URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH &#158...
       *****************************************************
       #Post#: 277--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
       صلى ا لله
       عليه وسلم :
       Umair ibn Sa’ad
   DIR By: WalimanovSakti
       Date: December 31, 2023, 8:33 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Umair ibn Sa’ad [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=361
       ‘Umair [i]ibn Sa’ad Al Anshary, telah merasa hidup yatim dan
       miskin sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa
       meninggalkan harta warisan yang mencukupi. Tetapi untunglah
       ibunya segera kawin kembali dengan seorang laki-laki kaya dari
       suku Aus, Al Julas ibn Suwaid. Maka ‘Umair ditanggung oleh Julas
       dan dikumpulkannya ke dalam keluarganya. Sejak itu ‘Umair
       menemukan jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus,
       keindahan belas-kasih, sehingga ‘Umair dapat melupakan bahwa ia
       telah yatim.[/i]
       Umair menyayangi Julas sebagai layaknya sayang seorang anak
       kepada bapak. Begitu pula Julas, sangat menyintai ‘Umair sebagai
       lazimnya cinta bapak kepada anak. Setiap usia ‘Umair bertambah
       dan menjadi remaja, bertambah pula kasih sayang dan simpati
       Julas kepadanya, karena pembawaannya yang cerdas dan perbuatan
       mulia yang selalu diperlihatkannya, kehalusan budi pekerti,
       amanah dan jujur yang senantiasa diperagakannya.
       Umair ibn Sa’ad masuk Islam dalam usia yang sangat muda,
       kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit. Ketika itu Iman telah
       mantap dalam hatinya yang masih segar, lembut dan polos. Karena
       itu Iman melekat pada dirinya dengan kokoh. Dan Islam
       mendapatkan jiwanya yang bersih dan halus, bagaikan mendapatkan
       tanah subur. Dalam usia seperti itu ‘Umair tidak pernah
       ketinggalan shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ibunya
       senantiasa diliputi kegembiraan setiap melihat anaknya pergi
       atau pulang dari masjid, kadang-kadang bersama-sama suaminya dan
       kadang-kadang anaknya seorang diri.
       Kehidupan ‘Umair ibn Sa’ad di waktu kecil berjalan lancar,
       senang dan tenang, tidak ada yang mengeruhkan dan mengotori.
       Sehingga tiba masanya Allah menghendaki untuk mengembangkan jiwa
       anak kecil yang akan meningkat remaja ini dengan suatu latihan
       berat, dan mengujinya dengan ujian yang jarang dilalui anak-anak
       sebaya dia.
       Tahun kesembilan hijriyah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
       Wasallam. mengumumkan hendak: memerangi tentara Rum di Tabuk
       (Tabuk, suatu tempat dalam wilayah pcmerintahan Syam. Di sana
       pernah terjadi peperangan yang sangat terkenal antara kaum
       muslimin dengan tentara Rum). Beliau memerintahkan kaum muslimin
       supaya bersiap-siap menghadapi peperangan tersebut. Biasanya
       bila Rasulullah hendak pergi berperang, beliau tidak pernah
       mengumumkan sasaran yang akan dituju, kecuali pada peperangan
       Tabuk. Rasulullah menjelaskan kepada kaum muslimin sasaran yang
       dituju, karena akan menempuh perjalanan jauh dan sulit, serta
       kekuatan musuh berlipat ganda, supaya kaum muslimin mengerti
       tugas mereka mempersiapkan diri menghadapi peperangan tersebut.
       Di samping itu musim panas telah mulai dengan suhu yang
       menyengat. Buah-buahan sudah berbuah dan mulai masak. Awan
       bagus. Setiap orang cenderung hendak berlambat-lambat dan
       bermalas-malasan. Namun kaum muslimin yang setia dan patuh
       memperkenankan seruan Nabi mereka, mempersiapkan segala
       sesuatunya untuk perang dengan cepat dan cermat.
       Lain lagi golongan munafik. Mereka sengaja mengulur-ulur waktu.
       Memandang enteng setiap hal yang penting-penting; membangkitkan
       keragu-raguan; bahkan mencela kebijaksanaan Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. dan mengucapkan kata-kata beracun
       di majelis-majelis khusus mereka, yang menimbulkan kekafiran.
