URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ KELUARGA RASULULLAH ص&#...
       *****************************************************
       #Post#: 245--------------------------------------------------
       🟠 Istri-Istri Nabi زوجات
       النبي : Ummu Salamah
   DIR By: LailaDelon
       Date: December 31, 2023, 11:41 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Ummu Salamah [font=georgia]radhiyallahu 'anha[/font]
       (Wafat 59 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=58
       Ummu Salamah adalah seorang Ummul-Mukminin yang berkepribadian
       kuat, cantik, dan menawan, serta memiliki semangat jihad dan
       kesabaran dalam menghadapi cobaan, lebih-lebih setelah berpisah
       dengan suami dan anak-anaknya. Berkat kematangan berpikir dan
       ketepatan dalam mengambil keputusan, dia mendaparkan kedudukan
       mulia di sisi Rasulullah [i]shallallahu ‘alaihi wasallam. Di
       dalam sirah Ummahatul Mukminin dijelaskan tentang banyaknya
       sikap mulia dan peristiwa penting darinya yang dapat diteladani
       kaum muslimin, baik sikapnya sebagai istri yang selalu menjaga
       kehormatan keluarga maupun sebagai pejuang di jalan Allah.[/i]
       Nama sebenarnya Ummu Salamah adalah Hindun bint Suhail, dikenal
       dengan nama Ummu Salamah. Beliau dibesarkan di lingkungan
       bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail ibn Mughirah
       ibn Makhzum. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang
       dermawan sehingga dijuluki Dzadur-Rakib (penjamu para musafir)
       karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya dalam
       perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya, terkaya, dan terbesar
       wibawanya. Ibu dari Ummu Salamah bernama Atikah bint Amir ibn
       Rabi’ah ibn Malik ibn Jazimah ibn Alqamah al-Kananiyah yang
       berasal dari Bani Faras.
       Demikianlah, Hindun dibesarkan di dalam lingkungan bangsawan
       yang dihormati dan disegani. Kecantikannya meluluhkan setiap
       orang yang melihatnya dan kebaikan pribadinya telah tertanam
       sejak kecil.
       &#10043; Pernikahan dan Perjuangannya
       Banyak pemuda Makkah yang ingin mempersunting Hindun, dan yang
       berhasil menikahinya adalah Abdullah ibn Abdul Asad ibn Hilal
       ibn Abdullah ibn Umar ibn Makhzum, seorang penunggang kuda
       terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah
       berani. Ibunya bernama Barrah bint Abdul-Muththalib ibn Hasyim,
       bibi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdullah adalah saudara
       sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab. Mereka hidup
       bahagia, dan rumah tangga mereka diliputi kerukunan dan
       kesejahteraan.
       Tidak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka
       sehingga mereka memeluk Islam dan menjadi orang-oramg pertama
       yang masuk Islam. Begitu pula dengan Hindun, dia tergolong
       orang-orang yang pertama masuk Islam, dan bersama suaminya
       memulai perjuangan dalam hidup mereka.
       Orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin
       agar mereka meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama nenek
       moyang mereka. Melihat kondisi seperti itu, Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan mereka untuk hijrah ke
       Habasyah, sehingga mereka disebut sebagai kaum muhajirin yang
       pertama. Mereka menetap di Habasyah, dan di sana Hindun
       melahirkan anak-anaknya: Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah.
       Setelah beberapa lama, mereka berniat kembali ke Makkah,
       terutama setelah mendengar keislaman dua tokoh penting Quraisy,
       Umar ibn Khaththab dan Hamzah ibn Abdul-Muththalib. Akan tetapi,
       ternyata penyiksaan masih terus berlangsung, bahkan bertambah
       dahsyat. Untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya, Abu
       Salamah meminta perlindungan dari Abu Thalib (paman Nabi) dari
       siksaan kaumnya, yaitu Bani Makhzum, dan Abu Thalib menyatakan
       perlindungannya.
       &#10043; Cobaan Datang
       Karena orang-orang Quraisy masih saja menyiksa kaum muslimin,
       akhirnya Allah membuka hati penduduk Madinah untuk menerima
       Islam. Kemudian Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk
       hijrah ke sana, baik secara kelompok maupun perseorangan. Abu
       Salamah, istri, dan anaknya (Salamah) hijrah ke sana. Di tengah
       perjalanan mereka dihadang oleh kaum Bani Makhzum (kaumnya Ummu
       Salamah) yang kemudian merampas serta menyandera Ummu Salamah.
