URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ KELUARGA RASULULLAH ص&#...
       *****************************************************
       #Post#: 252--------------------------------------------------
       🟠 Istri-Istri Nabi زوجات
       النبي : Hafsah bint Umar
   DIR By: LailaDelon
       Date: December 31, 2023, 11:46 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Hafsah bint Umar [font=georgia]radhiyallahu
       'anha[/font]
       (Wafat 45 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=100
       Hafshah [i]bint Umar ibn Khaththab adalah putri seorang
       laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum
       muslimin. Umar ibn Khaththab adalah seorang penguasa yang adil
       dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Hafshah merupakan bukti
       cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah
       ditinggalkan suaminya, Khunais ibn Hudzafah as-Sahami, yang
       berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian
       ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya
       meninggal, dengan perasaan sedih, Umar menghadap Rasulullah
       untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu
       Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar,
       Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa
       beliau bersedia menikahi Hafshah.[/i]
       Jika kita menyebut nama Hafshah, ingatan kita akan tertuju pada
       jasa-jasanya yang besar terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah
       istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk
       tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian
       menjadi sebuah kitab yang sangat agung.
       &#10043; Nasab dan Masa Petumbuhannya
       Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah bint Umar ibn Khaththab ibn
       Naf’al ibn Abdul-Uzza ibn Riyah ibn Abdullah ibn Qurt ibn Rajah
       ibn Adi ibn Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zainab
       bint Madh’un ibn Hubaib ibn Wahab ibn Hudzafah, saudara
       perempuan Utsman ibn Madh’un. Hafshah dilahirkan pada tahun yang
       sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu ketika
       Rasullullah . memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula
       setelah Ka’bah dibangun kembali setelah roboh karena banjir.
       Pada tahun itu juga dilahirkan Fathimah az-Zahra, putri bungsu
       Rasulullah dari empat putri, dan kelahirannya disambut gembira
       oleh beliau. Beberapa hari setelah Fathimah lahir, lahirlah
       Hafshah bint Umar ibn Khaththab. Mendengar bahwa yang lahir
       adalah bayi wanita, Umar sangat berang dan resah, sebagaimana
       kebiasaan bapak-bapak Arab Quraisy ketika mendengar berita
       kelahiran anak perempuannya. Waktu itu mereka menganggap bahwa
       kelahiran anak perempuan telah membawa aib bagi keluarga.
       Padahal jika saja ketika itu Umar tahu bahwa kelahiran anak
       perempuannya akan membawa keberuntungan, tentu Umar akan menjadi
       orang yang paling bahagia, karena anak yang dinamai Hafshah itu
       kelak menjadi istri Rasulullah. Di dalam Thabaqat, Ibnu Saad
       berkata, “Muhammad ibn Umar berkata bahwa Muhammad ibn Zaid ibn
       Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, ‘Hafshah
       dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun
       sebelum Nabi diutus menjadi Rasul.”
       Sayyidah Hafshah radhiyallahu ‘anha dibesarkan dengan mewarisi
       sifat ayahnya, Umar ibn Khaththab. Dalam soal keberanian, dia
       berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya
       tegas. ‘Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sama dengan
       ayahnya. Kelebihan lain yang dimiliki Hafshah adalah
       kepandaiannva dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu
       kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.
       &#10043; Memeluk Islam
       Hafshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama
       masuk Islam, karena ketika awal-awal penyebaran Islam, ayahnya,
       Umar ibn Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam hingga
       suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam. Ketika suatu waktu
       Umar mcngetahui keislaman saudara perempuannya, Fathimah dan
       suaminya Said ibn Zaid, dia sangat marah dan berniat menyiksa
       mereka. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Umar
       mendengar bacaan Al-Qur’an yang mengalun dan dalam rumah, dan
       memuncaklah amarahnya ketika dia memasuki rumah tersebut. Tanpa
       ampun dia menampar mereka hingga darah mengucur dari kening
       keduanya. Akan tetapi, hal yang tidak terduga terjadi, hati Umar
       tersentuh ketika meihat darah mengucur dari dahi adiknya,
       kemudian diambilnyalah Al Qur’an yang ada pada mereka. Ketika
       selintas dia membaca awal surat Thaha, terjadilah keajaiban.