       Beberapa hari sebelum keberangkatan pasukan tentara muslimin ke
       medan perang Tabuk, Umair ibn Sa’ad yang baru meningkat remaja
       pulang ke rumahnya sesudah shalat di masjid. Jiwanya sangat
       tergugah menyaksikan pengorbanan yang sangat gemilang, tulus dan
       ikhlas, dari sego-longan kaum muslimin, yang dilihat dan
       didengarnya dengan mata kepala dan telinganya sendiri. Dia
       menyaksikan para wanita muhajirat dan anshar, dengan spontan
       menyambut seruan Rasulullah. Mereka tanggalkan perhiasan mereka
       seketika itu juga, lalu diserahkannya kepada Rasulullah untuk
       biaya perang fi sabilillah. Dia menyaksikan dengan mata sendiri.
       ‘Utsman ibn ‘Affan datang membawa pundi-pundi berisi ribuan
       dinar emas, lalu diserahkannya kepada Rasulullah. ‘Abdur Rahman
       ibn ‘Auf datang pula membawa dua ratus Uqiyah (1 Uqiyah = ½
       tahil) emas dan diserahkannya kepada Nabi yang mulia. Bahkan dia
       melihat seorang laki-laki menjual tempat tidur untuk membeli
       sebuah pedang yang akan dibawa dan dipakainya berperang fi
       sabilillah.
       Umair merasa bangga melihat kepatuhan dan pengorbanan yang amat
       mengesankannya itu. Sebaliknya dia amat heran melihat
       orang-orang yang bersikap acuh tak acuh melakukan persiapan
       untuk berangkat bersama-sama Rasulullah, dan mengundur-ngundur
       waktu menyerahkan sumbangan kepada beliau, padahal orang itu
       mampu dan cukup kaya melakukannya segerai mungkin. Karena itu
       jiwanya tergerak hendak membangkitkan semangat orang-orang yang
       lalai dan acuh tak acuh ini. Maka diceritakannya kepada mereka
       segala peristiwa yang dilihat dan di-dengarnya mengenai
       sumbangan dan pengorbanan golongan orang-orang mu’min yang patuh
       dan setia kepada Rasulullah, terutama cerita mengenai
       orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan beriba-iba
       memohon supaya mereka diterima menjadi anggota pasukan yang akan
       turut berperang. Tetapi Rasulullah menolak permohonan mereka,
       karena mereka tidak mempunyai kuda atau unta kendaraan sendiri.
       Lalu orang-orang itu pulang sambil menangis sedih, karena tidak
       mempunyai kendaraan untuk mencapai cita-cita mereka hendak turut
       berjihad dan membuktikan keinginannya memperoleh syahid.
       Tetapi tatkala kaum munafik yang sengaja berlalai-lalai dan acuh
       tak acuh ini mendengar cerita ‘Umair yang dikiranya akan
       membangkitkan semangat juang dan pengorbanan mereka, malah
       sebaliknya ‘Umair menerima jawaban berupa kata-kata yang
       sungguh-sungguh membingungkan pemuda cilik yang mu’min ini.
       Mereka berkata, “Seandainya apa yang dikatakan Muhammad tentang
       kenabian itu benar adanya, tentulah kami lebih buruk daripada
       keledai.”
       ‘Umair sungguh bingung mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka
       sedikit juapun kata-kata seperti itu justru keluar dari mulut
       orang dewasa yang cerdas, Julas ibn Suwaid, bapak tiri yang
       mengasuh dan membesarkannya selama ini; kata-kata yang
       nyata-nyata mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari Iman dan
       Islam, beralih menjadi kafir seketika itu juga, melalui pintu
       utama yang paling lebar.
       Sementara kebingungan, anak itu juga memikirkan tindakan apa
       yang harus dilakukannya. Dia mengambil kesimpulan, bahwa Julas
       diam, tidak turut mengambil bagian dalam kegiatan persiapan
       perang, adalah suatu pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya;
       jelas membahayakan Islam, dan termasuk taktik kaum munafik yang
       ditiup-tiupkannya sesama mereka. Sedangkan melaporkan dan
       menyiarkan ucapan Julas, berarti mendurhakai orang yang selama
       ini telah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri. Berarti
       pula membalas air susu dengan tuba. Demikian analisa ‘Umair.
