URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ KELUARGA RASULULLAH ص&#...
       *****************************************************
       #Post#: 248--------------------------------------------------
       🟠 Istri-Istri Nabi زوجات
       النبي : Saudah bint Zam'ah
   DIR By: LailaDelon
       Date: December 31, 2023, 11:43 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Saudah bint Zam’ah [font=georgia]radhiyallahu
       'anha[/font]
       (Wafat 54 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=90
       Walaupun Saudah [i]bint Zum’ah tidak terlalu populer
       dibandingkan dengan istri Rasulullah lainnya, dia tetap termasuk
       wanita yang memiliki martabat yang mulia dan kedudukan yang
       tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dia telah ikut berjihad di
       jalan Allah dan termasuk wanita yang pertama kali hijrah ke
       Madinah. Perjalanan hidupnya penuh dengan teladan yang baik,
       terutama bagi wanita-wanita sesudahnya. Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam. menikahinya bukan semata-mata karena harta dan
       kecantikannya, karena memang dia tidak tergolong wanita cantik
       dan kaya. Yang dilihat Rasulullab adalah semangat jihadnya di
       jalan Allah, kecerdasan otaknya, perjalanan hidupnya yang
       senantiasa baik, keimanan, serta keikhlasannya kepada Allah dan
       Rasul-Nya.[/i]
       &#10043; Dia adalah Seorang Janda
       Telah kita ketahui bahwa pada tahun-tahun kesedihan karena
       ditinggal wafat oleh Abu Thalib dan Khadijah, Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam. tengah mengalami rnasa sulit.
       Kondisi seperti itu dimanfaatkan olah orang-orang Quraisy untuk
       rnenyiksa Rasulullah dan kaurn muslimin. Pada tahun-tahun ini,
       terasa cobaan dan kesedihan datang sangat besar dan silih
       berganti.
       Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. berpikir
       untuk kembali ke Tsaqif atau Thaif, dengan harapan agar
       orang-orang di Thaif memperoleh hidayah untuk masuk Islam dan
       membantu beliau. Akan tetapi, masyarakat Tsaqif menolak
       mentah-mentah kehadiran beliau, bahkan mereka memerintahkan
       anak-anak mereka melempari beliau dengan batu, hingga kedua
       tumit beliau luka dan berdarah. Walaupun begitu, beliau tetap
       sabar, bahkan tetap mendo’akan mereka agar memperoleh hidayah.
       Dalam keadaan kesepian sesudah kematian Khadijah, terjadilah
       peristiwa Isra’ Mi’raj. Malaikat Jibril membawa Rasulullah ke
       Baitul Maqdis dengan kendaraan Buraq, kemudian menuju langit ke
       tujuh, dan di sana beliau menyaksikan tanda-tanda kebesaran
       Allah. Ketika kembali ke Makkah, beliau menuju Ka’bah dan
       mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan kisah perjalanan
       beliau yang sangat menakjubkan itu. Kaum musyrikin yang
       mendengar kisah itu tidak memercayainya, bahkan mengolok-olok
       beliau, Bertambahlah hambatan dan rintangan yang harus beliau
       hadapi. Dalam kondisi seperti itu, tampillah Saudah bint Zum’ah
       yang ikut berjuang dan senantiasa mendukung Rasulullah, kemudian
       dia menjadi istri Rasulullah yang kedua setelah Khadijah.
       Terdapat beberapa kisah yang menyertai pernikahan Rasulullah
       dengan Saudah bint Zum’ah. Tersebutlah Khaulah bint Hakirn,
       salah seorang mujahid wanita yang pertama masuk Islam. Khaulah
       adalah istri Ustman ibn Madh’um. Dia yang dikenal sebagai wanita
       yang berpendirian kuat, berani, dan cerdas, sehingga dia
       memiliki nilai tersendiri bagi Rasulullah. Melalui kehalusan
       perasaan dan kelembutan fitrahnya, Khaulah sangat memahami
       kondisi Rasulullah yang sangat membutuhkan pendamping, yang
       nantinya akan menjaga dan mengawasi urusan beliau serta mengasuh
       Ummu Kultsum dan Fathimah setelah Zainab dan Ruqayah menikah.
       Pada mulanya, Utsman ibn Madh’um kurang sepakat dengan pemikiran
       Khaulah, karena khawatir hal itu akan menambah beban Rasulullah,
       namun dia tetap pada pendiriannya.