       Hati Umar mulai diterangi cahaya kebenaran dan keimanan. Allah
       telah mengabulkan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang
       mengharapkan agar Allah membuka hati salah seorang dari dua Umar
       kepada Islam. Yang dimaksud Rasulullah dengan dua Umar adalah
       Amr ibn Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahl dan Umar ibn
       Khaththab.
       Setelah kejadian itu, dari rumah adiknya dia segera menuju
       Rasulullah dan menyatakan keislaman di hadapan beliau, Umar ibn
       Khaththab bagaikan bintang yang mulai menerangi dunia Islam
       serta mulai mengibarkan bendera jihad dan dakwah hingga beberapa
       tahun setelah Rasulullah wafat. Setelah menyatakan keislaman,
       Umar ibn Khaththab segera menemui sanak keluarganya untuk
       mengajak mereka memeluk Islam. Seluruh anggota keluarga menerima
       ajakan Umar, termasuk di dalamnya Hafshah yang ketika itu baru
       berusia sepuluh tahun.
       &#10043; Menikah dan Hijrah ke Madinah
       Keislaman Umar membawa keberuntungan yang sangat besar bagi kaum
       muslimin dalam menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Kabar
       keislaman Umar ini memotivasi para muhajirin yang berada di
       Habasyah untuk kembali ke tanah asal mereka setelah sekian lama
       ditinggalkan. Di antara mereka yang kembali itu terdapat seorang
       pemuda bernama Khunais ibn Hudzafah as-Sahami. Pemuda itu sangat
       mencintai Rasulullah sebagaimana dia pun mencintai keluarga dan
       kampung halamannya. Dia hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan
       diri dan agamanya. Setibanya di Makkah, dia segera mengunjungi
       Umar ibn Khaththab, dan di sana dia melihat Hafshah. Dia meminta
       Umar untuk menikahkan dirinya dengan Hafshah, dan Umar pun
       merestuinya. Pernikahan antara mujahid dan mukminah mulia pun
       berlangsung. Rumah tangga mereka sangat berbahagia karena
       dilandasi keimanan dan ketakwaan.
       Ketika Allah menerangi penduduk Yatsrib sehingga memeluk Islam,
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemukan sandaran baru
       yang dapat membantu kaum muslimin. Karena itulah beliau
       mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib untuk menjaga akidah
       mereka sekaligus menjaga mereka dan penyiksaan dan kezaliman
       kaum Quraisy. Dalam hijrah ini, Hafshah dan suaminya ikut serta
       ke Yatsrib.
       &#10043; Cobaan dan Ganjaran
       Setelah kaum muslimin berada di Madinah dan Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam berhasil menyatukan mereka dalam
       satu barisan yang kuat, tiba saatnya bagi mereka untuk
       menghadapi orang musyrik yang telah memusuhi dan mengambil hak
       mereka. Selain itu, perintah Allah untuk berperang menghadapi
       orang musyrik sudah tiba.
       Peperangan pertama antara umat Islam dan kaum musyrik Quraisy
       adalah Perang Badar. Dalam peperangan ini, Allah telah
       menunjukkan kemenangan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas
       sekalipun jumlah mereka masih sedikit. Khunais termasuk salah
       seorang anggota pasukan muslimin, dan dia mengalami luka yang
       cukup parah sekembalinya dari peperangan tersebut. Hafshah
       senantiasa berada di sisinya dan mengobati luka yang
       dideritanya, namun Allah berkehendak memanggil Khunais sebagai
       syahid dalam peperangan pertama melawan kebatilan dan kezaliman,
       sehingga Hafshah menjadi janda. Ketika itu usia Hafshah baru
       delapan belas tahun, namun Hafshah telah memiliki kesabaran atas
       cobaan yang menimpanya.
