URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ KELUARGA RASULULLAH ص&#...
       *****************************************************
       #Post#: 253--------------------------------------------------
       🟠 Istri-Istri Nabi زوجات
       النبي : ‘Aisyah Bint Abu Bakar
   DIR By: LailaDelon
       Date: December 31, 2023, 11:46 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; ‘Aisyah bint Abu Bakar [font=georgia]radhiyallahu
       'anha[/font]
       (Wafat 57 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=103
       Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi wasallam membuka lembaran
       kehidupan rumah-tangganya dengan 'Aisyah radhiyallahu ‘anha yang
       telah banyak dikenal. 'Aisyah laksana lautan luas dalam
       kedalaman ilmu dan takwa. Di kalangan wanita, dialah sosok yang
       banyak menghafal hadits-hadits Nabi, dan di antara istri-istri
       Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi
       yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani
       beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang
       tua 'Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah.[/i]
       Ketika wahyu datang kepada Rasulullah, Jibril membawa kabar
       bahwa 'Aisyah adalah istrinya di dunia dan akhirat, sebagaimana
       diterangkan di dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah:
       "Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutera hijau
       kepada Nabi [i]shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, ini
       adalah istrimu di dunia dan akhirat.”[/i] Dialah yang menjadi
       sebab atas turunnya firman Allah yang menerangkan kesuciannya
       dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.
       &#10043; Nasab dan Masa KeciI 'Aisyab
       Aisyah adalah putri Abdullah ibn Quhafah ibn Amir ibn Amr ibn
       Ka’ab ibn Sa’ad ibn Tamim ibn Marrah ibn Ka’ab ibn Luay, yang
       lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq  dan berasal
       dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayahnya adalah
       ash-Shiddiq dan orang pertama yang mempercayai Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi Isra’ Mi’raj, saat
       orang-orang tidak mempercayainya.
       Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi,
       riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau
       Wa’id bint Amir ibn Uwaimir ibn Abdi Syams. Aisyah pun
       digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana
       perkataannya, “Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah
       menganut Islam.”
       Ummu Ruman memberikan dua orang anak kepada Abu Bakar, yaitu
       Abdurrahman dan Aisyah. Anak Iainnya, yaitu Abdullah dan Asma,
       berasal dan Qatlah bint Abdul Uzza, istri pertama yang dia
       nikahi pada masa jahiliyah. Ketika masuk Islam, Abu Bakar
       menikahi Asma bint Umais yang kemudian melahirkan Muhammad, juga
       menikahi Habibah bint Kharijah yang melahirkan Ummu Kultsum.
       Aisyah dilabirkan empat tahun sesudah Nabi diutus menjadi
       Rasulullah. Ketika dakwah Islam dihambat oleh orang-orang
       musyrik, Aisyah melihat bahwa ayahnya menanggung beban yang
       sangat besar. Semasa kecil dia bermain- main dengan lincah, dan
       ketika dinikahi Rasulullah usianya belum genap sepuluh tahun.
       Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwâ Rasulullah
       membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.
       &#10043; Pernikahan yang Penuh Berkah
       Dua tahun setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha, datang
       wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menikahi
       'Aisyah. Setelah itu Rasulullah berkata kepada 'Aisyah, “Aku
       melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat
       mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutera seraya
       berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya,
       tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Jika ini
       benar dari Allah, niscaya akan terlaksana.” Mendengar kabar itu,
       Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika
       Rasulullah setuju menikahi putri mereka, 'Aisyah. Beliau
       mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang
       penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah bersama para
       sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Makkah.
       Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk
       menjemput mereka, termasuk di dalamnya 'Aisyah radhiyallahu
       ‘anha. Karena cuaca buruk yang melanda Madinah, 'Aisyah sakit
       keras dan badannya menyusut seperti juga dialami orang-orang
       Muhajirin. Menyaksikan hal itu, Rasulullah berdo'a, “Ya Allah,
       jadikanlah kami sebagai orang yang mencintai Madinah sebagaimana
       cinta kami kepada Makkah, atau bahkan lebih lagi. Sembuhkanlah
       penghuninya dan penyakit. Berikanlah keberkahan kepada kami
       dalam timbangan dan takarannya. Lindungilah kami dan penyakit,
       dan alihkanlah penyakit itu ke Juhfah.” Allah mengabulkan do'a
       Rasulullah, dan cuaca berangsur membaik, sehingga hilanglah
       penyakit yang melanda kaum muhajirin. 'Aisyah pun sembuh dan
       bersiap-siap menghadapi hari pernikahan dengan Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Dengan izin Allah menikahlah 'Aisyah dengan maskawin lima ratus
       dirham. Ketika ditanya oleh Abu Salamah ibn Abdurrahman tentang
       jumlah mahar yang diberikan Rasulullah:
       “Aisyah menjawab, Mahar Rasulullah kepada istri-istrinya adalah
       dua belas uqiyah dan satu nasy. Tahukah kamu satu nasy itu?
