URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH &#158...
       *****************************************************
       #Post#: 292--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
       صلى ا لله
       عليه وسلم :
       Bilal ibn Rabah Al Habasyi
   DIR By: WalimanovSakti
       Date: December 31, 2023, 8:42 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Bilal ibn Rabah Al Habasyi
       [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       (Wafat 20 H / 641 M) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad
       &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=137
       Namanya adalah Bilal [i]ibn Rabah, Muazin Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah
       perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan
       pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang
       zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap
       penasaran untuk mendengarnya. Bilal lahir di daerah as-Sarah
       sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah,
       sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit
       hitam yang tinggal di Makkah. Karena ibunya itu, sebagian orang
       memanggil Bilal dengan sebutan Ibnus-Sauda’ (putra wanita
       hitam).[/i]
       Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Makkah) sebagai seorang
       budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal,
       Bilal diwariskan kepada Umayyah ibn Khalaf, seorang tokoh
       penting kaum kafir.
       Ketika Makkah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung
       shallallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan
       kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang
       memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada
       beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu,
       seperti Ummul Mu’minin Khadijah bint Khuwailid, Abu Bakar
       ash-Shiddiq, Ali ibn Abu Thalib, ‘Ammar ibn Yasir bersama
       ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad ibn al-Aswad.
       Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih
       berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan
       kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin
       yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah
       itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa
       pun.
       Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali ibn Abu Thalib masih
       memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi,
       orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba
       sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga
       orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy
       ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan
       pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran
       Muhammad.
       Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy
       yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti
       Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah.
       Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan
       tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan
       gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
       Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama
       Bilal ibn Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti.
       Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang
       pasir Makkah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat,
       orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam
       yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan
       membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa
       semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy
       itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki
       Muhammad.
       Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh
       orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk
       menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang
       menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah
       kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah
       meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu
       ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan
       perjuangan di jalan-Nya.
       Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah
       ibn Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung
       telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad,
       Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal
       dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad,
       Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal
       tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
       Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal
       justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya,
       “Ikutilah yang kami katakan!”
       Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini
       membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
       Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah ibn
       Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu
       menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak
       agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah1
       Makkah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya
       karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus
       mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…,
       Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan
       lelah.
       Suatu ketika, Abu Bakar radhiyallahu’anhu mengajukan penawaran
       kepada Umayyah ibn Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah
       menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan
       mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus
       mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
       Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya,
       kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan
       ragu untuk menjualnya.”
       Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai
       seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
       Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal
       dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu,
       biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu
       Bakar.”
       Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu menjawab, “Aku telah
       memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
       Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan
       sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera
       berhijrah, termasuk Bilal radhiyallahu’anhu. Setibanya di
       Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir ibn
       Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya
       agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya
       yang jernih,
       Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
       Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
       Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
       Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil
       Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Makkah dan
       perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di
       sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati
       segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di
       sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
       Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan
       orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan
       segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya,
       Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau
       pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk
       berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari
       pemiliknya.
       Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun
       Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal
       ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan
       (muazin) dalam sejarah Islam.
       Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan
       pintu rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya
       berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari
       melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan
       Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
       Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak
       pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya
       kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara
       sisanya diberikan kepada Ali ibn Abu Thalib dan Umar ibnul
       Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak
       itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal
       selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya
       dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan
       shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di
       hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
       Bilal menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang
       Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana
       Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga
       melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah
       menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah ibn
       Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin
       dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang
       yang mereka siksa dahulu.
       Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota
       Makkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang
       pengumandang panggilan langit’, Bilal ibn Rabah. Saat masuk ke
       Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman ibn
       Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah ibn Zaid, yang dikenal
       sebagai kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan
       putra dari kekasihnya, dan Bilal ibn Rabah, Muazin Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang
       baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun
       terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada
       saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam memanggil Bilal ibn Rabah agar naik ke atap
       Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal
       melaksanakan perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan
       senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang
       bersih dan jelas.
       Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah
       mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi
       lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak
       kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian
       telah merobek-robek hati mereka.
       Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat,
       “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa
       Muhammad adalah utusan Allah).” Juwairiyah bint Abu Jahal
       bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang,
       kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai
       orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.”
       Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
       Khalid ibn Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah
       memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.”
       Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Makkah..
       Sementara al-Harits ibn Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku,
       mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas
       Ka’bah.”
       AI-Hakam ibn Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang
       sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan
       ini (Ka’bah).”
       Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata,
       “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat
       pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai
       kepada Muhammad ibn Abdullah.”
       Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan
       yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…,
       Ahad… (Allah Maha Esa).”
       Sesaat setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri
       untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan
       belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna
       muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
       utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup
       mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak
       kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang
       membuat suasana semakin mengharu biru.
       Sejak kepergian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Bilal
       hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap
       sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi
       (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung
       menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang
       mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
       Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan
       posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin,
       agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak
       sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin
       kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad
       di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
       Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan
       Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun
       Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku
       untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku,
       tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka
       biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
       Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk
       Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
       Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah
       mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
       Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi
       meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh
       Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh
       dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan
       azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam,
       yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah
       terpisah cukup lama.
       Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa
       hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang
       menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka
       Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan
       kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
       Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak
       Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar
       ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali
       terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan
       tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian
       diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka
       basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap
       kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di
       Madinah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. BiIal,
       “Pengumandang seruan langit itu,” tetap tinggal di Damaskus
       hingga wafat. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya, Doktor ‘Abdurrahman
       Ra’fat Basya
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1