DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH ž...
*****************************************************
#Post#: 279--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
صلى ا لله
عليه وسلم :
Thufeil ibn Amr Addausi
DIR By: WalimanovSakti
Date: December 31, 2023, 8:34 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Thufeil ibn ‘Amr Ad-Dausi
[font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
September 17, 2024 Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=117
Ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi merupakan pemimpin kabilah Daus
pada masa Jahiliah. la juga salah seorang yang terpandang di
kalangan Arab dan salah seorang bangsawan yang berwibawa. Api
dapurnya selalu mengepul dan jalan selalu terbuka untuknya. Ia
senang memberi makan orang yang lapar, melindungi orang yang
takut, dan memberi upah para pekerja. Di samping itu, ia juga
seorang yang sopan, cerdas, dan pintar, penyair yang halus
perasaannya, jelas, dan manis perkataannya. Seolah-olah
kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya seperti sihir.
Ath-Thufail meninggalkan kampungnya, Tihamah, menuju Makkah.
Ketika itu terjadi pergolakan antara Rasul yang mulia dengan
kaum kafir Quraisy. Masing-masing menginginkan kemenangan dan
berusaha mencari pendukung. Rasul Sholallahu ‘alaihi wasalam
berdo’a kepada Rabbnya dan senjatanya adalah iman dan kebenaran,
sedangkan kafir Quraisy berusaha untuk menyebarkan ajakan mereka
dengan pedang dan menghalangi manusia mengikuti Muhammad dengan
segala cara.
Ath-Thufail merasa dirinya memasuki pertempuran ini tanpa
persiapan apa pun dan tanpa ia sengaja. Padahal ia tidak pergi
menuju Makkah dengan tujuan itu dan tidak pernah terlintas di
pikirannya mengenai pertentangan antara Muhammad dan kafir
Quraisy. Akibatnya, pertempuran itu pun menjadi kenangan yang
tak pernah terlupakan bagi ath-Thufail ibn Amr ad-Dausi. Marilah
kita dengar urutan kisahnya yang menakjubkan ini.
Ath-Thufail mengisahkan bahwa pada suatu hari ia menginjakkan
kaki di Makkah. Tidak seorang pemimpin Quraisy pun mengenalku
hingga mereka menemuiku dan menyambut kedatanganku dengan
meriah. Mereka memuliakanku sebagaimana mereka memuliakan para
pemimpin mereka. Kemudian, para pemimpin dan pembesar Quraisy
berkumpul bersamaku. Mereka berkata, “Ya Thufail, engkau telah
datang ke negeri kami. Ada seorang laki-laki yang menyatakan
dirinya adalah seorang Nabi. Ia telah menyusahkan urusan kami
dan memecah belah kami. Kami amat takut hal ini juga terjadi di
kaummu sebagaimana yang kami alami sekarang. Maka, janganlah
engkau pernah berbicara dengannya. Janganlah engkau dengarkan
perkataannya. Sesungguhnya, ia memiliki ucapan seperti sihir
yang dapat memisahkan antara seorang anak dan bapaknya. Antara
saudara dan saudaranya yang lain. Antara seorang istri dan
suaminya.”
Ath-Thufail mengatakan, “Demi Allah, mereka selalu menceritakan
keadaannya yang menakjubkan itu kepadaku, menakut-nakutiku,
kaumku dengan perbuatannya, sehingga aku pun terpengaruh untuk
tidak mendekatinya, tidak berbicara dengannya, dan tidak
mendengarkan ucapannya sedikitpun. Ketika aku pergi ke masjid
untuk tawaf di sekeliling Ka’bah dan meminta berkah dari
berhala-berhala yang selalu kami agungkan dan kami berhaji
untuknya, aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak
mendengar ucapan Muhammad. Akan tetapi, tatkala aku memasuki
masjid, aku melihat seseorang sedang shalat di sisi Ka’bah
dengan shalat yang berbeda dengan tata cara shalat kami.
Melakukan ibadah yang berbeda dengan tata cara ibadah kami.
