DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH ž...
*****************************************************
#Post#: 292--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
صلى ا لله
عليه وسلم :
Bilal ibn Rabah Al Habasyi
DIR By: WalimanovSakti
Date: December 31, 2023, 8:42 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Bilal ibn Rabah Al Habasyi
[font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
(Wafat 20 H / 641 M) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad
Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=137
Namanya adalah Bilal [i]ibn Rabah, Muazin Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah
perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan
pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang
zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap
penasaran untuk mendengarnya. Bilal lahir di daerah as-Sarah
sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah,
sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit
hitam yang tinggal di Makkah. Karena ibunya itu, sebagian orang
memanggil Bilal dengan sebutan Ibnus-Sauda’ (putra wanita
hitam).[/i]
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Makkah) sebagai seorang
budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal,
Bilal diwariskan kepada Umayyah ibn Khalaf, seorang tokoh
penting kaum kafir.
Ketika Makkah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung
shallallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan
kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang
memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada
beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu,
seperti Ummul Mu’minin Khadijah bint Khuwailid, Abu Bakar
ash-Shiddiq, Ali ibn Abu Thalib, ‘Ammar ibn Yasir bersama
ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad ibn al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih
berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan
kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin
yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah
itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa
pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali ibn Abu Thalib masih
memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi,
orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba
sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga
orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy
ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan
pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran
Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy
yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti
Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah.
Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan
tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan
gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama
Bilal ibn Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti.
Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang
pasir Makkah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat,
orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam
yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan
membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa
semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy
itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki
Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh
orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk
menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang
menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah
kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah
meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu
ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan
perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah
ibn Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung
telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad,
Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal
dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad,
Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal
tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal
justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya,
“Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini
membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah ibn
Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu
menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak
agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah1
Makkah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya
karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus
mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…,
Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan
lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar radhiyallahu’anhu mengajukan penawaran
kepada Umayyah ibn Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah
menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan
mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus
mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya,
kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan
ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai
seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal
dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu,
biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu
Bakar.”
Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu menjawab, “Aku telah
memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan
sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera
berhijrah, termasuk Bilal radhiyallahu’anhu. Setibanya di
Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir ibn
Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya
agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya
yang jernih,
Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Makkah dan
perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di
sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati
segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di
sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan
orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan
segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya,
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau
pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk
berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari
pemiliknya.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun
Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal
ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan
(muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan
pintu rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya
berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari
melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan
Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak
pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara
sisanya diberikan kepada Ali ibn Abu Thalib dan Umar ibnul
Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak
itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal
selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya
dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan
shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di
hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang
Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana
Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga
melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah
menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah ibn
Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin
dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang
yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota
Makkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang
pengumandang panggilan langit’, Bilal ibn Rabah. Saat masuk ke
Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman ibn
Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah ibn Zaid, yang dikenal
sebagai kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan
putra dari kekasihnya, dan Bilal ibn Rabah, Muazin Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang
baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun
terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada
saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam memanggil Bilal ibn Rabah agar naik ke atap
Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal
melaksanakan perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan
senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang
bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah
mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi
lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak
kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian
telah merobek-robek hati mereka.
Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat,
“Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusan Allah).” Juwairiyah bint Abu Jahal
bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang,
kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai
orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.”
Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid ibn Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah
memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.”
Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Makkah..
Sementara al-Harits ibn Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku,
mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas
Ka’bah.”
AI-Hakam ibn Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang
sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan
ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata,
“Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat
pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai
kepada Muhammad ibn Abdullah.”
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan
yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…,
Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri
untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan
belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna
muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup
mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak
kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang
membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Bilal
hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap
sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi
(Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung
menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang
mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan
posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin,
agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak
sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin
kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad
di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan
Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun
Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku
untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku,
tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka
biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk
Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah
mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi
meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh
Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh
dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan
azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam,
yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah
terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa
hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang
menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka
Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan
kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak
Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar
ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali
terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan
tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian
diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka
basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap
kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di
Madinah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. BiIal,
“Pengumandang seruan langit itu,” tetap tinggal di Damaskus
hingga wafat. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya, Doktor ‘Abdurrahman
Ra’fat Basya
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1