DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ KELUARGA RASULULLAH ص&#...
*****************************************************
#Post#: 253--------------------------------------------------
🟠 Istri-Istri Nabi زوجات
النبي : ‘Aisyah Bint Abu Bakar
DIR By: LailaDelon
Date: December 31, 2023, 11:46 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ ‘Aisyah bint Abu Bakar [font=georgia]radhiyallahu
'anha[/font]
(Wafat 57 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=103
Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi wasallam membuka lembaran
kehidupan rumah-tangganya dengan 'Aisyah radhiyallahu ‘anha yang
telah banyak dikenal. 'Aisyah laksana lautan luas dalam
kedalaman ilmu dan takwa. Di kalangan wanita, dialah sosok yang
banyak menghafal hadits-hadits Nabi, dan di antara istri-istri
Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi
yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani
beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang
tua 'Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah.[/i]
Ketika wahyu datang kepada Rasulullah, Jibril membawa kabar
bahwa 'Aisyah adalah istrinya di dunia dan akhirat, sebagaimana
diterangkan di dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah:
"Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutera hijau
kepada Nabi [i]shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, ini
adalah istrimu di dunia dan akhirat.”[/i] Dialah yang menjadi
sebab atas turunnya firman Allah yang menerangkan kesuciannya
dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.
✻ Nasab dan Masa KeciI 'Aisyab
Aisyah adalah putri Abdullah ibn Quhafah ibn Amir ibn Amr ibn
Ka’ab ibn Sa’ad ibn Tamim ibn Marrah ibn Ka’ab ibn Luay, yang
lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq dan berasal
dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayahnya adalah
ash-Shiddiq dan orang pertama yang mempercayai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi Isra’ Mi’raj, saat
orang-orang tidak mempercayainya.
Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi,
riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau
Wa’id bint Amir ibn Uwaimir ibn Abdi Syams. Aisyah pun
digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana
perkataannya, “Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah
menganut Islam.”
Ummu Ruman memberikan dua orang anak kepada Abu Bakar, yaitu
Abdurrahman dan Aisyah. Anak Iainnya, yaitu Abdullah dan Asma,
berasal dan Qatlah bint Abdul Uzza, istri pertama yang dia
nikahi pada masa jahiliyah. Ketika masuk Islam, Abu Bakar
menikahi Asma bint Umais yang kemudian melahirkan Muhammad, juga
menikahi Habibah bint Kharijah yang melahirkan Ummu Kultsum.
Aisyah dilabirkan empat tahun sesudah Nabi diutus menjadi
Rasulullah. Ketika dakwah Islam dihambat oleh orang-orang
musyrik, Aisyah melihat bahwa ayahnya menanggung beban yang
sangat besar. Semasa kecil dia bermain- main dengan lincah, dan
ketika dinikahi Rasulullah usianya belum genap sepuluh tahun.
Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwâ Rasulullah
membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.
✻ Pernikahan yang Penuh Berkah
Dua tahun setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha, datang
wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menikahi
'Aisyah. Setelah itu Rasulullah berkata kepada 'Aisyah, “Aku
melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat
mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutera seraya
berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya,
tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Jika ini
benar dari Allah, niscaya akan terlaksana.” Mendengar kabar itu,
Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika
Rasulullah setuju menikahi putri mereka, 'Aisyah. Beliau
mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang
penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah bersama para
sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Makkah.
Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk
menjemput mereka, termasuk di dalamnya 'Aisyah radhiyallahu
‘anha. Karena cuaca buruk yang melanda Madinah, 'Aisyah sakit
keras dan badannya menyusut seperti juga dialami orang-orang
Muhajirin. Menyaksikan hal itu, Rasulullah berdo'a, “Ya Allah,
jadikanlah kami sebagai orang yang mencintai Madinah sebagaimana
cinta kami kepada Makkah, atau bahkan lebih lagi. Sembuhkanlah
penghuninya dan penyakit. Berikanlah keberkahan kepada kami
dalam timbangan dan takarannya. Lindungilah kami dan penyakit,
dan alihkanlah penyakit itu ke Juhfah.” Allah mengabulkan do'a
Rasulullah, dan cuaca berangsur membaik, sehingga hilanglah
penyakit yang melanda kaum muhajirin. 'Aisyah pun sembuh dan
bersiap-siap menghadapi hari pernikahan dengan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan izin Allah menikahlah 'Aisyah dengan maskawin lima ratus
dirham. Ketika ditanya oleh Abu Salamah ibn Abdurrahman tentang
jumlah mahar yang diberikan Rasulullah:
“Aisyah menjawab, Mahar Rasulullah kepada istri-istrinya adalah
dua belas uqiyah dan satu nasy. Tahukah kamu satu nasy itu?