       Dijawab, Tidak. Kemudian lanjut Aisyah. Satu nasy itu sama
       dengan setengah uqiyah, yaitu lima ratus dirham. Maka inilah
       mahar Rasulullah terhadap istri-istri beliau.” (HR. Muslim)
       &#10043; Istri Kecintaan Rasulullah [font=georgia]shallallahu
       ‘alaihi wasallam[/font]
       Aisyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan Masjid Nabawi.
       Di kamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut
       juga sebagai tempat turunnya wahyu. Di hati Rasulullah,
       kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan itu tidak dialami oleh
       istri-istri beliau yang lain. Di dalam hadits yang diriwayatkan
       oleh Anas ibn Malik dikatakan, “Cinta pertama yang terjadi di
       dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah.”
       Di dalam riwayat Tirmidzi dikisahkan, “Bahwa ada seseorang yang
       menghina Aisyah di hadapan Ammar ibn Yasir sehingga Ammar
       berseru kepadanya, ‘Sungguh celaka kamu. Kamu telab menyakiti
       istri kecintaan Rasulullah’.”
       Selain itu ada juga kisah lain yang menunjukkan besarnya cinta
       Nabi kepada Aisyah, dan itu sudah diketahui oleh kaurn muslimin
       saat itu. Oleh karena itu, kaum muslimin senantiasa
       menanti-nanti datangnya hari giliran Rasulullah pada Aisyah
       sebagai hari untuk menghadiahkan sesuatu kepada Nabi shallallahu
       ‘alaihi wasallam. Keadaan seperti itu menimbulkan kecemburuan di
       kalangan istri Rasulullah lainnya. Tentang hal itu Aisyah pernah
       berkata:
       “Orang-orang berbondong-bondong memberi hadiah pada hari giliran
       Rasulullah padaku. Karena itu, teman-temanku (istri Nabi yang
       lainnya) berkumpul di tempat Ummu Salamah. Mereka berkata, ‘Hai
       Ummu Salamah, demi Allah, orang-orang berbondong-bondong
       mernberikan hadiah pada hari giliranRasulullah di rumah Aisyah,
       sedangkan kita juga ingin rnemperoleh kebaikan sebagaimana yang
       diinginkan oleh Aisyah.’ Melihat reaksi seperti itu, Rasulullah
       meminta kaum muslimin untuk memberikan hadiah kepada beliau pada
       hari giliran istri Rasulullah yang mana saja. Ummu Salamah pun
       telah menyatakan keberatan kepada Rasulullah. Dia berkata,
       “Rasulullah berpaling dariiku. Ketika beliau mendatangi aku,
       akupun kernbali mernperingatkan hal itu, tetapi beliau berbuat
       hal yang serupa. Ketika aku rnengingatkan beliau untuk yang
       ketiga kalinya, beliau tetap berpaling dariku, sehingga akhirnya
       beliau bersabda, ‘Demi Allah, wahyu tidak turun kepadaku selama
       aku berada di dekat kalian, kecuali ketika aku dalam satu
       selimut bersama ‘Aisyah.” (HR. Muslim)
       Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah terhadap
       ‘Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan ‘Aisyah
       yang sangat terhormat. Bahkan ketika ‘Aisyah wafat, Ummu Salamah
       berkata, ”Demi Allah, dia adalah manusia yang paling beliau
       cintai setelah ayahnya (Abu Bakar).”
       Suatu waktu, Rasulullah ditanya oleh Amru ibn ‘Aash, “Siapakah
       manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “‘Aisyah!”
       Amru bertanya lagi, “Dan dari kalangan laki-laki?” Beliau
       menjawab, “Ayahnya!.” (Hadits muttafaqirn ‘alaihi)
       Di antar istri-istri Rasulullah, Saudah bint Zum’ah sangat
       memahami keutamaan-keutamaan ‘Aisyah, sehingga dia merelakan
       seluruh malam bagiannya untuk ‘Aisyah.
       Suatu hari Shafiyah ibn Huyay meminta kerelaan Rasulullah
       melalui ‘Aisyah, yaitu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah
       dari ‘Aisyah.
       “Suatu ketika Rasulullah enggan mendekati Shafiyah [i]bint Huyay
       ibn Ahthab. Karena itu Shafyyah berkata kepada ‘Aisyah, ‘Hai
       ‘Aisyah, apakah engkau dapat merelakan Rasulullah kepadaku? Dan
       engkau akan mendapatkan hari bagianku. ‘Aisyab menjawab, ‘Ya!’
