DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ [2] AL-ABADILLAH
*****************************************************
#Post#: 22--------------------------------------------------
۩۞۩ Al-Abadillah: Abu Dzarr Al-Ghifari
DIR By: iscm
Date: December 20, 2023, 3:08 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Abu Dzarr Al-Ghifari
[font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
(Wafat 32 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=301
Previous Next
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(2)-al-abadillah/abu-dzarr-al-ghifari/msg23/#msg23
Abu Dzaar al-Ghifari Nama aslinya adalah Jundab [i]ibn Junadah
dinisbatkan kepada kakeknya Junadah yang berasal dari Ghifar, ia
seorang Kinani. Abu Dzarr orang yang ahli ibadah sebelum
diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Ia adalah sahabat
kelima yang lebih dulu masuk Islam, Ia baru bisa Hijrah setelah
perang Khandaq.[/i]
Abu Dzarr seorang yang zuhud tidak pernah menyimpan makanan
untuk hari esok. Namun dimasa pemerintahan Utsman, ia mengajak
orang orang untuk mendirikan semacam baitul mal, hal ini
didorong rasa kemanusiaan namun Utsman ibn Affan tidak tertarik
akan gagasan itu dan selanjutnya ia mengasingkan ke Rabadzah dan
menetap disitu sampai wafatnya. Pada saat wafatnya yang
kebetulan Ibnu Mas’ud lewat ke Rabadzah dan menshalatkannya
jenazahnya.
Abu Dzaar meriwayatkan hadits dari Umar, Ibnu abbas, Ibnu Umar
dan lainnya. Yang diriwayatkan darinya antara lain Al-Hanaf ibn
Qais, Abdurahman ibn Ghanam dan Atha’.
Sanad paling shahih yng berpangkal daripadanya ialah yang
diriwayatkan dari penduduk Syam dari jalur Sa’id ibn Abdil Aziz,
dar Rabi’ah ibn Yazid, dari Abu Idris al-Khaulani, dari Abu
Dzarr.
Abu Dzarr meriwayatkan hadits sebanyak 281 hadits.
Ia wafat pada tahun 32 H. Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
(Disalin dari Biografi Abu Dzarr dalam al-Ishabah ibn Hajar
Asqalani VII/60, Thabaqaat ibn Sa’ad IV/161)
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
#Post#: 23--------------------------------------------------
۩۞۩ Al-Abadillah: Abu Dzarr Al-Ghifari
DIR By: iscm
Date: December 20, 2023, 3:11 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Abu Dzarr Al-Ghifari
[font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
(Wafat 32 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=301
Previous
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(2)-al-abadillah/abu-dzarr-al-ghifari/msg22/#msg22<br
/>Next
Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di
pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota.
Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok
yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani.
Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi
penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang
tabi’at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi’at
yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.
Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub ibn Junadah Al Ghifari
dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar
berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah
seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita
dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran
Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al
Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah
seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair
Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa
sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita
kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama,
kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar
tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan
berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais: “Apa
yang telah kamu lakukan?”, tanyanya. Unais menjelaskan: “Aku
sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan
dan mencegah dari perbuatan yang jelek.”
Abu Dzar bertanya lagi: “Apa yang dikatakan orang-orang
tentangnya?.”
Unais menjawab: “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang
sya’ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya
telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah
omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah
membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya’ir,
ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya’ir. Demi
Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan
mereka yang mencercanya adalah dusta.”
Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi
untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang
mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia
berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara
hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju
Ka’bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis.
Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara
kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya?
Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar, seorang pria
yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan
purnama. Abu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir
seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan orangpun di Makkah dalam
keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam, karena siapa yang mendekat
kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan
menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari
kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di
Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak
gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang
dicarinya dan apa yang diinginkannya.
