URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ [2] AL-ABADILLAH
       *****************************************************
       #Post#: 22--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Al-Abadillah: Abu Dzarr Al-Ghifari
   DIR By: iscm
       Date: December 20, 2023, 3:08 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Abu Dzarr Al-Ghifari
       [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       (Wafat 32 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=301
       Previous Next
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(2)-al-abadillah/abu-dzarr-al-ghifari/msg23/#msg23
       Abu Dzaar al-Ghifari Nama aslinya adalah Jundab [i]ibn Junadah
       dinisbatkan kepada kakeknya Junadah yang berasal dari Ghifar, ia
       seorang Kinani. Abu Dzarr orang yang ahli ibadah sebelum
       diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Ia adalah sahabat
       kelima yang lebih dulu masuk Islam, Ia baru bisa Hijrah setelah
       perang Khandaq.[/i]
       Abu Dzarr seorang yang zuhud tidak pernah menyimpan makanan
       untuk hari esok. Namun dimasa pemerintahan Utsman, ia mengajak
       orang orang untuk mendirikan semacam baitul mal, hal ini
       didorong rasa kemanusiaan namun Utsman ibn Affan tidak tertarik
       akan gagasan itu dan selanjutnya ia mengasingkan ke Rabadzah dan
       menetap disitu sampai wafatnya. Pada saat wafatnya yang
       kebetulan Ibnu Mas’ud lewat ke Rabadzah dan menshalatkannya
       jenazahnya.
       Abu Dzaar meriwayatkan hadits dari Umar, Ibnu abbas, Ibnu Umar
       dan lainnya. Yang diriwayatkan darinya antara lain Al-Hanaf ibn
       Qais, Abdurahman ibn Ghanam dan Atha’.
       Sanad paling shahih yng berpangkal daripadanya ialah yang
       diriwayatkan dari penduduk Syam dari jalur Sa’id ibn Abdil Aziz,
       dar Rabi’ah ibn Yazid, dari Abu Idris al-Khaulani, dari Abu
       Dzarr.
       Abu Dzarr meriwayatkan hadits sebanyak 281 hadits.
       Ia wafat pada tahun 32 H. &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       (Disalin dari Biografi Abu Dzarr dalam al-Ishabah ibn Hajar
       Asqalani VII/60, Thabaqaat ibn Sa’ad IV/161)
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       #Post#: 23--------------------------------------------------
       &#1769;&#1758;&#1769; Al-Abadillah: Abu Dzarr Al-Ghifari
   DIR By: iscm
       Date: December 20, 2023, 3:11 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Abu Dzarr Al-Ghifari
       [font=georgia]radhiyallahu’anhu[/font]
       (Wafat 32 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=301
       Previous
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-(2)-al-abadillah/abu-dzarr-al-ghifari/msg22/#msg22<br
       />Next
       Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di
       pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota.
       Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok
       yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani.
       Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi
       penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang
       tabi’at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi’at
       yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.
       Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub ibn Junadah Al Ghifari
       dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar
       berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah
       seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita
       dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran
       Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al
       Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah
       seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair
       Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa
       sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita
       kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama,
       kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar
       tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan
       berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais: “Apa
       yang telah kamu lakukan?”, tanyanya. Unais menjelaskan: “Aku
       sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan
       dan mencegah dari perbuatan yang jelek.”
       Abu Dzar bertanya lagi: “Apa yang dikatakan orang-orang
       tentangnya?.”
       Unais menjawab: “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang
       sya’ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya
       telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah
       omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah
       membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya’ir,
       ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya’ir. Demi
       Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan
       mereka yang mencercanya adalah dusta.”
       Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi
       untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang
       mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia
       berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara
       hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju
       Ka’bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis.
       Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara
       kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya?
       Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar, seorang pria
       yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan
       purnama. Abu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir
       seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad
       shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan orangpun di Makkah dalam
       keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau
       shallallahu ‘alaihi wasallam, karena siapa yang mendekat
       kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan
       menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari
       kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di
       Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak
       gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang
       dicarinya dan apa yang diinginkannya.
