URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH &#158...
       *****************************************************
       #Post#: 286--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
       صلى ا لله
       عليه وسلم :
       Jakfar ibn Abu Thalib
   DIR By: WalimanovSakti
       Date: December 31, 2023, 8:38 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Ja’far ibn Abu Thalib
       [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       (Wafat 8 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=131
       Jakfar [i]ibn Abu Thalib ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ini masuk
       Islam dari sejak dini dan sempat mengikuti hijrah ke Abessinia,
       malah sempat mempublikasikan Islam di daerah itu. Dalam perang
       Muktah beliau diserahi menjadi pemegang bendera Islam, setelah
       tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan
       kiri, namun tangan kirinya juga terpotong lagi, sehingga dia
       memegang bendera itu dengan dadanya. Berbagai cobaan
       dipertahankannya dalam mengemban tugas ini, akhirnya beliau mati
       syahid di mana dalam tubuhnya terdapat sekitar 90 goretan dan
       tembakan.[/i]
       Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip
       dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga
       seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah:
       - Abu Sufyan ibn Harits ibn Abdul Muthallib, anak paman Nabi
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sekaligus sebagai saudara
       sesusuannya.
       - [size=10pt]Qutsam Ibnul Abbas ibn Abdul Muthallib, anak paman
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       - [size=10pt]Saib ibn Ubaid ibn Abdi Yazin ibn Hasyim, kakek
       Syafi’i
       - [size=10pt]Ja’far ibn Abi Thalib, yaitu saudara Ali ibn Abi
       Thalib.
       - [size=10pt]Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib, cucu Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau ini paling mirip dengan
       Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di antara mereka berlima.
       [size=11pt]Marilah sekarang kita melihat sisi kehidupan Ja’far
       ibn Abi Thalib. Abi Thalib termasuk bangsawan Quraisy dan
       mempunyai kedudukan terpandang dalam masyarakat. Namun,
       kehidupannya susah dan tanggungannya banyak. Ia pernah mengalami
       keadaan sangat kritis saat kemarau panjang. Tanaman mati karena
       kekeringan dan banyak orang terpaksa memakan bangkai. Di saat
       paceklik seperti ini, biasanya tidak ada yang menaruh perhatian
       untuk meringankan beban Abu Thalib di kalangan Bani Hasyim
       selain Abbas dan Muhammad ibn Abdullah.
       Muhammad berkata kepada Abbas, “Wahai paman, saudara paman
       (yaitu Abu Thalib) memiliki tanggungan yang sangat banyak.
       Sebagaimana yang paman saksikan, seluruh masyarakat kini sedang
       ditimpa musibah berupa kemarau panjang dan paceklik yang
       mengakibatkan banyak orang kelaparan. Marilah kita pergi ke
       rumah Abu Thalib, saudara paman. Kita ambil alih sebagian
       tanggungannya untuk meringankan beban keluarganya. Aku mengambil
       anaknya seorang, dan paman mengambil pula anaknya yang lain.
       Agaknya dengan begitu, cukup besar artinya untuk meringankan
       bebannya.”
       Abbas berkata, “Usulmu sangat bagus. Engkau betul-betul
       membangunkanku untuk kebajikan. Marilah kita pergi.”
       Mereka pun pergi ke rumah Abu Thalib. Lalu berkata, “Kami datang
       hendak meringankan beban Anda yang berat. Izinkanlah kami
       membawa sebagaian anak-anakmu tinggal bersama kami sampai masa
       sulit yang mencekam seluruh masyarakat ini reda kembali.”
       Abu Thalib berkata, “Boleh saja, asal kalian tidak membawa
       Aqil.” Aqil adalah anak laki-laki Abu Thalib yang tertua.
       Muhammad ibn Abdullah mengambil Ali ibn Abi Thalib lalu
       digabungkannya dalam keluarganya. Sedangkan Abbas membawa Ja’far
       ibn Abi Thalib dan digabungkannya pula dalam keluarganya. Ali
       tetap tinggal bersama Muhammad ibn Abdullah sampai Allah
       mengutusnya menjadi rasul dengan agama yang hak. Dan, Ali
       tercatat sebagai pemuda yang pertama-tama masuk Islam.
