URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ KELUARGA RASULULLAH ص&#...
       *****************************************************
       #Post#: 265--------------------------------------------------
       🟢 Cucu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam: Husain ibn Ali
       ibn Abu Thalib
   DIR By: HanZahavi
       Date: December 31, 2023, 12:18 pm
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Husain ibn Ali ibn Abu Thalib
       (4-61 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=97
       Putra kedua dari perkawinan Ali [i]ibn Abu Thalib dengan
       Fathimah. Dia tidak mau membai’at Yazid, sehingga dia terbunuh
       dalam perang Karbala tanggal 10 Muharam 61 H / 680 M.[/i]
       &#10043; Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya
       (Oleh: Ustadz Muhammad Umar Sewed)
       Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ke-empat Hijriyah.
       Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       men-tahnik (yakni mengunyahkan kurma kemudian dimasukkan ke
       mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya -pent.),
       mendoakan dan menamakannya Al-Husein. (Demikianlah dikatakan
       oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal.
       152)
       Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim:
       “Disebutkan oleh ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari
       ahli kufah kepada Al-Husein (setelah meninggalnya Mu’awiyah
       radhiyallahu’anhu). Kemudian Al-Husein mengirim Muslim Ibnu
       Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai’at mereka dan
       melihat bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas
       radhiyallahu’anhu memberitahu beliau (Al-Husein) bahwa mereka
       dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya. Sedangkan Ibnu
       Zubair mengisya­ratkan kepadanya agar dia berangkat, maka
       berang­katlah Al-Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata
       Muslim Ibnu Aqil telah terbunuh dan dise­rahkan kepadanya oleh
       orang-orang yang memanggilnya. “Cukup bagimu ini sebagai
       peringat­an bagi yang mau mengambil peringatan” (kelihatannya
       yang dimaksud adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Al-Husein -pent.).
       Tetapi beliau radhi­yallahu ‘anhu tetap melanjutkan
       perjalanannya de­ngan marah karena dien dalam rangka menegakkan
       al-haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat orang yang
       paling alim pada jamannya yaitu ibnu Abbas radhiyallahu’anhu dan
       menyalahi pendapat syaikh para shahabat yaitu Ibnu Umar. Beliau
       mengharapkan permulaan pada akhir (hidup -pent.), mengharapkan
       kelurusan dalam kebengkokan dan mengharapkan keelokan pemuda
       dalam rapuh ketuaan. Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya,
       tidak pula memiliki pembela-pembela yang memelihara haknya atau
       yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya. Akhirnya
       kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita
       tumpahkan darah Al-Husein, maka datang kepada kita musibah yang
       menghilangkan kebahagiaan jaman. (lihat Al-Awashim minal
       Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dengan tahqiq dan ta’liq
       Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib, hal. 229-232)
       Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya ‘Kita ingin
       mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah
       Al-Husein‘ adalah bahwa niat Al-Husein dengan sebagian kaum
       muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini
       masih merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya
       justru kita menodai bumi dengan darah Al-Husein yang suci.
       Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin Al-Khatib dalam
       ta’liq-nya terhadap buku Al-Awashim Minal Qawashim.
       Ketika Al-Husein ditahan oleh tentara Yazid, Samardi Al-Jausyan
       mendorong Abdullah ibn Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan
       Al-Husein meminta untuk dihadapkan kepada Yazid atau dibawa ke
       front untuk berjihad melawan orang-orang kafir atau kembali ke
       Makkah. Namun mereka tetap mem­bunuh Al-Husein dengan dhalim
       sehingga beliau meninggal dengan syahid radhiyallahu’anhu. Inna
       Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Al-Husein terbunuh di
       Karbala di dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat
       terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan Ubaidillah
       ibn Ziyad di Kufah. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari
       dalam Shahihnya dan dari para imam yang lain.
       Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah
       diriwayatkan dalam beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan
       tidak benar sedikitpun tentangnya. Bahkan dalam riwayat-riwayat
       tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan pengada-adaan
       riwayat tersebut. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi
       taringnya dengan besi dan bahwasanya sebagian para shahabat yang
       hadir seperti Anas ibn Malik, Abi Barzah dan lain-lain
       mengingkarinya. Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya
       yang menusuk dengan besi adalah ‘Ubaidilah ibn Ziyad. Demikian
       pula dalam kitab-kitab shahih dan musnad, bahwasanya mereka
       menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah ibn Ziyad. Adapun
       ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang
       memerintahkan untuk membunuhnya (Husein) dan memerintahkan untuk
       membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad
       pun dibunuh karena itu.
       Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi
       seperti Anas dan Abi Barzah tidak berada di Syam, melainkan
       berada di Iraq ketika itu. “Sesungguhnya para pendusta adalah
       orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang
       menunjukkan kedustaan mereka.” (Majmu’ Fatawa, juz IV, hal.
       507-508)
       Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husein
       ibn Ali radhiyallahu’anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan
       oleh az-Zubair ibn Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau
       adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam masalah
       ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala
       Al-Husein dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana.
       Hal ini yang paling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya
       Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak Ali dan yang seperti
       mereka. (Dalam sumber yang sama, juz IV, hal. 509)
       Demikianlah Al-Husain ibn Ali radhiyallahu’anhuma terbunuh pada
       hari Jum’at, pada hari ‘Asyura, yaitu pada bulan Muharram tahun
       61 H dalam usia 54 tahun 6 bulan. Semoga Allah merahmati
       Al-Husein dan mengampuni seluruh dosa­-dosanya serta menerimanya
       sebagai syahid. Dan semoga Allah membalas para pembunuhnya dan
       mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Aamiin.
       &#10043; Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid ibn Mu’awiyyah
       Untuk membahas masalah ini kita nukilkan saja di sini ucapan
       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah secara lengkap dari Fatawa-nya
       sebagai berikut:
       Belum terjadi sebelumnya manusia membicarakan masalah Yazid ibn
       Muawiyyah dan tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien.
       Hingga terjadilah setelah itu beberapa perkara, sehingga manusia
       melaknat terhadap Yazid ibn Muawiyyah, bahkan bisa jadi mereka
       menginginkan dengan itu laknat kepada yang lainnya. Sedangkan
       kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat or­ang tertentu.
       Kemudian suatu kaum dari golongan yang ikut mendengar yang
       demikian meyakini bahwa Yazid termasuk orang-orang shalih yang
       besar dan Imam-imam yang mendapat petunjuk.
       Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua
       sisi yang berlawanan:
       SISI PERTAMA, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan
       bahwasanya dia telah membunuh salah seorang anak perempuan
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, membunuh
       shahabat-shahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian
       Al-Hurrah (pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya
       yang dibunuh dalam keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah ibn
       Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain keduanya. Dan mereka
       menyebutkan pula bahwa dia terkenal dengan peminum khamr dan
       menampakkan maksiat-maksiatnya.
       PADA SISI LAIN, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam
       yang adil, mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk. Dan dia
       dari kalangan shahabat atau pembesar shahabat serta salah
       seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari mereka
       meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka mengucapkan
       bahwa barangsiapa tidak berpendapat terhadap Yazid maka Allah
       akan menghentikan dia dalam neraka Jahannam. Mereka meriwayatkan
       dari Syaikh Hasan ibn ‘Adi bahwa dia adalah wali yang seperti
       ini dan seperti itu. Barangsiapa yang berhenti (tidak mau
       mengatakan demikian), maka dia berhenti dalam neraka karena
       ucapan mereka yang demikian terhadap Yazid. Setelah zaman Syaikh
       Hasan bertambahlah perkara-perkara batil dalam bentuk syair atau
       prosa. Mereka ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid dengan
       perkara-perkara yang menyelisihi apa yang ada di atasnya Syaikh
       ‘Adi yang agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena jalan
       beliau sebelumnya adalah baik, belum terdapat bid’ah-bid’ah yang
       seperti itu, kemudian mereka mendapatkan bencana dari pihak
       Rafidlah yang memusuhi mereka dan kemudian membunuh Syaikh Hasan
       ibn ‘Adi sehingga terjadilah fitnah yang tidak disukai Allah dan
       Rasul-Nya.
       Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang
       disepakati oleh para ulama dan Ahlul Iman. Karena sesungguhnya
       Yazid ibn Muawiyyah dilahirkan pada masa khalifah Utsman ibn
       ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi
       shallallahu ‘alaihi wasallam serta tidak pula termasuk shahabat
       dengan kesepakatan para ulama. Dia tidak pula terkenal dalam
       masalah Dien dan keshalihan. Dia termasuk kalangan pemuda-pemuda
       muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia memegang kekuasaan
       setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum muslimin
       dan diridlai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian
       dan kedermawanan dan tidak pernah menampakkan
       kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana dikisahkan oleh
       musuh-musuhnya.
       Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara
       besar yaitu:
       - Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu’anhu sedangkan Yazid tidak
       memerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan
       kegembiraan dengan pembunuhan Husein serta tidak memukul gigi
       taringnya dengan besi. Dia juga tidak membawa kepala Husein ke
       Syam. Dia memerintahkan untuk melarang Husein dengan
       melepaskannya dari urusan walaupun dengan memeranginya. Tetapi
       para utusannya melebihi dari apa yang diperintahkannya tatkala
       Samardi Al-Jausyan mendorong ‘Ubaidillah ibn Ziyad untuk
       membunuhnya. Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika Al-Husein
       radhiyallahu’anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau
       diajak ke front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir
       bersama tentara Yazid -pent), atau kembali ke Makkah, mereka
       menolaknya dan tetap menawannya. Atas perintah Umar ibn Sa’d,
       maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul Bait
       radhiyallahu ‘anhum dengan dhalim. Terbunuhnya beliau
       radhiyallahu’anhu termasuk musibah besar, karena sesungguhnya
       terbunuhnya Al-Husein -dan ‘Utsman ibn ‘Affan sebelumnya- adalah
       penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Demikian juga pembunuh
       keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah. Ketika
       keluarga beliau radhiyallahu’anhu mendatangi Yazid ibn
       Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka dan mengantarkan mereka ke
       Madinah.
       Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan
       Husein dan berkata: “Aku sebenarnya meridlai ketaatan penduduk
       Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi dia tidak menampakkan
       pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta tidak
       pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka
       akhirnya Ahlul Haq mencelanya karena meninggalkan kewajibannya,
       ditambah lagi dengan perkara-perkara yang lain. Sedangkan
       musuh-musuh mereka menambahkan kedustaan-kedustaan atasnya.
       - [size=10pt]Ahlil Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid
       dan mereka mengeluarkan utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun
       mengirimkan tentara kepada mereka, memerintahkan mereka untuk
       taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari mereka
       akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah
       mereka. Setelah tiga hari, tentara Yazid memasuki Madinah
       an-Nabawiyah, membunuh mereka, merampas harta mereka, bahkan
       menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci, kemudian
       mengirimkan tentaranya ke Makkah yang mulia dan mengepungnya.
       Yazid meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan
       mengepung Makkah dan hal ini meru­pakan permusuhan dan
       kedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.
       [size=11pt]Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para
       imam-imam umat ini adalah mereka tidak melaknat dan tidak
       mencintainya. Shalih ibn Ahmad ibn Hanbal berkata: Aku katakan
       kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka
       cinta kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai
       anakku, apakah akan mencintai Yazid seorang yang beriman kepada
       Allah dan hari akhir?” Aku bertanya: “Wahai ayahku, mengapa
       engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai anakku, kapan
       engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?”
       Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau
       menulis hadits dari Yazid ibn Mu’awiyyah?” Dia berkata: “Tidak,
       dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan
       terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”
       Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah raja dari
       raja-raja (Islam -pent). Mereka tidak mencintainya seperti
       mencintai orang-orang shalih dan wali-wali Allah dan tidak pula
       melaknatnya. Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat
       seorang muslim secara khusus (ta yin), berdasarkan apa yang
       diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar ibn
       Khaththab radhiyallahu’anhu: Bahwa seseorang yang dipanggil
       dengan Hammar sering minum khamr. Acap kali dia didatangkan
       kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dicambuknya.