       Umar sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia
       yang sangat muda, sehingga dalam hatinya terbetik niat untuk
       menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang saleh agar hatinya
       kembali tenang. Untuk itu dia pergi ke rumah Abu Bakar dan
       meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, Abu
       Bakar diam, tidak menjawab sedikit pun. Kemudian Umar menemui
       Utsman ibn Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi
       putrinya. Akan tetapi, pada saat itu Utsman masih berada dalam
       kesedihan karena istrinya, Ruqayah bint Muhammad, baru
       meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap
       dua sahabatnya, Uman sangat kecewa, dan dia bertambah sedih
       karena memikirkan nasib putrinya. Kemudian dia menemui
       Rasulullah dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya.
       Mendengar penuturan Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam bersabda, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang
       lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan
       menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.”
       Semula Umar tidak memahami maksud ucapan Rasulullah, tetapi
       karena kecerdasan akalnya, dia kemudian memahami bahwa
       Rasulullah yang akan meminang putrinya.
       Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah untuk
       menikahi putrinya, dan kegembiraan tampak pada wajahnya. Umar
       langsung menemui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah.
       Abu Bakar berkata, “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan
       ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah telah
       menyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin membuka
       rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya,
       tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” Umar baru memahami
       mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya. Sedangkan sikap
       Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia
       bermaksud menyunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya
       dapat terus bersambung dengan Rasulullah. Setelah Utsman menikah
       dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini (pemilik dua
       cahaya). Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       dengan Hafshah lebih dianggap sebagai penghargaan beliau
       terhadap Umar, di samping juga karena Hafshah adalah seorang
       janda seorang mujahid dan muhajir, Khunais ibn Hudzafah
       as-Sahami.
       &#10043; Berada di Rumah Rasulullah
       Di rumah Rasulullah, Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan
       Saudah bint Zum’ah dan ‘Aisyah bint Abu Bakar. Secara manusiawi,
       ‘Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya, lain
       halnya Saudah bint Zum’ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita
       mulia putri Umar ibn Khaththab, sahabat Rasulullah yang
       terhormat.
       Umar memahami bagaimana tingginya kedudukan ‘Aisyah di hati
       Rasulullah. Dia pun mengetahui bahwa orang yang menyebabkan
       kemarahan ‘Aisyah sama halnya dengan menyebabkan kemarahan
       Rasulullah, dan yang ridha terhadap ‘Aisyah berarti ridha
       terhadap Rasulullah. Karena itu Umar berpesan kepada putrinya
       agar berusaha dekat dengan ‘Aisyah dan mcncintainya. Selain itu,
       Umar meminta agar Hafshah menjaga tindak-tanduknya sehingga di
       antara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi,
       mcmang sangat manusiawi jika di antara mereka masih saja terjadi
       kesalahpahaman yang bersumber dari rasa cemburu. Dengan lapang
       dada Rasulullab . mendamaikan mereka tanpa menimbulkan kesedihan
       di antara istri – istrinya. Salah satu contoh adalah kejadian
       ketika Hafshah melihat Mariyah al-Qibtiyah datang menemui Nabi
       dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan
       Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalam rumah Hafshah yang ketika
       itu sedang pergi ke rumah ayahnya, dia melihat tabir kamar
       tidurnya tertutup, sementara Rasulullah dan Mariyah berada di
       dalamnya. Melihat kejadian itu, amarah Hafshah meledak. Hafshah
       menangis penuh amarah. Rasulullah berusaha membujuk dan
       meredakan amarah Hafshah, bahkan beliau bersumpah mengharamkan
       Mariyah baginya kalau Mariyah tidak meminta maaf pada Hafshah,
       dan Nabi meminta agar Hafshah merahasiakan kejadian tersebut.
       Merupakan hal yang wajar jika istri-istri Rasulullah merasa
       cemburu terhadap Mariyah, karena dialah satu-satunya wanita yang
       melahirkan putra Rasulullah setelah Siti Khadijah radhiyallahu
       ‘anha. Kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah telah
       memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu
       akhirnya diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau sangat marah.