       Kernudian ‘Aisyah mengambil kerudung yang ditetesi za’faran dan
       disiram dengan air agar lebih harum. Setelah itu dia duduk di
       sebelah Rasulullah, namun beliau bersabda, ‘Ya ‘Aisyah,
       menjauhlah engkau dariku. Hari ini bukan hari bagianmu. ‘Aisyab
       berkata, ‘Ini adalah keutamaan yang diberiikan Allah kepada dia
       yang dikehendaki-Nya.’ ‘Aisyah kemudian menceritakan duduk
       permasalahannya dan Rasulullah pun rela kepada Shafyyah.”[/i]
       Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ‘Aisyah sangat
       memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah rela. Dia
       menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak
       menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa
       mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk
       Rasulullah. Menjelang wafat, Rasulullah meminta izin kepada
       istri-istrinya untuk beristirahat di rumah ‘Aisyah selama
       sakitnya hingga wafatnya. Dalam hal ini ‘Aisyah berkata,
       “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di
       pangkuanku.”
       &#10043; Fitnah Terhadapnya
       ‘Aisyah pernah mengalami fitnah yang mengotori lembaran sejarah
       kehidupan sucinya, hingga turun ayat Al-Qur’an yang menerangkan
       kesucian dirinya. Kisahnya bermula dari sini. Seperti biasanya,
       sebelum berangkat perang, Rasulullah mengundi istrinya yang akan
       menyertainya berperang. Ternyata undian jatuh kepada ‘Aisyah,
       sehingga ‘Aisyah yang menyertai beliau dalam Perang Bani
       al-Musthaliq. Saat itu bertepatan dengan turunnya perintah
       memakai hijab. Setelah perang selesai dan kaum muslimin memetik
       kemenangan, Rasulullah kembali ke Madinah. Ketika tentara Islam
       tengah beristirahat di sebuah pelataran, ‘Aisyah masih berada di
       dalam sekedup untanya. Pada malam harinya, Rasulullah
       mengizinkan rombongan berangkat pulang. Ketika itu ‘Aisyah pergi
       untuk hajatnya, dan kembali. Ternyata, kalung di lehernya jatuh
       dan hilang, sehingga dia keluar dan sekedup dan mencari-cari
       kalungnya yang hilang. Ketika pasukan siap berangkat, sekedup
       yang mereka angkat ternyata kosong. Mereka mengira ‘Aisyah
       berada di dalam sekedup. Setelah kalungnya ditemukan, ‘Aisyah
       kembali ke pasukan, namun alangkah kagetnya karena tidak ada
       seorang pun yang dia temukan. ‘Aisyah tidak meninggalkan tempat
       itu, dan mengira bahwa penuntun unta akan tahu bahwa dirinya
       tidak berada di dalamnya, sehingga mereka pun akan kembali ke
       tempat semula. Ketika ‘Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan ibn
       Mu’thil yang terheran-heran melihat ‘Aisyah tidur. Dia pun
       mempersilakan ‘Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di
       depannya. Berawal dari kejadian itulah fitnah tersebar, yang
       disulut oleh Abdullah ibn Ubay ibn Salul.
       Ketika tuduhan itu sarnpai ke telinga Nabi, beliau mengumpulkan
       para sahabat dan meminta pendapat mereka. Usamah ibn Zaid
       berkata, “Ya Rasulullah, dia adalah keluargamu … yang kau
       ketahui hanyalah kebaikan semata.“ Ali juga berpendapat, “Ya
       Rasulullah, Allah tidak pernah mempersulit engkau. Banyak wanita
       selain dia.” Dari perkataan Ali, ada pihak yang memperuncing
       masalah sehingga terjadilah pertentangan berkelanjutan antara
       ‘Aisyah dan Ali. Mendengar pendapat-pendapat dari para sahabat
       Nabi, bentambah sedihlah ‘Aisyah, terlebih setelah dia melihat
       adanya perubahan sikap pada diri Nabi.
       Ketika ‘Aisyah sedang duduk-duduk bersarna orang tuanya,
       Rasulullah menghampirinya dan bersabda:
       “Wahai ‘Aisyah aku mendengar berita bahwa kau telah begini dan
       begitu. Jika engkau benar-benar suci, niscaya Allah akan
       menyucikanmu. Akan tetapi, jika engkau telah berbuat dosa,
       bertobatlah dengan penuh penyesalan, niscaya Allah akan
       mengampuni dosamu.” ‘Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tahu
       bahwa engkau telah mendengar kabar inmi, dan ternyata engkau
       mempercayainya. Seandainya aku katakan bahwa aku tetap suci pun,
       niscaya hanya Allah-lah yang mengetahui kesucianku, dan tentunya
       engkau tak akan mempercayaiku. Akan tetapi, jika aku mengakui
       perbuatan itu, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tetap suci,
       maka kau akan mempercayai perkataanku. Aku hanya dapat
       mengatakan apa yang dikatakan Nabi Yusuf, ‘Maka bersabar itu
       lebih baik’. Dan Allah pula yang akan menolong atas apa yang
       engkau gambarkan.”