       Anak kecil itu merasa dia harus berani mengambil keputusan
       segera; melaporkan dan menyiarkan ucapan ayah tirinya atau diam
       seribu bahasa. Dia memilih melapor. Lalu dia berkata kepada
       Julas, “Demi Allah, hai Pak Julas! Tidak ada di muka bumi ini
       orang yang lebih saya cintai selain dari Muhammad Rasulullah.
       Bahkan dia lebih saya cintai dari Bapak sendiri. Bapak memang
       sangat berjasa kepada saya, karena telah turun tangan
       membahagiakan saya. Tetapi Bapak telah mengucapkan kata-kata
       yang jika saya laporkan pasti akan memalukan Bapak. Sebaliknya
       jika saya diamkan berarti saya mengkhianati amanah yang akan
       mencelakakan diri serta agama saya. Sesungguhnya saya telah
       bertekad hendak melaporkan dan menyampaikan ucapan Bapak kepada
       Rasulullah, dan Bapak akan menjadi saksi nyata terhadap urusan
       Bapak sendiri.
       ‘Umair ibn Sa’ad yang masih anak-anak pergi ke masjid, lalu
       dilaporkannya kepada Rasulullah kata-kata yang didengarnya
       sendiri dari bapak tirinya, Julas ibn Suwaid. Rasulullah meminta
       ‘Umair supaya tinggal lebih dahulu dekat beliau. Sementara itu
       beliau menyuruh seorang sahabat memanggil Julas. Tidak berapa
       lama kemudian Julas pun datang. Rasulullah memanggilnya supaya
       duduk di hadapan beliau.
       Beliau bertanya, “Betulkah Anda mengucapkan kata-kata seperti
       yang saya dengar dari ‘Umair ibn Sa’ad?”
       Jawab Julas, “Anak itu dusta, ya Rasulullah saya tidak pernah
       mengucapkan kata-kata demikian!”
       Para sahabat memandang Julas dan ‘Umair bergantian, seolah-olah
       mereka ingin membaca di wajah keduanya apa sesungguhnya yang
       tersirat dalam hati mereka berdua. Lalu para sahabat
       berbisik-bisik sesama mereka, “Anak ini sungguh durhaka. Dia
       jahat terhadap orang yang telah berjasa besar mengasuh dan
       membesarkannya.”
       Kata yang lain, “Tidak! Dia anak yang ta’at kepada Allah.
       Wajahnya cantik dan elok memancarkan cahaya iman, menunjukkan
       dia benar.”
       Rasulullah menoleh kepada ‘Umair. Kelihatan oleh beliau wajah
       anak itu merah padam. Air matanya jatuh berderai di pipinya.
       Kata ‘Umair mendo’a, “Wahai Allah! Turunkanlah saksi kepada
       Nabi-Mu, bahwa aku benar.”
       Kata Julas memperkuat pengakuannya, “Ya Rasululah sesungguhnya
       apa yang saya katakan kepada Anda tadi itulah yang benar. Jika
       Anda menghendaki, saya berani bersumpah di hadapan Anda. “Saya
       bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya saya tidak
       pernah mengucapkan kata-kata seperti yang dilaporkan ‘Umair
       kepada Anda.”
       Setelah Julas selesai mengucapkan sumpah, seluruh mata yang
       hadir memandang kepada ‘Umair ibn Sa’ad, sehingga Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. diam sambil memicingkan mata,
       menunjukkan wahyu sedang turun. Para sahabat memaklumi hal itu.
       Mereka pun diam tidak berbunyi sedikit juapun. Tidak ada yang
       berkata-kata dan bergerak. Semua mata tertuju kepada Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
       Melihat Rasulullah kedatangan wahyu, Julas menjadi ketakutan.
       Dia menyesal dan menengok kepada ‘Umair. Situasi seperti itu
       berlangsung sampai wahyu selesai turun. Lalu Rasulullah
       Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. membacakan ayat yang baru diterima
       beliau:
       “Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah, bahwa mereka
       tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan
       perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk
       Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat mereka
       jalankan (untuk membunuh Nabi [i]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
       menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela (Allah
       dan Rasul-Nya) tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi
       mereka dengan karunia-Nya. Tetapi jika mereka taubat, itulah
       yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakang,
       niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di
       dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan
       pembantu di muka bumi.”[/i] (At-Taubah: 9:74)
       Julas gemetar mendengar ayat yang sangat menakutkannya itu. Dia
       hampir tak dapat bicara karena terkejut. Kemudian dia berpaling
       kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata,
       “Saya taubat, ya Rasulullah . . ., saya taubat . . . ‘Umairlah
       yang benar, ya Rasulullah. Sayalah yang dusta. Sudilah Anda
       memohonkan kepada Allah, semoga Dia menerima taubat saya. Saya
       bersedia menebus kesalahan saya, ya Rasulullah!”