Dijawab, Tidak. Kemudian lanjut Aisyah. Satu nasy itu sama
dengan setengah uqiyah, yaitu lima ratus dirham. Maka inilah
mahar Rasulullah terhadap istri-istri beliau.” (HR. Muslim)
✻ Istri Kecintaan Rasulullah [font=georgia]shallallahu
‘alaihi wasallam[/font]
Aisyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan Masjid Nabawi.
Di kamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut
juga sebagai tempat turunnya wahyu. Di hati Rasulullah,
kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan itu tidak dialami oleh
istri-istri beliau yang lain. Di dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Anas ibn Malik dikatakan, “Cinta pertama yang terjadi di
dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah.”
Di dalam riwayat Tirmidzi dikisahkan, “Bahwa ada seseorang yang
menghina Aisyah di hadapan Ammar ibn Yasir sehingga Ammar
berseru kepadanya, ‘Sungguh celaka kamu. Kamu telab menyakiti
istri kecintaan Rasulullah’.”
Selain itu ada juga kisah lain yang menunjukkan besarnya cinta
Nabi kepada Aisyah, dan itu sudah diketahui oleh kaurn muslimin
saat itu. Oleh karena itu, kaum muslimin senantiasa
menanti-nanti datangnya hari giliran Rasulullah pada Aisyah
sebagai hari untuk menghadiahkan sesuatu kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam. Keadaan seperti itu menimbulkan kecemburuan di
kalangan istri Rasulullah lainnya. Tentang hal itu Aisyah pernah
berkata:
“Orang-orang berbondong-bondong memberi hadiah pada hari giliran
Rasulullah padaku. Karena itu, teman-temanku (istri Nabi yang
lainnya) berkumpul di tempat Ummu Salamah. Mereka berkata, ‘Hai
Ummu Salamah, demi Allah, orang-orang berbondong-bondong
mernberikan hadiah pada hari giliranRasulullah di rumah Aisyah,
sedangkan kita juga ingin rnemperoleh kebaikan sebagaimana yang
diinginkan oleh Aisyah.’ Melihat reaksi seperti itu, Rasulullah
meminta kaum muslimin untuk memberikan hadiah kepada beliau pada
hari giliran istri Rasulullah yang mana saja. Ummu Salamah pun
telah menyatakan keberatan kepada Rasulullah. Dia berkata,
“Rasulullah berpaling dariiku. Ketika beliau mendatangi aku,
akupun kernbali mernperingatkan hal itu, tetapi beliau berbuat
hal yang serupa. Ketika aku rnengingatkan beliau untuk yang
ketiga kalinya, beliau tetap berpaling dariku, sehingga akhirnya
beliau bersabda, ‘Demi Allah, wahyu tidak turun kepadaku selama
aku berada di dekat kalian, kecuali ketika aku dalam satu
selimut bersama ‘Aisyah.” (HR. Muslim)
Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah terhadap
‘Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan ‘Aisyah
yang sangat terhormat. Bahkan ketika ‘Aisyah wafat, Ummu Salamah
berkata, ”Demi Allah, dia adalah manusia yang paling beliau
cintai setelah ayahnya (Abu Bakar).”
Suatu waktu, Rasulullah ditanya oleh Amru ibn ‘Aash, “Siapakah
manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “‘Aisyah!”
Amru bertanya lagi, “Dan dari kalangan laki-laki?” Beliau
menjawab, “Ayahnya!.” (Hadits muttafaqirn ‘alaihi)
Di antar istri-istri Rasulullah, Saudah bint Zum’ah sangat
memahami keutamaan-keutamaan ‘Aisyah, sehingga dia merelakan
seluruh malam bagiannya untuk ‘Aisyah.
Suatu hari Shafiyah ibn Huyay meminta kerelaan Rasulullah
melalui ‘Aisyah, yaitu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dari ‘Aisyah.
“Suatu ketika Rasulullah enggan mendekati Shafiyah [i]bint Huyay
ibn Ahthab. Karena itu Shafyyah berkata kepada ‘Aisyah, ‘Hai
‘Aisyah, apakah engkau dapat merelakan Rasulullah kepadaku? Dan
engkau akan mendapatkan hari bagianku. ‘Aisyab menjawab, ‘Ya!’
