang-orang itu mengejekku, atau yang menghasut orang lain
mengejekku’. “
Abbas bertanya, “Siapa orangnya? Sebutkan ciri-cirinya
kepadaku.”
“Maka, kuterangkan ciri-ciri orang itu kepada paman Abbas. Ia
lalu berkata, ‘Oh, itu adalah Nu’aiman ibn Harits an-Najjary’.”
Abbas kemudian mendatangi orang tersebut seraya berkata, “Hai
Nu’aiman! Sesungguhnya Abu Sufyan itu adalah anak paman
Rasulullah, dan anak saudaraku. Seandainya Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam marah hari ini kepadanya,
barangkali besok beliau rida kepadanya. Karena itu, janganlah
mencela Abu Sufyan.”
“Ketika Rasulullah berhenti di Jahfah, saya duduk di muka pintu
rumahnya bersama anakku, Ja’far. Ketika beliau keluar rumah,
beliau melihatku, tetapi dia tetap memalingkan muka dariku.
Tetapi, aku tidak putus asa untuk mendapatkan ridanya. Setiap
kali dia keluar masuk rumah, aku senantiasa duduk di muka pintu.
Sedangkan anakku, Ja’far, kusuruh berdiri di dekatku. Dia tetap
memalingkan muka bila melihatku. Lama juga kualami keadaan
seperti ini, hingga akhirnya aku merasa susah sendiri.”
“Lalu, aku berkata kepada isteriku, ‘Demi Allah, bila aku dan
anakku ini pergi mengasingkan diri sampai kami mati kelaparan
dan kehasusan, tentu Rasulullah akan meridaiku’.”
“Tatkala berita mengenai diriku itu sampai kepada Rasulullah,
beliau merasa kasihan. Ketika beliau keluar dari kubah untuk
pertama kali beliau memandang lembut kepadaku. Aku berharap
semoga beliau tersenyum melihatku.”
“Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam memasuki kota
Makkah. Aku turut dalam rombongan pasukan beliau. Belau langsung
menuju masjid, aku pun segera mendampingi dan tidak berpisah
semenit pun dengannya.”
Saat terjadi perang Hunein seluruh kabilah Arab bersatu padu,
persatuan Arab yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk
memerangi Rasulullah dan kaum muslimin. Mereka membawa
perlengkapan perang dan jumlah tentara yang cukup banyak. Bangsa
Arab bertekad hendak membuat perhitungan kalah atau menang
dengan kaum muslimin dalam perang kali ini.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menemui musuh hanya
dengan beberapa pasukan. Aku turut dalam rombongan pasukan
pengawal beliau. Tatkala kulihat jumlah tentara musyrikin sangat
besar, aku berkata kepada diriku, “Demi Allah, hari ini aku
harus menebus segala dosa-dosaku yang telah lalu karena memusuhi
Rasulullah dan kaum muslimin. Hendak kubaktikan kepada beliau
amal yang diridai Allah dan Rasul-Nya.”
Ketika pasukan telah berhadap-hadapan, kaum musyrikin dengan
jumlah tentaranya yang banyak berhasil mendesak mundur kaum
muslimin, sehingga banyak di antara kaum muslimin yang lari dari
samping Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Hampir saja
menderita kekalahan yang tidak diinginkan. “Demi Allah, aku
tetap bertahan di samping beliau di tengah-tenah medan tempur.
Beliau tetap berada di atas keledainya yang berwarna
keabu-abuan, teguh bagaikan sebuah bukit yang terhunjam dalam ke
bumi. Dengan pedang terhunus ditebasnya setiap musuh yang datang
mendekat, bagaikan seekor singa jantan menghadapi mangsanya.
Melihat Rasulullah seorang diri, aku melompat dari kudaku dan
kupatahkan sarung pedangku. Hanya Allah yang tahu, ketika itu
aku ingin mati di samping Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam. Pamanku, Abbas, memegang kendali keledai Nabi pada
sebuah sisi, dan berdiri di sampingnya, sedangkan aku memegang
kendali keledai itu pada sisi yang lain dan berdiri pula di
sebelahnya. Tangan kananku memegang pedang untuk melindung Nabi,
sedang tangan kiriku memegang kendali kendaraan beliau.”