       Sementara Ja’far tinggal bersama paman Abbas hingga ia dewasa,
       lalu dia masuk Islam, dan tidak memerlukan bantuan Abbas lagi.
       Ja’far dan istrinya, Asma’ ibn Umais, menerjunkan dirinya dalam
       kendaraan Islam sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di
       hadapan Abu Bakar Shiddiq sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam masuk ke rumah Al-Arqam. Pasangan suami istri Bani
       Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum
       kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum muslimin yang
       pertama-tama masuk Islam. Tetapi, suami istri ini bersabar
       menerima segala cobaan yang menimpanya, karena mereka tahu jalan
       ke surga bertabur duri dengan segala macam kesulitan dan
       kepedihan. Tetapi yang merisaukan mereka berdua adalah kaum
       Quraisy membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan
       melarangnya untuk merasakan kelezatan ibadah. Karena itu, kaum
       Quraisy senantiasa mengamati gerak-gerik keduanya. Maka, Ja’far
       ibn Abi Thalib beserta istrinya memohon izin kepada Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk hijrah ke Habasyah
       bersama-sama dengan para sahabat lainnya. Dengan sedih hati
       Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengizinkannya.
       Sebaliknya, mereka dengan amat berat meninggalkan kampung
       halaman tempat mereka bermain pada waktu kecil dan waktu muda,
       tanpa suatu dosa yang mencemarkan, kecuali karena mereka
       mengucapkan kata-kata “Rabbunallaah” (Rab kami hanyalah Allah).
       Namun, mereka tidak berdaya untuk menangkis siksaan dan tekanan
       kaum Quraisy.
       Kendaraan kaum muhajirin yang pertama-tama berangkat ke Habasyah
       di bawah pimpinan Ja’far ibn Abi Thalib Mereka merasa lega di
       bawah perlindungan Najasyi, Raja Habasyah yang adil dan saleh.
       Sejak mereka masuk Islam itulah, mereka baru merasa aman, dapat
       menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa
       cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka
       hijrah.
       Namun, tidak berapa lama setelah kaum Quraisy mengetahui
       rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Habasayah dan mendapat
       perlindungan raja Najasyi, dapat melaksanakan dinnya dengan
       tenang dan aman, kaum Quraisy pun terkejut dan khawatir. Mereka
       kemudian berunding untuk membunuh kaum muhajirin itu atau
       meminta mereka agar dimasukan penjara. Untuk itu marilah kita
       dengarkan Ummu Salamah (salah seorang muhajirat) menceritakan
       kisah nyata yang dilihat dan didengarnya sendiri.
       Ummu Salamah berkata, “Manakala kami tiba di Habasyah, kami
       disambut dan bertemu dengan tetangga yang baik. Kami dapat
       melaksanakan agama kami dengan aman, dan beribadah kepada Allah
       tanpa mendapatkan siksaan atau gangguan yang tidak diinginkan.
       Ketika kaum Quraisy mendengar berita tentang keadaan kami lebih
       baik, mereka segera berunding untuk mengacaukan kami. Lalu
       mereka mengutus dua orang diplomat ulung kepada Raja Najasyi,
       yaitu Amr ibn Ash dan Abdullah ibn Rabiah dengan membawa
       persembahan sejumlah hadiah besar untuk Najasyi pribadi, dan
       untuk para pemuka agama (pendeta) mereka berupa barang-barang
       mewah dan antik dari Hijaz. Namun, mereka memutuskan untuk tidak
       memberikan kepada raja terlebih dahulu sebelum memberikannya
       kepada para pendeta.
       Tatkala kedua utusan itu tiba di Habasyah, mereka terlebih
       dahulu menemui pemuka agama yang terdekat dengan Najasyi dan
       memberikan hadiah untuk mereka. Kedua utusan itu berkata, “Telah
       datang ke negeri Anda, orang-orang bodoh kami. Mereka
       mengingkari agama nenek moyang dan memecah belah persatuan
       bangsa. Bila nanti kami berbicara dengan baginda raja, kami
       harap tuan-tuan dapat menolong kami supaya baginda raja sudi
       menyerahkan mereka kepada kami, tanpa menanyakan masalah agama,
       karena pemimpin rombongan mereka sangat pandai berbiara dan
       mengerti tentang agama yang mereka yakini.”