Kernudian ‘Aisyah mengambil kerudung yang ditetesi za’faran dan
disiram dengan air agar lebih harum. Setelah itu dia duduk di
sebelah Rasulullah, namun beliau bersabda, ‘Ya ‘Aisyah,
menjauhlah engkau dariku. Hari ini bukan hari bagianmu. ‘Aisyab
berkata, ‘Ini adalah keutamaan yang diberiikan Allah kepada dia
yang dikehendaki-Nya.’ ‘Aisyah kemudian menceritakan duduk
permasalahannya dan Rasulullah pun rela kepada Shafyyah.”[/i]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ‘Aisyah sangat
memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah rela. Dia
menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak
menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa
mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk
Rasulullah. Menjelang wafat, Rasulullah meminta izin kepada
istri-istrinya untuk beristirahat di rumah ‘Aisyah selama
sakitnya hingga wafatnya. Dalam hal ini ‘Aisyah berkata,
“Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di
pangkuanku.”
✻ Fitnah Terhadapnya
‘Aisyah pernah mengalami fitnah yang mengotori lembaran sejarah
kehidupan sucinya, hingga turun ayat Al-Qur’an yang menerangkan
kesucian dirinya. Kisahnya bermula dari sini. Seperti biasanya,
sebelum berangkat perang, Rasulullah mengundi istrinya yang akan
menyertainya berperang. Ternyata undian jatuh kepada ‘Aisyah,
sehingga ‘Aisyah yang menyertai beliau dalam Perang Bani
al-Musthaliq. Saat itu bertepatan dengan turunnya perintah
memakai hijab. Setelah perang selesai dan kaum muslimin memetik
kemenangan, Rasulullah kembali ke Madinah. Ketika tentara Islam
tengah beristirahat di sebuah pelataran, ‘Aisyah masih berada di
dalam sekedup untanya. Pada malam harinya, Rasulullah
mengizinkan rombongan berangkat pulang. Ketika itu ‘Aisyah pergi
untuk hajatnya, dan kembali. Ternyata, kalung di lehernya jatuh
dan hilang, sehingga dia keluar dan sekedup dan mencari-cari
kalungnya yang hilang. Ketika pasukan siap berangkat, sekedup
yang mereka angkat ternyata kosong. Mereka mengira ‘Aisyah
berada di dalam sekedup. Setelah kalungnya ditemukan, ‘Aisyah
kembali ke pasukan, namun alangkah kagetnya karena tidak ada
seorang pun yang dia temukan. ‘Aisyah tidak meninggalkan tempat
itu, dan mengira bahwa penuntun unta akan tahu bahwa dirinya
tidak berada di dalamnya, sehingga mereka pun akan kembali ke
tempat semula. Ketika ‘Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan ibn
Mu’thil yang terheran-heran melihat ‘Aisyah tidur. Dia pun
mempersilakan ‘Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di
depannya. Berawal dari kejadian itulah fitnah tersebar, yang
disulut oleh Abdullah ibn Ubay ibn Salul.
Ketika tuduhan itu sarnpai ke telinga Nabi, beliau mengumpulkan
para sahabat dan meminta pendapat mereka. Usamah ibn Zaid
berkata, “Ya Rasulullah, dia adalah keluargamu … yang kau
ketahui hanyalah kebaikan semata.“ Ali juga berpendapat, “Ya
Rasulullah, Allah tidak pernah mempersulit engkau. Banyak wanita
selain dia.” Dari perkataan Ali, ada pihak yang memperuncing
masalah sehingga terjadilah pertentangan berkelanjutan antara
‘Aisyah dan Ali. Mendengar pendapat-pendapat dari para sahabat
Nabi, bentambah sedihlah ‘Aisyah, terlebih setelah dia melihat
adanya perubahan sikap pada diri Nabi.
Ketika ‘Aisyah sedang duduk-duduk bersarna orang tuanya,
Rasulullah menghampirinya dan bersabda:
“Wahai ‘Aisyah aku mendengar berita bahwa kau telah begini dan
begitu. Jika engkau benar-benar suci, niscaya Allah akan
menyucikanmu. Akan tetapi, jika engkau telah berbuat dosa,
bertobatlah dengan penuh penyesalan, niscaya Allah akan
mengampuni dosamu.” ‘Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tahu
bahwa engkau telah mendengar kabar inmi, dan ternyata engkau
mempercayainya. Seandainya aku katakan bahwa aku tetap suci pun,
niscaya hanya Allah-lah yang mengetahui kesucianku, dan tentunya
engkau tak akan mempercayaiku. Akan tetapi, jika aku mengakui
perbuatan itu, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tetap suci,
maka kau akan mempercayai perkataanku. Aku hanya dapat
mengatakan apa yang dikatakan Nabi Yusuf, ‘Maka bersabar itu
lebih baik’. Dan Allah pula yang akan menolong atas apa yang
engkau gambarkan.”