       Kemudian Khaulah menemui Rasulullah dan bertanya langsung
       tentang orang yang akan rnengurus rumah tangga beliau. Dengan
       saksama, beliau mendengarkan seluruh pernyataan Khaulah karena
       baru pertama kali ini ada orang yang memperhatikan masalah rumah
       tangganya dalam kondisi beliau yang sangat sibuk dalam
       menyebarkan agama Allah. Beliau melihat bahwa apa yang
       diungkapkan Khaulah mengandung kebenaran, sehingga beliau pun
       bertanya, “Siapakah yang kau pilih untukku?” Dia menjawab, “Jika
       engkau menginginkan seorang gadis, dia adalah ‘Aisyah bint Abu
       Bakar, dan jika yang engkau inginkan adalah seorang janda, dia
       adalah Saudah bint Zum’ah.” Rasulullah mengingat nama Saudah
       bint Zum’ah, yang sejak keislamannya begitu banyak memikul beban
       perjuangan menyebarkan Islam, sehingga pilihan beliau jatuh pada
       Saudah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. memilih janda
       yang namanya hanya dikenal oleh beberapa orang. Pernikahan
       beliau dengannya tidak didorong oleh keinginan untuk memenuhi
       nafsu duniawi, tetapi lebih karena Rasulullah yakin bahwa Saudah
       dapat ikut serta menjaga keluarga dan rumah tangga beliau
       setelah Khadijah wafat.
       Jika kita rajin menyimak beberapa catatan sejarah tentang
       kehidupan Rasulullah yang berkaitan dengan Saudah bint Zum’ah,
       kita akan menemukan beberapa keterangan tentang sosok Saudah.
       Saudah adalah seorang wanita yang tinggi besar, berbadan gemuk,
       tidak cantik, juga tidak kaya. Dia adalah janda yang ditinggal
       mati suaminya. Rasulullah memilihnya sebagai istri karena kadar
       keimanannya yang kokoh. Dia termasuk wanita pertama yang masuk
       Islam dan sabar menanggung kesulitan hidup.
       &#10043; Nasab dan Keislamannya
       Saudah bint Zum’ah yang bernama lengkap Saudah bint Zum’ah ibn
       Abdi Syamsin ibn Abdud dari Suku Quraisy Amiriyah. Nasabnya ini
       bertemu dengan Rasulullah pada Luay ibn Ghalib. Di antara
       keluarganya, dia dikenal memiliki otak cemerlang dan
       berpandangan luas. Pertama kali dia menikah dengan anak
       pamannya, Syukran ibn Amr, dan menjadi istri yang setia dan
       tulus. Ketika Rasulullah menyebarkan Islam dengan
       terang-terangan, suaminya, Syukran, termasuk orang yang pertama
       kali menerima hidayah Allah. Dia memeluk Islam bersama kelompok
       orang dari Bani Qais ibn Abdu Syamsin. Setelah berbai’at di
       hadapan Nabi, dia segera menemui istrinya, Saudah, dan
       memberitakan tentang keislaman serta agama baru yang dianutnya.
       Kecemerlangan pikiran dan hatinya menyebabkan Saudah cepat
       memahami ajaran Islam untuk selanjutnya mengikuti suami menjadi
       seorang muslimah.
       &#10043; Hijrah ke Habbasyah
       Keislaman Syukran, Saudah, dan beberapa orang yang mengikuti
       jejak mereka berakibat cemoohan, penganiayaan, dan pengasingan
       dari keluarga terdekat mereka. Karena itu, Syukran menemui
       Rasulullah beserta beberapa keluarganya yang sudah memeluk
       Islam, seperti saudaranya (Saud dan Hatib), keponakannya
       (Abdullah ibn Sahil ibn Amr), ditambah saudara kandung Saudah
       (Malik ibn Zum’ah). Rasulullah menasihati agar mereka tetap
       kokoh berpegang pada akidah dan menyarankan agar mereka hijrah
       ke Habasyah, mengikuti saudara-saudara seiman yang telah
       terlebih dahulu hijrah, seperti Utsman ibn Affan dan istrinya,
       Ruqayah bint Muhammad. Akhirnya, kaum muslimin memutuskan untuk
       hijrah. Di antara kaum muslimin yang hijrah ke dua ke Habasyah,
       terdapat Saudah yang turut merasakan pedihnya meninggalkan
       kampung halaman serta sulitnya menempuh perjalanan dan cuaca
       buruk demi menegakkan agama yang diyakininya.
