DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH ž...
*****************************************************
#Post#: 286--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
صلى ا لله
عليه وسلم :
Jakfar ibn Abu Thalib
DIR By: WalimanovSakti
Date: December 31, 2023, 8:38 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Ja’far ibn Abu Thalib
[font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
(Wafat 8 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=131
Jakfar [i]ibn Abu Thalib ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ini masuk
Islam dari sejak dini dan sempat mengikuti hijrah ke Abessinia,
malah sempat mempublikasikan Islam di daerah itu. Dalam perang
Muktah beliau diserahi menjadi pemegang bendera Islam, setelah
tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan
kiri, namun tangan kirinya juga terpotong lagi, sehingga dia
memegang bendera itu dengan dadanya. Berbagai cobaan
dipertahankannya dalam mengemban tugas ini, akhirnya beliau mati
syahid di mana dalam tubuhnya terdapat sekitar 90 goretan dan
tembakan.[/i]
Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip
dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga
seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah:
- Abu Sufyan ibn Harits ibn Abdul Muthallib, anak paman Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sekaligus sebagai saudara
sesusuannya.
- [size=10pt]Qutsam Ibnul Abbas ibn Abdul Muthallib, anak paman
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
- [size=10pt]Saib ibn Ubaid ibn Abdi Yazin ibn Hasyim, kakek
Syafi’i
- [size=10pt]Ja’far ibn Abi Thalib, yaitu saudara Ali ibn Abi
Thalib.
- [size=10pt]Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib, cucu Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau ini paling mirip dengan
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di antara mereka berlima.
[size=11pt]Marilah sekarang kita melihat sisi kehidupan Ja’far
ibn Abi Thalib. Abi Thalib termasuk bangsawan Quraisy dan
mempunyai kedudukan terpandang dalam masyarakat. Namun,
kehidupannya susah dan tanggungannya banyak. Ia pernah mengalami
keadaan sangat kritis saat kemarau panjang. Tanaman mati karena
kekeringan dan banyak orang terpaksa memakan bangkai. Di saat
paceklik seperti ini, biasanya tidak ada yang menaruh perhatian
untuk meringankan beban Abu Thalib di kalangan Bani Hasyim
selain Abbas dan Muhammad ibn Abdullah.
Muhammad berkata kepada Abbas, “Wahai paman, saudara paman
(yaitu Abu Thalib) memiliki tanggungan yang sangat banyak.
Sebagaimana yang paman saksikan, seluruh masyarakat kini sedang
ditimpa musibah berupa kemarau panjang dan paceklik yang
mengakibatkan banyak orang kelaparan. Marilah kita pergi ke
rumah Abu Thalib, saudara paman. Kita ambil alih sebagian
tanggungannya untuk meringankan beban keluarganya. Aku mengambil
anaknya seorang, dan paman mengambil pula anaknya yang lain.
Agaknya dengan begitu, cukup besar artinya untuk meringankan
bebannya.”
Abbas berkata, “Usulmu sangat bagus. Engkau betul-betul
membangunkanku untuk kebajikan. Marilah kita pergi.”
Mereka pun pergi ke rumah Abu Thalib. Lalu berkata, “Kami datang
hendak meringankan beban Anda yang berat. Izinkanlah kami
membawa sebagaian anak-anakmu tinggal bersama kami sampai masa
sulit yang mencekam seluruh masyarakat ini reda kembali.”
Abu Thalib berkata, “Boleh saja, asal kalian tidak membawa
Aqil.” Aqil adalah anak laki-laki Abu Thalib yang tertua.
Muhammad ibn Abdullah mengambil Ali ibn Abi Thalib lalu
digabungkannya dalam keluarganya. Sedangkan Abbas membawa Ja’far
ibn Abi Thalib dan digabungkannya pula dalam keluarganya. Ali
tetap tinggal bersama Muhammad ibn Abdullah sampai Allah
mengutusnya menjadi rasul dengan agama yang hak. Dan, Ali
tercatat sebagai pemuda yang pertama-tama masuk Islam.