‘Aisyah sangat mengharapkan Allah menurunkan wahyu berkaitan
dengan masalahnya, namun wahyu itu tidak kunjung turun. Baru
setelah beberapa saat, sebelum seorang pun meninggalkan rumah
Rasulullah, wahyu yang menerangkan kesucian ‘Aisyah pun turun
kepada beliau. Rasulullah segera menemui ‘Aisyah dan berkata,
“Hai ‘Aisyah, Allah telah menyucikanmu dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah
dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong
itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap
seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang
dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil
bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya
azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)
Demikianlah kemulian yang disandang ‘Aisyah, sehingga
bertambahlah kemuliaan dan keagungannya di hati Rasulullah.
✻ Perjalanan Hidup yang Mulia
Pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kelemahan, begitu juga
halnya dengan ‘Aisyah, yang selain memiliki kehormatan dan
martabat juga memiliki kekurangan. Dalam hal ini dia pernah
berkata,
“Aku tidak pernah melihat pembuat makanan seperti Shafiyyah. Dia
selalu menghadiahi makanan kepada Rasulullah. Tanpa sadar aku
pernah memecahkan tempat makanan yang dibawa Shafiyyah. Aku
bertanya kepada Rasulullah apa yang dapat dijadikan sebagai
tempat yang pecah itu. Rasulullab menjawab, ‘Tempat diganti
dengan tempat dan makanan diganti dengan makanan.“ (HR. Bukhari)
‘Aisyah pernah berkata:
“Halah [i]bint Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, meminta
izin kepada Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. merasa bahwa cara Halah meminta izin sama
dengan cara Khadijah meminta izin, dan beliau merasa senang atas
semua itu. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, inilah Halah bint
Khuwailid.’ Aku berkata, ‘Apa yang engkau sebut itu adalab
seorang nenek dari nenek-nenek kaum Quraisy, yang kedua sudut
mulutnya merah. Dia telah tua renta ditelan masa. Semoga Allah
memberi untukmu pengganti yang lebih baik daripada dia.‘
Mendengar itu Rasulullah menjawab, ‘Allah tidak akan memberikan
pengganti yang lebib baik darpada Khadijah. Dia telah beriman
kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Dia telah
mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku. Dia telah
mendermakan harta bendanya untuk perjuanganku ketika orang lain
menolak memberikan harta mereka. Allah telah memberkahiku dengan
putra-putri lewat Khadijah ketika yang lain tidak memberiku
anak.”[/i] (HR. Ahmad dan Muslim)
Terdapat beberapa pendirian yang tegas dan pemecahan problema
hukum yang penting, baik khusus yang berkaitan dengan wanita
maupun secara umum yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslimin
secara umum. Diriwayatkan bahwa pada zaman dahulu seorang
laki-laki dapat menceraikan istrinya dengan sekehendak hati.
Wanita itu akan kembali menjadi istrinya jika suaminya membujuk
kembali dalam keadaan iddah, sekalipun dia telah menceraikannya
seratus kali. Bahkan suami itu berkata kepada istrinya, “Demi
Allah, aku akan menceraikanmu sehingga engkau menjadi jelas, dan
aku tidak akan memberimu nafkah selamanya”. Istrinya menemui
‘Aisyah dan menceritakan. Dia menjawab, Aku menceraikanmu jika
iddahmu hampir berakhir, dan jika engkau telah suci kembali, aku
akan merujukmu kembali. Istrinya menemui ‘Aisyah dan
menceritakan masalah yang dihadapinya. ‘Aisyah terdiarn hingga
Rasulullah datang. Beliau pun diam tidak dapat menyelesaikan
masalah tersebut hingga turunlah ayat:
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelab itu boleh rujuk
lagi dengan cara yang ma‘ruf atau menceraikannya dengan cara
yang baik….” (QS. Al-Baqarah: 229)
Dalam penetapan hukum pun, ‘Aisyah kerap langsung menemui
wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Suatu ketika dia
mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di tempat
pemandian umum. ‘Aisyah mendatangi mereka dan berkata,
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di rumah
selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup
antara dia dengan Tuhannya.“ (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu
Majah)
‘Aisyah pun pernah menyaksikan adanya perubahan pada pakaian
yang dikenakan wanita-wanita Islam setelah Rasulullah wafat.