       Dia hanya menanti dan menanti di Ka’bah, dalam keadaan semua
       perbekalannya telah habis. Dia berusaha mengatasi rasa lapar
       yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada
       makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu
       berlangsung selama tiga puluh hari dan perut Abu Dzar selama itu
       tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh
       sebagai karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya
       serasa semakin gemuk selama tiga puluh hari itu. Apa
       sesungguhnya yang dinantinya? yang dinantinya hanyalah
       kesempatan menemui dan berdialog langsung dengan pria ganteng
       berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya langsung
       agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus
       menerus mengamati tingkah laku pria ganteng tersebut dan sikap
       masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.
       Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia
       berdiri di salah satu pojok Ka’bah, lewat di hadapan beliau Ali
       ibn Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang
       pendatang di kota ini? Segera saja Abu Dzar menjawabnya: Ya!
       Maka Ali ibn Abi Thalib menyatakan kepadanya: Kemarilah ikut ke
       rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai
       tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak
       tanya kepadanya tentang tujuannya datang ke kota Makkah. Dan
       setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka’bah tanpa bercerita
       panjang dengan tuan rumah. Tapi Ali ibn Abi Thalib melihat pada
       gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan yang sangat
       dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi
       dengan tamunya di Ka’bah dan segera menanyainya: “Apakah hari
       ini anda akan kembali ke kampung?. ”Abu Dzar menjawab dengan
       tegas: “Belum!. “Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi
       untuk menanyainya: “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang
       mendatangkanmu kemari?. “Dan Abu Dzarpun terperangah mendapat
       pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah
       menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini.
       Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa asing dengan orang yang
       menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung
       saja dia balik mengajukan syarat bernada tantangan: “Bila engkau
       berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab
       pertanyaanmu. “Langsung saja Ali menyatakan janjinya: “Aku
       berjanji untuk menjaga rahasiamu. “Dan Abu Dzar tidak ragu lagi
       dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan
       setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali: “Telah sampai
       kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi. “Mendengar
       kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan
       menyatakan kepadanya: “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu?!
       ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku
       masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku
       akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok
       dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku
       lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh. “Maka Abu
       Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak
       mendapati halangan apa-apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan langsung menanyakan
       kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan
       ketika Rasulullah &#65018; menawarkan Islam kepadanya, segera
       Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad
       shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah
       syahadat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat
       kepadanya: “Wahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan
       pulanglah ke kampungmu!, maka bila engkau mendengar bahwa kami
       telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung
       dengan kami.”
       Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam: “Demi yang Mengutus engkau dengan
       kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa
       aku telah masuk Islam. “Dan Rasulullah &#65018; mendiamkan tekat
       Abu Dzar tersebut.
       Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka’bah
       banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat
       banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan
       sekeras- keras suara dengan menyatakan: “Wahai orang-orang
       Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada
       sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula
       Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah.”
       Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar
       dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ:
       “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu. “Maka segera
       orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan
       nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas
       ibn Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang
       disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada
       masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar: “Celakalah
       kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani
       Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan
       kalian. “Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun
       melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah
       akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria
       pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia
       tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun
       meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang
       dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang
       proklamasi keimanannya di depan Ka’bah menantang para dedengkot
       kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi
       keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya
       menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga
       mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk
       kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak
       lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang
       sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah
       seperti kemaren.
       Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan
       proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir
       mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pulang ke
       kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke
       kampungnya, dan di sana dia rajin menda’wahi keluarganya. Unais
       Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul
       ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah
       juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk
       Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila
       Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah hijrah ke
       Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka
       berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di
       kampung mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.
       &#10043; Hijrah Ke Al Madinah
       Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan
       setelah peperangan Bader dan Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas
       menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung
       menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid
       beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai
       kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan
       mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemanapun beliau
       berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga Rasulullah shallallahu
       ‘alaihi wasallam sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar
       di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis,
       Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan,
       mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.
       Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga
       disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah
       shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau langsung
       menasehatinya:
       [size=10pt](tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad 3 / 164)
       “Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya
       jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan
       menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan
       itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang
       benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula.”
       HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya.
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan
       kepadanya:
       (tulis haditsnya di kitab Hilyatul Auliya’ 1/162)
       “Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh
       engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku. “Maka
       Abu Dzarpun bertanya: Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan
       Allah?”, Rasulullahpun menjawab: “Ya, di jalan Allah.“ Dengan
       penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan: “Selamat datang wahai
       mala petaka yang Allah taqdirkan.” HR. Abu Nu’aim Al Asfahani
       dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162.