       Di Habasyah mereka disambut dan diperlakukan baik oleh Raja
       Habasyah walaupun keyakinan mereka berbeda, sehingga beberapa
       hari lamanya mereka menjadi tamu raja. Akan tetapi, rasa rindu
       mereka dan keinginan untuk melihat wajah Rasulullah mendera
       mereka. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke
       Makkah, mereka mengisi waktu dengan mengenang kehangatan
       berkumpul dengan Rasulullah dan saudara-saudara seiman di
       Makkah. Ketika mendengar keislaman Umar ibn Khaththab, mereka
       menyambut dengan suka cita. Betapa tidak, Umar ibn Khaththab
       adalah pemuka Quraisy yang disegani. Karena itu, mereka
       memutuskan untuk kembali ke Makkah dengan harapan Umar dapat
       menjamin keselamatan mereka dan gangguan kaum Quraisy. Di antara
       mereka yang ikut kembali adalah Syukran ibn Amr. Akan tetapi,
       dalam perjalanan, Syukran jatuh sakit karena kelaparan sejak
       kakinya menginjak tanah Habasyah. Akhirnya dia meninggal di
       tengah perjalanan menuju Makkah.
       Betapa sedih perasaan Saudah bint Zum’ah ketika mendengar
       suaminya meninggal dunia. Baru saja dia mengalarni betapa
       sedihnya meninggalkan kampung halaman, sulitnya perjalanan ke
       Habasyah, cemoohan, dan penganiayaan orang-orang Quraisy,
       sekarang dia harus merasakan sedihnya ditinggal suami. Dia
       merasa kehilangan orang yang senantiasa bersamanya dalam jihad
       di jalan Allah.
       &#10043; Rahmat Allah
       Saudah bint Zum’ah menanggung semua derita itu dengan kepasrahan
       dan ketabahan, serta menyerahkan semuanya kepada Allah dengan
       senantiasa mengharapkan keridhaan-Nya. Dia kembali ke Makkah
       sebagai satu-satunya janda, dengan perkiraan bahwa keadaan kaum
       muslimin di Makkah sudah membaik setelah beberapa pemuka Quraisy
       menyatakan memeluk Islam. Akan tetapi, temyata kezaliman
       orang-orang Quraisy tetap merajalela. Dalam kondisi seperti itu,
       tidak ada pilihan lain baginya selain kembali ke rumah ayahnya,
       Zum’ah ibn Qais yang masih memeluk agama nenek moyang. Akan
       tetapi, Zum’ah ibn Qais tetap menerima dan rnenghormati
       putrinya. Tidak sedikit pun dia berusaha membujuk agar putrinya
       meninggalkan Islam dan kembali menganut kepercayaan nenek
       moyang.
       Ketika Khaulah bint Hakim berusaha mencarikan istri untuk
       Rasulullah, dia menyebut nama Saudah. Dalam diri Saudah,
       Rasulullah tidak meihat kecantikannya, tetapi lebih melihat
       bahwa Saudah adalah sosok wanita yang sabar, mujahidah yang
       hijrah bersama kaum muslimin, dan mampu menjadi pemimpin di
       rumah ayahnya yang masih musyrik. Karena itulah, Rasulullah
       tergerak menikahinya dan menjadikannya sebagai istri yang akan
       meringankan beban hidupnya. Khaulah menemui Saudah dan
       menyampaikan kabar gembira bahwa tidak semua wanita dianugerahi
       Allah menjadi istri Rasulullah serta menjadi istri manusia yang
       paling mulia dan hamba pilihan-Nya. Ketika bertemu dengan
       Saudah, Khaulah berteriak, “Apa gerangan yang telah engkau
       perbuat sehingga Allah memberkahimu dengan nikmat yahg sebesar
       ini?