       Keluarga Abu Salamah (Bani Asad) ikut campur tangan dan mereka
       menolak menyerahkan Salamah, bahkan si anak dirampas dan
       dijauhkan dari ibunya. Sedangkan Bani Makhzum menculik Ummu
       Salamah dan dipenjara. Adapun Abu Salamah dibiarkan ke Yatsrib
       dengan hati penuh kesedihan karena harus berpisah dengan istri
       dan anaknya.
       Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu
       Salamah terus-menerus menangis karena kecewa atas perbuatan
       kaumnya, sehingga akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya
       yang merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya di
       Madinah. Adapun Bani Asad menyerahkan kembali putranya, Salamah,
       kepadanya. Akan tetapi, banyak rintangan yang harus dia hadapi,
       dan berkat keimanan dan keinginan yang kuat, dia mampu mengatasi
       semua itu dan tiba di Madinah.
       &#10043; Pesan Abu Salamah untuk Istrinya
       Dalam membela Islam, peran Abu Salamah sangat besar. Dia dikenal
       berani dalam berperang. Rasulullah menghargainya dengan
       mengangkatnya sebagai wakil Rasulullah di Madinah ketika beliau
       pergi memimpin pasukan dalam perang Dzil Asyirah pada tahun
       kedua hijriah. Abu Salamah ikut dalam Perang Badar dan Uhud.
       Ketika dalam perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka yang cukup
       parah dan nyaris meninggal, namun beberapa saat kemudian dia
       sembuh.
       Setelah Perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       menerima berita bahwa Bani Asad hendak menyerang kaum muslimin
       di Madinah. Sebelum mereka menyerang, Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam berinisiatif mendahului mereka. Dalam misi ini,
       beliau menunjuk Abu Salamah untuk memimpin pasukan yang
       berjumlah seratus lima puluh orang dan di dalamnya terdapat Saad
       ibn Abi Waqash, Abu Ubaidah ibn Jarrah, Amir ibn Jarrah, dan
       yang lainnya. Pasukan diarahkan ke Bukit Quthn, tempat mata air
       Bani Asad. Kemenangan gemilang diraih oleh pasukan Abu Salamah,
       dan mereka kembali ke Madinah dengan membawa banyak harta
       rampasan perang. Di Madinah, luka-luka Abu Salamah kambuh
       sehingga dia harus beristirahat beberapa waktu. Ketika sakit,
       Rasulullah selalu menjenguk dan mendo’akannya.
       Ummu Salamah selalu mendampingi suaminya yang sedang dalam
       keadaan sakit sehingga dia merawat dan menjaganya siang dan
       malam. Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat, kemudian Ummu
       Salamah berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa
       seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian
       suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga, jika
       setelah itu istrinya tidak menikah lagi, dan Allah akan
       mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika si istri
       yang meninggal, dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya.
       Untuk itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah
       lagi sepeninggalku, dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah
       lagi sepeninggalmu.” Abu Salamah berkata, “Maukah engkau
       mena’ati perintahku?” Dia menjawab, “Adapun saya bermusyawarah
       hanya untuk ta’at.” Abu Salamah berkata, “Seandainya aku mati,
       maka menikahlah.” Lalu dia berdo’a kepada Allah ”Ya Allah,
       kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih
       baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”
       Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa
       memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah
       berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput.
       Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya
       yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada
       yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan
       lupa?” Beliau menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan
       lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas
       takbir itu.” Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan
       bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu musibah, maka
       ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah,
       ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan
       dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan
       berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan
       melaksanakannya untuknya.”
       Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: “Ya
       Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari
       musibah yang menimpanya, dan berilah pengganti yang lebih baik
       untuknya.”
       Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia
       telah memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah.
       Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salamah diliputi rasa sedih. Dia
       menjadi janda dan ibu bagi anak-anak yatim.
       Setelah wafatnya Abu Salamah, para pemuka dari kalangan sahabat
       bersegera meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai
       tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk. melindungi
       diri Ummu Salamah. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar ibn
       al-Khaththab meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya.
       Pada saat dirundung kesedihan atas suami yang benar-benar
       dicintainya serta belum mendapatkan orang yang lebih baik
       darinya, ia didatangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam dengan maksud menghiburnya dan meringankan apa yang
       dialaminya. Rasulullah berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah
       agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan
       untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa
       yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”
       &#10043; Di Rumah Rasulullah &#65018;
       Rasulullah &#65018; mulai memikirkan perkara Ummu Salamah,
       seorang mukminah mujahidah yang memiliki kesabaran, dan Ummu
       Salamah pun telah menolak lamaran dua sahabatnya, Abu Bakar dan
       Umar. Rasulullah &#65018; pun berpikir dengan penuh pertimbangan
       dan kasih sayang untuk tidak membiarkannya larut dalam kesedihan
       dan kesendirian.