       ‘Aisyah sangat mengharapkan Allah menurunkan wahyu berkaitan
       dengan masalahnya, namun wahyu itu tidak kunjung turun. Baru
       setelah beberapa saat, sebelum seorang pun meninggalkan rumah
       Rasulullah, wahyu yang menerangkan kesucian ‘Aisyah pun turun
       kepada beliau. Rasulullah segera menemui ‘Aisyah dan berkata,
       “Hai ‘Aisyah, Allah telah menyucikanmu dengan firman-Nya:
       “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah
       dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong
       itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap
       seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang
       dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil
       bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya
       azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)
       Demikianlah kemulian yang disandang ‘Aisyah, sehingga
       bertambahlah kemuliaan dan keagungannya di hati Rasulullah.
       &#10043; Perjalanan Hidup yang Mulia
       Pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kelemahan, begitu juga
       halnya dengan ‘Aisyah, yang selain memiliki kehormatan dan
       martabat juga memiliki kekurangan. Dalam hal ini dia pernah
       berkata,
       “Aku tidak pernah melihat pembuat makanan seperti Shafiyyah. Dia
       selalu menghadiahi makanan kepada Rasulullah. Tanpa sadar aku
       pernah memecahkan tempat makanan yang dibawa Shafiyyah. Aku
       bertanya kepada Rasulullah apa yang dapat dijadikan sebagai
       tempat yang pecah itu. Rasulullab menjawab, ‘Tempat diganti
       dengan tempat dan makanan diganti dengan makanan.“ (HR. Bukhari)
       ‘Aisyah pernah berkata:
       “Halah [i]bint Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, meminta
       izin kepada Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam. merasa bahwa cara Halah meminta izin sama
       dengan cara Khadijah meminta izin, dan beliau merasa senang atas
       semua itu. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, inilah Halah bint
       Khuwailid.’ Aku berkata, ‘Apa yang engkau sebut itu adalab
       seorang nenek dari nenek-nenek kaum Quraisy, yang kedua sudut
       mulutnya merah. Dia telah tua renta ditelan masa. Semoga Allah
       memberi untukmu pengganti yang lebih baik daripada dia.‘
       Mendengar itu Rasulullah menjawab, ‘Allah tidak akan memberikan
       pengganti yang lebib baik darpada Khadijah. Dia telah beriman
       kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Dia telah
       mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku. Dia telah
       mendermakan harta bendanya untuk perjuanganku ketika orang lain
       menolak memberikan harta mereka. Allah telah memberkahiku dengan
       putra-putri lewat Khadijah ketika yang lain tidak memberiku
       anak.”[/i] (HR. Ahmad dan Muslim)
       Terdapat beberapa pendirian yang tegas dan pemecahan problema
       hukum yang penting, baik khusus yang berkaitan dengan wanita
       maupun secara umum yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslimin
       secara umum. Diriwayatkan bahwa pada zaman dahulu seorang
       laki-laki dapat menceraikan istrinya dengan sekehendak hati.
       Wanita itu akan kembali menjadi istrinya jika suaminya membujuk
       kembali dalam keadaan iddah, sekalipun dia telah menceraikannya
       seratus kali. Bahkan suami itu berkata kepada istrinya, “Demi
       Allah, aku akan menceraikanmu sehingga engkau menjadi jelas, dan
       aku tidak akan memberimu nafkah selamanya”. Istrinya menemui
       ‘Aisyah dan menceritakan. Dia menjawab, Aku menceraikanmu jika
       iddahmu hampir berakhir, dan jika engkau telah suci kembali, aku
       akan merujukmu kembali. Istrinya menemui ‘Aisyah dan
       menceritakan masalah yang dihadapinya. ‘Aisyah terdiarn hingga
       Rasulullah datang. Beliau pun diam tidak dapat menyelesaikan
       masalah tersebut hingga turunlah ayat:
       “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelab itu boleh rujuk
       lagi dengan cara yang ma‘ruf atau menceraikannya dengan cara
       yang baik….” (QS. Al-Baqarah: 229)
       Dalam penetapan hukum pun, ‘Aisyah kerap langsung menemui
       wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Suatu ketika dia
       mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di tempat
       pemandian umum. ‘Aisyah mendatangi mereka dan berkata,
       “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
       bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di rumah
       selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup
       antara dia dengan Tuhannya.“ (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu
       Majah)
       ‘Aisyah pun pernah menyaksikan adanya perubahan pada pakaian
       yang dikenakan wanita-wanita Islam setelah Rasulullah wafat.