Pemandangan itu membuatku senang. Ibadahnya menakjubkanku dan
aku merasa diriku lebih rendah daripadanya. Sedikit demi
sedikit, tanpa kusadari, aku mendekatinya. Dan Allah menjadikan
telingaku mendengar sebagian ucapannya. Aku pun mendengar suatu
ucapan yang amat baik. Aku pun berkata di dalam hatiku, “Ibumu
telah menghilangkanmu dengan kematian, ya Thufail. Padahal
engkau adalah seorang penyair yang cerdas dan pintar. Mengapa
engkau tidak dapat membedakan yang jelek dari yang baik. Apa
yang menghalangimu mendengar perkataannya? Jika yang dibawanya
itu kebaikan hendaklah engkau terima, jika jelek hendaklah
engkau tinggalkan.”
Kemudian ath-Thufail tetap berada di sana hingga Rasulullah
pergi dari Baitullah. Ia pun membuntutinya sampai ke rumahnya.
Ketika ia masuk rumah, ia pun ikut masuk, lalu berkata, “Ya
Muhammad, kaummu telah menceritakan kepadaku tentangmu semuanya.
Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku dengan perbuatanmu
sehingga aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar
perkataanmu. Tetapi Allah tetap memperdengarkan ucapanmu ke
telingaku. Dan aku mendengar sesuatu yang baik, maka katakanlah
semuanya kepadaku.”
Lalu Muhammad pun mengatakan semuanya, beliau membacakan surah
al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, ath-Thufail telah mendengar
perkataan yang lebih baik daripada perkataannya dan ia tidak
melihat suatu urusan pun yang lebih adil daripada urusannya.
Ketika itu, ia membentangkan telapak tangan kepadanya dan
bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) melainkan Allah dan Muhammad
adalah utusan Allah, dan ia pun memeluk Islam.
Kemudian ath-Thufail menetap di Makkah beberapa saat. Ia belajar
darinya ajaran Islam dan menghafal ayat Al-Qur’an yang mudah
baginya. Tatkala ia berniat untuk kembali ke kaumnya, ia
berkata, “Ya Rasulullah, aku adalah seseorang yang dita’ati
dalam lingkunganku. Aku akan kembali kepada mereka dan mengajak
mereka untuk memeluk Islam. Berdo’alah kepada Allah agar
menjadikan bagiku tanda yang akan membantuku mengajak mereka.”
Rasulullah pun langsung berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah baginya
sebuah tanda.”
Lalu ath-Thufail mendatangi kaumnya. Tatkala ia berdiri di
hadapan mereka, terpancarlah cahaya di antara kedua matanya
seperti lampu pelita. Ia berkata, “Ya Allah, jadikanlah pelita
bukan pada wajahku, karena aku khawatir kaumku mengira terjadi
sesuatu di wajahku karena meninggalkan agama mereka. Maka
pindahkanlah pelita itu ke ujung cambukku, sehingga manusia
berlomba-lomba melihat cahaya di cambukku itu seperti lampu yang
tergantung.”
Kemudian ia menemui mereka di lembah. Tatkala ia turun, bapaknya
yang sudah tua menemuinya. Lalu ath-Thufail berkata, “Wahai
Bapakku, menjauhlah dariku, aku tidak lagi berada dalam agamamu
dan engkau tidak berada dalam agamaku.”
Lalu ayahnya berkata, “Ada apa wahai anakku tersayang?”
Ath-Thufail menjawab, “Aku telah memeluk Islam dan mengikuti
agama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam…”
Lalu ayahnya berkata lagi, “Wahai anakku, agamamu adalah agamaku
juga.”
Lalu ath-Thufail berkata, “Sekarang pergilah, mandi dan
bersihkanlah pakaianmu, kemudian datanglah kepadaku agar aku
ajarkan apa yang aku ketahui.”
Kemudian ayahnyapun pergi, mandi, dan membersihkan pakaiannya.
