DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ PARA SAHABAT RASULULLAH ž...
*****************************************************
#Post#: 277--------------------------------------------------
۩۞۩ Para Sahabat Rasulullah
صلى ا لله
عليه وسلم :
Umair ibn Sa’ad
DIR By: WalimanovSakti
Date: December 31, 2023, 8:33 pm
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Umair ibn Sa’ad [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=361
‘Umair [i]ibn Sa’ad Al Anshary, telah merasa hidup yatim dan
miskin sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa
meninggalkan harta warisan yang mencukupi. Tetapi untunglah
ibunya segera kawin kembali dengan seorang laki-laki kaya dari
suku Aus, Al Julas ibn Suwaid. Maka ‘Umair ditanggung oleh Julas
dan dikumpulkannya ke dalam keluarganya. Sejak itu ‘Umair
menemukan jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus,
keindahan belas-kasih, sehingga ‘Umair dapat melupakan bahwa ia
telah yatim.[/i]
Umair menyayangi Julas sebagai layaknya sayang seorang anak
kepada bapak. Begitu pula Julas, sangat menyintai ‘Umair sebagai
lazimnya cinta bapak kepada anak. Setiap usia ‘Umair bertambah
dan menjadi remaja, bertambah pula kasih sayang dan simpati
Julas kepadanya, karena pembawaannya yang cerdas dan perbuatan
mulia yang selalu diperlihatkannya, kehalusan budi pekerti,
amanah dan jujur yang senantiasa diperagakannya.
Umair ibn Sa’ad masuk Islam dalam usia yang sangat muda,
kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit. Ketika itu Iman telah
mantap dalam hatinya yang masih segar, lembut dan polos. Karena
itu Iman melekat pada dirinya dengan kokoh. Dan Islam
mendapatkan jiwanya yang bersih dan halus, bagaikan mendapatkan
tanah subur. Dalam usia seperti itu ‘Umair tidak pernah
ketinggalan shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ibunya
senantiasa diliputi kegembiraan setiap melihat anaknya pergi
atau pulang dari masjid, kadang-kadang bersama-sama suaminya dan
kadang-kadang anaknya seorang diri.
Kehidupan ‘Umair ibn Sa’ad di waktu kecil berjalan lancar,
senang dan tenang, tidak ada yang mengeruhkan dan mengotori.
Sehingga tiba masanya Allah menghendaki untuk mengembangkan jiwa
anak kecil yang akan meningkat remaja ini dengan suatu latihan
berat, dan mengujinya dengan ujian yang jarang dilalui anak-anak
sebaya dia.
Tahun kesembilan hijriyah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam. mengumumkan hendak: memerangi tentara Rum di Tabuk
(Tabuk, suatu tempat dalam wilayah pcmerintahan Syam. Di sana
pernah terjadi peperangan yang sangat terkenal antara kaum
muslimin dengan tentara Rum). Beliau memerintahkan kaum muslimin
supaya bersiap-siap menghadapi peperangan tersebut. Biasanya
bila Rasulullah hendak pergi berperang, beliau tidak pernah
mengumumkan sasaran yang akan dituju, kecuali pada peperangan
Tabuk. Rasulullah menjelaskan kepada kaum muslimin sasaran yang
dituju, karena akan menempuh perjalanan jauh dan sulit, serta
kekuatan musuh berlipat ganda, supaya kaum muslimin mengerti
tugas mereka mempersiapkan diri menghadapi peperangan tersebut.
Di samping itu musim panas telah mulai dengan suhu yang
menyengat. Buah-buahan sudah berbuah dan mulai masak. Awan
bagus. Setiap orang cenderung hendak berlambat-lambat dan
bermalas-malasan. Namun kaum muslimin yang setia dan patuh
memperkenankan seruan Nabi mereka, mempersiapkan segala
sesuatunya untuk perang dengan cepat dan cermat.
Lain lagi golongan munafik. Mereka sengaja mengulur-ulur waktu.
Memandang enteng setiap hal yang penting-penting; membangkitkan
keragu-raguan; bahkan mencela kebijaksanaan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. dan mengucapkan kata-kata beracun
di majelis-majelis khusus mereka, yang menimbulkan kekafiran.