Dia hanya menanti dan menanti di Ka’bah, dalam keadaan semua
perbekalannya telah habis. Dia berusaha mengatasi rasa lapar
yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada
makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu
berlangsung selama tiga puluh hari dan perut Abu Dzar selama itu
tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh
sebagai karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya
serasa semakin gemuk selama tiga puluh hari itu. Apa
sesungguhnya yang dinantinya? yang dinantinya hanyalah
kesempatan menemui dan berdialog langsung dengan pria ganteng
berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya langsung
agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus
menerus mengamati tingkah laku pria ganteng tersebut dan sikap
masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.
Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia
berdiri di salah satu pojok Ka’bah, lewat di hadapan beliau Ali
ibn Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang
pendatang di kota ini? Segera saja Abu Dzar menjawabnya: Ya!
Maka Ali ibn Abi Thalib menyatakan kepadanya: Kemarilah ikut ke
rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai
tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak
tanya kepadanya tentang tujuannya datang ke kota Makkah. Dan
setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka’bah tanpa bercerita
panjang dengan tuan rumah. Tapi Ali ibn Abi Thalib melihat pada
gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan yang sangat
dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi
dengan tamunya di Ka’bah dan segera menanyainya: “Apakah hari
ini anda akan kembali ke kampung?. ”Abu Dzar menjawab dengan
tegas: “Belum!. “Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi
untuk menanyainya: “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang
mendatangkanmu kemari?. “Dan Abu Dzarpun terperangah mendapat
pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah
menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini.
Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa asing dengan orang yang
menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung
saja dia balik mengajukan syarat bernada tantangan: “Bila engkau
berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab
pertanyaanmu. “Langsung saja Ali menyatakan janjinya: “Aku
berjanji untuk menjaga rahasiamu. “Dan Abu Dzar tidak ragu lagi
dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan
setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali: “Telah sampai
kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi. “Mendengar
kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan
menyatakan kepadanya: “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu?!
ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku
masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku
akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok
dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku
lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh. “Maka Abu
Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak
mendapati halangan apa-apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan langsung menanyakan
kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan
ketika Rasulullah ﷺ menawarkan Islam kepadanya, segera
Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah
syahadat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat
kepadanya: “Wahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan
pulanglah ke kampungmu!, maka bila engkau mendengar bahwa kami
telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung
dengan kami.”
Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam: “Demi yang Mengutus engkau dengan
kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa
aku telah masuk Islam. “Dan Rasulullah ﷺ mendiamkan tekat
Abu Dzar tersebut.
Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka’bah
banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat
banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan
sekeras- keras suara dengan menyatakan: “Wahai orang-orang
Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula
Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah.”
Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar
dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ:
“Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu. “Maka segera
orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan
nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas
ibn Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang
disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada
masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar: “Celakalah
kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani
Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan
kalian. “Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun
melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah
akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria
pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia
tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun
meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang
dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang
proklamasi keimanannya di depan Ka’bah menantang para dedengkot
kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi
keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya
menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga
mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk
kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak
lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang
sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah
seperti kemaren.
Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan
proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir
mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pulang ke
kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke
kampungnya, dan di sana dia rajin menda’wahi keluarganya. Unais
Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul
ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah
juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk
Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah hijrah ke
Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka
berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di
kampung mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.
✻ Hijrah Ke Al Madinah
Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan
setelah peperangan Bader dan Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas
menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung
menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid
beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai
kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan
mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemanapun beliau
berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar
di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis,
Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan,
mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.
Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga
disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau langsung
menasehatinya:
[size=10pt](tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad 3 / 164)
“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya
jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan
menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan
itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang
benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula.”
HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan
kepadanya:
(tulis haditsnya di kitab Hilyatul Auliya’ 1/162)
“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh
engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku. “Maka
Abu Dzarpun bertanya: Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan
Allah?”, Rasulullahpun menjawab: “Ya, di jalan Allah.“ Dengan
penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan: “Selamat datang wahai
mala petaka yang Allah taqdirkan.” HR. Abu Nu’aim Al Asfahani
dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162.