Sementara Ja’far tinggal bersama paman Abbas hingga ia dewasa,
lalu dia masuk Islam, dan tidak memerlukan bantuan Abbas lagi.
Ja’far dan istrinya, Asma’ ibn Umais, menerjunkan dirinya dalam
kendaraan Islam sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di
hadapan Abu Bakar Shiddiq sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam masuk ke rumah Al-Arqam. Pasangan suami istri Bani
Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum
kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum muslimin yang
pertama-tama masuk Islam. Tetapi, suami istri ini bersabar
menerima segala cobaan yang menimpanya, karena mereka tahu jalan
ke surga bertabur duri dengan segala macam kesulitan dan
kepedihan. Tetapi yang merisaukan mereka berdua adalah kaum
Quraisy membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan
melarangnya untuk merasakan kelezatan ibadah. Karena itu, kaum
Quraisy senantiasa mengamati gerak-gerik keduanya. Maka, Ja’far
ibn Abi Thalib beserta istrinya memohon izin kepada Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk hijrah ke Habasyah
bersama-sama dengan para sahabat lainnya. Dengan sedih hati
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengizinkannya.
Sebaliknya, mereka dengan amat berat meninggalkan kampung
halaman tempat mereka bermain pada waktu kecil dan waktu muda,
tanpa suatu dosa yang mencemarkan, kecuali karena mereka
mengucapkan kata-kata “Rabbunallaah” (Rab kami hanyalah Allah).
Namun, mereka tidak berdaya untuk menangkis siksaan dan tekanan
kaum Quraisy.
Kendaraan kaum muhajirin yang pertama-tama berangkat ke Habasyah
di bawah pimpinan Ja’far ibn Abi Thalib Mereka merasa lega di
bawah perlindungan Najasyi, Raja Habasyah yang adil dan saleh.
Sejak mereka masuk Islam itulah, mereka baru merasa aman, dapat
menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa
cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka
hijrah.
Namun, tidak berapa lama setelah kaum Quraisy mengetahui
rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Habasayah dan mendapat
perlindungan raja Najasyi, dapat melaksanakan dinnya dengan
tenang dan aman, kaum Quraisy pun terkejut dan khawatir. Mereka
kemudian berunding untuk membunuh kaum muhajirin itu atau
meminta mereka agar dimasukan penjara. Untuk itu marilah kita
dengarkan Ummu Salamah (salah seorang muhajirat) menceritakan
kisah nyata yang dilihat dan didengarnya sendiri.
Ummu Salamah berkata, “Manakala kami tiba di Habasyah, kami
disambut dan bertemu dengan tetangga yang baik. Kami dapat
melaksanakan agama kami dengan aman, dan beribadah kepada Allah
tanpa mendapatkan siksaan atau gangguan yang tidak diinginkan.
Ketika kaum Quraisy mendengar berita tentang keadaan kami lebih
baik, mereka segera berunding untuk mengacaukan kami. Lalu
mereka mengutus dua orang diplomat ulung kepada Raja Najasyi,
yaitu Amr ibn Ash dan Abdullah ibn Rabiah dengan membawa
persembahan sejumlah hadiah besar untuk Najasyi pribadi, dan
untuk para pemuka agama (pendeta) mereka berupa barang-barang
mewah dan antik dari Hijaz. Namun, mereka memutuskan untuk tidak
memberikan kepada raja terlebih dahulu sebelum memberikannya
kepada para pendeta.
Tatkala kedua utusan itu tiba di Habasyah, mereka terlebih
dahulu menemui pemuka agama yang terdekat dengan Najasyi dan
memberikan hadiah untuk mereka. Kedua utusan itu berkata, “Telah
datang ke negeri Anda, orang-orang bodoh kami. Mereka
mengingkari agama nenek moyang dan memecah belah persatuan
bangsa. Bila nanti kami berbicara dengan baginda raja, kami
harap tuan-tuan dapat menolong kami supaya baginda raja sudi
menyerahkan mereka kepada kami, tanpa menanyakan masalah agama,
karena pemimpin rombongan mereka sangat pandai berbiara dan
mengerti tentang agama yang mereka yakini.”