       “Baiklah,” jawab pendeta itu.
       Ummu Salamah meneruskan ceritanya, “Namun, apa yang mereka
       khawatirkan justru itulah yang terjadi. Raja Najasyi memangil
       salah seorang kami untuk didengar keterangannya.”
       Kedua utusan Quraisy menghadap Raja Najasyi dengan membawa
       persembahan bermacam-macam dan hadiah yang tak ternilai
       harganya. Baginda raja memuji dan mengagumi persembahan mereka.
       Utusan Quraisy berkata, “Wahai paduka raja telah datang ke
       negara paduka orang-orang jahat bangsa kami. Mereka datang
       dengan membawa agama yang tidak pernah kami kenal dan juga belum
       pernah paduka kenal. Mereka keluar dari agama nenek moyang kami,
       tetapi tidak pula masuk ke dalam agama paduka. Kami diutus oleh
       bapak-bapak dan segenap famili untuk menjemput dan membawa
       mereka kembali pulang, mereka sangat pandai mengada-ada dan
       membuat fitnah.
       Najasy melihat kepada para pendeta yang berada di sampingnya.
       Lalu mereka berkata, “Apa yang disampaikan kedua utusan itu
       memang benar, wahai paduka. Orang yang sebangsa dengan kaum
       pelarian itu lebih mengeri dan tahu tentang kejahatan mereka.
       Karena itu sebaiknyalah kaum pelarian itu dikembalikan saja
       kepada mereka. Terserah kepada mereka apa yang akan diperbuat
       sesudah itu.”
       Baginda raja marah mendengar jawaban dari para pendeta. “Tidak…!
       Demi Allah…! tidak seorang pun dari mereka akan saya serahkan
       sebelum saya memanggil mereka dan meminta keterangannya tentang
       tuduhan yang diberikan kepada mereka. Jika benar mereka orang
       jahat sebagaimana yang dituduhkan, maka mereka akan saya
       serahkan. Tetapi, jika tuduhan itu palsu, mereka akan saya
       lindungi dan akan saya jadikan tetanggaku yang baik selama
       mereka menghendaki,” ucap Najasyi.
       Selanjutnya, kata Ummu Salamah, “Najasyi memangil kami untuk
       menghadap kepadanya. Sebelum menghadap, terlebih dahulu kami
       bermusyawarah. Sebagian kami berkata, “Kita dipanggil menghadap
       baginda raja untuk diminta keterangannya tentang agama kita.
       Karena itu, kita tentukan saja seorang juru bicara untuk
       menjelaskan kepada beliau. Pilihan mereka jatuh kepada Ja’far
       ibn Abi Thalib dan yang lainnya tidak diijinkan untuk
       berbicara.”
       Sesudah membuat keputusan, kami pergi menghadap baginda Raja
       Najasyi. Di dalam majlis raja telah hadir para pendeta pemuka
       agama. Mereka duduk di kanan kiri baginda. Masing-masing memakai
       pakaian kebesarannya, lengkap dengan jubah, kopiah dan memegang
       sebuah kitab di tangan mereka. Di samping para pendeta, kami
       melihat pula Amr ibn Ash dan Abdullah ibn Rabiah.
       Setelah duduk dengan tenang di dalam majlis, baginda raja
       menoleh kepada kami dan berkata, “Agama apakah yang tuan-tuan
       anut, sehingga tuan-tuan keluar dari agama bangsa tuan-tuan,
       tetapi tidak pula masuk ke dalam agama kami atau agama-agama
       lain yang telah ada?”