       Rasulullah mengutusku untuk meminang engkau baginya.” Sungguh,
       hal itu merupakan berita besar. Saudah tidak pernah memimpikan
       kehormatan sebesar itu, terutama setelah orang-orang
       mencampakkannya karena kematian suaminya. Rasulullah yang mulia
       benar-benar akan menjadikannya sebagai istri. Dengan perasaan
       terharu dia menyetujui permintaan itu dan meminta Khaulah
       menemui ayahnya. Setelah Zum’ah ibn Qais mengetahui siapa yang
       akan meminang putrinya, dan Saudah pun sudah setuju, lamaran itu
       langsung diterimanya, kemudian meminta Rasulullah Muhammad
       datang ke rumahnya. Rasulullah memenuhi undangan tersebut
       bersama Khaulah, dan perkawinan itu terlaksana dengan baik.
       &#10043; Berada di Rumah Rasulullah
       Saudah mulai memasuki rumah tangga Rasulullah, dan di dalarnnya
       dia merasakan kehormatan yang sangat besar sebagai wanita. Dia
       merawat Ummu Kultsum dan Fathimah seperti merawat anaknya
       sendiri. Ummu Kultsum dan Fathimah pun menghargai dan
       memperlakukan Saudah dengan baik.
       Saudah memiliki kelembutan dan kesabaran yang dapat menghibur
       hati Rasulullah, sekaligus memberi semangat. Dia tidak terlalu
       berharap dirinya dapat sejajar dengan Khadijah di hati
       Rasulullah. Dia cukup puas dengan posisinya sebagai istri
       Rasulullah dan Ummul-Mukminin. Kelembutan dan kemanisan tutur
       katanya dapat menggantikan wajahnya yang tidak begitu cantik,
       tubuhnya yang gemuk, dan umurnya yang sudah tua. Apa pun yang
       dia lakukan semata-mata untuk menghilangkan kesedihan
       Rasulullah. Sewaktu-waktu dia meriwayatkan hadits-hadits beliau
       untuk menunjukkan suka citanya di hadapan Nabi.
       Beberapa bulan lamanya Saudah berada di tengahtengah keluarga
       Rasulullah. Keakraban dan keharmonisan mulai terjalin antara
       dirinya dan Rasulullah. Dia tidak pernah melakukan apa pun yang
       dapat menyakitkan Rasulullah. Akan tetapi, pada dasarnya, dia
       belum mampu mengisi kekosongan hati Rasulullah, walaupun dia
       telah memperoleh limpahan kasih dan beliau, sehingga beberapa
       saat kemudian turun wahyu Allah yang memerintahkan Rasulullah
       menikahi ‘Aisyah bint Abu Bakar yang masih sangat belia.
       Rasulullah menemui Abu Bakar dan menjelaskan makna wahyu Allah
       kepadanya. Dengan kerelaan hati, Abu Bakar menerima putrinya
       menikah dengan Rasulullah, dan disuruhnya ‘Aisyah menemui
       beliau. Setelah melihat ‘Aisyah, beliau mengumumkan pinangan
       terhadap ‘Aisyah.
       Lantas, sikap apa yang dilakukan Saudah ketika mengetahui
       pertunangan tersebut Dia rela dan tidak sedikit pun memiliki
       perasaan cemburu. Dia merelakan madunya berada di tengah
       keluarga Rasulullah. Dia merasa cukup bangga menyandang gelar
       Ummul-Mukminin, dapat menyayangi Rasulullah, dan dapat meyakini
       ajarannya, sehingga dia tidak terpengaruh oleh kepentingan
       duniawi.
       &#10043; Hijrahnya ke Madinah
       Pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. hijrah ke
       Madinah tanpa keluarga. Setelah menetap di sebuah rumah, beliau
       mengutus seseorang membawa keluarganya, termasuk Saudah bint
       Zum’ah. Bersama Ummu Kultsum dan Fathimah, Saudah menuju
       Madinah, dan itu merupakan hijrahnya yang kedua setelah ke
       Habasyah. Bedanya, sekarang ini dia hijrah menuju negeri muslim
       yang masyarakatnya sudah berbai’at setia kepada Rasulullah.
       Setelah masjid Nabawi di Yatsrib selesai dibangun, dibangunlah
       rumah Rasulullah di samping masjid tersebut. Di rumah itulah
       Saudah dan putri-putri Nabi tinggal, hingga Ummu Kultsum dan
       Fathimah menyayangi Saudah seperti kepada ibu kandung sendiri.