       ‘Aisyah menentang perubahan tersebut seraya berkata, “Seandainya
       Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa kini),
       niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana
       wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.”
       Di dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah bint
       Abdirrahman menemui Ummul-Mukminin ‘Aisyah. Ketika itu Hafsyah
       mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat ‘Aisyah menarik
       kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal.
       &#10043; Hadist yang Diriwayatkan ‘Aisyah
       ‘Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai
       masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Al-Qur’an,
       hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu
       yang dimiliki ‘Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim
       mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan
       ‘Aisyah. Abu Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami
       menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada ‘Aisyah.”
       Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang
       tidak dapat mereka selesaikan sendiri. ‘Aisyah pun sering
       mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan
       untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya. Salah
       satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah.
       Ketika itu Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh
       Fadhi ibnu Abbas bahwa barang siapa yang masih dalam keadaan
       junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa. Ketika Abu
       Hurairah bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah
       pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian
       beliau meneruskan puasanya.” Setelah mengetahui hal itu, Abu
       Hurairah berkata, “Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits
       tersebut.” Kamar ‘Aisyah lebih banyak berfungsi scbagai sekolah,
       yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru untuk
       menuntut ilmu. Bagi murid yang bukan mahramnya, ‘Aisyah
       senantiasa membentangkan kain hijab di antara mereka. ‘Aisyah
       tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya
       dari A1-Qur’an dan Sunnah.
       ‘Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah
       sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau,
       sebagairnana perkataannya ini:
       “Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu
       hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri,
       sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ (HR. Bukhari)
       ‘Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada
       Rasulullah jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang
       suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dia memperoleh
       ilmu langsung dan Rasulullah sebagaimana ungkapannya ini:
       “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ‘Dan orang-orang
       yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang
       takut….’ (QS. Al-Mu’minun: 60). Apakah yang dimaksud dengan ayat
       di atas adalah para peminum khamar dan pencuri?” Beliau
       menjawab, ‘Bukan, putri ash-Shiddiq! Mereka adalah orang yang
       berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut (amal mereka
       tidak diterima). Mereka menyegerakan diri dalam kebaikan, tetapi
       mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut.” (HR. Ibnu
       Majah dan Tirmidzi).
       ‘Aisyah berkata lagi: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang
       firman Allah: ‘Yauma tabdalul-ardhu ghairal-ardha was-samawati.
       Di manakah manusia berada, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
       “Manusia berada di atas shirath.“ (HR. Muslim)
       ‘Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits
       Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga para ahli hadits
       menernpatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits
       setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas ibn Malik, dan Ibnu Abbas.
       ‘Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun,
       yaitu meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dan
       Rasulullah dan menghafalkannya di rumah. Karena itu, sering dia
       meriwayatkan hadits yang tidak pernah diriwayatkan oleh perawi
       hadits lain. Para sahabat penghafal hadits sering mengunjungi
       rurnah ‘Aisyah untuk langsung memperoleh hadits Rasulullah
       karena kualitas kebenarannya sangat terjamin. Jika berselisih
       pendapat tentang suatu masalah, tidak segan-segan mereka meminta
       penyelesaian dari ‘Aisyah. Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar,
       anak saudara laki-laki ‘Aisyah, mengatakan bahwa pada masa
       kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, ‘Aisyah rnenjadi
       penasihat pemerintah hingga wafat.
       ‘Aisyah dikenal sebagai perawi hadits yang mengistinbath hukum
       sendiri ketika kejelasan hukumnya tidak ditemukan dalam
       Al-Qur’an dan hadits lain. Dalam hal ini, Abu Salamah berkata,
       “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih mengetahui Sunnah
       Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih
       mengetahui bagaimana Al-Qur’an turun, serta lebih mengenal
       kewajibannya selain ‘Aisyah.”
       Suatu ketika Saad ibn Hisyam menemui ‘Aisyah, dan berkata, “Aku
       ingin bertanya tentang bagaimana pendapatmu jika aku tetap
       membujang selarnanya.” ‘Aisyah menjawab, “Janganlah kau lakukan
       hal itu, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam. bersabda tentang firman Allah: ‘Telah kami utus
       rasul-rasul sebelummu, dan Kami telah ciptakan bagi mereka
       istri-istri dan keturunan.’ Oleh karena itu, janganlah kamu
       membujang.” Urwah ibn Zubeir, salah seorang murid ‘Aisyah,
       sangat mengagumi keluarbiasaan penguasaan ilmu ‘Aisyah. Dia
       berkata, “Aku berpikir tentang urusanmu. Sungguh aku
       mengagumimu. Menurutku engkau adalah manusia yang paling banyak
       mengetahui sesuatu.” ‘Aisyah berkata, “Apa yang menyebabkanmu
       berpendapat seperti itu?” Dia menjawab, “Engkau adalah istri
       Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan putri Abu Bakar. Engkau
       mengetahui hari-hari, nasab, dan syair orang-orang Arab.” Dia
       berkata lagi, “Apa yang menyebabkan engkau dan ayahmu menjadi
       orang yang paling pandai dariipada seluruh orang Quraisy? Aku
       sangat mengagumi kepandaianmu tentang ilmu medis. Dari manakah
       engkau mendapatkan ilmu itu?” ‘Aisyah menjawab, “Wahai Urwah,
       sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. sering
       sakit, sehingga dokter-dokter Arab dan bukan Arab datang
       mengobati beliau. Dari merekalah aku belajar.”