       Maka berkatalah seseorang: “Semoga Allah melaknatnya. Betapa
       sering dia didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
       wasallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
       “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan
       Rasul-Nya.” [size=10pt](HR. Bukhari)
       Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang
       membolehkan laknat terhadapnya karena mereka meyakini bahwa
       Yazid telah melakukan kedhaliman yang menyebabkan laknat bagi
       pelakunya.
       Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia
       seorang muslim yang memegang pemerintahan di zaman para shahabat
       dan dibai’at oleh mereka. Serta mereka berkata: “Tidak benar apa
       yang dinukil tentangnya padahal dia memiliki kebaikan-kebaikan,
       atau dia melakukannya dengan ijtihad.”
       Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam
       (Ahlus Sunnah), bahwa mereka tidak mengkhususkan kecintaan
       kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di samping itu kalaupun
       dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin
       meng­ampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia
       memiliki kebaikan-kebaikan yang besar.
       Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran bint
       Malhan radhiyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi
       wasallam bersabda:
       [right]…&#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1608;&#1617;&#1614;&#1604;&#1615;
       &#1580;&#1614;&#1610;&#1618;&#1588;&#1613;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1571;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614;&#1578;&#1616;&#1609;
       &#1610;&#1614;&#1594;&#1618;&#1586;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;
       &#1605;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1577;&#1614;
       &#1602;&#1614;&#1610;&#1618;&#1589;&#1614;&#1585;&#1614;
       &#1605;&#1614;&#1594;&#1618;&#1601;&#1615;&#1608;&#1618;&#1585;&#1612;
       &#1604;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618;.
       (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1609;)
       [/right]
       "Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni.'
       [size=10pt](HR. Bukhari)
       Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah
       pimpinan Yazid ibn Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub
       al-Anshari radhiyallahu’anhu bersamanya.
       CATATAN: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan setelah itu
       dengan ucapannya: “Kadang-kadang sering tertukar antara Yazid
       [i]ibn Mu’ awiyah dengan pamannya Yazid ibn Abu Sufyan. Padahal
       sesungguhnya Yazid ibn Abu Sufyan adalah dari kalangan Shahabat,
       bahkan orang-orang pilihan di antara mereka dan dialah keluarga
       Harb (ayah Abu Sufyan ibn Harb -pent) yang terbaik. Dan beliau
       adalah salah seorang pemimpin Syam yang diutus oleh Abu Bakar
       ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu ketika pembebasan negeri Syam. Abu
       Bakar ash-Shiddiq pernah berjalan bersamanya ketika
       mengantarkannya, sedangkan dia berada di atas kendaraan. Maka
       berkatalah Yazid ibn Abu Sufyan: “Wahai khalifah Rasulullah,
       naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.” Maka
       berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan
       turun, se­sungguhnya aku mengharapkan hisab dengan
       langkah-langkahku ini di jalan Allah. Ketika beliau wafat
       setelah pembukaan negeri Syam di zaman pemerintahan Umar
       radhiyallahu’anhu, beliau mengangkat saudaranya yaitu Mu’awiyah
       untuk menggantikan kedudukannya.[/i]
       Kemudian Mu’awiyah mempunyai anak yang bernama Yazid di zaman
       pemerintahan ‘Utsman ibnu ‘Affan dan dia tetap di Syam sampai
       terjadi peristiwa yang terjadi.
       Yang wajib adalah untuk meringkas yang demikian dan berpaling
       dari membicarakan Yazid ibn Mu’awiyah serta bencana yang menimpa
       kaum muslimin karenanya dan sesungguhnya yang demikian merupakan
       bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. Karena dengan
       sebab itu sebagian orang bodoh meyakini bahwa Yazid ibn
       Mu`awiyah termasuk kalangan shahabat dan bahwasanya dia termasuk
       kalangan tokoh-tokoh orang shalih yang besar atau imam-imam yang
       adil. Hal ini adalah kesalahan yang nyata.” (Diambil dari Majmu’
       Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jilid 3, hal. 409-414)
       &#10043; Bid’ah-bid’ah yang Berhubungan dengan Terbunuhnya
       Al-Husein
       Kemudian muncullah bid’ah-bid’ah yang banyak yang diadakan oleh
       kebanyakan orang-or­ang terakhir berkenaan dengan perisiwa
       terbunuhnya Al-Husein, tempatnya, waktunya dan lain-lain.