Asma’ bintu Yazid ibn As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari
Abu Dzar setelah menjalankan tugas kesehariannya melayani
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia beristirahat di
masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah
Nabi Shallallahu 'alaihi Wassalam ke masjid dan mendapati Abu
Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya. Maka Rasulullah
ﷺ meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki
beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan sempurna. Rasulullah
ﷺ menanyainya: Tidakkah aku melihat engkau tidur?. Maka
dia menjawab: Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah
bagiku selain masjid? Maka Rasulullahpun duduk bersamanya,
kemudian beliau bertanya kepadanya: Apa yang akan engkau lakukan
bila engkau diusir dari masjid ini?. Abu Dzar menjawabnya: Aku
akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah negeri tempat
hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan
negeri para Nabi, sehingga aku akan menjadi penduduk negeri itu.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi
kepadanya: Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam?
Maka Abu Dzar menjawab: Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan
aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat tinggalku.
Kemudian Nabi bertanya lagi: "Bagaimana kalau engkau diusir lagi
dari padanya?" Abu Dzar menjawab: "Kalau begitu aku akan
mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang mengusirku
sehingga aku mati." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
tersenyum kecut mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau
menyatakan kepadanya: "Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih
baik darinya?" Segera saja Abu Dzar menyatakan: "Tentu, demi
bapakku dan ibuku wahai Rasulullah." Maka beliaupun menyatakan
kepadanya: “Engkau ikuti penguasamu, kemana saja dia perintahkan
kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu,
sehingga engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur)
dalam keadaan menta’ati penguasamu itu.” (HR. Ahmad dalam
Musnadnya jilid 6 hal. 457)
Disamping berbagai wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam tersebut, dirwayatkan pula pujian dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam kepada Abu Dzar sebagai berikut ini:
(tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad jilid 3 hal. 161)
“Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan
yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu
Dzar.” HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga
diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801
dari Abdullah ibn Amer Radhiyallahu ‘anhuma.
[size=14pt]✻ Abu Dzar berjuang sendirian
Setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu
Dzar cenderung menyendiri. Tampak benar kesedihan pada wajahnya.
Dia adalah orang yang keras, tegas, pemberani, dan sangat kuat
berpegang dengan segenap ajaran Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam disamping kebenciannya kepada segala bentuk
kebid’ahan (yakni segala penyimpangan dari ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam). Dia adalah orang yang penyayang
terhadap orang-orang lemah dari kalangan faqir dan miskin.
Karena dia terus-menerus berpegang dengan wasiat Nabi
sebagaimana yang beliau ceritakan: (artinya) “Telah berwasiat
kepadaku orang yang amat aku cintai (Yakni Rsaulullah) dengan
tujuh perkara: Beliau memerintahkan aku untuk mencintai
orang-orang miskin dan mendekati mereka, dan beliau
memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih
menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku
tidak meminta kepada seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku
sedikitpun, dan aku diperintahkan untuk tetap menyambung
silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku.
Demikian pula aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran
walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak boleh takut
cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing
olehnya untuk selalu mengucapkan [i]la haula wala quwwata illa
billah (yakni tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan
kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah
simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy
Allah.”[/i] (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159)
Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang
yang hidup di zamannya, tetapi mereka tidak bisa membantahnya.
Diriwayatkan oleh Al Ahnaf ibn Qais sebuah kejadian yang
menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata
Al Ahnaf: “Aku pernah masuk kota Al Madinah di suatu hari.
Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (ya’ni duduk
bergerombol dengan formasi duduknya melingkar) dengan
orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu seorang
pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan
wajahnya menunjukkan kesengsaraan hidup, dan orang inipun
berdiri di hadapan mereka seraya berkata: Beri kabar gembira
bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan
ancaman adzab Allah berupa dihimpit batu yang amat panas karena
batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di
dadanya sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas
itu keluar dari pundaknya. Dan juga diletakkan batu panas itu di
tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus
sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang
pundaknya.
Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu
menundukkan kepalanya. Maka aku melihat, tidak ada seorangpun
yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga
orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk
menjauh daripadanya. Maka akupun bertanya kepada yang hadir di
halaqah itu: "Siapakah dia ini?", mereka menjawab: "Dia adalah
Abu Dzar."
Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia
duduk menyendiri dan akupun duduk dihadapannya dan aku katakan
kepadanya: Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu tidak
suka dengan apa yang engkau ucapkan.
Abu Dzarpun menyatakan: Mereka itu adalah orang-orang yang tidak
mengerti sama sekali. Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah memanggil aku
dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun
menyatakan kepadaku: "Engkau lihat gunung Uhud itu?!."
Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari
pada punggungnya, dan aku menyangka beliau akan menyuruh aku
untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab pertanyaan
beliau: "Aku melihatnya."
Kemudian beliaupun bersabda: "Tidaklah akan menyenangkan aku
kalau seandainya aku punya emas sebesar itu, kecuali bila aku
shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali
tiga dinar (untuk keperluanku)."
Selanjutnya Abu Dzar menyatakan: Tetapi kemudian mereka itu
kenyataannya selalu mengumpulkan dunia, mereka tidak mengerti
sama sekali.
Aku katakan kepadanya: Ada apa antara engkau dengan
saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang Quraisy. Mengapa
engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau
mendapatkan sebagian harta mereka.
Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang: "Tidak! Demi
Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia sedikitpun kepada mereka
dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama,
sehingga aku mati bergabung dengan Allah dan Rasul-Nya.”
Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke
1407-1408 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 992 / 34-35.
Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa
menyimpan harta yang lebih dari keperluannya itu adalah haram.
Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh
menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati
(yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan Abu Dzar menjauh dari para
Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulai makmur
hidupnya karena menjabat jabatan di pemerintahan. Hal ini
diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai berikut:
“Ketika Abu Musa Al Asy’ari datang ke Madinah, dia langsung
menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa berusa merangkul Abu Dzar,
padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek.
Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan
lebat rambutnya. Maka ketika Abu Musa berusaha merangkulnya, dia
mengatakan: “Menjauhlah engkau dariku!!.”
Abu Musa mengatakan kepadanya: “Marhaban wahai saudaraku.”
Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk
menjauh darinya: “Aku bukan saudaramu, dulu memang aku saudaramu
sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan.”
Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan: Kemudian setelah itu
datanglah Abu Hurairah menemuinya. Juga Abu Hurairah berusaha
merangkulnya dan menyatakan kepadanya: "Marhaban wahai
saudaraku."
Abu Dzar menyatakan kepadanya: “Menjauhlah engkau dariku, apakah
engkau menjabat satu jabatan dalam pemerintahan?.”
Abu Hurairah menjawab: “Ya, aku menjabat jabatan dalam
pemerintahan.”
Abu Dzar selanjutnya menanyainya: “Apakah engkau berlomba-lomba
membangun bangunan yang tinggi, atau membikin tanah pertanian,
atau hewan piaraan?.”
Abu Hurairah menjawab: “Tidak.”
Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya: “Kalau begitu engkau
saudaraku, engkau saudaraku.” Demikian diriwayatkan kisah ini
oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.
Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang
dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya:
[size=10pt](tulis haditsnya dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad jilid 3
hal. 162)
“Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat,
adalah yang keadaan hidupnya ketika meninggal dunia, seperti
keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati.” (HR. Ibnu
Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal. 162)
Abu Dzar keadaannya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam meninggal dunia, ialah sangat melarat. Dia ingin
mempertahankan kondisi melarat itu ketika dia meninggal dunia
nanti, karena ingin mendapatkan posisi yang paling dekat dengan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di hari kiamat kelak.
