DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ KELUARGA RASULULLAH ص&#...
*****************************************************
#Post#: 248--------------------------------------------------
🟠 Istri-Istri Nabi زوجات
النبي : Saudah bint Zam'ah
DIR By: LailaDelon
Date: December 31, 2023, 11:43 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Saudah bint Zam’ah [font=georgia]radhiyallahu
'anha[/font]
(Wafat 54 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=90
Walaupun Saudah [i]bint Zum’ah tidak terlalu populer
dibandingkan dengan istri Rasulullah lainnya, dia tetap termasuk
wanita yang memiliki martabat yang mulia dan kedudukan yang
tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dia telah ikut berjihad di
jalan Allah dan termasuk wanita yang pertama kali hijrah ke
Madinah. Perjalanan hidupnya penuh dengan teladan yang baik,
terutama bagi wanita-wanita sesudahnya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. menikahinya bukan semata-mata karena harta dan
kecantikannya, karena memang dia tidak tergolong wanita cantik
dan kaya. Yang dilihat Rasulullab adalah semangat jihadnya di
jalan Allah, kecerdasan otaknya, perjalanan hidupnya yang
senantiasa baik, keimanan, serta keikhlasannya kepada Allah dan
Rasul-Nya.[/i]
✻ Dia adalah Seorang Janda
Telah kita ketahui bahwa pada tahun-tahun kesedihan karena
ditinggal wafat oleh Abu Thalib dan Khadijah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. tengah mengalami rnasa sulit.
Kondisi seperti itu dimanfaatkan olah orang-orang Quraisy untuk
rnenyiksa Rasulullah dan kaurn muslimin. Pada tahun-tahun ini,
terasa cobaan dan kesedihan datang sangat besar dan silih
berganti.
Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. berpikir
untuk kembali ke Tsaqif atau Thaif, dengan harapan agar
orang-orang di Thaif memperoleh hidayah untuk masuk Islam dan
membantu beliau. Akan tetapi, masyarakat Tsaqif menolak
mentah-mentah kehadiran beliau, bahkan mereka memerintahkan
anak-anak mereka melempari beliau dengan batu, hingga kedua
tumit beliau luka dan berdarah. Walaupun begitu, beliau tetap
sabar, bahkan tetap mendo’akan mereka agar memperoleh hidayah.
Dalam keadaan kesepian sesudah kematian Khadijah, terjadilah
peristiwa Isra’ Mi’raj. Malaikat Jibril membawa Rasulullah ke
Baitul Maqdis dengan kendaraan Buraq, kemudian menuju langit ke
tujuh, dan di sana beliau menyaksikan tanda-tanda kebesaran
Allah. Ketika kembali ke Makkah, beliau menuju Ka’bah dan
mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan kisah perjalanan
beliau yang sangat menakjubkan itu. Kaum musyrikin yang
mendengar kisah itu tidak memercayainya, bahkan mengolok-olok
beliau, Bertambahlah hambatan dan rintangan yang harus beliau
hadapi. Dalam kondisi seperti itu, tampillah Saudah bint Zum’ah
yang ikut berjuang dan senantiasa mendukung Rasulullah, kemudian
dia menjadi istri Rasulullah yang kedua setelah Khadijah.
Terdapat beberapa kisah yang menyertai pernikahan Rasulullah
dengan Saudah bint Zum’ah. Tersebutlah Khaulah bint Hakirn,
salah seorang mujahid wanita yang pertama masuk Islam. Khaulah
adalah istri Ustman ibn Madh’um. Dia yang dikenal sebagai wanita
yang berpendirian kuat, berani, dan cerdas, sehingga dia
memiliki nilai tersendiri bagi Rasulullah. Melalui kehalusan
perasaan dan kelembutan fitrahnya, Khaulah sangat memahami
kondisi Rasulullah yang sangat membutuhkan pendamping, yang
nantinya akan menjaga dan mengawasi urusan beliau serta mengasuh
Ummu Kultsum dan Fathimah setelah Zainab dan Ruqayah menikah.
Pada mulanya, Utsman ibn Madh’um kurang sepakat dengan pemikiran
Khaulah, karena khawatir hal itu akan menambah beban Rasulullah,
namun dia tetap pada pendiriannya.