“Baiklah,” jawab pendeta itu.
Ummu Salamah meneruskan ceritanya, “Namun, apa yang mereka
khawatirkan justru itulah yang terjadi. Raja Najasyi memangil
salah seorang kami untuk didengar keterangannya.”
Kedua utusan Quraisy menghadap Raja Najasyi dengan membawa
persembahan bermacam-macam dan hadiah yang tak ternilai
harganya. Baginda raja memuji dan mengagumi persembahan mereka.
Utusan Quraisy berkata, “Wahai paduka raja telah datang ke
negara paduka orang-orang jahat bangsa kami. Mereka datang
dengan membawa agama yang tidak pernah kami kenal dan juga belum
pernah paduka kenal. Mereka keluar dari agama nenek moyang kami,
tetapi tidak pula masuk ke dalam agama paduka. Kami diutus oleh
bapak-bapak dan segenap famili untuk menjemput dan membawa
mereka kembali pulang, mereka sangat pandai mengada-ada dan
membuat fitnah.
Najasy melihat kepada para pendeta yang berada di sampingnya.
Lalu mereka berkata, “Apa yang disampaikan kedua utusan itu
memang benar, wahai paduka. Orang yang sebangsa dengan kaum
pelarian itu lebih mengeri dan tahu tentang kejahatan mereka.
Karena itu sebaiknyalah kaum pelarian itu dikembalikan saja
kepada mereka. Terserah kepada mereka apa yang akan diperbuat
sesudah itu.”
Baginda raja marah mendengar jawaban dari para pendeta. “Tidak…!
Demi Allah…! tidak seorang pun dari mereka akan saya serahkan
sebelum saya memanggil mereka dan meminta keterangannya tentang
tuduhan yang diberikan kepada mereka. Jika benar mereka orang
jahat sebagaimana yang dituduhkan, maka mereka akan saya
serahkan. Tetapi, jika tuduhan itu palsu, mereka akan saya
lindungi dan akan saya jadikan tetanggaku yang baik selama
mereka menghendaki,” ucap Najasyi.
Selanjutnya, kata Ummu Salamah, “Najasyi memangil kami untuk
menghadap kepadanya. Sebelum menghadap, terlebih dahulu kami
bermusyawarah. Sebagian kami berkata, “Kita dipanggil menghadap
baginda raja untuk diminta keterangannya tentang agama kita.
Karena itu, kita tentukan saja seorang juru bicara untuk
menjelaskan kepada beliau. Pilihan mereka jatuh kepada Ja’far
ibn Abi Thalib dan yang lainnya tidak diijinkan untuk
berbicara.”
Sesudah membuat keputusan, kami pergi menghadap baginda Raja
Najasyi. Di dalam majlis raja telah hadir para pendeta pemuka
agama. Mereka duduk di kanan kiri baginda. Masing-masing memakai
pakaian kebesarannya, lengkap dengan jubah, kopiah dan memegang
sebuah kitab di tangan mereka. Di samping para pendeta, kami
melihat pula Amr ibn Ash dan Abdullah ibn Rabiah.
Setelah duduk dengan tenang di dalam majlis, baginda raja
menoleh kepada kami dan berkata, “Agama apakah yang tuan-tuan
anut, sehingga tuan-tuan keluar dari agama bangsa tuan-tuan,
tetapi tidak pula masuk ke dalam agama kami atau agama-agama
lain yang telah ada?”