       Rasulullah menghadapkan mukanya kepada ‘Umair ibn Sa’ad yang
       tiba-tiba bercucuran air mata gembira membasahi mukanya yang
       berseri oleh cahaya Iman. Lalu Rasulullah gembira mengulurkan
       tangannya yang mulia menarik telinga ‘Umair dengan lembut seraya
       berkata, “Telingamu cukup nyaring, nak! Allah membenarkan apa
       yang engkau dengar.”
       Julas telah kembali ke dalam Islam dan menjadi muslim yang baik.
       Para sahabat telah sama mengetahui bagaimana besarnya jasa baik
       Julas mengasuh dan membesarkan ‘Umair selaku anak tiri. Dia
       bertanggung jawab penuh sebagai layaknya bapak kandung ‘Umair.
       Setiap kali orang menyebut nama ‘Umair di hadapannya, dia
       berkata dengan tulus, “Semoga Allah membalasi ‘Umair dengan
       segala kebajikan, karena dia telah membebaskan saya dari
       kekafiran dan dari api neraka.”
       Kisah yang kita ceritakan ini, belum merupakan gambaran puncak
       dari kehidupan ‘Umair, melainkan baru merupakan gambaran
       kehidupannya waktu kecil. Marilah kita lihat gambaran
       kehidupannya yang lebih gemilang dan indah di waktu mudanya.
       Barusan telah kita lihat dengan jelas bentuk kehidupan sahabat
       yang mulia, ‘Umair ibn Sa’ad, waktu dia masih kanak-kanak.
       Sekarang marilah kita lihat bentuk kehidupannya yang cemerlang
       saat dia telah diewasa. Anda akan menyaksikan kehidupannya tahap
       kedua ini tidak kurang gemilangnya dari tahap pertama, agung dan
       megah.
       Penduduk Himsh sangat kritis terhadap para pembesar mereka,
       sehingga mereka sering mengadu kepada khalifah. Setiap pembesar
       yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka.
       Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu, lalu dilaporkannya
       kepada khalifah, dan minta diganti dengan yang lebih baik.
       Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat,
       dan yang namanya belum pernah rusak untuk menjadi Gubernur di
       sana. Lalu beliau sebar pembantu-pembantunya melihat-lihat orang
       yang paling tepat. Maka tidak diperolehnya orang yang lebih
       baik, selain dari Umair ibn Sa’ad. Tetapi sayang, ‘Umair ketika
       itu sedang bertugas memimpin pasukannya berperang fi sabilillah
       di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil membebaskan
       beberapa kota, menghancurkan beberapa benteng, mendudukkan
       beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang
       dilaluinya.
       Saat seperti itulah Amirul Mu’minin memanggilnya kembali ke
       Madinah, untuk memangku jabatan Gubernur di Himsh. khalifah
       ‘Umar memerintahkannya supaya segera berangkat ke Himsh. ‘Umair
       menerima perintah tersebut dengan hati enggan, karena baginya
       tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah.
       Setibanya di Himsh, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke
       masjid untuk shalat berjama’ah. Selesai shalat dia berpidato.
       Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan salawat untuk Nabi.
       Kemudian dia berkata:
       “Hai, manusia! Sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang
       kokoh, dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan,
       dan pintunya ialah kebenaran (al haq). Apabila benteng itu
       ambruk dan pintunya roboh, maka pertahanan agama ini akan sirna.
       Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh.
       Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan
       pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan
       yang hak.”
       Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khiththah
       yang telah digariskannya dalam pidatonya yang singkat itu.
       ‘Umair ibn Sa’ad bertugas sebagai Gubernur di Himsh hanya
       setahun penuh. Selama itu tak sepucuk pun dia menulis surat
       kepada Amirul Mu’minin. Dan tidak satu dinar atau satu dirham
       pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Maal Muslimin
       (Perbendaharaan Negara) di Madinah. Karena itu timbul curiga di
       hati Khalifah Umar. Dia sangat kuatir kalau-kalau pemerintahan
       yang dipimpin ‘Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang
       negara) karena tidak ada orang yang ma’shum (terpilihara dari
       dosa) selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu
       beliau perintahkan sekretaris negara menulis surat kepada
       Gubernur ‘Umair.