Kemudian Khaulah menemui Rasulullah dan bertanya langsung
tentang orang yang akan rnengurus rumah tangga beliau. Dengan
saksama, beliau mendengarkan seluruh pernyataan Khaulah karena
baru pertama kali ini ada orang yang memperhatikan masalah rumah
tangganya dalam kondisi beliau yang sangat sibuk dalam
menyebarkan agama Allah. Beliau melihat bahwa apa yang
diungkapkan Khaulah mengandung kebenaran, sehingga beliau pun
bertanya, “Siapakah yang kau pilih untukku?” Dia menjawab, “Jika
engkau menginginkan seorang gadis, dia adalah ‘Aisyah bint Abu
Bakar, dan jika yang engkau inginkan adalah seorang janda, dia
adalah Saudah bint Zum’ah.” Rasulullah mengingat nama Saudah
bint Zum’ah, yang sejak keislamannya begitu banyak memikul beban
perjuangan menyebarkan Islam, sehingga pilihan beliau jatuh pada
Saudah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. memilih janda
yang namanya hanya dikenal oleh beberapa orang. Pernikahan
beliau dengannya tidak didorong oleh keinginan untuk memenuhi
nafsu duniawi, tetapi lebih karena Rasulullah yakin bahwa Saudah
dapat ikut serta menjaga keluarga dan rumah tangga beliau
setelah Khadijah wafat.
Jika kita rajin menyimak beberapa catatan sejarah tentang
kehidupan Rasulullah yang berkaitan dengan Saudah bint Zum’ah,
kita akan menemukan beberapa keterangan tentang sosok Saudah.
Saudah adalah seorang wanita yang tinggi besar, berbadan gemuk,
tidak cantik, juga tidak kaya. Dia adalah janda yang ditinggal
mati suaminya. Rasulullah memilihnya sebagai istri karena kadar
keimanannya yang kokoh. Dia termasuk wanita pertama yang masuk
Islam dan sabar menanggung kesulitan hidup.
✻ Nasab dan Keislamannya
Saudah bint Zum’ah yang bernama lengkap Saudah bint Zum’ah ibn
Abdi Syamsin ibn Abdud dari Suku Quraisy Amiriyah. Nasabnya ini
bertemu dengan Rasulullah pada Luay ibn Ghalib. Di antara
keluarganya, dia dikenal memiliki otak cemerlang dan
berpandangan luas. Pertama kali dia menikah dengan anak
pamannya, Syukran ibn Amr, dan menjadi istri yang setia dan
tulus. Ketika Rasulullah menyebarkan Islam dengan
terang-terangan, suaminya, Syukran, termasuk orang yang pertama
kali menerima hidayah Allah. Dia memeluk Islam bersama kelompok
orang dari Bani Qais ibn Abdu Syamsin. Setelah berbai’at di
hadapan Nabi, dia segera menemui istrinya, Saudah, dan
memberitakan tentang keislaman serta agama baru yang dianutnya.
Kecemerlangan pikiran dan hatinya menyebabkan Saudah cepat
memahami ajaran Islam untuk selanjutnya mengikuti suami menjadi
seorang muslimah.
✻ Hijrah ke Habbasyah
Keislaman Syukran, Saudah, dan beberapa orang yang mengikuti
jejak mereka berakibat cemoohan, penganiayaan, dan pengasingan
dari keluarga terdekat mereka. Karena itu, Syukran menemui
Rasulullah beserta beberapa keluarganya yang sudah memeluk
Islam, seperti saudaranya (Saud dan Hatib), keponakannya
(Abdullah ibn Sahil ibn Amr), ditambah saudara kandung Saudah
(Malik ibn Zum’ah). Rasulullah menasihati agar mereka tetap
kokoh berpegang pada akidah dan menyarankan agar mereka hijrah
ke Habasyah, mengikuti saudara-saudara seiman yang telah
terlebih dahulu hijrah, seperti Utsman ibn Affan dan istrinya,
Ruqayah bint Muhammad. Akhirnya, kaum muslimin memutuskan untuk
hijrah. Di antara kaum muslimin yang hijrah ke dua ke Habasyah,
terdapat Saudah yang turut merasakan pedihnya meninggalkan
kampung halaman serta sulitnya menempuh perjalanan dan cuaca
buruk demi menegakkan agama yang diyakininya.