Maka tampillah Ja’far ibn Abi Thalib menjawab, “Wahai paduka
raja, dahulu kami memang bangsa yang bodoh. Kami menyembah
berhala, memakan bangkai, berzina, mengerjakan segala pekerjaan
keji, saling bermusuhan, tidak mempedulikan tetangga, dan yang
kuat selalu memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami dahulu
sebelum Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Kami mengenal
benar kepribadian Rasul Allah itu. Turunnya, kebenaran setiap
kata yang diucapkannya, kejujurannya, kesucian pribadinya yang
tidak sedikit jua pun ternoda, dan seterusnya. Dia mengajak kami
supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah, beribadah
semata-mata kepada-Nya dan supaya meninggalkan agama kami yang
lama, yaitu agama nenek moyang kami yang menyembah batu dan
berhala. Bahkan dia menyuruh kami agar selalu berbicara benar,
senantiasa memegang amanah, menghubungkan sillahturrahmi,
bersikap baik kepada tetangga, menghentikan segala perbuatan
terlarang, dan petumpahan darah. Dia juga melarang kami berzina
dan melakukan segala perbutan keji, mengucapkan kata-kata kotor,
memakan harta anak yatim, menuduh wanita baik-baik berbuat
serong. Dia menyuruh kami beribadah kepada Allah saja, tidak
menyekutukan-Nya dengan yang lain-lain. Dia menyuruh kami
menegakkan salat, membayar zakat, dan puasa bulan Ramadahan.
Kami menerima bak segala perintah dan larangannya. Kami percaya
sungguh kepadanya. Dan, kami patuhi segala yang diajarkan Allah
kepadanya. Maka kami halalkan segala yang dikatakannya halal dan
kami haramkan segala yang dikatakannya haram. Tetapi, wahai
paduka raja! Sebagian bangsa kami memusuhi kami karenanya.
Mereka menyiksa kami dengan siksaan berat agar kami keluar dari
agama yang kami anut itu dan kembali kepada agama lama yang
menyembah berhala. Maka tatkala penganiayaan dan penyiksaan
mereka terhadap kami sudah demikian memuncak dan kami
dihalang-halangi untuk terus melaksanakan ajaran agama kami,
lalu kami keluar dari negeri kami dan memilih negeri paduka
sebagai tempat kami mengungsi. Karena kami yakin paduka adalah
tetangga yang baik dan tidak akan berlaku zalim kepada kami.”
Najasyi berkata kepada Ja’far, “Dapatkah Anda membacakan salah
satu ayat yang diajarkan Allah kepada nabi Anda?”
Ja’far menjawab, “Ya, tentu.”
Najasyi berkata, “Coba bacakan kepada saya.”
Ja’far membaca surat (Maryam 1-4), yang artinya, “Kaaf Haa Yaa’
‘Ain Shaad. Mengingat rahmat Rabbmu kepada hamba-Nya Zakariya.
Ketika ia berseru kepada Rabbnya dengan suara perlahan-lahan.
Dia berdo’a, “Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku sudah lemah,
dan kepalaku sudah beruban, dan aku belum pernah beruntung
(bila) memohon kepada Engkau, wahai Rabbku.”
Baru saja Ja’far selesai membacakan ayat-ayat permulaan surat
tesebut, Najasyi menangis sehingga jenggotnya basah oleh air
mata. Begitu pula para pastor turut menangis sehingga kitab di
tangan mereka basah demi mendengar kalam Allah tersebut.
Najasyi berkata kepada kami, “Sesungguhnya agama yang dibawa
nabi tuan-tuan dan agama yang dibawa Nabi Isa berasal dari satu
sumber.”
Kemudian dia berpaling kepada Amr ibn Ash dan Abdullah ibn
Rabiah seraya berkata, “Pergilah kalian, demi Allah, saya tidak
akan menyerahkan mereka kepada kalian selama-lamanya.”