‘Aisyah menentang perubahan tersebut seraya berkata, “Seandainya
Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa kini),
niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana
wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.”
Di dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah bint
Abdirrahman menemui Ummul-Mukminin ‘Aisyah. Ketika itu Hafsyah
mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat ‘Aisyah menarik
kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal.
✻ Hadist yang Diriwayatkan ‘Aisyah
‘Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai
masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Al-Qur’an,
hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu
yang dimiliki ‘Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim
mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan
‘Aisyah. Abu Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami
menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada ‘Aisyah.”
Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang
tidak dapat mereka selesaikan sendiri. ‘Aisyah pun sering
mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan
untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya. Salah
satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah.
Ketika itu Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh
Fadhi ibnu Abbas bahwa barang siapa yang masih dalam keadaan
junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa. Ketika Abu
Hurairah bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah
pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian
beliau meneruskan puasanya.” Setelah mengetahui hal itu, Abu
Hurairah berkata, “Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits
tersebut.” Kamar ‘Aisyah lebih banyak berfungsi scbagai sekolah,
yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru untuk
menuntut ilmu. Bagi murid yang bukan mahramnya, ‘Aisyah
senantiasa membentangkan kain hijab di antara mereka. ‘Aisyah
tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya
dari A1-Qur’an dan Sunnah.
‘Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah
sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau,
sebagairnana perkataannya ini:
“Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu
hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri,
sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ (HR. Bukhari)
‘Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada
Rasulullah jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang
suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dia memperoleh
ilmu langsung dan Rasulullah sebagaimana ungkapannya ini:
“Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ‘Dan orang-orang
yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang
takut….’ (QS. Al-Mu’minun: 60). Apakah yang dimaksud dengan ayat
di atas adalah para peminum khamar dan pencuri?” Beliau
menjawab, ‘Bukan, putri ash-Shiddiq! Mereka adalah orang yang
berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut (amal mereka
tidak diterima). Mereka menyegerakan diri dalam kebaikan, tetapi
mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut.” (HR. Ibnu
Majah dan Tirmidzi).
‘Aisyah berkata lagi: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang
firman Allah: ‘Yauma tabdalul-ardhu ghairal-ardha was-samawati.
Di manakah manusia berada, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Manusia berada di atas shirath.“ (HR. Muslim)
‘Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga para ahli hadits
menernpatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits
setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas ibn Malik, dan Ibnu Abbas.
‘Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun,
yaitu meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dan
Rasulullah dan menghafalkannya di rumah. Karena itu, sering dia
meriwayatkan hadits yang tidak pernah diriwayatkan oleh perawi
hadits lain. Para sahabat penghafal hadits sering mengunjungi
rurnah ‘Aisyah untuk langsung memperoleh hadits Rasulullah
karena kualitas kebenarannya sangat terjamin. Jika berselisih
pendapat tentang suatu masalah, tidak segan-segan mereka meminta
penyelesaian dari ‘Aisyah. Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar,
anak saudara laki-laki ‘Aisyah, mengatakan bahwa pada masa
kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, ‘Aisyah rnenjadi
penasihat pemerintah hingga wafat.
‘Aisyah dikenal sebagai perawi hadits yang mengistinbath hukum
sendiri ketika kejelasan hukumnya tidak ditemukan dalam
Al-Qur’an dan hadits lain. Dalam hal ini, Abu Salamah berkata,
“Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih mengetahui Sunnah
Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih
mengetahui bagaimana Al-Qur’an turun, serta lebih mengenal
kewajibannya selain ‘Aisyah.”
Suatu ketika Saad ibn Hisyam menemui ‘Aisyah, dan berkata, “Aku
ingin bertanya tentang bagaimana pendapatmu jika aku tetap
membujang selarnanya.” ‘Aisyah menjawab, “Janganlah kau lakukan
hal itu, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. bersabda tentang firman Allah: ‘Telah kami utus
rasul-rasul sebelummu, dan Kami telah ciptakan bagi mereka
istri-istri dan keturunan.’ Oleh karena itu, janganlah kamu
membujang.” Urwah ibn Zubeir, salah seorang murid ‘Aisyah,
sangat mengagumi keluarbiasaan penguasaan ilmu ‘Aisyah. Dia
berkata, “Aku berpikir tentang urusanmu. Sungguh aku
mengagumimu. Menurutku engkau adalah manusia yang paling banyak
mengetahui sesuatu.” ‘Aisyah berkata, “Apa yang menyebabkanmu
berpendapat seperti itu?” Dia menjawab, “Engkau adalah istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan putri Abu Bakar. Engkau
mengetahui hari-hari, nasab, dan syair orang-orang Arab.” Dia
berkata lagi, “Apa yang menyebabkan engkau dan ayahmu menjadi
orang yang paling pandai dariipada seluruh orang Quraisy? Aku
sangat mengagumi kepandaianmu tentang ilmu medis. Dari manakah
engkau mendapatkan ilmu itu?” ‘Aisyah menjawab, “Wahai Urwah,
sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. sering
sakit, sehingga dokter-dokter Arab dan bukan Arab datang
mengobati beliau. Dari merekalah aku belajar.”