Di Habasyah mereka disambut dan diperlakukan baik oleh Raja
Habasyah walaupun keyakinan mereka berbeda, sehingga beberapa
hari lamanya mereka menjadi tamu raja. Akan tetapi, rasa rindu
mereka dan keinginan untuk melihat wajah Rasulullah mendera
mereka. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke
Makkah, mereka mengisi waktu dengan mengenang kehangatan
berkumpul dengan Rasulullah dan saudara-saudara seiman di
Makkah. Ketika mendengar keislaman Umar ibn Khaththab, mereka
menyambut dengan suka cita. Betapa tidak, Umar ibn Khaththab
adalah pemuka Quraisy yang disegani. Karena itu, mereka
memutuskan untuk kembali ke Makkah dengan harapan Umar dapat
menjamin keselamatan mereka dan gangguan kaum Quraisy. Di antara
mereka yang ikut kembali adalah Syukran ibn Amr. Akan tetapi,
dalam perjalanan, Syukran jatuh sakit karena kelaparan sejak
kakinya menginjak tanah Habasyah. Akhirnya dia meninggal di
tengah perjalanan menuju Makkah.
Betapa sedih perasaan Saudah bint Zum’ah ketika mendengar
suaminya meninggal dunia. Baru saja dia mengalarni betapa
sedihnya meninggalkan kampung halaman, sulitnya perjalanan ke
Habasyah, cemoohan, dan penganiayaan orang-orang Quraisy,
sekarang dia harus merasakan sedihnya ditinggal suami. Dia
merasa kehilangan orang yang senantiasa bersamanya dalam jihad
di jalan Allah.
✻ Rahmat Allah
Saudah bint Zum’ah menanggung semua derita itu dengan kepasrahan
dan ketabahan, serta menyerahkan semuanya kepada Allah dengan
senantiasa mengharapkan keridhaan-Nya. Dia kembali ke Makkah
sebagai satu-satunya janda, dengan perkiraan bahwa keadaan kaum
muslimin di Makkah sudah membaik setelah beberapa pemuka Quraisy
menyatakan memeluk Islam. Akan tetapi, temyata kezaliman
orang-orang Quraisy tetap merajalela. Dalam kondisi seperti itu,
tidak ada pilihan lain baginya selain kembali ke rumah ayahnya,
Zum’ah ibn Qais yang masih memeluk agama nenek moyang. Akan
tetapi, Zum’ah ibn Qais tetap menerima dan rnenghormati
putrinya. Tidak sedikit pun dia berusaha membujuk agar putrinya
meninggalkan Islam dan kembali menganut kepercayaan nenek
moyang.
Ketika Khaulah bint Hakim berusaha mencarikan istri untuk
Rasulullah, dia menyebut nama Saudah. Dalam diri Saudah,
Rasulullah tidak meihat kecantikannya, tetapi lebih melihat
bahwa Saudah adalah sosok wanita yang sabar, mujahidah yang
hijrah bersama kaum muslimin, dan mampu menjadi pemimpin di
rumah ayahnya yang masih musyrik. Karena itulah, Rasulullah
tergerak menikahinya dan menjadikannya sebagai istri yang akan
meringankan beban hidupnya. Khaulah menemui Saudah dan
menyampaikan kabar gembira bahwa tidak semua wanita dianugerahi
Allah menjadi istri Rasulullah serta menjadi istri manusia yang
paling mulia dan hamba pilihan-Nya. Ketika bertemu dengan
Saudah, Khaulah berteriak, “Apa gerangan yang telah engkau
perbuat sehingga Allah memberkahimu dengan nikmat yahg sebesar
ini?