Beberapa hari sebelum keberangkatan pasukan tentara muslimin ke
medan perang Tabuk, Umair ibn Sa’ad yang baru meningkat remaja
pulang ke rumahnya sesudah shalat di masjid. Jiwanya sangat
tergugah menyaksikan pengorbanan yang sangat gemilang, tulus dan
ikhlas, dari sego-longan kaum muslimin, yang dilihat dan
didengarnya dengan mata kepala dan telinganya sendiri. Dia
menyaksikan para wanita muhajirat dan anshar, dengan spontan
menyambut seruan Rasulullah. Mereka tanggalkan perhiasan mereka
seketika itu juga, lalu diserahkannya kepada Rasulullah untuk
biaya perang fi sabilillah. Dia menyaksikan dengan mata sendiri.
‘Utsman ibn ‘Affan datang membawa pundi-pundi berisi ribuan
dinar emas, lalu diserahkannya kepada Rasulullah. ‘Abdur Rahman
ibn ‘Auf datang pula membawa dua ratus Uqiyah (1 Uqiyah = ½
tahil) emas dan diserahkannya kepada Nabi yang mulia. Bahkan dia
melihat seorang laki-laki menjual tempat tidur untuk membeli
sebuah pedang yang akan dibawa dan dipakainya berperang fi
sabilillah.
Umair merasa bangga melihat kepatuhan dan pengorbanan yang amat
mengesankannya itu. Sebaliknya dia amat heran melihat
orang-orang yang bersikap acuh tak acuh melakukan persiapan
untuk berangkat bersama-sama Rasulullah, dan mengundur-ngundur
waktu menyerahkan sumbangan kepada beliau, padahal orang itu
mampu dan cukup kaya melakukannya segerai mungkin. Karena itu
jiwanya tergerak hendak membangkitkan semangat orang-orang yang
lalai dan acuh tak acuh ini. Maka diceritakannya kepada mereka
segala peristiwa yang dilihat dan di-dengarnya mengenai
sumbangan dan pengorbanan golongan orang-orang mu’min yang patuh
dan setia kepada Rasulullah, terutama cerita mengenai
orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan beriba-iba
memohon supaya mereka diterima menjadi anggota pasukan yang akan
turut berperang. Tetapi Rasulullah menolak permohonan mereka,
karena mereka tidak mempunyai kuda atau unta kendaraan sendiri.
Lalu orang-orang itu pulang sambil menangis sedih, karena tidak
mempunyai kendaraan untuk mencapai cita-cita mereka hendak turut
berjihad dan membuktikan keinginannya memperoleh syahid.
Tetapi tatkala kaum munafik yang sengaja berlalai-lalai dan acuh
tak acuh ini mendengar cerita ‘Umair yang dikiranya akan
membangkitkan semangat juang dan pengorbanan mereka, malah
sebaliknya ‘Umair menerima jawaban berupa kata-kata yang
sungguh-sungguh membingungkan pemuda cilik yang mu’min ini.
Mereka berkata, “Seandainya apa yang dikatakan Muhammad tentang
kenabian itu benar adanya, tentulah kami lebih buruk daripada
keledai.”
‘Umair sungguh bingung mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka
sedikit juapun kata-kata seperti itu justru keluar dari mulut
orang dewasa yang cerdas, Julas ibn Suwaid, bapak tiri yang
mengasuh dan membesarkannya selama ini; kata-kata yang
nyata-nyata mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari Iman dan
Islam, beralih menjadi kafir seketika itu juga, melalui pintu
utama yang paling lebar.
Sementara kebingungan, anak itu juga memikirkan tindakan apa
yang harus dilakukannya. Dia mengambil kesimpulan, bahwa Julas
diam, tidak turut mengambil bagian dalam kegiatan persiapan
perang, adalah suatu pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya;
jelas membahayakan Islam, dan termasuk taktik kaum munafik yang
ditiup-tiupkannya sesama mereka. Sedangkan melaporkan dan
menyiarkan ucapan Julas, berarti mendurhakai orang yang selama
ini telah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri. Berarti
pula membalas air susu dengan tuba. Demikian analisa ‘Umair.