[size=14pt]✻ Meninggal dunia di tempat pengasingan
Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman
dari kalangan sesama para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman
pemerintahan Utsman ibn Affan radhiyallahu anhu. Waktu itu
gubernur negeri Syam adalah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan
radhiyallahu anhu. Maka Mu’awiyah merasa terganggu dengan sikap
hidupnya, sehingga meminta kepada Amirul Mu’minin Utsman ibn
Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali. Abu Dzar akhirnya
dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera
menta’ati panggilan itu. Sesampainya di Madinah segera saja Abu
Dzar menghadap Amirul Mu’minin Utsman ibn Affan. Abu Dzar diberi
tahu oleh Amirul Mu’minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di
Madinah menjadi orang dekatnya Amirul Mu’minin Utsman. Mendengar
penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada beliau: “Wahai Amirul
Mu’minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah
aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota
Madinah.”
Maka Amirul Mu’minin-pun mengizinkannya dan memerintahkan untuk
membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian
untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan
kepada beliau: “Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak
miliknya sendiri.”
Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan
tersebut tidak ada manusia yang tinggal di sana. Dia ingin
mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa
terganggu dengan berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia
tinggal di tempat pengasingannya dengan anak perempuannya dan
budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita
itu dibebaskannya kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar
menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah dan membaca
Al-Qur’an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong
orang yang kembali menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian
itu dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia
berkunjung ke Amirul Mu’minin dan di sana ada Ka’ab dan Abdullah
ibn Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta
warisan Abdurrahman [i[ibn[/i] A’uf. Maka Amirul Mu’minin
bertanya kepada Ka’ab: “Wahai Aba Ishaq, bagaimana menurut
pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan
zakatnya, apakah akan menjadi mala petaka bagi yang
mengumpulkannya.” Maka Ka’ab menjawab: “Bila harta itu adalah
kelebihan dari harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah
(yakni zakat), maka yang demikian itu tidak mengapa.”
Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan
langsung memukul Ka’ab dengan tongkatnya pada bagian diantara
kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada
Ka’ab: "Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak
ada kewajiban atasnya dalam perkara hartanya bila dia telah
menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah Ta’ala telah
berfirman: (artinya) ”Dan mereka lebih mengutamakan saudaranya
dari pada dirinya walaupun menyulitkan dirinya.” (QS. Al Hasyr:
9), juga Allah berfirman: (artinya) ”Mereka kaum Mu’minin itu
memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang
ditawan.” (QS. Ad Daher) (dinamakan juga QS. Al Insan) ayat ke
8. Dan beberapa ayat lainnya dari Al-Qur’an yang semakna dengan
ayat-ayat tersebut, yang merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar
atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum menunaikan
kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk
shadaqah, kecuali meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi
keluarganya.
Melihat kejadian itu, Amirul Mu’minin segera menegur Abu Dzar:
“Takutlah engkau kepada Allah wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu
dari perbuatan itu dan tahanlah lesanmu untuk mengucapkan ucapan
sekeras itu kepada saudaramu.” Juga Amirul Mu’minin meminta
kepada Ka’ab untuk memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum
qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan tindakannya
melukai kepala beliau. Dan Ka’abpun akhirnya memaafkannya.
Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan
penuh kekecewaan dan kemarahan. Dia semakin senang untuk
menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya.
Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya.
Dia hanya ditemani oleh anak istrinya di saat-saat akhir
hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit
dan menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah
berat penyakit yang dideritanya. Dalam kondisi demikian,
istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya: “Mengapa
engkau menangis?.”
Istrinya menjawab: “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada
lagi, dalam keadaan aku tidak punya kain kafan untuk membungkus
jenazahmu.”
Maka Abu Dzar menasehati istrinya: “Jangan engkau menangis,
karena aku telah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau
bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda: “Sungguh
salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir
yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu’minin.”
Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya:
“Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu
di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya.
Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali
aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti
yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu
sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan
melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku
tidak didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan
mendapati sekelompok orang yang akan menyaksikan peristiwa
kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah).”
Istrinya menyatakan kepadanya: “Bagaimana mungkin akan ada orang
yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat?!.”
Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan:
“Lihatlah jalan!.” Maka istrinya menuruti beliau mengamati
jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri
sedang mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan
yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat olehnya dari kejauhan
serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang
menandakan bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah.