Ummu Salamah selanjutnya berkata, “Ketika kami keluar dari
majlis Najasyi, Amr ibn Ash mengancam kami. Dia berkata kepada
temannya, Abdullah ibn Rabiah, “Demi Allah, besok akan saya
datangi baginda raja. Akan saya katakan kepada baginda ucapan
orang-orang ini yang pasti akan membuat hati baginda raja marah
dan benci kepada mereka. Akan saya sebutkan kepada baginda
secara tuntas kebusukan-kebusukan hati orang-orang ini.”
“Ah, jangan! Bukankah mereka ini karib kerabat kita juga,
sekalipun mereka berselisih paham dengan kita,” kata Abdullah
ibn Rabiah.
Amr ibn Ash berkata, “Biar saja, demi Allah, akan saya ceritakan
kepada baginda besok. Demi Allah, akan saya ceritakan kepada
baginda, bahwa orang-orang ini mengatakan Isa ibn Maryam adalah
hamba sahaya.”
Keesokan harinya Amr ibn Ash menghadap Raja Najasyi dan berkta,
“Wahai paduka raja, orang-orang yang paduka lindungi memandang
rendah Isa ibn Maryam. Cobalah paduka panggil lagi dan bertanya
kepada mereka.”
Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, “Setelah mengetahui tindakan
Amr itu kami sungguh terpana. Kami tidak berpendirian begitu,
jangankan pula untuk mengucapkan kata-kata yang menghina Nabi
Isa ibn Maryam. Lalu kami bermusyawarah tentang jawaban apa yang
paling tepat mengenai persoalan itu, jika nanti baginda raja
menanyakannya. Kami sepakat, “Demi Allah, kita tidak akan
memberi jawaban melainkan dengan firman Allah. Kita tidak boleh
keluar seujung kuku pun dari ajaran Nabi kita, dan harus
senantiasa begitu.”
Kemudian menunjuk kembali Ja’far ibn Abi Thalib menjadi juru
bicara. Ketika dipanggil baginda raja, kami pun datang
menghadap. Kami dapati para pastor telah hadir seperti kemarin.
Di samping mereka terlihat pula Amr ibn Ash dan kawannya. Segera
kami duduk di hadapan baginda, lalu ia bertanya kepada kami,
“Bagaimana pendapat tuan-tuan tentang Isa ibn Maryam?”
Ja’far berkata, “Kami mempercayainya sebagaimana diajarkan nabi
kami.”
Najasyi berkata, “Bagaimana ajaran nabi tuan-tuan mengenai
beliau.”
Ja’far menjawab, “Beliau bersabda, “Sesungguhnya Isa adalah
hamba Allah dan Rasul-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang
ditujukan kepada Maryam yang senantiasa perawan suci.”
Mendengar jawaban Ja’far itu, Najasyi menepukkan tangannya ke
lantai seraya berkata, “Demi Allah tidak berbeda seujung rambut
pun ajaran Isa ibn Maryam dengan ajaran nabi tuan-tuan.”
Para pastor bernafas panjang, sebagai protes terhadap ucapan
Najasyi. Lalu Najasyi berkata kepada para pendeta, “Sekalipun
kalian mencemooh, pergilah kalian! Kalian percaya terhadap
orang-orang yang telah menyogok dan mendatangkan malapetaka pada
kalian. Demi Allah, saya tidak suka menerima emas walaupun
sebesar gunung, tetapi mencelakai salah seorang kamu dengan
suatu kejahatan. Kemudian Najasyi menengok kepada Amr ibn Ash
dan kawannya seraya berkata, “Kembalikan semua hadiah-hadiah
yang dipersembahkan kedua orang ini, saya tidak butuh
persembahan mereka.”
Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, “Amr ibn Ash dan kawannya
keluar dengan hati berkeping-keping dan sangat kecewa. Dia kalah
total, mendapat kegagalan dan kekecewaan yang memalukan. Dan
kami dibolehkan tetap tinggal di sisi Najasyi, di negeri yang
baik dan penduduk yang berhati mulia pula.”
Ja’far ibn Abi Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan
tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama
sepuluh tahun.