Rasulullah mengutusku untuk meminang engkau baginya.” Sungguh,
hal itu merupakan berita besar. Saudah tidak pernah memimpikan
kehormatan sebesar itu, terutama setelah orang-orang
mencampakkannya karena kematian suaminya. Rasulullah yang mulia
benar-benar akan menjadikannya sebagai istri. Dengan perasaan
terharu dia menyetujui permintaan itu dan meminta Khaulah
menemui ayahnya. Setelah Zum’ah ibn Qais mengetahui siapa yang
akan meminang putrinya, dan Saudah pun sudah setuju, lamaran itu
langsung diterimanya, kemudian meminta Rasulullah Muhammad
datang ke rumahnya. Rasulullah memenuhi undangan tersebut
bersama Khaulah, dan perkawinan itu terlaksana dengan baik.
✻ Berada di Rumah Rasulullah
Saudah mulai memasuki rumah tangga Rasulullah, dan di dalarnnya
dia merasakan kehormatan yang sangat besar sebagai wanita. Dia
merawat Ummu Kultsum dan Fathimah seperti merawat anaknya
sendiri. Ummu Kultsum dan Fathimah pun menghargai dan
memperlakukan Saudah dengan baik.
Saudah memiliki kelembutan dan kesabaran yang dapat menghibur
hati Rasulullah, sekaligus memberi semangat. Dia tidak terlalu
berharap dirinya dapat sejajar dengan Khadijah di hati
Rasulullah. Dia cukup puas dengan posisinya sebagai istri
Rasulullah dan Ummul-Mukminin. Kelembutan dan kemanisan tutur
katanya dapat menggantikan wajahnya yang tidak begitu cantik,
tubuhnya yang gemuk, dan umurnya yang sudah tua. Apa pun yang
dia lakukan semata-mata untuk menghilangkan kesedihan
Rasulullah. Sewaktu-waktu dia meriwayatkan hadits-hadits beliau
untuk menunjukkan suka citanya di hadapan Nabi.
Beberapa bulan lamanya Saudah berada di tengahtengah keluarga
Rasulullah. Keakraban dan keharmonisan mulai terjalin antara
dirinya dan Rasulullah. Dia tidak pernah melakukan apa pun yang
dapat menyakitkan Rasulullah. Akan tetapi, pada dasarnya, dia
belum mampu mengisi kekosongan hati Rasulullah, walaupun dia
telah memperoleh limpahan kasih dan beliau, sehingga beberapa
saat kemudian turun wahyu Allah yang memerintahkan Rasulullah
menikahi ‘Aisyah bint Abu Bakar yang masih sangat belia.
Rasulullah menemui Abu Bakar dan menjelaskan makna wahyu Allah
kepadanya. Dengan kerelaan hati, Abu Bakar menerima putrinya
menikah dengan Rasulullah, dan disuruhnya ‘Aisyah menemui
beliau. Setelah melihat ‘Aisyah, beliau mengumumkan pinangan
terhadap ‘Aisyah.
Lantas, sikap apa yang dilakukan Saudah ketika mengetahui
pertunangan tersebut Dia rela dan tidak sedikit pun memiliki
perasaan cemburu. Dia merelakan madunya berada di tengah
keluarga Rasulullah. Dia merasa cukup bangga menyandang gelar
Ummul-Mukminin, dapat menyayangi Rasulullah, dan dapat meyakini
ajarannya, sehingga dia tidak terpengaruh oleh kepentingan
duniawi.
✻ Hijrahnya ke Madinah
Pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. hijrah ke
Madinah tanpa keluarga. Setelah menetap di sebuah rumah, beliau
mengutus seseorang membawa keluarganya, termasuk Saudah bint
Zum’ah. Bersama Ummu Kultsum dan Fathimah, Saudah menuju
Madinah, dan itu merupakan hijrahnya yang kedua setelah ke
Habasyah. Bedanya, sekarang ini dia hijrah menuju negeri muslim
yang masyarakatnya sudah berbai’at setia kepada Rasulullah.
Setelah masjid Nabawi di Yatsrib selesai dibangun, dibangunlah
rumah Rasulullah di samping masjid tersebut. Di rumah itulah
Saudah dan putri-putri Nabi tinggal, hingga Ummu Kultsum dan
Fathimah menyayangi Saudah seperti kepada ibu kandung sendiri.