Amat gembira tentunya istri Abu Dzar melihatnya, sehingga
rombongan itupun berhenti didepannya. Orang-orang di rombongan
itupun menanyainya: Ada apa engkau ada di sini? Maka perempuan
itupun menyatakan kepada mereka: “Di sini ada seorang pria
Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga
Allah membalas kalian dengan pahalaNya.” Maka merekapun
menanyainya: “Siapakah dia?” Perempuan itu menjawab: “Dia adalah
Abu Dzar.” Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari
kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika
mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang
terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga
Abu Dzar memberi tahu mereka: “Bergembiralah kalian, karena
kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu’minin
yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar.” Kemudian Abu Dzar
menyatakan kepada mereka: “Kalian menyaksikan bagaimana
keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai
kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku
memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada
yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang
yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh
masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan.”
Semua anggauta rombongan itu adalah orang-orang yang pernah
menjabat berbagai kedudukan itu, kecuali seorang pemuda Anshar,
yang menyatakan kepadanya: “Aku adalah orang yang engkau cari
dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil
pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di kantong tas bajuku,
sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini.”
Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira,
kemudian dengan serta merta menyatakan kepadanya: “Engkaulah
orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan jubahmu
itu.”
Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas
terakhirnya, dan selamat tinggal dunia yang penuh duka dan
nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah
dan Rasul-Nya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau
di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah Abu Dzar
dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera
dishalati serta dikuburkan oleh rombongan kafilah tersebut di
Rabadzah itu.
[size=14pt]✻ P e n u t u p :
Anak istri Abu Dzar akhirnya diungsikan dari Rabadzah ke Madinah
sepeninggalnya. Amirul Mu’minin Utsman ibn Affan amat pilu
mendengar peristiwa kematian Abu Dzar. Beliau hanya mampu
menanggapi berita kematian itu dengan mengucapkan: “Semoga Allah
merahmati Abu Dzar.” Putri Abu Dzar dimasukkan oleh Utsman ibn
Affan dalam keluarganya.
Demikianlah perjalanan hidup orang yang sangat besar ambisinya
kepada kenikmatan hidup di akherat dan amat mengecilkan serta
merendahkan dunia. Dia amat konsisten dengan pandangan hidupnya,
sampaipun dibawa mati. Memang tidak mesti orang yang sendirian
itu dianggap salah, asalkan dia menjalani kesendirian itu dengan
bimbingan ilmu Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang
benar, yaitu pemahaman Salafus Shaleh.
Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran itu. Di
zaman pemerintahan Utsman ibn Affan yang penuh limpahan barakah
dan ilmu Al-Qur’an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi
oleh kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang yang kecewa
dengan masyarakat itu, sehingga memilih hidup menyendiri sampai
dijemput mati. Apatah lagi di zaman ini, masyarakat diliputi
oleh kejahilan tentang ilmu Al-Qur’an dan Al Hadits. Masyarakat
yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para pendustanya amat
dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru
dianggap pendusta dan dijauhi. Kalaulah tidak karena
pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
niscaya kita semua di zaman ini akan binasa dengan kesesatan,
kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi hidup
ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan
untuk mengantarkan kita kepada keridha’an-Nya.
Ꞁ[size=8pt]1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(Boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur’an Al Karim.
- Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajr Al Asqalani.
- Al Minhaj Fi Syarah Shahih Muslim ibn Al Hajjaj, Al Imam Abu
Zakaria An Nawawi.
- At Thabaqatul Kubra, Muhammad ibn Sa’ad.
- Hilyatul Awliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Al Hafidl Abu Nu’aim
Al Asfahani.
- Siyar A’lamin Nubala’, Al Imam Adz Dzahabi.
- Musnad Imam Ahmad, Al Imam Ahmad ibn Hanbal Asy Syaibani.
- Sunan At Tirmidzi, Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah At
tirmidzi.
(Disalin dari Biografi Abu Dzarr dalam al-Ishabah ibn Hajar
Asqalani VII/60, Thabaqaat ibn Sa’ad IV/161)
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1