       Maka tampillah Ja’far ibn Abi Thalib menjawab, “Wahai paduka
       raja, dahulu kami memang bangsa yang bodoh. Kami menyembah
       berhala, memakan bangkai, berzina, mengerjakan segala pekerjaan
       keji, saling bermusuhan, tidak mempedulikan tetangga, dan yang
       kuat selalu memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami dahulu
       sebelum Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Kami mengenal
       benar kepribadian Rasul Allah itu. Turunnya, kebenaran setiap
       kata yang diucapkannya, kejujurannya, kesucian pribadinya yang
       tidak sedikit jua pun ternoda, dan seterusnya. Dia mengajak kami
       supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah, beribadah
       semata-mata kepada-Nya dan supaya meninggalkan agama kami yang
       lama, yaitu agama nenek moyang kami yang menyembah batu dan
       berhala. Bahkan dia menyuruh kami agar selalu berbicara benar,
       senantiasa memegang amanah, menghubungkan sillahturrahmi,
       bersikap baik kepada tetangga, menghentikan segala perbuatan
       terlarang, dan petumpahan darah. Dia juga melarang kami berzina
       dan melakukan segala perbutan keji, mengucapkan kata-kata kotor,
       memakan harta anak yatim, menuduh wanita baik-baik berbuat
       serong. Dia menyuruh kami beribadah kepada Allah saja, tidak
       menyekutukan-Nya dengan yang lain-lain. Dia menyuruh kami
       menegakkan salat, membayar zakat, dan puasa bulan Ramadahan.
       Kami menerima bak segala perintah dan larangannya. Kami percaya
       sungguh kepadanya. Dan, kami patuhi segala yang diajarkan Allah
       kepadanya. Maka kami halalkan segala yang dikatakannya halal dan
       kami haramkan segala yang dikatakannya haram. Tetapi, wahai
       paduka raja! Sebagian bangsa kami memusuhi kami karenanya.
       Mereka menyiksa kami dengan siksaan berat agar kami keluar dari
       agama yang kami anut itu dan kembali kepada agama lama yang
       menyembah berhala. Maka tatkala penganiayaan dan penyiksaan
       mereka terhadap kami sudah demikian memuncak dan kami
       dihalang-halangi untuk terus melaksanakan ajaran agama kami,
       lalu kami keluar dari negeri kami dan memilih negeri paduka
       sebagai tempat kami mengungsi. Karena kami yakin paduka adalah
       tetangga yang baik dan tidak akan berlaku zalim kepada kami.”
       Najasyi berkata kepada Ja’far, “Dapatkah Anda membacakan salah
       satu ayat yang diajarkan Allah kepada nabi Anda?”
       Ja’far menjawab, “Ya, tentu.”
       Najasyi berkata, “Coba bacakan kepada saya.”
       Ja’far membaca surat (Maryam 1-4), yang artinya, “Kaaf Haa Yaa’
       ‘Ain Shaad. Mengingat rahmat Rabbmu kepada hamba-Nya Zakariya.
       Ketika ia berseru kepada Rabbnya dengan suara perlahan-lahan.
       Dia berdo’a, “Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku sudah lemah,
       dan kepalaku sudah beruban, dan aku belum pernah beruntung
       (bila) memohon kepada Engkau, wahai Rabbku.”
       Baru saja Ja’far selesai membacakan ayat-ayat permulaan surat
       tesebut, Najasyi menangis sehingga jenggotnya basah oleh air
       mata. Begitu pula para pastor turut menangis sehingga kitab di
       tangan mereka basah demi mendengar kalam Allah tersebut.
       Najasyi berkata kepada kami, “Sesungguhnya agama yang dibawa
       nabi tuan-tuan dan agama yang dibawa Nabi Isa berasal dari satu
       sumber.”
       Kemudian dia berpaling kepada Amr ibn Ash dan Abdullah ibn
       Rabiah seraya berkata, “Pergilah kalian, demi Allah, saya tidak
       akan menyerahkan mereka kepada kalian selama-lamanya.”
       Ummu Salamah selanjutnya berkata, “Ketika kami keluar dari
       majlis Najasyi, Amr ibn Ash mengancam kami. Dia berkata kepada
       temannya, Abdullah ibn Rabiah, “Demi Allah, besok akan saya
       datangi baginda raja. Akan saya katakan kepada baginda ucapan
       orang-orang ini yang pasti akan membuat hati baginda raja marah
       dan benci kepada mereka. Akan saya sebutkan kepada baginda
       secara tuntas kebusukan-kebusukan hati orang-orang ini.”