       Asma’ bintu Yazid ibn As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari
       Abu Dzar setelah menjalankan tugas kesehariannya melayani
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia beristirahat di
       masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah
       Nabi Shallallahu 'alaihi Wassalam ke masjid dan mendapati Abu
       Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya. Maka Rasulullah
       &#65018; meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki
       beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan sempurna. Rasulullah
       &#65018; menanyainya: Tidakkah aku melihat engkau tidur?. Maka
       dia menjawab: Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah
       bagiku selain masjid? Maka Rasulullahpun duduk bersamanya,
       kemudian beliau bertanya kepadanya: Apa yang akan engkau lakukan
       bila engkau diusir dari masjid ini?. Abu Dzar menjawabnya: Aku
       akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah negeri tempat
       hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan
       negeri para Nabi, sehingga aku akan menjadi penduduk negeri itu.
       Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi
       kepadanya: Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam?
       Maka Abu Dzar menjawab: Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan
       aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat tinggalku.
       Kemudian Nabi bertanya lagi: "Bagaimana kalau engkau diusir lagi
       dari padanya?" Abu Dzar menjawab: "Kalau begitu aku akan
       mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang mengusirku
       sehingga aku mati." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
       tersenyum kecut mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau
       menyatakan kepadanya: "Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih
       baik darinya?" Segera saja Abu Dzar menyatakan: "Tentu, demi
       bapakku dan ibuku wahai Rasulullah." Maka beliaupun menyatakan
       kepadanya: “Engkau ikuti penguasamu, kemana saja dia perintahkan
       kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu,
       sehingga engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur)
       dalam keadaan menta’ati penguasamu itu.” (HR. Ahmad dalam
       Musnadnya jilid 6 hal. 457)
       Disamping berbagai wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam tersebut, dirwayatkan pula pujian dari Nabi shallallahu
       ‘alaihi wasallam kepada Abu Dzar sebagai berikut ini:
       (tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad jilid 3 hal. 161)
       “Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan
       yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu
       Dzar.” HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga
       diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801
       dari Abdullah ibn Amer Radhiyallahu ‘anhuma.
       [size=14pt]&#10043; Abu Dzar berjuang sendirian
       Setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu
       Dzar cenderung menyendiri. Tampak benar kesedihan pada wajahnya.
       Dia adalah orang yang keras, tegas, pemberani, dan sangat kuat
       berpegang dengan segenap ajaran Nabi Muhammad shallallahu
       ‘alaihi wasallam disamping kebenciannya kepada segala bentuk
       kebid’ahan (yakni segala penyimpangan dari ajaran Nabi
       shallallahu ‘alaihi wasallam). Dia adalah orang yang penyayang
       terhadap orang-orang lemah dari kalangan faqir dan miskin.
       Karena dia terus-menerus berpegang dengan wasiat Nabi
       sebagaimana yang beliau ceritakan: (artinya) “Telah berwasiat
       kepadaku orang yang amat aku cintai (Yakni Rsaulullah) dengan
       tujuh perkara: Beliau memerintahkan aku untuk mencintai
       orang-orang miskin dan mendekati mereka, dan beliau
       memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih
       menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku
       tidak meminta kepada seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku
       sedikitpun, dan aku diperintahkan untuk tetap menyambung
       silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku.
       Demikian pula aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran
       walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak boleh takut
       cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing
       olehnya untuk selalu mengucapkan [i]la haula wala quwwata illa
       billah (yakni tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan
       kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah
       simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy
       Allah.”[/i] (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159)
       Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang
       yang hidup di zamannya, tetapi mereka tidak bisa membantahnya.
       Diriwayatkan oleh Al Ahnaf ibn Qais sebuah kejadian yang
       menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata
       Al Ahnaf: “Aku pernah masuk kota Al Madinah di suatu hari.
       Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (ya’ni duduk
       bergerombol dengan formasi duduknya melingkar) dengan
       orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu seorang
       pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan
       wajahnya menunjukkan kesengsaraan hidup, dan orang inipun
       berdiri di hadapan mereka seraya berkata: Beri kabar gembira
       bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan
       ancaman adzab Allah berupa dihimpit batu yang amat panas karena
       batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di
       dadanya sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas
       itu keluar dari pundaknya. Dan juga diletakkan batu panas itu di
       tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus
       sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang
       pundaknya.
       Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu
       menundukkan kepalanya. Maka aku melihat, tidak ada seorangpun
       yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga
       orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk
       menjauh daripadanya. Maka akupun bertanya kepada yang hadir di
       halaqah itu: "Siapakah dia ini?", mereka menjawab: "Dia adalah
       Abu Dzar."
       Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia
       duduk menyendiri dan akupun duduk dihadapannya dan aku katakan
       kepadanya: Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu tidak
       suka dengan apa yang engkau ucapkan.
       Abu Dzarpun menyatakan: Mereka itu adalah orang-orang yang tidak
       mengerti sama sekali. Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni
       Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah memanggil aku
       dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun
       menyatakan kepadaku: "Engkau lihat gunung Uhud itu?!."
       Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari
       pada punggungnya, dan aku menyangka beliau akan menyuruh aku
       untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab pertanyaan
       beliau: "Aku melihatnya."
       Kemudian beliaupun bersabda: "Tidaklah akan menyenangkan aku
       kalau seandainya aku punya emas sebesar itu, kecuali bila aku
       shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali
       tiga dinar (untuk keperluanku)."
       Selanjutnya Abu Dzar menyatakan: Tetapi kemudian mereka itu
       kenyataannya selalu mengumpulkan dunia, mereka tidak mengerti
       sama sekali.
       Aku katakan kepadanya: Ada apa antara engkau dengan
       saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang Quraisy. Mengapa
       engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau
       mendapatkan sebagian harta mereka.
       Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang: "Tidak! Demi
       Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia sedikitpun kepada mereka
       dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama,
       sehingga aku mati bergabung dengan Allah dan Rasul-Nya.”
       Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke
       1407-1408 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 992 / 34-35.
       Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa
       menyimpan harta yang lebih dari keperluannya itu adalah haram.
       Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh
       menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati
       (yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan Abu Dzar menjauh dari para
       Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulai makmur
       hidupnya karena menjabat jabatan di pemerintahan. Hal ini
       diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai berikut:
       “Ketika Abu Musa Al Asy’ari datang ke Madinah, dia langsung
       menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa berusa merangkul Abu Dzar,
       padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek.
       Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan
       lebat rambutnya. Maka ketika Abu Musa berusaha merangkulnya, dia
       mengatakan: “Menjauhlah engkau dariku!!.”
       Abu Musa mengatakan kepadanya: “Marhaban wahai saudaraku.”
       Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk
       menjauh darinya: “Aku bukan saudaramu, dulu memang aku saudaramu
       sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan.”
       Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan: Kemudian setelah itu
       datanglah Abu Hurairah menemuinya. Juga Abu Hurairah berusaha
       merangkulnya dan menyatakan kepadanya: "Marhaban wahai
       saudaraku."
       Abu Dzar menyatakan kepadanya: “Menjauhlah engkau dariku, apakah
       engkau menjabat satu jabatan dalam pemerintahan?.”
       Abu Hurairah menjawab: “Ya, aku menjabat jabatan dalam
       pemerintahan.”
       Abu Dzar selanjutnya menanyainya: “Apakah engkau berlomba-lomba
       membangun bangunan yang tinggi, atau membikin tanah pertanian,
       atau hewan piaraan?.”
       Abu Hurairah menjawab: “Tidak.”
       Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya: “Kalau begitu engkau
       saudaraku, engkau saudaraku.” Demikian diriwayatkan kisah ini
       oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.
       Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang
       dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya:
       [size=10pt](tulis haditsnya dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad jilid 3
       hal. 162)
       “Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat,
       adalah yang keadaan hidupnya ketika meninggal dunia, seperti
       keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati.” (HR. Ibnu
       Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal. 162)
       Abu Dzar keadaannya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam meninggal dunia, ialah sangat melarat. Dia ingin
       mempertahankan kondisi melarat itu ketika dia meninggal dunia
       nanti, karena ingin mendapatkan posisi yang paling dekat dengan
       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di hari kiamat kelak.