Anak kecil itu merasa dia harus berani mengambil keputusan
segera; melaporkan dan menyiarkan ucapan ayah tirinya atau diam
seribu bahasa. Dia memilih melapor. Lalu dia berkata kepada
Julas, “Demi Allah, hai Pak Julas! Tidak ada di muka bumi ini
orang yang lebih saya cintai selain dari Muhammad Rasulullah.
Bahkan dia lebih saya cintai dari Bapak sendiri. Bapak memang
sangat berjasa kepada saya, karena telah turun tangan
membahagiakan saya. Tetapi Bapak telah mengucapkan kata-kata
yang jika saya laporkan pasti akan memalukan Bapak. Sebaliknya
jika saya diamkan berarti saya mengkhianati amanah yang akan
mencelakakan diri serta agama saya. Sesungguhnya saya telah
bertekad hendak melaporkan dan menyampaikan ucapan Bapak kepada
Rasulullah, dan Bapak akan menjadi saksi nyata terhadap urusan
Bapak sendiri.
‘Umair ibn Sa’ad yang masih anak-anak pergi ke masjid, lalu
dilaporkannya kepada Rasulullah kata-kata yang didengarnya
sendiri dari bapak tirinya, Julas ibn Suwaid. Rasulullah meminta
‘Umair supaya tinggal lebih dahulu dekat beliau. Sementara itu
beliau menyuruh seorang sahabat memanggil Julas. Tidak berapa
lama kemudian Julas pun datang. Rasulullah memanggilnya supaya
duduk di hadapan beliau.
Beliau bertanya, “Betulkah Anda mengucapkan kata-kata seperti
yang saya dengar dari ‘Umair ibn Sa’ad?”
Jawab Julas, “Anak itu dusta, ya Rasulullah saya tidak pernah
mengucapkan kata-kata demikian!”
Para sahabat memandang Julas dan ‘Umair bergantian, seolah-olah
mereka ingin membaca di wajah keduanya apa sesungguhnya yang
tersirat dalam hati mereka berdua. Lalu para sahabat
berbisik-bisik sesama mereka, “Anak ini sungguh durhaka. Dia
jahat terhadap orang yang telah berjasa besar mengasuh dan
membesarkannya.”
Kata yang lain, “Tidak! Dia anak yang ta’at kepada Allah.
Wajahnya cantik dan elok memancarkan cahaya iman, menunjukkan
dia benar.”
Rasulullah menoleh kepada ‘Umair. Kelihatan oleh beliau wajah
anak itu merah padam. Air matanya jatuh berderai di pipinya.
Kata ‘Umair mendo’a, “Wahai Allah! Turunkanlah saksi kepada
Nabi-Mu, bahwa aku benar.”
Kata Julas memperkuat pengakuannya, “Ya Rasululah sesungguhnya
apa yang saya katakan kepada Anda tadi itulah yang benar. Jika
Anda menghendaki, saya berani bersumpah di hadapan Anda. “Saya
bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya saya tidak
pernah mengucapkan kata-kata seperti yang dilaporkan ‘Umair
kepada Anda.”
Setelah Julas selesai mengucapkan sumpah, seluruh mata yang
hadir memandang kepada ‘Umair ibn Sa’ad, sehingga Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. diam sambil memicingkan mata,
menunjukkan wahyu sedang turun. Para sahabat memaklumi hal itu.
Mereka pun diam tidak berbunyi sedikit juapun. Tidak ada yang
berkata-kata dan bergerak. Semua mata tertuju kepada Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Melihat Rasulullah kedatangan wahyu, Julas menjadi ketakutan.