       “Ah, jangan! Bukankah mereka ini karib kerabat kita juga,
       sekalipun mereka berselisih paham dengan kita,” kata Abdullah
       ibn Rabiah.
       Amr ibn Ash berkata, “Biar saja, demi Allah, akan saya ceritakan
       kepada baginda besok. Demi Allah, akan saya ceritakan kepada
       baginda, bahwa orang-orang ini mengatakan Isa ibn Maryam adalah
       hamba sahaya.”
       Keesokan harinya Amr ibn Ash menghadap Raja Najasyi dan berkta,
       “Wahai paduka raja, orang-orang yang paduka lindungi memandang
       rendah Isa ibn Maryam. Cobalah paduka panggil lagi dan bertanya
       kepada mereka.”
       Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, “Setelah mengetahui tindakan
       Amr itu kami sungguh terpana. Kami tidak berpendirian begitu,
       jangankan pula untuk mengucapkan kata-kata yang menghina Nabi
       Isa ibn Maryam. Lalu kami bermusyawarah tentang jawaban apa yang
       paling tepat mengenai persoalan itu, jika nanti baginda raja
       menanyakannya. Kami sepakat, “Demi Allah, kita tidak akan
       memberi jawaban melainkan dengan firman Allah. Kita tidak boleh
       keluar seujung kuku pun dari ajaran Nabi kita, dan harus
       senantiasa begitu.”
       Kemudian menunjuk kembali Ja’far ibn Abi Thalib menjadi juru
       bicara. Ketika dipanggil baginda raja, kami pun datang
       menghadap. Kami dapati para pastor telah hadir seperti kemarin.
       Di samping mereka terlihat pula Amr ibn Ash dan kawannya. Segera
       kami duduk di hadapan baginda, lalu ia bertanya kepada kami,
       “Bagaimana pendapat tuan-tuan tentang Isa ibn Maryam?”
       Ja’far berkata, “Kami mempercayainya sebagaimana diajarkan nabi
       kami.”
       Najasyi berkata, “Bagaimana ajaran nabi tuan-tuan mengenai
       beliau.”
       Ja’far menjawab, “Beliau bersabda, “Sesungguhnya Isa adalah
       hamba Allah dan Rasul-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang
       ditujukan kepada Maryam yang senantiasa perawan suci.”
       Mendengar jawaban Ja’far itu, Najasyi menepukkan tangannya ke
       lantai seraya berkata, “Demi Allah tidak berbeda seujung rambut
       pun ajaran Isa ibn Maryam dengan ajaran nabi tuan-tuan.”
       Para pastor bernafas panjang, sebagai protes terhadap ucapan
       Najasyi. Lalu Najasyi berkata kepada para pendeta, “Sekalipun
       kalian mencemooh, pergilah kalian! Kalian percaya terhadap
       orang-orang yang telah menyogok dan mendatangkan malapetaka pada
       kalian. Demi Allah, saya tidak suka menerima emas walaupun
       sebesar gunung, tetapi mencelakai salah seorang kamu dengan
       suatu kejahatan. Kemudian Najasyi menengok kepada Amr ibn Ash
       dan kawannya seraya berkata, “Kembalikan semua hadiah-hadiah
       yang dipersembahkan kedua orang ini, saya tidak butuh
       persembahan mereka.”
       Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, “Amr ibn Ash dan kawannya
       keluar dengan hati berkeping-keping dan sangat kecewa. Dia kalah
       total, mendapat kegagalan dan kekecewaan yang memalukan. Dan
       kami dibolehkan tetap tinggal di sisi Najasyi, di negeri yang
       baik dan penduduk yang berhati mulia pula.”
       Ja’far ibn Abi Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan
       tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama
       sepuluh tahun.