Tidak lama kemudian, ia menemui ath-Thufail dan ia
mengajarkannya tentang Islam dan akhirnya, ayahnya pun memeluk
Islam.
Setelah istrinya juga datang menemuinya, ia berkata, “Wahai
istriku, menjauhlah dariku. Aku tidak dalam agamamu dan engkau
tidak dalam agamaku.”
Lalu istrinya tersebut berkata, “Demi Bapak dan Ibumu, ada apa
wahai suamiku?”
Ath-Thufail menjawab, “Islam telah memisahkan agama kita. Aku
telah memeluk Islam dan mengikuti agama Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam..”
Lalu istrinya berkata, “Agamamu adalah agamaku juga.”
Ath-Thufail berkata, “Sekarang pergilah dan bersihkan dirimu
dari air Dzul Syaara.”
Istrinya pun berkata, “Demi Bapak dan Ibumu, apakah engkau takut
kepada Dzul Syaara?”
Lalu ath-Thufail berkata, “Celaka engkau, wahai istriku, dan
Dzul Syaara. Pergilah dan bersihkanlah dirimu di tempat yang
jauh dari manusia. Aku akan melindungimu dari batu berhala itu.”
Kemudian istrinyapun pergi dan membersihkan dirinya. Kemudian ia
datang menemui ath-Thufail kembali dan ia mengajarkannya Islam
dan akhirnya istrinya pun memeluk Islam.
Setelah itu, ath-Thufail baru mengajak kaumnya, bani Daus, untuk
memeluk Islam. Akan tetapi, mereka amat lambat menerima
ajakannya, kecuali Abu Hurairah. Ia merupakan orang yang paling
cepat menerima ajakannya untuk memeluk Islam.
Setelah itu, ath-Thufail bersama Abu Hurairah datang menemui
Rasulullah di Makkah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata
kepadanya, “Bagaimana dakwahmu, wahai Thufail?”
Ia menjawab, “Di hati mereka ada penyakit dan kekafiran yang
mendalam. Mereka (bani Daus) telah dikuasai oleh kefasikan dan
kemaksiatan.”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri, berwudhu,
kemudian shalat dan berdo’a kepada Allah. Abu Hurairah berkata,
“Sungguh, aku belum pernah melihat amal itu sebelumnya. Aku
takut ia mendo’akan kejelekan bagi kaumku hingga mereka semua
binasa.”
Ath-Thufail berkata, “Jangan khawatir.”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai berdo’a, “Ya
Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus. Ya Allah, berilah hidayah
bagi kaum Daus. Ya Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus.”
Kemudian beliau menoleh kepada Thufail dan berkata, “Kembalilah
ke kaummu. Berlaku sopanlah kepada mereka, lalu ajak mereka
kepada Islam.”
Setelah itu, ath-Thufail selalu berada di bumi Daus dan mengajak
kaumnya kepada Islam hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam hijrah ke Madinah, selesai Perang Badar, Uhud, dan
Khandaq. Lalu ath-Thufail menemui Rasul Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam setelah mengislamkan delapan puluh rumah dan
mengajarkan mereka. Mendengar hal itu, Rasulullah pun sangat
senang, sehingga beliau memberi bagian ghanimah hasil Perang
Khaibar. Ath-Thufail berkata, “Ya Rasulullah, jadikanlah kami
pasukanmu yang sebelah kanan dalam setiap perangmu, dan namailah
kami dengan ‘Mabrur’.”
Setelah itu, ath-Thufail selalu bersama Nabi hingga terjadinya
Fathu Makkah. Ath-Thufail berkata, “Ya Rasulullah, utuslah aku
kepada ‘Dzul Kaffain’ berhala Amr ibn Hamamah, agar aku
membakarnya.”
Rasulullahpun mengizinkannya. Kemudian ia berangkat menuju
berhala itu bersama pasukan dari kaumnya. Tatkala ia sampai dan
hendak membakarnya, para wanita, anak-anak, dan kaum laki-laki
telah mengelilinginya untuk mencelakakannya. Mereka menunggu
seruan bahwa “Dzul Kaffain” sedang dalam bahaya.