       [size=14pt]&#10043; Meninggal dunia di tempat pengasingan
       Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman
       dari kalangan sesama para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
       wasallam. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman
       pemerintahan Utsman ibn Affan radhiyallahu anhu. Waktu itu
       gubernur negeri Syam adalah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan
       radhiyallahu anhu. Maka Mu’awiyah merasa terganggu dengan sikap
       hidupnya, sehingga meminta kepada Amirul Mu’minin Utsman ibn
       Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali. Abu Dzar akhirnya
       dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera
       menta’ati panggilan itu. Sesampainya di Madinah segera saja Abu
       Dzar menghadap Amirul Mu’minin Utsman ibn Affan. Abu Dzar diberi
       tahu oleh Amirul Mu’minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di
       Madinah menjadi orang dekatnya Amirul Mu’minin Utsman. Mendengar
       penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada beliau: “Wahai Amirul
       Mu’minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah
       aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota
       Madinah.”
       Maka Amirul Mu’minin-pun mengizinkannya dan memerintahkan untuk
       membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian
       untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan
       kepada beliau: “Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak
       miliknya sendiri.”
       Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan
       tersebut tidak ada manusia yang tinggal di sana. Dia ingin
       mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa
       terganggu dengan berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia
       tinggal di tempat pengasingannya dengan anak perempuannya dan
       budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita
       itu dibebaskannya kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar
       menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah dan membaca
       Al-Qur’an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong
       orang yang kembali menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian
       itu dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
       Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia
       berkunjung ke Amirul Mu’minin dan di sana ada Ka’ab dan Abdullah
       ibn Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta
       warisan Abdurrahman [i[ibn[/i] A’uf. Maka Amirul Mu’minin
       bertanya kepada Ka’ab: “Wahai Aba Ishaq, bagaimana menurut
       pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan
       zakatnya, apakah akan menjadi mala petaka bagi yang
       mengumpulkannya.” Maka Ka’ab menjawab: “Bila harta itu adalah
       kelebihan dari harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah
       (yakni zakat), maka yang demikian itu tidak mengapa.”
       Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan
       langsung memukul Ka’ab dengan tongkatnya pada bagian diantara
       kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada
       Ka’ab: "Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak
       ada kewajiban atasnya dalam perkara hartanya bila dia telah
       menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah Ta’ala telah
       berfirman: (artinya) ”Dan mereka lebih mengutamakan saudaranya
       dari pada dirinya walaupun menyulitkan dirinya.” (QS. Al Hasyr:
       9), juga Allah berfirman: (artinya) ”Mereka kaum Mu’minin itu
       memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang
       ditawan.” (QS. Ad Daher) (dinamakan juga QS. Al Insan) ayat ke
       8. Dan beberapa ayat lainnya dari Al-Qur’an yang semakna dengan
       ayat-ayat tersebut, yang merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar
       atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum menunaikan
       kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk
       shadaqah, kecuali meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi
       keluarganya.
       Melihat kejadian itu, Amirul Mu’minin segera menegur Abu Dzar:
       “Takutlah engkau kepada Allah wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu
       dari perbuatan itu dan tahanlah lesanmu untuk mengucapkan ucapan
       sekeras itu kepada saudaramu.” Juga Amirul Mu’minin meminta
       kepada Ka’ab untuk memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum
       qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan tindakannya
       melukai kepala beliau. Dan Ka’abpun akhirnya memaafkannya.
       Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan
       penuh kekecewaan dan kemarahan. Dia semakin senang untuk
       menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya.
       Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya.
       Dia hanya ditemani oleh anak istrinya di saat-saat akhir
       hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit
       dan menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah
       berat penyakit yang dideritanya. Dalam kondisi demikian,
       istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya: “Mengapa
       engkau menangis?.”
       Istrinya menjawab: “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada
       lagi, dalam keadaan aku tidak punya kain kafan untuk membungkus
       jenazahmu.”
       Maka Abu Dzar menasehati istrinya: “Jangan engkau menangis,
       karena aku telah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
       wasallam bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau
       bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda: “Sungguh
       salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir
       yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu’minin.”
       Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya:
       “Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu
       di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya.
       Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali
       aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti
       yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu
       sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan
       melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku
       tidak didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan
       mendapati sekelompok orang yang akan menyaksikan peristiwa
       kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah).”
       Istrinya menyatakan kepadanya: “Bagaimana mungkin akan ada orang
       yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat?!.”
       Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan:
       “Lihatlah jalan!.” Maka istrinya menuruti beliau mengamati
       jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri
       sedang mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan
       yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat olehnya dari kejauhan
       serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang
       menandakan bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah.