       Pada tahun ke tujuh hijrah, kedua suami isteri itu meninggalkan
       Habasyah dan hijrah ke Yatsrib. Kebetulan Rasulullah Shallallahu
       ‘Alaihi Wasallam baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat
       gembira bertemu dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya
       beliau berkata, “Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku
       gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena
       kedatangan Ja’far?”
       Begitu pula kaum muslimin umumnya, terlebih fakir miskin, mereka
       juga bergembira dengan kedatangan Ja’far. Ja’far sangat
       penyantun dan banyak membela golongan duafa, sehinga dia
       digelari Abil Masakin (bapak orang-orang miskin).
       Abu Hurairah bercerita tentang Ja’far. Ia berkata, “Orang yang
       paling baik kepada kami (golongan orang-orang miskin) ialah
       Ja’far ibn Abi Thalib. Dia sering mengajak kami makan di
       rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah
       habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan
       sampai dengan kerak-keraknya.”
       Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun
       kedelapan hijriah Rasululalh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
       menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Rum di
       Muktah. Beliau mengangkat Zaid ibn Haritsah menjadi komandan
       pasukan.
       Rasululalh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika Zaid
       tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far ibn Abi Thalib.
       Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan
       Abdullah ibn Rawahah. Dan, apabila Abdullah ibn Rawahah cidera
       atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih
       pemimpin/komandan di antara mereka. “
       Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam
       dalam wilayah Yordan, mereka mendapati tentara Rum telah siap
       menyambut kedatangan mereka dengan kekuatan 100.000 pasukan inti
       yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap.
       Pasukan mereka juga terdiri dari 100 ribu milisi Nasrani Arab
       dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain.
       Sementara, tentara kaum muslimin yang dipimpin Zaid ibn Haritsah
       hanya berkekuatan 3000 tentara.
       Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan,
       pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid ibn Haritsah
       gugur sebagai syuhada ketika dia dan tentaranya sedang maju
       menyerbu ke tengah-tengah musuh.
       Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya
       yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan
       pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya.
       Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah
       dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda
       pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah
       barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul
       rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat
       mengepung dan mengeroyoknya. Sementara dia bersenandung
       menyanyikan sajak nan indah,
       Wahai … surga nan nikmat sudah mendekat
       Minuman segar, tercium harum
       Tetapi engkau Rum … Rum….
       Menghampiri siksa
       Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga
       Tugasku … menggempurmu ….
       Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh
       yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan
       kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan
       musuh sehingga buntung. Maka dipegannya bendera komando dengan
       tangan kirinya. Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang
       musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera
       komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Tetapi,
       tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga
       saja dibuntung musuh. Secepat kilat Abdullah ibn Rawahah merebut
       bendera komando dari komando Ja’far ibn Abi Thalib. Pimpinan
       kini berada di tangan Abdullah ibn Rawahah, sehingga akhirnya
       dia gugur pula sebagai syuhada’, menyusul kedua sahabatnya yang
       telah syahid lebih dahulu.
       Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat sedih mendapat
       berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke
       rumah Ja’far ibn Abi Thalib anak pamannya. Didapatinya Asma’,
       isteri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya.
       Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan
       memakaikan baju mereka yang bersih.
       Asma’ bercerita, “Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat
       wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku
       tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut
       mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan
       anak-anak kami.
       Beliau berkata, “Mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”
       Maka kupanggil mereka semua dan kusuruh menemui Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Anak-anak berlompatan kegirangan
       mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman
       kepada beliau. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak
       sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir
       membasahi pipi mereka. Saya bertanya, “Ya Rasulullah, demi
       Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan
       kedua sahabatnya?”
       Beliau menjawab, “Ya …, mereka telah syahid hari ini.” Mendengar
       jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah
       anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis
       tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing,
       seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.
       Rasulullah berucap sambil menyeka air matanya, “Wahai Allah,
       gantilah Ja’far bagi anak-anaknya … wahai Allah, gantilah Ja’far
       bagi isterinya.” Kemudian kata beliau selanjutnya, “Aku melihat
       sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap
       berlumuran darah dan bertanda di kakinya.” Wallahua’lam.
       &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman
       Ra’fat Basya
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1