Dia menyesal dan menengok kepada ‘Umair. Situasi seperti itu
berlangsung sampai wahyu selesai turun. Lalu Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. membacakan ayat yang baru diterima
beliau:
“Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah, bahwa mereka
tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan
perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk
Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat mereka
jalankan (untuk membunuh Nabi [i]Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela (Allah
dan Rasul-Nya) tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi
mereka dengan karunia-Nya. Tetapi jika mereka taubat, itulah
yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakang,
niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di
dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan
pembantu di muka bumi.”[/i] (At-Taubah: 9:74)
Julas gemetar mendengar ayat yang sangat menakutkannya itu. Dia
hampir tak dapat bicara karena terkejut. Kemudian dia berpaling
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata,
“Saya taubat, ya Rasulullah . . ., saya taubat . . . ‘Umairlah
yang benar, ya Rasulullah. Sayalah yang dusta. Sudilah Anda
memohonkan kepada Allah, semoga Dia menerima taubat saya. Saya
bersedia menebus kesalahan saya, ya Rasulullah!”
Rasulullah menghadapkan mukanya kepada ‘Umair ibn Sa’ad yang
tiba-tiba bercucuran air mata gembira membasahi mukanya yang
berseri oleh cahaya Iman. Lalu Rasulullah gembira mengulurkan
tangannya yang mulia menarik telinga ‘Umair dengan lembut seraya
berkata, “Telingamu cukup nyaring, nak! Allah membenarkan apa
yang engkau dengar.”
Julas telah kembali ke dalam Islam dan menjadi muslim yang baik.
Para sahabat telah sama mengetahui bagaimana besarnya jasa baik
Julas mengasuh dan membesarkan ‘Umair selaku anak tiri. Dia
bertanggung jawab penuh sebagai layaknya bapak kandung ‘Umair.
Setiap kali orang menyebut nama ‘Umair di hadapannya, dia
berkata dengan tulus, “Semoga Allah membalasi ‘Umair dengan
segala kebajikan, karena dia telah membebaskan saya dari
kekafiran dan dari api neraka.”
Kisah yang kita ceritakan ini, belum merupakan gambaran puncak
dari kehidupan ‘Umair, melainkan baru merupakan gambaran
kehidupannya waktu kecil. Marilah kita lihat gambaran
kehidupannya yang lebih gemilang dan indah di waktu mudanya.
Barusan telah kita lihat dengan jelas bentuk kehidupan sahabat
yang mulia, ‘Umair ibn Sa’ad, waktu dia masih kanak-kanak.
Sekarang marilah kita lihat bentuk kehidupannya yang cemerlang
saat dia telah diewasa. Anda akan menyaksikan kehidupannya tahap
kedua ini tidak kurang gemilangnya dari tahap pertama, agung dan
megah.
Penduduk Himsh sangat kritis terhadap para pembesar mereka,
sehingga mereka sering mengadu kepada khalifah. Setiap pembesar
yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka.
Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu, lalu dilaporkannya
kepada khalifah, dan minta diganti dengan yang lebih baik.
Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat,
dan yang namanya belum pernah rusak untuk menjadi Gubernur di
sana. Lalu beliau sebar pembantu-pembantunya melihat-lihat orang
yang paling tepat. Maka tidak diperolehnya orang yang lebih
baik, selain dari Umair ibn Sa’ad. Tetapi sayang, ‘Umair ketika
itu sedang bertugas memimpin pasukannya berperang fi sabilillah
di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil membebaskan
beberapa kota, menghancurkan beberapa benteng, mendudukkan
beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang
dilaluinya.
Saat seperti itulah Amirul Mu’minin memanggilnya kembali ke
Madinah, untuk memangku jabatan Gubernur di Himsh. khalifah
‘Umar memerintahkannya supaya segera berangkat ke Himsh. ‘Umair
menerima perintah tersebut dengan hati enggan, karena baginya
tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah.
Setibanya di Himsh, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke
masjid untuk shalat berjama’ah. Selesai shalat dia berpidato.
Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan salawat untuk Nabi.
Kemudian dia berkata:
“Hai, manusia! Sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang
kokoh, dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan,
dan pintunya ialah kebenaran (al haq). Apabila benteng itu
ambruk dan pintunya roboh, maka pertahanan agama ini akan sirna.
Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh.
Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan
pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan
yang hak.”
Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khiththah
yang telah digariskannya dalam pidatonya yang singkat itu.