Tentang penguasaan bahasa dan sastranya, kembali Urwah
berkomentar, “Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pun
yang lebih fasih dariipada ‘Aisyah selain Rasulullah sendiri.”
Al-Ahnaf ibn Qais berkata, “Aku telah mendengar khutbah Abu
Bakar, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, dan Alii ibn Abi
Thalib. Hingga saat ini aku belum pernah mendengar satu
perkataan pun dari makhluk Tuhan yang lebih berisi dan baik
daripada perkataan ‘Aisyah.” Salah satu contoh kefasihannya
dapat kita lihat dari kata-katanya pada kuburan ayahnya, Abu
Bakar:
“Allah telah mengilaukan wajahmu, dan bersyukur atas kebaikan
yang telah engkau perbuat. Engkau merendahkan dunia karena
engkau berpaling darinya. Akan tetapi, untuk engkau adalah
mulia, karena engkau selalu menghadap untuknya. Kalau peristiwa
terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah
kematianmu, Kitab Allah rnenghibur dengan kesabaran dan
menggantikan yang baik selainmu. Aku merasakan janji Allah yang
telah ditetapkan bagirnu dan ikhlas atas kepergianmu. Dengan
memohon dari-Nya gantimu dan aku berdo'a untukmu. Kami hanyalah
milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Bagimu salam
sejahtera dan rahmat Allah.”
Dari ‘Aisyah pun sering keluar kata-kata hikmah yang terkenal,
seperti:
“Bagi Allah mutiara takwa. Takkan ada kesembuhan bagi orang yang
di dalarn hatinya terbersit kemarahan. Pernikahan adalah
perbudakan, maka seseorang hendaklah melihat kepada siapa dia
mengabdikan putri kemuliaannya.”
✻ Rasulullah Wafat dan Dikuburkan di Kamarnya
Bagi ‘Aisyah, menetapnya Rasulullah selama sakit di kamarnya
merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat
beliau hingga akhir hayat. Di bawah ini dia melukiskan
detik-detik terakhir beliau menjelang wafat:
“Sungguh merupakan nikmat Allah bagiku, Rasulullab wafat di
rurnahku pada hariku dan dalam dekapanku. Allah telah menyatukan
ludahku dan ludah beliau menjelang wafat. Abdurrahman menemuiku,
di tangannya tergenggam siwak, sementara aku menyandarkan
beliau. Aku melihat beliau menoleh ke arah Abdurrahman, aku
segera memahami bahwa beliau menyukai siwak. Aku berbisik kepada
beliau, ‘Bolehkah aku haluskan siwak untukmu?’ beliau memberi
isyarat dengan kepala, sepertinya mengisyaratkan ‘ya’. Kemudian
beliau menyuruhku menghentikan menghaluskan siwak, sernentara di
tangan beliau ada bejana berisi air. Beliau mernasukkan kedua
belab tangan dan mengusapkannya ke wajah seraya berkata, ‘Laa
ilaaha illahu… setiap kematian mengalami sekarat (beliau
mengangkat tangannya)… pada Allah Yang Maha Tinggi. ‘Beliau
menggenggam tangan dan perlahan-lahan tangan beliau jatuh ke
bawab.“ (HR. Muttafaq Alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. dikuburkan di kamar
‘Aisyah, tepat di tempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam
tidurnya, ‘Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya.
Ketika dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, Abu Bakar
berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka di rumahmu akan
dikuburkan tiga orang yang paling mulia di muka bumi.” Ketika
Rasulullah wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang
paling mulia di antara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan
Umar dikubur di rumah ‘Aisyah.