       Dalam keadaan seperti itu Rasulullah &#65018; mengutus Hathib
       ibn Abi Balta’ah menemui Ummu Salamah dengan maksud meminangnya
       untuk beliau. Maka oleh Ummu Salamah diterimanya pinangan
       tersebut. Bagaimana mungkin baginya untuk tidak menerima
       pinangan dari orang yang lebih baik dari Abu Salamah, bahkan
       lebih baik dan semua orang di dunia.
       Dengan perkawinan tersebut maka Ummu Salamah termasuk kalangan
       Ummahatul-Mukminin, dan oleh Rasulullah ia ditempatkan di kamar
       Zainab bint Khuzaimah yang digelari Ummul-Masakiin (ibu bagi
       orang-orang miskin) sampai Ummu Salamah meninggal dunia.
       Hal itu diceritakan oleh Ummu Salamah kepada kami. Ia berkata,
       “Aku dipersunting oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
       lalu aku dipindahkan dan ditempatkan di rumah Zainab
       (ummul-masakiin).”
       Beberapa keistimewaan yang dimiliki Ummu Salamah adalah
       ketajaman logika, kematangan berpikir, dan keputusan yang benar
       atas banyak perkara. Karena itu, ia memiliki kedudukan yang
       agung di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti
       interaksinya dengan para Ummahatul-Mukminin yang merupakan
       interaksi yang diliputi rasa kasih sayang dan kelemahlembutan.
       &#10043; Kedudukannya yang Agung
       Di antara perkara yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi di
       sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam adalah apa yang
       diceritakan Urwah ibn Zubair “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam menyuruh Ummu Salamah melaksanakan shalat shubuh di
       Makkah pada hari penyembelihan (qurban) — padahal saat itu
       merupakan hari (giliran)nya. Oleh sebab itu, Rasulullah merasa
       senang atas kesetujuannya.”
       Begitu juga hadits Ummi Kulsum bint Uqbah yang dimasukkan oleh
       Ibnu Sa’ad dalam (kitab) Thabaqat-nya. Ummi Kultsum berkata,
       “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Ummu
       Salamah, belau berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku
       menghadiahkan untuk Raja Najasyi sejumlah bejana berisikan
       minyak wangi dan selimut. Akan tetapi, aku bermimpi bahwa Raja
       Najasyi itu telah meninggal dunia, kemudian hadiah yang
       kuberikan kepadanya dikembalikan kepadaku. Karena dikembalikan
       kepadaku, maka barang tersebut menjadi milikkü.”
       Sebagaimana yang dikatakan Nabi Shallallahu 'alaihi Wassalam,
       Raja Najasyi meninggal dunia, dan hadiah tersebut dikembalikan
       kepadanya. Lalu beliau memberikan kepada setiap istrinya
       masing-masing satu uqiyah (1/2 liter Mesir) dan beliau memberi
       (sisa) keseluruhannya serta selimut kepada Ummu Salamah.
       Setelah Ummu Salamah menjadi istrinya, Nabi Shallallahu 'alaihi
       Wassalam memasukkannya dalam kalangan ahlul-bait. Di antara
       riwayat tentang masalah tersebut adalah bahwasanya pernah pada
       suatu hari Rasulullah berada di sisi Ummu Salamah, dan anak
       perempuan Ummu Salamah ada di sana. Rasulullah kemudian
       didatangi anak perempuannya, Fathimah az-Zahra, disertai kedua
       anaknya, Hasan dan Husain radhiyallahu 'anhum, lalu Rasullah
       memeluk Fathimah dan berkata, “Semoga rahmat Allah dan
       berkah-Nya tercurah pada kalian wahai ahlul-bait. Sesungguhnya
       Dia Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”
       Lalu menangislah Ummu Salamah. Maka Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam menanyakan tentang penyebab tangisnya itu. Ia
       menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau mengistimewakan mereka
       sedangkan aku dan anak perempuanku engkau tinggalkan. Beliau
       bersabda, “Sesungguhnya engkau dan anak perempuanmu termasuk
       keluargaku.”
       Anak perempuan Ummu Salamah, Zainab, tumbuh dalam peliharaan
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ia termasuk di antara
       wanita yang memiliki ilmu yang luas pada masanya.
       Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempersunting
       Ummu Salamah, wahyu pernah turun kepada Rasulullah di kamar
       ‘Aisyah, yang dengan hal itu Aisyah membanggakannya pada
       istri-stri beliau yang lain. Maka setelah Rasulullah menikahi
       Ummu Salamah, wahyu turun kepadanya ketika beliau berada di
       kamar Ummu Salamah.