Setelah masyarakat Is1am di Yatsrib terbentuk dan sarana ibadah
selesai dibangun, Abu Bakar mengingatkan Rasulullah agar segera
menikahi putrinya, “Bukankah engkau hendak membangun keluargamu,
ya Rasul?” Ketika itu kehidupan Rasulullah tersibukkan oleh
dakwah dan jihad di jalan Allah, sehingga kepentingan pribadinya
tidak sempat terpikirkan. Ketika Abu Bakar mengingatkannya,
barulah beliau sadar dan segera menikahi ‘Aisyah. Kemudian
beliau membangun kamar untuk ‘Aisyah yang bersebelahan dengan
kamar Saudah.
✻ Sikap Hidupnya
Sejarah banyak mencatat sikap Saudah terhadap ‘Aisyah bint Abu
Bakar. Wajahnya senantiasa ceria dan tutur katanya selalu
lembut, bahkan dia sering membantu menyelesaikan urusan-urusan
‘Aisyah, sehingga ‘Aisyah sangat mencintai Saudah. Begitulah
kecintaannya kepada Rasulullah sangat melekat erat di dasar
hati. Segala sesuatunya dia niatkan untuk memperoleh kerelaan
Rasulullah melalui pengabdian yang tulus terhadap keluarga
beliau, tanpa keluh kesah. Baginya, kenikmatan yang paling besar
di dunia ini adalah melihat Rasulullah senang dan tertawa.
‘Aisyah berkata, “Tidak ada wanita yang lebih aku cintai untuk
berkumpul bersamanya selain Sàudah bint Zum’ah, karena dia
memiliki keistimewaan yang tidak dimiiki wanita lain.” Itu
merupakan pengakuan ‘Aisyah, wanita yang pikirannya cerdas dan
senantiasa jernih, yang selalu ingin bersama Saudah dalam jihad,
keyakinan, kesabaran, dan keteguhannya. Saudah merelakan
malam-malam gilirannya untuk ‘Aisyah semata-mata untuk
memperoleh keridhaan Rasulullah. ‘Aisyah mengisahkan, ketika
usia Saudah semakin uzur dan Rasulullah ingin menceraikannya,
Saudah berkata, “Aku mohon jangan ceraikan diriku. Aku ingin
selalu berkumpul dengan istri-istrimu. Aku rela menyerahkan
malam-malamku untuk ‘Aisyah. Aku sudah tidak menginginkan lagi
apa pun yang biasa diinginkan kaum wanita.” Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. pun mengurungkan niatnya.
Sebenarnya Rasulullah ingin menceraikan Saudah dengan baik-baik
agar Saudah tidak bermasalah dengan istri-istri beliau yang
lainnya. Akan tetapi, Saudah menginginkan Rasulullah tetap
mengikatnya hingga akhir hayatnya agar dia dapat berkumpul
dengan istri-istri Rasulullah. Alasan itulah yang menyebabkan
Rasulullah tetap mempertahankan pernikahannya dengan Saudah.
Saudah mendampingi Rasulullah dalam Perang Khaibar. Biasanya,
sebelum berangkat berperang, Rasulullah mengundi dahulu istri
yang akan menyertai beliau. Dalam Perang Khaibar, undian jatuh
pada diri Saudah, dan kali ini Rasulullah disertai pendamping
yang sabar. Dalam perang ini banyak sekali kesulitan yang
dialami Saudah, karena banyak juga kaum muslimin yang syahid
sebelum Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Dalam
kemenangannya, kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang
yang belum pernah mereka alami pada peperangan lainnya. Saudah
pun mendapatkan bagian rampasan perang ini. Pada peperangan ini
pula Rasulullah menikahi Shafiyyah bint Huyay ibn Akhtab.
Mendengar hal itu pun Saudah tetap rela dan menerima kehadiran
Shafiyyah karena hatinya bersih dari sifat iri dan cemburu.
Saudah menunaikan haji wada’ bersama istri-istri Rasul lainnya.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal,
Saudah tidak pernah lagi menunaikan ibadah haji karena khawatir
melanggar ketentuan beliau. Beberapa saat setelah haji wada’,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit keras. Beliau
meminta persetujuan istri-istri beliau yang lain untuk tinggal
di rumah ‘Aisyah. Ketika Nabi sakit, Saudah tidak pernah
putus-putusnya menjenguk beliau dan membantu ‘Aisyah sampai
beliau wafat. Setelah beliau wafat, dia memutuskan untuk
beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Harta bagiannya dan
BaitulMal sebagian besar dia salurkan di jalan Allah dengan
semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya. Dia tidak pemah
meninggalkan kamarnya kecuali untuk kebutuhan yang mendesak.