       Mulailah mereka mengada-adakan An-Niyaahah (ratapan) pada hari
       terbunuhnya Al-Husein yaitu pada hari ‘Asyura (10 Muharram),
       penyiksaan diri, mendhalimi binatang-binatang ternak, mencaci
       maki para wali Allah (para shahabat) dan mengada-adakan
       kedustaan-kedustaan yang diatasnamakan ahlul bait serta
       kemungkaran-kemungkaran yang jelas dilarang dalam kitab Allah
       dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam serta
       berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
       Al-Husein radhiyallahu’anhu telah dimuliakan oleh Allah
       subhanahu wa ta’ala dengan mati syahid pada hari ‘Asyura dan
       Allah telah menghinakan pembunuhnya serta orang yang
       mendukungnya atau ridla dengan pembunuhannya. Dan dia mempunyai
       teladan pada orang sebelumnya dari para syuhada, karena
       sesungguhnya dia dan saudaranya adalah penghulu para pemuda
       ahlul jannah. Keduanya telah dibesarkan pada masa kejayaan Islam
       dan tidak mendapatkan hijrah, jihad, dan kesabaran atas
       gangguan-gangguan di jalan Allah sebagaimana apa yang telah
       didapati oleh ahlul bait sebelumnya. Maka Allah mulyakan
       keduanya dengan syahid untuk menyempurnakan kemulyaan dan
       mengangkat derajat keduanya.
       Pembunuhan beliau merupakan musibah besar dan Allah subhanahu
       wata’ala telah mensyari’atkan untuk mengucapkan istirja’ (Inna
       lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika musibah dalam ucapannya:
       [right]…&#1608;&#1614;&#1576;&#1614;&#1588;&#1617;&#1616;&#1585;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1589;&#1617;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1585;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;
       &#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575;
       &#1571;&#1614;&#1589;&#1614;&#1575;&#1576;&#1614;&#1578;&#1618;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1605;&#1615;&#1589;&#1616;&#1610;&#1576;&#1614;&#1577;&#1612;
       &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;
       &#1585;&#1614;&#1575;&#1580;&#1616;&#1593;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       &#1571;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614;&#1574;&#1616;&#1603;&#1614;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618;
       &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1612;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618;
       &#1608;&#1614;&#1585;&#1614;&#1581;&#1618;&#1605;&#1614;&#1577;&#1612;
       &#1608;&#1614;&#1571;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614;&#1574;&#1616;&#1603;&#1614;
       &#1607;&#1615;&#1605;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1607;&#1618;&#1578;&#1614;&#1583;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;.
       [/right]
       “…. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orangyang sabar,
       (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
       mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka
       itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari
       Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
       (Al-Baqarah: 155-157)
       Sedangkan mereka yang mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh
       Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka meratapinya
       seperti memukul pipi, merobek baju, dan menyeru dengan
       seruan-seruan jahiliyah, maka balasannya sangat keras
       sebagaimana diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Ibnu
       Mas’ud radhiyallahu’anhu, berkata: Bersabda Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam:
       [right][size=16pt]&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1587;&#1614;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;
       &#1605;&#1614;&#1606;&#1618;
       &#1604;&#1614;&#1591;&#1614;&#1605;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1615;&#1583;&#1615;&#1608;&#1618;&#1583;&#1614;&#1548;
       &#1608;&#1614;&#1588;&#1614;&#1602;&#1617;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1610;&#1615;&#1608;&#1618;&#1576;&#1614;&#1548;
       &#1608;&#1614;&#1583;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;
       &#1576;&#1616;&#1583;&#1614;&#1593;&#1618;&#1608;&#1614;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1575;&#1607;&#1616;&#1604;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1577;&#1616;.
       (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1609;
       &#1608;&#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)
       [/right]
       "Bukan dari golongan kami, siapa yang memukul-mukul pipi,
       merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah."