       Kata Khalifah Umar, “Tulis surat kepada ‘Umair, katakan
       kepadanya: “Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkan
       Himsh dan segera datang menghadap Amirul Mu’minin. Jangan lupa
       membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin!”
       Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur ‘Umair, maka
       diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk
       persediaan air wudhu’ dalam perjalanan. Lalu dia berangkat
       meninggalkan Himsh, para pembesar dan rakyat yang dipimpinnya.
       Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki.
       Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang
       makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut
       dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena
       perjalanan yang begitu jauh.
       ‘Umair segera masuk menghadap Amirul Mu’minin Umar ibn Khatthab.
       Khalifah Umar terkejut melihat keadaan ‘Umair, lalu bertanya,
       “Bagaimana keadaan Anda, hai ‘Umair?”
       Jawab ‘Umair, “Tidak kurang suatu apa. Saya sehat dan ‘afiat.
       Alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di
       kedua tanduknya.”
       Tanya Khalifah Umar, “Dunia manakah yang Anda bawa?” (Khalifah
       menduga, dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Maal).
       Jawab ‘Umair, “Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air
       untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk
       wudhu’, untuk membasahi kepala dan untuk minum. Itulah seluruh
       dunia yang saya bawa. Yang Iain-lain tidak saya perlukan.”
       Tanya Khalifah, “Apakah Anda datang berjalan kaki?”
       Jawab, “Betul, ya Amirul Mu’minin!”
       Tanya, “Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh
       pemerintah?”
       Jawab, “Tidak! Mereka tidak memberi saya, dan saya tidak pula
       memintanya dari mereka.”
       Tanya, “Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Maal?”
       Jawab, “Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Maal.”
       Tanya, “Mengapa?”
       Jawab, “Sejak saya mulai tiba di Himsh, saya kumpulkan penduduk
       yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan
       mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya,
       saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus
       digunakan, dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang
       berhak.”
       Khalifah ‘Umar berkata kepada jurutulis, ”Perpanjang masa
       jabatan ‘Umair sebagai Gubernur Hismh!”
       Kata ‘Umair, “Ma’af, Khalifah! Saya tidak menghendaki jabatan
       itu lagi. Mulai sa’at ini, saya tidak hendak bekerja lagi untuk
       Anda atau untuk orang lain sesudah anda, ya Amirul Mu’minin.”
       Kemudian ‘Umair minta izin untuk pergi ke sebuah di pinggiran
       kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Lalu
       Khalifah mengizinkannya.
       Belum begitu lama ‘Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah
       ‘Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana
       kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu diperintahkannya
       Al Harits, seorang kepercayaan Khalifah, “Pergilah engkau
       menemui ‘Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai
       tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh ni’mat,
       kembalilah sebagaimana engkau datang. Dan jika engkau lihat
       keadaannya melarat, berikan uang ini kepadanya!”
       Khalifah ‘Umar memberikan sebuah pundi berisi seratus dinar
       kepada Al Harits.
       Al Harits pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia
       bertanya-tanya ke sana-sini di mana rumah ‘Umair. Setelah
       bertemu, Al Harits mengucapkan salam, ”Assalamu’alaika wa
       rahmatullah.”
       Jawab ‘Umair, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh.
       Anda datang dari mana?”
       Jawab Harits, “Dari Madinah!”
       Tanya ‘Umair, “Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal
       anda?”
       Jawab Harits, “Baik-baik saja.”
       Tanya, “Bagaimana kabar Amirul Mu’minin?”
       Jawab, “Alhamdulillah, baik.”
       Tanya, “Adakah ditegakkannya hukum?”
       Jawab, “Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dera anaknya
       sendiri sampai mati, karena bersalah melakukan perbuatan keji.”
       Kata ‘Umair, “Wahai Allah, tolonglah ‘Umar. Saya tahu sungguh,
       dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!”
       Al Harits menjadi tamu ‘Umair selama tiga malam. Tiap malam
       Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada
       hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits,
       “Sesungguhnya Anda telah menyusahkan ‘Umair dan keluarganya.
       Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada
       Anda. Mereka lebih mementingkan Anda, walaupun dia sekeluarga
       harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknyalah
       Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya.”
       Al Harits mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya
       kepada ‘Umair.
       Tanya ‘Umair, “Apa ini?”
       Jawab Harits, ”Amirul Mu’minin mengirimkannya untuk Anda!”
       Kata ‘Umair, “Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan
       salamku, dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak
       membutuhkan uang itu.”
       Isteri ‘Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits
       berteriak, “Terima saja, hai ‘Umair! Jika engkau butuh sesuatu
       engkau dapat membelanjakannya. Jika tidak, engkau pun dapat
       membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di sini
       banyak orang-orang yang butuh.”
       Mendengar ucapan isteri ‘Umair, Harits meletakkan uang itu di
       hadapan ‘Umair, kemudian dia pergi. ‘Umair memungut uang itu
       lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia
       tidak tidur sampai tengah malam sebelum uang itu habis
       dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat
       diutamakannya memberikan kepada ank-anak yatim yang orang tuanya
       tewas sebagai syuhada’ di medan perang fi sabilillah.
       Al Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah, Khalifah
       ‘Umar bertanya, “Bagaimana keadaan ‘Umair?”
       Jawab Harits, “Sangat menyedihkan, ya Amirul Mu’minin.”
       Tanya Khalifah, “Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?”
       Jawab, “Ya, sudah ku berikan.”
       Tanya, “Apa yang dibuatnya dengan uang itu?”
       Jawab, “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira, uang itu mungkin
       hanya tinggal satu dirham saja lagi untuknya.”
       Khalifah ‘Umar menulis surat kepada ‘Umair, katanya, “Bila surat
       ini selesai Anda baca, maka janganlah Anda letakkan sebelum
       datang menghadap saya.”
       ‘Umar ibn Sa’ad datang ke Madinah memenuhi panggilan khalifah.
       Sampai di Madinah dia Iangsung menghadap Amirul Mu’minin.
       Khalifah ‘Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas
       duduk yang dipakainya kepada ‘Umair, sebagai penghormatan.
       Tanya khalifah, “Apa yang Anda perbuat dengan uang itu, hai
       ‘Umair?”
       Jawab ‘Umair, “Apa maksud Anda menanyakan, sesudah uang itu Anda
       berikan kepadaku?”
       Jawab khalifah, “Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau
       menceritakannya.”
       Jawab ‘Umair, “Uang itu saya simpan untuk saya sendiri, dan akan
       saya manfa’atkan nanti pada suatu hari, ketika harta dan
       anak-anak tidak bermanfa’at lagi, yaitu hari kiamat.”
       Mendengar jawaban ‘Umair, Khalifah ‘Umar menangis sehingga air
       matanya jatuh bercucuran. Katanya, “Saya menjadi saksi, bahwa
       sesungguhnya Anda tergolong orang-orang yang mementingkan
       orang-orang lain sekalipun diri Anda sendiri melarat.”
       Kemudian khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasq (Satu
       Wasq, kira-kira enam puluh sha’ (gantang), atau kira-kira
       seberat beban seekor unta) pangan dan dua helai pakaian, lalu
       diberikan-nya kepada ‘Umair.
       Kata ‘Umair, “Kami tidak membutuhkan makanan, ya Amirul
       Mu’minin. Saya ada meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluarga
       saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah
       Ta’ala memberi lagi rezki untuk kami. Tetapi pakaian ini saya
       terima untuk isteri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang,
       sehingga dia hampir telanjang.”
       Tidak lama sesudah pertemuan ‘Umair dengan khalifah, maka Allah
       mengizinkan ‘Umair untuk bertemu dengan Nabi yang sangat
       dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad ibn ‘Abdullah,
       Rasulullah, ‘Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan
       jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia
       tidak membawa beban berat di punggung, berupa kemewahan dunia.
       Tetapi dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya,
       wara’ dan taqwa.
       Ketika Khalifah ‘Umar mendengar kematian ‘Umair, bukan main-main
       sedihnya, sehingga dia mengurut dada karena menyesal. Kata
       khalifah, “Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umair [i]ibn
       Sa’ad, untuk membantu saya melola masyarakat kaum muslimin.”[/i]
       &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Kitab Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor
       ‘Abdurrahman Ra’fat Basya.
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1