‘Umair ibn Sa’ad bertugas sebagai Gubernur di Himsh hanya
setahun penuh. Selama itu tak sepucuk pun dia menulis surat
kepada Amirul Mu’minin. Dan tidak satu dinar atau satu dirham
pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Maal Muslimin
(Perbendaharaan Negara) di Madinah. Karena itu timbul curiga di
hati Khalifah Umar. Dia sangat kuatir kalau-kalau pemerintahan
yang dipimpin ‘Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang
negara) karena tidak ada orang yang ma’shum (terpilihara dari
dosa) selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu
beliau perintahkan sekretaris negara menulis surat kepada
Gubernur ‘Umair.
Kata Khalifah Umar, “Tulis surat kepada ‘Umair, katakan
kepadanya: “Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkan
Himsh dan segera datang menghadap Amirul Mu’minin. Jangan lupa
membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin!”
Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur ‘Umair, maka
diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk
persediaan air wudhu’ dalam perjalanan. Lalu dia berangkat
meninggalkan Himsh, para pembesar dan rakyat yang dipimpinnya.
Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki.
Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang
makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut
dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena
perjalanan yang begitu jauh.
‘Umair segera masuk menghadap Amirul Mu’minin Umar ibn Khatthab.
Khalifah Umar terkejut melihat keadaan ‘Umair, lalu bertanya,
“Bagaimana keadaan Anda, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Tidak kurang suatu apa. Saya sehat dan ‘afiat.
Alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di
kedua tanduknya.”
Tanya Khalifah Umar, “Dunia manakah yang Anda bawa?” (Khalifah
menduga, dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Maal).
Jawab ‘Umair, “Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air
untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk
wudhu’, untuk membasahi kepala dan untuk minum. Itulah seluruh
dunia yang saya bawa. Yang Iain-lain tidak saya perlukan.”
Tanya Khalifah, “Apakah Anda datang berjalan kaki?”
Jawab, “Betul, ya Amirul Mu’minin!”
Tanya, “Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh
pemerintah?”
Jawab, “Tidak! Mereka tidak memberi saya, dan saya tidak pula
memintanya dari mereka.”
Tanya, “Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Maal?”
Jawab, “Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Maal.”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab, “Sejak saya mulai tiba di Himsh, saya kumpulkan penduduk
yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan
mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya,
saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus
digunakan, dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang
berhak.”
Khalifah ‘Umar berkata kepada jurutulis, ”Perpanjang masa
jabatan ‘Umair sebagai Gubernur Hismh!”
Kata ‘Umair, “Ma’af, Khalifah! Saya tidak menghendaki jabatan
itu lagi. Mulai sa’at ini, saya tidak hendak bekerja lagi untuk
Anda atau untuk orang lain sesudah anda, ya Amirul Mu’minin.”
Kemudian ‘Umair minta izin untuk pergi ke sebuah di pinggiran
kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Lalu
Khalifah mengizinkannya.
Belum begitu lama ‘Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah
‘Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana
kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu diperintahkannya
Al Harits, seorang kepercayaan Khalifah, “Pergilah engkau
menemui ‘Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai
tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh ni’mat,
kembalilah sebagaimana engkau datang. Dan jika engkau lihat
keadaannya melarat, berikan uang ini kepadanya!”
Khalifah ‘Umar memberikan sebuah pundi berisi seratus dinar
kepada Al Harits.
Al Harits pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia
bertanya-tanya ke sana-sini di mana rumah ‘Umair. Setelah
bertemu, Al Harits mengucapkan salam, ”Assalamu’alaika wa
rahmatullah.”
Jawab ‘Umair, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh.
Anda datang dari mana?”
Jawab Harits, “Dari Madinah!”
Tanya ‘Umair, “Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal
anda?”
Jawab Harits, “Baik-baik saja.”
Tanya, “Bagaimana kabar Amirul Mu’minin?”
Jawab, “Alhamdulillah, baik.”
Tanya, “Adakah ditegakkannya hukum?”
Jawab, “Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dera anaknya
sendiri sampai mati, karena bersalah melakukan perbuatan keji.”
Kata ‘Umair, “Wahai Allah, tolonglah ‘Umar. Saya tahu sungguh,
dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!”
Al Harits menjadi tamu ‘Umair selama tiga malam. Tiap malam
Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada
hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits,
“Sesungguhnya Anda telah menyusahkan ‘Umair dan keluarganya.
Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada
Anda. Mereka lebih mementingkan Anda, walaupun dia sekeluarga
harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknyalah
Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya.”
Al Harits mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya
kepada ‘Umair.
Tanya ‘Umair, “Apa ini?”
Jawab Harits, ”Amirul Mu’minin mengirimkannya untuk Anda!”
Kata ‘Umair, “Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan
salamku, dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak
membutuhkan uang itu.”
Isteri ‘Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits
berteriak, “Terima saja, hai ‘Umair! Jika engkau butuh sesuatu
engkau dapat membelanjakannya. Jika tidak, engkau pun dapat
membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di sini
banyak orang-orang yang butuh.”
Mendengar ucapan isteri ‘Umair, Harits meletakkan uang itu di
hadapan ‘Umair, kemudian dia pergi. ‘Umair memungut uang itu
lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia
tidak tidur sampai tengah malam sebelum uang itu habis
dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat
diutamakannya memberikan kepada ank-anak yatim yang orang tuanya
tewas sebagai syuhada’ di medan perang fi sabilillah.
Al Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah, Khalifah
‘Umar bertanya, “Bagaimana keadaan ‘Umair?”
Jawab Harits, “Sangat menyedihkan, ya Amirul Mu’minin.”
Tanya Khalifah, “Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?”
Jawab, “Ya, sudah ku berikan.”
Tanya, “Apa yang dibuatnya dengan uang itu?”
Jawab, “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira, uang itu mungkin
hanya tinggal satu dirham saja lagi untuknya.”
Khalifah ‘Umar menulis surat kepada ‘Umair, katanya, “Bila surat
ini selesai Anda baca, maka janganlah Anda letakkan sebelum
datang menghadap saya.”
‘Umar ibn Sa’ad datang ke Madinah memenuhi panggilan khalifah.
Sampai di Madinah dia Iangsung menghadap Amirul Mu’minin.
Khalifah ‘Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas
duduk yang dipakainya kepada ‘Umair, sebagai penghormatan.
Tanya khalifah, “Apa yang Anda perbuat dengan uang itu, hai
‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Apa maksud Anda menanyakan, sesudah uang itu Anda
berikan kepadaku?”
Jawab khalifah, “Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau
menceritakannya.”
Jawab ‘Umair, “Uang itu saya simpan untuk saya sendiri, dan akan
saya manfa’atkan nanti pada suatu hari, ketika harta dan
anak-anak tidak bermanfa’at lagi, yaitu hari kiamat.”
Mendengar jawaban ‘Umair, Khalifah ‘Umar menangis sehingga air
matanya jatuh bercucuran. Katanya, “Saya menjadi saksi, bahwa
sesungguhnya Anda tergolong orang-orang yang mementingkan
orang-orang lain sekalipun diri Anda sendiri melarat.”
Kemudian khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasq (Satu
Wasq, kira-kira enam puluh sha’ (gantang), atau kira-kira
seberat beban seekor unta) pangan dan dua helai pakaian, lalu
diberikan-nya kepada ‘Umair.
Kata ‘Umair, “Kami tidak membutuhkan makanan, ya Amirul
Mu’minin. Saya ada meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluarga
saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah
Ta’ala memberi lagi rezki untuk kami. Tetapi pakaian ini saya
terima untuk isteri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang,
sehingga dia hampir telanjang.”
Tidak lama sesudah pertemuan ‘Umair dengan khalifah, maka Allah
mengizinkan ‘Umair untuk bertemu dengan Nabi yang sangat
dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad ibn ‘Abdullah,
Rasulullah, ‘Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan
jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia
tidak membawa beban berat di punggung, berupa kemewahan dunia.
Tetapi dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya,
wara’ dan taqwa.
Ketika Khalifah ‘Umar mendengar kematian ‘Umair, bukan main-main
sedihnya, sehingga dia mengurut dada karena menyesal. Kata
khalifah, “Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umair [i]ibn
Sa’ad, untuk membantu saya melola masyarakat kaum muslimin.”[/i]
Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Kitab Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor
‘Abdurrahman Ra’fat Basya.
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1