       [size=10pt](HR. Bukhari dan Muslim)
       Dalam hadits lain, juga dalam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa
       Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa dia berkata: “Aku berlepas
       diri dari orang-orang yang Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi
       wasallam berlepas diri darinya, yaitu bahwasanya Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari al-Haliqah,
       ash-Shaliqah dan asy-Syaaqqah."[/i] (HR. Bukhari dan Muslim)
       Dan dalam Shahih Muslim dari Abi Malik Al-Asy’ari bahwa
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
       [right]&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1576;&#1614;&#1593;&#1612;
       &#1601;&#1616;&#1609;
       &#1571;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614;&#1578;&#1616;&#1609;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1571;&#1614;&#1605;&#1618;&#1585;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1575;&#1607;&#1616;&#1604;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1577;&#1616;
       &#1604;&#1575;&#1614;
       &#1610;&#1614;&#1578;&#1618;&#1585;&#1615;&#1603;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;&#1607;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614;:
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1582;&#1618;&#1585;&#1615;
       &#1601;&#1616;&#1609;
       &#1575;&#1618;&#1604;&#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1591;&#1617;&#1614;&#1593;&#1618;&#1606;&#1615;
       &#1601;&#1616;&#1609;
       &#1575;&#1618;&#1604;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1618;&#1604;&#1573;&#1616;&#1587;&#1618;&#1578;&#1616;&#1587;&#1618;&#1602;&#1614;&#1575;&#1569;&#1615;
       &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1606;&#1615;&#1580;&#1615;&#1608;&#1618;&#1605;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614;&#1577;&#1615;.
       (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)
       [/right]
       "Empat perkara yang terdapat pada umatku dari perkara perkara
       jahiliyah yang mereka tidak meninggalkannya: bangga dengan
       kedudukan, mencela nasab (keturunan), mengharapkan hujan dengan
       bintang-bintang dan meratapi mayit." [size=10pt](HR. Muslim)
       Dan juga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
       [right]…&#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1574;&#1616;&#1581;&#1614;&#1577;&#1614;
       &#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1605;&#1618;
       &#1578;&#1614;&#1578;&#1615;&#1576;&#1618;
       &#1602;&#1614;&#1576;&#1618;&#1604;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1608;&#1618;&#1578;&#1616;
       &#1580;&#1614;&#1575;&#1574;&#1614;&#1578;&#1618;
       &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1577;&#1616;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1587;&#1616;&#1585;&#1618;&#1576;&#1614;&#1575;&#1604;&#1612;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1602;&#1614;&#1591;&#1616;&#1585;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1548;
       &#1608;&#1614;&#1583;&#1614;&#1585;&#1618;&#1593;&#1612;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;
       &#1604;&#1614;&#1607;&#1614;&#1576;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;.
       (&#1589;&#1581;&#1610;&#1581; &#1585;&#1608;&#1575;&#1607;
       &#1571;&#1581;&#1605;&#1583;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1591;&#1576;&#1585;&#1575;&#1606;&#1609;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1581;&#1575;&#1603;&#1605;)
       [/right]
       "Sesungguhnya perempuan tukang ratap jika tidak bertaubat
       sebelum matinya dia akan dibangkitkan di hari kiamat sedangkan
       atasnya pakaian dari timah dan pakaian dada dari nyala api
       neraka." [size=10pt](HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim)
       Hadits-hadits tentang masalah ini bermacam-­macam.
       Demikianlah keadaan orang yang meratapi mayit dengan
       memukul-mukul badannya, merobek-robek bajunya dan lain-lain.
       Maka bagaimana jika ditambah lagi bersama dengan itu kezaliman
       terhadap orang-orang mukmin (para shahabat), melaknat mereka,
       mencela mereka, serta sebaliknya membantu ahlu syiqaq
       orang-orang munafiq dan ahlul bid’ah dalam kerusakan dien yang
       mereka tuju serta kemungkaran lain yang Allah lebih
       mengetahuinya. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       Maraji’:
       - [size=9pt]Minhajus-Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
       - [size=9pt]Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
       - [size=9pt]Al-’Awashim Minal Qawashim, oleh Qadhi Abu Bakar
       Ibnul Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbudin
       Al-Khatib.
       - [size=9pt]Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir.
       - [size=9pt]Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar
       Al-Asqalani.
       - [size=9pt]Shahih Muslim dengan Syarh Nawawi.
       - [size=9pt]Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh
       Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
       Baca selengkapnya syubhat serta bid’ah terbunuhnya Hasan Husein
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1