URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH &#158...
       *****************************************************
       #Post#: 282--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
       صلى ا لله
       عليه وسلم : Said
       ibn Amir Huzaim Al Jumahi
   DIR By: WalimanovSakti
       Date: December 31, 2023, 8:35 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Sa’id ibn Amir al-Jumahi
       [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=120
       Sa’id [i]ibn Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan
       dunia, dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas
       selain-Nya. (Ahli sejarah). Adalah seorang anak muda Sa’id ibn
       Amir Al-Jumahi salah satu dari beribu-ribu orang yang tertarik
       untuk pergi menuju daerah Tan’im di luar kota Makkah, dalam
       rangka menghadiri panggilan pembesar-pembesar Quraisy, untuk
       menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib ibn
       ‘Adiy, salah seorang sahabat Muhammad yang diculik oleh mereka.
       Kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah, ia mendapatkan
       kedudukan yang lebih dari pada orang-orang, sehingga ia dapat
       duduk berdampingan dengan pembesar-pembesar Quraisy, seperti Abu
       Sufyan ibn Harb, Shafwan ibn Umayyah, dan orang-orang yang
       mempunyai wibawa lainnya.[/i]
       Dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas tawanan Quraisy
       yang terikat dengan tali, suara gemuruh perempuan, anak-anak dan
       remaja senantiasa mendorong tawanan itu menuju arena kematian,
       karena kaum Quraisy ingin membalas Muhammad atas kematian
       orang-orangnya ketika perang Badar dengan cara membunuhnya.
       Ketika rombongan yang garang ini dengan tawanannya, sampai di
       tempat yang telah disediakan, anak muda Sa’id ibn Amir Al-Jumahi
       berdiri tegak memandangi Khubaib yang sedang diarak menuju kayu
       penyaliban, dan ia mendengar suaranya yang teguh dan tenang di
       antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak, Khubaib berkata,
       “Izinkan saya untuk shalat dua raka’at sebelum pembunuhanku ini
       jika kalian berkenan.”
       Kemudian ia memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat
       dan shalat dua raka’at, alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya
       itu…
       Kemudia ia melihat, Khubaib seandainya menghadap
       pembesar-pembesar kaum dan berkata, “Demi Allah! Jjika kalian
       tidak menyangka bahwa saya memperpanjang shalat karena takut
       mati, tentu saya telah memperbanyak shalat…”
       Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, mereka
       memotong-motong Khubaib dalam keadaan hidup, mereka memotongnya
       sepotong demi sepotong, sambil berkata, “Apakah kamu ingin kalau
       Muhammad menjadi penggantimu dan kamu selamat?”, maka ia
       menjawab -sementara darah mengucur dari badannya-, “Demi Allah!
       Saya tidak suka bersenang-senang dan berkumpul bersama istri dan
       anak sedangkan Muhammad tertusuk duri.” Maka orang-orang
       melambaikan tangannya ke atas, dan teriakan mereka semakin
       keras, “Bunuh!-bunuh…!.”
       Kemudian Sa’id ibn Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya
       ke langit dari atas kayu salib, dan berkata, “Ya Allah ya Tuhan
       kami! Hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu persatu serta
       janganlah Engkau tinggalkan satupun dari mereka,” kemudian ia
       menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung
       lagi bekas tebasan pedang dan tusukan tombak.
       Orang-orang Quraisy telah kembali ke Makkah, dan mereka telah
       melupakan kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena banyak
       kejadian-kejadian setelahnya.
       Akan tetapi anak muda Sa’id ibn Amir Al-Jumahi tidak bisa
       menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap
       mata.
       Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan
       khayalan ketika matanya terbuka, Khubaib senantiasa terbayang di
       hadapannya sedang melakukan shalat dua raka’at dengan tenang di
       depan kayu salib, dan ia mendengar rintihan suaranya di
       telinganya, ketika Khubaib berdo’a untuk kebinasaan orang-orang
       Quraisy, maka ia takut kalau ia tersambar petir atau ketiban
       batu dari langit.
       Khubaib telah mengajari Sa’id sesuatu yang belum pernah ia
       ketahui sebelumnya. Ia mengajarinya bahwa hidup yang
       sesungguhnya adalah aqidah dan jihad di jalan aqidah itu hingga
       akhir hayat.
       Ia mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat
       keajaiban dan kemu’jizatan.
       Dan ia mengajarinya sesuatu yang lain, yaitu bahwa sesungguhnya
       seorang laki-laki yang dicintai oleh para sahabatnya dengan
       kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang
       mendapat mandat dari langit.