       Setelah masyarakat Is1am di Yatsrib terbentuk dan sarana ibadah
       selesai dibangun, Abu Bakar mengingatkan Rasulullah agar segera
       menikahi putrinya, “Bukankah engkau hendak membangun keluargamu,
       ya Rasul?” Ketika itu kehidupan Rasulullah tersibukkan oleh
       dakwah dan jihad di jalan Allah, sehingga kepentingan pribadinya
       tidak sempat terpikirkan. Ketika Abu Bakar mengingatkannya,
       barulah beliau sadar dan segera menikahi ‘Aisyah. Kemudian
       beliau membangun kamar untuk ‘Aisyah yang bersebelahan dengan
       kamar Saudah.
       &#10043; Sikap Hidupnya
       Sejarah banyak mencatat sikap Saudah terhadap ‘Aisyah bint Abu
       Bakar. Wajahnya senantiasa ceria dan tutur katanya selalu
       lembut, bahkan dia sering membantu menyelesaikan urusan-urusan
       ‘Aisyah, sehingga ‘Aisyah sangat mencintai Saudah. Begitulah
       kecintaannya kepada Rasulullah sangat melekat erat di dasar
       hati. Segala sesuatunya dia niatkan untuk memperoleh kerelaan
       Rasulullah melalui pengabdian yang tulus terhadap keluarga
       beliau, tanpa keluh kesah. Baginya, kenikmatan yang paling besar
       di dunia ini adalah melihat Rasulullah senang dan tertawa.
       ‘Aisyah berkata, “Tidak ada wanita yang lebih aku cintai untuk
       berkumpul bersamanya selain Sàudah bint Zum’ah, karena dia
       memiliki keistimewaan yang tidak dimiiki wanita lain.” Itu
       merupakan pengakuan ‘Aisyah, wanita yang pikirannya cerdas dan
       senantiasa jernih, yang selalu ingin bersama Saudah dalam jihad,
       keyakinan, kesabaran, dan keteguhannya. Saudah merelakan
       malam-malam gilirannya untuk ‘Aisyah semata-mata untuk
       memperoleh keridhaan Rasulullah. ‘Aisyah mengisahkan, ketika
       usia Saudah semakin uzur dan Rasulullah ingin menceraikannya,
       Saudah berkata, “Aku mohon jangan ceraikan diriku. Aku ingin
       selalu berkumpul dengan istri-istrimu. Aku rela menyerahkan
       malam-malamku untuk ‘Aisyah. Aku sudah tidak menginginkan lagi
       apa pun yang biasa diinginkan kaum wanita.” Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam. pun mengurungkan niatnya.
       Sebenarnya Rasulullah ingin menceraikan Saudah dengan baik-baik
       agar Saudah tidak bermasalah dengan istri-istri beliau yang
       lainnya. Akan tetapi, Saudah menginginkan Rasulullah tetap
       mengikatnya hingga akhir hayatnya agar dia dapat berkumpul
       dengan istri-istri Rasulullah. Alasan itulah yang menyebabkan
       Rasulullah tetap mempertahankan pernikahannya dengan Saudah.
       Saudah mendampingi Rasulullah dalam Perang Khaibar. Biasanya,
       sebelum berangkat berperang, Rasulullah mengundi dahulu istri
       yang akan menyertai beliau. Dalam Perang Khaibar, undian jatuh
       pada diri Saudah, dan kali ini Rasulullah disertai pendamping
       yang sabar. Dalam perang ini banyak sekali kesulitan yang
       dialami Saudah, karena banyak juga kaum muslimin yang syahid
       sebelum Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Dalam
       kemenangannya, kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang
       yang belum pernah mereka alami pada peperangan lainnya. Saudah
       pun mendapatkan bagian rampasan perang ini. Pada peperangan ini
       pula Rasulullah menikahi Shafiyyah bint Huyay ibn Akhtab.
       Mendengar hal itu pun Saudah tetap rela dan menerima kehadiran
       Shafiyyah karena hatinya bersih dari sifat iri dan cemburu.
       Saudah menunaikan haji wada’ bersama istri-istri Rasul lainnya.
       Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal,
       Saudah tidak pernah lagi menunaikan ibadah haji karena khawatir
       melanggar ketentuan beliau. Beberapa saat setelah haji wada’,
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit keras. Beliau
       meminta persetujuan istri-istri beliau yang lain untuk tinggal
       di rumah ‘Aisyah. Ketika Nabi sakit, Saudah tidak pernah
       putus-putusnya menjenguk beliau dan membantu ‘Aisyah sampai
       beliau wafat. Setelah beliau wafat, dia memutuskan untuk
       beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Harta bagiannya dan
       BaitulMal sebagian besar dia salurkan di jalan Allah dengan
       semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya. Dia tidak pemah
       meninggalkan kamarnya kecuali untuk kebutuhan yang mendesak.