Pada tahun ke tujuh hijrah, kedua suami isteri itu meninggalkan
Habasyah dan hijrah ke Yatsrib. Kebetulan Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat
gembira bertemu dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya
beliau berkata, “Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku
gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena
kedatangan Ja’far?”
Begitu pula kaum muslimin umumnya, terlebih fakir miskin, mereka
juga bergembira dengan kedatangan Ja’far. Ja’far sangat
penyantun dan banyak membela golongan duafa, sehinga dia
digelari Abil Masakin (bapak orang-orang miskin).
Abu Hurairah bercerita tentang Ja’far. Ia berkata, “Orang yang
paling baik kepada kami (golongan orang-orang miskin) ialah
Ja’far ibn Abi Thalib. Dia sering mengajak kami makan di
rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah
habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan
sampai dengan kerak-keraknya.”
Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun
kedelapan hijriah Rasululalh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Rum di
Muktah. Beliau mengangkat Zaid ibn Haritsah menjadi komandan
pasukan.
Rasululalh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika Zaid
tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far ibn Abi Thalib.
Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan
Abdullah ibn Rawahah. Dan, apabila Abdullah ibn Rawahah cidera
atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih
pemimpin/komandan di antara mereka. “
Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam
dalam wilayah Yordan, mereka mendapati tentara Rum telah siap
menyambut kedatangan mereka dengan kekuatan 100.000 pasukan inti
yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap.
Pasukan mereka juga terdiri dari 100 ribu milisi Nasrani Arab
dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain.
Sementara, tentara kaum muslimin yang dipimpin Zaid ibn Haritsah
hanya berkekuatan 3000 tentara.
Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan,
pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid ibn Haritsah
gugur sebagai syuhada ketika dia dan tentaranya sedang maju
menyerbu ke tengah-tengah musuh.
Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya
yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan
pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya.
Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah
dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda
pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah
barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul
rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat
mengepung dan mengeroyoknya. Sementara dia bersenandung
menyanyikan sajak nan indah,
Wahai … surga nan nikmat sudah mendekat
Minuman segar, tercium harum
Tetapi engkau Rum … Rum….
Menghampiri siksa
Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga
Tugasku … menggempurmu ….
Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh
yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan
kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan
musuh sehingga buntung. Maka dipegannya bendera komando dengan
tangan kirinya. Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang
musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera
komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Tetapi,
tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga
saja dibuntung musuh. Secepat kilat Abdullah ibn Rawahah merebut
bendera komando dari komando Ja’far ibn Abi Thalib. Pimpinan
kini berada di tangan Abdullah ibn Rawahah, sehingga akhirnya
dia gugur pula sebagai syuhada’, menyusul kedua sahabatnya yang
telah syahid lebih dahulu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat sedih mendapat
berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke
rumah Ja’far ibn Abi Thalib anak pamannya. Didapatinya Asma’,
isteri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya.
Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan
memakaikan baju mereka yang bersih.
Asma’ bercerita, “Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat
wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku
tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut
mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan
anak-anak kami.
Beliau berkata, “Mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”
Maka kupanggil mereka semua dan kusuruh menemui Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Anak-anak berlompatan kegirangan
mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman
kepada beliau. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak
sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir
membasahi pipi mereka. Saya bertanya, “Ya Rasulullah, demi
Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan
kedua sahabatnya?”
Beliau menjawab, “Ya …, mereka telah syahid hari ini.” Mendengar
jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah
anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis
tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing,
seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.
Rasulullah berucap sambil menyeka air matanya, “Wahai Allah,
gantilah Ja’far bagi anak-anaknya … wahai Allah, gantilah Ja’far
bagi isterinya.” Kemudian kata beliau selanjutnya, “Aku melihat
sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap
berlumuran darah dan bertanda di kakinya.” Wallahua’lam.
Ꞁ[size=8pt]1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman
Ra’fat Basya
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1