Pada saat-saat seperti itu Abu Bakar selalu menjenguknya karena
dia tahu bahwa Saudah sangat mencintai putrinya.
Pada masa kekhalifahan Umar ibn Khaththab, Saudah tetap
menyendiri untuk beribadah hingga ajal menjemputnya. Sebagian
riwayat menyebutkan bahwa dia meninggal pada tahun ke-19 Hijrah,
sementara itu ada juga riwayat yang mengatakan bahwa dia
meninggal pada tahun ke-54 hijrah. Yang lebih mendekari
kebenaran adalah pendapat pertama, karena pada masa Rasulullah
pun Saudah sudah termasuk tua.
✻ Sifat dan Keutamaannya
Hal istimewa yang dimiliki Saudah adalah kekuatannya dan
keteguhannya dalam menanggung derita, seperti pengusiran,
penganiayaan, dan bentuk kezaliman lainnya, baik yang datangnya
dari kaum Quraisy maupun dan keluarganya sendiri. Hal seperti
itu tidak mudah dia lakukan, karena perjalanan yang harus
ditempuhnya itu sangat sulit serta perasaan yang berat ketika
harus meninggalkan keluarga dan kampung halaman.
Sifat mulia yang juga menonjol darinya adalah kesabaran dan
keridhaannya menerima takdir Allah ketika suaminya meninggal,
harus kembali ke rumah orang tua yang masih musyrik, hingga
Rasulullah memilihnya menjadi istri. Selama berada di
tengah-tengah Rasulullah, keimanan dan ketakwaannya bertambah.
Dia pun bertambah rajin beribadah. Jelasnya, kadar keimanannya
berada di atas manusia rata-rata. Di dalam hatinya tidak pernah
ada perasaan cemburu terhadap istri-istri Rasulullah lainnya.
Saudah pun dikenal dengan kemurahan hatinya dan suka bersedekah.
Pada sebagian riwayat dikatakan bahwa Saudah paling gemar
bersedekah di jalan Allah, baik ketika Rasulullah masih hidup
maupun pada masa berikutnya, yaitu pada masa kekhalifahan Abu
Bakar dan Umar.
Pembawaan yang ceria dan menyenangkan dia curahkan untuk
menghibur Rasulullah. Karakter seperti itu merupakan teladan
yang baik bagi setiap istri hingga saat ini. Semoga rahmat Allah
senantiasa menyertai Sayyidah Saudah bint Zum’ah dan semoga
Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin. Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/msg56/#msg56
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
SUMBER: Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit
Darus-Sa’abu, Riyadh.
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/5t6GdvDgge/s25/18c91f2ba88/arrow-down[/img]
[size=12pt]TAMBAHAN KISAH LAINNYA
Dia adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam sepeninggal khadijah, kemudian
menjadi istri satu-satunya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk
berumah tangga dengan ‘Aisyah.
Sebelum menikah dengan Rasulullloh shallallahu ‘alaihi wasallam,
Saudah telah menikah dengan Sakran ibn Amr Al-Amiry, mereka
berdua masuk islam dan kemudian berhijrah ke Habasyah bersama
dengan rombongan shahabat yang lain.
Ketika Sakran dan istrinya Saudah tiba di Habasyah maka Sakran
jatuh sakit dan meninggal. Maka jadilah Saudah menjanda.
Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
meminang saudah dan diterima oleh saudah dan menikah-lah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Saudah pada bulan
Ramadhan.
Saudah adalah tipe seorang istri yang menyenangkan suaminya
dengan kesegaran candanya, sebagaimana kisah yang diriwayatkan
oleh Ibrahim an-Nakha’i bahwasannya saudah berkata kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai Rasulullah, tadi
malam aku shalat di belakangmu, ketika ruku’ punggungmu
menyentuh hidungmu dengan keras, maka aku pegang hidungku karena
aku takut keluar darah, Maka tertawalah Rasulullah. Ibrahim
berkata: Saudah biasa membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam tertawa dengan candanya. [size=10pt](Thabaqah Kubra
8/54).