       Pada saat-saat seperti itu Abu Bakar selalu menjenguknya karena
       dia tahu bahwa Saudah sangat mencintai putrinya.
       Pada masa kekhalifahan Umar ibn Khaththab, Saudah tetap
       menyendiri untuk beribadah hingga ajal menjemputnya. Sebagian
       riwayat menyebutkan bahwa dia meninggal pada tahun ke-19 Hijrah,
       sementara itu ada juga riwayat yang mengatakan bahwa dia
       meninggal pada tahun ke-54 hijrah. Yang lebih mendekari
       kebenaran adalah pendapat pertama, karena pada masa Rasulullah
       pun Saudah sudah termasuk tua.
       &#10043; Sifat dan Keutamaannya
       Hal istimewa yang dimiliki Saudah adalah kekuatannya dan
       keteguhannya dalam menanggung derita, seperti pengusiran,
       penganiayaan, dan bentuk kezaliman lainnya, baik yang datangnya
       dari kaum Quraisy maupun dan keluarganya sendiri. Hal seperti
       itu tidak mudah dia lakukan, karena perjalanan yang harus
       ditempuhnya itu sangat sulit serta perasaan yang berat ketika
       harus meninggalkan keluarga dan kampung halaman.
       Sifat mulia yang juga menonjol darinya adalah kesabaran dan
       keridhaannya menerima takdir Allah ketika suaminya meninggal,
       harus kembali ke rumah orang tua yang masih musyrik, hingga
       Rasulullah memilihnya menjadi istri. Selama berada di
       tengah-tengah Rasulullah, keimanan dan ketakwaannya bertambah.
       Dia pun bertambah rajin beribadah. Jelasnya, kadar keimanannya
       berada di atas manusia rata-rata. Di dalam hatinya tidak pernah
       ada perasaan cemburu terhadap istri-istri Rasulullah lainnya.
       Saudah pun dikenal dengan kemurahan hatinya dan suka bersedekah.
       Pada sebagian riwayat dikatakan bahwa Saudah paling gemar
       bersedekah di jalan Allah, baik ketika Rasulullah masih hidup
       maupun pada masa berikutnya, yaitu pada masa kekhalifahan Abu
       Bakar dan Umar.
       Pembawaan yang ceria dan menyenangkan dia curahkan untuk
       menghibur Rasulullah. Karakter seperti itu merupakan teladan
       yang baik bagi setiap istri hingga saat ini. Semoga rahmat Allah
       senantiasa menyertai Sayyidah Saudah bint Zum’ah dan semoga
       Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin. &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/msg56/#msg56
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       SUMBER: Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit
       Darus-Sa’abu, Riyadh.
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/5t6GdvDgge/s25/18c91f2ba88/arrow-down[/img]
       [size=12pt]TAMBAHAN KISAH LAINNYA
       Dia adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam sepeninggal khadijah, kemudian
       menjadi istri satu-satunya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk
       berumah tangga dengan ‘Aisyah.
       Sebelum menikah dengan Rasulullloh shallallahu ‘alaihi wasallam,
       Saudah telah menikah dengan Sakran ibn Amr Al-Amiry, mereka
       berdua masuk islam dan kemudian berhijrah ke Habasyah bersama
       dengan rombongan shahabat yang lain.
       Ketika Sakran dan istrinya Saudah tiba di Habasyah maka Sakran
       jatuh sakit dan meninggal. Maka jadilah Saudah menjanda.
       Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       meminang saudah dan diterima oleh saudah dan menikah-lah
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Saudah pada bulan
       Ramadhan.
       Saudah adalah tipe seorang istri yang menyenangkan suaminya
       dengan kesegaran candanya, sebagaimana kisah yang diriwayatkan
       oleh Ibrahim an-Nakha’i bahwasannya saudah berkata kepada
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai Rasulullah, tadi
       malam aku shalat di belakangmu, ketika ruku’ punggungmu
       menyentuh hidungmu dengan keras, maka aku pegang hidungku karena
       aku takut keluar darah, Maka tertawalah Rasulullah. Ibrahim
       berkata: Saudah biasa membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam tertawa dengan candanya. [size=10pt](Thabaqah Kubra
       8/54).