       Sebagian riwayat mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut,
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceraikan Hafshah,
       namun beberapa saat kemudian beliau merujuknya kembali karena
       melihat ayah Hafshah, Umar, sangat resah. Sementara riwayat lain
       menyebutkan bahwa Rasulullah bermaksud menceraikan Hafshah,
       tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan
       beliau untuk mempertahankan Hafshah sebagai istrinya karena dia
       adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah pun
       mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terlebih karena
       tersebut Hafshah sangat menyesali perbuatannya dengan membuka
       rahasia dan memurkakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Umar ibn Khaththab mengingatkan putrinya agar tidak lagi
       membangkitkan amarah Rasulullah dan senantiasa menaati serta
       mencari keridhaan beliau. Umar ibn Khaththab meletakkan
       keridhaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tempat
       terpenting yang harus dilakukan oleh Hafshah. Pada dasarnya,
       Rasulullah menikahi Hafshah karena memandang keberadaan Umar dan
       merasa kasihan terhadap Hafshah yang ditinggalkan suaminya.
       Allah menurunkan ayat berikut ini sebagai antisipasi atas
       isu-isu yang tersebar.
       “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah
       menghalalkannya bagimu,- kamu mencari kesenangan hati
       istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
       Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian
       membebaskan diri dan sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan
       Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika
       Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dan
       istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah)
       menceritakan peristiwa itu (kepada ‘Aisyah) dan Allah
       memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan
       ‘Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian
       (yang diberiitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian
       yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad)
       memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan ‘Aisyah) lalu
       Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini
       kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh
       Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua
       bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah
       condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu
       membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah
       pelindungnya (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang
       haik; dan selain dan itu malaikat-malaikat adalah penolongnya
       pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan
       memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik
       daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang
       bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda,
       dan yang perawan.” (At-Tahrim: 1-5)
       &#10043; Cobaan Besar
       Hafshah senantiasa bertanya kepada Rasulullah dalam berbagai
       masalah, dan hal itu menyebabkan marahnya Umar kepada Hafshah,
       sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa
       memperlakukan Hafshah dengan lemah lembut dan penuh kasih
       sayang. Beliau bersabda, “Berwasiatlah engkau kepada kaum wanita
       dengan baik.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah
       marah besar kepada istri-istrinya ketika mereka meminta tambahan
       nafkah sehingga secepatnya Umar mendatangi rumah Rasulullah.
       Umar melihat istri-istri Rasulullah murung dan sedih, sepertinya
       telah terjadi perselisihan antara mereka dengan Rasulullah.
       Secara khusus Umar memanggil putrinya, Hafshah, dan
       mengingatkannya untuk menjauhi perilaku yang dapat membangkitkan
       amarah beliau dan menyadari bahwa beliau tidak memiliki banyak
       harta untuk diberikan kepada mereka. Karena marahnya, Rasulullah
       bersumpah untuk tidak berkumpul dengan istri-istri beliau selama
       sebulan hingga mereka menyadari kesalahannya, atau menceraikan
       mereka jika mereka tidak menyadari kesalahan. Kaitannya dengan
       hal ini, Allah berfirman,
       “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian
       menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka
       kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan
       menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan
       (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung
       akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba
       yang baik di antara kalian pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab)
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjauhi istri-istrinya
       selama sebulan di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah, dan
       seorang budak bernama Rabah duduk di depan pintu kamar.
       Setelah kejadian itu tersebarlah kabar yang meresahkan bahwa
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan
       istri-jstri beliau. Yang paling merasakan keresahan adalah Umar
       ibn Khaththab, sehingga dia segera menemui putrinya yang sedang
       menangis. Umar berkata, “Sepertinya Rasulullah telah
       menceraikanmu.” Dengan terisak Hafshah menjawab, “Aku tidak
       tahu.” Umar berkata, “Beliau telah menceraikanmu sekali dan
       merujukmu lagi karena aku. Jika beliau menceraikanmu sekali
       lagi, aku tidak akan berbicara dengan mu selama-lamanya.”