       Semenjak itu Allah membukakan dada Sa’id ibn Amir untuk Islam,
       lalu ia berdiri di hadapan orang banyak dan memproklamirkan
       kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala dan
       patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama
       Allah.
       Sa’id ibn Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada
       Rasulullah, dan ia ikut serta dalam perang Khaibar dan
       peperangan-peperangan setelahnya.
       Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, -saat
       itu beliau sudah meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang
       terhunus di zaman dua khalifah Abu Bakar dan Umar, dan hidup
       bagaikan contoh satu-satunya bagi orang mu’min yang membeli
       akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan
       pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat
       badannya.
       Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan
       ketakwaan Sa’id ibn Amir, keduanya mendengar nasihat-nasihatnya
       dan memperhatikan pendapatnya.
       Pada awal kekhilafahan Umar, ia menemuinya dan berkata, “Wahai
       Umar, aku berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam
       urusan manusia, dan janganlah kamu takut kepada manusia dalam
       urusan Allah, dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan
       perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah
       yang sesuai dengan perbuatan…"
       Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan
       urusannya kepadamu, baik orang-orang muslim yang jauh atau yang
       dekat, cintailah mereka sebagaimana kamu mencintai dirimu dan
       keluargamu, dan bencilah untuk mereka sesuatu yang kamu benci
       bagi dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban menjadi
       kebenaran dan janganlah kamu takut celaan orang yang mencela
       dalam urusan Allah.
       Maka Umar berkata, Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai
       Sa’id?!.”
       Ia menjawab, “Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya,
       yaitu di antara orang-orang yang Allah serahkan urusan umat
       Muhammad kepadanya, dan tidak ada seorangpun perantara antara ia
       dan Allah.”
       Setelah itu Umar mengajak Sa’id untuk membantunya dan berkata,
       “Wahai Sa’id; Kami menugaskan kamu sebagai gubernur atas
       penduduk Himsh.” maka ia berkata, Hai Umar!: Aku ingatkan dirimu
       terhadap Allah; Janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah.
       Maka Umar marah dan berkata, Celaka kalian, kalian menaruh
       urusan ini di atas pundakku, lalu kalian berlepas diri dariku!!.
       Demi Allah aku tidak akan melepasmu.” Kemudian ia mengangkatnya
       menjadi gubernur di Himsh, dan beliau berkata, “Kami akan
       memberi kamu gaji.” Sa’id berkata, “Untuk apa gaji itu wahai
       Amirul mu’minin? karena pemberian untukku dari baitul mal telah
       melebihi kebutuhanku.” Kemudian ia berangkat ke Himsh.
       Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk
       Himsh kepada Amirul mu’minin, maka beliau berkata kepada mereka,
       “Tuliskan nama-nama orang fakir kalian, supaya aku dapat menutup
       kebutuhan mereka.” Maka mereka menyodorkan selembar tulisan,
       yang di dalamnya ada Fulan, fulan dan Sa’id ibn Amir. Umar
       bertanya: Siapakah Sa’id ibn Amir ini?.” Mereka menjawab,
       “Gubernur kami.” Umar berkata, “Gubernurmu fakir?” Mereka
       berkata, “Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya
       tidak ada api.” Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh
       air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar dan menaruhnya
       dalam kantong kecil dan berkata, Sampaikan salamku, dan katakan
       kepadanya Amirul mu’minin memberi anda harta ini, supaya anda
       dapat menutup kebutuhan anda.”
       Saat para utusan itu mendatangi Sa’id dengan membawa kantong,
       lalu Sa’id membukanya ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu
       ia meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata: (Sesungguhnya
       kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan
       kepada-Nya)- seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau
       ada suatu bahaya di hadapannya, hingga keluarlah istrinya dengan
       wajah kebingungan dan berkata, “Ada apa wahai Sa’id?!, Apakah
       Amirul mu’minin meninggal dunia?. Ia berkata, “Bahkan lebih
       besar dari itu.” Istrinya berkata, “Apakah orang-orang muslim
       dalam bahaya?” Ia menjawab, “Bahkan lebih besar dari itu.”
       Istrinya berkata, “Apa yang lebih besar dari itu?” Ia menjawab,
       “Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah
       telah datang ke rumahku.” Istrinya berkata, “Bebaskanlah dirimu
       darinya.” -saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang-uang
       dinar itu sama sekali-. Ia berkata, “Apakah kamu mau membantu
       aku untuk itu?” Istrinya menjawab, “Ya!” Lalu ia mengambil
       uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong kecil
       kemudian ia membagikannya kepada orang-orang muslim yang fakir.