       Ketika Saudah sudah tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       berniat hendak mencerainya, maka saudah berkata kepada
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wahai Rasulullah
       janganlah engkau menceraikanku, bukanlah aku masih menghendaki
       laki-laki, tetapi karena aku ingin dibangkitkan dalam keadaan
       menjadi istrimu, maka tetapkanlah aku menjadi istrimu dan aku
       berikan hari giliranku kepada ‘Aisyah. Maka Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam mengabulkan permohonannya dan tetap
       menjadikannya menjadi salah satu dari seorang istrinya sampai
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal. Dalam hal ini
       turunlah ayat Al-Qur’an, yang artinya: “Dan jika seorang wanita
       kuatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka
       tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang
       sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.” (An-Nisa’:
       128). (Sunan Tirmidzi 8/320 dengan sanad yang dihasankan Ibnu
       Hajar dalam Al-Ishabah 7/720)
       ‘Aisyah berkata: Saudah meminta izin kepada Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu malam Muzdalifah untuk
       berangkat ke Mina sebelum berdesak-desakkannya manusia, adalah
       dia perempuan yang berat jika berjalan, sungguh kalau aku
       meminta izin kepadanya sungguh lebih aku sukai daripada orang
       yang dilapangkan. (Thabaqah Qubra 8/54).
       ‘Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang
       paling aku ingin sekali menjadi dia daripada Saudah [i]bint
       Zam’ah, ketika dia tua dia berikan gilirannya dari Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah.”[/i] (Shahih Muslim
       2/1085).
       Di antara keutamaan Saudah adalah ketaatan dan kesetiaannya yang
       sangat kepada Rasulullah. Ketika haji wada’ Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para
       istri-istrinya: "Ini adalah saat haji bagi kalian kemudian
       setelah ini hendaknya kalian menahan diri di rumah-rumah kalian,
       maka sepeninggal Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi wasallam,
       Saudah selalu di rumahnya dan tidak berangkat haji lagi sampai
       dia meninggal."[/i] (Sunan Abu Dawud 2/140).
       ‘Aisyah berkata: "Sesudah turun ayat tentang hijab, keluarlah
       saudah di waktu malam untuk menunaikan hajatnya, dia adalah
       wanita yang perawakannya tinggi besar sehingga mudah sekali
       dibedakan dari wanita lainnya pada saat itu. Saat itu umar
       melihatnya dan berkata: ‘wahai saudah demi Allah kami tetap bisa
       mengenalimu, maka lihatlah bagaimana engkau keluar, maka Saudah
       segera kembali dan menuju kepada Rasulullah yang pada waktu itu
       di rumah Aisyah, ketika itu Rasulullah sedang makan malam, di
       tangannya ada sepotong daging, maka masuklah Saudah seraya
       berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku keluar
       untuk sebagai keperluanku dalam keadaan berhijab tetapi Umar
       mengatakan ini dan itu, maka saat itu turunlah wahyu kepada
       Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi wasallam dan kemudian beliau
       bersabda: “Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian para wanita
       untuk keluar menunaikan hajatmu.”[/i] (Shahih Bukhari dan
       Muslim).
       Saudah terkenal juga dengan kezuhudannya, ketika umar mengirin
       kepadanya satu wadah berisi dirham, ketika sampai kepadanya maka
       dibagi-bagikannya. (Thabaqah kubra 8/56 dan dishahihkan sanadnya
       oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah 7/721).
       Saudah termasuk deretan istri-istri Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam yang menjaga dan menyampaikan sunnah-sunnah
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Hadits-haditsnya
       diriwayatkan oleh para imam yang terkemuka seperti Imam Ahmad,
       Imam Bukhari, Abu Dawud dan Nasa’i)
       Saudah meninggal di akhir kekhalifahan Umar di Madinah pada
       tahun 54 Hijriyah. Sebelum dia meninggal dia mewariskan rumahnya
       kepada ‘Aisyah. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan
       kebaikan yang melimpah. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Sirah nabawiyah Ibnu Hisyam, Siyar a’lamin Nubala oleh
       Adz-Dzahabi, Al-Ishabah oleh Ibnu Hajar, Al-Isti’ab oleh Ibnu
       Abdil barr, Thabaqah Qubra oleh ibnu Sa’ad
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1