       Hafshah menangis dan menyesali kelalaiannya terhadap suami dan
       ayahnya. Setelah beberapa hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam menyendiri, belum ada seorang pun yang dapat memastikan
       apakah beliau menceraikan istri-istri beliau atau tidak. Karena
       tidak sabar, Umar mendatangi khazanah untuk menemui Rasulullah
       yang sedang menyendiri. Sekarang ini Umar menemui Rasulullah
       bukan karena anaknya, melainkan karena cintanya kepada beliau
       dan merasa sangat sedih melihat keadaan beliau, di samping
       memang ingin memastikan isu yang tersebar. Dia merasa
       putrinyalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau. Umar pun
       meminta penjelasan dari beliau walaupun di sisi lain dia sangat
       yakin bahwa beliau tidak akan menceraikan istri-istri beliau.
       Dan memang benar, Rasulullah tidak akan menceraikan istri-istri
       beliau sehingga Umar meminta izin untuk mengumumkan kabar
       gembira itu kepada kaum muslimin. Umar pergi ke masjid dan
       mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak
       menceraikan istri-istri beliau. Kaum muslimin menyambut gembira
       kabar tersebut, dan tentu yang lebih gembira lagi adalah
       istri-istri beliau.
       Setelah genap sebulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya, beliau
       kembali kepada mereka. Beliau melihat penyesalan tergambar dari
       wajah mereka. Mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk
       lebih meyakinkan lagi, beliau mengumumkan penyesalan mereka
       kepada kaum muslimin. Hafshah dapat dikatakan sebagai istri
       Rasul yang paling menyesal sehingga dia mendekatkan diri kepada
       Allah dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai tebusan bagi
       Rasulullah. Hafshah memperbanyak ibadah, terutama puasa dan
       shalat malam. Kebiasaan itu berlanjut hingga setelah Rasulullah
       wafat. Bahkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, dia
       mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan besar, baik di
       bagian timur maupun barat.
       Hafshah merasa sangat kehilangan ketika ayahnya meninggal di
       tangan Abu Lu’luah. Dia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman,
       yang ketika itu terjadi fitnah besar antar muslimin yang
       menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman hingga masa
       pembai’atan Ali ibn Abi Thalib sebagai Khalifah. Ketika itu,
       Hafshah berada pada kubu ‘Aisyah sebagaimana yang
       diungkapkannya, “Pendapatku adalah sebagaimana pendapat
       ‘Aisyah.” Akan tetapi, dia tidak termasuk ke dalam golongan
       orang yang menyatakan diri berba’iat kepada Ali ibn Abi Thalib
       karena saudaranya, Abdullah ibn Umar, memintanya agar berdiam di
       rumah dan tidak keluar untuk menyatakan ba’iat.
       Tentang wafatnya Hafshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa
       Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke empat puluh tujuh pada masa
       pemerintahan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi’,
       bersebelahan dengan kuburan istri-istri Nabi yang lain.
       &#10043; Pemilik Mushaf yang Pertama
       Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya Al-Qur’an
       ditangannya setelah mengalami penghapusan karena dialah
       satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang pandai
       membaca dan menulis. Pada masa Rasul, Al-Qur’an terjaga di dalam
       dada dan dihafal oleh para sahabat untuk kemudian dituliskan
       pada pelepah kurma atau lembaran-lembaran yang tidak terkumpul
       dalam satu kitab khusus.
       Pada masa Khalifah Abu Bakar, para penghafal Al-Qur’an banyak
       yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan melawan kaum
       murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar ibn Khaththab untuk
       mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer.
       Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an
       dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena
       pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi,
       atas desakan Umar, Abu bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk
       mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya.
       Mushaf asli Al-Qur’an itu berada di rumah Hafshah hingga dia
       meninggal.
       Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Hafshah. dan semoga
       Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin.
       &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit
       Darus-Sa’abu, Riyadh.
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1