       Tentang penguasaan bahasa dan sastranya, kembali Urwah
       berkomentar, “Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pun
       yang lebih fasih dariipada ‘Aisyah selain Rasulullah sendiri.”
       Al-Ahnaf ibn Qais berkata, “Aku telah mendengar khutbah Abu
       Bakar, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, dan Alii ibn Abi
       Thalib. Hingga saat ini aku belum pernah mendengar satu
       perkataan pun dari makhluk Tuhan yang lebih berisi dan baik
       daripada perkataan ‘Aisyah.” Salah satu contoh kefasihannya
       dapat kita lihat dari kata-katanya pada kuburan ayahnya, Abu
       Bakar:
       “Allah telah mengilaukan wajahmu, dan bersyukur atas kebaikan
       yang telah engkau perbuat. Engkau merendahkan dunia karena
       engkau berpaling darinya. Akan tetapi, untuk engkau adalah
       mulia, karena engkau selalu menghadap untuknya. Kalau peristiwa
       terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah
       kematianmu, Kitab Allah rnenghibur dengan kesabaran dan
       menggantikan yang baik selainmu. Aku merasakan janji Allah yang
       telah ditetapkan bagirnu dan ikhlas atas kepergianmu. Dengan
       memohon dari-Nya gantimu dan aku berdo'a untukmu. Kami hanyalah
       milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Bagimu salam
       sejahtera dan rahmat Allah.”
       Dari ‘Aisyah pun sering keluar kata-kata hikmah yang terkenal,
       seperti:
       “Bagi Allah mutiara takwa. Takkan ada kesembuhan bagi orang yang
       di dalarn hatinya terbersit kemarahan. Pernikahan adalah
       perbudakan, maka seseorang hendaklah melihat kepada siapa dia
       mengabdikan putri kemuliaannya.”
       &#10043; Rasulullah Wafat dan Dikuburkan di Kamarnya
       Bagi ‘Aisyah, menetapnya Rasulullah selama sakit di kamarnya
       merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat
       beliau hingga akhir hayat. Di bawah ini dia melukiskan
       detik-detik terakhir beliau menjelang wafat:
       “Sungguh merupakan nikmat Allah bagiku, Rasulullab wafat di
       rurnahku pada hariku dan dalam dekapanku. Allah telah menyatukan
       ludahku dan ludah beliau menjelang wafat. Abdurrahman menemuiku,
       di tangannya tergenggam siwak, sementara aku menyandarkan
       beliau. Aku melihat beliau menoleh ke arah Abdurrahman, aku
       segera memahami bahwa beliau menyukai siwak. Aku berbisik kepada
       beliau, ‘Bolehkah aku haluskan siwak untukmu?’ beliau memberi
       isyarat dengan kepala, sepertinya mengisyaratkan ‘ya’. Kemudian
       beliau menyuruhku menghentikan menghaluskan siwak, sernentara di
       tangan beliau ada bejana berisi air. Beliau mernasukkan kedua
       belab tangan dan mengusapkannya ke wajah seraya berkata, ‘Laa
       ilaaha illahu… setiap kematian mengalami sekarat (beliau
       mengangkat tangannya)… pada Allah Yang Maha Tinggi. ‘Beliau
       menggenggam tangan dan perlahan-lahan tangan beliau jatuh ke
       bawab.“ (HR. Muttafaq Alaih)
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. dikuburkan di kamar
       ‘Aisyah, tepat di tempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam
       tidurnya, ‘Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya.
       Ketika dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, Abu Bakar
       berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka di rumahmu akan
       dikuburkan tiga orang yang paling mulia di muka bumi.” Ketika
       Rasulullah wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang
       paling mulia di antara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan
       Umar dikubur di rumah ‘Aisyah.
       &#10043; Setelah Rasulullah Wafat
       Setelah Rasulullah wafat, ‘Aisyah senantiasa dihadapkan pada
       cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati
       yang sabar, penuh kerelaan terhadap takdir Allah, dan selalu
       berdiam diri di dalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah.
       Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
       “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias
       dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu,
       dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan
       Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
       dosa dari kamu, hai ahlul-bait, dan membersihkan kamu
       sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
       Rumah ‘Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala
       penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah ke makam Nabi
       shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika istri-istri Nabi hendak
       mengutus Utsman menghadap Khalifàh Abu Bakar untuk menanyakan
       harta warisan Nabi yang merupakan bagian mereka, ‘Aisyah justru
       berkata, “Bukankah Rasulullah telah berkata, ‘Kami para nabi
       tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu
       adalah sedekah.”
       Semasa kekhalifahan Abu Bakar, kadar keilmuan ‘Aisyah tidak
       begitu tampak di kalangan kaum muslimin, karena dengan jarak
       waktu wafatnya Rasulullah sangat dekat, juga karena kaum
       muslimin sedang disibukkan oleh perang Riddah (perang melawan
       kaum murtad). Setelah dua tahun tiga bulan dan sepuluh malam,
       khalifah pertama, Abu Bakar, meninggal dunia. Sebelum meninggal,
       Abu Bakar berwasiat kepada putrinya agar menguburkannya di sisi
       Rasulullah. ‘Aisyah melaksanakan perintah ayahnya, dan ketika
       Abu Bakar rneninggal, ‘Aisyah menguburkan jenazahnya di sisi
       Nabi, kepalanya diletakkan pada sisi pundak Nabi.
       Ilmu ‘Aisyah mulai tampak pada masa kekhalifahan Umar, sehingga
       para sahabat besar senantiasa merujuk pendapat ‘Aisyah jika
       mereka dihadapkan pada permasalahan- permasalahan yang berkenaan
       dengan kaum muslimin. Di dalam Thabaqat, dari Mahmud ibn Luhaid,
       lbnu Saad berkata, “Para istri Nabi banyak rnenghafal hadits
       Nabi, namun hafalan ‘Aisyah dan Ummu Salamah tidak ada yang
       dapat menandingi. ‘Aisyah adalah penasihat kekhalifahan Umar dan
       Utsman hingga dia meninggal. Pada waktu itu, Umar sangat
       memperhatikan keadaan istri-istri Nabi. Tentang hal itu ‘Aisyah
       berkata, ‘Umar ibn Khaththab selalu memperhatikan keadaan kami
       dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia memiliki tempat kurma
       besar yang selalu diisi buah-buahan dan kemudian dikirimkan
       kepada istri-istrii Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Begitu
       juga dengan Utsman ibn Affan. ‘Aisyah sangat menghormati Utsman
       karena kedudukannya sangat terhormat di hati Rasulullah. Utsman
       ibn Affan memiliki kedermawanan dan rasa malu yang besar,
       sehingga ‘Aisyah pernah berkata, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi
       wasallam. sangat malu jika bertemu dengan Utsman. Jika Nabi
       bertemu dengannya, beliau akan duduk di sampingnya dan merapikan
       bajunya.’ Ketika ‘Aisyah menanyakan hal itu, beliau menjawab,
       ‘Aku merasa malu kepada seseorang yang kepadanya malaikat sangat
       malu.”
       Di dalam hadits Nabi, ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah
       berwasiat kepada Utsman agar jangan turun dari kekhalifahan jika
       belum terlaksana dengan sempurna. Beliau bersabda, “Wahai
       Utsman, sesungguhnya pada suatu hari nanti Allah akan
       mengangkatmu dalam urusan ini. Jika orang-orang munafik
       menginginkan agar engkau meninggalkan baju kebesaran yang Allah
       pakaikan kepadamu, janganlah engkau melepaskannya.” Beliau
       mengulang perkataan tersebut tiga kali. Ketika Utsman meninggal
       di tangan pemberontak, Aisyahlah yang pertama menuntut balas
       atas kematiannya.
       Berkaitan dengan masalah permusuhan ‘Aisyah dan Ali, terdapat
       hadits dari ‘Aisyah sendiri yang menetralkan isu tersebut.
       ‘Aisyah dan Ali memiliki kedudukan yang mulia dan terhormat, dan
       tentunya ‘Aisyah tidak akan melupakan bahwa Ali adalah anak
       paman Rasulullah sekaligus sebagai suami dari putri Rasulullah.
       ‘Aisyah pun tentu tidak akan melupakan kegigihan Ali dalam
       berjihad di jalan Allah dan menjadi orang pertama yang masuk
       Islam dari kalangan anak-anak. Isu pertentangan Ali dan ‘Aisyah
       tentu saja tidak beralasan karena ‘Aisyah sangat meyakini
       kualitas ilmu dan sifat amanah Ali. Ketika Suraih ibn Hani
       menanyakan kepada ‘Aisyah tentang mengusap khuffain (penutup
       kepala) ketika berwudhu, maka ‘Aisyah menjawab, “Datanglah
       kepada Ali, karena dia selalu bepergian (safar) bersama
       Rasulullah.”