       &#10043; Beberapa Sikap Cemerlang pada Masa Hidup Ummu Salamah
       Di antara sikap agungnya adalah apa yang ditunjukkannya pada
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari (perjanjian)
       Hudaibiyah. Pada waktu itu ia menyertai Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam dalam perjalanannya menuju Makkah dengan tujuan
       menunaikan umrah, tetapi orang-orang musyrik mencegah mereka
       untuk memasuki Makkah, dan terjadilah Perjanjian Hudaibiyah
       antara kedua belah pihak.
       Akan tetapi, sebagian besar kaum muslimin merasa dikhianati dan
       merasa bahwa orang-orang musyrik menyianyiakan sejumlah hak-hak
       kaum muslimin. Di antara mayonitas yang menaruh dendam itu
       adalah Umar ibn al-Khaththab, yang berkata kepada Rasulullah
       dalam percakapannya dengan beliau, “Atas perkara apa kita
       serahkan nyawa di dalam agama kita?” Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam menjawab, “Saya adalah hamba Allah dan
       rasul-Nya. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia tidak
       akan menyianyiakanku.”
       Akan tetapi, tanda-tanda bahaya semakin memuncak setelah
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kaum muslimin
       melaksanakan penyembelihan hewan qurban kemudian bercukur,
       tetapi tidak seorang pun dari mereka melaksanakannya. Beliau
       mengulang seruannya tiga kali tanpa ada sambutan.
       Beliau menemui istrinya, Ummu Salamah, dan menceritakan
       kepadanya tentang sikap kaum muslimin. Ummu Salamah berkata,
       “Wahai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan perintah Allah ini
       dilaksanakan oleh kaum muslimin? Keluarlah engkau, kemudian
       janganlah mengajak bicara sepatah kata seorang pun dari mereka
       sampai engkau menyembelih qurbanmu serta memanggil tukang cukur
       yang mencukurmu.”
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kagum atas pendapatnya
       dan bangkit mengerjakan sebagaimana yang diusulkan Ummu Salamah.
       Tatkala kaum muslimin melihat Rasulullah mengerjakan hal itu
       tanpa berkata kepada mereka, mereka bangkit dan menyembelih
       serta sebagian dari mereka mulai mencukur kepala sebagian yang
       lain tanpa ada perasaan keluh kesah dan penyesalan atas tindakan
       Rasulullah yang mendahului mereka.
       Ummu Salamah telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam di banyak peperangan, yaitu peperangan Khaibar,
       Pembebasan Makkah, pengepungan Tha’if, peperangan Hawazin,
       Tsaqif kemudian ikut bersama beliau di Haji Wada’.
       Kita tidak melupakan sikapnya terhadap Umar ibn al-Khaththab,
       tatkala Umar datang kepadanya dan mengajak bicara tentang
       perkara keperluan Ummahatul-Mukminin kepada Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam serta kekasaran mereka terhadap
       Rasulullah. Maka ia berkata, “Engkau ini aneh, wahai anak
       al-Khaththab. Engkau telah ikut campur di setiap perkara
       sehingga ingin mencampuri urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam beserta istri-istrinya?”
       Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia
       ia senantiasa mengenang beliau dan sangat berduka cita atas
       kewafatannya. Beliau senantiasa banyak melakukan puasa dan
       beribadah, tidak kikir pada ilmu, serta meriwayatkan hadits yang
       berasal dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Telah diriwayatkannya sekian banyak hadits shahih yang bersumber
       dari Rasulullah dan suaminya, Abu Salamah, serta dari Fathimah
       az-Zahraa Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya banyak
       sekali, di antara mereka adalah anak-anaknya dan para pemuka dan
       sahabat serta ahli hadits.
       Di antara beberapa sikapnya yang nyata adalah pada hari
       pembebasan kota Makkah. Waktu itu Nabi keluar dari Madinah
       bersama bala tentaranya dengan kehebatan dan jumlah yang belum
       pernah disaksikan oleh bangsa Arab, sehingga orang-orang musyrik
       Quraisy merasa takut, dan mereka keluar dari rumah dengan maksud
       menemui Rasulullah untuk bertobat dan menyatakan keislaman
       mereka.
       Termasuk dari mereka, Abu Sufyan ibn al-Harts ibn
       Abdul-Muththalib (anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam) dan Abdullah ibn Abi Umayyah ibn al-Mughirah (anak
       bibi [dari ayah] Rasulullah, saudara Ummu Salamah sebapak).
       Ketika mereka berdua meminta izin masuk menemui Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau enggan memberi izin masuk
       bagi keduanya disebabkan penyiksaan mereka yang keras terhadap
       kaum muslimin menjelang beliau hijrah dari Makkah.