Ketika Saudah sudah tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
berniat hendak mencerainya, maka saudah berkata kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wahai Rasulullah
janganlah engkau menceraikanku, bukanlah aku masih menghendaki
laki-laki, tetapi karena aku ingin dibangkitkan dalam keadaan
menjadi istrimu, maka tetapkanlah aku menjadi istrimu dan aku
berikan hari giliranku kepada ‘Aisyah. Maka Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mengabulkan permohonannya dan tetap
menjadikannya menjadi salah satu dari seorang istrinya sampai
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal. Dalam hal ini
turunlah ayat Al-Qur’an, yang artinya: “Dan jika seorang wanita
kuatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka
tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang
sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.” (An-Nisa’:
128). (Sunan Tirmidzi 8/320 dengan sanad yang dihasankan Ibnu
Hajar dalam Al-Ishabah 7/720)
‘Aisyah berkata: Saudah meminta izin kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu malam Muzdalifah untuk
berangkat ke Mina sebelum berdesak-desakkannya manusia, adalah
dia perempuan yang berat jika berjalan, sungguh kalau aku
meminta izin kepadanya sungguh lebih aku sukai daripada orang
yang dilapangkan. (Thabaqah Qubra 8/54).
‘Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang
paling aku ingin sekali menjadi dia daripada Saudah [i]bint
Zam’ah, ketika dia tua dia berikan gilirannya dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah.”[/i] (Shahih Muslim
2/1085).
Di antara keutamaan Saudah adalah ketaatan dan kesetiaannya yang
sangat kepada Rasulullah. Ketika haji wada’ Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para
istri-istrinya: "Ini adalah saat haji bagi kalian kemudian
setelah ini hendaknya kalian menahan diri di rumah-rumah kalian,
maka sepeninggal Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi wasallam,
Saudah selalu di rumahnya dan tidak berangkat haji lagi sampai
dia meninggal."[/i] (Sunan Abu Dawud 2/140).
‘Aisyah berkata: "Sesudah turun ayat tentang hijab, keluarlah
saudah di waktu malam untuk menunaikan hajatnya, dia adalah
wanita yang perawakannya tinggi besar sehingga mudah sekali
dibedakan dari wanita lainnya pada saat itu. Saat itu umar
melihatnya dan berkata: ‘wahai saudah demi Allah kami tetap bisa
mengenalimu, maka lihatlah bagaimana engkau keluar, maka Saudah
segera kembali dan menuju kepada Rasulullah yang pada waktu itu
di rumah Aisyah, ketika itu Rasulullah sedang makan malam, di
tangannya ada sepotong daging, maka masuklah Saudah seraya
berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku keluar
untuk sebagai keperluanku dalam keadaan berhijab tetapi Umar
mengatakan ini dan itu, maka saat itu turunlah wahyu kepada
Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi wasallam dan kemudian beliau
bersabda: “Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian para wanita
untuk keluar menunaikan hajatmu.”[/i] (Shahih Bukhari dan
Muslim).
Saudah terkenal juga dengan kezuhudannya, ketika umar mengirin
kepadanya satu wadah berisi dirham, ketika sampai kepadanya maka
dibagi-bagikannya. (Thabaqah kubra 8/56 dan dishahihkan sanadnya
oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah 7/721).
Saudah termasuk deretan istri-istri Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam yang menjaga dan menyampaikan sunnah-sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Hadits-haditsnya
diriwayatkan oleh para imam yang terkemuka seperti Imam Ahmad,
Imam Bukhari, Abu Dawud dan Nasa’i)
Saudah meninggal di akhir kekhalifahan Umar di Madinah pada
tahun 54 Hijriyah. Sebelum dia meninggal dia mewariskan rumahnya
kepada ‘Aisyah. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan
kebaikan yang melimpah. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
SUMBER: Sirah nabawiyah Ibnu Hisyam, Siyar a’lamin Nubala oleh
Adz-Dzahabi, Al-Ishabah oleh Ibnu Hajar, Al-Isti’ab oleh Ibnu
Abdil barr, Thabaqah Qubra oleh ibnu Sa’ad
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1