“Ketika Rasulullah melihat perlawananku yang mematikan musuh,
beliau bertanya kepada paman Abbas, ‘Siapa ini paman’?”
Abbas menjawab, “Ini saudara Anda, anak paman Anda, Sufyan ibn
Harits. Ridakanlah dia, ya Rasulullah.”
Beliau menjawab, “Sudah kuridai. Dan, Allah telah mengampuni
segala dosanya.”
“Hatiku bagai terbang kegirangan mendegar Rasulullah rida
mengampuni segala dosa-dosaku. Lalu, kuciumi kaki beliau yang
terjuntai di kendaraan. Beliau menoleh kepadaku seraya berkata,
‘Saudaraku, demi hidupku, majulah menyerang musuh’.”
“Ucapan Rasululalh sungguh membangkitkan keberanianku. Lalu,
kuserang kaum musyirikin sampai mereka mundur. Kukerahkan kaum
muslimin mengejar mereka sejauh lebih kurang satu farsakh (1
farsakh = 8 km). Kemudian, kami kucar-kacirkan barisan mereka
setiap arah.”
Semenjak perang Hunain, Abu Sufyan ibn Harits merasakan nikmat
dan keindahan rida Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam kepadanya.
Dia merasa bahagia dan mulia menjadi sahabat beliau. Meski
demikian, Abu Sufyan tidak berani mengangkat pandangannya ke
wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam selama-lamanya,
karena malu mengingat masa silamnya yang kelabu.
Abu Sufyan memendam rasa penyesalan yang dalam di hatinya,
berhubung dengan masa hitam jahiliah yang menutupnya dari cahaya
Allah, dan melempar jauh-jauh kitabullah. Maka, dia sekarang
bagaikan tengkurap di atas mushaf Alquran siang malam, membaca
ayat-ayat, mempelajari hukum-hukum, dan merenungkan
pengajaran-pengajaran yang terkandung di dalamnya. Dia berpaling
dari dunia dan segala godaannya, menghadap kepada Allah
semata-mata dengan seluruh jiwa dan raganya. Pada suatu ketika
Rasulullah melihatnya dalam masjid, lalu beliau bertanya kepada
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. “Hai ‘Aisyah, tahukah kamu siapa
itu?”
“Tidak, ya Rasululah,” jawab ‘Aisyah.
“Dia adalah anak pamanku, Abu Sufyan ibn Harits, perhatikanlah
dia yang paling dahulu masuk masjid dan paling belakang keluar.
Pandangannya tidak pernah beranjak dan tetap menunduk ke tempat
sujud,” kata beliau.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam meninggal, Abu
Sufyan sedih bagaikan seorang ibu kehilangan putra satu-satunya.
Dia menangis seperti seorang kekasih menangisi kekasihnya,
sehingga jiwa penyairnya kembali memantulkan rangkuman sajak
yang memilukan dan menyanyat hati setiap pembaca atau
pendengarnya.
Pada zaman pemerintahan Umar al-Faruq (Umar ibn Khattab), Abu
Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Lalu, digalinya kuburan untuk
dirinya sendiri. Tidak lebih tiga hari setelah itu, maut datang
menjemputnya, seakan sudah berjanji sebelumnya.
Dia berpesan kepada istri dan anak-anaknya, “Kalian sekali-kali
jangan menangisiku. Demi Allah! Aku tidak berdosa sedikit pun
sejak aku masuk Islam.” Lalu, ruhnya yang suci pergi ke hadirat
Allah.
Khalifah Umar ibn Khattab turut menyalatkan jenazahnya. Beliau
menangis kehilangan Abu Sufyan ibn Harits, sahabat yang mulia.
Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman
Ra’fat Basya
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1