       Maka berkatalah Ummu Salamah kepada Rasulullah dengan perasaan
       iba terhadap keluarganya sendiri dan juga keluarga Rasulullah,
       “Wahai Rasulullah, mereka berdua adalah anak pamanmu dan anak
       bibimu (dan ayah) serta iparmu.” Rasulullah menjawab, “Tidak ada
       keperluan bagiku dengan mereka berdua. Adapun anak pamanku, aku
       telah diperlakukan olehnya dengan tidak baik. Adapun anak bibiku
       (dari ayah) serta iparku telah berkata di Makkah dengan apa yang
       ia katakan.”
       Pernyataan itu telah sampai kepada Abu Sufyan, anak paman
       Rasulullah. Maka ia berkata, “Demi Allah, ia harus mengizinkanku
       atau aku mengambil anak ini dengan kedua tanganku -pada saat itu
       ia bersama anaknya, Ja’far- kemudian kami harus berkelana di
       dunia sehingga mati kehausan dan kelaparan.”
       Lalu Ummu Salamah memberitahukan perkataan Abu Sufyan tersebut
       kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kembali
       memohon rasa belas kasih. Akhirnya hati beliau menjadi luluh,
       lalu mengizinkan keduanya masuk. Maka masuklah keduanya dan
       menyatakan keislaman serta bertaubat di hadapan Rasulullah.
       &#10043; Sikapnya terhadap Fitnah &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       Ummu Salamah selalu berada di rumahnya, senantiasa ikhlas
       beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan menjaga Sunnah
       suaminya tercinta pada masa (khilafah) Abu Bakar ash-Shiddiq dan
       Umar ibn al-Khaththab..
       Pada masa khilafah Utsman ibn Affan ia melihat kegoncangan
       situasi serta perpecahan kaum muslimin di seputar khalifah.
       Bahaya fitnah semakin memuncak di langit kaum muslimin. Maka ia
       pergi menemui Utsman dan menasihatinya supaya tetap berpegang
       teguh pada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       serta petunjuk Abu Bakar dan Umar ibn al-Khaththab, tidak
       menyimpang dan petunjuk tersebut selama-lamanya.
       Apa yang dikhawatirkan Ummu Salamah terjadi juga, yaitu
       peristiwa terbunuhnya Utsman yang saat itu tengah membaca
       Al-Qur’an dan angin fitnah tengah bertiup kencang terhadap kaum
       muslimin. Pada saat itu Aisyah telah membulatkan tekad untuk
       keluar menuju Bashrah disertai Thalhah ibn Ubaidillah dan Zubair
       ibn al-’Awwam dengan tujuan memobilisasi massa untuk melawan Ali
       ibn Abi Thalib. Maka Ummu Salamah mengirim surat yang memiliki
       sastra indah kepada Aisyah.
       ***
       “Dari Ummu Salamah, Istri Nabi [i]shallallahu ‘alaihi wasallam,
       untuk Aisyah Ummul-Mu'minin.[/i]
       Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan)
       melainkan Dia.
       Amma ba’du.
       Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah
       [i]shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya yang merupakan hijab
       yang telah ditetapkan keharamannya.
       Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau
       lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau
       niengeluarkannya Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini
       seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui
       bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya
       beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.
       Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui
       batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa
       kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah
       miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah
       hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan,
       mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”[/i]
       ***
       Ummu Salamah berada di pihak Ali ibn Abi Thalib karena beliau
       menggikuti kesepakatan kaum muslimin atas terpilihnya beliau
       sebagai khalifah mereka. Karena itu, Ummu Salamah
       mengirim/mengutus anaknya, Umar, untuk ikut berperang dalan
       barisan Ali.
       &#10043; Saat Wafatnya
       Pada tahun ke-59 hijriah, usia Ummu Salamah telah mencapai 84
       tahun. Usia tua dan pikun merambah di pertambahan umurnya. Allah
       ta’ala mengangkat rohnya yang suci naik ke atas menuju
       hadirat-Nya. Ia meninggal dunia setelah hidup dengan aktivitas
       yang dipenuhi oleh pengorbanan, jihad, dan kesabaran di jalan
       Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Beliau dishalatkan oleh
       Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu dan dikuburkan di al-Baqi’ di
       samping kuburan Ummahatul-Mukminin lainnya.
       Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Ummu Salamah
       dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya.
       Aamiin. &#42880;1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       SUMBER: Buku Dzaujatur-Rasulullah, Karya Amru Yusuf, Penerbit
       Darus-Sa’abu, Riyadh.
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1