       Setelah Ali wafat, ‘Aisyah senantiasa berada di rumah dan
       memberikan pelajaran hadits dan tafsir ayat Al-Qur’an. ‘Aisyah
       tidak pernah rela membiarkan sepak terjang Mu’awiyah ibn Abu
       Sufyan yang banyak bertentangan dengan syariat Islam walaupun
       Mu’awiyah senantiasa berusaha menarik simpatik dan kerelaan
       ‘Aisyah. Suatu saat, Mu’awiyah mengutus seseorang untuk meminta
       fatwa kepada ‘Aisyah yang isinya, “Tuliskan untukku, dan jangan
       terlalu banyak!” ‘Aisyah menjawab, “Salam sejahtera buatmu. Aku
       mendengar Rasululiah shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda,
       ‘Barang siapa yang mencari keridhaan Allah sementara manusia
       marah, niscaya Allah cukupkan baginya pemaafan manusia. Dan
       barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan
       Allah, niscaya Allah wakilkan masalah tersebut kepada manusia.
       Salam sejahtera untukmu.”
       &#10043; Wafatnya ‘Aisyah
       Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah ‘Aisyah wafat
       pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun
       ke-58 hijriah, dan dikuburkan di Baqi’. Kehidupan ‘Aisyah penuh
       kernuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada
       Rasulullah, selalu beribadah, serta senantiasa melaksanakan
       shalat malam. Bahkan dia sering memberikan anjuran untuk shalat
       malam kepada kaum muslimin. Dari Abdullah ibn Qais, Imam Ahmad
       menceritakan, “‘Aisyah berkata, ‘Janganlah engkau tinggalkan
       shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah
       meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang malas, beliau
       melakukannya sambil duduk.” ‘Aisyah memiliki kebiasaan untuk
       memperpanjang shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan
       Abdullah ibn Abu Musa, “Mudrik atau Ibnu Mudrik mengutusku
       kepada ‘Aisyah untuk menanyakan segala urusan. Aku tiba ketika
       dia sedang shalat dhuha, lalu aku duduk sampai dia selesai
       melaksanakan shalat. Mereka berkata, ‘Sabar-sabarlah kau
       menunggunya.” ‘Aisyah pun senantiasa memperbanyak doa, sangat
       takut kepada Allah, dan banyak berpuasa sekalipun cuaca sedang
       sangat panas. Di dalam Musnad-nya, Ahmad berkata, “Abdurrahman
       ibn Abu Bakar menemui ‘Aisyah pada hari Arafah yang ketika itu
       sedang berpuasa sehingga air yang dia bawa disiramkan kepada
       ‘Aisyah. Abdurrahman berkata, ‘Berbukalah.’ ‘Aisyah menjawab,
       ‘Bagaimana aku akan berbuka sementara aku mendengar Rasulullah
       telah bersabda, ‘Sesungguhnya puasa pada hari Arafah akan
       menebus dosa-dosa tahun sebelumnya.”
       Selain itu, ‘Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga di
       dalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu
       dinar pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. pernah bersabda,
       “Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan
       sebiji kurma.”
       Di dalam riwayat lain dikatakan, “Aku didatangi oleh seorang ibu
       yang membawa dua orang putrinya. Dia meminta sesuatu dariku
       sedangkan aku tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada
       mereka selain satu biji kurma. Aku memberikan kurma itu
       kepadanya, dan ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Dia
       berdiri kemudian pergi. Setelab itu Rasulullah masuk dan
       bersabda, ‘Barang siapa mengasuh anak-anak itu dan berbuat baik
       kepada mereka, maka mereka akan rnenjadi penghalang baginya dari
       api neraka.“ (HR. Muttafaq Alaihi)
       Ada juga riwayat lain yang membuktikan kedermawanan ‘Aisyah.
       Urwah berkata, “Mu’awiyah memberikan uang sebanyak seratus ribu
       dirham kepada ‘Aisyah. Demi Allah, sebelum matahari terbenam,
       ‘Aisyah sudah membagi-bagikan sernuanya. Budaknya berkata,
       ‘Seandainya engkau belikan daging untuk kami dengan uang satu
       dirham.’ ‘Aisyah menjawab, ‘Seandainya engkau katakan hal itu
       sebelum aku membagikan seluruh uang itu, niscaya akan aku
       lakukan hal itu untukmu.”
       Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah ‘Aisyah  dan
       semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin.
       &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit
       Darus-Sa’abu, Riyadh
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1