       Amat gembira tentunya istri Abu Dzar melihatnya, sehingga
       rombongan itupun berhenti didepannya. Orang-orang di rombongan
       itupun menanyainya: Ada apa engkau ada di sini? Maka perempuan
       itupun menyatakan kepada mereka: “Di sini ada seorang pria
       Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga
       Allah membalas kalian dengan pahalaNya.” Maka merekapun
       menanyainya: “Siapakah dia?” Perempuan itu menjawab: “Dia adalah
       Abu Dzar.” Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari
       kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika
       mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang
       terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga
       Abu Dzar memberi tahu mereka: “Bergembiralah kalian, karena
       kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu’minin
       yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar.” Kemudian Abu Dzar
       menyatakan kepada mereka: “Kalian menyaksikan bagaimana
       keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai
       kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku
       memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada
       yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang
       yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh
       masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan.”
       Semua anggauta rombongan itu adalah orang-orang yang pernah
       menjabat berbagai kedudukan itu, kecuali seorang pemuda Anshar,
       yang menyatakan kepadanya: “Aku adalah orang yang engkau cari
       dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil
       pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di kantong tas bajuku,
       sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini.”
       Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira,
       kemudian dengan serta merta menyatakan kepadanya: “Engkaulah
       orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan jubahmu
       itu.”
       Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas
       terakhirnya, dan selamat tinggal dunia yang penuh duka dan
       nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah
       dan Rasul-Nya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau
       di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah Abu Dzar
       dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera
       dishalati serta dikuburkan oleh rombongan kafilah tersebut di
       Rabadzah itu.
       [size=14pt]&#10043; P e n u t u p :
       Anak istri Abu Dzar akhirnya diungsikan dari Rabadzah ke Madinah
       sepeninggalnya. Amirul Mu’minin Utsman ibn Affan amat pilu
       mendengar peristiwa kematian Abu Dzar. Beliau hanya mampu
       menanggapi berita kematian itu dengan mengucapkan: “Semoga Allah
       merahmati Abu Dzar.” Putri Abu Dzar dimasukkan oleh Utsman ibn
       Affan dalam keluarganya.
       Demikianlah perjalanan hidup orang yang sangat besar ambisinya
       kepada kenikmatan hidup di akherat dan amat mengecilkan serta
       merendahkan dunia. Dia amat konsisten dengan pandangan hidupnya,
       sampaipun dibawa mati. Memang tidak mesti orang yang sendirian
       itu dianggap salah, asalkan dia menjalani kesendirian itu dengan
       bimbingan ilmu Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang
       benar, yaitu pemahaman Salafus Shaleh.
       Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran itu. Di
       zaman pemerintahan Utsman ibn Affan yang penuh limpahan barakah
       dan ilmu Al-Qur’an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi
       oleh kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang yang kecewa
       dengan masyarakat itu, sehingga memilih hidup menyendiri sampai
       dijemput mati. Apatah lagi di zaman ini, masyarakat diliputi
       oleh kejahilan tentang ilmu Al-Qur’an dan Al Hadits. Masyarakat
       yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para pendustanya amat
       dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru
       dianggap pendusta dan dijauhi. Kalaulah tidak karena
       pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
       niscaya kita semua di zaman ini akan binasa dengan kesesatan,
       kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi hidup
       ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan
       untuk mengantarkan kita kepada keridha’an-Nya.
       &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(Boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       DAFTAR PUSTAKA
       - Al-Qur’an Al Karim.
       - Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajr Al Asqalani.
       - Al Minhaj Fi Syarah Shahih Muslim ibn Al Hajjaj, Al Imam Abu
       Zakaria An Nawawi.
       - At Thabaqatul Kubra, Muhammad ibn Sa’ad.
       - Hilyatul Awliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Al Hafidl Abu Nu’aim
       Al Asfahani.
       - Siyar A’lamin Nubala’, Al Imam Adz Dzahabi.
       - Musnad Imam Ahmad, Al Imam Ahmad ibn Hanbal Asy Syaibani.
       - Sunan At Tirmidzi, Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah At
       tirmidzi.
       (Disalin dari Biografi Abu Dzarr dalam al-Ishabah ibn Hajar
       Asqalani VII/60, Thabaqaat ibn Sa’ad IV/161)
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1