✻ Setelah Rasulullah Wafat
Setelah Rasulullah wafat, ‘Aisyah senantiasa dihadapkan pada
cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati
yang sabar, penuh kerelaan terhadap takdir Allah, dan selalu
berdiam diri di dalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias
dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu,
dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan
Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
dosa dari kamu, hai ahlul-bait, dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Rumah ‘Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala
penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah ke makam Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika istri-istri Nabi hendak
mengutus Utsman menghadap Khalifàh Abu Bakar untuk menanyakan
harta warisan Nabi yang merupakan bagian mereka, ‘Aisyah justru
berkata, “Bukankah Rasulullah telah berkata, ‘Kami para nabi
tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu
adalah sedekah.”
Semasa kekhalifahan Abu Bakar, kadar keilmuan ‘Aisyah tidak
begitu tampak di kalangan kaum muslimin, karena dengan jarak
waktu wafatnya Rasulullah sangat dekat, juga karena kaum
muslimin sedang disibukkan oleh perang Riddah (perang melawan
kaum murtad). Setelah dua tahun tiga bulan dan sepuluh malam,
khalifah pertama, Abu Bakar, meninggal dunia. Sebelum meninggal,
Abu Bakar berwasiat kepada putrinya agar menguburkannya di sisi
Rasulullah. ‘Aisyah melaksanakan perintah ayahnya, dan ketika
Abu Bakar rneninggal, ‘Aisyah menguburkan jenazahnya di sisi
Nabi, kepalanya diletakkan pada sisi pundak Nabi.
Ilmu ‘Aisyah mulai tampak pada masa kekhalifahan Umar, sehingga
para sahabat besar senantiasa merujuk pendapat ‘Aisyah jika
mereka dihadapkan pada permasalahan- permasalahan yang berkenaan
dengan kaum muslimin. Di dalam Thabaqat, dari Mahmud ibn Luhaid,
lbnu Saad berkata, “Para istri Nabi banyak rnenghafal hadits
Nabi, namun hafalan ‘Aisyah dan Ummu Salamah tidak ada yang
dapat menandingi. ‘Aisyah adalah penasihat kekhalifahan Umar dan
Utsman hingga dia meninggal. Pada waktu itu, Umar sangat
memperhatikan keadaan istri-istri Nabi. Tentang hal itu ‘Aisyah
berkata, ‘Umar ibn Khaththab selalu memperhatikan keadaan kami
dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia memiliki tempat kurma
besar yang selalu diisi buah-buahan dan kemudian dikirimkan
kepada istri-istrii Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Begitu
juga dengan Utsman ibn Affan. ‘Aisyah sangat menghormati Utsman
karena kedudukannya sangat terhormat di hati Rasulullah. Utsman
ibn Affan memiliki kedermawanan dan rasa malu yang besar,
sehingga ‘Aisyah pernah berkata, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. sangat malu jika bertemu dengan Utsman. Jika Nabi
bertemu dengannya, beliau akan duduk di sampingnya dan merapikan
bajunya.’ Ketika ‘Aisyah menanyakan hal itu, beliau menjawab,
‘Aku merasa malu kepada seseorang yang kepadanya malaikat sangat
malu.”
Di dalam hadits Nabi, ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah
berwasiat kepada Utsman agar jangan turun dari kekhalifahan jika
belum terlaksana dengan sempurna. Beliau bersabda, “Wahai
Utsman, sesungguhnya pada suatu hari nanti Allah akan
mengangkatmu dalam urusan ini. Jika orang-orang munafik
menginginkan agar engkau meninggalkan baju kebesaran yang Allah
pakaikan kepadamu, janganlah engkau melepaskannya.” Beliau
mengulang perkataan tersebut tiga kali. Ketika Utsman meninggal
di tangan pemberontak, Aisyahlah yang pertama menuntut balas
atas kematiannya.
Berkaitan dengan masalah permusuhan ‘Aisyah dan Ali, terdapat
hadits dari ‘Aisyah sendiri yang menetralkan isu tersebut.
‘Aisyah dan Ali memiliki kedudukan yang mulia dan terhormat, dan
tentunya ‘Aisyah tidak akan melupakan bahwa Ali adalah anak
paman Rasulullah sekaligus sebagai suami dari putri Rasulullah.
‘Aisyah pun tentu tidak akan melupakan kegigihan Ali dalam
berjihad di jalan Allah dan menjadi orang pertama yang masuk
Islam dari kalangan anak-anak. Isu pertentangan Ali dan ‘Aisyah
tentu saja tidak beralasan karena ‘Aisyah sangat meyakini
kualitas ilmu dan sifat amanah Ali. Ketika Suraih ibn Hani
menanyakan kepada ‘Aisyah tentang mengusap khuffain (penutup
kepala) ketika berwudhu, maka ‘Aisyah menjawab, “Datanglah
kepada Ali, karena dia selalu bepergian (safar) bersama
Rasulullah.”