Akan tetapi, ath-Thufail tetap pergi menuju letak berhala itu di
hadapan para penyembahnya. Ath-Thufail geram melihat berhala itu
dan berkata dengan lantang, “Wahai Dzul Kaffain, aku bukanlah
penyembahmu. Kelahiran kami lebih duluan dari kelahiranmu. Aku
akan membakarmu.”
Tatkala api telah membakar berhala itu beserta berhala-berhala
lainnya yang ada di bani Daus, akhirnya kaum itu memeluk Islam
dan menjalankan ajarannya.
Selanjutnya, ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi senantiasa bersama
Nabi hingga beliau dipanggil Rabbnya ke sisi-Nya. Ketika
kekhilafahan dipegang oleh Abu Bakar, ath-Thufail beserta
keluarganya tunduk dan ta’at kepada khalifah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tatkala timbul gerakan para
murtaddin (mereka yang keluar dari Islam), ath-Thufail bersama
anaknya, Amr, juga ikut serta dalam memerangi Musailamah
al-Kadzdzab. Ketika dalam perjalanan menuju al-Yamamah, ia
bermimpi. Ia berkata kepada teman-temannya, “Semalam aku
bermimpi, ceritakan kepadaku ta’birnya.”
Mereka bertanya, “Engkau bermimpi apa semalam?”
Ath-Thufail berkata, “Aku bermimpi bahwa kepalaku telah dicukur
habis. Lalu keluar seekor burung dari mulutku dan ada seorang
perempuan berusaha memasukkan diriku ke dalam perutnya, tapi
anakku Amar meminta ikut bersamaku tetapi ia tidak berdaya.”
Lalu temannya berkata, “Itu pertanda baik bagimu.”
Kemudian ath-Thufail berkata, “Demi Allah, aku juga telah
menakwilkan mimpi itu, bahwa kepalaku dicukur, itu berarti
kepalaku dipenggal. Adapun burung yang keluar dari mulutku
adalah ruhku, sedangkan wanita yang berusaha memasukkanku ke
perutnya adalah bumi yang digali untuk menguburkanku. Aku ingin
sekali terbunuh dalam keadaan syahid. Adapun anakku yang meminta
ikut bersamaku adalah bahwa ia juga ingin mati syahid, tetapi
insyaaAllah ia akan menemuinya setelah itu.”
Ketika Perang Yamamah berkecamuk, sahabat mulia ath-Thufail
ibnul Amr ad-Dausi akhirnya syahid terbunuh, sedang anaknya, Amr
tetap berperang hingga ia terluka parah, tangan kanannya putus.
Setelah perang usai, ia kembali ke Madinah meninggalkan ayah dan
tangannya.
Pada masa kekhalifahan Umar ibnul Khaththab, Amr ibn Thufail
datang menemui Umar dengan membawa makanan. Para sahabat yang
lain duduk di sekelilingnya, kemudian ia mengajak hadirin untuk
mencicipi makanannya. Ia merasa amat senang. la berkata kepada
Umar al-Faruq, “Ya Amirul Mu’minin!”
Umar berkata, “Demi Allah, sungguh aku tidak merasakan enaknya
makanan ini sampai engkau mengadukkannya dengan tanganmu yang
buntung. Demi Allah, tiada seorang pun dari sebagian kaum ini
yang akan masuk surga kecuali engkau (Umar bermaksud karena
tangannya).”
Dan Amr pun selalu mendambakan syahid semenjak bapaknya syahid.
Maka ketika terjadi Perang Yarmuk, Amr ikut di dalam peperangan
itu. Ia semangat berperang melawan musuh hingga akhirnya ia
menemui syahid menyusul bapaknya.
Allah telah merahmati ath-Thufail ibn Amr ad-Dausi. Ia merupakan
seorang syahid dan bapak syuhada. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman
Ra’fat Basya
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1