       Tidak lama kemudian Umar ibn al-Khattab? datang ke negeri Syam
       untuk melihat keadaan, dan ketika beliau singgah di Himsh -waktu
       itu disebut dengan ‘Al-Kuwaifah’ yaitu bentuk kecil dari kalimat
       Al-Kufah-, karena memang Himsh menyerupainya baik dalam
       bentuknya atau banyaknya keluhan dari penduduk akan
       pejabat-pejabat dan penguasa-penguasanya. Ketika beliau singgah
       di negeri itu, penduduknya menyambut dan menyalaminya, maka
       beliau berkata kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang
       Gubernur kalian?”
       Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang
       masing-masing lebih besar dari yang lainnya. Umar berkata, Maka
       aku kumpulkan dia dengan mereka, dan aku berdo’a kepada Allah
       supaya Dia tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya, karena aku
       sebenarnya menaruh kepercayaan yang sangat besar kepadanya. Dan
       ketika mereka dan gubernurnya telah berkumpul di hadapanku, aku
       berkata, “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”
       Mereka menjawab, “Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika
       hari telah siang.” Maka aku berkata, “Apa jawabmu tentang hal
       itu wahai Sa’id?.” Maka ia terdiam sebentar, kemudian berkata,
       “Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu,
       namun kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak
       mempunyai pembantu, maka aku setiap pagi membuat adonan,
       kemudian aku tunggu sebentar sehingga adonan itu menjadi
       mengembang, kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk
       mereka, kemudian aku berwudlu dan keluar menemui orang-orang.”
       Umar berkata, “Lalu aku berkata kepada mereka, “Apa lagi yang
       anda keluhkan darinya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau
       tidak menerima tamu pada malam hari.” Aku berkata, “Apa jawabmu
       tentang hal itu wahai Sa’id?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Demi
       Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga, aku telah
       menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah
       Azza wa Jalla.” Aku berkata, “Apa lagi yang kalian keluhkan
       darinya?”
       Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami
       satu hari dalam sebulan.” Aku berkata, “Dan apa ini wahai
       Sa’id?” Ia menjawab, “Aku tidak mempunyai pembantu wahai Amirul
       mu’minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai
       ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku
       menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui
       mereka pada sore hari.” Kemudian aku berkata: “Apa lagi yang
       kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab, “Beliau sering
       pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk
       dimajlisnya.” Lalu aku berkata, “Dan apa ini wahai Sa’id?” Maka
       ia menjawab, “Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib ibn Adiy,
       kala itu aku masih musyrik, dan aku melihat orang-orang Quraisy
       memotong-motong badannya sambil berkata, “Apakah kamu ingin
       kalau Muhammad menjadi penggantimu?” maka ia berkata, “Demi
       Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak,
       sementara Muhammad tertusuk duri…Dan demi Allah, aku tidak
       mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali
       aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku… maka akupun
       jatuh pingsan.”
       Seketika itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak
       menyimpangkan dugaanku terhadapnya.” Kemudian beliau memberikan
       seribu dinar kepadanya, dan ketika istrinya melihatnya ia
       berkata kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang telah
       membebaskan kami dari pekerjaan berat untukmu, belilah bahan
       makanan dan sewalah seorang pembantu untuk kami”, Maka ia
       berkata kepada istrinya, “Apakah kamu menginginkan sesuatu yang
       lebih baik dari itu?” Istrinya menjawab, “Apa itu?” Ia berkata,
       “Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita,
       pada saat kita lebih membutuhkannya.” Istrinya berkata, “Apa
       itu?”, Ia menjawab, “Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah
       dengan pinjaman yang baik.” Istrinya berkata, “Benar, dan semoga
       kamu dibalas dengan kebaikan.” Maka sebelum ia meninggalkan
       tempat duduknya dinar-dinar itu telah berada dalam
       kantong-kantong kecil, dan ia berkata kepada salah seorang
       keluarganya, “Berikanlah ini kepada jandanya fulan. dan kepada
       anak-anak yatimnya fulan, dan kepada orang-orang miskin keluarga
       fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan.”
       Mudah-mudahan Allah meridhai Sa’id ibn Amir al-Jumahi, karena ia
       adalah termasuk orang-orang yang mendahulukan (orang lain) atas
       dirinya walaupun dirinya sangat membutuhkan.[1] &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       [1] Untuk tambahan tentang biografi Sa’id ibn Amr al-Jumahi,
       lihatlah: Al-Tahdzib: 4/51, Ibnu ‘Asakir: 6/145-147, Shifat
       al-Shafwah: 1/273, Hilyatul auliya’: 1/244, Tarih al-Islam:
       2/35, Al-Ishabah: 3/326, Nasab Quraisy: 399
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1