Setelah Ali wafat, ‘Aisyah senantiasa berada di rumah dan
memberikan pelajaran hadits dan tafsir ayat Al-Qur’an. ‘Aisyah
tidak pernah rela membiarkan sepak terjang Mu’awiyah ibn Abu
Sufyan yang banyak bertentangan dengan syariat Islam walaupun
Mu’awiyah senantiasa berusaha menarik simpatik dan kerelaan
‘Aisyah. Suatu saat, Mu’awiyah mengutus seseorang untuk meminta
fatwa kepada ‘Aisyah yang isinya, “Tuliskan untukku, dan jangan
terlalu banyak!” ‘Aisyah menjawab, “Salam sejahtera buatmu. Aku
mendengar Rasululiah shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda,
‘Barang siapa yang mencari keridhaan Allah sementara manusia
marah, niscaya Allah cukupkan baginya pemaafan manusia. Dan
barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan
Allah, niscaya Allah wakilkan masalah tersebut kepada manusia.
Salam sejahtera untukmu.”
✻ Wafatnya ‘Aisyah
Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah ‘Aisyah wafat
pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun
ke-58 hijriah, dan dikuburkan di Baqi’. Kehidupan ‘Aisyah penuh
kernuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada
Rasulullah, selalu beribadah, serta senantiasa melaksanakan
shalat malam. Bahkan dia sering memberikan anjuran untuk shalat
malam kepada kaum muslimin. Dari Abdullah ibn Qais, Imam Ahmad
menceritakan, “‘Aisyah berkata, ‘Janganlah engkau tinggalkan
shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah
meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang malas, beliau
melakukannya sambil duduk.” ‘Aisyah memiliki kebiasaan untuk
memperpanjang shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan
Abdullah ibn Abu Musa, “Mudrik atau Ibnu Mudrik mengutusku
kepada ‘Aisyah untuk menanyakan segala urusan. Aku tiba ketika
dia sedang shalat dhuha, lalu aku duduk sampai dia selesai
melaksanakan shalat. Mereka berkata, ‘Sabar-sabarlah kau
menunggunya.” ‘Aisyah pun senantiasa memperbanyak doa, sangat
takut kepada Allah, dan banyak berpuasa sekalipun cuaca sedang
sangat panas. Di dalam Musnad-nya, Ahmad berkata, “Abdurrahman
ibn Abu Bakar menemui ‘Aisyah pada hari Arafah yang ketika itu
sedang berpuasa sehingga air yang dia bawa disiramkan kepada
‘Aisyah. Abdurrahman berkata, ‘Berbukalah.’ ‘Aisyah menjawab,
‘Bagaimana aku akan berbuka sementara aku mendengar Rasulullah
telah bersabda, ‘Sesungguhnya puasa pada hari Arafah akan
menebus dosa-dosa tahun sebelumnya.”
Selain itu, ‘Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga di
dalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu
dinar pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. pernah bersabda,
“Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan
sebiji kurma.”
Di dalam riwayat lain dikatakan, “Aku didatangi oleh seorang ibu
yang membawa dua orang putrinya. Dia meminta sesuatu dariku
sedangkan aku tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada
mereka selain satu biji kurma. Aku memberikan kurma itu
kepadanya, dan ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Dia
berdiri kemudian pergi. Setelab itu Rasulullah masuk dan
bersabda, ‘Barang siapa mengasuh anak-anak itu dan berbuat baik
kepada mereka, maka mereka akan rnenjadi penghalang baginya dari
api neraka.“ (HR. Muttafaq Alaihi)
Ada juga riwayat lain yang membuktikan kedermawanan ‘Aisyah.
Urwah berkata, “Mu’awiyah memberikan uang sebanyak seratus ribu
dirham kepada ‘Aisyah. Demi Allah, sebelum matahari terbenam,
‘Aisyah sudah membagi-bagikan sernuanya. Budaknya berkata,
‘Seandainya engkau belikan daging untuk kami dengan uang satu
dirham.’ ‘Aisyah menjawab, ‘Seandainya engkau katakan hal itu
sebelum aku membagikan seluruh uang itu, niscaya akan aku
lakukan hal itu untukmu.”
Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah ‘Aisyah dan
semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin.
Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit
Darus-Sa’abu, Riyadh
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1